Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN

PRAKTIKUM FITOKIMIA
Identifikasi Senyawa Golongan Flavonoida
(Ekstrak Psidium guajava)

Nama : Wika Tanika


NIM/ Kelas : 201510410311120/Farmasi C
Kelompok :2

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018
Identifikasi Senyawa Golongan Flavonoida
(Ekstrak Psidium guajava)

1. TUJUAN : Mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa golongan


flavonoida dalam tanaman.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jambu Biji (Psidium guajava)

Gambar : Buah Jambu Biji (Psidium guajava)

A. Klasifikasi Jambu Biji (Psidium guajava)


Sistematika tatanama (taksonomi) tanaman jambu biji diklasifikasikan
sebagai berikut :
- Kingdom : Plantae
- Divisi : Spermatophyta
- Sub divisi : Angiospermae
- Kelas : Dicotyledonae
- Ordo : Myrtales
- Familia : Myrtaceae
- Genus : Psidium
- Spesies : Psidium guajava L. (Rukmana,1996).

2
B. Morfologi Jambu Biji (Psidium guajava)
Secara alamiah pohon jambu biji bisa mencapai ketinggian 5 10 tering,
namun bila dibentuk dengan cara pemangkasan dan pembentukan pohon bisa
menjadi pendek (kurcaci). Batangnya berkayu keras, liat dan tidak mudah patah.
Batang dan cabang-cabangnya memiliki kulit berwarna coklat keabu-abuan dan
mudah mengelupas. Daun jambu biji berbentuk bulat panjang dan langsing
dengan bagian ujungnya tumpul atau lancip, warna hijau kekuning-kuningan atau
merah tua dan berbulu keabu-abuan. Tata letak daun saling terjerat dan
tumbuhnya tunggal. Sepanjang tahun. Bunga Tanaman jambu biji bisa berbunga
dan berbuah yang pembuahannya jambu biji termasuk bunga sempurna
(hermaprodit) Peristiwa dapat melalui persarian atau pun tanpa persarian
(partenokarpi). partenokarpi ini menghasilkan buah tanpa biji (Rukmana,1996).
C. Kandungan senyawa kimiawi pada Jambu Biji
Tanaman ini kaya dengan tannin, fenol, triterpen, flavonoid, minyak esensial.
saponin karotenoid, lektin, vitamin, serat, dan asam lemak Dibandingkan dengan
jeruk, buahjambu ini lebih banyak mengandungvitaminc (80 mgvitamin C dalam
g buah) dan mengandung juga jumlah witamin A. lambu juga kaya akan pektin
yaitu serat yang diperlukan dalam makanan Daunnyakayadengan flavonoid
(quercetin ), Flavonoid inilah yang berperan dalam pengobatan (antibakteri)
Quercetin memberikan sifat antidiare, merilekskan otot polos usus. Daun jambul
juga antioksidan karena kandungan polifenol (Agoes,2012).
D. Penggunaan Jambu Biji
Jambu biji telah digunakan suku asli Peru sejak ribuan tahun lalu Sisa sisa
bahan ini dijumpai pada situs-situs arkeologi bersama dengan sisa-sisa kacang,
jagung. dan buah-buahan lain. Sampai sekarang suku Indian Amazon
menggunakan rebusan dann dan kulit batang dalam campuran pengobatan
tradisional (diare, disentri, radang tenggorokan, mual, pusing, dan gangguan
menstruasi. Daun segar dikunyah-kunyah untuk obat gusi berdarah, mengatasi
bau mulut. Dan rendamannya juga dapat digunakan sebagai pembidas alat intim
wanita (menghilangkan lendir atau pascapersalinan, mirip dengan daun sirih).
Bunga ditumbuk dan dijadikan kompres radangluka pada mata Daunjambu
bijidikenal sebagai bahan obattradisionaluntuk batukdan diare Jus Jambu biju
bangkok juga perlu berkhasiat untuk membantu penderita demam berdarah
dengue (Agoes,2012).

3
E. Efek Farmakologi pada Jambu Biji
Obat antidiare telah ada yang dipatenkan (mengandung quercetin) Uji klinis
efektif untuk orang dewasa dan anak-anak (efek kuratif yang baik untuk rotaviral
enteritis pada bayi) Spektrum antibakteri jambu biji antera lain E coli,
Staphylococcus, Shigella, Salmonella, Bacillus, Clostridium, dan Pseudomonas,
beberapa jamur, antiamebik, anti mal aria dan antikoli (penenang otot usss seperti
efek morfin, membantu absorpsi udara di usus Studi dari Brasil (2003) terbukti
ekstrak daun juga bisa memberi pengaruh dalam pengaturan irama jantung
(aritmia), antioksidan yang memengaruhi fungsi miokardium. Ekstrak daun
analgetik, sedatif, penenang saraf, dan penekan batuk Uji kliniskonsumsi buah
guava selama 12 minggu dapat menurunkan tekanan darah 8 mm. total kolesterol
9%, trigliserida hampir 8%, dan meningkatkan kolesterol "baik" (HDL) sebesar
8%. Esek ini diakibatkan kadar kalium dan serat dari buah (namun harus
konsufnsi 2 pon buah per hari) (Agoes,2012).
2.2 Senyawa kimia
Flavonoid adalah senyawa 15-karbon yang umum tersebar di seluruh dunia,
lebih dari 2000 flavonoid yang berasal dari tumbuhan telah didefinisikan. Kerangka
dasar flavonoid yang disajikan berikut ini biasanya diubah bentuknya sehingga
terdapat lebih banyak ikatan rangkap, menyebabkan senyawa flavonoid menyerap
cahaya tampak, dan ini senyawa flavonoid menjadi berwarna. Dua cincin karbon di
ujung kiri dan kanan molekul penuh berturut-turut sebagai cincin A dan B (Salisbury
dan Ross, 1995). Flavonoid umumnya terdapat dalam tumbuhan terikat pada gula
sebagai glikosida dan aglikon flavonoid yang mana dalam satu tumbuhan terdapat
berbagai bentuk kombinasi glikosida. Oleh karena itu, maka dalam menganalisis
flavonoid biasanya lebih baik untuk memeriksa aglikon yang terdapat dalam ekstrak
tumbuhan yang telah dihidrolisis (Harborne,1987).

Gambar : Struktur senyawa Flavonoid

4
Ada tiga kelompok flavonoid dalam fisiologi tumbuhan, yaitu antosianin,
flavonol, dan flavon. Antosianin adalah pigmen berwarna yang umumnya terdapat
di bunga berwarna merah, biru, dan ungu. Pigmen ini juga terdapat dibagian
tumbuhan lain,misalnya pada bagian buah tertentu, batang, daun, dan bahkan akar.
Antosianin berfungsi untuk menarik perhatian burung atau lebah yang membawa
serbuk sari. Sedangkan flavonol dan flavon merupakan pigmen berwarna
kekuningan atau gading, yang dapat memberikan warna pada bunga. Flavonol dan
flavon juga tersebar di daun yang mana memiliki fungsi untuk mencegah pemakan,
dan karena dapat menyerap radiasi UV, maka berperan sebagai pelindung terhadap
sinar UV gelombang panjang (Salisbury dan Ross, 1995).
2.3 Identifikasi Senyawa
Penggolongan jenis flavonoid dalam jaringan tumbuhan mula- mula di dasarkan
kepada sifat kelarutan dan reaksi warna. Kemudian diikuti dengan pemeriksaan
tumbuhan yang telah dihidrolisis secarakromatografi saru arah, dan pemeriksaan
ekstrak etanol secara dua arah. Akhirnya, flavonoid dapat dipisahkan dengan cara
kromatografi. Komponen masing-masing diidentifikasi dengan membandingkan
kromatografi dan spektrum, dengan memakai senyawa pembanding yang sudah
dikenali. Senyawa baru yang ditemukan sewaktu pengamatan memerlukan
pemeriksaan kimia dan spektrum yang lebih terinci (Harborne,1987).
A. Reaksi warna
Pengujian dilakukan dengan beberapa pereaksi berikut (Geissman,1962) :
a. Uji Wilstatter
Sejumlah tertentu sampel ditambah serbuk Mg dan HCl pekat. Setalah
terjadi perubahan warna diencerkan dengan air suling, kemudian
ditambahkan dengan butanol. Warna jingga menunjukan adanya flavon,
merah pucat menunjukan adanya flavonol, merah tua menunjukan adanya
flavonon.
b. Uji Bate Smith-Matcalf
Sejumlah tertentu sampel ditambahkan H2SO4 pekat dan dipanaskan
selama 15 menit diatas penangas air. Warna merah terang atau ungu
menunjukan adanya leukoantoniasinin.

5
B. Pemeriksaan aglikon flavonoid dalam ekstrak tumbuhan yang telah dihidrolisis
Cara umum untuk mengamati flavonoid dalam jaringan tumbuhan :
1) Sedikit jaringan tumbuhan (biasanya bunga atau daun) direndam dalam HCl
2M dalam tabung reaksi, dan dipanaskan selama 30-40 menit pada suhu
100℃.
2) Kemudian bila perlu ekstrak yang telah didinginkan, disaring dan diekstraksi
dengan etil asetat.
3) Bila larutan berwarna, maka ekstrak cair dipanaskan lebih lanjut untuk
menghilangkan sesepora etil asetat yang tertinggal. Kemudian diekstraksi
ulang dengan amil alkohol.
4) Etil asetat diuapkan sampai kering, tambahkan etanol 1 – 2 tetes, dan
kromatografi satu arah berdampingan dengan pembanding autentik,
memakai 5 pengembang : Forestal (asam asetat : HCl pekat : air 30:3:1),
HOAc 50% (asam asetat 50% dalam air), BAA (n-butanol : asam asetat: air
4:1:5, lapisan atas), PhOH (fenol yang telah dijenuhkan dengan air).
5) Ekstrak amil alkohol yang harus berwarna, dipekatkan sampai kering,
ditambahkan beberapa tetes HCl 1% dalam metanol, dan dikromatografi
menggunakan pengembang forestal dan asam format (asam format:HCl
pekat: air 5:2:3) (Harborne,1987).
C. Pemeriksaan flavonoid dalam ekstrak etanol tumbuhan
Cara yang paling sering digunakan untuk pengamatan flavonoid dalam
jaringa tumbuhan yaitu dengan kromatografi kertas 2 arah dari ekstrak etanol
pekat dengan menggunakan pengembang BAA dan asam asetat 5%.
Pembanding baku yang sering pada kromatogram digunakan yaitu glikosida
flavonol, karena letaknya yang kira-kira ditengah kromatogram . hasil yang
hampir serupa jika menganti kerta kromatografi dengan plat selulosa MN 300,
yang mana memiliki keuntungan dapat melakukan pemisahan dalam waktu
yang lebih singkat. Untuk ekstraksi serbuk kering jaringan tumbuhan dapat
diekstraksi dengan sedikit etanol 70% pada suhu kamar selama 8 – 24 jam, dan
biasanya ekstrak ini dapat ditotolkan langsung pada plat atau kertas
kromatografi (Harborne,1987).

6
Tabel warna flavonoid dengan sinar tampak dan sinar ultraviolet
Warna dengan Sinar UV
Warna
Sendiri dengan Amonia Petunjuk
Jingga redup,
Jingga Biru Antosianidin 3-glikosida
merah
 Merah
senduduk
Merah
 Fluorosensi Antosianidin 3,5-
Merah Biru
merah kuning diglikosida
senduduk
atau merah
jambu
 Coklat  Coklat tua /hitam  6-hidroksi flavonol
tua/hitam  Merah tua/jingga dan flavon, dan
murup khalkon glikosida
 Jingga  Khalkon
Kuning murup
murup/merah
 Kuning  Auron
murup/hijau
kuning
 Kuning  Glikosida flavonol
murup/coklat
 Kuning
Kuning pucat Coklat tua  Kuning kunyit  Flavon
 Hijau coklat tua glikosida,biflavonil,
flavon

 Merah  Coklat lemah Isoflavon dan flavonol


senduduk tua

Nihil  Biru lemah  Biru kuat 5-dekoksiisoflavon,


 Merah  Kuning 7,8-hidroksi flavonon,
senduduk tua pucat/hijau flavanonol 7-glikosida
kuning

7
3. ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat 3.2 Bahan
a. Pipet a. Ekstrak Psidium guajava L.
b. Tissue dan kain lap b. Aquades
c. Sudip c. Etanol
d. Label d. HCl pekat
e. Penjepit kayu e. n-heksana
f. Aluminuim foil f. Magnesium
g. Pinset g. Butanol
h. Vial 10 ml h. Kloroform:aseton:asam
i. KLT formiat (6:6:1).
j. Plat kaca i. Kiesel Gel GF 254
j. Pereaksi sitrat borat
k. Uap amonia
l. Asam sulfat 10%

4. PROSEDUR KERJA
4.1. Preparasi sampel
a. 0,3 gram ekstrak dikocok dengan 3 ml n-heksana berkali-kali dalam tabuing
reaksi sampai ekstrak n-heksan tidak berwarna.
b. Residu dilarutkan dalam 20 ml etanol dan dibagi menjadi 4 bagian, masing-
masing bagian disebut dengan larutan IIIA, IIIB, IIIC, dan IIID.
4.2. Reaksi warna
a. Uji Bate-Smith dan Metcalf
a) Larutan IIIA sebagai blanko, larutan IIIB ditambahkan 0,5 ml HCl pekat
dan diamati perubahan warna yang terjadi, kemudian dipanaskan diatas
penangas air an diamati lagi berubahan warna yang terjadi.
b) Bila perlahan-lahan menjadi warna merah terang atau ungu menunjukan
adanya senyawa leukoantosianin (dibandingkan dengan blanko).
b. Uji Wilstater
a) Larutan IIIA sebagai blanko, larutan IIIC ditambahkan 0,5 ml HCl pekat
dan sedikit serbuk magnesium.

8
b) Diamati perubahan warna yang terjadi, diencerkan dengan 2 ml air suling,
kemudian ditambahkan 1 ml butanol.
c) Diamati warna yang terjadi disetiap lapisan. Perubahan warna jingga
menunjukan adanya flavon, merah pucat menunjukan adanya flavonol,
merah tua menunjukan adanya flavonon.
4.3. Kromatografi Lapis Tipis
a. Larutan IIID ditotolkan pada fase diam.
b. Uji kromatografi lapis tipis ini menggunakan :
Fase diam : Lapisan tipis selulosa (diganti Kiesel Gel 254)
Fase gerak : Kloroform: aseton: asam formiat (6:6:1 tetes)
Penampak noda : - Pereaksi sitrat borat atau
- Uap amonia atau
- asam sulfat 10%
c. Adanya flavonoid ditunjukan dengan timbulnya noda berwarna kuning intensif
d. Noda kuning yang ditimbulkan ammonia akan hilang secara perlahan ketika
ammonianya menguap meninggalkan noda.
e. Sedangkan noda kuning yang ditimbulkan oleh pereaksi sitrat borat sifatnya
permanen.

9
5. BAGAN ALIR
5.1. Preparasi Sampel

0,3 gram ekstrak dikocok dengan 3 ml n-heksana


berkali-kali dalam tabuing reaksi sampai ekstrak n-
heksan tidak berwarna.

Residu dilarutkan dalam 20 ml etanol dan dibagi


menjadi 4 bagian, masing-masing bagian disebut
dengan larutan IIIA, IIIB, IIIC, dan IIID.

5.2. Reaksi warna


A. Uji Bate-Smith dan Metcalf

Larutan IIIA sebagai blanko, larutan IIIB ditambahkan 0,5


ml HCl pekat dan diamati perubahan warna yang terjadi

Kemudian dipanaskan diatas penangas air an diamati lagi


berubahan warna yang terjadi

Bila perlahan-lahan menjadi warna merah terang atau ungu


menunjukan adanya senyawa leukoantosianin
(dibandingkan dengan blanko).

10
B. Uji Wilstater

Larutan IIIA sebagai blanko, larutan IIIC ditambahkan


0,5 ml HCl pekat dan sedikit serbuk magnesium.

Diamati perubahan warna yang terjadi, diencerkan


dengan 2 ml air suling, kemudian ditambahkan
1 ml butanol.

Diamati warna yang terjadi disetiap lapisan. Perubahan


warna jingga menunjukan adanya flavon, merah pucat
menunjukan adanya flavonol, merah tua menunjukan
adanya flavonon.

5.3. Kromatografi Lapis Tipis

Larutan IIID ditotolkan pada fase diam.

Fase diam : Lapisan tipis selulosa


(diganti Kiesel Gel 254)
Fase gerak : Kloroform: aseton: asam formiat
(6:6:1 tetes)
Penampak noda : - Pereaksi sitrat borat atau
- Uap amonia atau
- asam sulfat 10%

11
6. SKEMA KERJA
6.1. Preparasi Sampel

0,3 g ekstrak + 3 ml Residu + 20 ml Dibagi menjadi 4


n-Heksana (berkali- etanol bagian (larutan
kali), dikocok IIIA,IIIB,IIIIC,IIID
sampai tidak
berwarna

6.2. Reaksi Warna


A. Uji Bate-Smith dan Metcalf

Larutan IIIA Larutan IIIB + Kemudian


sebagai belanko 0,5 ml HCl dipanaskan
pekat, amati dipenangas air,
perubahan warna Amati perubahan
warna

B. Uji Wilstater

Larutan IIIA Larutan IIIC + Diencerkan


sebagai blanko 0,5 ml HCl pekat dengan 2 ml
+ sedikit serbuk aquades + 1 ml
magnesium butanol , Amati
amati perubahan perubahan warna
warna

12
6.3. Kromatografi Lapis Tipis

Larutan IIID, ditotolkan pada amati warna nya pada sinar UV


plat KLT 254 dan sinar UV 365

13
7. HASIL PENGAMATAN
7.1. Reaksi Warna
A. Uji Bate-Smith dan metcalf

Warna Hasil
Positif mengandung
Merah terang Leukoantosianin
Blanko

B. Uji Wilstatter

Warna Hasil

IIIC
Postif mengandung
IIIA Jingga
Blanko Flavon

14
7.2. Kromatografi Lapis Tipis
Fase diam : Lapisan tipis selulosa (diganti Kiesel Gel 254)
Fase gerak : Kloroform: aseton: asam formiat (6:6:1 tetes)

a. UV 254 nm b. UV 365 nm

d. Derivatisasi Asam sulfat 10% c. Derivatisasi Asam sulfat 10%


Pada UV 365 nm secara visual

Tabel hasil harga Rf Uji Kromatografi Lapis Tipis


Harga Rf Warna

0,95 Kuning intensif

15
8. PEMBAHASAN

16
9. KESIMPULAN

17
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Azwar. 2012. Tanaman Obat Indonesia. Jakarta. Salemba Medika.


Harborne, J.B. 1984. Metode Fitokimia Penuuntun Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan. Bandung. ITB.
Rukmana, Rahmat, 1996. Jambu Biji. Yogyakarta. Kanisius.
Salisbury, Frank B. Dan Cleon W Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung. ITB.

18