Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN FISIOLOGI HEWAN

“REFLEKS PUPIL DAN BINTIK BUTA PADA MAMALIA”

Pelaksanaan : Selasa, 10 April 2018


Dosen : Erlix Rachmad Purnama, S.Si., M.Si.

Kelompok 9

Yeni Nur Afifah 16030204001


Manis Fauziah 16030204013
Trisa Nur Wakhidah 16030204025
Rysa Titanika Wati 16030204031

PBA 2016

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2018
I. Judul
Refleks Pupil dan Bintik Buta Pada Mamalia
II. Rumusan Masalah
1. Bagaimana mengetahui refleks pupil ketika ada cahaya yang masuk?
2. Bagaimana mengetahui refleks pupil terhadap akomodasi mata?
3. Bagaimana menentukan jarak benda yang bayangannya jatuuh pada bintik buta?
III. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Praktikan dapat mengetahui refleks pupil ketika ada cahaya yang masuk
2. Praktikan dapat mengetahui refleks pupil terhadap akomodasi mata
3. Praktikan mampu menentukan jarak benda yang bayangannya jatuuh pada bintik
buta
IV. Hipotesis
Adapun hipotesis dari praktikum ini adalah:
1. Ha : Ada pengaruh refleks pupil terhadap intensitas cahaya
H0 : Tidak ada refleks pupil terhadap intensitas cahaya
2. Ha : Ada pengaruh refleks pupil terhadap akomodasi mata
H0 : Tidak ada refleks pupil terhadap akomodasi mata
3. Ha : Ada pengaruh pengubahan jarak antar koin terhadap jatuhnya bayangan dari
benda pada bintik buta
H0 : Tidak ada pengaruh pengubahan jarak antar koin terhadap jatuhnya
bayangan dari benda pada bintik buta
V. Dasar Teori

Mata merupakan indera penglihatan terutama pada mamalia. Mata tersusun atas
bermacam-macam jaringan, seperti jaringan otot, jaringan syaraf, jaringan ikat dan
jaringan pembuluh darah. Dalam jaringan mata terdapat banyak sel dalam
menghubungkan satu sama lain. Pada bagian-bagian mata terdapat lensa, sklera,
retina, pupil, iris, kornea, saraf mata, forea, pembuluh darah itu semua bagian besar
mata. Semua bagian itu menjadi satu dan bekerja sama dalam menjalankan tugasnya
sebagai alat penglihatan (Reza, 2009).
Proses melihat didahului dengan pembentukan bayangan di retina yang melalui
empat proses. Pertama, pembiasan sinar atau cahaya. Hal ini berlaku apabila cahaya
melalui perantaraan yangberbeda kepadatannya dengan kepadatan udara yaitu kornea,
humor aqueous, lensa dan humor vitreus. Kedua, akomodasi lensa, yaitu proses lensa
menjadi cembung atau cekung, tergantung pada objek yang dilihat itu dekat atau jauh.
Ketiga, pengecilan garis pusat pupil agar cahaya tepat di retina sehingga penglihatan
tidak kabur. Pupil juga mengecil apabila cahaya yang terlalu terang memasukinya
atau melewatinya dan ini penting untuk melindungi mata dari paparan cahaya yang
tiba-tiba atau terlalu terang. Keempat, pemfokusan, yaitu pergerakan kedua bola mata
sedemikian rupa sehingga kedua bola mata terfokus kea rah objek yang sedang dilihat
(Hamim, 2003).
Salah satu bagian mata yang penting adalah pupil. Pupil merupakan bagian
mata yang berfungsi sebagai penerus cahaya yang telah diterima oleh kornea. Pupil
berperan sebagai penentu kuantitas cahaya yang masuk ke bagian mata. Pupil
bentuknya selalu berubah-ubah, tidak tetap. Tergantung dari kuantitas cahaya yang
masuk ke mata. Lebar pupil dipengaruhi oleh iris yang merupakan diafragma yang
tidak tetap. Iris inilah yang merupakan warna pada mata. Bentuk pupil statis dan
selalu berubah-ubah karena fungsi pupil sebagai penangkap atau penerus cahaya
(Reza, 2009).
Proses visual dimulai saat cahaya memasuki mata, terfokus pada retina dan
menghasilkan sebuah bayangan yang kecil dan terbalik. Ketika dilatasi maksimal,
pupil dapat dilalui cahaya sebanyak lima kali lebih banyak dibandingkan ketika
sedang konstraksi maksimal. Diameter pupil ini sendiri diatur oleh dua elemen
kontraktil pada iris yaitu papillary constrictor yang terdiri dari otot-otot sirkuler dan
papillary dilator yang terdiri dari sel-sel epithelial kontraktil yang telah termodifikasi.
Sel-sel tersebut dikenal juga sebagai myoepithelial cells (Saladin, 2003).
Menurut Haeny (2009), pupil membesar pada saat gelap dan berkontraksi pada
saat terang. Ukuran pupil setiap saat berubah disebabkan oleh keseimbangan antara
stimulasi simpatis dan parasimpatis. Jumlah cahaya yang memasuki mata diatur oleh
ukuran pupil. Ukuran pupil dikontrol oleh serat-serat otot sirkuler dan radial.
Pengontrolan serat-serat otot tersebut diatur oleh:
 serat simpatis yang berasal dari ganglion servikalis superior pada rantai simpatis di
leher. Impuls yang menjalar sepanjang serat tersebut mendilatasi pupil dengan cara
relaksasi otot sirkuler;
 serat parasimpatis yang menjalar dengan saraf cranial ke-3 (okulomotoris). Impuls
sepanjang serat tersebut menyebabkan kontraksi pupil dengan cara relaksasi serat
radial.
Jika sistem saraf simpatis teraktivasi, sel-sel ini berkontraksi dan melebarkan
pupil sehingga lebih banyak cahaya dapat memasuki mata. Kontraksi dan dilatasi
pupil terjadi pada kondisi dimana intensitas cahaya berubah dan ketika kita
memindahkan arah pandangan kita ke benda atau objek yang dekat atau jauh. Pada
tahap selanjutnya, setelah cahaya memasuki mata, pembentukan bayangan pada retina
bergantung pada kemampuan refraksi mata (Saladin, 2006).
Kornea merefraksi cahaya lebih banyak dibandingkan lensa. Lensa hanya
berfungsi untuk menajamkan bayangan yang ditangkap saat mata terfokus pada benda
yang dekat dan jauh. Setelah cahaya mengalami refraksi, melewati pupil dan
mencapai retina, tahap terakhir dalam proses visual adalah perubahan energi cahaya
menjadi aksi potensial yang dapat diteruskan ke korteks serebri. Proses perubahan ini
terjadi pada retina (Saladin, 2003).
Mekanisme pembentukan bayangan pada mata dimulai dengan pengubahan
energi dalam spektrum yang dapat dilihat menjadi potensial aksi di nervus optikus.
Panjang gelombang cahaya yang dapat dilihat berkisar dari 397 nm sampai 723 nm.
Bayangan benda di sekitar difokuskan di retina. Berkas cahaya yang mencapai retina
akan mencetuskan potensial didalam sel kerucut dan batang. Impuls yang timbul di
retina dihantarkan ke korteks serebrum, untuk dapat menimbulkan kesan penglihatan.
Proses meningkatnya kelengkungan lensa disebut akomodasi. Kekuatan lensa
bergantung pada bentuknya, yang diatur oleh otot siliaris. Ketika otot siliaris
melemas, ligamentum suspensorium tegang dan menarik lensa, sehingga lensa
berbentuk gepeng. Ketika berkontraksi, garis tengah otot ini berkurang dan tegangan
di ligamentum suspensorium mengendur dan lensa meningkat kelengkungannya
(semakin cembung). Pada mata normal, otot siliaris melemas dan lensa mendatar
untuk penglihatan jauh, tetapi otot siliaris akan berkontraksi sehingga lensa menjadi
lebih cembung pada penglihatan dekat. Otot siliaris dikontrol oleh sistem saraf
otonom. Serat-serat saraf simpatis menginduksi relaksasi otot siliaris pada
penglihatan jauh, sementara sistem parasimpatis menyebabkan kontraksi otot untuk
penglihatan dekat (Sherwood, 2001).
Di dalam retina juga terdapat bintik kuning, yaitu bagian mata yang sangat
peka terhadap cahaya. Apabila bayangan benda jatuh pada bintik kuning, benda akan
terlihat, karena pada bintik kuning terdapat sel batang dan sel kerucut yang akan
meneruskan rangsangan yang diterima ke saraf optik yang selanjutnya di kirim ke
otak untuk diproses dan terjadilah kesan melihat. Sedangkan bila bayangan jatuh pada
bintik buta, tidak akan terjadi kesan melihat karena tidak ada sel batang dan sel
kerucut yang akan meneruskan rangsangan cahaya tersebut ke saraf optik.
Panjangnya medan titik buta dapat diketahui dengan menghitung panjang
jarak objek hilang dari penglihatan dan jarak objek muncul kembali dalam
penglihatan. Pada umumnya jarak bintik buta mata kanan dan mata kiri hampir sama
untuk kebanyakan orang. Benda yang bayangannya jatuh pada bintik buta suatu mata,
bayangannya tidak akan jatuh pada bintik buta mata sebelahnya. Orang tidak
memperoleh kesan penglihatan dari bayangan yang jatuh pada tempat yang tidak
mengandung sel batang dan sel kerucut (Raharjo dkk., 2017).

VI. Variabel
1. Variabel kontrol
Subjek percobaan (praktikan), jarak posisi 5 buah mata uang logam
2. Variabel manipulasi
Intensitas cahaya lingkungan, jarak benda, jarak antar mata uang logam.
3. Variabel respon
Refleks pupil, jarak bayangan benda yang jatuh tepat pada bintik buta.
VII. Definisi Operasional Variabel
1. Variabel kontrol
Pada praktikum kali ini yang dijadikan variabel kontrol yaitu subjek percobaan
(praktikan). Praktikan dijadikan kontrol karena diameter pupil setiap individu
berbeda, sehingga harus satu praktikan yang dijadikan sebagai subjek percobaan.
Jumlah uang logam 5 koin ditempatkan berdiri lurus ke belakang dengan jarak
masing-masing 8 mm. Jarak mata uang logam ke mata merupakan jarak benda yang
bayangannya jatuh pada bintik buta.
2. Variabel manipulasi
Variabel manipulasi yang digunakan yaitu kondisi lingkungan, jarak benda dan jarak
antar mata uang logam. Kondisi lingkungan yang dimanipulasi yaitu pada tempat
gelap dan tempat terang. Kondisi gelap memiliki intensitas cahaya rendah dan kondisi
terang memiliki intensitas cahaya yang lebih tinggi. Kondisi lingkungan akan
mempengaruhi perbedaan diameter pupil mata praktikan. Jarak benda yang dilakukan
yaitu melihat benda yang jauh dan dekat letaknya. Hal tersebut nantinya akan
mempengaruhi perbedaan diameter pupil mata praktikan. Jarak antar mata uang
logam diubah dengan memperbesar atau memperkecil jarak antar mata uang logam
tersebut. Hal tersebut nanya akan berpengaruh pada jarak benda yang bayangannya
jatuh pada bintik buta.
3. Variabel respon
Refleks pupil dan jarak bayangan benda yang jatuh tepat pada bintik buta merupakan
variabel respon dari praktikum saat ini. Pada praktikum reflex pupil terhadap
intensitas cahaya, diameter pupil akan membesar saat diterangi dengan senter dan
diameter pupil akan mengecil saat berada di tempat yang gelap. Pada praktikum
reflex pupil terhadap akomodasi mata , diameter pupil akan membesar saat praktikan
melihat benda yang jauh letaknya dan diameter pupil akan mengecil saat praktikan
melihat benda yang dekat letaknya. Jarak bayangan benda yang jatuh tepat pada
bintik buta berpengaruh pada benda yang bayangannya jatuh pada bintik buta suatu
mata, bayangannya tidak akan jatuh pada bintik buta mata sebelahnya.

VIII. Alat dan Bahan


8.1 Bahan
- Subjek percobaan (praktikan) 2 orang
- Kertas karton tebal 1 lembar
8.2 Alat
- Penggaris 1 buah
- Senter 1 buah
- Sapu tangan 1 buah
- Uang logam 5 koin

IX. Langkah Kerja


9.1. Refleks Pupil Terhadap Intensitas Cahaya
1. Menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan.
2. Mengukur dan mencatat diameter pupil praktikan pada keadaan normal dengan
cara meletakkan penggaris di bawah salah satu mata praktikan. Pengukuran
dilakukan pada mata kanan dan kiri.
3. Meminta praktikan untuk memejamkan mata dengan menutup mata praktikan
menggunakan tangan, sedang penggaris tetap dipegang.
4. Meminta praktikan untuk membuka mata secara mendadak, dan mengukur
diameter matanya (kanan dan kiri). Hasil pengukuran kemudian dibandingkan
dengan pengukuran diameter pupil saat dalam keadaan normal.
5. Meminta kembali praktikan untuk memejamkan mata.
6. Secara mendadak, meminta praktikan untuk membuka mata, sedang mata
praktikan telah diterangi dengan senter sambil mengukur diameter pupil praktikan
(kanan dan kiri).
7. Mengulangi percobaan pada praktikan lain kemudian membandingkan hasil data
yang diperoleh.
9.2. Refleks Pupil Terhadap Akomodasi Mata
1. Menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan.
2. Mengukur dan mencatat diameter pupil praktikan pada keadaan normal dengan
cara meletakkan penggaris di bawah salah satu mata praktikan. Pengukuran
dilakukan pada mata kanan dan kiri.
3. Meminta praktikan untuk melihat handphone yang diletakkan sejauh 3 meter dari
praktikan. Mengukur diameter pupil mata kanan dan kiri praktikan.
4. meminta praktikan untuk melihat handphone yang diletakkan sejauh 20 cm dari
praktikan. Mengukur diameter pupil mata kanan dan kiri praktikan.
5. Mengulangi percobaan pada praktikan lain.
9.3. Bintik Buta
1. Menyusun lima buah mata uang logam berdiri lurus ke belakang dengan jarak
tiap-tiap mata uang logam sejauh 8 mm.
2. Menutup mata kanan praktikan dengan kertas karton. Sedangkan mata kiri tertuju
pada baian tengah dari uang logam terdepan.
3. Menyakan berapa banyak uang logam yang terlihat. Menutup mata kanan
praktikan dengan kertas karton. Sedangkan mata kiri tertuju pada baian tengah
dari uang logam terdepan.
4. Menyakan berapa banyak uang logam yang terlihat. Jarak mata uang logam ke
mata praktikan merupakan jarak benda yang bayangannya jatuh pada bintik buta.
5. Mengulangi percobaan dengan mencoba memperbesar (2 cm) atau memperkecil
(0,1) jarak antar uang logam. Membandingkan data yang diperoleh.
6. Mengulangi percobaan pada praktikan lain.

X. Hasil dan Pembahasan


A. Hasil
Tabel 5. Refleks pupil terhadap intensitas cahaya

Diameter pupil
No. Nama
Gelap (mm) Terang(mm)
1 Novi 6 4
2 Syamsi 5 3
3 Laily 6 3
4 Nada 5 3
5 Wulan 3 2
6 Aan 4 3
7 Rysa 6 3
8 Yeni 5 2
9 Mu’arikha 5 1
10 Ela 6 3
11 Sintha 5 2
12 Regi 4 2
13 dinda 5 2
14 Majidda 4 2
15 Winda 8 6
16 Nurul 6 5
17 Ninin 5 3
18 I’in 6 4
Tabel 6. Refles pupil terhadap akomodasi

Diameter pupil
No. Nama
Gelap (mm) Terang(mm)
1 Yeni 6 4
2 Rysa 7 5
3 Dwi 6 5
4 Iza 5 4
5 Mu’arikha 6 3
6 Majidda 5 4
7 Sintha 6 3
8 Ela 5 3
9 Ninin 5 4
10 I’in 6 5
11 Muna 6 4
12 Alfia 7 3
13 Dinda 4 3
14 Regi 4 3
15 Wulan 5 4
16 Aan 6 5
17 Nada 5 3
18 Laily 6 4

Tabel 7. Bintik buta

Jumlah koin
No. Nama
4 mm 8 mm 50 mm
1 Novi 5 5 4
2 Iza 5 4 2
3 Ela 5 5 4
4 Sintha 5 5 4
5 Wulan 5 5 4
6 I’in 5 4 4
7 Ninin 5 4 3
8 Winda 5 4 4
9 Nurul 3 2 4
10 Nada 1 2 5
11 Laily 1 4 5
12 Mu’arikha 5 5 4
13 Majida 4 5 4
14 Regi 4 5 3
15 Dinda 4 5 4
16 Trisa 5 5 4
17 Manis 5 4 3
18 Uswa 5 5 4
Analisis

Berdasarkan hasil praktikum refleks pupil terhadap intensitas cahaya, diameter


pupil mata pada saat keadaan gelap membesar dengan rata-rata 5,2 cm yang diuji oleh
18 praktikan. Sedangkan pada keadaan terang, rata-rata diameter pupil mata yang
dihasilkan yaitu 2,7 cm yang diuji oleh 18 praktikan. Pada uji refleks pupil terhadap
akomodasi mata, rata-rata diameter pupil yang dihasilkan saat praktikan diminta
melihat benda-benda yang jauh letaknya yaitu 5,5 cm. Sedangkan rata-rata diameter
pupil yang dihasilkan saat praktikan diminta melihat benda-benda yang dekat
letaknya yaitu 3,8 cm. Pada uji bintik buta jumlah koin yang diubah jarak antar mata
uang logam 4 mm didapatkan hasil yang dominan terlihat yaitu 5 koin, untuk jarak 8
mm yang dominan terlihat yaitu 5 koin dan untuk jarak 50 mm yang dominan terlihat
yaitu 4 koin.

B. Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, refleks pupil terhadap intensitas
cahaya mempengaruhi diameter pupil mata. Pada keadaan intensitas cahaya
rendah (gelap), pupil akan membesar dengan rata-rata 5,2 cm yang diuji oleh 18
praktikan. Sedangkan pada keadaan intensitas cahaya tinggi (terang), pupil akan
mengecil dengan rata-rata 2,7 cm yang diuji oleh 18 praktikan. Keterkaitan
intensitas cahaya dengan memperbesar atau mengecilnya pupil mata sesuai
dengan fungsi dari pupil itu sendiri. Pupil berperan sebagai penentu kuantitas
cahaya yang masuk ke bagian mata. Pupil bentuknya selalu berubah-ubah, tidak
tetap. Tergantung dari kuantitas cahaya yang masuk ke mata (Reza, 2009).
Menurut Haeny (2009), pupil membesar pada saat gelap dan berkontraksi pada
saat terang. Ukuran pupil setiap saat berubah disebabkan oleh keseimbangan
antara stimulasi simpatis dan parasimpatis. Jumlah cahaya yang memasuki mata
diatur oleh ukuran pupil. Ukuran pupil dikontrol oleh serat-serat otot sirkuler dan
radial.
Pada uji refleks pupil terhadap akomodasi mata dihasilkan data bahwa pada
saat praktikan diminta melihat benda-benda yang jauh letaknya, ukuran diameter
pupilnya akan membesar dengan rata-rata 5,5 cm yang diuji oleh 18 praktikan.
Sedangkan rata-rata diameter pupil yang dihasilkan saat praktikan diminta melihat
benda-benda yang dekat letaknya yaitu 3,8 cm. Keterkaitan refleks pupil tersebut
dengan akomodasi mata sesuai dengan peran pupil. Bahwa pupil mata akan
membesar saat melihat benda jauh, sedangkan pupil mata akan mengecil saat
melihat benda dekat. Pada sistem saraf simpatis teraktivasi, sel-sel ini
berkontraksi dan melebarkan pupil sehingga lebih banyak cahaya dapat memasuki
mata. Kontraksi dan dilatasi pupil terjadi pada kondisi dimana intensitas cahaya
berubah dan ketika kita memindahkan arah pandangan kita ke benda atau objek
yang dekat atau jauh. Pada tahap selanjutnya, setelah cahaya memasuki mata,
pembentukan bayangan pada retina bergantung pada kemampuan refraksi mata
(Saladin, 2006).
Pada uji bintik buta jumlah koin yang diubah jarak antar mata uang logam 4
mm didapatkan hasil yang dominan terlihat yaitu 5 koin, untuk jarak 8 mm yang
dominan terlihat yaitu 5 koin dan untuk jarak 50 mm yang dominan terlihat yaitu
4 koin. Dari data tersbut dapat diketahui bahwa jarak antar koin mempengaruhi
jumlah koin yang terlihat. Keterkaitan antara jarak koin dengan jumlah koin yang
terlihat dipengaruhi oleh adanya bintik buta. Pada jarak tertentu benda akan
terlihat dan pada jarak tertentu benda tidak akan terlihat. Ketika benda tidak
terlihat, disebabkan oleh pembiasan cahaya dari benda tersebut yang jatuh di
bagian bintik buta pada retina yang cahayanya jatuh pada bagian yang tidak
mengenai sel-sel batang dan kerucut. Sehingga tidak ada impuls yang diteruskan
ke saraf optik. Sebaliknya, jika pembiasan cahaya dari suatu benda jatuh di bagian
bintik kuning pada retina, maka benda dapat terlihat. Panjangnya medan titik buta
dapat diketahui dengan menghitung panjang jarak objek hilang dari penglihatan
dan jarak objek muncul kembali dalam penglihatan. Pada umumnya jarak bintik
buta mata kanan dan mata kiri hampir sama untuk kebanyakan orang. Benda yang
bayangannya jatuh pada bintik buta suatu mata, bayangannya tidak akan jatuh
pada bintik buta mata sebelahnya. Orang tidak memperoleh kesan penglihatan dari
bayangan yang jatuh pada tempat yang tidak mengandung sel batang dan sel
kerucut (Raharjo dkk., 2017).
C. Diskusi
1. Apakah ada pengaruh cahaya pada diameter pupil praktikan?
2. Apakah ada perbedaan diameter pupil praktikan saat melihat benda jauh dan
dekat?
3. Berapa jarak bayangan benda yang jatuh tepat pada bintik buta?
Jawab
1. Ya, ada. Pada keadaan intensitas cahaya rendah (gelap), pupil akan membesar
dengan rata-rata 5,2 cm yang diuji oleh 18 praktikan. Sedangkan pada
keadaan intensitas cahaya tinggi (terang), pupil akan mengecil dengan rata-
rata 2,7 cm yang diuji oleh 18 praktikan.
2. Ya, ada. Pada saat praktikan diminta melihat benda-benda yang jauh letaknya,
ukuran diameter pupilnya akan membesar dengan rata-rata 5,5 cm yang diuji
oleh 18 praktikan. Sedangkan rata-rata diameter pupil yang dihasilkan saat
praktikan diminta melihat benda-benda yang dekat letaknya yaitu 3,8 cm.
3. Perbandingan luas daerah perbandingan bintik buta yang di peroleh pada
jarak 4 mm lebih kecil bila di bandingkan dengan luas daerah pengaruh bintik
buta pada jarak 8 mm dan 50 mm. Pada saat jarak antar koin 4 mm, kjumlah
koin yang dominan terlihat yaitu 5. Bentuk dan luas daerah yang di pengaruhi
bintik buta pada setiap orang berbeda. Akan tetapi, pada umumnya jarak
bintik buta mata kanan dan mata kiri hampir sama untuk kebanyakan orang.
Bintik buta adalah daerah tempat saraf optik meninggalkan bagian dalam bola
mata dan tidak mengandung sel konus dan batang. Luas atau sempitnya bintik
buta di pengaruhi oleh luas atau sempitnya jarak antara sel konus dengan sel
batang, dan juga karena faktor jarak jika jaraknya dekat maka bintik butanya
sempit dan jika jaraknya jauh maka luas daerahnya luas. Daerah yang
memiliki bintik buta lebar berarti jarak antara sel batang dengan sel konus
agak lebar. Daerah yang memiliki bintik buta sempit berarti jarak antara sel
batang dengan sel konusnya sempit.
XI. Simpulan
Berdasarkan praktikum yang teah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Ada pengaruh refleks pupil terhadap intensitas cahaya. Pada saat keadaan gelap,
pupil mata akan membesar sedangkan pada saat keadaan terang, pupil mata akan
mengecil.
2. Ada pengaruh refleks pupil terhadap akomodasi mata. Pada saat praktikan melihat
benda yang jauh, pupil mata akan membesar sedangkan pada saat praktikan melihat
benda yang dekat, pupil mata akan mengecil.
3. Ada pengaruh pengubahan jarak antar koin logam terhadap bintik buta. Pada jarak
antar logam yang dekat, koin yang terlihat lebih banyak dibandingkan dengan jarak
antar logam yang jauh. Daerah yang memiliki bintik buta lebar berarti jarak antara
sel batang dengan sel konus agak lebar. Daerah yang memiliki bintik buta sempit
berarti jarak antara sel batang dengan sel konusnya sempit.
XII. Daftar Pustaka
Haeny, Noer. 2009. Analisis Faktor Risiko Keluhan Subjektif Kelelahan Mata pada
Radar Controller di PT. Angkasa Pura II (Persero) Cabang Utama Bandar
Soekarno-Hatta, Tangerang Tahun 2009. Skripsi. Jakarta: Universitas
Indonesia.

Raharjo, dkk. 2017. Petunjuk Praktikum Mata Kuliah Fisiologi Hewan Kode MK
3044214034/3084214029. Surabaya: Biologi UNESA.
Reza, Iredho Fani. 2009. Laporan Praktikum Psikologi Faal. Palembang: Institut
Agama Islam Negeri Raden Fatah.
Saladin, K.S., 2003. Anatomy & Physiology: The Unity of Form and Function. 3rd ed.
New York: McGraw-Hill.
Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia;dari Sel ke Sistem Edisi 2. Jakarta: EGC.
Wangko, Sunny. 2013. Histofisiologi Retina. Jurnal Biomedik (JBM). Vol: 5 (3). Hal:
1-6.
XIII. Lampiran