Anda di halaman 1dari 3

SISTEM KONTROL SPEEDTRONICTM MARK V SEBAGAI PENGENDALI KECEPATAN

PADA GAS TURBINE GENERATOR


Kontrol Kecepatan Pengaturan kecepatan putaran turbin gas oleh SPEEDTRONICTM
Mark V digunakan untuk mengetahui dan memantau kecepatan putaran dari turbin gas saat
operasi, mulai dari start-up hingga pada kedaan beban penuh. Dengan pemantauan ini, maka dapat
diketahui apakah turbin dalam keadaan normal atau tidak. Pada dasarnya komponen utama
pengendali kecepatan putaran turbin adalah FSR (Fuel Stroke Reference), yang secara langsung
mengatur suplai bahan bakar ke ruang pembakaran (combustion chamber). Untuk pengaturan FSR
sendiri terbagi menjadi dua macam mode, yaitu mode kontrol isochronus dan mode kontrol speed
droop.

Pada saat turbin mencapai kecepatan FSNL (3000 rpm) kontrol kecepatan putaran
berfungsi untuk menjaga kecepatan putaran turbin tetap konstan sehingga frekuensi tegangan
keluaran generator tetap terjaga pada 50 Hz meskipun generator dalam keadaan berbagai beban.
Sensor yang digunakan untuk mengukur kecepatan putaran aktual berupa magnetic pickup sensor
( 77NH-1, 2, 3). Untuk pengaturan kecepatan putaran itu sendiri terbagi menjadi dua macam mode,
yaitu mode kontrol isochronus dan mode kontrol speed droop. Ketika generator dihubungkan pada
jaringan maka generator akan mendapatkan beban dari jaringan. Pada kondisi tersebut maka akan
mengalir arus pada kumparan stator generator, sehingga akan timbul gaya torsi pada rotor
generator, yang melawan arah putaran turbin. Perlawanan torsi tersebut mengakibatkan
menurunnya kecepatan putaran
turbin sehingga program akan menaikkan nilai FSR untuk mencapai kembali putaran normal dan
menjaga kecepatan putaran turbin tetap disekitar 3000 rpm. Dalam keadaan normal, setting droop
yang dipilih sebesar 4% (Setting speed droop untuk semua Gas Turbine pada pembangkit di PLTG
Semarang). Pada mode droop akan terjadi penurunan nilai TNR secara otomatis dan linier terhadap
kenaikan beban. Hal itu dapat dilihat pada Gambar 5.2. Setpoint sebesar 104% akan menghasilkan
referensi kecepatan dimana hasilnya merupakan nilai FSR pada FSNL. Setpoint 100% TNR akan
menghasilkan sebuah nilai FSR yang dapat menghasilkan beban puncak. Selisih 4% pada FSNL
tersebut masih bisa ditoleransi. Pada Gambar 5.3 dapat dilihat bahwa respon dengan kontrol droop
lebih stabil dibandingkan dengan isochronous ketika terjadi kenaikan beban.

Ketika beroperasi dengan kontrol droop, FSR FSNL akan dipanggil untuk laju aliran bahan
bakar yang cukup untuk kecepatan penuh dengan generator berada pada kondisi beban nol. Nilai
TNR dapat diubah melalui perintah “RAISE” atau “LOWER” secara otomatis atau manual. Error
yang dihasilkan oleh TNH dan TNR tersebut akan dikalikan dengan penguatan konstan (Gain)
tergantung pada setting nilai droop yang diinginkan. Hasil dari operasi ini kemudian akan
dijumlahkan dengan nilai setting FSR FSNL untuk menghasilkan nilai FSR yang dibutuhkan oleh
turbin untuk menambah beban untuk menjaga frekuensi dari sistem.
Sensor Kecepatan
Sensor kecepatan pada kontrol kecepatan putaran turbin gas memiliki prinsip kerja yang
sederhana. Sensor tersebut bekerja berdasarkan besar flux magnetic yang dihasilkan dalam pick
up. Besarnya flux magnetic tersebut akan sebanding dengan perubahan jarak ujung pickup dengan
rotor turbin. Bentuk dari rotor turbin ini berupa gerigi-gerigi yang akan berputar saat turbin
beroperasi.. Frekuensi tegangan yang dihasilkan oleh sensor pada gigi rotor akan sebanding
dengan kecepatan turbin. Jumlah gigi rotor pada rotor turbin adalah 60 buah. Kecepatan rotor
turbin tersebut diukur dalam rotation per minute (RPM) dengan magnitude pengukuran tidak
kurang dari 2 volt rms pada kecepatan 1000 rpm. Tegangan yang dihasilkan ini merupakan sebuah
fungsi yang sebanding dengan kecepatan rotor. Frekuensi tegangan keluar dari sensor kecepatan
putar dalam hertz (Hz) sama dengan kecepatan putaran turbin ketika beroperasi dalam rpm yaitu
3 kHz .