Anda di halaman 1dari 14

PERBANDINGAN POLA PELAKSANAAN PADA MASA AWAL

PENGENALAN (MGMP, LSBS, LSc) DI INDONESIA

MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Pengembangan Kepropesian Pendidik
Melalui Lesson Study yang di Bimbing oleh Dr. Ibrohim, M.Si & Dr. Istamar
Syamsuri, M.Pd

Oleh:
Mushoffa
170341864553

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
MARET 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
segala rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Deskripsi Kedudukan Asesmen dan Evaluasi Hasil Belajar dalam
Pendidikan”.
Penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang ikut membantu
dalam penyelesaian makalah ini, baik yang berupa sumbangan pikiran, bimbingan,
ide dan motivasi yang sangat berarti, terutama ditujukan kepada:
1. Dr. Ibrohim, M.Si & Dr. Istamar Syamsuri, M.Pd. sebagai dosen pembina
matakuliah Pengembangan Kepropesian Lesson Study
2. Rekan-rekan mahasiswa pascasarjana pendidikan biologi kelas C yang telah
memberikan bantuan, semangat dan motivasi.
Segala bantuan yang diberikan kepada penulis semoga menjadi amal ibadah dan
diridhoi Allah SWT.
Penulis menyadari dalam makalah ini masih terdapat kekurangan yang luput
dari koreksi, sekalipun telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan
makalah ini. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Terakhir penulis menyampaikan harapan
semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

Malang, Maret 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 2
C. Tujuan ........................................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Bentuk-bentuk implementasi kegiatan lesson study .................................. 4
1. Bentuk impelemntasi LS pada MGMP ................................................. 4
2. Bentuk implementasi LS pada KKG .................................................... 5
3. Bentuk implementasi LS pada Sekolah ............................................... 5
4. Bentuk impelentasi LS pada LSc .......................................................... 7
B. Keuntungan dan kekurangan implementasi LS di Indonesia ..................... 7
1. Keuntungan impementasi LS ............................................................... 7
2. Kekurangan implementasi LS ............................................................... 8
C. Bentuk implementasi LS yang sesuai dengan situasi dan kondisi guru dan
pendidikan di Indonesia ............................................................................ 9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .....................................................................................................
B. Saran ..............................................................................................................
DAFTAR RUJUKAN

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Isu tentang pendidikan di Indonesia masih hangat untuk diperdebatkan,
terutama yang menyangkut kualitasnya. Kualitas pendidikan di Indonesia masih
sangat rendah tingkat kompetisi dan relevansinya (Parawansa, 2001; Siskandar, 2003;
Suyanto, 2001). Laporan United Nation Development Program (UNDP) tahun 2005
mengungkapkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia menempati posisi ke-110
dari 117 negara. Laporan UNDP tersebut mengindikasikan bahwa kualitas pendidikan
di Indonesia relatif rendah.
Sadar akan hasil-hasil pendidikan yang belum memadai, maka banyak upaya
telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk melakukan perbaikan. Upaya-upaya
tersebut, adalah melakukan perubahan atau revisi kurikulum secara
berkesinambungan, program Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Penataran
Kerja Guru (PKG), program kemitraan antara sekolah dengan Lembaga Pendidikan
Tenaga Kependidikan, proyek peningkatan kualifikasi guru dan dosen, dan masih
banyak program lain dilakukan untuk perbaikan hasil-hasil pendidikan tersebut.
Upaya-upaya tersebut telah dilakukan secara intensif, tetapi pengemasan pendidikan
sering tidak sejalan dengan hakikat belajar dan pembelajaran. Dengan kata lain,
reformasi pendidikan yang dilakukan di Indonesia masih belum seutuhnya
memperhatikan konsepsi belajar dan pembelajaran. Reformasi pendidikan seyogyanya
dimulai dari bagaimana siswa dan guru belajar dan bagaimana guru mengajar, bukan
semata-mata pada hasil belajar (Brook & Brook, 1993). Podhorsky & Moore (2006)
menyatakan, bahwa reformasi pendidikan hendaknya dimaknai sebagai upaya
penciptaan program-program yang berfokus pada perbaikan praktik mengajar dan
belajar, bukan semata-mata berfokus pada perancangan kelas dengan teacher proof
curriculum. Dengan demikian, praktikpraktik pembelajaran benar-benar ditujukan
untuk mengatasi kegagalan siswa belajar.
Praktik-praktik pembelajaran hanya dapat diubah melalui pengujian terhadap
cara-cara guru belajar dan mengajar serta menganalisis dampaknya terhadap perolehan
belajar siswa. Agar hal ini terjadi, sekolah perlu menciptakan suatu proses yang
mampu memfasilitasi para guru untuk melakukan kajian terhadap materi pembelajaran

1
dan strategi-strategi mengajar secara sistematis, sehingga dapat memfasilitasi siswa
untuk meningkatkan perolehan belajar. Guru seyogyanya mulai meninggalkan cara-
cara rutinitas dalam pembelajaran, tetapi lebih menciptakan program-program
pengembangan yang profesional. Upaya tersebut merupakan implikasi dari reformasi
pendidikan dengan tujuan agar mampu mencapai peningkatan perolehan belajar siswa
secara memadai. Program-program pengembangan profesi guru tersebut
membutuhkan fasilitas yang dapat memberi peluang kepada mereka learning how to
learn dan to learn about teaching. Fasilitas yang dimaksud, misalnya lesson study
(kaji pembelajaran).
Lesson Study (LS) atau Kaji Pembelajaran adalah suatu pendekatan
peningkatan pembelajaran yang awal mulanya berasal dari Jepang. Di Indonesia, LS
telah diterapkan di tiga daerah (Malang, Yogyakarta, dan Bandung) sejak tahun 2006
melalui skema Strengthening In-Service Teacher Training of Mathematics and
Science (SISTTEMS)(Susilo, 2007). Di Bali, isu tentang LS baru terdengar pada awal
tahun 2007. Melihat kenyataan tersebut, Lembaga Penelitian Universitas Pendidikan
Ganesha merasa terpanggil untuk mengadakan seminar secara rutin dan mengkaji
secara konseptual tentang LS. Di samping itu, telah diprogram pula rencana pelatihan
LS pada bulan Juli 2008. Program-program tersebut dianggap penting, karena secara
teoretis, LS menyediakan suatu cara bagi guru untuk dapat memperbaiki pembelajaran
secara sistematis (Podhorsky & Moore, 2006). LS menyediakan suatu proses untuk
berkolaborasi dan merancang lesson (pembelajaran) dan mengevaluasi kesuksesan
strategi-strategi mengajar yang telah diterapkan sebagai upaya meningkatkan proses
dan perolehan belajar siswa (Lewis, 2002; Lewis, et al., 2006; Yuliati, et al., 2006).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja bentuk-bentuk impelmentasi kegiatan Lesson study (LS-MGMP,
LSBS, LSc dll)
2. Apa keuntungan dan kelemahan masing-masing bentuk implementasi lesson
study di Indonesis
3. Apa bentuk implementasi lesson study yang sesuai dengan situasi dan kondisi
guru dan Pendidikan di Indonesia
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui bentuk-bentuk impelmentasi kegiatan Lesson study (LS-

2
MGMP, LSBS, LSc dll)
2 Untuk mengetahui keuntungan dan kelemahan masing-masing bentuk
implementasi lesson study di Indonesis
3 Untuk mengetahui bentuk implementasi lesson study yang sesuai dengan situasi
dan kondisi guru dan Pendidikan di Indonesia

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Implementasi Lesson Study


Impelementasi Lesson study dapat meningkatkan profesionalisme guru, maka
pelaksanaan LS secara berkesinambungan diyakini dapat meningkatkan praktik-praktik
pembelajaran sehari-hari. Bentuk impelmentasi pada beberapa kelompok belajar mempunyai
bentuk impelemntasi yang berbeda-beda, yaitu :
A. Bentuk Impelementasi LS-MGMP
Untuk mengawali dan memudahkan melaksankan lesson study disarankan
untuk dilakukan di tingkat MGMP atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran terlebih
dahulu. Hal ini karena di MGMP terkumpul Guru-Guru mata pelajaran yang
sebiadang studi. Misalnya di MGMP yang anggotanya terdiri dari guru matematika,
fisika, kelompok biologi, dll. Yang anggotanya berasal dari suatu wialayah. Adapaun
bentuk impelementasi lesson study di MGMP adalah sebagai berikut :
1. Pembagian kelompok MGMP di beberapa wilayah sesuai dengan dengan
mata pelajaran, misalnya MGMP di wilayah pasuruan MGMP SMP
matematika dibagi menjadi 8 wilayah, demikian juga MGMP sains SMP, juga
dibagi menjadi 8 wilayah. Pembagian itu didasarkan pada jauh dekatnya
sekolah agar memudahkan para guru berkumpul.
2. Pada LS-MGMP Biasanya kelompok MIPA terlebih dahulu dijadikan uji coba
pembelajaran, kemudian barulah IPS, bahasa, olahraga, kesenian, dll. Di
jepang, program studi LS diawali juga oleh kelompok bidang studi MIPA.
3. Jumlah guru yang menjadi anggota LS-MGMP antara 3-15 orang. Jika
anggota MGMP lebih dari 20 orang sebaiknya dijadikan 2 atau lebih
kelompok yang setiap kelompok anggotanya 3-15 orang yang lokasinya
berdekatan. Selain koordinasinya lebih mudah, anggota yang sedikit
memungkinkan setiap peserta berkesempatan membuka kelas. Jadi semuanya
anggota berkesempatan belajar diamati guru lain.
4. Dalam kelompok LSMGMP sebaiknya terdapat setidaknya seorang Guru
yang memahami dan telah terlatih melaksankan Lesson study. Misalkan guru
tersebut telah mengikuti pelatihan lesson study di tingkat nasional/regional,

4
dia dapat dijadikan fasilitator. Fasilitator fungsinya sebagai pemberi arah agar
kegiatan lesson study berjalan sesuai dengan sintaksnya
5. Karena melibatkan anggota MGMP, maka izin dari dinas Pendidikan artinya
untuk berkelanjutan program suti LS. Juga perlu mendapat izi dari masing-
masing kepala sekolah sehingga mendapatkan jalan keluar jika guru anggota
MGMP itu tidak mengajar di sekolah karena mengikuti LS di MGMP.

B. Bentuk Implementasi LS-KKG


Kegitan lesson study juga dapat diimpelementasikan dalam kegiatan-kegiatan
KKG (Kelompok kerja Guru) di tingkat sekolah Dasar. Khusus kegiatan lesson study
di KKG pada lingkup Sekolah Dasar sebenanrnya tidak jauh beda dengan kegiata
lesson study di MGMP. Hanya karena peserta KKG adalah Guru kelas yang
mengajar semua bidang studi atau tematik, kecuali beberapa tempat yang sudah ada
KKG bidang studi (KKG IPA, KKG Agama, dll), maka kegiatan lesson study di
KKG dapat di ikuti oleh semua Guru, terutama pada kegiatan open class, tidak
membatasi bidang studi tertentu, baik materi ajar yang dikaji maupun bidang studi
pengamat. Karena pada LS KKG sebagian besar Guru tematik maka pada kegiatan
LS KKG semua guru dapat menjadi pengamat untuk open class pelajaran apapun.

C.Bentuk Impelentasi LS-BS


Setelah kegiatan Lesson study di MGMP sudah dapat berjalan secara maksimal
dan manfaatnya dapat dirasakan oleh Guru-Guru MGMP, selanjutnya peseta LS dapat
merintis kegiatan lesson study berbasis sekolah (LSBS). Pada LS-BS dilaksanakan
setelah para guru melaksankan lesson study MGMP selama setahun. Inipun harus
didukung oleh kebijakan kepala sekolah karena melibatkan guru di sekolah tersebut.
Adapun bentuk implementasi kegiatan lesson study berbasis sekolah (LSBS) sebagai
berikut :
1. Pelaksanaan LS berbasis sekolah merupakan inisiatif kepala sekolah untuk
kegiatan LSBS di sekolah, artinya berjalan dan tidaknya kegiatan LSBS
tergantung dari kepala sekolah sebagai ketua penyelenggara kegitan LSBS di
sekolah. Karena kegiatan LSBS yang didukung oleh kepala sekolah dapat

5
meningkatkan kemampuan dan keprofesionalan guru sehingga meningkat pula
mutu pendidikan di sekolah.
2. Setelah semua unsure sepakat untuk melaksanakan kegiatan LSBS di sekolah,
kegiatan awal yang harus dilakukan adalah lokakarya (workshop) tentang
kegiatan LS. Dalam workshop jika memungkinkan sekolah mengundang
narasumber dari Dinas Pendidikan dan ahli LS dari perguruan tinggi yang telah
mahir dalam bidang Lesson study. Kegiatan workshop LS yang dilakukan di
sekolah bertujuan untuk meningkatkan pemahaman seluruh unsure sekolah
tentang konsep, prinsip, praktek beserta manfaat LS dalam meningkatakan mutu
pendidikan.
3. Pembentukan satgas LS oleh sekolah yang akan merancang seluruh rangkaian
kegiatan LSBS dan jadwal kegiatanya.
4. Pelakasanaan LS yang berbasis sekolah (LSBS) dilakukan pada semua mata
pelajaran yang diajarkan pada jenjang sekolah tersebut.
5. Pembentukan kelompok Guru LS di sekolah dengan bentuk per bidang mata
pelajaran, dilanjutkan melaksanakan kegiatan LS oleh kelompok Guru LS
bidang studi di sekolah dan melaksanakan open class sesuai dengan jadwal
yang telah ditentukan.
6. Pada LSBS kegiatan open class dilakukan pengaturan secara bergiliran antar
guru bidang studi. Jadwal dan hari kegiatan LSBS diatur dengan melibatkan
banyak guru di sekolah tersebut dapat mengikuti kegiatan LS.
7. Di dalam LSBS kegiatan open class Lesson study tidak hanya melibatkan guru
bidang studi atau serumpun di sekolah, melainkan oleh guru lintas bidang studi.
Jadi kegiatan open class guru bidang studi geigrafi dapat diikuti guru bidang
studi lainnya seperti biologi, fisika, bahasa inggris, penjas, dan bahkan guru BK
dari sekolah tersebut. Hal ini bertujuan untuk pemahaman konsep ilmu bidang
studi yang dibelajarkan oleh guru, melainkan juga bagaimana efektivitas belajar
yang dilakukan oleh siswa, selain itu juga guru dapat mendeteksi lebih awal
siswa-siswa yang berpotensi belum mencapai kompetensi yang dinginkan.
8. Kegiatan perencanaan pada LSBS dapat dilakukan bersama oleh guru bidang
studi atau lintas bidang studi, tapi dapat pula pada LSBS kegiatan perencanaan

6
dilakukan secraa mandiri tetapi hasilnya dikonsultasikan kepada guru lain yang
lebih memahami atau bahkan ke kepala sekolah.
9. Kegiatan diskusi refleksi LSBS melibatkan kepala sekolah atau wakilnya yang
bertindak sebagai moderator. Dalam diskusi refleksi LSBS diatur sedemikian
rupa dengan tujuan agar setiapa pengamat dapat menyampaikan komentar
berdasrkan temuan hasil pengamatannya.

D. Bentuk implementasi LS pada Lesson Study Club


Kegiatan lesson study mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas
guru, selaian itu juga meningkatkan profesionalitas guru. Sehingga perlu
dilakukan kegiatan lesson study dengan membentuk kelompok Lesson study Club
(LSc), adapun impelmentasi Lesson study dalam Lesson study club (LSc) sebagai
berikut :
1. Merekrut anggota kelompok LSc dari kalangan guru, dosen, pejabat
pendidikan, dan pemerhati pendidikan. Kriteria anggota adalah memiliki
komitmen minat, dan kemauan untuk melakukan inovasi dan memperbaiki
kualitas pendidikan.
2. Membuat komitmen untuk menyediakan waktu khusus guna mewujudkan
atau mengimplementasikan lesson study. Para anggota kelompok LSc
biasanya menyelenggarakan pertemuan rutin baik mingguan, bulanan,
semesteran, maupun tahunan dalam tahun ajaran tertentu.
3. Menyusun jadwal pertemuan LSc mengingat pertemuan sangat sering dan
beragam. Jadwal juga sangat berguna dalam mengatur semua tugas yang
terkait dengan kegiatan anggota kelompok, termasuk tugas mengajar rutin.
4. Menyetujui aturan main kelompok, antara lain bagaimana cara mengambil
keputusan kelompok, bagaimana membagi tanggung jawab antar anggota
kelompok, penggunaan waktu, dan bagaimana menyampaikan saran,
termasuk bagaimana menetapkan siapa yang menjadi fasilitator diskusi.

2.2 Keuntungan dan Kekurangan Implementasi Lesson Study di Indonesia


A. Keuntungan impelementasi Lesson study di Indonesia
Implementasi lesson study di Indonesia sangat efektif bagi guru karena telah

7
memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para guru untuk dapat:
1. Memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan
dibelajarkan kepada siswa
2. memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk
kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah
persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta
kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan
3. Mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran
melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan Lesson Study)
4. Belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat
menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa
5. Mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan
pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran
6. Membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru
bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang
pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa
7. Mengembangkan “The Eyes to See Students” dalam arti dengan
dihadirkannya para pengamat (observer), pengamatan tentang perilaku belajar
siswa bisa semakin detail dan jelas.

B. Kekurangan impelmentasi Lesson study di Indonesia


Terdapat beberapa kekurangan dalam kegiatan impelementasi Lesson study di
Indonesia, adalah sebagai berikut :
1. Kemalasan yang dialami oleh sebagian guru yang tidak memiliki motivasi
kerja. Kemalasan yang timbul dikalangan para guru menjadi kendala dalam
pelaksanaan lesson study hal ini disebabkan karena faktor usia, keterbatasan
pengetahuan dan wawasan tentang LS, gaji guru yang dianggap rendah, dan
juga kebijakan pimpinan yang kurang bijak atau memihak guru lain.
2. Anggaran dana untuk kegiatan impelementasi LS yang kurang mencukupi
yang menyebabkan tidak terlaksannya kegiatan LS, sehingga adanya beberapa
pihak sponsor yang bersedia membiayai kegiatan LS meruapakan hal yang
penting.

8
3. Takut menjadi guru/dosen model menjadi kekurangan yang harus diatasi
beberapa guru merasa tidak siap untuk membuka kelas atau menjad guru
model, karena selama ini guru sudah terbiasa mengajar sendiri dan tidak
diamati oleh orang lain.
4. Kurangnya persiapan guru model dalam menghadapi lesson study menjadi
kekuragan yang menyebabkan impelemntasi LS kurang maksimal karena guru
yang menjadi model terkesan belum siap dan terlihat tidak menguasai materi
yang akan disampaikan dalam kegiatan LS.
5. Keterbatasa waktu luang guru untuk mengikuti kegiatan LS di MGMP, karena
pada umunya ada beberapa guru honorer terutama PNS di Indonesia
mempuyai tugas mengajar yang cukup banyak kira-kira 24 jam per minggu,
akibatnya kesempatan untuk mengikuti kegiatan LS kurang maksimal.
6. Guru memandang remeh kegiatan LS dan merasa bosan atau jenuh untuk
mengikuti kegiatan LS, hal ini dikarenakan guru belum memahami secara
mendalam filosofi dan makna hakiki LS, salah satu cara untuk mengatasi hal
ini adalah dengan memberikan piagam atau sertifikat bagi para guru yang
tertib dan kontinu dalam mengikuti kegiatan LS.

2.3 Bentuk Impelementasi Lesson Study yang sesuai di Indonesia


Bentuk implementasi yang sesuai dengan situasi dan kondisi guru dan
pendidikan di daerah adalah impelemntasi lesson study berbasis sekolah (LSBS).
Sebagaimana di jepang kegiatan LS yang dilakukan di tingkat sekolah (LSBS) lebih
banyak membawa dampak pada perubahan paradigma peningkatan kemampuan guru
yang di daerah Indonesia terutama guru sekolah rintisan LS. Sejauh ini dampak positif
dari kegiatan implementasi LS berbasis sekolah (LSBS) yang dirasakan oleh guru dan
siswa adalah Kepercayaan guru dalam tampil mengajar lebih tinggi, adanya kemajuan
guru menyusun rencana pembeljaran yang baik, terbentuknya kolegalitas/hubungan
kesejawatan antar guru meningkat, layanan pembelajaran oleh guru kepada siswa
meningkat dan pembinaan kompetensi guru berbasis sekolah meningkat.
Menurut Setyorini dan Tahak (2007) dalamSyamsuri dan Ibrohim (2011)
bentuk implementasi lesson study berbasis sekolah (LSBS) mempunyai manfaat
adalah sebagai berikut :

9
1. Dapat meningkatkan pemahaman dan kepekaan guru terhadap proses belajar
siswa sehingga guru memahami dan menghormati hak belajar setiap siswa
2. Kolaborasi antar guru selama penerapan LS dapat meningkatkan suasana
saling belajar dan membelajarkan
3. Terdapat perkembangan kemampuan guru dalam mengamati proses
pembelajaran dan melakukan refleksi dalam LS sehingga meningkatkan
kepekaan seorang guru terhadap siswa.
4. Melalui LSBS keprofesionalan guru meningkat
5. Guru lebih terbuka dan mau menerima pendapat orang lain.
Beberapa manfaat implementasi Lesson study berbasis sekolah (LSBS) di
SMP Pasuruan antara lain sebagai berikut (Syamsuri dan Ibrohim, 2011) :

1. Guru dapat menyerap imformasi berharga tentang banyak hal, mulai dari model
pembelajaran, metode, keberadaan subjek belajar dan juga bahan ajar.

2. Guru akan terpacu untuk mengembangkan proses pembeljarannya sendiri


dengan mengadopsi hasil refleksi dengan menyesuaikan dengan situasi dan
kodisi di sekolahnya

3. Guru semakin berani memberikan masukan yang menurutnya baik bagi guru
yang lain dan saran masukan tersebut akan dilaksankan oleh dirinya sendiri

4. Perhatian guru akan mengalami perubahan dari impelemntasi LSBS yang


tadinya hanya berfokus pada siswa yang pintar dan berkemampuan rendah
berubah menjadi memperhatikan setiap siswa.

5. Hubungan antar guru semkain erat, kolegalitas terbantu, baik antar guru
sebidang studi maupun berbeda bidang studi

6. Lesson study berbasis sekolah dapat meningkatkan kompetensi guru mata


pelajaran, yakni lebih memahami karakteristik siswa, menguasai struktur dan
materi, lebih memperhatikan gaya belajar dan kesulitan belajar siswa,
menentukan metode dan menulis penelitian serta membuka cakrawala baru.

10
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dalam penyusunan makalah ini sebagai berikut :
1. Bentuk-bentuk impelentasi LS terjadi pada MGMP meliputi pembagian
kelompok MGMP di beberapa wilayah sesuai dengan dengan mata
pelajaran, Jumlah guru yang menjadi anggota LS-MGMP antara 3-15
orang. Jika anggota MGMP lebih dari 20 orang sebaiknya dijadikan 2 atau
lebih kelompok, pada LSMGMP sebaiknya terdapat setidaknya seorang
Guru yang memahami dan telah terlatih melaksankan Lesson study.
2. Bentuk impelentasi LSBS merupakan inisiatif kepala sekolah untuk
kegiatan LSBS di sekolah, pelakasanaan LS yang berbasis sekolah (LSBS)
dilakukan pada semua mata pelajaran yang diajarkan pada jenjang sekolah
tersebut, pembentukan kelompok Guru LS di sekolah dengan bentuk per
bidang mata pelajaranPada

11