Anda di halaman 1dari 13

MENYUSUN LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI DAN MELEKUKEN

PENCATATAN DALAM BERBAGAI KONDISI

Laporan Harga Pokok Produksi adalah laporan aktivitas suatu departemen produksi
selama satu periode. Laporan Harga Pokok Produksi dibuat setiap akhir periode (bulan).
Isi laporan harga pokok produksi adalah
1. Laporan produksi secara fisik.
2. Laporan tentang biaya yang dibebankan dan harus dipertanggung-jawabkan
oleh departemen tersebut
3. Pertanggungjawaban biaya yang dibebankan pada departemen tersebut.

Metode Menentukan Harga Pokok Produksi


Di dalam akuntansi biaya yang tradisional, komponen-komponen harga pokok
produk atau jasa terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya
overhead, baik yang bersifat tetap maupun variabel.
Pada awal tahun 1987, activity-based costing muncul sebagai respon terhadap
tekanan kompetitif yang terkena ketidakakuratan dalam akuntansi tradisional.
Activity-based costing digunakan perusahaan untuk membantu melihat distorsi yang
melekat pada sistem akuntasi tradisional sehingga menyebabkan perubahan dalam
strategi, proses dan usaha dan posisi kompetitif dapat ditingkatkan. Dengan demikian,
saat ini ada dua metode yang dapat digunakan dalam menentukan harga pokok
produksi yakni: metode tradisional (full costing dan variable costing) dan metode
activity-based costing, namun dalam praktiknya saat ini masih banyak perusahaan
yang menggunakan metode tradisional karena proses perhitungan dengan metode ini
lebih mudah dan tidak serumit activity-based costing serta tidak banyak memakan
biaya.

A. Metode full costing

1
Mulyadi (2001) menyatakan bahwa metode full costing merupakan metode
penentuan biaya produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja
langsung, dan biaya overhead pabrik, baik yang berprilaku tetap maupun variabel.
Bustami dan Nurlela (2006) menyatakan bahwa full costing atau sering disebut
metode serapan atau konvensional merupakan suatu metode dalam perhitungan harga
pokok yang dibebankan kepada produk dengan mempertimbangkan seluruh biaya
produksi baik bersifat variabel maupun yang bersifat tetap.
Sehingga, dapat dikatakan bahwa metode full costing merupakan metode
penentuan harga pokok yang memasukkan biaya overhead pabrik, baik yang
berprilaku tetap maupun variabel. Menurut metode full costing, karena produk yang
dihasilkan ternyata menyerap jasa biaya overhead pabrik tetap walaupun tidak secara
langsung, maka wajar apabila biaya overhead tetap dimasukkan sebagai komponen
pembentukan biaya pokok produk.
Lebih lanjut Mulyadi (2001) menyatakan karena full costing hanya
mengelompokkan biaya berdasarkan fungsi pokok produksi organisasi perusahaan
manufaktur, sehingga biaya dikelompokkan menjadi biaya produksi dan biaya non
produksi. Biaya produksi merupakan komponen biaya penuh produk, sedangkan
biaya pemasaran dan biaya pemasaran dan administrasi umum diperlakukan sebagai
biaya produksi dalam full costing.
Sehingga secara umum biaya produk yang dihitung dengan pendekatan full
costing terdiri dari unsur biaya produksi (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan
biaya overhead pabrik, baik yang bersifat variabel maupun tetap) ditambah dengan
biaya non produksi seperti biaya pemasaran dan biaya administrasi umum.

B. Metode variable costing


Variable costing merupakan metode penentuan biaya produksi yang hanya
memperhitungkan biaya produksi yang berprilaku variabel ke dalam biaya produksi,
yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead
pabrik variabel (Mulyadi, 2009).

2
Variable costing merupakan perhitungan biaya dengan menggunakan output
sebagai variabel biaya produksi. Perhitungannya dengan memasukkan bahan
langsung, tenaga kerja langsung dan biaya varibel overhead (Garrison et al, 2010).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa variable costing merupakan metode
penentuan harga pokok yang hanya memasukkan komponen biaya yang bersifat
variabel sebagai unsur harga pokok, yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga
kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel. Variable costing beranggapan
bahwa biaya overhead pabrik tetap tidak secara langsung membentuk produk, maka
tidak relevan jika dimasukkan kedalam perhitungan biaya pokok produksi. Sebaiknya
biaya overhead tetap dimasukkan kedalam kelompok biaya periode (period cost).
Berdasarkan pengertian diatas maka perhitungan harga pokok dengan menggunakan
metode variabel costing tampak sebagai berikut:

Biaya Bahan Baku Rp XXX


Biaya Tenaga Kerja Langsung XXX
Biaya Overhead Variabel XXX
+
Harga Pokok Produksi Rp XXX

Variable costing digunakan untuk memperbaiki informasi biaya penuh produk


dengan mengelompokkan biaya menurut prilaku biaya dalam hubungannya dengan
perubahaan volume aktivitas. Namun, karena variable costing bertujuan yang sama
dengan full costing maka perbaikan yang dilakukan oleh variable costing hanya
terbatas pada biaya fase produksi saja. Variable costing hanya memperhitungkan
biaya penuh produk terbatas pada biaya produksi variabel saja. Biaya produksi tetap
diperlakukan sebagai biaya periode. Selain itu, variabilitas biaya menurut variable
costing hanya dihubungkan dengan aktivitas yang bersangkutan dengan jumlah
produk yang diproduksi. Oleh karena itu, jika biaya penuh produk tidak hanya
bervariasi dalam hubungannya dengan jumlah produk yang dihasilkan, namun
sebagian besar yang lain bervariasi dengan aktivitas yang bersangkutan dengan batch

3
produksi dan aktivitas yang bersangkutan dengan produk, maka biaya penuh produk
dengan menggunakan variable costing tidak menggambarkan secara cermat sumber
daya yang dikorbankan untuk produk (Mulyadi, 2001).
Secara umum perhitungan biaya produk yang dihitung dengan menggunakan
pendekatan variable costing, komponen perhitungannya terdiri dari unsur biaya
produksi variabel (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead
variabel) ditambah dengan biaya non produksi variabel (biaya pemasaran variabel
serta biaya administrasi dan umum variabel) dan biaya tetap (biaya overhead tetap,
biaya pemasaran tetap dan biaya administrasi dan umum tetap).

Langkah-langkah dalam menyusun Laporan Harga Pokok Produksi:


1. Skedule kuantitas untuk mempertanggungjawaban arus fisik.
Kuantitas fisik produk harus dilaporkan pada bagian ini. Kuantitas fisik
produk yang diterima (transfer masuk) harus sama dengan yang ditransfer
keluar. Yang dimaksud dengan transfer masuk adalah penerimaan produk yang
akan di proses pada departemen yang bersangkutan. Sedangkan yang
dimaksud dengan transfer keluar adalah unit produk yang selesai diproses dan
kemudian ditransfer ke gudang atau ke departemen lain, dan produk yang
sampai akhir periode belum selesai diproses (Persediaan PDP akhir). Unit
Transfer Masuk = Unit Transfer Keluar
2. Skedul biaya yang harus dipertanggungjawabkan.
Semua biaya yang dipergunakan dalam proses produksi di suatu departemen
diakumulasikan dan dilaporkan menurut unsur biaya. Biaya yang harus
dipertanggungjawabkan adalah semua biaya yang melekat pada Persediaan
PDP awal dan semua biaya produksi yang terjadi pada periode yang
bersangkutan.
3. Menghitung unit produk equivalen (UPE)

4
Menghitung output yang dinyatakan dalam Unit Produk Equivalensi (UPE).
Karena ada 2 jenis output yaitu produk yang sudah 100% selesai dan yang
belum 100% selesai, maka seluruh output dihitung dengan menggunakan
satuan seolah-olah telah mencapai 100% selesai (equivalensi).
4. Menghitung biaya per unit produk equivalensi
5. Melaporkan pertanggungjawaban biaya.
Biaya yang terjadi di Departemen harus dipertanggungjawabkan penggunaannya.
Biaya yang terjadi, umumnya dipergunakan untuk:
a. Membuat produk jadi (produk yang ditransfer ke gudang barang jadi atau
ditransfer ke departemen lain). Biaya yang dipergunakan untuk membuat
produk jadi, merupakan Harga Pokok Produk Jadi.
b. Akuntansi Biaya – Daljono
Memproduksi Produk Dalam Proses (Produk yang belum jadi pada saat
akhir periode). Biaya yang dipergunakan untuk memproses PDP akhir
periode, merupakan Harga Pokok Persediaan PDP akhir periode. Jumlah
biaya yang dipergunakan untuk memproses Produk Jadi dan Persediaan
PDP akhir, harus sama dengan jumlah biaya yang harus
dipertanggungjawabkan (total biaya pada langkah ke 2)

SOAL MENYUSUN HARGA POKOK PRODUKSI


SOAL
1. CV. Abadi Jaya Sentosa perusahaan manufaktur yang memproduksi satu jenis
barang (proses). Biaya produksi dicatat menurut system perpetual. Harga pokok
produksi dihitung pada tiap akhir bulan. Dari kegitan selama bulan Maret 2010,
diperoleh data sebagai berikut :
BDP awal bulan terdiri dari :
Biaya Bahan Baku Rp. 25.000.000
Biaya Tenaga Kerja Rp. 20.000.000
Biaya Overhead Pabrik Rp. 10.000.000
Biaya Bahan Baku Rp. 87.777.000

5
Biaya tenaga kerja Rp. 77.777.000
Biaya OVH yang diserap selama bulan Maret :
1. Biaya asuransi Rp. 6.555.000
2. Biaya Listrik Rp. 11.101.000
3. Biaya penyusutan akt. Tetap Rp. 9.910.000
4. Biaya produksi lain Rp. 22.212.000
BDP akhir bulan terdiri dari :
Biaya Bahan Baku Rp. 35.000.000
Biaya Tenaga Kerja Rp. 20.112.000
Biaya OVH Pabrik Rp. 15.220.000
Dari data di atas, diminta :
a. Hitung harga pokok produksi pada bulan Maret 2010 !

b. Hitung harga pokok barang dalam proses akhir bulan Maret 2010 !

c. Buatlah jurnal untuk mencatat :

1. Pemindahan harga pokok barang dalam proses awal periode (jurnal pembalik)
2. Pemakaian biaya produksi yang terjadi dalam bulan Maret 2010 !
3. Harga pokok produk selesai !
4. Harga pokok BDP akhir bulan Maret 2010 !
d. Buatlah laporan biaya produksi bulan Maret 2010 !

2. PT. Call Qu Lattor perusahaan manufatur yang produksinya berdasarkan pesanan


dari pelanggan. Biaya produksi dicatat menurut system inventarisasi fisik. BDP awal
bulan Mei 2010 adalah pesanan No. 06 dan pesanan No. 07. Produk tersebut telah
menyerap biaya produksi sebagai berikut :

6
Jenis Biaya Pesanan No. 06 Pesanan No. 07
Biaya Bahan Baku Rp 15.555.000 Rp. 16.171.000
Biaya Tenaga Kerja Rp. 12.222.000 Rp. 13.210.000
Biaya Overhead Pabrik Rp. 11.111.000 Rp. 10.987.000
Jumlah Rp. 38.888.000 Rp. 40.368.000
Dalam bulan Mei 2010, masuk proses produksi pesanan No. 08 dan pesanan No. 09.
Biaya produksi yang terjadi dalam bulan Mei 2010 adalah sebagai berikut :

No. Pesanan Biaya Bahan Baku Biaya Tenaga


Kerja
06 Rp. 5.555.000 500 jam
07 Rp. 13.829.000 1.000 jam
08 Rp. 18.765.000 1.500 jam
09 Rp. 12.110.000 900 jam
Jumlah Rp. 50.259.000 3.900 jam
Tarif biaya tenaga kerja sebesar Rp. 11.000/jam kerja langsung
BOP yang dibebankan berdasarkan tariff Rp. 8.500/jam kerja langsung
BOP yang sesungguhnya terjadi dalam bulan Mei 2010 berjumlah Rp. 70.000.000
Barang Dalam Proses yang tersisa di akhir bulan adalah pesanan No. 09

Dari data di atas diminta :

a. Hitung harga pokok produk selesai !

b. Hitung harga pokok Barang dalam proses akhir bulan Mei !

c. Buatlah jurnal untuk mencatat :


1. Sediaan BDP awal bulan !
2. Sediaan BDP akhir bulan !
3. Harga pokok produksi !
d. Buatlah laporan biaya produksi untuk bulan Mei 2010 !

7
JAWABAN
1. a. Perhitungan harga pokok produksi pada bulan Maret 2010 :

Biaya HP. BDP B. Prod. Maret HP. BDP bulan HP. BDP HP. Produksi
Produksi awal Maret akhir
BBB Rp. Rp. 87.777.000 Rp. 112.777.000 Rp. Rp. 44.558.000
BTK 25.000.000 Rp. 77.777.000 Rp. 97.777.000 35.000.000 Rp. 77.665.000
BOP Rp. Rp. 49.778.000 Rp. 59.778.000 Rp. Rp. 77.777.000
20.000.000 20.112.000
Rp. Rp.
10.000.000 15.220.000
Jumlah Rp. Rp. 215.332.000 Rp. 270.332.000 Rp. Rp. 200.000.000
55.000.000 70.332.000

b. Perhitungan Harga pokok BDP akhir bulan Maret 2010

- Biaya bahan baku Rp. 35.000.000


- Biaya tenaga kerja Rp. 20.112.000
- Biaya OVH pabrik Rp. 15.220.000
Harga pokok BDP akhir Mei 2010 Rp. 70.332.000

c. Jurnal yang diperlukan

1. Jurnal Balik

8
BDP – Biaya Bahan Baku Rp. 25.000.000
BDP – Biaya Tenaga Kerja Rp. 20.000.000
BDP – Biaya Overhead Pabrik Rp. 15.000.000
Persediaan BDP Awal Rp. 55.000.000

2. Jurnal Pemakaian Biaya Produksi


BDP – Biaya Bahan Baku Rp. 87.777.000
BDP – Biaya Tenaga Kerja Rp. 77.777.000
BDP – Biaya Overhead Pabrik Rp. 49.778.000
Persediaan Bahan baku Rp. 87.777.000
Gaji dan Upah Rp. 77.777.000
OVH Dibebankan Rp. 49.778.000

3. Harga Pokok Produk Selesai


Persediaan Produk Jadi Rp. 200.000.000
BDP – Biaya Bahan Baku Rp. 44.558.000
BDP – Biaya Tenaga Kerja Rp. 77.665.000
BDP – Biaya OVH Pabrik Rp. 77.777.000

4. Harga Pokok BDP akhir akhir bulan Maret


Persediaan BDP Rp. 70.332.000
BDP – Biaya Bahan Baku Rp. 35.000.000
BDP – Biaya Tenaga Kerja Rp. 20.112.000
BDP – Biaya OVH Pabrik Rp. 15.220.000

d. Laporan Biaya Produksi

CV. Abadi Jaya Sentosa


Laporan Biaya Produksi

9
Untuk Bulan yang Berakhir 31 Juli 2010
Harga pokok BDP awal bulan Rp. 55.000.000
Biaya bahan baku Rp. 87.777.000
Biaya tenaga kerja Rp. 77.777.000
Biaya overhead pabrik :
Biaya asuransi pabrik Rp. 6.555.000
Biaya listrik pabrik Rp. 11.101.000
Biaya penyusutan aktiva tetap Rp. 9.910.000
Biaya OVH pabrik lain-lain Rp. 22.212.000
Biaya overhead Pabrik Rp. 49.778.000
Biaya produksi bulan Juli Rp. 215.332.000
Harga pokok barang dalam proses bulan Juli Rp. 270.332.000
Harga pokok BDP akhir bulan ( Rp. 70.332.000)
Harga pokok
produksi Rp. 200.000.000

2. a. Perhitungan harga pokok selesai PT. Call Qu Lattor

Biaya Produksi Pes. No. 06 Pes. No. 07 Pes. No. 08 Jumlah


Terjadi bulan April :
Biaya Bahan Baku Rp 15.555.000 Rp. 16.171.000 Rp. 31.726.000
Biaya Tenaga Kerja Rp. 12.222.000 Rp. 13.210.000 Rp. 25.432.000
Biaya Overhead Rp. 11.111.000 Rp. 10.987.000 Rp. 22.098.000
Terjadi bulan Mei :
Biaya Bahan Baku Rp. 5.555.000 Rp. 13.829.000 Rp. 18.765.000 Rp. 38.149.000
Biaya Tenaga Kerja Rp. 5.500.000 Rp. 11.000.000 Rp. 16.500.000 Rp. 33.000.000
Biaya Overhead Rp. 4.250.000 Rp. 8.500.000 Rp. 12.750.000 Rp. 25.500.000
Jumlah Rp. 54.193.000 Rp. 73.697.000 Rp. 48.015.000 Rp. 175.905.000

b. Perhitungan harga pokok BDP akhir bulan Mei

10
Barang dalam proses akhir bulan adalah pesanan No. 09, perhitungannya adalah
sebagai berikut :
- Biaya bahan baku Rp. 12.110.000
- Biaya tenaga kerja (Rp. 11.000 X 900 jam) Rp. 9.900.000
- Biaya OVH pabrik (Rp. 8.500 X 900 jam) Rp. 7.650.000
Harga pokok BDP akhir Mei 2010 Rp. 29.660.000

c. Jurnal – jurnal :
1. Sediaan BDP awal
Ikhtisar biaya produksi Rp. 79.256.000
Sediaan BDP (awal) Rp. 79.256.000
2. Sediaan BDP akhir
Sediaan BDP (akhir) Rp. 29.660.000
Ikhtisar biaya produksi Rp. 29.660.000
3. Harga Pokok Produksi
Ikhtisar L/R Rp. 175.905.000
Ihktisar Biaya Produksi Rp. 175.905.000

d. Laporan Biaya Produksi

CV. De Ye Es
Laporan Biaya Produksi
Bulan November 2010
A. Data Produksi
Barang dalam prosen awal periode : Pesanan No. 06 dan Pesanan No. 07
Barang masuk proses bulan mei 2009 : Pesanan No. 08 dan pesanan No. 09
Produk selesai diproses : Pesanan No. 06, Pesanan No. 07, Pesanan No. 08

11
B. Biaya Produksi yang Dibebankan
Harga pokok BDP Biaya Produksi
Biaya Produksi awal periode Dibebankan Bulan Jumlah
November
Biaya Bahan Baku Rp. 31.726.000 Rp. 50.259.000 Rp. 81.985.000
Biaya Tenaga Kerja Rp. 25.432.000 Rp. 42.900.000 Rp. 68.332.000
Biaya OVH Pabrik Rp 22.098.000 Rp. 33.150.000 Rp. 55.248.000
Rp. 79.256.000 Rp. 126.309.000 Rp. 205.565.000

C. Perhitungan Biaya Produksi


No. Pesanan Biaya Bahan Biaya Tenaga Biaya OVH Jumlah
Baku Kerja Pabrik
Selesai diproses :
No. 06 Rp. 21.110.000 Rp. 17.722.000 Rp. 15.361.000 Rp. 54.193.000
No. 07 Rp. 30.000.000 Rp. 24.210.000 Rp. 19.487.000 Rp. 73.697.000
No. 08 Rp. 18.765.000 Rp. 16.500.000 Rp. 12.750.000 Rp. 48.015.000
BDP akhir period
No. 09 Rp. 12.110.000 Rp. 9.900.000 Rp. 7.650.000 Rp. 29.660.000
Rp. 81.985.000 Rp. 67.332.000 Rp. 55.248.000 Rp.205.565.000

DAFTAR PUSTAKA

12
Mulyadi. 2016. Akuntansi Biaya, Edisi 5. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan,
Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN

http://ekotriyanggono.blogspot.co.id/2012/10/harga-pokok-produksi-konsep-tujuan-
dan.html

http://stiebanten.blogspot.co.id/2011/05/laporan-harga-pokok-produksi.html

13