Anda di halaman 1dari 2

B.

Teori Perkembangan Anak Usia Dini


Keragaman teori perkembangan dapat dilihat dari pemikiran berbagai sudut pandang para ahli.
Ada lima perspektif teoritis utama dalam perkembangan, yaitu psikoanalisis, kognitif, perilaku dan
sosio-kognitif, etologi, dan ekologis. Pendekatan teoritis tersebut sama-sama meneliti tiga proses
utama dalam perkembangan anak di tingkat yang berbeda-beda, yaitu biologis, didaktis dan
psikologis.
1. Teori Psikoanalisis
Teori psikoanalisis menggambarkan perkembangan sebagai sesuatu yang biasanya tidak disadari
(di luar kesadaran) dan diwarnai oleh emosi. Ahli teori psikoanalisis percaya bahwa perilaku
hanyalah sebuah karakteristik permukaan dan bahwa pemahaman yang sebenarnya mengenai
perkembangan hanya didapat dengan menganalisis makna simbolis perilaku dan kerja pikiran
yang dalam. Ahli psikoanalisis juga menekankan bahwa pengalaman dini dengan orang tua secara
signifikan membentuk perkembangan. Karakteristik ini ditekankan dalam teori psikoanalisis dari
Sigmund Freud.
Sigmund Frued memandang manusia sebagai makhluk biologis yang kompleks, baik dalam hal
sosial, emosional dan juga sebagai suatu organisme yang dapat berpikir. Di dalam terminologinya
mengatakan bahwa anak-anak bergerak melalui langkah-langkah yang berbeda dengan tujuan
untuk mencari kepuasan yang berasal dari sumber berbeda, di mana mereka juga harus berusaha
menyeimbangkan keadaan tersebut dengan harapan orang tua. Konflik yang timbul antara
kebutuhan akan kepuasan dan penindasan dapat berguna untuk memuaskan dan juga
menciptakan ketertarikan. Kebanyakan orang belajar untuk mengendalikan perasaan mereka dan
juga berusaha agar dapat diterima dalam lingkungan sosial serta untuk mengintegrasikan diri
mereka.

2. Teori Kognitif
Teori kognitif meyakini bahwa pembelajaran terjadi saat anak berusaha memahami dunia di
sekeliling mereka, anak membangun pemahaman mereka sendiri terhadap dunia sekitar dan
pembelajaran menjadi proses interaktif yang melibatkan teman sebaya, orang dewasa dan
lingkungan. Setiap anak membangun pengetahuan mereka sendiri berkat pengalaman-
pengalaman dan interaksi aktif dengan lingkungan sekitar dan budaya di mana mereka berada
melalui bermain. Piaget sebagai tokoh aliran ini menganggap bahwa perkembangan kognitif terjadi
ketika anak sudah membangun pengetahuan melalui eksplorasi aktif dan penyelidikan pada
lingkungan fisik dan sosial di lingkungan sekitar. Piaget percaya bahwa kita beradaptasi dalam dua
cara, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi saat anak menggabungkan informasi ke
dalam pengetahuan yang telah mereka miliki. Akomodasi terjadi bila anak menyesuaikan
pengetahuan mereka agar cocok dengan informasi dan pengalaman baru.
Sedangkan Lev Vygotsky berpendapat bahwa pengetahuan tidak diperoleh dengan cara dialihkan
dari orang lain, melainkan merupakan sesuatu yang dibangun dan diciptakan oleh anak. Vygotsky
yakin bahwa belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dipaksa dari luar karena anak
adalah pembelajar aktif dan memiliki struktur psikologis yang mengendalikan perilaku belajarnya.
3. Teori Perilaku dan Sosial-kognitif
Teori perilaku dan sosial-kognitif merupakan pandangan psikolog yang menekankan bahwa
perilaku, lingkungan dan kognisi faktor kunci dalam perkembangan. Teori ini terkait dengan
bagaimana anak-anak berkembang secara sosial, emosional, dan intelektual, tetapi tidak
menjelaskan tentang perkembangan fisik karena banyak orang yang menyetujui bahwa
perkembangan fisik berkaitan dengan genetika (keturunan) yang ditentukan berdasarkan gen dari
kedua orang tuanya, sehingga dengan demikian tidak mempengaruhi perilaku anak. Tiga versi
pendekatan perilaku dan sosial-kognotif ini adalah classical conditioning dari Pavlov (sebuah
stimulus netral memperoleh kemampuan untuk menghasilkan sebuah respon yang tadinya
dihasilkan oleh stimulus lain), operant conditioning dari Skinner (konsekuensi dari suatu perilaku
menghasilkan perubahan dalam probabilitas kejadian perilaku tersebut), dan teori sosial-kognitif
dari Albert Bandura (menekankan interaksi timbal balik antara manusia (kognisi), perilaku dan
lingkungan).
4. Teori Etologi
Teori etologi memandang bahwa perilaku sangat dipengaruhi biologi dan evolusi. Teori ini juga
menekankan bahwa kepekaan kita terhadap jenis pengalaman yang beragam berubah sepanjang
rentang kehidupan. Ada periode kritis atau sensitif bagi beberapa pengalaman, jika kita gagal
mendapat pengalaman selama periode sensitif tersebut, teori etologi menyatakan bahwa
perkembangan kita tidak mungkin dapat optimal.
John Bowbly salah satu tokoh teori etologi menyatakan bahwa kelekatan pada pengasuh selama
satu tahun pertama kehidupan memiliki konsekuensi penting sepanjang hidup. Jika kelekatan ini
positif dan aman, seseorang mempunyai dasar untuk berkembang menjadi individu yang
kompeten yang memiliki hubungan sosial positif dan menjadi matang secara emosional. Jika
hubungan kelekatannya negatif dan tidak aman, maka saat anak tumbuh ia akan menghadapi
kesulitan dalam hubungan sosial serta dalam menangani emosi.
5. Teori Ekologi
Teori ekologi merupakan pandangan Bronfenbrenner bahwa perkembangan dipengaruhi oleh lima
sistem lingkungan, berkisar dari lima konteks dasar mengenai interaksi langsung dengan orang-
orang hingga konteks budaya berdasar luas. Lima sistem dalam teori ekologi Bronfenbrenner
yaitu:
a. Mikrosistem adalah lingkungan di mana individu tinggal.
b. Mesosistem mencakup hubungan antar mikrosistem atau hubungan antar konteks.
c. Eksosistem terlibat saat pengalaman dalam lingkungan sosial lain -di mana individu tidak
mempunyai peran aktif- mempengaruhi apa yang dialami individu dalam konteks langsung.
d. Makrosistem mencakup budaya di mana seseorang tinggal.
e. Kronosistem mencakup pembuatan pola kejadian lingkungan dan transisi sepanjang kehidupan.