Anda di halaman 1dari 9

1.

Tanggung jawab Dewan Komisaris dan Dewan Direksi


Memulai suatu bisnis tidak cukup hanya bermodalkan materi. Seorang “Entrepreneur”
atau pengusaha juga harus membekali dirinya dengan pengetahuan hukum yang cukup.
Walaupun nantinya urusan hukum akan ditangani oleh divisi hukum yang lazim dimiliki sebuah
perusahaan, namun memiliki pengetahuan hukum, setidaknya untuk hal-hal mendasar terkait
hukum perusahaan tetap diperlukan. Hal-hal mendasar terkait hukum perusahaan yang perlu
dipahami seorang pengusaha yang menjalankan bisnis dalam bentuk perseroan terbatas (PT atau
perseroan) antara lain terkait organ-organ di dalam perseroan. Untuk mengetahui pengaturan
mengenai organ perseroan, maka rujukannya adalah Undang – Undang Nomor 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas (UU PT). Berikut ini organ-organ perseroan sebagaimana diatur
dalam Pasal 1 angka 4-6 UU PT:
a. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
b. Direksi
c. Dewan Komisaris
1.1 Dewan Komisaris
Komisaris merupakan organ perseroan yang memegang fungsi pengawasan. Dalam praktik
ini terdiri dari beberapa orang, sehingga lebih dikenal dengan dewan komisaris. Dewan
komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan/atau
khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasehat kepada dewan direksi. Karena,
fungsi dari dewan komisaris adalah melakukan pengawasan, maka seorang komisaris wajib
dengan iktikad baik, kehati-hatian, dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas pengawasan
dan pemberian nasihat kepada direksi untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud
dan tujuan perseroan.
Hal di atas, sangat penting untuk dipahami oleh seorang entrepreneur yang menjabat
sebagai seorang komisaris dalam bisnisnya. Karena, bilamana seorang komisaris lalai dalam
menjalankan fungsinya maka komisaris tersebut juga ikut bertanggung jawab secara pribadi atas
kerugian perseroan, termasuk apabila dewan komisaris terdiri atas dua anggota atau lebih, maka
tanggung jawab sebagaimana dimaksud, berlaku secara tanggung renteng bagi setiap anggota
dewan komisaris (Pasal 114 ayat (3) dan ayat (4) UU PT). Jadi intinya, dewan komisaris itu
haruslah melakukan hal-hal sebagai berikut (Pasal 114 ayat (3) UU PT):

1
a. Melakukan pengawasan dengan iktikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan
perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan;
b. Tidak mempunyai kepentingan pribadi baik langsung maupun tidak langsung atas
tindakan pengurusan direksi yang mengakibatkan kerugian; dan
c. Telah memberikan nasihat kepada direksi untuk mencegah timbul atau berlanjutnya
kerugian tersebut.
Dewan Direksi
Direksi merupakan organ perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas
pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan
serta mewakili perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan anggaran dasar
perseroan (Pasal 1 angka (5) UU PT).Direksi memiliki tanggung jawab sebagai berikut:
a. Direksi wajib bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan
tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan. Sebagai
organ yang wajib bertanggungjawab, direksi mempertanggungjawabkan kepengurusan itu
kepada RUPS;
b. Direksi wajib membuat dan memelihara daftar pemegang saham, risalah RUPS dan risalah
rapat direksi, menyelenggarakan pembukuan perseroan; melaporkan kepemilikan sahamnya
dan keluarga yang dimiliki pada perseroan atau perseroan lain;
c. Direksi wajib menyiapkan laporan tahunan (termasuk pertanggung jawaban tahunan) untuk
RUPS;
d. Direksi wajib memberikan keterangan kepada RUPS mengenai segala sesuatu yang berkaitan
dengan kepentingan perseroan;
e. Direksi menyelenggarakan RUPS tahunan atau RUPS lain yang dianggap perlu (termasuk
melakukan pemanggilan dan lain-lain);
f. Direksi wajib meminta persetujuan RUPS untuk mengalihkan atau menjadikan jaminan
sebagian besar atau seluruh kekayaan perseroan;
g. Direksi wajib menyiapkan rencana penggabungan, peleburan atau pengambilalihan untuk
diajukan kepada RUPS.

2
2. Komisaris Independen
Keberadaan komisaris independen adalah sangat diperlukan. Secara langsung keberadaan
komisaris independen menjadi penting, karena di dalam praktik sering ditemukan transaksi yang
mengandung benturan kepentingan yang mengabaikan kepentingan pemegang saham publik
(pemegang saham minoritas) serta stakeholder lainnya, terutama pada perusahaan di Indonesia
yang menggunakan dana masyarakat.
Tanggung Jawab Komisaris Independen
Komisaris Independen memiliki tanggung jawab pokok untuk mendorong diterapkannya
prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di dalam perusahaan
melalui pemberdayaan Dewan Komisaris agar dapat melakukan tugas pengawasan dan
pemberian nasihat kepada Direksi secara efektif dan lebih memberikan nilai tambah bagi
perusahaan. Dalam upaya untuk melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik maka Komisaris
Independen harus secara proaktif mengupayakan agar Dewan Komisaris melakukan pengawasan
dan memberikan nasehat kepada Direksi yang terkait dengan, namun tidak terbatas pada hal-hal
sebagai berikut:
a. Memastikan bahwa perusahaan memiliki strategi bisnis yang efektif, termasuk di dalamnya
memantau jadwal, anggaran dan efektifitas strategi tersebut.
b. Memastikan bahwa perusahaan mengangkat eksekutif dan manajer-manajer profesional.
c. Memastikan bahwa perusahaan memiliki informasi, sistem pengendalian, dan sistem audit
yang bekerja dengan baik.
d. Memastikan bahwa perusahaan mematuhi hukum dan perundangan yang berlaku maupun
nilai-nilai yang ditetapkan perusahaan dalam menjalankan operasinya.
e. Memastikan resiko dan potensi krisis selalu diidentifikasikan dan dikelola dengan baik.
f. Memastikan prinsip-prinsip dan praktek Good Corporate Governancedipatuhi dan diterapkan
dengan baik.
Tugas Komisaris independen
a. Menjamin transparansi dan keterbukaaan laporan keuangan perusahaan.
b. Perlakuan yang adil terhadap pemegang saham minoritas danstakeholder yang lain.
c. Diungkapkannya transaksi yang mengandung benturan kepentingan secara wajar dan adil.
d. Kepatuhan perusahaan pada perundangan dan peraturan yang berlaku.
e. Menjamin akuntabilitas organ perseroan.

3
Wewenang Komisaris Independen
a. Komisaris independen mengetuai komite audit dan komite nominasi.
b. Komisaris independen berdasarkan pertimbangan yang rasional dan kehati-hatian berhak
menyampaikan pendapat yang berbeda dengan anggota dewan komisaris lainnya yang wajib
dicatat dalam Berita Acara Rapat Dewan Komisaris dan pendapat yang berbeda yang bersifat
material, wajib dimasukkan dalam laporan tahunan.
3. Kasus Bank Century
3.1 Sejarah singkat Bank Century
Pada tahun 1989 Robert Tantular yang mendirikan Bank Century Intervest Corporation
(Bank CIC). Bank Century berawal dari tahun 1989 ketika didirikan, hingga 20 November 2008
saat ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai Bank Gagal yang memiliki dampak sistemik.
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 6/92/KEP.GBI/2004 tanggal 28
Desember 2004, menyetujui perubahan nama PT Bank CIC Internasional Tbk menjadi PT Bank
Century. Bank Century merupakan gabungan dari 3 bank yaitu Bank Pikko, Bank Danpac, dan
Bank CIC menjadi Bank Century.
3.2 Kronologi Permasalahan
a. Tahun 2003
Bank CIC diketahui sedang mengalami masalah. Ditemukan banyak surat berharga valuta
asing mencapai nilai 2 triliun rupiah. Valuta asing itu tidak mempunyai peringkat, berjangka
panjang, bunganya rendah serta tidak mudah dijual. BI pun memberikan saran merger untuk
mengatasinya.
b. Tahun 2004
Bank CIC melakukan merger dengan bank denpac dan bank pikko, sehingga terbentuklah
bank century. Setelah terbentuk, BI menyarankan bank century untuk menjual valuta asing
tersebut, namun pemegang saham lebih memilih menjadikan valuta asing itu sebagai
deposito di bank Dresdner, Swiss. Ternyata deposito yang disimpan di bank Dresdner ini
sangat sulit ditagih
c. Tahun 2005
Budi Sampoerna menjadi salah satu nasabah terbesar Bank Century cabang Kertajaya,
Surabaya. Selain itu, BI juga mendeteksi adanya valuta asing di bank century berjumlah 210
juta dolar Amerika.

4
d. Tahun 2008
Awal kehancuran Bank Century. Sebab pada saat itu, beberapa nasabah besar ingin
menarik dana yang disimpan di Bank Century. Di antara nasabah itu ialah budi sampoerna,
PT Timah Tbk, dan PT Jamsostek. Bank century pun mengalami kesulitan likuiditas.

Tahun 2008, Bank Century mengalami kesulitan likuiditas karena beberapa nasabah
besar Bank Century menarik dananya seperti Budi Sampoerna akan menarik uangnya yang
mencapai Rp 2 triliun. Sedangkan dana yang ada di bank tidak ada sehingga tidak mampu
mengembalikan uang nasabah dan tanggal 30 Oktober dan 3 November sebanyak US$ 56 juta
surat-surat berharga valuta asing jatuh tempo dan gagal bayar. Keadaan ini semakin parah pada
tanggal 17 November, Antaboga Delta Sekuritas yang dimiliki Robert Tantular mulai tak
sanggup membayar kewajiban atas produk discreationary fund yang dijual Bank Century sejak
akhir 2007. Pada 20 November 2008, BI melalui Rapat Dewan Gubernur menetapkan Bank
Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. Keputusan itu kemudian disampaikan kepada
Menteri Keuangan Sri Mulyani selaku Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Kemudian KSSK mengadakan rapat pada 21 November 2008.
Dari rapat tersebut diputuskan menyuntikkan dana ke Bank Century sebesar Rp 632
miliar untuk menambah modal sehingga dapat menaikkan CAR menjadi 8%. Enam hari dari
pengambilalihan, LPS mengucurkan dana Rp 2,776 triliun pada Bank Century untuk menambah
CAR menjadi 10%. Karena permasalahan tak kunjung selesai Bank Century mulai menghadapi
tuntutan ribuan investor Antaboga atas penggelapan dana investasi senilai Rp 1,38 triliun yang
mengalir ke Robert Tantular. Bank yang tampak mendapat perlakuan istimewa dari Bank
Indonesia ini masih tetap diberikan kucuran dana sebesar Rp 1,55 triliun pada tanggal 3 Februari
2009. Padahal bank ini terbukti lumpuh. Pada 5 Desember 2008 LPS menyuntikkan dana
kembali sebesar Rp 2,2 triliun untuk memenuhi tingkat kesehatan bank. Akhir bulan Desember
2008 Bank Century mencatat kerugian sebesar Rp 7,8 triliun. Pada Bulan Juni 2009 Bank
Century mencairkan dana yang telah diselewengkan Robert sebesar Rp 180 miliar pada Budi
Sampoerna. Namun, dibantah oleh Budi yang merasa tidak menerima sedikit pun uang dari Bank
Century. Atas pernyataan itu LPS mengucurkan dana lagi kepada Bank Century sebesar Rp 630
miliar untuk menutupi CAR. Sehingga, total dana yang dikucurkan kepada Bank Century sebesar
Rp 6,762 triliun.

5
3.3 Analisis Kasus
Kebangkrutan PT Bank Century Tbk tidak mungkin terjadi begitu saja, ada beberapa hal
yang menyebabkan kebangkrutan bank century antara lain penyimpangan manajemen dan
pengawasan BI yang tidak efektif yang diduga menjadi penyebab utama bank itu akhirnya
mengalami kebangkrutan. Beberapa Penyebab bangkrutnya bank Century :
a. Penyimpangan Manajemen
Modus kejahatan perbankan yang diduga dilakukan manajemen Bank Century adalah
penempatan dana yang sembrono di pasar uang (money market). Hal ini terlihat dari
penyimpangan yang dilakukan manajemen Bank Century yang memiliki kewajiban surat
berharga valas sebesar US$ 210 juta. Kasus itu menunjukkan manajemen Bank Century tidak
mengindahkan prinsip kehati-hatian perbankan.
b. Pengawasan BI yang lemah
BI ternyata pernah memberikan kelonggaran aturan kepada Bank Century, yakni dengan
memasukkan surat-surat berharga (SSB) yang macet ke kategori lancar. Hal itu dilakukan
agar Bank Century tidak perlu menyisihkan provisi (pencadangan) atas SSB yang macet itu,
sehingga tidak menggerus modalnya. Pertanyaannya adalah sejauh mana keefektifan
Direktorat Pengawasan Perbankan BI karena selama ini manajemen Bank Century
memberikan laporan harian dan mingguan sehingga kesehatan perbankan pasti terpantau. Di
samping itu, Bapepam selaku otoritas pasar modal harusnya juga bertanggungjawab karena
Bank Century merupakan perusahaan publik. Kasus Bank Century ini menunjukkan ada
praktik-praktik yang menyimpang di bank sentral menyangkut tes kelayakan dan kepatutan
(fit and proper test) yang tidak akurat. BI juga dinilai gagal dalam menciptakan tata kelola
yang baik (good corporate governance dan good governance). Kesehatan merupakan hal
yang paling penting di dalam berbagai bidang kehidupan, baik bagi manusia maupun
perusahaan.
c. Kesehatan Bank
Kesehatan bank dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk melakukan
kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya
dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku.
Pengertian tentang kesehatan bank merupakan suatu batasan yang sangat luas, karena
kesehatan bank memang mencakup kesehatan bank untuk melaksanakan seluruh kegiatan

6
usaha perbankannya kegiatan tersebut meliputi : (1) Kemampuan menghimpun dana
masyarakat dari lembaga lain dan dari modal sendiri, (2) Kemampuan mengolah dana, (3)
Kemampuan untuk menyalurkan dana ke masyarakat, (4) Kemampuan memenuhi kewajiban
kepada masyarakat, karyawan, pemilik modal dan pihak lain, (5) Pemenuhan peraturan
perbankan yang berlaku
3.4 Pelanggaran yang Dilakukan oleh Bank Century
Prinsip Good Corporate Governance (GCG) merupakan dasar yang penting dalam praktek
pengelolaan perusahaan di Indonesia. Prinsip tersebut dapat dijadikan pedoman oleh perusahaan-
perusahaan di Indonesia guna meningkatkan performa kerja perusahaan pada setiap sisinya.
a. Prinsip Responbility
Responbilitas mengindikasikan bahwa perusahaan telah menaati peraturan perundang-
undangan yang ada dan telah melakukan tanggungjawab sosialnya. Salah satu tindakan
yang dapat dilaksanakan adalah organ perusahaan harus berpegang pada prinsip kehati -
hatian dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, anggaran
dasar dan peraturan perusahaan.
Pada kasus Bank Century ditemukan indikasi ketidakpatuhan Bank Century pada
prinsip ini, yaitu:
1) Ditemukan fasilitas Letter of Credit (LC) yang melanggar prinsip kehati-hatian dan
beberapa diantaranya pemberian LC fiktif. Diantara debitur hanya dipakai namanya
saja dan jumlah LC cukup besar diatas USD 10 juta dolar.
2) Adanya pemberian kredit yang tidak sehat.
b. Prinsip Transparansi
Transparansi artinya ada keterbukaan dalam melaksanakan suatu proses kegiatan
perusahan. Transparansi mendorong diungkapkannya kondisi perusahaan yang sebenanrnya
sehingga setiap pihak yang berkepentingan (stakeholders) dapat mengukur dan
mengantisipasi segala sesuatu yang menyangkut perusahaan. Bedasarkan kasus Bank
Century, bila dikaitkan dengan prinsip transparansi maka terdapat beberapa pelanggaran
antara lain:
1) Terdapat masalah dengan surat-surat berharga (SSB) valas milik Bank Century.
Dalam hal ini, ssb valas diperjual belikan melalui PT Cinkara yang merupakan
milik Hesyam Al Warraq yang juga merupakan pemegang saham Bank Century.

7
Ternyata SSB valas tersebut tidak ada nilainya sehingga tidak ada yang mau
membeli. Padahal, jumlahnya cukup besar, mencapai US$ 220 juta.
2) Ditemukannya penggelapan dana sebesar US4 18 juta oleh adik kandung pemegang
saham Bank Century, Robert Tantular, yaitu Dewi Tantular.
3) Ditemukannya biaya pengadaan yang fiktif. Di antaranya, biaya pengadaan
billboard yang dianggarkan tetapi tidak ada realisasinya. Bahkan, dengan
menggunakan perusahaan fiktif sebagai pelaksana pengerjaan.
4) Rekayasa dalam penerbitan bilyet. Jadi, modusnya, nasabah besar dialihkan ke
pusat. Lebih lanjut temuan yang sama ditemukan oleh tim pemeriksa yang dibentuk
Menteri Keuangan, Sri Mulyani pada tahun 2009.
c. Prinsip Independensi
Perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ
perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak diintervensi oleh pihak lain.
Beberapa keputusan yang diambil oleh pihak Bank Century menunjukkan kurangnya
independensi dalam pengambilan keputusan. Contohnya adalah pemberian hasil
kredit tidak sehat untuk pengambil alihan agunan. Bank memberikan kredit lalu
jaminannya digunakan untuk menyelesaikan fasilitas kredit yang macet.
3.5 Penyelesaian Kasus Bank Century
Ada beberapa penyelesaian kasus dari bank century :
1) Pemerintah terus memburu asset Robert Tantular dan pemegang saham lainnya di luar negeri
dengan membentuk tim pemburu aset. Untuk di dalam negeri jumlah aset yang disita polisis
terkait kasus tindak pidana perbankan di Bank Century sebesar Rp 1,191 miliar. Sementara di
luar negeri, polisi berhasil menemukan dan memblokir aset milik Robert Tantular senilai
19,25 Juta dolar AS atau setara Rp 192,5 Miliar. Aset itu tersebar di UBS AG Bank sejumlah
3,5 juta dolar AS, Standard Chartered Bank senilai 650 ribu dolar AS dan sejumlah SGD
4.006, di ING Bank sebesar 388 ribu dolar AS.
2) Mantan pemilik Bank Century Robert Tantular yang diduga melakukan penggelapan dana
nasabah yaitu Robert Tantular, divonis hakim penjara 4 tahun dengan denda Rp 50 miliar.
Mantan Deputi Gubernur BI, Budi Mulya divonis 10 tahun penjara dalam kasus korupsi
Bank Century. Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta juga menghukum
denda Rp 500 juta subsider 5 bulan kurungan penjara.

8
Daftar Pustaka

Anehira. 2009. Kasus Bank Century. http://www.anneahira.com/kasus-bank-century.htm


(Diakses pada 20 Maret 2018)
Tempo. 2009. Kronologi Aliran Rp 67 Triliun ke Bank Century.
http://www.tempo.co/read/news/2009/11/14/063208353/Kronologi-Aliran-Rp-67-Triliun-
ke-Bank-Century (Diakses pada 20 Maret 2018)
Tempo. 2009. Timwas Century Serahkan Dokumen Baru ke KPK.
http://www.tempo.co/read/news/2013/05/31/063484747/Timwas-Century-Serahkan-
Dokumen-Baru-ke-KPK (Diakses pada 20 Maret 2018)
http://id.wikipedia.org/wiki/Bank_Century
Kompas. 2012. Bank Century dan Utang Politik KPK.
http://nasional.kompas.com/read/2012/11/29/09491274/Bank.Century.dan.Utang.Politik.K
PK (Diakses pada 20 Maret 2018)
Kompasiana. 2013. Kasus Century antara Kebijakan Moneter dan Politik.
http://politik.kompasiana.com/2013/06/11/kasus-century-antara-kebijakan-moneter-dan-
politik-567541.html (Diakses pada 20 Maret 2018)
Tjager, I Nyoman, F. Antonius Alijoyo, Humphrey R. Djemat, dan Bambang Soembodo. 2003.
Corporate Governance, Tantangan dan Kesempatan bagi Komunitas Bisnis Indonesia.
Jakarta: PT Prenhallindo.