Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah


Frozen shoulder merupakan rasa nyeri yang mengakibatkan keterbatasan
lingkup gerak sendi (LGS) pada bahu. Mungkin timbul karena adanya trauma,
mungkin juga timbul secara perlahan-lahan tanpa tanda-tanda atau riwayat
trauma.Keluhan utama yang dialami adalah nyeri dan penurunan kekuatan otot
penggerak sendi bahu dan keterbatasan LGS terjadi baik secara aktif atau
pasif.Frozen shoulder secara pasti belum diketahui penyebabnya. Namun
kemungkinan terbesar penyebab dari frozen shoulder antara lain tendinitis, rupture
rotator cuff, capsulitis, post immobilisasi lama, trauma serta diabetes
mellitus. Respon autoimmunal terhadap rusaknya jaringan lokal yang diduga
menyebabkan penyakit tersebut (Appley,1993). Capsulitis adhesive ditandai dengan
adanya keterbatasan luas gerak sendi glenohumeral yang nyata, baik gerakan aktif
maupun pasif.Ini adalah suatu gambaran klinis yang dapat menyertai tendonitis,
infark miokard, diabetus mellitus, fraktur immobilisasi lama, atau redukulus
cervicalis (Heru P kuntono, 2004).
Frozen shoulder juga dapat disebabkan oleh trauma langsung pada bahu,
immobilisasi atau disuse dalam jangka waktu lama misalnya terjadi fraktur disekitar
bahu yang pada fase penyembuhannya tidak diikuti dengan gerak aktif yang
dilakukan secara teratur pada bahunya, disamping itu juga karena faktor immunologi
serta hubungannya dengan penyakit lain misalnya: Tuberkulosa paru,
hemiparase,ischemic heart desease, bronchitis kronis dan Diabetus Melitus. Diduga
ini merupakan respon autoimun karena rusaknya jaringan lokal (Appley, 1997).
Diantara beberapa faktor yang menyebabkan frozen shoulder adalah capsulitis
adhesiva. Keadaan ini disebabkan karena suatu peradangan yang mengenai kapsul
sendi dan dapat menyebabkan perlengketan kapsul sendi dan tulang rawan, ditandai
dengan nyeri bahu yang timbul secara perlahan-lahan, nyeri yang semakin tajam,
kekakuan dan keterbatasan gerak. Pada pasien yang menderita capsulitis adhesiva
menimbulkan keluhan yang sama seperti pada penderita yang mengalami peradangan
pada jaringan disekitar sendi yang disebut dengan periarthritis, keadaan ini biasanya
timbul gejala seperti tidak bisa menyisir karena nyeri disekitar depan samping bahu.
Nyeri tersebut terasa pula saatb lengan diangkat untuk mengambil sesuatu dari saku
kemeja, ini berarti gerakan aktif dibatasi oleh nyeri. Tetapi bila mana gerak pasif
diperiksa ternyata gerakan itu terbatas karena adanya suatu yang menahan yang
disebabkan oleh perlengketan. Gangguan sendi bahu sebagian besar didahului oleh
adanya rasa nyeri, terutama rasa nyeri timbul sewaktu menggerakan bahu, penderita
takut menggerakan bahunya. Akibat immobilisasi yang lama maka otot akan
berkurang kekuatannya (Shidarta, 1984).
Aspek fisioterapi sindroma nyeri bahu pada kondisi frozen shoulder
akibat capsulitis adhesiva ini fisioterapis berperan dalam mengurangi nyeri
,meningkatkan luas gerak sendi (LGS) mencegah kekakuan lebih lanjut dan
mengembalikan kekuatan otot serta meningkatkan aktifitas fungsional pasien. Untuk
mengatasinya banyak modalitas fisioterapi yang dapat digunakan disini penulis
mengambil modalitas fisioterapi berupa penggunaan Short Wave
Diathermy(SWD), terapi manipulasi dan terapi latihan serta latihan fungsional.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Sendi Bahu


Bahu merupakan persendian yang terjadi antara caput humeri dengan cavitas
glenoidalis, struktur anatomi ini memeiliki Range of Movement (ROM) yang luas
sehingga memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. (Snell,
1997)
Secara anatomi sendi bahu merupakan sendi peluru (ball and socket joint) yang
terdiri atas bonggol sendi dan mangkuk sendi. Cavitas sendi bahu sangat dangkal,
sehingga memungkinkan seseorang dapat menggerakkan lengannya secara leluasa
dan melaksanakan aktifitas sehari-hari. Namun struktur yang demikian akan
menimbulkan ketidakstabilan sendi bahu dan ketidakstabilan ini sering menimbulkan
gangguan pada bahu.
Sendi bahu merupakan sendi yang komplek pada tubuh manusia dibentuk oleh
tulang-tulang yaitu : scapula (shoulder blade), clavicula (collar bone), humerus
(upper arm bone), dan sternum. Daerah persendian bahu mencakup empat sendi,
yaitu sendi sternoclavicular, sendi glenohumeral, sendi acromioclavicular, sendi
scapulothoracal. Empat sendi tersebut bekerjasama secara secara sinkron. Pada sendi
glenohumeralsangat luas lingkup geraknya karena caput humeri tidak masuk ke
dalam mangkok karena fossa glenoidalis dangkal (Sidharta, 1984).
Gambar 1. Anatomi sendi bahu
Berbeda dngan cara berpikir murni anatomis tentang gelang bahu, maka bila
dipandang dari sudut klinis praktis gelang bahu ada 5 fungsi persendian yang
kompleks, yaitu:
a. Sendi Glenohumerale
Sendi glenohumeral dibentuk oleh caput humeri yang bulat dan cavitas
glenoidalisscapula yang dangkal dan berbentuk buah per. Permukaan sendi
meliputi oleh rawan hyaline, dan cavitas glenoidalis diperdalam oleh adanya
labrum glenoidale (Snell, 1997).
Dibentuk oleh caput humerrus dengan cavitas glenoidalisscapulae, yang
diperluas dengan adanya cartilago pada tepi cavitas glenoidalis, sehingga
rongga sendi menjadi lebih dalam. Kapsul sendi longgar sehingga
memungkinkan gerakan dengan jarak gerak yang lebih luas. Proteksi terhadap
sendi tersebut diselenggarakan oleh acromion, procecus coracoideus, dan
ligamen-ligamen. Tegangan otot diperlukan untuk mempertahankan agar caput
humerus selalu dipelihara pada cavitas glenoidalisnya.
Ligamen-ligamen yang memperkuat sendi glenohumeral antara lain
ligamenglenoidalis, ligamenhumeral tranversum, ligamencoraco humeral dan
ligamencoracoacromiale, serta kapsul sendi melekat pada cavitas glenoidalis
dan collum anatomicum humeri (Snell, 1997).
Gerakan arthrokinematika pada sendi gleno humeralyaitu : (1) gerakan
fleksi terjadi rollingcaput humeri ke anterior, sliding ke posterior (2) gerakan
abduksi terjadi rollingcaput humeri ke cranio posterior, sliding ke caudo ventral
(3) gerakan eksternal rotasi terjadi rollingcaput humeri ke dorso lateral, sliding
ke ventro medial (4) gerakan internal rotasi terjadi rollingcaput humeri ke
ventro medial dan sliding ke dorso lateral (Kapanji, 1982).
b. Sendi sterno claviculare
Dibentuk oleh extremitas glenoidalis clavikula, dengan incisura
clavicularis sterni. Menurut bentuknya termasuk articulation sellaris, tetapi
fungsionalnya glubiodea. Diantar kedua facies articularisnya ada suatu discus
articularis sehingga lebih dapat menyesuikan kedua facies articularisnya dan
sebagai cavum srticulare. Capsula articularis luas,sehingga kemungkinan
gerakan luas.
Gerak osteokinematika yang terjadi adalah gerak elevasi 45° dan gerak
depresi 70°, serta protraksi 30° dan retraksi 30°. Sedangkan gerak
osteokinematikanya meliputi: (1) gerak protraksi terjadi roll clavicula kearah
ventral dan slide kearah ventral, (2) gerak retraksi terjadi roll clavicula kerah
dorsal dan slide kearah dorsal, (3) gerak elevasi terjadi roll kearah cranial dan
slide kearah caudal, gerak fleksi shoulder 10° (sampai fleksi 90°) terjadi gerak
elevasi berkisasr 4°, (4) gerak depresi terjadi roll ke arah caudal dan slide
clavicula kearah cranial.
c. Sendi acromioclaviculare
Dibentuk oleh extremitas acromialisclavicula dengan tepi medial dari
acromion scapulae. Facies articularisnya kecil dan rata dan dilapisi oleh fibro
cartilago. Diantara facies articularis ada discus artucularis. Secara morfologis
termasuk ariculatio ellipsoidea, karena facies articularisnya sempit, dengan
ligamentum yang longgar.
Gerak osteokinematika sendi acromio clavicularis selalu berkaitan dengan
gerak pada sendi scapulothoracalis saat elevasi diatas kepala maka terjadi rotasi
clavicula mengitari sumbu panjangnya. Rotasi ini menyebabkan elevasi
clavicula, elevasi tersebut pada sendi sterno clavicularis kemudian 30%
berikutnya pada rotasi clavicula.
d. Sendi subacromiale
Sendi subacromiale berada diantara arcus acromioclaviculare yang
berada di sebelah cranial dari caput serta tuberositas humeri yang ada di sebeleh
caudal, dangan bursa subacromiale yang besar bertindak sebagai rongga sendi.
e. Sendi scapulo thoracic
Sendi scapulo thoracic bukan sendi yang sebenarnya, hanya berupa
pergerakan scapula terhadap dinding thorax (Sri surini, dkk, 2002).
Gerak osteokinematika sendi ini meliputi gerakan kerah medial lateral yang
dalam klinis disebut down ward-up wardrotasi juga gerak kerah cranial-caudal
yang dikenal dengan gerak elevasi-depresi. Join play movement adalah istilah
yang digunakan pada Manipulative therapy untuk menggambarkan apa yang
terjadi didalam sendi ketika dilakukan gerakan translasi, gerakan-gerakan
tersebut dilakukan secara pasif oleh terapis pada saat pemeriksaan maupun
terapi. Ada 3 macam joint play movement: (1). Traction/traksi, (2).
Compression/ kompresi, (3). Gliding.
1) Gliding
Gliding yaitu gerakan permukaan sendi dimana hanya ada satu titik
kontak pada satu permukaan sendi yang selalu kontak dengan titik kontak
yang baru (selalu berubah) pada permukaan sendi laannya. Arah gliding
permukaan sendi sesuai dengan hukum konkaf konvek yaitu : jika
permukaan sendi konkaf, maka arah gliding berlawanan dengan gerakan
tulang. Sedangkan bila permukaan sendi konvek maka arah gliding searah
dengan gerakan tulang. Untuk sendi bahu arah gliding berlawanan dengan
arah gerakan tulang, karena pertmukaan sendi konfek bergerak peda
permukaan sendi konkaf (caput humei dengan cavitas glenoidal).
2) Traksi
Traksi adalah gerakan translasi tulang yang arah geraknya tegak lurus
dan menjauhi bidang terapi sehimgga terjadi peregangan sendi, biasanya
dapat mengurangi nyeri pada sendi.
3) Kompresi
Kompresi adalah gerakan translasi tulang yang arahnyategak lurus
tetapi kedua pernukaan sendi saling mendekati, biasanya akan menimbulkan
nyeri (Mudatsir, 2007).
2.1 Frozen Shoulder
2.1.1 Definisi Frozen Shoulder
Frozen shoulder merupakan gangguan pada sendi bahu yang menimbulkan
nyeri dan keterbatasan luas gerak sendi (LGS). Adanya rasa nyeri dapat
mengganggu penderita dalam melakukan aktifitas. Biasanya nyeri ini akan
timbul saat melakukan aktifitas, seperti : mengangkat tangan ke atas waktu
menyisir rambut, menggosok punggung sewaktu mandi, menulis dipapan tulis,
mengambil sesuatu dari saku belakang celana, mengambil atau menaruh
sesuatu di atas dan kesulitan saat memakai atau melepas baju. Hal ini akan
menyebabkan pasien enggan menggerakkan sendi bahunya yang akhirnya
dapat memperberat kondisi yang ada sehingga dapat menimbulkan gangguan
dalam gerak dan aktifitas fungsional keseharian (Wiratno, 1988).
Frozen shoulder merupakan istilah yang merupakan wadah untuk semua
gangguan pada sendi bahu yang menimbulkan nyeri dan pembatasan lingkup
gerak sendi baik aktif maupun pasif akibat capsulitis adhesive yang disebabkan
adanya perlengketan kapsul sendi, yang sebenarnya lebih tepat untuk
menggolongkannya dalam kelompok periarthrits (Sidharta, 1984).
Dalam pendapat yang lain frozen shoulder adalah penyakut kronis dengan
gejala khas berupa nyeri bahu dan pembatasan lingkup gerak sendi bahu yang
dapat mengakibatkan gangguan aktivitas kerja sehari-hari (AAOS, 2000).
Istilah frozen shouder hanya digunakan untuk penyakit yang sudah
diketahui dengan baik yang ditandai dengan nyeri dan kekakuan progresif bahu
yang berlangsung 18 bulan. Proses peradangan dari tendonitis kronis tapi
perubahan-perubahan peradangan kemudian menyebar melibatkan seluruh cuff
dan capsul (Appley, 1993).

2.1.2 Klasifikasi Frozen Shoulder


1. Primer/ idiopetik frozen shoulder
Yaitu frozen shoulder yang tidak diketahui penyebabnya. Frozen shoulder
lebih banyak terjadi pada wanita dari pada pria dan biasanya terjadi usia
lebih dari 41 tahun. Biasanya terjadi pada lengan yang tidak digunakan dan
lebih memungkinkan terjadi pada orang-orang yang melakukan pekerjaan
dengan gerakan bahu yang lama dan berulang.
2. Sekunder frozen shoulder
Yaitu frozen shoulder yang diikuti trauma yang berarati pada bahu misal
fraktur, dislokasi, luka baker yang berat, meskipun cedera ini mungkin
sudah terjadi beberapa tahun sebelumnya.

2.1.3 Etiologi Frozen Shoulder


Penyebab frozen shoulder tidak diketahui, diduga penyakit ini merupakan
respon auto immobilisasi terhadap hasil – hasil rusaknya jaringan lokal.
Meskipun penyebab utamanya idiopatik, banyak yang menjadi predisposisi
frozen shoulder, selain dugaan adanya respon auto immobilisasi seperti yang
dijelaskan di atas ada juga faktor predisposisi lainnya yaitu usia, trauma
berulang (repetitive injury), diabetes mellitus, kelumpuhan, pasca operasi
payudara atau dada dan infark miokardia, dari dalam sendi glenohumeral
(tendonitis bicipitalis, infalamasi rotator cuff, fracture) atau kelainan ekstra
articular (cervical spondylisis, angina pectoris) (Djohan, 2004; David, 2009).

2.1.4 Patofisiologi
Kapsul sendi terdiri dari selaput penutup fibrosa padat, suatu lapisan
dalamnya terbentuk dari jaringan penyambung berpembuluh darah banyak dan
sinovium, yang berbentuk suatu kantong yang melapisi seluruh sendi, dan
membungkus tendon-tendon yang melintasi sendi, sinovium tidak meluas
melampaui permukaan sendi tetapi terlipat sehingga memungkinkan gerakan
secara penuh. Sinovium menghasilkan cairan yang sangat kental yang
membasahi permukaan sendi. Cairan sinovium normalnya bening, tidak
membeku, tidak berwarna. Jumlah yang di permukaan sendi relative kecil (1-3
ml). Cairan sinovium juga bertindak sebagai sumber nutrisi bagi tulang rawan
sendi. Capsulitis adhesiva merupakan kelanjutan dari lesi rotator cuff, karena
terjadi peradangan atau degenerasi yang meluas ke sekitar dan ke dalam kapsul
sendi dan mengakibatkan terjadinya reaksi fibrous. Adanya reaksi fibrous
dapat diperburuk akibat terlalu lama membiarkan lengan dalam posisi
impingement yang terlalu lama (Appley, 1993).
Pada frozen shoulder terdapat perubahan patologi pada kapsul artikularis
glenohumeral yaitu perubahan pada kapsul sendi bagian anterior superior
mengalami synovitis, kontraktur ligamen coracohumeral, dan penebalan pada
ligamen superior glenohumeral, pada kapsul sendi bagian anterior inferior
mengalami penebalan pada ligamen inferior glenohumeral dan perlengketan
pada ressesus axilaris, sedangkan pada kapsul sendi bagian posterior terjadi
kontraktur, sehingga khas pada kasus ini rotasi internal paling bebas, abduksi
terbatas dan rotasi eksternal paling terbatas atau biasa disebut pola kapsuler
(Donatelli et al, 1999; Soeharyono, 2004).
Nyeri yang ditimbulkan oleh frozen shoulder dan spasme cervico thoracal
akibat frozen shoulder dapat menyebabkan terbentuknya vicious circle of
reflexes yang mengakibatkan medulla spinalis membangkitkan aktifitas
efferent sistem simpatis sehingga dapat menyebabkan spasme pada pembuluh
darah kapiler akan kekurangan cairan sehingga jaringan otot dan kulit menjadi
kurang nutrisi. Pengaruh refleks sistem simpatik pada otot pada tahap awal
menunjukkan adanya peningkatan suhu, aliran darah, gangguan metabolisme
energi phospat tinggi dan pengurangan konsumsi oksigen pada tahap akhir
penyakit nonspesifik dan abnormalitas histologi dapat terjadi (David, 2009).
Adapun beberapa teori yang dikemukakan American Academy of
Orthopedic Surgeon tahun 2000 mengenai frozen shoulder, teori tersebut
adalah :
a. Teori hormonal.
Pada umumnya frozen shoulder terjadi 60% pada wanita bersamaan dengan
datangnya menopause.
b. Teori genetik.
Beberapa studi mempunyai komponen genetik dari frozen shoulder,
contohnya ada beberapa kasus dimana kembar identik pasti menderita pada
saat yang sama.
c. Teori auto immuno.
Diduga penyakit ini merupakan respon auto immuno terhadap hasil-hasil
rusaknya jaringan lokal.
d. Teori postur.
Banyak studi yang belum diyakini bahwa berdiri lama dan berpostur tegap
menyebabkan pemendekan pada salah satu ligamen bahu.

Menurut Kisner (1996) frozen shoulder dibagi dalam 3 tahapan, yaitu :


a. Pain (Freezing)
Ditandai dengan adanya nyeri hebat bahkan saat istirahat, gerak sendi bahu
menjadi terbatas selama 2-3 minggu dan masa akut ini berakhir ampai 10-
36 minggu.
b. Stiffness (Frozen)
Ditandai dengan rasa nyeri saat bergerak, kekakuan atau perlengketan yang
nyata dan keterbatasan gerak dari glenohumeral yang di ikuti oleh
keterbatasan gerak scapula. Fase ini berakhir 4-12 bulan.
c. Recovery (Thawing)
Pada fase ini tidak ditemukan adanya rasa nyeri dan tidak ada synovitis
tetapi terdapat keterbatasan gerak karena perlengketan yang nyata. Fase ini
berakhir 6-24 bulan atau lebih.
2.1.5 Gejala Klinis
1. Nyeri
Pasien berumur 40-60 tahun, dapat memiliki riwayat trauma, seringkali
ringan, diikuti sakit pada bahu dan lengan nyeri secara berangsur-angsur
bertambah berat dan pasien sering tidak dapat tidur pada sisi yang terkena.
Setelah beberapa lama nyeri berkurang, tetapi sementara itu kekakuan
semakin terjadi, berlanjut terus selama 6-12 bulan setelah nyeri menghilang.
Secara berangsur-angsur pasien dapat bergerak kembali, tetapi tidak lagi
normal (Appley,1993).
2. Keterbatasan Lingkup gerak sendi (LGS)
Capsulitis adhesive ditandai dengan adanya keterbatasan luas gerak
sendi glenohumeral yang nyata, baik gerakan aktif maupun pasif. Ini adalah
suatu gambaran klinis yang dapat menyertai infark myokard, diabetes
melitus, fraktur immobilisasi berkepanjangan atau redikulitis cervicalis.
Keadaan ini biasanya unilateral, terjadi pada usia antara 45–60 tahun dan
lebih sering pada wanita.
Nyeri dirasakan pada daerah otot deltoideus. Bila terjadi pada malam
hari sering sampai mengganggu tidur. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
adanya kesukaran penderita dalam mengangkat lengannya (abduksi),
sehingga penderita akan melakukan dengan mengangkat bahunya
(srugging) (Heru P Kuntono,2004).
3. Penurunan Kekuatan otot dan Atropi otot
Pada pemeriksaan fisik didsapat adanya kesukaran penderita dalam
mengangkat lengannya (abduksi) karena penurunan kekuatan otot. Nyeri
dirasakan pada daerah otot deltoideus, bila terjadi pada malam hari sering
menggangu tidur. Pada pemeriksaan didapatkan adanya kesukaran penderita
dalam mengangkat lengannya (abduksi), sehingga penderita akan
melakukandengan mengangkat bahunya (srugging). Juga dapat dijumpai
adanya atropi bahu (dalam berbagaoi tingkatan). Sedangkan pemeriksaan
neurologik biasanya dalam batas normal (Heru P Kuntono, 2004).
4. Gangguan aktifitas fungsional
Dengan adanya beberapa tanda dan gejala klinis yang ditemukan pada
penderita frozen shoulder akibat capsulitis adhesiva seperti adanya nyeri,
keterbatasan LGS, penurunan kekuatan otot dan atropi maka secara
langsung akan mempengaruhi (mengganggu) aktifitas fungsional yang
dijalaninya
2.1.6 Diagnosis
1. Anamnesis
Pada penderita “ frozen shoulder “ didapatkan keluhan nyeri di bagian
depan dan samping bahu,sehingga penderita tidak dapat menyisir rambut
maupun keluhan keterbatasan gerak lainnya.
2. Pemeriksaan fisik
Frozen shoulder “ merupakan gangguan pada kapsul sendi ,maka
gerakan aktif maupun pasif terbatas dan nyeri. Nyeri dapat menjalar ke
leher , lengan atas dan punggung, perlu dilihat faktor pencetus timbulnya
nyeri. Gerakan pasif dan aktif terbatas, pertama – tama pada gerakan
elevasi dan rotasi interna lengan, tetapi kemudian untuk semua gerakan
sendi bahu (Sidharta, 1984).
Tes Appley scratch merupakan tes yang berguna untuk mengevaluasi
lingkup gerak sendi aktif pasien. Pasien diminta menggaruk daerah
angulus medialis scapula dengan tangan sisi kontra lateral melewati
belakang kepala (Woodward dan Best, 2005).
Gambar 2. Appley scratch test
Pada Frozen shoulder pasien tidak dapat melakukan gerakan ini. Bila
sendi dapat bergerak penuh pada bidang geraknya secara pasif, tetapi
terbatas pada gerak aktif, maka kemungkinan kelemahan otot bahu sebagai
penyebab keterbatasan (Mancini, 1985).

2.1.7 Visual Analogue Scale (VAS)


Visual Analogue Scale (VAS) adalah skala unidimensional nyeri yang
biasa digunakan untuk mengukur komponen sensorik dari rasa sakit. Jenis
pengukuran yang paling umum digunakan terdiri dari garis horizontal mulai
dari “ tidak ada rasa sakit “ sampai “tak tertahankan /“ di mana subyek diminta
untuk membuat tanda mewakili level mereka dianggap sakit intensitas. Skala
mencetak dengan mengukur jarak dari tidak ada nyeri sampai ujung titik yang
ditandai pasien . Meskipun VAS paling sulit umumnya digunakan dan
diterapkan dalam praktek klinis, VAS sering dianjurkan dalam penelitian
terapan karena kepekaan lebih besar dan ketahanan yang statistik. (Wowers &
Lowe, 1990)
Beberapa faktor dapat menjelaskan variabilitas ini, termasuk kombinasi
faktor fisik, fisiologis dan psikososial . Variabilitas ini, namun, juga mungkin
karena variasi dalam penggunaan skala yang dihasilkan dari sifat-sifat skala
rating itu sendiri. Variasi tersebut memungkinkan terdapat bias respon umum
untuk besarnya skala prosedur, seperti perubahan dalam respon kriteria atau
interpretasi skala besarnya . Pada kenyataannya, patokan poin, “tidak ada
nyeri” dan “nyeri sangat hebat”, dari VAS dapat memunculkan bias respon.
Sebagai contoh, ketika sekelompok pasien dengan rasa sakit kronis diminta
untuk menggunakan istilah-istilah mereka sendiri untuk menunjukkan makna
patokan poin pada skala nyeri, pasien mengira end point “tidak ada nyeri”
sebagai “normal nyeri” (Kemp et all., 2012).
VAS adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus
menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien
kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat
merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat
mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu
kata atau satu angka (Potter, 2005).
Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan
tidak mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien
dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat.
Skala deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan
nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat
menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau
menilai apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter, 2005).
Secara Operasional VAS biasanya adalah garis horizontal, 100 mm
panjang, berlabuh oleh kata Deskriptor di setiap akhir, seperti digambarkan
dalam gambar 3. Pasien menandai pada baris titik bahwa mereka merasa
mewakili persepsi mereka tentang keadaan saat ini. Skor VAS ditentukan
dengan mengukur di milimeter dari ujung kiri baris ke titik yang menandai
pasien. (Wewers & Lowe, 1990).

Gambar 3. Contoh garis horizontal VAS


2.1.8 Tatalaksana
Frozen shoulder biasanya akan sembuh dengan sendiriya namun akan
memakan waktu yang lama, kadang hingga 2-3 tahun. Pengobatan untuk
mengontrol nyeri dan memulihkan pergerakan.
Edukasi yang baik kepada pasien dapat membantu mengurangi rasa
frustasi dan memberikan semangat. Suatu penjelasan bahwa kondisi tersebut
akan secara spontan teratasi dan kekakuan akan menghilang seiring waktu
terbukti membantu psikologi pasien. Namun perlu juga diingatkan bahwa
cakupan gerak bahu tidak akan dapat pulih sepenuhnya.

2.1.9 Terapi Medikamentosa


Beberapa peneliti telah melaporkan adanya komponen inflamasi pada
frozen shoulder syndrome. Oleh karena itu, penggunaan obat-obat nonsteroid
dalam tahap pengobatan awal frozen shoulder dianjurkan. Pemberian obat-
obatan nonsteroid dapat mengurangi peradangan dan nyeri dan pasien lebih
mampu mentolerir terapi fisik yang agresif. Sebelum pasien yang diresepkan
obat, sebaiknya dilakukan anamsesis terlebih dahulu apakah pasien
kontraindikasi terhadap obat-obatan nonsteroid

2.1.10 Terapi Panas


Efek terapi dari pemberian panas lokal, baik dangkal maupun dalam,
terjadi oleh adanya produksi atau perpindahan panas. Pada umumnya reaksi
fisiologis yang dapat diterima sebagai dasar aplikasi terapi panas adalah bahwa
panas akan meningkatkan viskoelastik jaringan kolagen dan mengurangi
kekakuan sendi. Panas mengurangi rasa nyeri dengan jalan meningkatkan nilai
ambang nyeri serabut-serabut saraf. Efek lain adalah memperbaiki spasme otot,
meningkatkan aliran darah, juga membantu resolusi infiltrat radang, edema,
dan efek eksudasi (Goldfried, 2008).
2.1.11 Terapi Latihan
Terapi latihan yang dimaksudkan adalah latihan khas (specific exercises).
Tujuan pokok terapi latihan pada nyeri bahu adalah :
1. Mengurangi sakit dan spasme otot
2. Memelihara fungsi sendi bahu
3. Menghilangkan gangguan fungsi sendi bahu yang terjadi atau
meningkatkan fungsi sendi semaksimal mungkin. (Thomson, 2001;
Djohan, 2004).
Bagian yang terpenting dari terapi frozen shoulder. Pada awalnya latihan gerak
dilakukan secara pasif terutama bila rasa nyeri begitu berat. Setelah nyeri
berkurang latihan dapat dimulai dengan aktif dibantu. Rasa nyeri yang timbul
pada waktu sendi digerakkan baik secara pasif maupun aktif menentukan saat
dimulainya latihan gerak. Bila selama latihan pasif timbul rasa nyeri sebelum
akhir pergerakan sendi diduga masih fase akut sehingga latihan gerakan aktif
tidak diperbolehkan. Bila rasa nyeri terdapat pada akhir gerakan yang terbatas,
berarti masa akut sudah berkurang dan latihan secara aktif boleh dilakukan.
Pada latihan gerak yang menimbulkan/ menambah rasa nyeri, maka latihan
harus ditunda karena rasa nyeri yang ditimbulkan akan menurunkan lingkup
gerak sendi. Tetapi bila gerakan pada latihan tidak menambah rasa nyeri maka
kemungkinan besar terapi latihan gerak akan berhasil dengan baik. Latihan
gerak dengan menggunakan alat seperti shoulder wheel , overhead pulleys,
finger ladder, dan tongkat merupakan terapi standar untuk penderita frozen
shoulder (Goldfried, 2008).
1. Latihan Codman ( Pendulum )
Gravitasi menyebabkan traksi pada sendi dan tendo dari otot lengan.
Codman memperkenalkan latihan untuk sendi bahu dengan menggunakan
gravitasi . Bila penderita melakukan gerak abduksi pada saat berdiri tegak
akan timbul rasa nyeri hebat. Tetapi bila dilakukan dengan pengaruh dari
gravitasi dan otot supraspinatus relaksasi, maka gerakan tersebut terjadi
tanpa disertai rasa nyeri. Pada gerakan pendulum penderita membungkuk
kedepan, lengan yang terkena tergantung bebas tanpa atau dengan beban.
Tubuh dapat ditopang dengan meletakkan lengan satunya diatas meja atau
bangku, lengan digerakkan ke depan dan ke belakang pada bidang sagital
( fleksi – ekstensi) Makin lama makin jauh gerakannya, kemudian gerakan
kesamping, dilanjutkan gerakan lingkar ( sirkuler) searah maupun
berlawanan arah dengan jarum jam. Pemberian beban pada latihan
pendulum akan menyebabkan otot memanjang dan dapat menimbulkan
relaksasi pada otot bahu (Goldfried, 2008).
2. Latihan dengan Menggunakan Tongkat.
Latihan dengan tongkat dapat berupa gerakan fleksi, abduksi, adduksi,
dan rotasi. Gerakan dapat dilakukan dalam posisi berdiri, duduk ataupun
berbaring. Cara latihan : tongkat dipegang dengan kedua tangan di depan
tubuh. Untuk fleksi bahu posisi tongkat. Untuk horizontal abduksi dan
0
adduksi, tongkat diangkat sampai sendi bahu fleksi 90 . Siku tetap
ekstensi, tangan yang sehat dipakai untuk mendorong sisi yang sakit
selebar mungkin secara perlahan – lahan. Dengan tongkat diletakkan
dibelakang punggung dapat dilaksanakan rotasi eksternal atau rotasi
internal. Pada saat terasa peregangan, posisi dipertahankan selama 3
hitungan, dan peregangan dapat diulang 3 sampai 5 kali (Goldfried, 2008).
3. Latihan Finger Ladder
Finger ladder adalah alat bantu yang dapat memberikan bantuan
secara obyektif sehingga penderita mempunyai motivasi yang kuat untuk
melakukan latihan lingkup gerak sendi dengan penuh. Perlu diperhatikan
agar penderita berlatih dengan posisi yang benar, jangan sampai penderita
memiringkan tubuhnya, berjinjit maupun melakukan elevasi skapula.
Gerakan yang dapat dilakukan adalah fleksi dan abduksi. Penderita berdiri
menghadap dinding dengan ujung jari – jari tangan sisi yang terkena
menyentuh dinding. Lengan bergerak keatas dengan menggerakkan jari –
jari tersebut ( untuk fleksi bahu ). Untuk gerakan abduksi dikerjakan
dengan samping badan menghadap dinding (Goldfried, 2008).
4. Latihan dengan Over Head Pulleys ( Katrol )
Bila diajarkan dengan benar , sistem katrol sangat efektif untuk
membantu mencapai lingkup gerak sendi bahu dengan penuh. Peralatan
dua buah katrol digantungkan pada tiang dengan seutas tali dihubungkan
dengan kedua katrol tersebut. Kedua ujung tali diberi alat agar tangan
dapat menggenggam dengan baik. Posisi penderita bisa duduk, berdiri
atau berbaring telentang dengan bahu terletak dibawah katrol tersebut.
Dengan menarik tali pada salah satu sisi tali yang lain akan terangkat.
Sendi siku diusahakan tetap dalam posisi ekstensi dan penderita tidak
boleh mengangkat bahu maupun mengangkat tubuh. Gerakan dilakukan
perlahan-lahan (Goldfried, 2008).
5. Latihan dengan Shoulder Wheel
Dengan instruksi yang benar shoulder wheel dapat dipergunakan
untuk memberi motivasi pada penderita untuk melakukan latihan lingkup
gerak sendi bahu secara aktif.
Cara penggunaan alat : penderita berdiri sedemikian rupa sehingga
aksis dari sendi bahu sama dengan aksis roda pemutar sehingga gerak
lengan sesuai dengan gerak putaran roda.Penderita tidak diharuskan
menggerakkan roda secara penuh, tetapi gerakan hanya dilakukan sebesar
kemampuan gerakan sendi bahunya. Harus pula diperhatikan pada waktu
melakukan gerakan endorotasi maupun eksorotasi bahu dalam posisi
abduksi 90 0 dan siku fleksi 90 0. Dengan meletakkan siku pada aksis roda
maka gerakan dapat dilakukan sampai pada keterbatasan lingkup gerak
sendi (Goldfried, 2008).

2.1.12 Komplikasi
Komplikasi dominan timbul dari frozen shoulder adalah kekakuan bahu
atau nyeri. Beberapa laporan telah menunjukkan bahwa sebagian besar pasien
mengalami rasa sakit dan atau kekakuan hingga 3 tahun setelah pengobatan
konservatif. Selain itu, fraktur humerus, ruptur tendon biseps, dan tendon
subscapularis juga telah dilaporkan pada pasien yang dilakukan manipulasi
bahu
2.1.13 Prognosis
Apabila dilakukan tindakan sendiri mungkin secara tepat maka prognosis
gerak dan fungsi dari kasus frozen shoulder adalah baik. Penderita sebaiknya
diberitahu bahwa akan dapat menggerakkan bahu kembali tanpa rasa nyeri
tetapi memerlukan waktu beberapa bulan (Setiawan,1991).

2.1.14 Edukasi
Edukasi yang diberikan pada pasien dengan kondisi frozen
shoulder antara lain : (1) pasien diminta melakukan kompres panas (jika
pasien tahan) ± 15 menit pada bahu yang sakit untuk mengurangi rasa nyeri
yang timbul, (2) pasien dianjurkan agar tetap meggunakan lengannya dalam
batas toleransi pasien untuk menghindari posisi immobilisasi yang lama yang
dapat memperburuk kondisi frozen shoulder, (3) latihan sesuai
metode Codman pendular exercise di rumah dengan beban minimal dan dapat
ditambah secara bertahap, (4) latihan merambatkan jari lengan yang sakit ke
dinding (walking finger), (5) menghindari posisi menetap yang lama yang
dapat memicu rasa nyeri, (6) latihan dengan handuk, posisi lengan seperti
huruf “S” terbalik kedua lengan memegang handuk kemudian bahu yang sehat
menarik ke atas sampai lengan yang sakit tertarik, (7) latihan penguatan dengan
prinsip Codman pendular exercise yang dilakukan di dalam kolam atau bak
mandi dengan melawan tahanan air.