Anda di halaman 1dari 7

Kepemimpinan Kharismatik

Teori kepemimpinan kharismatik pertama kali diusung oleh Max Weber. Kharismatik
berasal dari kata “kairismos”, dalam bahasa Yunani memiliki makna seseorang yang terberkati
dan terinspirasi secara agung; juga diartikan sebagai hadiah yang diberikan oleh para dewa
kepada seseorang. Artinya seseorang dikatakan karismatik apabila orang tersebut memiliki
berkat atau talenta yang banyak memikat para pengikutnya secara luar biasa. Max Weber,
mendefinisikan karisma (yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti “anugerah”) sebagai
“suatu sifat tertentu dari seseorang, yang membedakan mereka dari orang kebanyakan dan
biasanya dipandang sebagai kemampuan atau kualitas supernatural, manusia super, atau paling
tidak daya-daya istimewa. Kemampuan-kemampuan ini tidak dimiliki oleh orang biasa, tetapi
dianggap sebagai kekuatan yang bersumber dari yang Ilahi, dan berdasarkan hal ini seseorang
kemudian dianggap sebagai seorang pemimpin. Weber berpendapat bahwa kepemimpinan
karismatik merupakan salah satu jenis otoritas yang ideal.
Menurut Weber seorang pemimpin kharismatik muncul pada saat terjadi suatu krisis sosial,
di mana sang pemimpin muncul dengan sebuah visi radikal yang menawarkan sebuah solusi
untuk mengatasi krisis tersebut. Sang Pemimpin menarik pengikutnya yang percaya pada visi
yang diusungnya secara luar biasa sehingga para pengikutnya percaya bahwa orang yang
memimpin mereka adalah orang yang luar bisasa “yang memiliki sesuatu” yang berbeda dari
orang kebanyakan. Kepercayaan itu sungguh mendarahdaging sehingga apapun yang dikatakan
pemimpin tersebut dipandang sebagai suatu amanah yang harus dijalankan. Jadi pemimpin
karismatik adalah seorang pemimpin yang memiliki daya tarik personalitas yang luar biasa yang
mampu mengendalikan pikiran, kemauan, jiwa, dan raga dari para pengikutnya. Kepemimpinan
karismatik tidak mengandalkan otoritas dan eksternal power tetapi menggunakan daya tarik
personalitas. Karena tidak menggunakan power dan otoritas maka pemimpin karismatik
umumnya adalah pimpinan lembaga informal.
Robert House kemudian mengembangkan pemikiran Weber dengan menyusun teori-teori
ilmiah mengenai kepemimpinan karimatik ini pada tahun 1977. Menurut House, seorang
pemimpin kharismatik haruslah memilki kriteria sebagai seorang yang tinggi tingkat
kepercayaan dirinya, kuat keyakinan dan idealismenya serta mampu mempengaruhi orang lain.
Selain itu dirinya haruslah mampu berkomunikasi secara persuasif dan memotivasi para
bawahannya.

Teori Atribusi dari Kepemimpinan Kharismatik

Conger dan Kanungo mengusulkan teori tentang kepemimpinan karismatik berdasarkan


pada asumsi bahwa karisma merupakan sebuah fenomena yang berhubungan (atribusional).
Menurut teori ini, atribusi pengikut dari kualitas karismatik bagi seorang pemimpin bersama-
sama ditentukan oleh perilaku, keterampilan pemimpinnya dan aspek situasi. Ada tiga asumsi
yang digunakan dalam menarik para pengikut pemimpin karismatik, yaitu: (1) daya tarik dan
keanggunan merupakan modal yang dibutuhkan untuk menarik pengikut, (2) rasa percaya diri
adalah kebutuhan dasar dari seorang pemimpin, dan (3) pengikut akan mengikuti orang-orang
yang mereka kagumi.
Menurut teori kepemimpinan kharismatik Conger dan Kanungo, para pengikut terpicu pada
kemampuan heroik sang pemimpin atau kemampuan yang luar biasa ketika mereka mengamati
perilaku-perilaku tertentu dari sang pemimpin. Dari hasil studi yang dilakukan, Conger dan
Kanugo mengidentifikasikan karakterteristik personal pemimpin kharismatik dalam lima hal
penting antara lain:
1. Visi dan Artikulasi (Vision and articulation).
Memiliki visi yang dinyatakan sebagai tujuan ideal yang menganggap bahwa masa depan
lebih baik daripada status quo; dan mampu mengklarifikasi pentingnya misi yang bisa
dipahami orang lain.
2. Resiko pribadi (Personal risk).
Bersedia mengambil resiko pribadi yang tinggi, mengeluarkan biaya besar, dan berkorban
untuk mencapi visi tersebut.
3. Kepekaan pada Lingkungan (Environmental sensitivity).
Pemimpin karismatik mampu melakukan perhitungan realitis mengenai hambatan dari
lingkungan dan kebutuhan sumberdaya untuk mengupayakan terjadinya perubahan.
4. Sensitive dengan kebutuhan bawahan (Sensitivity to follower needs).
Menerima kemampuan orang lain dan bertanggungjawab atas kebutuhan dan perasaan
mereka.
5. Perilaku yang tidak konvensional (Unconventional behavior).
Memiliki perilaku yang dianggap baru dan berlawanan dengan kebiasaan. Pemimpin
karismatik menunjukkan perilaku (konstruktif) diluar kebiasaan dan seringkali
menentang norma (destruktif) yang mengakar dalam masyarakat, tetapi untuk perubahan
ke arah perbaikan, misalnya reformasi.
Hal ini dijelaskan lebih lanjut oleh Yukl tentang lima karakteristik pemimpin kharismatik ini.
Pertama, kharisma akan lebih mungkin dihubungkan dengan dengan pemimpin yang
menyarankan sebuah visi yang bertentangan dengan status quo. Kedua, kharisma akan lebih
mungkin dihubungkan dengan pemimpin yang bertindak secara tidak konvensional untuk
menggapai visi. Dalam arti, pemimpin melakukan sesuatu yang mengesankan bagi para pengikut
yang mengungkapkan bahwa ia adalah pemimpin yang luar biasa. Ciri yang ketiga adalah
pemimpin akan lebih mungkin dipandang sebagai pemimpin yang kharismatik bila mereka
melakukan pengorbanan diri, mengambil risiko pribadi dan medatangkan biaya tinggi untuk
mencapai visi. Pada titik ini, kepercayaan menjadi komponen penting dari kharisma, dan
pengikut lebih mempercayai pemimpin yang tidak terlalu termotivasi dengan kepentingan
pribadi. Ciri yang keempat adalah pemimpin yang lebih percaya diri mengenai usulan mereka
akan lebih mungkin dipandang sebagai kharismatik daripada pemimpin yang kelihatan bimbang
dan ragu. Ciri kelima adalah para pengikut lebih menghubungkan kharisma dengan pemimpin
yang menggunakan pembuatan visi dan daya tarik persuasif daripada dengan pemimpin yang
menggunakan otoritas.
Yukl menjelaskan bahwa teori atribusi tentang karisma lebih menekankan kepada
identifikasi pribadi sebagai proses utama mempengaruhi dan internalisasi sebagai proses
sekunder. Proses pengaruh utama adalah identifikasi pribadi, yang pengaruhnya diperoleh dari
keinginan seorang pengikut untuk menyenangkan dan meniru pemimpinnya. Di mana pmimpin
kharismatik terlihat begitu luar biasa karena mereka memiliki wawasan strategis, pendirian yang
kuat, keyakinan diri, perilaku yang tidak konvensional dan energi yang dinamis, bahwa bawahan
mengidolakan pemimipin mereka dan ingin menjadi seperti mereka. Pengaruh dari seorang
pemimpin kharismatik juga disebabkan oleh internalisasi nilai dan keyakinan baru oleh para
pengikut. Conger menenkan bahwa penting bagi pengikut untuk mengambil sikap dan keyakinan
pemimpin tentang pekerjaan daripada hanya meniru aspek buatan dari perilaku pemimpin seperti
perangai, gerak tubuh, dan pola bicara. Seorang pemimpin yang kharismatik menyatakan visi
yang memberikan inspirasi berfungsi sebagai sebuah sumber motivasi instrinsik untuk
menjalankan misi organisasi.
Robbins menyebutkan ada empat tahap dalam proses mempengaruhi yang dilakukan oleh
seorang pemimpin kharismatik. Tahap pertama adalah pernyataan visi sang pemimpin. Visi
(vision) adalah strategi jangka panjang untuk mencapai tujuan atau serangkaian tujuan. Visi yang
dikemukakan sang pemimpin kharismatik memberi nuansa kontinuitas bagi para pengikut di
mana ia berusaha menghubungkan keadaan saat ini dengan masa depan yang lebih baik bagi
organisasi. Pada tahap kedua, setelah visi dan misi ditetapkan sang pemimpin kemudian
mengkomunikasikan ekspektasi kinerja yang tinggi dengan keyakinan bahwa para pengikutnya
mampu mencapai visi yang diungkapkan. Efek dari keyakinan ini membuat para pengikut
semakin percaya diri. Setelah sang pemimpin mengkomunikasikan ekspektasinya, pada tahap
ketiga, pemimpin kharismatik menyatakannya melalui kata-kata dan tindakan, seperangkat nilai
yang baru, dan melalui perilakunya, memberikan teladan untuk ditiru para pengikutnya. Sebuah
visi harus ada pernyataan visi-nya (vision statement), yaitu pernyataan formal visi atau misi
organisasi dalam tindakan. Pemimpin yang karismatik bisa menggunakan pernyataan visi untuk
menanamkan tujuan dan sasaran ke benak para pengikutnya. Pada akhirnya, pada tahap keempat,
pemimpin karismatik melibatkan dirinya secara emosional dan acap kali berperilaku yang tidak
biasa untuk menunjukkan keberanian dan pendiriannya atas visi yang telah ditetapkan. Terjadilah
penularan emosional dalam diri pemimpin yang karismatik yang “ditangkap” oleh para
pengikutnya.

Teori Konsep Diri dari Kepemimpinan Kharismatik


Shamir et.al memperluas teori House dengan menggabungkan perkembangan baru dalam
pemikiran tentang motivasi manusia dan gambaran lebih rinci tentang pengaruh pemimpin dan
pengikut. Asumsi mereka mengenai motivasi manusia antara lain: (1) perilaku adalah ekspresi
dari perasaan seseorang, nilai dan konsep diri dan juga berorientasi sasaran dan pragmatis; (2)
konsep diri seseorang terdiri dari hierarki identitas dan nilai sosial; (3) orang secara intrinsik
termotivasi untuk memperkuat dan mempertahankan kepercayaan diri dan nilai diri mereka, dan
(4) orang secara intrinsik termotivasi untuk memelihara konsistensi di antara berbagai komponen
dari konsep diri mereka dan antara konsep diri mereka dengan perilaku.
Teori konsep diri dari kepemimpinan kharismatik menjelaskan bahwa indikator kharisma
terlihat dari hubungan antara pemimpin dan pengikut. Seorang pemimpin kharismatik memiliki
pengaruh yang dalam dan tidak biasa pada pengikut-pengikutnya. Para pengikut selalu merasa
bahwa apa yang diyakini oleh pemimpin itu benar adanya dan mereka akan berusaha untuk
mematuhinya, ada kasih sayang kepada pemimpin dan secara emosional terlibat dalam misi
kelompok atau oraganisasi serta memilki sasaran kinerja yang tinggi.
Ciri dan perilaku pemimpin juga menjadi penentu penting dari pemimpin kharismatik.
Menurut teori konsep diri, para pemimpin kharismatik lebih besar kemungkinannya untuk
memiliki kebutuhan yang kuat akan kekuasaan, keyakinan diri yang tinggi dan pendirian kuat
dalam keyakinan dan idealisme mereka sendiri. Beberapa ciri dan perilaku penting dari
pemimpin kharismatik dalam memperngaruhi sikap dan perilaku pengikut adalah (1)
menyampaikan visi yang menarik; (2) menggunakan bentuk komunikasi yang kuat dan ekspresif
saat menyampaikan visi; (3) mengambil risiko pribadi dan membuat pengorbanan diri untuk
mencapai visi; (4) menyampaikan harapan (ekspektasi) yang tinggi; (5) memperlihatkan
keyakinan akan pengikut; (6) pembuatan model peran dari perilaku yang konsisten dengan visi;
(7) mengelola kesan pengikut akan pemimpin; (8) membangun identifikasi dengan kelompok
atau organisasi dan (9) memberikan kewenangan kepada pengikut.
Proses pengaruh yang mempengaruhi perilaku sosial dalam kepemimpinan karismatik
teridiri atas identifikasi pribadi, identifikasi sosial, internasiliasi dan kemampuan diri sendiri
yang akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Pertama, identifikasi pribadi (personal identification), identifikasi pribadi merupakan
sebuah proses mempengaruhi yang dyadic yang terjadi pada beberapa orang pengikut
namun tidak pada yang lainnya. Proses ini akan paling banyak terjadi pada para pengikut
yang mempunyai rasa harga diri rendah, identitas diri rendah, dan kebutuhan yang tinggi
untuk menggantungkan diri kepada tokoh-tokoh yang berkuasa. Shamir dan kawan-
kawan mengakui bahwa identifikasi pribadi dapat terjadi pada beberapa orang pengikut
dari para pemimpin karismatik, namun mereka kurang menekankan pada penjelasan
tersebut karena masih ada proses-proses lainnya.
2. Kedua, identifikasi sosial (sosial identification). Identifikasi sosial merupakan sebuah
proses mempengaruhi yang menyangkut defenisi mengenai diri sendiri dalam
hubungannya dengan sebuah kelompok atau kolektivitas. Para pemimpin karismatik
meningkatkan identifikasi sosial dengan membuat hubungan antara konsep diri sendiri
para pengikut individual dan nilai-nilai yang dirasakan bersama serta identitas-identitas
kelompok. Seorang pemimpin karismatik dapat meningkatkan identifikasi sosial dengan
memberi kepada kelompok sebuah identitas yang unik, yang membedakan kelompok
tersebut dengan kelompok-kelompok yang lain.
3. Ketiga, internalisasi (internalization). Para pemimpin karismatik mempengaruhi para
pengikut untuk merangkul nilai-nilai baru, namun lebih umum bagi para pemimpin
karismatik untuk meningkatkan kepentingan nilai-nilai yang ada sekarang pada para
pengikut dan dengan menghubungkannya dengan sasaran-sasaran tugas. Para pemimpin
karismatik juga menekankan aspek-aspek simbolis dan ekspresif pekerjaan itu, yaitu
membuat pekerjaan tersebut menjadi lebih berarti, mulia, heroic, dan secara moral benar.
Para pemimpin karismatik tersebut juga tidak menekankan pada imbalan-imbalan
ekstrinsik dalam rangka mendorong para pengikut untuk memfokuskan diri kepada
inbalan-imbalan intrinsik dan meningkatkan komitmen mereka kepada sasaran-sasaran
objektif.
4. Keempat, kemampuan diri sendiri (self-efficacy). Efikasi diri individu merupakan suatu
keyakinan bahwa individu tersebut mampu dan kompeten untuk mencpai sasaran tugas
yang sukar. Efikasi diri kolektif menunjuk kepada persepsi para anggota kelompok bahwa
jika mereka bersama-sama, mereka akan dapat menghasilkan hal-hal yang luar biasa.
Para pemimpin karismatik meningkatkan harapan dari para pengikut bahwa usaha-usaha
kolektif dan individual mereka untuk melaksanakan misi kolektif, akan berhasil.
Berbedea dengan teori atribusi dari kepemimpinan kharismatik, identifikasi pribadi tidak
ditekankan. Dalam teori konsep diri sumber yang terpenting adalah indentifikasi sosial,
internalisasi dan kemampuan diri sendiri dan kolektif.

Pemimpin karismatik: Dilahirkan atau Diciptakan

Apakah pemimpin karismatik memang terlahir dengan sifat-sifat istimewa? Atau, bisakah
orang belajar menjadi pemimpin karismatik? Ada yang berpendapat bahwa seseorang dilahirkan
dengan sifat-sifat yang membuat mereka karismatik. Robbins menjelaskan bahwa penelitian
menunjukkan bahwa sifat-sifat individu juga terkait dengan kepemimpinan karismatik.
Pemimpin yang karismatik cenderung bersifat terbuka, percaya diri, dan memiliki tekad yang
kuat untuk mencapai hasil. Walaupun ada yang berpendapat demikian, bahwa kharisma
merupakan sebuah anugerah namun ada juga yang beranggapan bahwa kharisma yang adalah
anugerah itu juga dapat dipelajari. Sebagian besar ahli percaya seseorang juga bisa dilatih untuk
menampilkan perilaku yang karismatik dan mendapat manfaat dari menjadi seorang pemimpin
yang karismatik. Robbins mengatakan bahwa seseorang bisa belajar menjadi karismatik dengan
mengikuti proses yang terdiri atas tiga tahap.
1. Pertama, seseorang perlu mengembangkan aura karisma dengan cara mempertahankan
cara pandang yang optimis; menggunakan kesabaran sebagai katalis untuk menghasilkan
antusiasme; dan berkomunikasi dengan keseluruhan tubuh, bukan cuma dengan kata-
kata.
2. Kedua, seseorang menarik orang lain dengan cara menciptakan ikatan yang
menginspirasi orang lain tersebut untuk mengikutinya.
3. Ketiga, seseorang menyebarkan potensi kepada para pengikutnya dengan cara menyentuh
emosi mereka.

Konsekuensi dari Kepemimpinan Kharismatik

Dari studi mengenai kepemimpinan historis mengungkapkan bahwa ada kharismatik yang
positif dan negatif. Sebuah pendekatan yang lebih baik untuk membedakan antara kharismatik
yang positif dan negatif adalah dalam hal nilai kepribadian mereka. Tidak semua pemimpin yang
karismatik selalu bekerja demi kepentingan organisasinya. Banyak dari pemimpin ini
menggunakan kekuasaan mereka untuk membangun perusahaan sesuai dengan citra mereka
sendiri. Mereka sering kali mencampuradukkan batas-batas kepentingan pribadi dengan
kepentingan organisasi. Hal yang paling buruk, karisma yang egois ini membuat si pemimpin
menempatkan kepentingan dan tujuan-tujuan pribadi di atas tujuan organsisai. Mereka tidak suka
dikritik, dikelilingi oleh orang-orang yang senantiasa patuh dan memiliki sifat “asal bapak
senang” dan menciptakan iklim yang membuat orang takut mempertanyakan atau menantang si
“raja” atau “ratu” bila si pemimpin melakukan kesalahan.
Yukl menjelaskan bahwa kharismatik negatif memiliki orientasi kekuasaan secara pribadi.
Pada sisi ini, mereka (pemimpin kharismatik) lebih menekankan pengaruh pada identifikasi diri
ketimbang internaliasi. Dan secara sengaja beusaha untuk lebih menanmkan kesetiaan kepada
diri mereka sendiri daripada idealisme yang harus digapai. Pemimpin kharismatik menggunakan
daya tarik ideologis tapi hanya untuk memperoleh kekuasaan, di mana setelahnya ideologi itu
diubah secara sembarangan sesuai dengan sasaran pribadi sang pemimpin. Sang pemimpin
kharismatik berusah untuk mendominasi dan menaklukan pengikut dengan membuat mereka
tetap lemah dan bergantung pada pemimpin. Selain itu, otoritas pengambilan keputusan berpusat
pada sang pemimpin, minus penghargaan kepada pengikut dan menggunakan hukuman untuk
memanipulasi pengikut. Informasi dibatasi demi memelihara pencitraan diri sekaligus
pembenaran diri dari segala kesalahan dan membesar-besarkan ancaman eksternal kepada
organisasi. Perilaku negatif ini mencerminkan perhatian yang lebih besar pada pemujaan diri dan
memelihara kekuasaan daripada mengusahakan kesejahteraan pengikut.
Berbeda dengan kharismatik yang negatif, kharismatik positif memiliki orientasi kekuasaan
sosial. Pemimpin kharismatik lebih menekankan internalisasi dari nilai-nilai daripada identifikasi
pribadi. Mereka berusaha untuk menanamkan kesetiaan kepada ideologi lebih daripada kesetiaan
kepada diri sendiri. Sedangkan otoritas didelegasikan hingga batas yang cukup besar, informasi
dibagikan secara terbuka, mendorong partisipasi dalam pengambilan keputusan dan penghargaan
digunakan untuk menguatkan perilaku yang konsisten dengan misi dan sasaran dari organisasi.
Hasilnya adalah kepemimpinan mereka akan menguntungkan bagi pengikut walaupun
konsekuensi yang mendukung tidak dapat dihindari jika strategi yang didorong oleh pemimpin
tidak tepat.

Sisi Gelap dari Kharisma


Konsekuensi Negatif dari Pemimpin Kharismatik dapat diringkaskan dalam berikut ini yaitu
sebagai berikut:

a. Kekaguman pada pemimpin mengurangi saran bagus oleh pengikut.


b. Keinginan untuk diterima pemimpin menghambat pengikut memberikan kritik.
c. Pemujaan oleh pengikut menciptkan khayalan akan tidak dapat berbuat kesalahan
d. Keyakinan dan optimisme yang berlebihan membutakan pemimpin dari bahaya nyata
e. Penolakan akan masalah dan kegagalan mengurangi pembelajaran organisasi
f. Proyek risiko yang terlalu besar akan besar kemungkinannya utnuk gagal
g. Mengambil pujian sepenuhnya atas keberhasilan akan menyingkirkan beberapa pengikut
yang penting
h. Perilaku impulsif yang tidak tradisional menciptakan musuh dan juga orang-orang yang
percaya
i. Ketergantungan kepada pemimpin akan menghambat perkembangan penerus yang
kompeten
j. Kegagalan untuk mengembangkan penerus menciptakan krisis kepemimpinan pada
akhirnya

Sisi Terang dari Kharisma


Kharisma juga memiliki sisi yang terang. Yukl sisi terang dari kharisma atau pengaruh dari
kharisma posotif antara lain disebutkan bahwa para pengikut akan jauh lebih baik bila bersama
dengan pemimpin kharismatik yang positif ketimbang pemimpin kharismatik yang negatif.
Bersama pemimpin kharismatik positif, para pengikut memiliki potensi mengalami pertumbuhan
psikologis dan perkembangan kemampuan mereka dan organisasi akan lebih dapat beradaptasi
terhadap sebuah lingkungan yang dinamis, bermusuhan dan kompetitif. Pemimpin yang
kharismatik positif biasanya mampu menciptakan ssebuah budaya yang “berorientasi
keberhasilan” (Harrison, 1987 dalam Yukl, 2010), “sistem kinerja yang tinggi” (Vail, 1978 dalam
Yukl, 2010). Di sini, dapat dikatakan bahwa organisasi telah memahami misi yang mewujudkan
nilai-nilai sosial dan bukan hanya keuntungan atau pertumbuhan, para anggota dari semua
tingkatan juga diberikan kewenangan untuk membuat putusan penting bagaimana menerapkan
strategis dan melakukan pekerjaan mereka, komunikasinya terbuka dan informasi dibagikan, dan
struktur dan sistem organisasi mendukung misinya.