Anda di halaman 1dari 27

Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

LEMBAR PENILAIAN

Judul Percobaan : Metode Thevenin Dan Norton


Kelompok : 1 (Satu)
Tanggal Praktek : 15 Maret 2016

1. Praktikan:
Persetujuan
No Nama NIM
(Tanda Tangan)
1 ACHMAD JAELANI 321 15 027
2 ANDI NURINDAH SARI 321 15 028
3 MUH. HIDAYAT ALWI 321 15 029
4 PARAMITA SARI 321 15 051

2. Catatan:

3. Penilaian:

Skor : Laporan Diperiksa,

( Ashar AR,ST )
Tgl ACC :

ii
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

DAFTAR ISI

Halaman Sampul ................................................................................................... i


Lembar Penilaian .................................................................................................. ii
Daftar Isi................................................................................................................ iii
Daftar Gambar ....................................................................................................... iv
Daftar Tabel .......................................................................................................... v
Daftar Lampiran .................................................................................................... vi
Bab I Pendahuluan ..............................................................................................
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Tujuan................................................................................................. 1
Bab II Teori Dasar ...............................................................................................
A. Metode Thevenin .............................................................................. 2
B. Metode Norton .................................................................................. 4
Bab III Metode Percobaan ...................................................................................
A. Alat dan Bahan................................................................................. 6
B. Gambar Rangkaian Percobaan ......................................................... 6
C. Prosedur Percobaan.......................................................................... 8
D. Analisa Perhitungan ......................................................................... 9
Bab IV Data dan Hasil Percobaan ......................................................................... 10
Bab V Pembahasan ...............................................................................................
A. Perhitungan secara Teori .................................................................... 11
B. Perbandingan Teori dan Praktek ........................................................ 14
C. Analisa Hasil Praktikum..................................................................... 17
Bab VI Jawaban Pertanyaan.................................................................................. 18
Bab VII Kesimpulan ............................................................................................. 19
Daftar Pustaka
Lampiran

iii
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
2.1 Metode Thevenin 2
2.2 Rangkaian listrik 3
2.3 VAB=VT 3
2.4 RAB=RT 3
2.5 Rangkaian Ekivalen Thevenin 4
2.6 Metode Norton 4
3.1 Rangkaian Kompleks Untuk Penyenerdahanaan Thevenin 6
3.2 Rangkaian Ekivalen Thevenin 6
3.4 Rangkaian Ekivalen Norton 7
5.2 Rangkaian mencari Vth 11
5.3 Rangkaian Mencari IN 12

iv
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
3.1 Tabel alat dan Bahan 6
4.1 Hasil Percobaan Metode Thvenin dan Norton 10
4.2 Hasil Percobaan Rangkaian Ekivalen Metode Thevenin 10
4.3 Hasil Percobaan Rangkaian Ekivalen Metode Norton 10
5.1 Hasil Perhitungan Teori Metode Thevenin dan Norton 13
5.2 Perhitungan secara teori Ekivalen Thevenin 13
5.3 Perhitungan secara teori Ekivalen Norton 14
5.4 Perbandingan Teori dan Praktek Metode Thevenin & Norton 15
5.5 Perbandingan Teori dan Praktek Ekivalen Thevenin 15
5.6 Perbandingan Teori dan Praktek Ekivalen Norton 15

v
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar Asistensi


Lampiran 2 Copy Kartu Kontrol
Lampiran 3 Data Sementara

vi
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

vii
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam dunia kelistrikan dikenal sebuah metode yang memudahkan dalam
penghitungan sebuah nilai pada suatu rangkaian. metode tersebut yaknik Metode
Thevenin dan Metode Norton. Dimana kedua metode ini terdapat berbagai prinsip
dasar mengenai nilai yang terkandung dalam anilisis suatu rangkaian.

Kedua Metode ini adalah elemen dasar suatu tahap analisis, karena dalam
metode ini telah di uji dengan cermat oleh parah ahli agar memudahkan dalam
pengambilan keputusan.

Dengan tujuan membuat praktikan dengan mudah menganalisis suatu


rangkaian, maka kedua metode ini sangatlah diperlukan. Dengan mengetahui
kedua metode tersebut diharapkan pratikan mampu mengetahui prinsip dasar
suatu perhitungan.

B. Tujuan
Selesai melaksanakan percobaan, maka diharapkan dapat :
a. Membandingkan hasil perhitungan metode Thevenin dengan pengukuran
langsung
b. Membandingkan hasil perhitungan metode Norton dengan pengukuran
langsung
c. Membandingkan hasil perhitungan antara metode Thevenin dengan metode
Norton

1
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

BAB II
TEORI DASAR

Strategi yang umum digunakan dalam menganalisis rangkaian listrik adalah


melakukan penyederhanaan rangkaian seminimal mungkin. Dalam hal ini,
bagaimana caranya agar mendapatkan sub-rangkaian paling sederhana di mana
paling sedikit elemennya tanpa mengubah besarnya arus dan tegangan di luar
rangkaian.
Rangkaian ekivalen seri dan paralel untuk hambatan, sumber arus, dan
sumber tegangan akan dikombinasikan menjadi suatu rangkaian ekivalen yang
disebut sebagai bentuk Thevenin dan Norton. Metode ini sering digunakan untuk
menyederhanakan rangkaian sehingga mempermudah dalam menganalisis
rangkaian listrik. Secara prinsip metoda ini merupakan kombinasi dari hukum
Ohm (I = V/R) dan hukum Kirchhoff (KVL dan KCL).

A. Metode Thevenin
Suatu rangkaian aktif (menggunakan sumber arus dan/atau sumber tegangan
yang tetap maupun vertikal) yang bersifat linier dengan dua kutub (terminal) A
dan B dapat diganti dengan suatu sumber tegangan VT yang tersusun seri dengan
suatutahanan RT.

Gambar 2.1 Metode Thevenin

VT = Tegangan pada terminal A-B dalam keadaan terbuka (tanpa beban /


V0 )

2
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

RT = Tahanan pada rangkaian dilihat dari terminal A-B dengan semua


sumber tegangan diganti tahanan dalamnya.
Contoh:
suatu rangkaian listrik seperti gambar berikut ini akan dihitung arus yang
mengalir pada tahanan RL (Lihat Gambar 3.2)

Gambar 2.2 Rangkaian listrik

Untuk mencari tegangan Thevenin (VT) bukalah terminal A-B (open circuit)
sehingga rangkaian menjadi seperti berikut :

Gambar 2.3Rangkaian Mencari Tegangan Pengganti


Untuk mencari tahanan Thevenin (RT) sumber tegangan V diganti dengan tahanan
dalamnya (Rd=0)

Gambar 2.4Rangkaian Mencari Tahanan Pengganti

Apabila VT dan RT sudah diperoleh, maka rangkaian pada gambar 2.4


dapat diganti menjadi :

3
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

Gambar 2.5 Rangkaian Ekivalen Thevenin


𝑽𝑻
Maka arus yang melalui RL adalah IRL= 𝑹𝑳+𝑹𝑻

B. Metode Northon

Pada prinsipnya metode Norton sama dengan metode Thevenin, hanya


pada metode Norton rangkaian aktif linier diganti dengan sumber arus IN
yang paralel dengan satu tahanan RN.

Gambar 2.6 Metode Norton

IN : Arus melalui A-B dalam keadaan hubung singkat (Ihs)


RN : Tahanan pada rangkaian dilihat dari terminal A-B dengan semua
sumber arus dihubung singkat
Dimana :
𝑽𝟎 𝑽𝒕
𝑹𝑵 = 𝑹𝑻 = 𝑰𝑵 = 𝑰𝒉𝒔 =
𝑰𝒉𝒔 𝑹𝒕

Pada alat yang digunakan dalam praktikum ini, terdapat potensiometer.


Potensiometer adalah resistor tiga terminal dengan sambungan geser yang
membentuk pembagi tegangan yang dapat disetel. Potensiometer tiga
terminal dapat digunakan sebagai resistor variabel dua terminal dengan
tidak menggunakan terminal ketiga. Jika hanya dua terminal yang
digunakan (salah satu terminal tetap dan terminal geser), potensiometer

4
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

berperan sebagai resistor variabel atau Rheostat, dan menjadi cara paling
umum untuk mengubah-ubah resistansi dalam sebuah sirkuit.

5
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

BAB III
METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan

Dalam percobaan ini praktikan menggunakan beberapa alat dan bahan yang
dapat dilihat pada tabel 3.1
Tabel 3.1 Tabel alat dan Bahan
No Nama Alat Jumlah Satuan
1 Sumber Tegangan DC 2 Buah
2 Saklar Tunggal 1 Buah
3 Papan Percobaan 1 Buah
4 Multimeter Digital 3 Buah
5 Multimeter Analog 1 Buah
6 Potensiometer 1 kΩ 1 Buah
7 Resistor
 2K2 Ω 1 Buah
 4K7 Ω 1 Buah
 1K Ω 1 Buah
 10K Ω 1 Buah
8 Kabel Penghubung 16 Buah

B. Gambar Rangkaian Percobaan

1. Rangkaian Kompleks Thevenin dan Norton


R1 R2
2k2 1k
V1 V2
S
12 V 6V

R3
4k7 V

Gambar 3.1 Rangkaian Kompleks Untuk Penyedahanaan Thevenin dan


Norton

2. Rangkaian Ekivalen Thevenin


A
A
Rth

RL
VT h
4k7 V

Gambar 3.2 Rangkaian Ekivalen Thevenin

6
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

3. Rangkaian Ekivalen Norton


A
Rx

A
1k A

RL
VN RN
4k7 V

Gambar 3.3 Rangkaian Kompleks Ekivalen Norton

7
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

C. Prosedur Percobaan

Meneliti semua alat/komponen


sebelum praktek dimulai

Membuat rangkaian seperti


rangkaian pada gambar

Menutup saklar S, mencatat arus Menutup saklar S, mencatat arus


dan tegangan beban RL pada tabel dan tegangan beban RL pada tabel

Membuka saklar S sehingga A-B Menyambung titik A-B sehingga A-


terbuka, mengukur tegangan VT B Terhubung, mengukur tegangan
pada terminal A-B IN pada terminal A-B

Mengganti kedua sumber tegangan Mengganti kedua sumber tegangan


dengan rangkaian hubung singkat dengan rangkaian hubung singkat

Mengukur harga tahanan antara Mengukur harga tahanan antara


terminal A-B terminal A-B

Mengganti rangkaian menjadi Mengganti rangkaian menjadi


rangkaian ekivalen rangkaian ekivalen

Mencatat arus dan tegangan pada Mencatat arus dan tegangan pada
tahanan RL tahanan RL

8
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

D. Analisa Perhitungan

1. Menghitung Arus (I), menggunakan hukum Ohm

V
I= (1)
R

2. Menghitung Persen Error menggunakan rumus

Perhitungan−Pengukuran
Error(%) = 𝑥 100% (2)
Perhitungan

3. Menghitung Tegangan Thevenin dengan Rumus

𝑅𝐿
𝑉𝑅𝑙 = 𝑅 𝑥 𝑉𝑇𝐻 (3)
𝐿 +𝑅𝑇𝐻

4. Menghitung Arus Norton pada tiap resistor dengan Rumus

𝑅𝑛
𝐼𝑅𝑙 = 𝑅 𝑥 𝐼𝑛 (4)
𝐿 +𝑅𝑛

5. Hukum KVL (Kirchhoff Voltage Low)

∑𝑉 = 0 (5)

6. Hambatan Seri

𝑅𝑠 = 𝑅1 + 𝑅2 + ⋯ + 𝑅𝑁 (6)

7. Hambatan Paralel

𝑅 ×𝑅
𝑅𝑝 = 𝑅1 +𝑅2 (7)
1 2

9
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

BAB IV
DATA DAN HASIL PERCOBAAN
Data Hasil percobaan dapat dilihat pada beberapa tabel di bawah ini:

1. Hasil percobaan Thevenin dan Norton


Tabel 4.1 Hasil Percobaan Metode Thvenin dan Norton
Tahanan Saklar ON Saklar OFF
RAB=RTH=RN
No Beban IRL IAB VAB
VRL (V) (Ω)
(Ω) (mA) (mA) (V)
1 RL1 = 1K 4,74 4,71
RL3 =
2 1,5 7,06
4K7 11,37 8,2 678
RL2 =
3 0,76 7,63
10K

2. Hasil percobaan ekivalen Thevenin


Tabel 4.2 Hasil Percobaan Rangkaian Ekivalen Metode Thevenin
No VTH (V) RTH (Ω) RLX (Ω) VRL (V) IRL (mA)

1 R = 1K 4,84 4,89

2 8,2 678 R = 4K7 7,16 1,52

3 R = 10K 7,68 0,76

3. Hasil percobaan ekivalen Norton


Tabel 4.3 Hasil Percobaan Rangkaian Ekivalen Metode Norton
No IN (mA) RN (Ω) RLX (Ω) VRL (V) IRL (mA)

1 R = 1K 4,84 4,6

2 11,37 678 R = 4K7 6,72 1,43

3 R = 10K 7,2 0,72

10
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

BAB V
PEMBAHASAN

A. Perhitungan secara Teori


Pada perhitungan menggunakan metode Thevenin kita akan mengambil
satu contoh, yaitu mencari arus yang mengalir di tahanan beban dengan resistansi
1 kΩ yang tersambung pada tegangan 12 V dan 6 V.
Langkah awal yakni Mencari RTH dengan cara menghubungsingkatkan
sumber tegangan.
Dengan Menggunakan Rumus dapat di tulis sebagai berikut :

R1 = 2K2 R2 = 1 K

E1 E2

Gambar 5.1 Hubung singkat Sumber Tegangan untuk cari RTH


2,2 . 1
𝑅𝑇𝐻 =
2,2 + 1
= 0,678 kΩ
= 678 Ω
Sehingga dapat di proleh 𝑅𝑇𝐻 678 Ω. Dan selanjutnya Bisa mencari VTH.
Dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

R1 = 2K2 R2 = 1 K

12V E2

R1 = 2K2 R2 = 1 K

E1 E2 = 6 V

Gambar 5.2 Rangkaian mencari Vth

11
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

12 𝑥 1 6 𝑥 2,2
𝑉𝑇ℎ = +
2,2 + 1 2,2 + 1
12 13,2
= +
3,2 3,2
25,2
=
3,2
= 7,87 𝑉
Sehingga dapat di proleh 𝑉𝑇𝐻 7,87 V. Dan selanjutnya Bisa mencari IN.
Dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

R1 = 2K2 R2 = 1 K

12V E2

R1 = 2K2 R2 = 1 K

E1 E2 = 6 V

Gambar 5.3 Rangkaian Mencari IN

12 6
𝐼𝑁 = +
2,2 1
= 5,45 + 6
= 11,45 𝑚𝐴
Sehingga diproleh Nilai RTh, VTh , dan IN. Selanjutnya mencari arus yang
mengalir pada resistor dengan mengambil contoh resistor 4K7 Ω . Dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
7,88
𝐼𝐿 = 1000 .687,5
1000+687,5

= 4,67 𝑚𝐴
Dan terakhir mencari tegangan yang terdapat pada tahanan dan sebagai
contoh mengambil resistor 4K7 Ω dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

12
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

1000 . 7,88
𝑉𝑙 =
1000 + 687,5
= 4,67 𝑉
Tabel 5.1 Hasil Perhitungan Teori Metode Thevenin dan Norton
Tahanan Saklar ON Saklar OFF
RAB=RTH=RN
No Beban IRL IAB VAB
VRL (V) (Ω)
(Ω) (mA) (mA) (V)
1 RL1 = 1K 4,67 4,67
RL3 =
2 1,46 0,87
4K7 11,45 7,88 687,5
RL2 =
3 0,74 7,37
10K

Pada perhitungan rangkaian ekivalen menggunakan metode Thevenin kita


akan mengambil satu contoh, yaitu mencari tegangan yang mengalir di tahanan
beban dengan resistansi 1 KiloOhm yang tersambung pada tegangan yang nilainya
sama dengan VTH ( 7,88V).
Dengan Menggunakan Rumus dapat di tulis sebagai berikut :
1000 . 7,88
𝑉𝐿 =
1000 + 687,5
= 4,67 𝑉
Sehingga dapat di proleh 𝑉𝐿 4,67 𝑉.Setelah mencari VL dilanjutkan
mencari IL.
Dengan Menggunakan Rumus dapat di tulis sebagai berikut :
7,88
𝐼𝐿 = 1000 .687,5
1000+687,5

= 4,67 𝑚𝐴
Sehingga dapat di proleh 𝐼𝐿 4,67 𝑚𝐴.Dan untuk RLX yang lainya , juga
menggunakan rumus yang sama. Dan hasilnya bisa dilihat pada tabel 5.2
Tabel 5.2 Perhitungan secara teori Ekivalen Thevenin
No VTH (V) RTH (Ω) RLX (Ω) VRL (V) IRL (mA)

1 R = 1K 4,67 4,67

2 7,88 687,5 R = 4K7 6,87 1,46

3 R = 10K 7,37 0,74

13
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

Pada perhitungan rangkaian ekivalen menggunakan metode Norton kita


akan mengambil satu contoh, yaitu mencari arus yang mengalir di tahanan beban
dengan resistansi 1 Kilo Ohm yang tersambung pada sumber arus yang nilainya
sama dengan IN (11,45 mA).
Dengan Menggunakan Rumus dapat di tulis sebagai berikut :
687,5 . 11,45
𝐼𝐿 =
1000 + 687,5
= 4,67 𝑚𝐴
Sehingga dapat di proleh 𝐼𝐿 4,67 𝑚𝐴.Setelah mencari IL dilanjutkan
mencari VL.
Dengan Menggunakan Rumus dapat di tulis sebagai berikut :
𝑉𝐿 = 0,00467 𝑥 1000
= 4,67 𝑉
Sehingga dapat di proleh 𝑉𝐿 4,67 𝑉 𝑑an untuk RLX yang lainya , juga
menggunakan rumus yang sama. Dan hasilnya bisa dilihat pada tabel 5.3
Tabel 5.3 Perhitungan secara teori Ekivalen Norton
No IN (mA) RN (Ω) RLX (Ω) VRL (V) IRL (mA)

1 R = 1K 4,67 4,67

2 11,45 687,5 R = 4K7 5,34 1,13

3 R = 10K 7,37 0,74

B. Perbandingan Teori dan Praktek


Untuk Melihat seberapa besar perbedaan nilai yang di dapat dari pengukuran
dengan teori, maka diperlukan perhitungan presentase kesalahan. Dan sebagai
contoh kami mengambil presentase error antar pengukuran INdengan teori IN.
Dimana secara Teori menunjukan nilai sebesar 11,45 mA yang di dapat dari hasil
pengukuran sebesar 11,37 mA. Dari nilai tersebut dapat di tuliskan rumus sebagai
berikut :
𝑇𝑒𝑜𝑟𝑖 − 𝑃𝑟𝑎𝑘𝑡𝑒𝑘
𝐸𝑟𝑟𝑜𝑟 (%) = 𝑥 100%
𝑇𝑒𝑜𝑟𝑖

14
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

11,45 − 11,37
= 𝑥 100%
11,45
0,8
= 𝑥 100%
11,45
= 0,7 %
Dari rumus di atas didapatkan presentase kesalahan untuk INsebesar 0,7 %.
Kemudian untuk presentase kesahalan pada setiap praktek lainya dapat dilihat
pada tabel-tabel di bawah ini.
Tabel 5.4 Perbandingan Teori dan Praktek Metode Thevenin dan Norton
Saklar ON Saklar OFF
RAB=RTH=RN (Ω)
No IRL (mA) VRL (V) IAB (mA) VAB (V)
P T % P T % P T % P T % P T %
1 4,74 4,67 -1,50 4,71 4,67 -0,86
2 1,5 1,46 -2,74 7,06 6,87 -2,77 11,37 11,45 0,70 8,2 7,88 -4,06 678 688 1,38
3 0,76 0,74 -2,70 7,63 7,37 -3,53

Tabel 5.5 Perbandingan Teori dan Praktek Ekivalen Thevenin


VTH (V) RTH (Ω) RLX (Ω) VRL (V) IRL (mA)
No
P T % P T % P T % P T % P T %
1 R = 1K R = 1K 0 4,84 4,67 -3,64 4,89 4,67 -4,71
2 8,2 7,88 -4,06 678 688 1,38 R = 4K7 R = 4K7 0 7,16 6,87 -4,22 1,52 1,46 -4,11
3 R = 10K R = 10K 0 7,68 7,37 -4,21 0,76 0,74 -2,70

Tabel 5.6 Perbandingan Teori dan Praktek Ekivalen Norton


IN (mA) RN (Ω) RLX (Ω) VRL (V) IRL (mA)
No
P T % P T % P T % P T % P T %

1 R = 1K R = 1K 0 4,84 4,67 -3,64 4,6 4,67 1,50

2 11,4 11,5 0,70 678 688 1,38 R = 4K7 R = 4K7 0 6,72 5,34 -25,8 1,43 1,13 -26,5

3 R = 10K R = 10K 0 7,2 7,37 2,31 0,72 0,74 2,70

15
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

C. Analisa Hasil Praktikum

1. Pada percobaan pertama kami merangkai yang bertujuan untuk mencari


VTh , IN , dan RTh yang nantinya akan digunakan untuk membuat
rangkaian ekivalen Thevenin dan Norton. Untuk Rth kami mendapatkan
RTh 678 Ω , VTh 8,2 V , dan IN 11,4 mA. Dan dari hasil ketiga tersebut
ditemui perbedaan antar teori yang cukup kecil yakni berkisar 1 – 5 %.
Perbedaan ini mungkin disebabkan dari ketidak akuratan dalam penentuan
nilai dari sumber tegangan.
2. Pada percobaan kedua ini, kami melakukan mencari nilai ILX dan VLX
dengan menggunakan rangkaian ekivalen thevenin yang nilai Vth dan Rth
diambil dari nilai dari pada percobaan pertama yaitu Vth= 8,2 V dan RN =
678 Ω. Dan di dapatkan untuk RLX= 1 K ,IL= 4,84 mA dan VL= 4,84 V.
Dilihat dari hasil tersebut dapat dibandingkan dengan hasil teori, dan
dijumpai perbedaan yg cukup kecil yaitu sebesar 4-5 % , ini juga berlaku
untuk RLX= 4K7 . Namun untuk RLX= 10K ada perbedaan yang sangat
rendah yaitu 1- 2 %, hal ini mungkin disebabkan dari ketidak ketelitian
dalam mengatur potensio meter dan sumber tegangan yang dinilai cukup
sulit untuk menggunakan metode superposisi .
3. Pada percobaan ini, kami melakukan mencari nilai ILX dan VLX dengan
menggunakan rangkaian ekivalen norton yang nilai IN dan RN diambil dari
nilai dari pada percobaan pertama yaitu IN= 11,37 mA dan RN = 678 Ω.
Dan di dapatkan untuk RLX= 1 K ,IL= 4,6 mA dan VL= 4,84 V. Dilihat
dari hasil tersebut dapat dibandingkan dengan hasil teori, dan dijumpai
perbedaan yg cukup kecil yaitu sebesar 3-4 % , ini juga berlaku untuk
RLX= 10 K . Namun untuk RLX= 4K7 ada perbedaan yang cukup tinggi
yaitu 24-25 %, hal ini mungkin disebabkan dari perbedaan penggunaan
sumber arus yang di ganti dengan sumber tegangan yang prinsip kerjanya
di samakan dengan sumber arus.

16
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

BAB VI
JAWABAN PERTANYAAN

Soal 1
Berikan penjelasan singkat, perbandingan hasil pengukuran secara langsung dari
metode Thevenin dan Metode Norton
Jawaban
Dari data perbandingan pada tabel, dapat dilihat bahwa metode Thevenin dan
Norton memiliki hasil yang tidak jauh beda. Adapun dari keduanya juga terdapat
percobaan yang memiliki kesamaan pengukuran pada resistansi yang sama.
Soal 2
Apa fungsi R1 pada gambar 4.3 ?
Jawaban
sebagai Rn , dan akan menimbulkan arus yang akan menentukan besar IN yang
akan digunakan pada rangkaian ekivalen Norton.

Soal 3
Apa yang terjadi jika besar R1 diganti dengan, R1 = 1KΩ, R1 = 10 KΩ, dan R1 = 0
Ω. Pada gambar 4.3 ?
Jawaban
Jika R1 = 2K2 Ω, diganti dengan 1KΩ
Maka, RN = 1KΩ || 1KΩ
= 500 Ω
Jika R1 = 2K2 Ω, diganti dengan 10KΩ
Maka, RN = 1KΩ || 10KΩ
= 909, 10 Ω
Jika R1 = 2K2 Ω, diganti dengan 1KΩ
Maka, RN = 1KΩ || 0Ω
=0Ω

17
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

Soal 4
Jelaskan perbedaan antara metode Thevenin dan metode Norton !
Jawaban
Perbedaan antara metode Thevenin dan metode Norton, pada saat mencari VTH RL
pada rangkaian tersebut dilepas, sedangkan pada metode Norton RL dihubung
singkat untuk mendapatkan IN. Pada saat menggunakan rangkaian ekivalen,
metode Thevenin tidak menggunakan Rx sedangkan pada rangkaian Norton
menggunakan Rx sebagai pemicu arus untuk menciptakan IN.

18
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan thevenin dan norton dan melakukan analisis
terhadap hasil percobaan dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Setelah melakukan perhitungan dengan metode thevenin melalui teori dan
praktek, kami memperoleh hasil yang tidak jauh berbeda, adapun
perbedaan tersebut dikarenakan adanya faktor dalam menentukan nilai
sumber tegangan.
2. Setelah melakukan perhitungan dengan metode norton melalui teori dan
praktek, kami memperoleh hasil yang tingkat errornya sangat kecil,
adapun perbedaan tersebut dikarenakan adanya faktor dalam menentukan
potensiometer.
3. Setelah melakukan perhitungan dengan metode thevenin dan norton
melalui teori dan praktek, kami memperoleh hasil yang cukup berbeda,
adapun perbedaan tersebut dikarenakan sumber arus yang di ganti dengan
sumber tegangan yang prinsip kerjanya di samakan dengan sumber arus
B. Saran
Setelah melakukan praktek laboratorium pengukuran listrik dasar, maka
praktikan ingin menyampaikan beberapa hal yang kiranya dapat menjadi perhatian
oleh praktikan dan dosen pembimbing :
1. Dosen pembimbing di harapkan lebih memperhatikan praktikannya agar
tidak terjadi kesalahan yang dapat membahayakan praktikan dan juga
dapat membantu menghindari kerusakan pada alat ukur.
2. Kami mengharapkan agar dosen pembimbing didalam laboratorium di
perbanyak, karena kadang kami harus menunggu untuk bertanya karena
banyaknya praktikan yang bertanya dan sedikitnya pembimbing
3. Kami harapkan didalam laboratoium kipas / AC ditambah, karena kami
kadang kepanasan karena minimnya pendingin ruangan.

19
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

DAFTAR PUSTAKA
1. Jobsheet Laboratorium.Pengukuran Dasar Teknik Listrik Semester II
Politeknik Negeri Ujung Pandang
2. Boylestad, Robert L, 2003 Introductory Circuit Analysis, Tenth edition, USA:
Prentice Hall
3. Andika, Riki (2015) LAPORAN PRAKTIKUM TEOREMA
THEVENIN[Online]. Tersedia:http://documents.tips/documents/laporan-
praktikum-teorema-Thevenin.html[17Maret 2016].
4. Maulana, Andi Ikhsan (2015) Laporan Elektronika "Rangkaian Setara
Thevenin - Norton"[Online]. Tersedia:
http://www.ilmusemesta.com/2014/05/laporan-elektronika-rangkaian-
Thevenin.html [17Maret 2016].
5. Kusuma, Anton Dwi (2012) Metoda Thevenin dan Norton[Online]. Tersedia:
http://tutorialteknik.blogspot.co.id/2012/01/metoda-Thevenin-dan-
Norton.html [18 aret 2016].

20
Laboratorium Pengukuran Dasar Listrik 2016

LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar Asistensi


Lampiran 2 Copy Kartu Kontrol
Lampiran 3 Data Sementara

21