Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM

EVALUASI GIZI DALAM PENGOLAHAN PANGAN

Disusun oleh:
Kelompok : 10
Anis Khairunnnisa H1912002
Devi Rizky Yuniani H1912006
Dina Indi Anggita H1912036
Fauziah Itsnaini H1912011
Karina Ramadhan H1912012
Oki Dwi L. H1912017
Rifka Nur Prasetya N. H1912021
Valen Andriasty H1912034
Wanda Kania H1912031
Widiana K. H1912031

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013
ACARA IV

EVALUASI KADAR PROTEIN TERLARUT

A. Tujuan Pratikum
Tujuan dilakukannya pratikum spektrofotometri adalah untuk :
1. Mengetahui kadar protein terlarut dalam bahan pangan
2. Menentukan kadar protein terlarut dengan metode Lowry (Spektrofotometer)
B. Tinjauan Pustaka
Protein adalah suatu polipeptida yang mempunyai bobot molekul bervariasi.
Disamping berat molekul yang berbeda, protein juga memiliki sifat yang berbeda-
beda. Ada protein yang mudah larut air tetapi ada juga yang sukar larut air. Salah
satu sumber protein adalah dari kacang-kacangan (Poedjiadi, A., dkk., 2006).
Kacang-kacangan merupakan sumber protein yang baik, dengan kandungan
protein berkisar antara 20–35%. Kacang-kacangan selain sumber protein, juga
mengandung senyawa lainnya seperti mineral, vitamin B1, B2, B3, karbohidrat
dan serat. Protein merupakan salah satu unsur gizi penting dalam bahan pangan
(Triyono, A., 2010).
Biji kedelai mempunyai ukuran yang bervariasi (kecil, sedang, dan besar)
dan bentuk bervariasi pula terganting jenis dan varitas tanaman yaitu bulat, agak
gepeng dan bulat telur. Biji kedelai mempunyai dua bagian utama yaitu kulit biji
dan embrio. Kedelai mengandung protein dan lemak yang berkualitas tinggi.
Selain itu, juga mengandung vitamin dan mineral dalam jumlah yang cukup tinggi
(Muhari, 2008).
Kedelai (Glycine max Merr) merupakan salah satu hasil pertanian yang
sangat penting artinya sebagai bahan makanan, karena jumlah dan mutu protein
yang dikandungnya sangat tinggi yaitu sekitar 40 % dan susunan asam amino
essensialnya lengkap serta sesuai sehingga protein kedelai mempunyai mutu yang
mendekati mutu protein hewani ( Hardjo, 1964). Sebagai bahan baku makanan,
kedelai termasuk bahan makanan yang mempunyai susunan zat yang lengkap dan
mengandung hampir semua zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah
yang cukup (Winarno dan Rahman, 1974).
Protein kedelai yang sebagian besar adalah globulin, mempunyai titik
isoelektris 4,1 - 4,6. Globulin akan mengendap pada pH 4,1 sedangkan protein
lainnya seperti proteosa, prolamin dan albumin bersifat larut dalam air sehingga
diperkirakan penurunan kadar protein dalam perebusan disebabkan terlepasnya
ikatan struktur protein karena panas yang menyebabkan terlarutnya komponen
protein dalam air ( Anglemier and Montgomery, 1976). Kacang hijau termasuk
dalam golongan polong-polongan, berbeda dengan jenis kacang-kacangan.
Berbagai makanan seperti onde-onde, kolak, bubur dapat terbuat dari kacang hijau.
Yang lebih istimewa kacang hijau dapat dijadikan tepung biji kacang hijau atau
yang biasa disebut tepung hunkwe. Tepung hunkwe digunakan dalam pembuatan
berbagai jenis kue, es krim tradisional, dan mie soun (Diah, 2010). Kacang hijau
merupakan sumber protein nabati, vitamin (A, B1, C, dan E), serta beberapa zat
lain yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia, seperti amilum, besi, belerang,
kalsium, minyak lemak, mangan, magnesium, dan niasin. Dilihat dari kandungan
proteinnya, kacang hijau termasuk bahan makanan sumber protein kedua setelah
susu skim kering. Kandungan protein kacang hijau sekitar 22 % (22 gram).
Namun, bila dibandingkan dengan kacang-kacangan lainnya, kandungan protein
kacaang hijau menempati peringkat ketiga stelah kedelai dan kacang tanah
(Purwono dan Hartono, 2005).
Kecambah merupakan tanaman yang berasal dari kacang hijau atau kacang
kedelai. Kecambah kacang hijau (taoge) mengandung Vitamin E yang tidak
ditemukan pada kacang tanah dan kedelai. Bahkan, nilai gizi kecambah kacang
hijau lebih baik dari pada nilai gizi biji kacang hijau. Hal ini disebabkan kecambah
telah mengalami proses perombakan makromolekul menjadi mikromolekul
sehingga meningkatkan daya cerna (Purwono dan Hartono, 2005).
Tempe kedelai adalah bahan makanan hasil fermentasi biji kedelai oleh
kapang yang berupa padatan dan berbau khas serta berwarna putih keabu-abuan.
Tempe merupakan makanan asli Indonesia yang kandungan gizinya patut
diperhitungkan. Kadar protein dalam tempe 18,3 gram per 100 gram, tempe
merupakan pakan alternatif sumber protein nabati yang kini semakin populer
dalam gaya hidup modern. Tempe mengandung beberapa asam amino yang
dibutuhkan tubuh manusia (Santoso 1993).
Tahu merupakan salah satu jenis makanan yang dibuat dari kedelai dengan
jalan memekatkan protein kedelai dan mencetaknya melalui proses pengendapan
protein pada titik isoelektrisnya, dengan atau tanpa penambahan unsur-unsur lain
yang diizinkan. Tahu merupakan pekatan protein kedelai dalam keadaan basah.
Komponen terbesarnya terdiri atas air dan protein. Kandungan gizi dan kalori
dalam tahu per 100 gram bahan yaitu, energi 79 kal, protein 7.8 gram, air 84.8
gram, lemak 4.6 gram, karbohidrat 1.6 gram, mineral 1.2 gram, dan kalsiu 124 mg
(Suprapti, 2005).
Tahu merupakan makanan yang popular di masyarakat Indonesia walapun
asalnya dari Cina. Kepopuleran tahu tidak hanya terbatas karena rasanya enak,
tetapi juga mudah membuatnya dan dapat diolah menjadi berbagai bentuk
masakan serta harganya yang murah. Selain itu tahu memiliki kandungan gizi
terutama protein tinggi, yaitu 10.9 gram per 100 gram tahu (Mahmud, 1990). Tahu
juga mengandung zat gizi yang penting lainnya, seperti lemak, vitamin, dan
mineral dalam jumlah yang cukup tinggi (Mahmudah, 2007).
Tahu sebagai salah satu produk olahan dari kedelai merupakan sumber
protein yang sangat baik sebagai bahan substitusi bagi protein susu, daging dan
telur karena jumlah protein yang dikandungnya serta daya cernanya yang tinggi.
Tahu pertama sekali dibuat oleh seorang raja bangsa Cina kira-kira 200 tahun yang
lalu. Sejak saat itu maka tahu sebagai produk olahan kedelai diterima sebagai
suatu sumber kesehatan bagi orang Asia (Ismed, S., 2003).
Pengukuran kadar protein yang paling banyak dilakukan adalah penetapan
protein kasar. Penetapan protein kasar bertujuan untuk menera jumlah protein total
di dalam bahan pangan. Metode pengukuran jumlah protein tersebut ada beberapa
cara, antara lain : metode Kjeldhal, metode Biuret, metode Lowry, dan metode
pengikatan zat warna. Prinsip metode Lowry adalah protein dengan asam
posfotungstat dan posfomolibdat pada suasana alkalis dapat membentuk warna
biru yang intensitasnya tergantung pada konsentrasi protein. Asam amino yang
bereaksi dengan reagen Lowry adalah tirosin dan triptofan. Prosedur analisis
dengan metode Lowry hampir sama dengan prosedur dari metode Biuret.
Perbedaannya adalah pada reagen yang digunakan. Larutan protein BSA perlu
disiapkan untuk pembuatan kurva standar.
Alat dan bahan merupakan dua komponen penting yang harus terpenuhi
dalam melakukan suatu penelitian. Alat instrumen biasanya dipergunakan untuk
menentukan suatu zat berkadar rendah, biasanya dalam satuan ppm (part per
million) atau ppb (part per billion). Salah satu metode sederhana untuk
menentukan zat organik dan anorganik secara kualitatif dan kuantitatif dalam suatu
senyawa, yaitu dengan metode Spektrofotometri. Metode Spektrofotometri
diterapkan untuk penetapan senyawa-senyawa organik yang umumnya
dipergunakan untuk penentuan senyawa dalam jumlah yang sangat kecil. Dalam
suatu larutan gugus molekul yang dapat mengabsorpsi cahaya dinamakan gugus
kromofor, contohnya antara lain: C = C, C = O, N = N, N = O, dan sebagainya.
Molekul-molekul yang hanya mengandung satu gugus kromofor dapat mengalami
perubahan pada panjang gelombang (Etty, 1985).
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur jumlah relatif cahaya dari
panjang gelombang berbeda yang diserap dan diteruskan oleh larutan pigmen. Di
dalam spektrofotometer cahaya putih dipisahkan menjadi sejumlah warna panjang
gelombang oleh prisma. Kemudian, satu demi satu cahaya ini dilewatkan melalui
sampel. Cahaya yang diteruskan menabrak tabung fotolistrik sehingga mengubah
cahaya menjadi energi cahaya menjadi listrik dan arus listriknya diukur dengan
suatu alat ukur. Setiap kali panjang gelombang berubah alat ukur akan mendeteksi
fraksi cahaya yang diteruskan oleh sampel (Champbel et al., 2000).
Metode pengukuran menggunakan prinsip spektrofotometer adalah
berdasarkan absorpsi cahaya pada panjang gelombang tertentu melalui suatu
larutan yang mengandung kontaminan yang akan ditentukan konsentrasinya.
Proses ini disebut absorpsi spektrofotometri dan jika panjang gelombang yang
digunakan adalah gelombang cahaya tampak, maka disebut sebagai kolorimetri
karena memberikan warna. Selain gelombang cahaya tampak, spektrofotometri
juga menggunakan panjang gelombang pada gelombang ultraviolet dan
inframerah. Prinsip kerja dari metode ini adalah jumlah cahaya yang diabsorpsi
oleh larutan sebanding dengan konsentrasi kontaminan dalam larutan. Prinsip ini
dijabarkan dalam hukum Beer_lamberty, yang menghubungkan antara absorpsi
cahaya dengan konsentrasi pada suatu bahan yang mengabsorbsi . Jika absorpsi
diplotkan terhadap konsentrasi, maka diperoleh garis lurus. Perubahan intensitas
warna sebanding dengan konsentrasi (Lestari, 2010).
Susunan peralatan Spektrofotometer diperlihatkan pada Gambar 1 yang
meliputi bagian-bagian sebagai berikut: sumber radiasi/cahaya (A), monokromator
(B), sel absorpsi (C), detektor (D) dan pencatat (E). Sumber cahaya dipergunakan
untuk pengukuran absorpsi. Sumber cahaya ini harus memancarkan sinar dengan
kekuatan yang cukup untuk penentuan dan pengukuran, juga harus memancarkan
cahaya berkesinambungan yang berarti harus mengandung semua panjang
gelombang dari daerah yang dipakai. Kekuatan sinar radiasi harus konstan selama
waktu yang diperlukan. Sumber Cahaya Tampak yang paling umum dipakai
adalah lampu Wolfram. Sedangkan sumber radiasi Ultra violet biasa dipergunakan
lampu Hidrogen atau Deuterium yang terdiri dari tabung kaca dengan jendela dari
kwartz yang mengandung Hidrogen dengan tekanan tinggi. Oleh karena kaca
menyerap radiasi Ultra-violet, maka sistim optik Spektrofotometer Ultra-Violet
dan sel harus dibuat dari bahan kwartz. Monokromator dipergunakan untuk
memisahkan radiasi ke dalam komponen komponen panjang gelombang dan dapat
memisahkan bagian spektrum yang diinginkan dari lainnya. Sel absorpsi dipakai
dari bahan silika, kuvet dan plastik banyak dipakai untuk daerah Sinar Tampak.
Kualitas data absorbans sangat tergantung pada cara pemakaian dan pemeliharaan
sel. Sidik jari, lemak atau pengendapan zat pengotor pada dinding sel akan
mengurangi transmisi. Jadi sel-sel itu harus bersih sekali sebelum dipakai.
Detektor dipergunakan untuk menghasil-kan signal elektrik. Dimana signal
elektrik ini sebanding dengan cahaya yang diserap. Signal elektrik ini kemudian
dialirkan ke alat pengukur. Rekorder dipergunakan untuk mencatat data hasil
pengukuran dari detektor, yang dinyatakan dengan angka. Seperti terlihat pada
bagan alat susunan Spektrofometer Ultra-violet dan Sinar Tam-pak, suatu sumber
cahaya dipancarkan melalui monokromator (B) (Etty, 1985).

Gambar 5.1. Bagan susunan alat Spektrofotometer (Etty, 1985).

Keterangan : sumber radiasi/cahaya (A), monokromator (B), sel absorpsi


(C), detektor (D) dan pencatat (E).
Monokromator menguraikan sinar yang masuk dari sumber cahaya tersebut
menjadi pita-pita panjang gelombang yang diinginkan untuk pengukuran suatu zat
tertentu yang menunjukkan bahwa setiap gugus kromofor mempunyai panjang
gelombang maksimum yang berbeda. Dari monokromator tadi cahaya/energi
radiasi diteruskan dan diserap oleh suatu larutan yang akan diperiksa di dalam
kuvet. Kemudian jumlah cahaya yang diserap oleh larutan akan meng-hasilkan
signal elektrik pada detektor, yang mana signal elektrik ini sebanding dengan
cahaya yang diserap oleh larutan tersebut. Besarnya signal elektrik yang dialirkan
ke pencatat dapat dilihat sebagai angka (Etty, 1985).
Analisa spektrofotometer disebut spektrofotometri. Sesuai dengan namanya,
spektrofotometri terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer
menghasilkan sinar panjang gelombang tertentu dan fotometer mengukur intesitas
sinar (Huda, 2001). Menurut Baravkar dan Kale (2011), spektroskopi
konvensional adalah frekuensi domain spektroskopi data radiant daya yang tercatat
sebagai fungsi frekuensi. Di waktu domain spektroskopi, yang dicapai oleh
Fourier Transform (FT), kekuatan data dicatat sebagai fungsi waktu.
Spektrum absorban selain bergantung pada sifat dasar kimia, juga
bergantung pada faktor-faktor lain. Perubahan pelarut sering menghasilkan
pergesaran dari pita absorbansi. Larutan pembanding dalam spektrofotometri pada
umumnya adalah pelarut murni atau suatu larutan blanko yang mengandung
sedikit zat yang akan ditetapkan atau tidak sama sekali (Day dan Underwood,
2002).
Dalam analisa spektrofotometri digunakan suatu sumber radiasi yang
menjorok ke dalam daerah ultraviolet spektrum itu. Dari spektrum ini, dipilih
panjang-panjang gelombanh tertentu dengan lebar pita kurang 1 nm. Proses ini
memerlukan penggunaan instrumen yang lebih rumit dan karenanya lebih mahal.
Instrumen tersebut adalah spektrofotometer. Instrumen tersebut terdiri dari dua
instrumen dalam satu kotak yaitu, spektrometer dan fotometer
(Basset, et al., 1991).
Spektrofotometer berkas tunggal maupun berkas-rangkap, dan instrumen
yang beroperasi dalam berbagai daerah spektrum, semuanya mempunyai
komponen-komponen penting. Sumber energi radiasi biasa untuk daerah tampak
spektrum, itu maupun ultraviolet dekat dan inframerah dekat adalah lampu pijar
dengan kawat terbuat dari lampu wolfram. Lampu wolfarm ini mamadai dari
sekitar 325 atau 350 nm hingga 3 𝜇m. Di bawah sekitar 350 nm lampu wolfarm
sudah tidak memadai untuk spektrofotometer sehingga digunakan sumber yang
berbeda. Paling lazim digunakan adalah lampu tabung discas hidrogen yang
digunakan sekitar 175 ke 375 atau 400 nm. Sedangkan sumber cahaya untuk
spektrofotometer inframerah, yang lazimnya beroperasi dari sekitar 2 hingga 15
𝜇m biasanya adalah Pemijar Nernst. Di dalam analisa menggunakan
spektrofometer biasanya menggunakan larutan pembanding yaitu pelarut murni
atau larutan blanko yang mengandung sedikit zat yang akan ditetapkan atau tidak
mengandung sama sekali (Day dan Underwood, 2002).
Menurut Huda (2001) menyebutkan bahwa spektrofotmeter tersusun atas
dari sumber spektrum, yang continue, monokramator, sel pengabsorbsi untuk
sampel dan blanko. Fungsi dari komponen-komponen spektrofotometri tersebut
menurut Saptoraharjo (2008) adalah yang pertama yaitu sumber. Sumber yang
biasa digunakan adalah lampu wolfram. Arus cahaya tergantung dari tegangan
lampu. Keunggulan lampu wolfram adalah energi radiasi yang dibebaskan tidak
bervariasi pada berbagai panjang gelombang. Monokromator digunakan untuk
memperoleh sumber sinar yang monokromatis. Alatnya dapat berupa prisma atau
grating. Untuk mengarahkan sinar monokromatis yang diinginkan dari hasil
penguraian ini dapat digunakan celah. Jika celah posisinya tetap, maka prisma
yang dirotasikan untuk mendapatkan panjang gelombang yang diinginkan. Ada
dua tipe prisma yaitu, susunan cornus dan susunan littrow. Sel absorpsi, pada
pengukuran di daerah tampak kuvet kaca atau kuvet kaca corex dapat digunakan,
tetapi untuk pengukuran pada daerah UV harus menggunakan sel kuarsa, karena
gelas tidak tembus cahaya. Detektor, peran detektor penerima adalah memberikan
respons terhadap cahaya pada berbagai panjang gelombang.
C. Metodologi
1. Alat-alat yang digunakan :
a. Mikropipet f. Batang pengaduk
b. Pipet voumetrik 1 ml merk pyirex g. Corong
c. Pipet voumetrik 10 ml merk pyirex h. Kertas saring
d. Gelas ukur 500 ml merk pyirex i. Spektrofotometri UV-VIS merk
e. Tabung reaksi 10 ml merk pyirex Simadzu

2. Bahan yang digunakan :


a. Kedelai mentah 10 gram f. Larutan protein BSA
b. Tahu goreng 10 gram g. Reagen Lowry B 8 ml
c. Tempe goreng 10 gram h. Reagen Lowry A 0.5 ml
d. Kecambah kacang hijau 10 gram j. Amonium sulfat kristal secukupnya
e. Kacang hijau mentah 10 gram i. Buffer asam asetat pH 5 10 ml
k. Aquades 100ml
3. Cara kerja
a). Pembekuan Kurva Standar Larutan protein

Penyiapan larutan BSA 300


µg/mL

Pembuatan larutan protein dengan kadar yang bertingkat


di dalam 10 tabung reaksi dengan konsentrasi 0, 30, 60,
90, 120, 150, 180, 210, 240, dan 300

Masing-masing larutan ditambahkan 8 mL Reagen


Lowry B dan biarkan 10 menit

Masing-masing larutan ditambahkan 1 mL Reagen


Lowry A, gojog dan biarkan 20 menit

Pembacaan OD pada panjang gelombang 600nm dengan


spektrofotometri

Pembuatan kurva
standar dibuat
b). Penyiapan Sampel

Penghalusan 10 gram tahu


goreng

Penambahan aquades sampe tanda tera 100 mL

Penambahan amonium sulfat kristal secukupnya hingga


ada endapan

Penyaringan dengan kertas saring diambil padatannya

Penambahan 10 mL buffer asetat pH 5 pada padatan

Penyaringan dengan kertas saring

Pengambilan larutan hasil saringan 0.5 mL

Masing-masing larutan ditambahkan 8 mL Reagen


Lowry B dan biarkan 10 menit

Masing-masing larutan ditambahkan 1 mL Reagen


Lowry A, gojog dan biarkan 20 menit

Pembacaan OD pada panjang gelombang 600nm dengan


spektrofotometri

Pembacaan kadar
protein
D. Hasil dan Pembahasan

Tabel 4.1 Kurva Standar BSA (6.1mg/10ml)

ml Larutan y (A) Konsentrasi Protein (mg,ml) (x)


0 0,058 0
0,2 0,200 0,122
0,4 0,306 0,244
0,6 0,525 0,366
0,8 0,645 0,488
1 0,815 0,610
Sumber : Data Praktikum

Tabel 4.2 Hasil Absorbansi Sampel

No Sampel Absorbansi % Protein Terlarut


1 Kacang hijau mentah 0,495 0,3616
2 Kecambah kacang hijau 1,219 0,9468
3 Tempe goreng 1,531 1,1904
4 Tempe mentah 1,577 1,2272
5 Tahu mentah 0,643 0,4800
6 Kacang hijau mentah 1,820 2,8432
7 Kecambah kacang hijau 1,117 1,7184
8 Kacang kedelai putih mentah 0,798 0,6040
9 Tempe goreng 0,789 1,1936
10 Tahu goreng 0,735 0,5336
Sumber : Data Praktikum

Alat-alat yang juga dapat mengukur intensitas cahaya dengan panjang


gelombang tertentu disebut spektrofotometer (Giancoli, 2010). Spektrofotometer
mengukur jumlah relative cahaya dari panjang gelombang berbeda yang diserap
dan diteruskan oleh larutan pigmen. Di dalam spektrofotometer, cahaya putih
dipisahkan menjadi sejumlah warna (panjang gelombang) oleh prisma.
Kemudian, satu demi satu, warna cahaya yang berbeda dilewatkan melalui
sampel. Cahaya yang diteruskan menabrak tabung fotolistrik yang mengubah
energi cahaya menjadi listrik, dan arus listriknya diukur dengan alat ukur. Setiap
kali panjang gelombang cahay berubah, alat ukur akan mengindikasikan fraksi
cahaya yang diteruskan melalui sampelnya, atau sebaliknya, fraksi cahaya yang
diserap (Champbel et al., 2000).
Metode pengukuran menggunakan prinsip spektrofotometer adalah
berdasarkan absorpsi cahaya pada panjang gelombang tertentu melalui suatu
larutan yang mengandung kontaminan yang akan ditentukan konsentrasinya.
Proses ini disebut absorpsi spektrofotometri dan jika panjang gelombang yang
digunakan adalah gelombang cahaya tampak, maka disebut sebagai kolorimetri
karena memberikan warna. Selain gelombang cahaya tampak, spektrofotometri
juga menggunakan panjang gelombang pada gelombang ultraviolet dan
inframerah. Prinsip kerja dari metode ini adalah jumlah cahaya yang diabsorpsi
oleh larutan sebanding dengan konsentrasi kontaminan dalam larutan. Prinsip ini
dijabarkan dalam hukum Beer_lamberty, yang menghubungkan antara absorpsi
cahaya dengan konsentrasi pada suatu bahan yang mengabsorbsi . Jika absorpsi
diplotkan terhadap konsentrasi, maka diperoleh garis lurus. Perubahan intensitas
warna sebanding dengan konsentrasi (Lestari, 2010).
Optimasi panjang gelombang dilakukan untuk menentukan panjang
gelombang maksimum yang akan digunakan dalam pengukuran menggunakan
spektrofotometer UV-Vis dengan menggunakan salah satu standar. Langkah
selanjutnya adalah penentuan absorbs larutan standar pada panjang gelombang
maksimum dilanjutkan dengan penentuan absorbansi sampel (Yuli, 2008).
Spektrofotometri UV-Vis adalah analisis yang didasarkan pada pengukuran
serapan sinar monokromatis oleh suatu laju larutan berwarna pada panjang
gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma (Setiono dkk.,
2013). Liyana dan Sugiarso (2011) juga menambahkan bahwa metode ini selain
pekerjaan cepat, sederhana, praktis, murah juga cukup peka dan teliti serta
mudah dalam menginterpretasikan hasil yang diperoleh. Menurut Darwindra
(2010), keuntungan dari spektrofotometer untuk keperluan analisis kuantitatif
adalah : (1) dapat digunakan secara luas, (2) memiliki kepekaan yang tinggi , (3)
keseletifannya cukup baik, (4) tingkat ketelitiannya tinggi. Kurva standar BSA
dapat dilihat pada Tabel 4.1. Kurva standar ini diukur pada panjang gelombang
600 nm. Dapat dilihat bahwa untuk absorbansi dari 0 ml larutan BSA adalah
0,058 dan untuk absorbansi dari 1 ml larutan BSA adalah 0,815.

Kurva Standar BSA


0.7 y = 0.043x+ 1.250 x
0.6 R² = 0.993

0.5
Absorbansi

0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
Konsentrasi Ptotein

Gambar 4.1. Kurva Standar BSA

Pada Tabel 4.2 dapat dilihat juga hasil pengkuran absorbansi kadar protein
terlarut berbagai sampel dari komoditas kacang-kacangan. Untuk sampel dengan
nilai absorbansi terendah ada pada sampel kacang hijau mentah dengan nilai
0,495, kemudian untuk sampel tahu mentah nilai absoransinya adalah 0,643,
untuk sampel kacang kedelai putih mentah adalah 0,798, sampel tempe goreng
absorbansinya adalah 0,789 dan untuk absorbansi tahu goreng adalah 0,735.
Selain hasil pengukuran sampel tersebut di atas, hasil pengukuran shift
lain menunjukkan adanya penyimpangan yakni hasil absorbansi yang melebihi
dari larutan kurva standar meskipun menggunakan sampel yang hampir sama.
Dapat dilihaat bahwa nilai absorbansi untuk kecambah hijau adalah 1,219,
absorbansi tempe goreng adalah 1,531, absorbansi tempe mentah adalah 1,577,
absorbansi kacang hijau mentah adalah 1,820 dan absorbansi kecambah kacang
hijau adalah 1,117.
Menurut Darwindra (2010), dalam spektrofotometer molekuler kuantitaif,
pengukuran absorbansi atau konsentrasi transmitans dibuat berdasarkan satu seri
larutan pada panjang gelombang yang telah ditetapkan. Panjang gelombang yang
paling sesuai ditentukan dengan membuat spketrum absrobsi dimana panjang
gelombang yang sesuai adalah menghasilkan absorbansi maksimum. Dengan
menggunakan panjang gelombang dari absorbansi yang maksimum, maka terjadi
penyimpangan (deviasi) kecil. Jika panjang gelombang dipilih dari daerah
spektrum di mana ada suatu perubahan yang besar absorbansi dalam range
panjang gelombang yang sempit, maka terjadi penyimpangan (deviasi) kecil.
Apabila terjadi penyimpangan nilai absorbansi dengan larutan standar, maka
dapat menyebabkan kesalahan yang besar. Oleh karena itu, larutan yang
memiliki absorbansi lebih tinggi dari larutan standar harus diencerkan sampai
memenuhi konsentrasi larutan yang ada. Hukum ini dikenal sebagai Hukum
Lambert dan menghubungkan ketebalan dari sel sampel (kuvet) pada
perbandingan kekuatan radiasi berkas cahaya yang masuk dan berkas cahaya
yang keluar.
Berdasarkan teori tersebut, kemungkinan terjadinya penyimpangan nilai
absorbansi pada sampel di atas disebabkan karena pengenceran. Sebagai salah
satu contoh untuk perhitungan pada kelompok 10, sebanyak 100 gr sampel yang
telah dihaluskan dilarutkan dalam 100 ml aquades lalu ditambah ammonium
sulfat kristal, setelah itu disaring dan diperoleh padatan, kemudian ditambah
buffer asetat lalu disaring lagi dan diambil sebanyak 0,5 ml untuk ditambah
reagen Lowry A dan Lowry B sehingga diperoleh faktor pengencer sebanyak
200ml. Sedangkan untuk kelompok lain, setelah ditambah buffer asetat lalu
disaring dan diambil sebanyak 1 ml untuk ditambah reagen Lowry A dan Lowry
B, sehingga faktor pengencer menjadi 100. Hal inilah yang menyebabkan
absorbansi pada FP 100 menjadi besar disebabkan karena larutan terlalu pekat
(lebih dari kurva standar).
Berdasarkan uraian tersebut di atas, pada dasarnya, hasil absorbansi pada
sampel tidak boleh melebihi absorbansi pada larutan standar karena hal ini akan
menyebabkan penyimpangan. Tujuan dibuatnya kurva standar adalah agar
pembacaan hasil absorbansi berada pada range yang sesuai. Oleh sebab itu,
larutan yang memiliki absorbansi lebih tinggi dari larutan standar harus
diencerkan sampai memenuhi konsentrasi larutan yang ada. Untuk kadar protein
terlarut yang dapat dibaca oleh spektofotometer dan yang berada pada range
absorbansi dari kurva standar adalah kacang hijau mentah, tahu mentah, kacang
kedelai putih mentah, tempe goreng dan tahu goreng.

E. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum, dapat disimpulkan bahwa :
1. Absorbansi tertinggi yang masih berada pada range kurva standar adalah
sampel kacang kedelai mentah dengan nilai 0,798
2. Absorbansi terendah yang masih berada pada range kurva standar adalah
sampel kacang hijau mentah dengan nilai 0,495
3. Perbedaan hasil absorbansi pada sampel disebabkan oleh faktor pengencer
4. Larutan yang memiliki absorbansi lebih tinggi dari larutan standar harus
diencerkan sampai memenuhi konsentrasi larutan yang ada
5. Semakin rendah faktor pengencer, semakin pekat larutan sehingga pembacaan
pada absorbansi melebihi kurva standar
6. Semakin tinggi faktor pengencer, semakin encer suatu larutan sehingga
pembacaan pada absorbansi berada pada range kurva standar
DAFTAR PUSTAKA

Anglemier, A.E. and M. W. Montgomery, 1976. Amino Acids Peptides and Protein.
Mercil Decker Inc. , New York Baravkar dan Kale. 2011. FT-IR Spectroscopy
: ‘Principle, Technique And Mathematics’, International Journal of Pharma
and Bio Sciences, vol. 1, no. 2, pp. 513-518.
Basset J dan Denney C. R. 1991. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif
Organik, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Champbel, Recce dan Mitchel. 2000. Biologi Jl.1 Ed 5. Erlangga. Jakarta.
Darwindra, H.D. 2010. Spektrofotometri.
http://harisdianto.files.wordpress.com/2010/01/spektofotometri1.pdf
( Diakses tanggal 4 April 2014 , 2.01 PM)

Day, R.A dan Underwood L.A. 2002. Analisis Kuantitatif Ed. 6. Erlangga. Jakarta.
Diah D. 2010. Kandungan Gizi Kacang Hijau. [terhubung
berkala]http://diahmd.student.umm.ac.id/2010/06/25/kandungan-gizi-kacang-
hijau/. [04 April 2014]
Etty, T. 1985. ‘Spektrofotometer Ultra-Violet dan Sinar Tampak serta Aplikasinya
dalam Oseanografi’. Jurnal : Oseana, vol. 1, no. 9, pp. 39-47.
Giancoli, C.D. 2001. Fisika. Erlangga : Jakarta

Hardjo, S. , 1964. Pengolahan dan Pengawetan Kedelai untuk Bahan Makanan


Manusia. Bagian Gizi Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.

Huda, N. 2001, ‘Pemeriksaan Kinerja Spektrofotometer UV-VIS. Gbc 911 A


Menggunakan Pewarna Tartrazine Cl 19140’. Jurnal: Sigma Epsilon, vol. 20,
no. 21, pp. 15-21.
Ismed, S. 2003. Pengaruh Lama Perendaman Kedelai dan Jenis Zat Penggumpal
Terhadap Mutu Tahu. Fakultas Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian
Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara
Liana, D.E dan Sugiarto D. 2010. Optimasi Ph Buffer Dan Konsentrasi Larutan
Pereduksi Natrium Tiosulfat (Na2s2o3) Dan Timah (Ii) Klorida (Sncl2)
Dalam Penentuan Kadar Besi Secara Spektrofotometri Uv – Vis . Jurnal
Kimia
Lestari, F. 2010. Bahaya Kimia. Penerbit Buku Kedokteran EGC

Legowo, A.M dan Nurwantoro. 2004. Analisis Pangan. Diktat Kuliah. Universitas
Dipenogoro Semarang. Semarang
Muhari.2008. Pengaruh Suhu Pemanasan pada Susu Kedelai Terhadap Kadar Protein.
IKIP PGRI Semarang. Semarang

Poedjiadi, A. dan Supriyanti, T. 2006. Dasar-dasar Biokimia. UI Press. Jakarta

Purwono dan Hartono R. 2005. Kacang Hijau. Penebar Swadana. Bogor.


Rohyami, Yuli. 2008. Penentuan Kandungan Flavonoid dari Ekstrak Metanol
Daging Buah Mahkota Dewa. Vol. 5, No.1, 2008
Saptoraharjo, A. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press. Jakarta.
Santoso H.B. 1993. Pembuatan Tempe & Tahu Kedelai Bahan Makanan Bergizi
Tinggi. Kanisius: Yogyakarta.
Setiono H. M. dan Dewi A.A. 2013. Penenruan Jenis Solven dan pH Optimum pada
Analisis Senyawa Delphinidin dalam Kelopak Bunga Rosela dengan Metode
Spektrofotometri UV-Vis. Jurnal Teknik Kimia dan Industri. No 2. Vol 2 Hal
91-96
Suprapti M.L. 2005. Pembuatan Tahu. Kanisius: Yogyakarta.
Triyono, A. 2010. Mempelajari Pengaruh Penambahan Beberapa Asam pada Proses
Isolasi Protein Terhadap Tepung Protein Isolat Kacang Hijau (Phaseolus
Radiatus L.). Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna - LIPI.
Cibinong.

Winarno, F. G. dan A. Rahman, 1974. Protein Sumber dan Peranannya. Departemen


Teknologi Hasil Pertanian , Bogor.