Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)

PT. SARI ENESIS INDAH


PLANT CIAWI, BOGOR

PEMBINAAN CALON AHLI K3 UMUM

PENGAWASAN K3 BIDANG : PESAWAT UAP, BEJANA


TEKAN DAN PERALATAN MEKANIK

KELOMPOK III :
1. Caessar Aprizal
2. Hernandito R. Kusuma
3. Lisa Rosita
4. Rahako Yudanto
5. Restu M Sadikin
6. Tri Putri Umi Kalsum
7. Yofe Maessi Sitepu

PT. MUTIARA MUTU KATIGA


BALAI PELATIHAN K3 JAKARTA TIMUR
15 – 27 JANUARI 2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa
atas segala rahmat dan hidayahnya kita dapat melaksanakan praktik kerja
lapangan ahli K3 umum di PT. Sari Enesis Indah, Plant Ciawi, Bogor, pada
tanggal 24 Januari 2018 sebagai salah satu persyaratan penilaian AK3 Umum.
Laporan praktek kerja lapangan ini merupakan bentuk aplikasi dari
pelatihan calon anggota ahli AK3 umum yang dilaksanakan oleh PT. Mutiara
Mutu Katiga bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja & Trasmigrasi Kabupaten
Bogor 15 – 27 Januari 2018. Laporan PKL ini berisi tentang pengawasan norma
kecelakaan dan kesehatan kerja Pesawat Uap, Bejana Tekan, dan Peralatan
Mekanik yang diterapkan pada perusahaan yang kami kunjungi.
Akhirnya, tidak lupa kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam pembuatan laporan PKL ini, semoga dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Hormat Kami,

Kelompok III

i
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR .................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

DAFTAR TABEL ........................................................................................... iv

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... v

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. vii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ........................................................................ 1

1.2 Maksud dan Tujuan.................................................................. 2

1.3 Ruang Lingkup......................................................................... 2

1.4 Pengertian – Pengertian ........................................................... 2

1.4. Metode Pengumpulan Data ...................................................... 4

BAB II FAKTA DAN MASALAH ............................................................ 6

2.1 Gambaran Umum Perusahaan.................................................. 6

2.2 Temuan Positif dan Negatif ..................................................... 7

BAB III ANALISA DAN PEMECAHAN MASALAH ............................ 9

3.1 Analisa Masalah ...................................................................... 9

3.1.1 Temuan Positif di PT. Saru Enesis Indah

CIawi Bogor ................................................................ 9

3.1.2 Temuan Negatif di PT. Saru Enesis Indah

CIawi Bogor................................................................ 17

ii
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN....................................... 22

4.1 Kesimpulan ............................................................................. 22

4.2 Saran ........................................................................................ 23

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

iii
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Hasil Temuan Positif dan Negatif ................................................... 7

Tabel 3.1 Temuan Positif di PT. Sari Enesis Indah Plant Ciawi Bogor ........... 9

Tabel 3.2 Temuan Negatif di PT. Sari Enesis Indah Plant Ciawi Bogor.......... 17

iv
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Produk-Produk Yang Dihasilkan Oleh PT. Sari Enesis Indah,

Plant Bogor ...............................................................................

Gambar 3.1 Name Plate Boiler ..................................................................... 9

Gambar 3.2 Kartu Pemerikasaan Mesin ....................................................... 10

Gambar 3.3 Pressure Gauge Pada Boiler ...................................................... 11

Gambar 3.4 Safety Valve Pada Boiler .......................................................... 11

Gambar 3.5 Laporan Harian Pemeriksaan Boiler ......................................... 12

Gambar 3.6 Pressure Gauge Pada Kompresor Tank .................................... 12

Gambar 3.7 Safety Valve Pada Kompresor .................................................. 13

Gambar 3.8 Strip Merah Pada Kompresor.................................................... 13

Gambar 3.9 Keadaan Forklift Ketika Mati ................................................... 13

Gambar 3.10 Penerangan Pada Forklift .......................................................... 14

Gambar 3.11 Posisi Garpu Ketika Forklift Berjalan....................................... 15

Gambar 3.12 Forklift Elektrik......................................................................... 15

Gambar 3.13 Name Plate Pada Forklift .......................................................... 16

Gambar 3.14 SIO Operator Forklif ................................................................. 16

Gambar 3.15 Kebocoran Pipa Boiler................................................................ 17

Gambar 3.16 Operator Boiler Tidak Memakai APD........................................ 17

Gambar 3.17 Sertifikat Operator Boiler ........................................................... 18

Gambar 3.18 Tambahan Sepatu Pada Forklift.................................................. 19

v
Gambar 3.19 Operator Forklift Tidak Menggunakan APD.............................. 19

Gambar 3.20 Pemakaian Forklift Yang Tidak Aman ....................................... 20

Gambar 3.21 Lantai Kerja Forklift Tidak Rata ................................................ 20

vi
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampran 1 .................................................................................................... 24

vii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Industri makanan dan minuman (food and beverage) merupakan salah satu
industri yang sangat berkembang di setiap negara, termasuk Indonesia. Setiap
tahun pasar untuk industri minuman ringan selalu bertumbuh, bahkan
diproyeksikan hingga tahun 2018, trend kenaikan untuk industri minuman ringan
akan terus meningkat. Sejak tahun 2004, pertumbuhan positif ini setiap tahunnya
mengalami peningkatan, baik untuk produk teh, minuman berkarbonasi, dan air
mineral. Hampir setiap jenis minuman ini terus dikembangkan dan diinovasi baik
dari rasa dan kemasan dengan tujuan untuk menarik minat pembeli. Pertumbuhan
minuman ringan siap saji mendorong para pelaku industri untuk terus berlomba
agar dapat menyajikan minuman dengan kualitas dan pelayanan yang terbaik,
salah satunya adalah PT. Sari Enesis Indah, Plant Ciawi, Bogor.
Dalam proses produksinya PT. Sari Enesis Indah, Plant Ciawi, Bogor
merupakan salah satu pabrik yang termasuk dalam kategori resiko bahaya tinggi,
karena menggunakan beberapa bahan material/ bahan kimia berbahaya dan
peralatan produksi yang beresiko peledakan, contohnya adalah Ketel Uap. Oleh
karena itu, dengan mengingat pentingnya keselamatan kesehatan kerja dan
lingkungan, maka diperlukan adanya perlindungan dan tindakan pencegahannya.
Untuk itu diperlukan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam
pengaturan di tempat kerja dan lingkungan, serta dapat mematuhi peraturan
pemerintah yang terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja.
Pada pembahasan kali ini, kelompok kami mengambil bidang pembahasan
“Norma K3 Pada Bidang Pesawat Uap, Bejana Tekan dan Peralatan Mekanik”.
Salah satu contoh bahaya yang dapat ditimbulkan dari Pesawat Uap, Bejana
Tekan dan Peralatan Mekanik adalah terjadinya ledakan dan kebakaran. Sehingga
dalam pemakaian dan perawatan peralatannya perlu diatur lebih lanjut.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut diatas, maka diperlukan
adanya penerapan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja di PT. Sari Enesis
Indah, khususnya di bidang Pesawat Uap, Bejana Tekan dan Peralatan Mekanik.
Ini merupakan langkah awal untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit

1
akibat kerja. Dalam hal manajemen perusahaan juga dapat menerapkan sistem
manajemen yang terintegrasi dengan Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (SMK3).

1.2 Maksud dan Tujuan


Praktek Kerja lapangan di PT. Sari Enesis Indah, Plant Ciawi, Bogor bertujuan
sebagai tindakan pembelajaran secara nyata pada peserta pendidikan dan pelatihan
ahli K3 Umum untuk mempraktekkan ilmu pengetahuan yang didapat selama
pelatihan dan menerapkannya pada pelaksanaan SMK3 di lingkungan industri.

1.3 Ruang Lingkup


Ruang lingkup materi pembelajaran pengawasan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja di bidang Pesawat Uap, Bejana Tekan, dan Peralatan Mekanik
meliputi Pengertian, Dasar Hukum Pengawasan K3, Sumber-sumber bahaya,
Syarat-syarat K3 serta proses Pemeriksaan, Pengawasan dan Pengujiannya.

1.4 Pengertian - Pengertian


1. Pesawat
Pesawat ialah kumpulan dari beberapa alat secara berkelompok atau berdiri
sendiri guna menghasilkan tenaga baik mekanik maupun bukan mekanik dan
dapat digunakan untuk tujuan tertentu.( Peraturan Menteri Tenaga Kerja
Republik Indonesia No: PER.04/MEN/1985)
2. Pesawat Uap
Ketel Uap dan alat-alat lainnya yang dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan
demikian, langsung atau tidak langsung berhubungan/tersambung dengan suatu
ketel Uap dan diperuntukkan bekerja dengan Tekanan yang lebih besar/tinggi
dari Tekanan udara luar.
3. Ketel Uap
Suatu Pesawat dibuat guna menghasilkan Uap dan stoom yang dipergunakan di
luar Pesawatnya.

2
4. Bejana Tekan
Bejana selain Pesawat Uap yang di dalamnya terdapat tekanan dan dipakai
untuk menampung gas, udara, campuran gas atau campuran udara, baik
dikempa menjadi cair dalam keadaan larut atau beku.
5. Pesawat angkat dan angkut
Pesawat angkat dan angkut ialah suatu pesawat atau alat yang digunakan untuk
memindahkan, mengangkut muatan baik bahan atau barang atau orang secara
vertikal dan atau horizontal dalam jarak yang ditentukan.
6. Pesawat angkutan di atas landasan dan di atas permukaan
Pesawat angkutan di atas landasan dan di atas permukaan ialah pesawat atau
alat yang digunakan untuk memindahkan muatan atau orang dengan
menggunakan kemudi baik di dalam atau di luar pesawat dan bergerak di atas
suatu landasan maupun permukaan.
7. Tempat Kerja
Tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana
tenaga kerja bekerja atau sering dimasuki dimana terdapat sumber-sumber
bahaya.
8. PAK (Penyakit Akibat Kerja)
Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja.
9. Kecelakaan Kerja
Suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat
menimbulkan korban manusia dan atau harta benda.
10. Operator
Tenaga kerja berkeahlian khusus untuk melayani pemakaian Pesawat Mekanik
dan Pesawat Uap.
11. Alat Pengaman
Semua alat perlengkapan Mekanik dan Bejana Tekan yang ditunjukkan untuk
melengkapi agar pemakaiannya dapat digunakan dengan aman.
12. Pemeriksaaan Mekanik dan Bejana Tekan
Pemeriksaan dari luar dan dalam, baik menggunakan alat-alat bantu maupun
tidak.

3
13. Pengujian
Pemeriksaan dan semua tindakan untuk mengetahui kemampuan bahan
konstruksi Mekanik dan Bejana Tekan.

1.5 Metode Pengumpulan Data


1. Observasi
Observasi dilakukan dengan pengamatan secara langsung terhadap
pengawasan norma K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan kepada pihak-pihak yang berhubungan dengan
objek penelitian baik operator maupun ahli K3 untuk memperoleh
informasi mengenai objek yang teliti.
3. Dokumentasi
Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data-data dan
mempelajari dokumen serta catatan perusahaan yang berhubungan dengan
objek penelitian.
4. Himpunan peraturan perundangan K3 Tentang Pesawat Uap, Bejana
Tekan dan Peralatan Mekanik,
a. UU Uap Tahun 1930 (Stoom Ordonnantie)
b. UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
c. UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
d. Peraturan Uap tahun 1930 (Stoom Verordening)
e. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.Per-
37/MEN/2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bejana
Tekan dan Tangki Timbun.
f. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.Per-
37/MEN/2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat
Tenaga dan Produksi.
g. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.Per-
05/MEN/1985 tentang Angkat dan Angkut.
h. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.Per-
01/MEN/1982 tentang Bejana Tekan.

4
i. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.Per-
01/MEN/1988 tentang Kualifikasi dan Syarat-Syarat Operator
Pesawat Uap.
j. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.Per-
03/MEN/1999 tentang Syarat-Syarat Keselamatan dan Kesehatan
Kerja Lift Untuk Pengangkutan Orang dan Barang.
k. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.Per-
09/MEN/2010 tentang Operator dan Petugas Pesawat Angkat dan
Angkut.

5
BAB II
FAKTA DAN MASALAH

2.1 Gambaran Umum Perusahaan


Visi PT. Sari Enesis Indah, Plant Ciawi, Bogor sebagai bagian dari
ENESIS GROUP adalah bertekad ku kuat menjadi pemimpin dunia di bidang
minuman kesehatan dan produk FMCG (Fast Moving Consumer Goods) kategori
pilihan.

Untuk mencapai visi ini, Enesis Group selalu mencoba untuk:


• Menciptakan produk inovatif yang mampu memberikan solusi sesuai
kebutuhan konsumen.
• Memastikan seluruh produk memiliki kualitas yang baik.

Misi dari PT. Sari Enesis Indah, Plant Ciawi, Bogor


• Berorientasi pada pemenuhan kebutuhan konsumen.
• Mengembangkan produk-produk inovatif sebagai solusi kebutuhan masyarakat
dengan menjamin kualitas produk, memperkuat jaringan distribusi dan
komunikasi kreatif kepada konsumen.
• Mengembangkan sumber daya manusia yang kompeten, profesional dan
memiliki integritas yang tinggi.
• Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap kepentingan
lingkungan dan sosial.
• Memasarkan produk unggulan guna memenuhi kepuasan pelanggan.

Jumlah Tenaga Kerja PT. Sari Enesis Indah, Plant Ciawi, Bogor adalah
sebagai berikut :
Pria = 163 orang
Wanita = 23 orang
+
Total Karyawan 186 orang

Dengan sistem jam kerja sistem shift, dengan 3 shift, di mana masing-
masing shift memiliki jam kerja 8 jam, dengan hari kerja Senin – Jumat.

6
Adapun produk-produk yang dihasilkan oleh PT. Sari Enesis Indah, Plant
Ciawi, Bogor, dapat dilihat di gambar berikut ini:

Gambar 2.1 Hasil Produk PT. Sari Ensesis Indah Plant Ciawi Bogor

2.2 Temuan Positif dan Negatif

Adapun beberapa hasil temuan dari Praktek Kerja Lapangan di PT. Sari
Enesis Indah adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1 Hasil Temuan Positif dan Negatif

Temuan Positif Temuan Negatif


Ada Name Plat Pada Boiler Adanya Kebocoran Pada Pipa Boiler

Pengawasan Boiler Di Setiap Operator Boiler Tidak Menggunakan


Pergantian Shift Alat Pelindung Diri (APD)

Pemeriksaan Berkala Pada Boiler Tidak semua operator boiler


setiap bulan disertifikasi oleh Kemenaker serta
jumlah operator tidak sesuai

Terdapat pressure gauge pada boiler Tidak ada pengujian boiler

Boiler Mempunyai safety valve Menggunakan Tambahan Sepatu


Pada Forklift

Adanya buku laporan harian Operator Forklift Tidak


pengoperasian boiler Menggunakan Alat Pelindung Diri
(APD)

7
Pada kompresor tank terdapat Pemakaian Forklift dengan tidak
pressure gauge aman
Pada kompresor tank terdapat safety Pengujian ulang forklift setelah
valve pengujian pertama 1 tahun sekali
tidak dilakukan
Pada safety valve dibubui strip Lantai kerja untuk forklift tidak rata
merah untuk tekanan kerja tinggi
Forklift Yang Telah Menggunakan
Baterai
Operator forklift dapat menunjukan
SIO
Meninggalkan forklift dalam
keadaan mati dengan garpu di
bawah
Forklift memiliki lampu penerangan
dan peringatan
Beban maksimum pada forklift
ditempatkan pada tempat yang
mudah terlihat
Pada forklift yang sedang berjalan
garpu berada pada ketinggian
minimal 15 cm

8
BAB III

ANALISA DAN PEMECAHAN MASALAH

3.1 Analisa Masalah

3.1.1 Temuan Positif di PT. Sari Enesis Indah Plant Ciawi Bogor
Tabel 3.1 Temuan Positif di PT. Sari Enesis Indah Plant Ciawi Bogor

LANDASAN
NO. GAMBAR TEMUAN TEMUAN POSITIF ANALISA REKOMENDASI
HUKUM

Dengan adanya name


plate tersebut,
operator dapat
Name Plate dari
mengetahui kapasitas
boiler dijaga Undang-Undang
kerja boiler, sehingga
Terdapatnya Name Plate kebersihannya dan Uap tahun 1930
1. dapat bekerja sesuai
pada setiap Boiler dirawat agar tetap pasal 12
dengan kondisi
bisa dilihat dengan
pengoperasiannya
jelas.
yang standart yang
tertera pada name
plate.

Gambar 3.1 Name Plate Boiler

9
Dapat diteruskan
Dengan adanya
pekerjaan yang
pengawasan kerja
sudah bagus
tersebut, maka
tersebut dan
operator dapat bekerja
Pengawasan Boiler di sebelum bekerja Permenakertrans
lebih aman dan sesuai
2. No Gambar Setiap Pergantian Shift diberi pengarahan No.1 tahun 1988
dengan SOP yang ada
oleh Supervisor Engineer oleh Supervisor Pasal 10 ayat 5
(operator bekerja lebih
Engineer dan
serius, tidak main-
setelah bekerja juga
main dan bertanggung
dilakukan evaluasi
jawab)
kembali.

Pemeriksaan berkala
ini berguna untuk Untuk pemeriksaan
Penerapan Pemeriksaan
menjaga boiler tetap dibuat jadwal
Berkala Pada Boiler Permenakertrans
berfungsi dengan baik, berkala yang tetap
3. Setiap 1 Bulan Sekali, No. 1 tahun 1988
dan sebagai panduan dan lebih
pada awal atau di akhir pasal 10 ayat 9
bagi operator untuk terperinci, dibuat
bulan.
memerika perawatan checklis.
boiler tersebut.

Gambar 3.2 Kartu


Pemerikasaan Mesin

10
Tekanan boiler dapat Pressure gauge
dijaga dan dikontrol diperiksa
dengan adanya fungsinya, dan
Undang-Undang
Terdapat Pressure Gauge pressure gauge diperiksa secara
4. Uap tahun 1930
Pada Boiler tersebut, sehingga berkala, dan diuji
pasal 12
operator dapat apakah tetap
mengetahui tekanan berfungsi sebagai
kerja aman dari boiler. mana mestinya.

Gambar 3.3 Pressure Gauge


Pada Boiler

Safety valve selalu


dicek setiap saat
dan dicek
Dengan adanya safety
fungsinya secara
Mempunyai Safety Valve valve dapat menjaga Undang-Undang
5. manual, hal ini
Pada Boiler tekanan pada boiler Uap 1930 pasal 12
dapat dilakukan
tetap normal
seminggu sekali
setiap pergantian
Gambar 3.4 Safety Valve Pada shift.
Boiler

11
6. Adanya buku laporan Keberadaan buku Buku laporan Permenakertrans
harian pengoperasian laporan pengoperasian selalu dibuat dan No.1 tahun 1988
boiler boiler dapat diupdate setiap hari pasal 10
membantu operator dan ditempatkan di
untuk mengetahui area yang mudah
kondisi dan keadaan dijangkau dan
boiler dengan mudah terlihat, sehiingga
bisa selalu
Gambar 3.5 Laporan Harian diupdate.
Pengoperasian Boiler

Pressure gauge pada


kompresor tank dapat
Pressure gauge
mempermudah
diperiksa fungsinya
Pada kompresor tank operator untuk Permenakertrans
secara berkala serta
7. terdapat pressure gauge mengecek dan No. 1 tahun 1982
membuat buku
memastikan tekanan pasal 10
jadwal pemeriksa-
pada pressure gauge
an dan peralatan.
tetap berada pada
tekanan normal

Gambar 3.6 Pressure Gauge


Pada Kompresor Tank

12
8.
Safety valve pada
kompresor dapat Safety valve selalu Permenakertrans
Pada kompresor tank mempermudah dicek setiap saat No. 1 tahun 1982
terdapat safety valve operator untuk dan dicek manual pasal 9
menjaga tekanan pada fungsinya
boiler tetap berada
pada tekanan normal
Gambar 3.7 Safety Valve Pada
Kompresor
Strip Merah pada
safety valve dapat
membantu operator
Pada safety valve untuk mengetahui Strip warna dibuat
dibubuhi strip merah apakah tekanan pada dengan jelas, tidak Permenakertrans
9. untuk tekanan kerja kompresor telah mudah pudar dan No. 1 tahun 1982
tinggi melewati tekanan dijaga agar tidak pasal 10
normal dan apakah rusak.
Gambar 3.8 Strip Merah Pada tekanan boiler masih
Kompresor berada pada daerah
aman.
Meninggalkan forklift
Meninggalkan
dalam keadaan mati
forklift di area
dan memfungsikan
Meninggalkan Forklift yang aman, tidak
rem tangan dan Permenakertrans
Dalam Keadaan Mati mengganggu area
10. menurunkan garpu ke No. 5 tahun 1985
Dengan Posisi Garpu di kerja dan aktivitas
bawah. Hal ini dapat pasal 27
Bawah pekerjaan,
mengurangi resiko
membuat area
Gambar 3.9 Keadaan Forklift bahaya garpu forklift
parkir forklift.
Ketika Mati yang tiba-tiba jatuh

13
ataupun ban forklift
yang berjalan sendiri
Lampu penerangan
dan peringatan pada
forklift dapat
membantu operator
lain agar mengetahui
keberadaan forklift
pada malam hari atau
Lampu Penerangan
Forklift memiliki lampu di area kerja yang
dicek berkala Permenakertrans
penerangan dan kurang penerangan.
11. fungsinya dan jika No. 5 tahun 1985
peringatan Alarm peringatan
sudah redup diganti pasal 107
pada forklift juga
dengan yang baru
membantu pekerja
lain yang ada di
Gambar 3.10 Penerangan Pada sekitar area kerja
Forklift forklift bahwa
operator atau forklift
sedang beroperasi di
area kerja tersebut.

14
Ketika forklift
berjalan dengan
Operator selalu
Pada forklift yang sedang mengangkat garpu
berkonsentrasi
berjalan garpu berada minimal 15 cm maka Permenakertrans
ketika mengendarai
12. pada ketinggian minimal hal ini dapat No. 5 tahun 1985
forklift, dan selalu
15 cm mengurangi resiko pasal 113
menjalankan SOP
kerusakan pada garpu
yang benar
forklift dan lantai
permukaan kerja.
Gambar 3.11 Posisi Garpu
Ketika Forklift Berjalan

Penggunaan forklift Penggunaan


baterai dapat forklift dengan
Terdapat Forklift Yang mengurangi efek dari energi baterai dapat
Telah Menggunakan gas carbon yang diperbanyak selain Permenakertrans
13. Baterai Untuk dihasilkan dari emisi bagus untuk emisi No. 5 tahun 1985
Pengoperasian di dalam forklift. Hal ini karbondioksida Pasal 102
Ruangan menunjukan bukti juga lebih ramah
kepedulian perusahaan lingkungan dan
terhadap lingkungan. ramah energi
Gambar 3.12 Forklift Elektrik

15
14.

Membuat tulisan
lebih jelas terlihat Permenakertrans
Terdapat angka tulisan Dengan adanya name dan ukuran No. 5 tahun 1985
kapasitas pada badan plate dapat hurufnya lebih pasal 3 ayat 1
Forklift disisi kiri dan memudahkan operator besar sehingga
kanan serta terdapat name untuk melihat beban lebih jelas. Jika
plate di dekat sisi kemudi maksimum forklift name plate pada
sehingga operator forklift pudar harus
bekerja sesuai dibuat tulisan yang
kapasitas aman baru
Gambar 3.13 Name Plate Pada
Forklift

Menunjukan bahwa
semua operator sudah
memiliki keahlian,
SIO harus selalu
keterampilan dan
ada di tempat yang
kompetensi yang Permenakertrans
Operator Forklift Dapat mudah
15. sesuai. Hal ini juga No.9 tahun 2010
Menunjukan SIO diperlihatkan/
menunjukan pasal 5
dibawa oleh
komitmen perusahaan
operator
terhadap
pemberdayaan tenaga
kerja.
Gambar 3.14 SIO Operator
Forklift

16
3.1.2 Temuan Negatif di PT. Sari Enesis Indah Plant Ciawi Bogor

Tabel 3.2 Temuan Negatif di PT. Sari Enesis Indah Plant Ciawi Bogor

LANDASAN
NO. GAMBAR TEMUAN TEMUAN ANALISA REKOMENDASI
HUKUM

Kebocoran pada pipa Melakukan


boiler dapat perawatan pada pipa Undang-Undang
Adanya Kebocoran mengakibatkan
1. boiler dan segera Uap tahun 1930
Pada Pipa Boiler peledakan dan dilakukan perbaikan pasal 34
kebakaran. Jika ketika ada kerusakan

Gambar 3.15 Kebocoran Pipa Boiler


Pekerja bisa
mengalami penyakit
akibat kerja dan
kecelakaan kerja, Operator diberi
pengetahuan
Operator Boiler seperti pekerja yang
tidak menggunakan mengenai APD dan Permenakertrans
Tidak
dilakukan No. 8 tahun
2. Menggunakan Alat ear muff sehingga
pembuatan SOP 2010 Pasal 4
Pelindung Diri dapat menyebabkan
gangguan yang benar serta Ayat 1
(APD)
pendengaran. sanksi jika
Kurangnya kepedulian melanggar
Gambar 3.16 Operator Boiler Tidak dan pengawasan
Memakai APD terhadap tenaga kerja.

17
Tidak semua operator
boiler memiliki Semua operator
pengetahuan yang harus dibekali
Tidak Semua sama. Sehingga pada dengan pengetahuan
Permenakertrans
Operator Boiler saat terjadi masalah yang sesuai dan
No. 1 tahun
3. Memiliki (trouble shooting) diberikan pelatihan
1988 pasal 3 &
Sertifikasi Oleh pada boiler tidak serta sertifikasi yang
9
KEMNAKER semua operator bisa sesuai dengan
menanganinya. peraturan yang
berlaku
Gambar 3.17 Sertifikat Operator
Boiler
Karena tidak ada
pengujian boiler
menyebabkan resiko
bahaya pada boiler
Pengujian boiler
menjadi semakin Undang-Undang
Tidak Ada dibuat secara berkala
4. No Gambar besar sehingga Uap tahun 1930
Pengujian Boiler dan dibuat jadwal
mengakibatkan hal-hal pasal 40
yang jelas
tidak terduga yang
dapat mengakibatkan
peledakan.

Penggunaan tambahan Operator forklift


Permenakerrtran
Menggunakan sepatu pada forklift diberikan pelatihan
s No. 5 tahun
6. Tambahan Sepatu dapat menyababkan mengenai SOP kerja
1985 pasal 99
Pada Forklift sepatu forklift cepat yang benar dan tidak
dan 100
rusak. Operator memuat muatan

18
menggunakan melebihi beban
tambahan sepatu pada maksimal
forklift agar dapat
mengangkat beban
yang banyak sehingga
melewati batas
kapasitas maksimum
forklift

Gambar 3.18 Tambahan Sepatu Pada


Forklift
Pekerja bisa
mengalami penyakit
akibat kerja dan
Operator diberi
kecelakaan kerja,
pengetahuan
Operator Forklift seperti pekerja yang
mengenai APD dan
Tidak tidak menggunakan Permenakertrans
dilakukan
7. Menggunakan Alat safety shoes sehingga No. 5 thn 1985
pembuatan SOP
Pelindung Diri dapat menyebabkan Pasal 42
yang benar serta
(APD) kaki operator terjepit
sanksi jika
garpu forklift. Serta
melanggar
Gambar 3.19 Operator Forklift Tidak kurangnya kepedulian
Menggunakan APD dan pengawasan
terhadap tenaga kerja

19
8. Pemakaian Forklift Pemakaian forklift Dibuat SOP yang Permenakertrans
Yang Tidak Aman yang tidak aman jelas dan instruksi No. 5 tahun
seperti mengangkat kerja yang jelas, 1985 pasal 3
beban di atas kapasitas serta pengawasan Ayat 2
forklift dapat kerja agar operator
menyebabkan forklift bekerja sesuai
Gambar 3.20 Pemakaian Forklift terbalik serta dapat dengan prosedur
Yang Tidak Aman merusak forklift.
Karena tidak ada
pengujian boiler
menyebabkan resiko
Pengujian ulang
bahaya pada forklift
forklift setelah Dibuat jadwal Permenakertrans
menjadi semakin
9. No Gambar pengujian pertama pengujian yang No. 5 thn 1985
besar sehingga
1 tahun sekali terjadwal Pasal 138
mengakibatkan hal-hal
tidak dilakukan
tidak terduga yang
dapat forklift tidak
berfungsi dengan baik.

Lantai kerja forklift


yang tidak rata dapat
mengakibatkan
Lantai kerja untuk forklift tidak Lantai kerja dibuat Permenakertrans
10 seimbang sehingga rata dan diaspal agar No. 5 tahun
forklift tidak rata
mengakibatkan rata 1985 pasal 105
forklift terbalik.
Gambar 3.21 Lantai Kerja Forklift
Tidak Rata

20
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan dari hasil pemantauan dari praktek kerja lapangan yang telah
dilakukan megenai pengawasan Norma K3 Pesawat Uap, Bejana Tekan dan
Peralatan Mekanik, PT. Sari Enesis Indah, Plant Ciawi, Bogor maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut.
1. Secara umum pelaksanaan keselamatan kesehatan kerja di PT. Sari Enesis
Indah, Plant Ciawi, Bogor khususnya di bidang kerja Pesawat Uap, Bejana
Tekan dan Peralatan Mekanik dapat berjalan dengan baik.
2. Berdasarkan hasil pemeriksa di lapangan masih ada beberapa operator
yang belum konsisten dalam menaati dan melaksanakan ketentuan
penggunaan APD.
3. Prosedur kerja yang baik juga belum diterapkan, karena masih ada
operator yang melakukan pelangggaran.
4. Masih terdapat kekurang kepedulian pekerja terhadap lingkungan kerja
serta peralatan yang rusak, seperti kebocoran pada pipa, jika dibiarkan hal
ini dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.
5. Kurang kepedulian pengurus dan pengusaha terhadap kompetensi tenaga
kerja yang terdapat di perusahaan, hal ini dapat dilihat dari masih ada
beberapa operator yang belum disertifikasi sesuai dengan peraturan yang
berlaku.
6. Kurang ketelitian operator dalam pengecekan pada Forklift dan Boiler,
serta kurangnya kepedulian terhadap pemeriksaan berkala di mana hal ini
dapat berpotensi terjadinya kecelakaan kerja.

21
6.2. SARAN
Adapun beberapa saran yang dapat disampaikan adalah sebagai
berikut:
1. Pengurus dan pengusaha agar memberikan teguran pada pekerja yang
tidak konsisten menggunakan APD.
2. Segera dilakukan perbaikan pada pipa yang bocor dan perawatan secara
berkala terhadap seluruh peralatan yang ada di tempat kerja.
3. Dilakukannya pelatihan mengenai SOP dan APD kepada seluruh tenaga
kerja.
4. Melakukan pelatihan terhadap operator yang belum memiliki lisensi.
5. Manajemen lebih memiliki komitmen terhadap masalah K3 di lingkungan
kerja

22
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Pengawasan Norma K3, Dirjen Pembinaan Pengawasan


Ketenagakerjaan & K3, Kemenaker RI. Modul Pembinaan Calon Ahli
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Umum (AK3U), Kumpulan Modul
K3. 2017. DKI Jakarta.
Direktorat Pengawasan Norma K3, Dirjen Pembinaan Pengawasan
Ketenagakerjaan & K3, Kemenaker RI. Himpunan Peraturan Perundang-
Undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 2017. DKI Jakarta.
Menteri Ketenagakerjaan RI. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI No.
37 Tahun 2016 dan No. 38 Tahun 2016. 2017. DKI Jakarta.

23
LAMPIRAN

PERTANYAAN DARI KELOMPOK PEMBAHASAN (KELOMPOK 4)


1. Pertanyaan dari Manna Shintya Yuliana
Mengapa safety valve harus dioperasikan secara manual?
Jawaban :
Safety valve harus sering dioperasikan secara manual adalah :
 Untuk memastikan fungsi pengaman dari safety valve tetap bekerja
(kemampuan menutup danmembuka tetap bekerja)
 Untuk menjaga mekanisme otomatis dari safety valve tidak terhambat dan
tidak macet
 Untuk memastikan tidak terjadinya perubahan posisi pada sistem safety
valve

2. Pertanyaan dari Daniel Siahaan


Berapa jumlah operator boiler yang ada saat ini di PT. Sari Enesis Indah dan
jumlah Operator yang disarankan?
Jawaban :
Jumlah Operator yang ada di PT. Sari Enesis Indah saat ini adalah :
 Operator Sertifikasi Kemenaker Kelas I = 1 orang
 Operator Sertifikasi Kemenaker Kelas II = 2 orang
 Operator Yang Belum Tersertifikasi = 3 orang
Dengan Jumlah Boiler adalah 6 unit dengan kapasitas masing-masing boiler
sebesar 3 ton/jam.
Kapasitas Total Boiler = 6 x 3 ton/jam = 18 ton/jam < 20 ton/jam
Maka, sesuai dengan Permenakertrans No. 1 tahun 1999, Pasal 3, serta pasal 9,
(Lampiran I), maka dapat dihitung jumlah operator yang seharusnya:
Maka Operator Kelas I = 1 orang (atau boleh tidak ada
Dan Operator Kelas II = Jumlah Boiler/ 2 = 6/2 = 3 orang Operator Kelas II.
Dengan demikian maka, jumlah operator yang ada saat ini di perusahaan
tersebut tidak sesuai, disarankan untuk melakukan sertifikasi operatornya
sesuai dengan peraturan yang berlaku.

24
3. Pertanyaan dari Syaepul Hidayat
Mengapa forklift yang di ruangan harus menggunakan baterai?
Jawaban :
Forklift di dalam ruangan harus menggunakan baterai, hal ini sesuai dengan
Permenakertrans No.5 tahun 1985 Pasal 102, di mana forklift yang di dalam
ruangan tertutup sebaiknya haruslah forklift yang bukan menggunakan motor
bakar. Hal ini untuk mencegah :
 Forklift yang berbahan bakar minyak menghasilkan gas emisi karbon, di
mana jika digunakan dalam ruangan tertutup, maka gas emisi tersebut
berkumpul dan mengendap di dalam ruangan, dan dapat menyebabkan
kesulitan bernafas bagi pekerja, keracunan gas karbon, menyebabkan mata
perih, dan lain-lain.
 Sedangkan jika mengunakan forklift baterai gas emisi yang dihasilkan tidak
ada sehingga lebih ramah lingkungan dan tidak menyebabkan gangguan
akibat dari gas karbon.

4. Pertanyaan dari Lukis Hartinah


Mengapa operator forklift dan operator boiler harus tersertifikasi?
Jawaban :
Operator boiler atau operator forklift, harus disertifikasi agar sesuai dengan
ketentuan Permenakertrans No.9 tahun 2010 pasal 5, untuk sertifikasi operator
forklift, dan Permenakertrans No. 1 tahun 1988 Pasal 3 dan Pasal 9, untuk
sertifikasi operator boiler.
Dimana diketahui bahwa pengoperasian forklift mempunyai resiko bahaya
yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja jika digunakan oleh sembarangan
orang. Oleh karena itu untuk menghilangkan atau mengurangi bahaya resiko
ini, maka semua operator harus dilatih dan disertifikasi dalam pengoperasian
forklift/ boiler.

25
PERTANYAAN DARI AUDIENS UMUM (DISKUSI UMUM)
1. Dari Kelompok 1 : Anggi Wijaya
Mengapa pada forklift yang sedang berjalan garpu harus berada pada
ketinggian minimal 15 cm dari permukaan?
Jawaban:
Pada saat Forklift berjalan kondisi garpu pada forklift harus di angkat minimal
15cm dari tanah. Hal ini sesuai dengan Kemenakertrans No. 05 Tahun 1985
Pasal 113, dimana hal ini berguna :
 Menjaga agar garpu pada forklift tidak rusak akibat gesekan dengan
permukaan lantai kerja
 Menjaga agar lantai kerja tidak rusak akibat gesekan dengan garpu
forklift
 Agar tidak membatasi dan menghalangi jangkauan dan jarak pandang
operator forklift ketika mengangkat muatan.

2. Dari Kelompok 2 : Anita Silaban


Menurut kelompok Anda, alat pelindung diri apa yang harus digunakan pada
ruangan pengoperasian boiler?
Jawaban:
Pada saat pengoperasian boiler, operator boiler harus menggunakan alat
pelindung diri (APD) dimana hal ini sesuai dengan Permenakertrans No. 08
Tahun 2010 Pasal 4 Ayat 1 dimana Alat Pelindung Diri harus digunakan pada
tempat kerja yang dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat,
alat perkakas, peralatan atau instalasi yang berbahaya yang dapat menimbulkan
kecelakaan, kebakaran atau peledakan. Oleh karena itu, alat pelindung diri
yang harus digunakan pada operator boiler antara lain:
 Safety Helmet dan Safety Glasses
 Ear Plug/ Ear Muff
 Sarung Tangan Anti Panas
 Masker
 Coverall
 Safety Shoes

26
PERTANYAAN DARI PENGUJI , IBU IKA SRIWULANDARI
1. Apakah di perusahaan tersebut sudah memiliki jalur khusus yang ditandai
untuk jalur forklift?
Jawaban :
Di PT. Sari Enesis Indah belum memiliki jalur khusus sendiri untuk jalur aman
forklift dimana hal ini dapat mengakibatkan bahaya resiko kecelakaan kerja.
Dan menurut Undang-Undang No. 1 tahun 1970, Pasal 3 tentang mencegah
dan mengurangi kecelakaan, serta Permenakertrans No. 5 tahun 1985, Pasal
105 untuk membuat lantai kerja forklift yang aman dan diberi tanda.

2. Pada temuan positif, menurut Anda hal mana yang dapat lebih ditingkatkan?
Jawaban :
Menurut kami, hal positif yang dapat lebih ditingkatkan adalah penggunaan
forklift yang berbasis baterai, hal ini dikarenakan forklift yang berbasis baterai
lebih ramah lingkungan, dan tidak menghasilkan gas emisi karbon, dimana ini
baik untuk menjaga lingkungan dari efek buruk gas karbon, serta lebih ramah
dan hemat energi dibandingkan forklift berbasis bahan bakar minyak.

3. Dari temuan negatif yang Anda temukan, menurut Anda hal yang manakah
yang paling urgent untuk ditindaklanjuti?
Jawaban :
Menurut kelompok kami, temuan negatif yang paling urgent untuk segera
ditindaklanjuti adalah penanganan dan perbaikan pipa boiler yang bocor. Hal
ini jika dibiarkan lebih lanjut dapat mengakibatkan bahaya resiko yang lebih
besar lagi, yaitu tekanan di dalam boiler bisa tidak terjaga dengan sehingga
mengakibatkan peledakan dan kebakaran. Jika hal ini terjadi, maka akan terjadi
banyak kerugian yang lebih besar lagi, yaitu kerugian bagi perusahaan
kehilangan produksi dan pendapatan, nama baik yang rusak dan lebih parah
lagi adalah kehilangan nyawa dari tenaga kerja (fatality).

27