Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MAKALAH

ORGAN-ORGAN SISTEM MASTIKASI

SEMESTER GENAP

BLOK FUNGSI SISTEM STOMATOGNASI

TAHUN AKADEMIK GENAP 2017-2018

Dosen Pebimbing :

Drg. Izzata Barid., M. Kes

NIP:196805171997022001

Disusun Oleh :

Vinny Kartika Alifiana

NIM : 171610101112

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga makalah
yang berjudul “Organ-Organ Sistem Mastikasi” dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa penulis
mengucapkan terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan
sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Serta harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah
agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penulis, penulis yakin masih


banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jember, 17 April 2018

` Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem mastikasi merupakan unit fungsional dalam pengunyahan, yang mempunyai
komponen-komponen yang harus dapat bekerja serentak secara dinamis dan sinergis dengan
fungsi penelanan. Sistem mastikasi merupakan suatu sistem di daerah stomatognati yang
mempunyai fungsi komplek dan sangat bervariasi, dan pada sistem ini terlibat kerja sama
dari sistem saraf, otot-otot kunyah, rahang atas dan bawah, gigi-gigi, seluruh jaringan lunak
rongga mulut dan bibir (Bradley, 1995; Rensburgh, 1995; Salleh, 2009; Wicaksono, 2013).
Fungsi mastikasi adalah untuk memotong dan menggiling makanan, membantu
mencerna selulosa, memperluas permukaan, merangsang sekresi saliva, mencampur
makanan – saliva, melindungi mukosa, dan mempengaruhi pertumbuhan jaringan mulut
(Salleh, 2009; Wicaksono, 2013).
Mastikasi merupakan tahap awal dalam proses pencernaan. Potongan potongan besar
makanan dikurangi ukurannya menjadi kecil untuk proses penelanan, makanan menjadi
terpisah, dan luas permukaannya meningkat, aktivitas yang efisien dari enzim pencernaan
memfasilitasi solubilisasi zat makanan dalam air liur untuk merangsang reseptor rasa. Pada
proses mastikasi terjadi penghancuran partikel makanan di dalam mulut dibantu dengan
saliva yang dihasilkan oleh kelenjar ludah sehingga mengubah ukuran dan konsistensi
makanan yang akhirnya membentuk bolus yang mudah untuk ditelan. Penghancuran
makanan dilakukan oleh geligi dangan bantuan otot-otot pengunyahan dan pergerakan
kondilus mandibula melalui artikulasi temporomandibula (Andriyani, 2001; Bradley, 1995).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja organ yang berperan pada sistem mastikasi?
1.3 Tujuan
1. Mahasiswa mampu memahami dan mengkaji organ yang berperan pada sistem mastikasi.
BAB II
PEMBAHASAN

1. Lidah
Lidah merupakan organ datar yang mengandung banyak otot, saraf dan glandula.
Lidah berada di dasar mulut di dalam rongga mandibula. Lidah dapat berubah bentuk
sesuai gerakan apa yang dilakukan. Dua pertiga bagian anterior lidah disebut tubuh atau
batang lidah dan sepertiga posterior disebut dasar lidah atau akar lidah. Secara anatomis,
ada dua macam permukaan lidah, yaitu permukaan dorsal dan permukaan ventral (Scheid,
2007).

Otot-otot lidah terdiri dari 2 yaitu:

1. Otot-otot intrinsik lidah

a) Muskulus genioglossus: menarik lidah ke depan dan menjulurkan ujung lidah ke


sisi yang berlawanan. Bila kedua otot berkontraksi bersama, lidah akan menjulur
bersama. Otot ini juga mendepresi lidah
b) Muskulus styloglossus: menarik lidah ke atas dan ke belakang
c) Muskulus palatoglossus: menarik radix linguae ke atas dan ke belakang
d) Muskulus hyoglossus: untuk depresi lidah
2. Otot-otot ekstrinsik lidah

Otot-otot ekstrinsik lidah terdiri dari muskulus vertikal, musculus transversal, dan
muskulus longitudinal superior dan inferior.

Fungsi Lidah
Lidah memiliki beberapa fungsi dalam proses mastikasi (Rensburgh, 1995):
a. Lidah dapat menghancurkan makanan lembut saat berkontak dengan palatum. Fungsi
ini dilakukan oleh rugae palatina dan permukaan dorsal lidah.
b. Lidah mencampur makanan dengan saliva dan menjadi penghubung / penyalur
makanan dari satu sisi ke sisi lainnya, serta menentukan dan memastikan makanan
sudah terkunyah dengan baik.
c. Bagian akhir dari permukaan dorsal lidah memberikan bantuan untuk fungsi-fungsi
seperti yang telah disebutkan di atas dan memungkinkan manusia untuk membedakan
antara makanan yang sudah bisa ditelan dengan makanan yang masih memerlukan
mastikasi. Makanan yang bisa ditelan kemudian disalurkan ke orofaring.
d. Lidah memiliki fungsi higienis, yaitu dengan memindahkan residu makanan dari antara
gigi dan juga vestibulum dengan aksi sweeping.
e. Lidah memiliki fungsi sebagai indera perasa. Terdapat kemoreseptor untuk merasakan
respon rasa asin, asam, pahit, dan rasa manis. Tiap rasa pada zat yang masuk ke dalam
rongga mulut akan direspon oleh lidah di tempat yang berbeda-beda. Letak masing-
masing rasa berbeda-beda yaitu :
- Rasa asin = lidah bagian depan
- Rasa manis = lidah bagian tepi
- Rasa asam = lidah bagian samping
- Rasa pahit = lidah bagian belakang
2. Palatum Keras
Kekasaran yang terdapat di palatum mencegah makanan tergelincir atau berpindah
tempat. Palatum keras merupakan permukaan yang ideal untuk menghancurkan makanan
yang lunak saat berkontak dengan lidah. Besarnya sensitivitas pada bagian akhir palatum
keras memiliki peran dalam mengukur kekasaran makanan dan membantu lidah memilah
makanan yang siap ditelan. Penggunaan gigi tiruan, terutama pada orang berusia lebih tua,
mengurangi sebagian kemampuan pengecapan. Gigi tiruan dapat menghambat individu
untuk merasakan tekstur makanan karena ujung syaraf tertutup oleh gigi tiruan. Karena
alasan yang sama juga, individu akan kurang merasakan temperatur makanan. Rasa pahit
dan asam pada pengecap juga menjadi terganggu karena sensasi kedua rasa ini banyak
terdapat pada palatum keras yang tertutup geligi tiruan (Rensburgh, 1995).

3. Bibir dan Pipi


Fungsi sensorik bibir, terutama dalam menganalisa temperatur dan sentuhan,
memastikan tidak adanya benda / material yang berbahaya masuk ke dalam mulut. Fungsi
mekanis bibir yaitu memperkenankan makanan masuk ke dalam mulut. Dengan menutup
mulut, bibir mencegah keluarnya makanan atau cairan dari dalam mulut. (Rensburgh,
1995)
Pipi juga memiliki peran yang penting dalam mastikasi. Pipi, dibantu dengan otot
buccinators, membantu menyalurkan makananan yang masuk ke vestibulum untuk kembali
ke mulut dan kembali dikunyah (Rensburgh, 1995).
4. Gigi-Geligi
Gigi memegang peranan yang sangat penting pada proses mastikasi. Gigi geligi
manusia terdiri atas 20 buah gigi susu dan 32 buah gigi permanen.
Susunan gigi-geligi yag lengkap pada oklusi sangat penting karena menghasilkan proses
pencernaan makanan yang baik, dimana dengan penghancuran makanan oleh gigi-geligi
sebelum penelanan akan membantu pemeliharaan kesehatan gigi yangbaik. Oklusi yang
baik dan penggantian gigi yang hilang dengan gigi tiruan akan menjaga estetis dan
kesehatan rongga mulut. Dikatakan juga oleh Larsen (1957) bahwa dengan mengunyah dan
memberikan latihan untuk otot-otot dalam mempertahankan fungsi dan kesehatan jaringan
periodontal.

Gigi memiliki bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan fungsinya, yaitu (Raharja,2013):
a. Gigi depan (gigi insisivus).
Bentuknya seperti sekop dengan tepi yang lebar untuk menggigit, hanya mempunyai
satu akar. Gigi insisivus atas lebih besar daripada gigi yang bawah. Gigi ini berfungsi
untuk memotong makanan.
b. Gigi kaninus yang serupa di rahang atas dan rahang bawah.
Gigi ini kuat dan menonjol di sudut mulut. Hanya mempunyai satu akar. Gigi ini
berfungsi untuk mencabik atau menarik makanan.
c. Gigi premolar / gigi molar kecil
Jenis gigi ini hanya ada pada gigi permanen tidak terdapat pada gigi sulung.
Mahkotanya bulat hampir seperti bentuk kaleng tipis, mempunyai dua tonjolan, satu di
sebelah pipi dan satu di sebelah lidah. Kebanyakan gigi premolar mempunyai satu akar,
beberapa mempunyai dua akar. Berfungsi untuk membantu menggiling makanan.
d. Gigi molar
Merupakan gigi-gigi dengan bentuk paling besar di rongga mulut yang berada di paling
belakang dari gigi lain. Semua gigi molar mempunyai mahkota persegi, seperti blok-
blok bangunan. Ada yang mempunyai tiga, empat, atau lima tonjolan. Gigi molar di
rahang atas mempunyai tiga akar dan gigi molar di rahang bawah mempunyai dua akar.
Berfungsi untuk menggiling dan mengunyah makanan.
5. Glandula Saliva
Menurut Tortora (2009) sebagian besar saliva disekresi oleh glandula saliva mayor
yang terdiri dari glandula parotidea, glandula submandibular, dan glandula lingual. Selain
itu terdapat kelenjar saliva minor contohnya kelenjar bukal yang melapisi mukosa bukal.
Saliva terdiri dari 99% H2O, 0,5% protein dan elektrolit. Protein pada air liur berupa
amylase, mucus, dan lysozime (Sherwood, 2001).
Peran saliva:
Menurut Sherwood (2001) air liur memiliki beberapa fungsi yaitu:
a. Memulai pencernaan dalam mulut melalui enzim amylase.
b. Mempermudah proses menelan dengan cara membasahi partikel makanan dan
memberi pelumas karna adanya mucus.
c. Sebagai pertahanan tubuh karna mengandung Immunoglobulin A, peroksin dan
lisozym yang memiiki efek ganda yaitu menghancurkan bakteri dan membilas bahan
makanan yang memungkinkan menjadi sumber makanan bakteri.
d. Sebagai pelarut molekul-molekul yang merangsang papilla karna hanya molekul
dalam larutan yang dapat bereaksi dengan reseptor papilla.
e. Membantu berbicara karna mempermudah gerakan bibir dan lidah.
f. Membantu menjaga kebersihan mulut dan gigi. Aliran saliva dapat membilas residu
makanan.
g. Membantu mencegah karies dengan menetralkan asam dimakanan serta asam yang
dihasilkan bakteri

6. Faring
Faring merupakan saluran yang menghubungkan antara hidung ke trakea dan mulut
ke esophagus. Faring berbentuk seperti tabung kerucut karena oada bagian awal nya besar
dan akan menyempit saat menuju akhir sehingga menyerupai corong.
Ada 3 bagian utama yang terdapat pada faring- bagian-bagian tersebut meliputi:
a. Nasofaring
Nasofaring merupakan faring yang terletak di belakang rongga hidung dan
bagian ini hanya dapat dilalui oleh udara saja.
b. Orofaring
Merupakan bagian faring yang letaknya dibelakang rongga mulut. Berperan
dalam sistem pernapasan dan pencernaan dan dapat dilewati oleh udara dan juga
makanan.
Dalam orofaring terdapat klep yang disebut epiglotis yang berfungsi sebagai
pengatur agar makanan tidak masuk ke saluran pernapasan.
Saat proses bernapas berlangsung, klep tersebut akan membuka saluran
pernapasan dan menutup saluran pencernaan, sedangkan saat kita akan menelan
makanan klep akan membuka saluran pencernaan dan menutup saluran
pernapasan.
Dibagian dinding lateral terdapat tonsil palatina yang tersusun dari jaringan
limfotik dan berguna untuk melindunginya dari infeksi.
c. Laringofaring
Merupakan bagian akhir dari faring dan dilewati oleh udara dan
makanan. Laringofaring adalah tempat atau titik temu saluran pencernaan dan
pernapasan. Saat proses menelan, maka saluran pernapasan akan tertutup oleh
sebab itu kita tidak bisa bernapas saat menelan.
Laringofaring dilapisi sel epite skuamosa yang berlapis. Laringofaring biasanya
disebut juga dengan sebutan hipofaring.

7. Laring
Laring atau yang juga dikenal dengan kotak suara (voicebox) adalah organ pada
bagian leher yang melindungi trakea dan merupakan organ yang terlibat dalam proses
produksi suara. Laring termasuk salah satu organ dalam sistem pernapasan manusia. Fungsi
laring dalam sistem pernapasan adalah untuk melindungi organ setelahnya dan mengatur
masuknya udara ke trakea. Karena trakea menempel dengan esofagus (organ sistem
pencernaan) maka dapat dikatakan bahwa laring juga berperan dalam menjaga keamanan
sistem pencernaan.

Fungsi laring untuk mengarahkan makanan ke esofagus. Saat makan, epiglotis dari laring
akan membuka esofagus untuk mengarahkan makanan dan air menuju ke saluran
pencernaan, tidak ke saluran pernapasan. Jika kita makan sambil berbicara, akan ada
makanan atau air yang masuk ke saluran pernapasan, hal inilah yang menyebabkan
terjadinya refleks batuk atau bersin
BAB III
PENUTUP

1.1 Simpulan
Proses mastikasi merupakan suatu proses yang sangat berhubungan dengan kehidupan
sehari-hari. Proses ini dapat terjadi karena adanya kolaborasi beberapa organ, seperti bibir,
geligi, lidah, palatum keras dan lunak, sendi temporomandibula, faring, dan banyak otot.
Koordinasi optimal organ-organ ini menghaluskan makanan menjadi bolus (Andriyani,
2001; Rensburgh, 1995; Bradley, 1995).
Proses mastikasi berkaitan erat dengan proses pengecapan dan proses penelanan.
Pengecapan dilakukan oleh papilla pengecap yang berada pada lidah dan palatum. Penelanan
berhubungan dengan beberapa organ dan otot, serta kontrol nervus secara sadar ataupun tidak
sadar. Menelan dibagi menjadi fase persiapan, oral, faring, dan fase esophageal (Andriyani,
2001; Rensburgh, 1995; Bradley, 1995).
DAFTAR PUSTAKA

Berkovitz B.K.B,dll. 2002. Oral Anatomy, Histology and Embryology 3rd. Elsevier: Mosby.

Guyton dan Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Hartcourt.Int.ed

Moore,K.L. & Anne M.R. Agur. 2002. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta:Hipokrates.

Dorland. 2008. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Edisi 25. Alih Bahasa dr. Poppy Kumala; dr.
Sugiarto Komala; dr. Alexander H; et. al. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.