Anda di halaman 1dari 22

A.

Pengertian Bencana
Berdasarkan Undang-Undang nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, bencana
merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun
faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda dan dampak psikologis.
Undang-Undang nomor 24 tahun 2007 mengelompokkan bencana menjadi bencana alam, bencana
nonalam, bencana sosial. Bencana alam merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung
meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor.

Bencana nonalam merupakan bencana yang diakibatkan oleh fenomena nonalam antara lain berupa
kegagalan teknologi, kegagalan modernisasi dan epidemi atau wabah penyakit.

Bencana sosial merupakan bencana yang diakibatkan oleh interaksi antarmanusia yang meliputi
konflik sosial antarkelompok atau konflik antarkomunitas masyarakat dan terorisme.

B. Jenis-Jenis Bencana Alam


1. Bencana alam yang disebabkan oleh dinamika Litosfer
a. Letusan gunung api
Letusan gunung api merupakan proses keluarnya magma yang berada di perut bumi ke permukaan
bumi berupa material padat berupa bom, lavili dan deb vulkanik, material cair berupa lahar dan
material gas berupa awan panas
b. Tanah longsor
Tanah longsor merupakan gerakan masa batuan atau tanah menuruni lereng atau tebing.

c. Gempa bumi
Gempa bumi merupakan getaran pada permukaan bumi yang diakibatkan oleh pergerakan dan/atau
interaksi lempeng tektonik serta aktivitas vulkanik

2. Bencana alam yang disebabkan oleh dinamika Hidrosfer


a. Banjir
Fenomena banjir merupakan peristiwa meluapnya air dari sungai sehingga menggenangi wilayah
daratan yang normalnya kering. Banjir umumnya terjadi ketika volume air pada sungai melebihi
daya tampung sungai tersebut.

b. Tsunami
Fenomena tsunami merupakan gelombang pasang yang terjadi akibat akibat aktivitas tektonik dan
letusan gunung api yang terdapat di dasar laut
3. Bencana alam yang disebabkan oleh dinamika Atmosfer
a. Badai tropis
Dalam meteorologi dikenal istilah Badai Tropis yang merupakan pusaran angin tertutup pada suatu
wilayah bertekanan udara rendah. Kekuatan angin yang terjadi pada Badai Tropis dapat mencapai
kecepatan lebih dari 128 km/jam dengan jangkauan lebih dari 200 Km dan berlangsung selama
beberapa hari hingga lebih dari satu minggu.

b. Tornado
Tornado adalah kolom udara yang berputar kencang yang membentuk hubungan antara awan
cumulonimbus atau dalam kejadian langka dari dasar awan cumulus dengan permukaan tanah. Tornado
muncul dalam banyak ukuran namun umumnya berbentukcorong kondensasi yang terlihat jelas yang ujungnya
yang menyentuh bumi menyempit dan sering dikelilingi oleh awan yang membawa puing-puing. Umumnya
tornado memiliki kecepatan angin 177 km/jam atau lebih dengan rata-rata jangkauan 75 m dan menempuh
beberapa kilometer sebelum menghilang. Beberapa tornado yang mencapai kecepatan angin lebih dari 300-
480 km/jam memiliki lebar lebih dari satu mil (1.6 km) dan dapat bertahan di permukaan dengan lebih dari
100 km.

C. Karakteristik Bencana Alam


1. Karakteristik letusan gunung api
Gunung berapi adalah bukaan, atau rekahan, pada permukaan atau kerak Bumi, yang membenarkan
gas, abu, dan batu cair yang panas bebas jauh di dalam bawah permukaan bumi. Aktiviti gunung
berapi membabitkan extrusion of rock yang cenderung membentuk gunung atau ciri-ciri berbentuk
gunung melalui tempoh masa.
Gunung berapi yang akan meletus dapat diketahui melalui beberapa tanda, antara lain:
- Suhu di sekitar gunung naik.
- Mata air menjadi kering
- Sering mengeluarkan suara gemuruh, kadang disertai getaran (gempa)
- Tumbuhan di sekitar gunung layu
- Binatang di sekitar gunung bermigrasi

Berikut adalah hasil dari letusan gunung berapi, antara lain :


a) Gas vulkanik
Gas yang dikeluarkan gunung berapi pada saat meletus. Gas tersebut antara lain Karbon
monoksida (CO), Karbon dioksida (CO2), Hidrogen Sulfida (H2S), Sulfur dioksida (S02), dan
Nitrogen (NO2) yang dapat membahayakan manusia.
b) Lava dan aliran pasir serta batu panas
Lava adalah cairan magma dengan suhu tinggi yang mengalir dari dalam Bumi ke permukaan
melalui kawah. Lava encer akan mengalir mengikuti aliran sungai sedangkan lava kental akan
membeku dekat dengan sumbernya. Lava yang membeku akan membentuk bermacam-macam
batuan.
c) Lahar
Lahar adalah lava yang telah bercampur dengan batuan, air, dan material lainnya. Lahar sangat
berbahaya bagi penduduk di lereng gunung berapi.
d) Hujan Abu
Yakni material yang sangat halus yang disemburkan ke udara saat terjadi letusan. Karena
sangat halus, abu letusan dapat terbawa angin dan dirasakan sampai ratusan kilometer jauhnya. Abu
letusan ini bisa menganggu pernapasan.
e) Awan panas
Yakni hasil letusan yang mengalir bergulung seperti awan. Di dalam gulungan ini terdapat
batuan pijar yang panas dan material vulkanik padat dengan suhu lebih besar dari 600 °C. Awan
panas dapat mengakibatkan luka bakar pada tubuh yang terbuka seperti kepala, lengan, leher atau
kaki dan juga dapat menyebabkan sesak napas.

2. Karakteristik tanah longsor


Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan
rombakan,tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng.
Faktor-faktor yang menyebabkan longsor
Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari gaya
penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah.
Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut kemiringan lereng, air, beban serta
berat jenis tanah batuan.
Faktor penyebab terjadinya gerakan pada lereng juga tergantung pada kondisi batuan dan
tanah penyusun lereng, struktur geologi, curah hujan, vegetasi penutup dan penggunaan lahan pada
lereng tersebut, namun secara garis besar dapat dibedakan sebagai faktor alam dan faktor manusia:
a) Faktor alam
• Kondisi geologi : batuan lapuk, kemiringan lapisan, sisipan lapisan batu lempung, strukutur sesar
dan kekar, gempa bumi, stragrafi dan gunung berapi.
• Iklim : curah hujan yang tinggi.
• Keadaan topografi : lereng yang curam.
• Keadaan air : kondisi drainase yang tersumbat, akumulasi massa air, erosi dalam, pelarutan dan
tekanan hidrostatika.
• Tutup lahan yang mengurangi tahan geser, misalnya tanah kritis.
• Getaran yang diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalu lintas
kendaraan.
b) Faktor manusia
• Pemotongan tebing pada penambangan batu di lereg yang terjal.
• Penimbunan tanah urugan di daerah lereng.
• Kegagalan struktur dinding penahan tanah.
• Penggundulan hutan.
• Budidaya kolam ikan diatas lereng.
• Sistem pertanian yang tidak memperhatikan irigasi yang aman.
• Pengembangan wilayah yang tidak di imbangi dengan kesadaran masyarakat, sehingga RUTR tidak
ditaati yang akhirnya merugikan sendiri.
• Sistem drainase daerah lereng yang tidak baik.
Ciri-ciri tanah longsor yaitu sebagai berikut :
• Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing. Biasanya terjadi setelah
hujan.
• Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.
• Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.
• Jika musim hujan biasanya air tergenang, menjelang bencana itu, airnya langsung hilang.
• Pintu dan jendela yang sulit dibuka.
• Runtuhnya bagian tanah dalam jumlah besar.
• Pohon/tiang listrik banyak yang miring.
• Halaman/dalam rumah tiba-tiba ambles.
Ada enam jenis longsor, yaitu: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok, runtuhan
batu, rayapan tanah dan aliran bahan rombakan. Jenis longsoran translasi dan rotasi paling banyak
terjadi di Indonesia sedangkan longsoran yang
paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan.

3. Karakteristik gempa bumi


Gempabumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-
tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Akumulasi energi penyebab
terjadinya gempabumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang
dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang gempabumi sehingga efeknya dapat
dirasakan sampai ke permukaan bumi.
Karakteristik Gempabumi
- Berlangsung dalam waktu yang sangat singkat
- Lokasi kejadian tertentu
- Akibatnya dapat menimbulkan bencana
- Berpotensi terulang lagi
- Belum dapat diprediksi
- Tidak dapat dicegah, tetapi akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi
Tipe gempa bumi
a. Gempa bumi vulkanik ( Gunung Api ) ; Gempa bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma,
yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus.
b. Gempa bumi tektonik ; Gempa bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu
pergeseran lempeng lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang
sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempabumi ini banyak menimbulkan kerusakan atau
bencana alam di bumi, getaran gempa bumi yang kuat mampu menjalar keseluruh bagian bumi.
c. Gempa bumi tumbukan ; Gempa bumi ini diakibatkan oleh tumbukan meteor atau asteroid yang
jatuh ke bumi, jenis gempa bumi ini jarang terjadi.
d. Gempa bumi runtuhan ; Gempa bumi ini biasanya terjadi pada daerah kapur ataupun pada daerah
pertambangan, gempabumi jarang terjadi dan bersifat lokal.
e. Gempa bumi buatan ; Gempa bumi buatan adalah gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas dari
manusia, seperti peledakan dinamit, nuklir atau palu yang dipukulkan ke permukaan bumi

4. Karakteristik banjir
Banjir merupakan peristiwa meluapnya air dari sungai sehingga menggenangi wilayah daratan yang
normalnya kering. Banjir umumnya terjadi ketika volume air pada sungai melebihi daya tampung
sungai tersebut.
Berdasarkan penyebabnya, banjir dapat dikategorikan dalam empat kategori yaitu:
a. Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran sistem pengaliran air
yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase buatan manusia
b. Banjir yang disebabkan meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang laut maupun
meningginya gelombang laut akibat badai.
c. Banjir yang disebabkan oleh kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan, bendung,
tanggul dan bangunan pengendalian banjir.
d. Banjir akibat kegagalan bendungan alam atau penyumbatan aliran sungai akibat
runtuhnya/longsornya tebing sungai.
Pada umumnya banjir yang berupa genangan maupun banjir bandang bersifat merusak. Aliran arus
air yang cepat dan bergolak dapat mengakibatkan korban jiwa karena aliran air yang sangat deras
dan besar dapat membuat orang hanyut atau tenggelam. Aliran air yang membawa material tanah
yang halus akan mampu manyeret material yang lebih berat sehingga daya rusaknya akan lebih
tinggi. Banjir mampu merusak pondasi bangunan, pondasi jembatan dan lainnya yang dilewati
sehingga menyebabkan kerusakan parah pada bangunan tersebut bahkan mampu merobohkan
bangunan dan mampu menghanyutkannya.

5. Karakteristik tsunami
Tsunami berasal dari bahasa Jepang. “tsu” berarti pelabuhan, “nami” berarti gelombang sehingga
secara umum diartikan sebagai pasang laut yang besar di pelabuhan.
Ada beberapa penyebab terjadinya tsunami:
- Bempabumi yang diikuti dengan dislokasi/perpindahan masa tanah/batuan yang sangat besar di
bawah air (laut/danau).
- Tanah longsor di bawah tubuh air/laut
- Letusan gunung api di bawah laut dan gunung api pulau
Besar kecilnya gelombang tsunami sangat ditentukan oleh karakteristik gempa bumi yang
memicunya. Besar kecilnya tsunami yang yang terjadi di samping tergantung pada bentuk morfologis
pantai juga dipengaruhi oleh karakteristik sumber gangguan implusif yang ditimbulkannya.
Karakteristik gelombang tsunami meliputi energi, magnitudo, kedalaman pusat gempa, mekanisme
fokus dan luas rupture area.
Beberapa karakteristik Tsunami, antara lain :
- Tinggi gelombang tsunami di tengah lautan mencapai lebih kurang 5 meter. Serentak sampai pantai
tinggi gelombang ini dapat mencapai 30 meter.
- Panjang gelombang tsunami (50-200 km) jauh lebih besar dari pada gelombang pasang laut (50-150
m). Panjang gelombang tsunami ditentukan oleh kekuatan gempa, sebagai contoh gempabumi
tsunami dengan kekuatan magnitude 7-9 panjang gelombang tsunami berkisar 20-50 km dengan
tinggi gelombang 2 m dari permukaan laut.
- Periode waktu gelombang tsunami yang berkekuatan tinggi hanya berperiode durasi gelombang
sekitar 10-60 menit, sedangkan gelombang pasang bisa berlangsung lebih lama 12-24 jam.
- Cepat rambat gelombang tsunami sangat tergantung pada kedalaman laut, bila kedalaman laut
berkurang setengahnya, maka kecepatan berkurang tiga perempatnya.
6. Karakteristik badai tropis
Badai tropis terbentuk di atas samudera yang umumnya bersuhu permukaan hangat atau lebih dari
26,50C.
Syarat utama untuk dapat tumbuh dan berkembangnya siklon tropis adalah kelembaban udara yang
tinggi karena banyaknya kandungan uap air. Syarat tersebut dapat dipenuhi oleh daerah perairan (
lautan) di zona tropis dan subtropis yang temperaturnya dapat mencapai > 2600C.

Karakter badai tropis:


- Sebagai tiupan angin yang merusak
- Meningkatkan jumlah curah hujan dan intensitas hujan
- Menimbulkan gelombang badai di pantai
- Rata-rata durasi badai tropis 6 hari, tetapi dapat terjadi < 24 jam namun ada pula yang durasinya
sampai 3 minggu
- Dalam citra satelit tampak sebagai kumpulan awan melingkar dengan radius hingga 300 km
Dampak siklon tropis bisa berupa angin kencang, hujan deras selama berjam-jam hingga berhari-hari,
banjir, gelombang tinggi dan gelombang badai

7. Karakteristik tornado
Tornado merupakan pusaran udara yang bergerak cepat dan berbentuk corong spiral. Tornado
umumnya berkaitan erat dengan pertumbuhan awan badai. Kecepatan tornado berkisar mulai dari 72
km per jam hingga lebih dari 400 km per jam.
Ciri ciri datangnya Tornado:
1. Langit terlihat hitam atau mendung.
2. Terjadi hujan es di sekitar daerah (biasanya durasi selama 20-25mnt)
3. Setelah terjadi badai hujan maka suasana akan tenang namun langit semakin hitam gelap
4. Awan bergerak cepat sehingga mengitari daerah kita
5. Kemunculan Tornado bisa didengar. Awalnya suara nya seperti air terjun, namun lama lama
berubah menjadi seperti suara jet yang sangat keras
Perubahan lapisan udara merupakan pemicu lahirnya Tornado dalam hal ini jika lapisan udara dingin
berada diatas lapisan udara panas, udara panas naik dengan kecepatan 300-an km/jam, udara yang
menyusup dari sisi inilah yang mengakibatkan angin berputar sehingga membentuk tornado, dan bila
sudah sempurna maka sebuah tornado bisa memiliki kecepatan hingga 400 Km/jam serta lebar
cerobong antara 15 - 365 meter.
Proses terjadinya badai tornado:
Udara panas yang terus menerus menghantam bumi akan menyebabkan suhu tanah meningkat.
Dan ketika suhu panas meningkat, udara panas dan lembab yang ada di udara akan mulai naik dan
semakin naik.

Ketika udara panas, udara lembab dan dingin memenuhi udara kering, dan terangkat ke atas,
kemudian akan masuk ke lapisan udara atas. Pada fase ini sebuah awan petir mulai tercipta.

Pergerakan udara keatas yang terjadi sangat cepat dan adanya angin dari sisi samping
menyebabkan arah yang berbeda dan membentuk sebuah pusaran.
Sebuah kerucut hasil putaran udara yang berpilin tersebut mulai terbentuk dan terlihat dari awan
ke permukaan tanah. Seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

D. Sebaran Daerah Rawan Bencana Alam di Indonesia


Beberapa daerah sebaran rawan bencan alam di Indonesia yaitu:
1. Gempa bumi
Indonesia merupakan daerah rawan gempabumi karena dilalui oleh jalur pertemuan 3
lempeng tektonik, yaitu: Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.
Lempeng Indo-Australia bergerak relatip ke arah utara dan menyusup kedalam lempeng
Eurasia, sementara lempeng Pasifik bergerak relatip ke arah barat.
Jalur pertemuan lempeng berada di laut sehingga apabila terjadi gempabumi besar dengan
kedalaman dangkal

2. Gunung meletus
Jumlah Gunung Api atau Gunung berapi di Indonesia yang masih aktif 129 buah yang tersebar
di wilayah Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Papua.
Daftar Gunung Berapi di Indonesia (disusun berdasarkan letak)
Gunung di Papua (14 buah - termasuk puncak-puncaknya)
Gunung Puncak Carstenz Pyramid(4,884 m.dpl) merupakan gunung tertinggi di Indonesia.
Gunung Puncak Jaya(4,860 m.dpl)
Gunung Puncak Trikora(4,730 m.dpl)
Gunung Puncak Idenberg (4,643 m.dpl)
Gunung Dom (1,332 m.dpl)
Gunung Derabaro (4,150 m.dpl)
Gunung Yamin (4,595 m.dpl)
Gunung Yaramamafaka (3,370 m.dpl)
Gunung Redoura (3,083 m.dpl)
Gunung Togwomeri (2,680 m.dpl)
Gunung Mandala (4,640 m.dpl)
Gunung Ngga Pilimsit(4,717 m.dpl)
Gunung Foja (1,800 m.dpl)
Gunung Cyrcloop (2,034 m.dpl)

Gunung di Jawa (37 buah)


Gunung Anjasmara (2.277 m)
Gunung Argapura (3.088 m)
Gunung Arjuno (3.339 m)
Gunung Bromo (2.392 m)
Gunung Bukit Tunggul (2.208 m)
Burangrang (2.057 m)
Gunung Ciremay/Cereme (3.078 m)
Gunung Cikuray (2.818 m)
Gunung Galunggung (2.167 m)
Gunung Gede (2.958 m)
Gunung Guntur (2.249 m)
Gunung Karang (1.245 m) sekitar 40 KM selatan Pandeglang
Gunung Kembar I (3.052 m)
Gunung Kembar II (3.126 m)
Gunung Krakatau
Gunung Lasem (806 m) Rembang Jawa Tengah
Gunung Lawu (3.245 m)
Gunung Semeru (3.676m) gunung tertinggi di pulau Jawa dan gunung berapi ketiga tertinggi di
Indonesia
Gunung Malabar (2.343 m)
Gunung Masigit (2.078 m)
Gunung Merapi (2.911 m)
Gunung Merbabu (3.145 m)
Gunung Muria (1.602 m)
Gunung Pangrango (3.019 m)
Gunung Papandayan (2.665 m)
Gunung Patuha (2.386 m)
Gunung Penanggungan (1.653 m)
Gunung Raung (3.332 m)
Gunung Salak (2.211 m)
Gunung Slamet (3.432 m)
Gunung Sumbing (3.336 m)
Gunung Sundara (3.150 m)
Gunung Tangkuban Perahu (2.084 m)
Gunung Ungaran (2,050 m)
Gunung Wayang (2.181 m)
Gunung Welirang (3.156 m)
Gunung Wilis (2.552 m)
Gunung Kelud (1.350 m)
Gunung di Kalimantan (4 buah)
Gunung Palung (1.116 m) Kalimantan Barat
Gunung Raya (2.278 m) Kalimantan Tengah
Gunung Liangpran (2.240 m) Kalimantan Timur
Gunung Halau (1.892 m) Kalimantan Selatan
Gunung di Sulawesi (10 buah)
Gunung Awu (1.320 m) Kepulauan Sangihe
Gunung Lokon (1.689 m)
Gunung Klabat(1995 mdpl)
Gunung Mekongga (2.620 m)
Gunung Mahawu (1311 mdpl)
Gunung Bawakaraeng (2.705 m)
Gunung Latimojong (3.478 m)
Gunung Lokon (1580 mdpl)
Gunung Lompobattang (2871 m)
Gunung Soputan (1783 m)
Gunung di Sumatra (13 buah)
Gunung Dempo (3159 m) Sumatra Selatan
Gunung Kerinci (3.805 m) Jambi gunung tertinggi di Sumatra, kedua di Indonesia dan gunung
berapi tertinggi di Indonesia
Gunung Sinabung (2.475 m) Sumatra Utara
Gunung Sibayak (2.212 m) Sumatra Utara
Gunung Pesagi (2.262 m) Lampung
Gunung Singgalang (2.877 m) Sumatra Barat
Gunung Marapi (2,891.3 m) Sumatra Barat
Gunung Talamau (2,912 m) Sumatra Barat
Gunung Tandikat (2438 m) Sumatra Barat
Gunung Leuser (3172 m) NAD
Gunung Perkison (2300 m) NAD
Gunung Talang (2600 m) Sumatra Barat
Gunung Sago (2500 m) Sumatra Barat
Bali & Nusa Tenggara (20 buah)
Gunung Agung (3.142 m) di Bali
Gunung Ebulolobo (2,123)
Gunung Inielika (1,559)
Gunung Kondo (2,947)
Gunung Nangi (2,330)
Gunung Rinjani (3.726 m) di Lombok, gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia
Gunung Sangeang (1,949)
Gunung Tambora (2.850 m) di pulau Sumbawa
Gunung Anak Ranakah (2,402)
Gunung Ebulabo (2,123)
Gunung Egon (1,703)
Gunung Iliboleng (1,659)
Gunung Iliwerung (1,486)
Gunung Inerie (2,230)
Gunung Keknemo (2,070)
Gunung Kelimutu (1,385)
Gunung Lewotobi Laki-laki (1,584)
Gunung Lewotobi Perempuan (1,703)
Gunung Lewotolo (1,319)
Gunung Loreboleng (1,117)

3. Tanah longsor
4. Banjir
5. Arus laut dan ombak besar
6. Tsunami
7. Kekeringan
8. Kebakaran hutan
9. Bencana angin: badai tropis dan puting bliung
10. Gas beracun

E. Dampak Positif Bencana Alam


1. Letusan Gunung Berapi
Letusan gunung berapi juga sebenarnya membawa berkah meski hanya bagi penduduk yang ada di
sekitar. Berikut uraiannya:
a. Tanah yang dilalui oleh hasil abulkanis gunung berapi sangat baik bagi pertanian sebab tanah tersebut
secara alamiah menjadi lebih subur dan bisa menghasilkan tanaman yang jauh lebih berkualitas.
Tentunya bagi penduduk sekitar pegunungan yang mayoritas petani, hal ini sangat menguntungkan.
b. Terdapat mata pencaharian baru bagi rakyat sekitar gunung berapi yang telah meletus, apa itu?
Jawabannya penambang pasir. Material vulkanik berupa pasir tentu memiliki nilai ekonomis.
c. Selain itu, terdapat pula bebatuan yang disemburkan oleh gunung berapi saat meletus. Bebatuan
tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangungan warga sekitar gunung.
d. Meski ekosistem hutan rusak, namun dalam beberapa waktu, akan tumbuh lagi pepohonan yang
membentuk hutan baru dengan ekosistem yang juga baru.
e. Setelah gunung meletus, biasanya terdapat geyser atau sumber mata air panas yang keluar dri dalam
bumi dengan berkala atau secara periodik. Geyser ini kabarnya baik bagi kesehatan kulit.
f. Muncul mata air bernama makdani yaitu jenis mata air dengan kandungan mineral yang sangat
melimpah.
g. Pada wilayah vulkanik, potensial terjadi hujan orografis. Hujan ini potensial terjadi sebab gunung
adalah penangkan hujan terbaik.
h. Pada wilayah yang sering terjadi letusan gunung berapi, sangat baik didirikan pembangkit listrik.
2. Tanah Longsor
Dampak positif dari tanah longsor adalah:
- Tanah kembali menjadi gembur
- Perubahan tekstur dan bentuk gunung
- Mempercepat dan memperbanyak proses peleburan batu dalam tanah
3. Gempa Bumi
Dampak positif dari gempa bumi adalah:
- Menciptakan alat-alat tekhnologi pendeteksi gempa
- Menjadikan kita peduli pada sesama
- Meningkatkan kewaspadaan manusia
- Menjadi tempat pariwisata
- Menjadi sumber berita
- Mengurangi kepadatan penduduk
4. Banjir
Dampak positif dari banjir adalah:
- Masyarakat jadi sadar kalau selama ini kurang kesadaran terhadap lingkungan sehingga terkena
banjir
- Masyarakat menjadi semakin sadar pentingnya menjaga agar tidak terjadi terjadi banjir
5. Tsunami
Dampak positif dari tsunami adalah:
- Bencana alam merenggut banyak korban, sehingga lapangan pekerjaan menjadi terbuka luas bagi
yang masih hidup
- Menjalin kerjasama dan bahu membahu untuk menolong korban bencana,menimbulkan efek
kesadaran bahwa manusia itu saling membutuhkan satu sama lain
- Kita bisa mengetahui sampai dimanakah kekuatan konstruksi bangunan kita serta kelemahannya dan
kita dapat melakukan inovasi baru untuk penangkalan apabila bencana tersebut datang kembali tetapi
dengan konstruksi yang lebih baik
6. Badai Tropis
Dampak positif dari badai tropis adalah:
- Secara global siklon tropis sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan panas atmosfer bumi
dengan cara memindahkan panas, dan kelembaban yang tinggi di daerah tropis ke wilayah sub tropis
dan kutub yang lebih dingin.
- Pada beberapa situasi khusus, siklon tropis membawa dampak positif bagi wilayah- wilayah yang
terkenda dampaknya. Di wilayah Jepang, sebagian besar curah hujan yang turun merupakan dampak
dari typhoon. Hurricane Camille mengakhiri kondisi kekeringan dan kesulitan air pada daerah-daerah
yang dilewatinya.
7. Tornado
Ternyata dibalik dasyatnya tornado tornado menyimpan manfaat :
- Menjaga suhu daerah yang dilalui tornado agar daerah tersebut tidak terlalu dingin/panas karena
tornado membawa angin dari derah lain yang biasanya dari daerah lebih dingin,lebih panas dari
daerah yang diterjang angin

F. Dampak Negatif Bencana Alam


1. Letusan Gunung Berapi
Gunung berapi yang meletus tentu akan membawa material yang berbahaya bagi organisme yang
dilaluinya, Karena itu kewaspadaan mutlak diperlukan. Berikut ini hal negatif yang bisa terjadi saat
gunung meletus:
a. Tercemarnya udara dengan abu gunung berapi yang mengandung bermacam-macam gas mulai dari
Sulfur Dioksida atau SO2, gas Hidrogen sulfide atau H2S, No2 atau Nitrogen Dioksida serta beberapa
partike debu yang berpotensial meracuni makhluk hidup di sekitarnya.
b. Dengan meletusnya suatu gunung berapi bisa dipastikan semua aktifitas penduduk di sekitar wilayah
tersebut akan lumpuh termasuk kegiatan ekonomi.
c. Semua titik yang dilalui oleh material berbahaya seperti lahar dan abu vulkanik panas akan merusak
pemukiman warga.
d. Lahar yang panas juga akan membuat hutan di sekitar gunung rusak terbakar dan hal ini berarti
ekosistem alamiah hutan terancam.
e. Material yang dikeluarkan oleh gunung berapi berpotensi menyebabkan sejumlah penyakit misalnya
saja ISPA.
f. Desa yang menjadi titik wisata tentu akan mengalami kemandekan dengan adanya letusan gunung
berapi. Sebut saja Gunung Rinjani dan juga Gunung Merapi, kedua gunung ini dalam kondisi normal
merupakan salah satu destinasi wisata terbaik bagi mereka wisatawan pecinta alam.
2. Tanah Longsor
Dampak negatif dari tanah longsor adalah:
- Korban jiwa
- Rusaknya infrastruktur
- Rusaknya sumber mata pencaharian warga
- Buruknya sanitasi lingkungan
3. Gempa Bumi
Dampak negatif dari gempa bumi adalah:
- Membuat banyak orang meninggal
- Merusak fasilitas umum
- Wilayah menjadi rusak
- Banyaknya pengangguran karena kantornya hancur
- Berkurangnya sumber daya alam dan sumber daya manusia
- Jaringan transportasi dah komunikasi terganggu
4. Banjir
Dampak negatif dari banjir adalah:
- Merusak sarana dan prasarana rumah, gedung, jembatan, jalan, dll
- Memutuskan jalur transportasi, akibat genangan air maka jalur transportasi jadi tidak bisa dilalui
- Bisa merusak dan bahkan menghilangkan peralatan, perlengkapan, harta benda lainnya atau bahkan
jiwa manusia
- Bisa mengakibatkan pemadaman listrik, karena ada genangan air maka listrik diwilayah tersebut
harus dipadamkan karena bisa berbahaya
- Mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak bisa keluar rumah, tidak bisa ke kantor, sekolah, dll
- Dapat mencemari lingkungan sekitar kita, saat banjir datang tidak hanya air, tetapi juga membawa
serta sampah, kotoran, limbah, dll selain dapat mencemari sumber air bersih, banjir juga akan
mengotori, halaman atau bahkan rumah kita sehingga menjadi tidak hiegienis.
- Mendatangkan masalah / gangguan kesehatan (penyakit)
5. Tsunami
Dampak negatif dari tsunami adalah:
- Merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa
manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih.
- Banyak tenaga kerja ahli yang menjadi korban sehingga sulit untuk mencari lagi tenaga ahli yang
sesuai dalam bidang pekerjaanya
- Pemerintah akan kewalahan dalam pelaksaan pembangunan pasca bencana karena faktor dana yang
besar
- Menambah tingkat kemiskinan apabila ada masyarakat korban bencana yang kehilangan segalanya
6. Badai Tropis
- Angin kecepatan tinggi
- Gelombang laut (storm surge)
- Hujan deras
- Angin tornado
7. Tornado
Dampak yang ditimbulkan akibat angin puting beliung/ tornado dapat menghancurkan area
seluas 5 km dan tidak ada lagi angin puting beliung/tornado susulan. Rumah akan hancur dan tanaman
akan tumbang diterjang angin puting beliung, mahluk hidup bisa sampai mati karena terlempar atau
terbentur benda keras lainnya yang ikut masuk pusaran angin. Jaringan telepon,internet, dan listrik
akan terganggu akibat angin putting beliung/tornado, dan dapat merusak infrastruktur daerah/kota.

G. Pengertian Mitigasi dan Adaptasi Penanggulangan Bencana Alam


1. Pengertian Mitigasi Bencana
Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, mitigasi didefinisikan sebagai serangkaian upaya
untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan
peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
Beberapa tujuan utama mitigasi bencana alam yaitu:
1. Mengurangi resiko bencana bagi penduduk dalam bentuk korban jiwa, kerugian ekonomi dan
kerusakan sumber daya alam.
2. Menjadi landasan perencanaan pembangunan
3. Meningkatkan kepedulian masyarakat untuk menghadapi serta mengurangi dampak dan resiko
bencana sehingga masyarakat dapat hidup aman
Untuk melakukan penanggulangan bencana, diperlukan informasi sebagai dasar perencanaan
penanganan bencana yang meliputi:
1. Lokasi dan kondisi geografis wilayah bencana serta perkiraan jumlah penduduk yang terkena
bencana
2. Jalur transportasi dan sistem telekomunikasi
3. Ketersediaan air bersih, bahan makanan, fasilitas sanitasi, tempat penampungan dan jumlah korban
4. Tingkat kerusakan, ketersediaan obat obatan, peralatan medisserta tenaga kesehatan
5. Lokasi pengungsian dan jumlah penduduk yang mengungsi
6. Perkiraan jumlah korban yang meninggal dan hilang
7. Ketersediaan relawan dalam berbagai bidang keahlian
Siklus manajemen bencana terdiri dari empat fase. Tiap fase tersebut saling melengkapi dan tumpang
tindih. Keempat fase tersebut adalah:
a. Mitigasi
Merupakan upaya meminimalkan dampak bencana. Fase ini umumnya terjadi bersamaan dengan fase
pemulihan dari bencana sebelumnya. Seluruh kegiatan pada fase mitigasi ditujukan agar dampak dari
bencana yang serupa tidak terulang.
b. Kesiapsiagaan
Merupakan perencanaan terhadap cara merespons kejadian bencana. Dalam fase ini perencanaan
yang dibuat oleh lembaga penanggulangan bencana tidak hanya berkisar pada bencana yang pernah
terjadi pada masa lalu, tetapi juga untuk berbagai jenis bencana lain yang mungkin terjadi.
c. Respon
Merupakan upaya meminimalkan bahaya yang diakibatkan oleh terjadinya bencana. Fase ini
berlangsung sesaat setelah terjadi bencana dan dimulai dengan mengumumkan kejadian bencana serta
mengungsikan masyarakat.
d. Pemulihan
Merupakan upaya pengembalian kondisi masyarakat sehingga menjadi seperti semula. Pada fase ini
pekerjaan utama yang dilakukan masyarakat dan petugas adalah menyediakan tempat tinggal
sementara bagi korban bencana dan membangun kembali sarana dan prasarana yang rusak. Selama
masa pemulihan ini, dilakukan pula evakuasi terhadap langkah-langkah penanganan bencana yang
telah dilakukan.

2. Adaptasi Penanggulangan Bencana Alam


Adaptasi bencana adalah penyesuaian sistem alam dan manusiaterhadap stimulus bencana alam nyata
atau yang diharapkan tidak ada dampak-dampaknya, yang menyebabkan kerugian atau
mengeksploitasi kesempatan-kesempatan yang memberi manfaat.
Adapatsi bencana alam perlu dilakukan mengingat adanya ancaman-ancaman bencana alam yang
membahayakan manusia seperti:
1. Ancaman alamiah
Proses atau fenomena alam berupa tanah longsor, tanah bergerak yang bisa menyebabkan hilangnya
nyawa, cidera atau dampak-dampak kesehatan lain, kerusakan harta benda, hilangnya penghidupan
dan layanan, gangguan sosial dan ekonomi atau kerusakan lingkungan.
2. Ancaman biologis
Proses atau fenomena bersifat organik atau yang dinyatakan oleh vektor-vektor biologis termasuk
keterpaparan terhadap mikroorganisme yang bersifat patogen, toksin dan bahan-bahan bioaktif yang
bisa menghilangkan nyawa, cidera, sakit atau dampak-dampak kesehatan lainnya kerusakan harta
benda, hilangnya penghidupan dan layanan, gangguan sosial dan ekonomi atau kerusakan
lingkungan.
3. Ancaman geologis
Proses atau fenomena geologis berupa gempa bumi dan gunung meletus bisa mengakibatkan
hilangnya nyawa, cidera atau dampak-dampak kesehatan lain, kerusakan harta benda, hilangnya
penghidupan dan layanan, gangguan sosial dan ekonomi atau kerusakan lingkungan.
4. Ancaman hidrometeorologis
Proses atau fenomena yang bersifat atmosferik, hidrologis atau oseanografis berupa pemanasan
global dan tsunami yang bisa mengakibatkan hilangnya nyawa, cidera atau dampak-dampak
kesehatan lain, kerusakan harta benda, hilangnya penghidupan dan layanan, gangguan sosial dan
ekonomi atau kerusakan lingkungan.
5. Ancaman sosial-alami
Fenomena meningkatnya kejadian peristiwa-peristiwa ancaman bahaya geofisik dan
hidrometeorologis tertentu seperti tanah longsor, banjir, dan kekeringan, yang disebabkan oleh
interaksi antara ancaman bahaya alam dengan sumber daya lahan dan lingkungan yang dimanfaatkan
secara berlebihan atau rusak
Hal-hal penting dalam adaptasi dan ancaman bencana alam adalah:
- Kesadaran publik
- Kesiapsiagaan
- Ketangguhan/tangguh
- Langkah-langkah struktural/nonstruktural
- Manajemen resiko bencana
- Partisipasi
Adaptasi diperlukan untuk mengurangi dampak negatif dari bencana. Berikut contoh adaptasi dalam
berbagai bidang kehidupan manusia:
- Adaptasi dalam bidang ekonomi
- Adaptasi dalam bidang kesehatan
- Adaptasi dalam ketersediaan air
- Adaptasi terhadap wilayah perkotaan yang sering dilanda banjir
3. Usaha Pengurangan Resiko Bencana Alam
Usaha pengurangan resiko bencana alam di Indonesia dapat dilakukan dengan cara:
1. Pembuatan peta risiko bencana
Pengenalan dan pengkajian ancaman bencana atau suatu wilayah berangkat dari pemahaman terhadap
kondisi dan karakteristik suatu wilayah, baik dari segi fisik maupun sosial. Proses kajian ini dilakukan
oleh berbagai ahli dengan berbagai bidang ilmu kemudian digabungkan dan dianalisis dengan
menggunakan pendekatan geografi. Hasil akhirnya adalah peta-peta yang menggambarkan
karakteristik suatu wilayah dari berbagai aspek.
Penggambaran resiko bencana yang terdapat di suatu wilayah dilakukan dengan membuat peta resiko
bencana. Secara umum, peta ini menggambarkan tingkat resiko terjadinya suatu bencana tertentu di
suatu wilayah. Peta ancaman bencana dibuat berdasarkan beberapa indikator, antara lain sebagai
berikut:
- Zonasi wilayah rawan gempa bumi
- Arus laut
- Perkitaan ketinggian genangan tsunami
- Zonasi wilayah rawan banjir
- Zonasi wilayah rawan longsor
- Zonasi wilayah terkena dampak letusan gunung api
- Penggunaan lahan dan vegetasi
- Bentuk medan dan kelerengan
- Jenis hutan
- Jenis tanah
- Tipe iklim dan curah hujan tahunan
Peta kerentanan dibuat berdasarkan beberapa indikator yaitu:
- Kepadatan penduduk
- Rasio jenis kelamin
- Tingkat kemiskinan
- Jumlah difabel
- Rasio kelompok umur
- Luas lahan produktif
- Kontribusi pendapatan domestik regional bruto (PDRB)
- Jumlah bangunan, fasilitas umum, dan fasilitas darurat
- Kepadatan bangunan
- Jenis vegetasi
2. Sistem peringatan dini bencana alam
UNISDR mendefinisikan sistem peringatan dini adalah sekumpulan kapasitas yang dibutuhkan untuk
mengumpulkan dan menyebarluaskan informasi peringatan yang bermakna dan tepat waktu sehingga
memungkinkan individu, masyarakat dan organisasi yang terancam bencana untuk bersiap dan
bertindak dengan tepat dalam waktu yang cukup untuk mengurangi kemungkinan bahaya atau
kerugian.
Konsep sistem peringatan dini terdiri dari empat unsur yaitu:
a. pengetahuan tentang resiko bencana
b. layanan pengawasan dan peringatan
c. penyebaran informasi dan komunikasi
d. kemampuan merespon
Langkah mitigasi sesudah bencana meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. menginventarisasi data-data kerusakan akibat bencana dan kekuatan bencana yang terjadi
b. mengidentifikasi wilayah-wilayah yang terkena dampak bencana berdasarkan tingkat kerusakan
c. membuat rekomendasi dan saran untuk penanggulangan bencana pada masa depan
d. membuat rencana penataan ulang wilayah, termasuk rencana tata ruang dan penggunaan lahan
e. memperbaiki dan mengganti fasilitas pemantauan bencana yang rusak
f. melanjutkan aktivitas pemantauan rutin dan simulasi tanggap bencana
3. Simulasi bencana alam
Simulasi bencana adalah kegiatan pemberian informasi tentang cara-cara tentang
penyelamatan diri kepada masyarakat oleh petugas/instansi terkait pada wilayah rawan bencana
dan/atau disertai simulasi penyelamatan untuk mencegah atau meminimalkan dampak bencana alam
yang mungkin terjadi. Kegiatan ini idealnya diikuti oleh seluruh anggota masyarakat yang berada di
wilayah rawan bencana dan seluruh pihak yang terlibat dalam proses mitigasi dan penanggulangan
bencana.
Salah satu tujuan utama dari pelaksanaan simulasi bencana adalah menguji kesiapan seluruh
sistem, prosedur, dan perangkat mitigasi serta penangulangan bencana.
4. Kelembagaan Penanggulangan Bencana Alam
a. Lembaga penanggulangan bencana alam
1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPN)
BNPB adalah lembaga pemerintah nondepartemen yang dibentuk berdasarkan peraturan presiden
nomor 8 Tahun 2008. Tugas BNPB adalah membantu presiden dalam mengkoordinasikan
perencanaan dan pelaksanaan kegiatan penanganan bencana serta melaksanakan penanganan tersebut
mulai dari sebelum bencana, pada saat terjadi bencana, dan setelah terjadi bencana.
2. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)
PVMBG merupakan salah satu unit kerja Badan Geologi. Badan geologi sendiri merupakan salah
satu unit di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). PVMPG berkantor
pusat di Bandung dan mempunyai tugas melaksanakan penelitian, penyelidikan, perekayasaan dan
pelayanan di bidang vulkanologi dan mitigasi bencana geologi.
b. Hubungan antara bencana alam dengan kelembagaan penanggulangan bencana alam
- Apabila di suatu daerah terjadi kenampakan/kerusakan alam yang berhubungan dengan geologi,
maka masyarakat melalui pemerintah daerah dapat segera menghubungi PVMPG yang berkantor
pusat di Bandung untuk diteliti keadaannya.
- Apabila terjadi bencana alam seperti meletusnya gunung Merapi, keluarnya gas alam di Dieng,
tsunami di Aceh, gempa bumi di Tasikmalaya dan Padang atau bencana lainnya, masyarakat melalui
pemerintah daerah dapat melaporkan kejadian tersebut ke PNPB dan PVMPB.
PNPB bertugas dalam hal melaksanakan penanganan bencana, sedangkan PVMPB bertugas dalam
hal mengatasi dam menyelidiki sebab-sebab dan akibat bencana alam yang terjadi.