Anda di halaman 1dari 13

1.

Pengantar
Jika metodologi dapat dikatakan “engine” mesin dalam pengembangan
ilmu dan teknologi, apakah yang dapat dikatakan metodologi sejarah?.
Selanjutnya dapatkah kita mengatakan bahwa kemajuan metodologi sejarah
berbandinf lurus dengan kemajuan penulisan sejarah? Bagaimana taksonomi
metodologi sejarah dikontruksikan? Apa saja bidang garapan metodologi
sejarah sebagai salah satu bidang kajian epistimologi sejarah? Pertanyaan
pokok inilah yang akan di bahas dalam bab ini?
2. Metodologi Sejarah
Metodologi adalah ilmu yang mempelajari metode-metode ilmiah. Jadi
ia bukan metode itu sendiri. Metodelogi berkenaan dengan pembahasan
deskripsi, eksplanasi, evaluasi atau verifikasi dan justifikasi dari metode-
metode yang ada. Bila kita, minsalnya berbicara tentang metodologi ekonomi,
maka yang dimaksud dengan istilah itu adalah metode-metode yang dipakai
dalam disiplin ekonomi. Begitu juga sebutan metodologi dalam setiap
disiplin ilmu yang lain, termaksuk metologi sejarah.
Dengan demikian, dalam metodologi, boleh jadi, terdapat sejumlah
metode. Masing-masing merupakan dua bidang garapan yang berbeda, tetapi
saling berkaitan satu dengan yang lainya. Bila metodologi adalah bidang teori
yang membahas “to know how to know” (mengetahui bagaimana cara
mengetahui), yakni tentang metode atau metode-metode yang ada, sedangkan
metode ialah “to now how to do” (mengetahui bagaimana cara
mengerjakannya). Metode khusus tentang bagaimana cara, teknik atau cara
kerja bagaimana melakukan riset dalam kajian bidang tertentu. Ringkasnya
metodologi berkenaan dengan teori-teori dan metode berkenaan dengan
aplikasi. Yang pertama, metodologi adalah proses-proses dalam dirinya
sendiri dan metode adalah produk. Artinya, metodologi mengajukan
persyaratan atau pengandaian awal (presupposittion) dan acuan standar
terhadap bagaimana kontruksi ilmu pengetahuan bekerja menurut standar-
standar atau prinsip umum, sementara metode menerapkan teknik-teknik yang
cocok untuk mengetahui bagaimana sesuatu di pecahkan sesuai dengan pokok
persoalan dalam bidang kajian tertentu.
Setiap disiplin ilmiah mengembangkan metodologi dan metodenya
sendiri, tetapi adakalanya suatu disiplin baru lahir dari modifikai metode-
metodenya yang sudah ada. Dalam filsafat ilmu pengetahuan, metodologi me
rupakan disiplin yang otonom atau berdiri sendiri, sehingga seorang ilmuwan
memiliki keahlian khusus di bidang metodologi. Tugas utama metodologi
adalah mengevaluasi bagaimana prinsip-prinsip umum metodologi dapat
menjamin kerja ilmiah (scientific practive) yang andal dan mencari jawaban-
jawaban yang tepat, menyaring esensi (saripati) metode-metode ilmiah dan
memberikan justifikasi terhadap cara kerja dan temuannya. Akar pemikiran
metodologis dan perkembangngannya dalam berbagai disiplin imu
pengetahuan telah menjadi perhatian ahli epistimologi dan logika sejab abad
ke-19.
Sebelum abad ke-19 kebanyakan ilmuawan adalah manusia
ensiklopedis dalam arti menguasai banyak bidang, ketika ilmuan belum
mengenal spesialisasi atau batas-batas yang tegas antara suatu disiplin dengan
disiplin yang lainya. Dalam perkembangnya sejak abad ke-19 baru di
berlakukan spesialisasi, namun memang memerlukan waktu yang lama sejak
Herodotus (484-425 SM) dikenal sebagai bapak sejarah dalam tradisi
penulisan sejarah barat sampai Ranke abad ke-19 ketika sejarah menjadi
disiplin ilmiah. Sejak itu spesialisasi disiplin ilmu sejarah semakin otonom
dan bersamaan dengan itu muncul serangkaian perdebatan metodologis antara
kubu filsafat ilmu yang saling berlawanan satu sama lain, yakni positifisme
dan idealisme.
3. Metodologi Sejarah dan Metode-metodenya
Dalam buku Methodologu of history (1976), Tapolski mengelompokkan
metodologi sejarah kedalam tiga cabang yaitu:
a. Metodologi sejarah teoritik (Theoretical Methodology of History),
membahas secara kritis pemikiran atau asumsi-asumsi metodologis
mengenai keilmuan kekuatan dan kelemahan riset sejarah ilmiah (the
science of histrory) yang harus di konfirmasikan dengan standar
normatif. Di jurusan sejarah di Indonesia cabang metodologi ini biasanya
masuk kedalam pembahasan Teori Filsafat Kritis. Adapun pokok
persoalan yang dibicarakan dalam teori metodologi ini antara lain ialah
 Historical statements (pernyataan atau proposisi sejarah)
 Historical generalization (genaralisasi sejarah)
 Laws and determination in history (hukum-hukum dan determinasi
dalam sejarah)
 Scientific law (hukum keilmuan)
 Value Judgment (pertimbangan nilai)
 Historical naration (narasi sejarah)
 Objective language and metanarative (bahasa objektif dan
metanaratif)
 Truth in history (konsep benar dalam sejarah)
 Isomorphism (klasifikasi)
b. Metodologi sejarah obyektif (objective metodology of history) membahas
tentang persoalan-persoalan konsep-konsep struktur dan rekontruksi
sejarah. Termasuk ke dalam pembahasan ini ialah
 Historical fact (fakta sejarah, dan perbedaannya dengan masa
lampau da bukti-bukti)
 Historical time (konsep waktu dalam sejarah)
 Elements of a sistem and structure of a system (unsur-unsur suatu
sistem dan struktur dari suatu sistem)
 Change in the state of a system and ements of a system (perubahan
dalam keadaan dan unsur-unsur suatu sistem)
 Concept of cause (konsep sebab)
 Regularity (keteraturan)
c. Metodologi sejarah pragmatik (pragmatic methodology of histrory)
berkaitan dengan pengenalanan cara kerja operasional
(cognitive operations) riset sejarah. Jelas bahwa cabang metodologi
ketiga ini berkenaan dengan keahlian atau keterampilan sejarah (the craft
of the historians) dalam melakukan riset profesional menurut standar-
standar metologi sejarah pada umunya dan teknik-teknik riset ilmiah
khusunya. Disini hal-hal yang diperbicangkan antara lain ialah
 Choice of the domain of research (pemilahan bidang kajian sejarah
tertentu)
 Posing of a question withing that domain (mengajukan pertanyaan
penelitian)
 Establishing the varios sources (menetapkan berbagai macam
sumber data sejarah)
 External amd internal criticism (kritik eksternal dan internal atau
verifikasi)
 Description, always selective (deskripsi selalu selektip)
 Explanation (why was it so?) (eksplanasi, mengapa demikian?)
 Arriving considernation (sampai pada pernyataan-pernyataan
teoritis)
 Theoritical considernation (rekontruksi sejarah teoritis)
 Evaluation of persons and events in the past (evaluasi tentang orang-
orang atau aktor dan peristiwa sejarah masa lampau)

Ketiga cabang metodologi di atas, begitu juga ruang lingkup


permasalahanya mengandung isu-isu konseptual yang memerlukan
pembahasan yang lebih rinci. Untuk keperluan praktis, disini hanya akan di
tekankan pada metodologi sejarah pragmatis, terutama karena inilah yang
lebih dekat dengan masalah teknis-praktis dalam metode riset sejarah.

4. Karakteristik Metode Sejarah


Metode dasar (basic method) sejarah ialah apa yang dinamakan
“metode kritik sumber”, atau juga disebut “metode riset dokumenter”. Inilah
yang disebut metode khas studi sejarah. Louis Gottdchalk dalam bukunya
Mengerti Sejarah. Pengantar Metode Sejarah (1975) sangat hati-hati sekali
dalam merumuskan apa yang disebut intisari metode sajarah ini (dalam
bentuk tunggal). Metode kritik sumber terdiri dari serangkaian prosedur
kerja dan teknik-teknik pengumpulan data dokumenter, pengujian otensitas
(keaslian) bahan dokumen dan menetapkan kesahihan isi informasinya. Ada
beberapa karakteristik dari metode riset sejarah yang membedakanya
dengan metode riset lain.
a. Riset sejarah pada umumnya bergantung pada data dukumen sebagai
data primer dan sampai pada tingkat tertentu pada pengamatan
(observasi) terhadap berkas-berkas sejarah berupa fisik dan pelaku
sejarah jika masih hidup.
b. Metode riset sejarah berbeda dengan cara berpikir orang awam,
memerlukan kecermatan yang tinggi, disamping kerinciannya namun
jika ada yang mendakwa bahwa riset sejarah tidak ilmiah karena
metode mengumpulkan data sembarangan, tak berdisiplin, tak obyektif
dan biased informasi.
c. Riset sejarah kecuali amat tergantung kepada sumber primer, juga
memerlukan sumber sekunder. Jika primer memerlukan dokumen, data,
catatan langsung dari pelaku atau mengamati peristiwa sejarah, sumber
sekunder adalah tangan kedua maksdunya ialah kesaksian yang
diberikan orang lain atau bukan terlibat secara langsung dalam suatu
peristiwa.
d. Riset sejarah memerlukan dua tingkat kritisisme atau metode analisis
data sejarah, yaitu kritik eksteren dan intern. Yang pertama, kritik
ekstern berkenaan dengan aspek luaran atau material dari sumber, yaitu
apakah dokumen asli atasu tidak, sedangkan yang kedua berkenaan
dengan isi konten, apakah dokumen asli tersebut akurat atau relevan.
Boleh jadi ada data yang dihilangkan atau dilebih-lebihkan.
e. Sebagian besar riset sejarah mirip dengan “review literatur” atau studi
pustaka dan itu salah satu skill diperlukan dalam riset sejarah untuk
membaca kritis dan membuat catatan penelitian dokumen.
5. Metodologi Sejarah yang diperdebatkan
Perdebatan epistimologis tentang paradigma ilmu dan prosedur
metodologis yang berkembang di Jerman paru abad ke-19 dan terus
berlangsung sampai abad ke-20 ini disebut methodenstreit. Perbedaan itu
terjadi antara pendukung positivisme dan idealisme dari kelompok Neo-
Kantian, di lain pihak dan dengan beberapa modifikasi yang lebih rumit
terus berlajut sampai tahun 1930-an. Positivisme berasal dari pemikiran
pencerahan abad ke-18, mendirikan semacam “the heroic of science”
sebagai pondasi baru untuk memperoleh kebenaran. Kaum positivisme
percaya, bahwa ilmu positivistik (ilmu-ilmu alam atau fisika) dan termasuk
kemerdekaan politik, merupakan conditio sine quanon untuk mencapai
kemajuan umat manusia.
Penantang positivisme berasal dari kelompok filosof dari aliran
omatisisme, menolak paradigma sejarah positivistik, sehingga muncul
dikotomi yang tajam diantara keduanya. Masing-masing memiliki konsepsi
sendiri-sendiri baik tentang epistimologi ilmu, maupun subject matter dan
metodologinya. Perbedaan antara keduanya disederhakan kedalam dikotomi
antara kelompok yaitu ilmu alam (natuurwissenschaften) disatu pihak dan
ilmu idiografik (ideografische wissenschafteen). Yang pertama berkenaan
dengan kelompok-kelompok ilmu alam yang mempelajari gejala fisik dan
menghasilkan hukum-hukum umum atau generalisasi universal dalam
kajiannya. Yang kedua berkenaan dengan kelompok ilmu-ilmu manusia
yang mempelajari dunia (gejala) kehidupan manusia dan sesuai dengan
sifatnya, pengelaman manusia bersifat unik karena didalam dirinya terdapat
semacam “inner reality” (kenyataan dalam) yang berbeda-beda antara suatu
individu atau kelompok tertentu dengan individu atau kelompok lain, antara
suatu tempat dengan tempat lain, antara zaman tertentu dengan zaman yang
lain. Karena kontruksi pengetahuan ideografik (jiwa zaman) dalam hal ini
studi sejarah, tidak mungkin menghasilkan hukum-hukum umum atau
genaralisasi universal dalam kajiannya kecuali semacam generalisasi yang
terbatas validitasnya.
Menurut ilmu positivisme suatu peristiwa dapat dideduksikan secara
logis dari hukum-hukum alam dan semua disiplin ilmiah mestinya dapat
mengikuti logika formal yang dikembangkan dalam disiplinya. Ilmu sejarah,
seperti halnya dengan ilmu-ilmu alam, juga berupaya memberikan
penjelasan tentang gejala sejarah untuk tujuan prediksi dengan mencari
hukum-hukum perkembangan manusia menurut versi hukum-hukum ilmu
alam. Dengan diktum itu sejarawan dituntut bersikap obyektif dalam
pengertian ilmu alam. Mereka tidak lagi dibenarkan bekerja dengan mereka-
reka atau mengira-ngira atas dasar commonsese belaka, melaikan harus
sanggup menemukan bukti-bukti empirik lewat dokumen sejarah dan
mengujinya secara kritis berdasarkan acuan metode kritik sejarah.
Teori ilmu pengetahuan positivisme lambat laun mulai menggerogoti
kedudukan filsafat sebagai “ratu ilmu” dan secara eksplinsip menggesernya
ke pinggir dalam kedudukan sastra dan sejarah naratif. Pembenaran
epistimologi positivistik untuk menghilangkan unsur naratif dalam
pengetahuan sejarah semakin diterima. Sejak itu titik perhatian dalam
penulisan sejarah berubah dari metode lama yang lebih mementingkan
retorika kepada basis faktual pengetahuan sejarah. Sejarawan ditarik
keuniversitas-universitas dan sejak itu sejarah ditulis oleh profesor. Dalam
tahun 1894, minsalnya ada bebrapa karya sejarah yang sudah dekat dengan
generalisasi menurut model-model hukum alam dan mulai meninggalkan
tradisi penulisan Heradotus.
Asumsi selanjutnya dari positivisme yang dikemukakan oleh
kelompok non-positivs ialah pernyataan bahwa fakta-fakta dapat
diterangkan dengan hukum-hukum kausal yang bersifat tetap dan memiliki
kekuatan prediksi. Sebaliknya Dethey berpandangan, bahwa positivis dapat
menjelaskan alam pisik secara kausal, tetapi tidak mungkin untuk sejarah.
Tindakan manusia harus dimengerti (to be undertood) dan bukan dinalar
dengan menggunakan logika kausal, melaikan pemalaui proses
interpreatatif. Dilthey selanjutnya membedakan antara dua bidang ilmu yang
berbeda ontologisnya dan dengan demikian juga berbeda metodenya.
Meminjam dari konsep Stuart Mill (system of logic, 1848) tentang les
sciences morales (ilmu-ilmu etika, suatu istilah dari abad ke-18 untuk
mengacu kepada ilmu sosial-socia sciences), Dilthey membuat perbedaan
anatara rumpun disiplin yang berbeda. Yaitu Geisteswissenchaften (the
sicience of mind-ilmu manusia), termasuk sejarah yang berkaitan dengan
logika interprestasi individual atau Verstehen (pengertian) di satu pihak dan
Natuurwissenschaften (ilmu-ilmu alam) yang didasarkan kepada logika
penjelasan kausal alam (erklaren) yang menghasilkan generalisasi abstrak
dan bentuk abstrak tertinggi ilah hukum-hukum.
Namun Dilthey tidak sepenuhnya membatah gagasan positivisme,
Dilthey tidak menghargai interprestasi metafisik tentang sejarah manusia,
namun sebaliknya menerima pandangan bahwa sejarah adalah disiplin yang
empirik. Ilmuawan alam dan sejarawan positivisme sama-sama berurusan
dengan fakta-fakta, keteraturan dan bahkan juga dalam bentuk prediksi,
Dilthey berpendapat lain. Baginya sejarah memiliki logika yang berbeda:
metode, begitu juga subject matter (bidang garapan) sejarah dapat
disamakan dengan tujuan ilmu-ilmu alam fisik. “Peristiwa dalam kehidupan
manusia” demikian Dilthey adalah hasil kemauan, maksud-maksud,
kehendak individu-indidividu atau kumpulan orang-orang yang tidak
mungkin dibuat hukum-hukumnya menurut model fisik. Peristiwa alam
semata-mata bersifat pisikal, dan tak memiliki kesadaran, dan cirinya yang
tetap bisa dideterminasikan.
Tabel 1. Perbedaan antara ilmu alam dan ilmu-ilmu manusia
Positivisme Humanisme (Les Sciences Morales
(Sience Nomotetis) atau Scoence Ideografis)
Kebenaran (Truth) Keidahan (beauty)
Kenyataan (realilty) Simbol-simbol (symbol)
Fakta-fakta (fact) Nilai-nilai (values)
Benda-benda dan peristiwa Perasaan dan makna
diluar diri manusia (out-there) (fellings/meaning)
Objektif Di dalam diri manusia (in-there)
Penjelasan (explanation) Penafsiran (interprenation)
Pembuktian (proof) Pengertian (insight)
determinisme Kebebasan (fredom)
Sumber : Brown & Lyman (1978: 15)
6. Arah Baru dalam Metodologi Sejarah
Juru bicara pembaruan dalam disiplin ilmu sejarah diwakili oleh dua
aliran baru yaitu The New History dari Amerika Serikat dan Annales dari
Perancis. Kedua liran ini cenderung mengikuti jejeak ilmu-ilmu sosial dan
menyesuaikan diri dengan ilmu-ilmu positivisme. The New History yang
dipelopori oleh James Harvey Robinson (1912) memperluas definini sejarah
mencangkup “semua berkas dan peninggalan yang dipikirkan dan dilakukan
menusia sejak dilahirkan kebumi”. Dengan “the new story” Robinson
secara tidak langsung juga menyerang Ranke, dan pengikutnya yang salama
ini cenderung dengan sejarah politik. Obsesinya untuk mengangkat sejarah
“orang biasa” (common man), yang terabaikan dalam penulisan sejarah
karena terlihat dalam kritiknnya bahwa penulisan sejarah selalu terfokus
kepada sejarah dinasti, perang dan sejenisnya. Maka agenda sejarah pada
saat itu diarahkan kepada pemamfaatan temuan “antropolog, sosiolog, dan
psikolog. Yang menyangkut rekontruksi tentang kebiasaan, emosi-emosi,
mentalitik dari orang-orang yang tidak dikenal atau sejarah kehidpan sehari-
hari seperti sejarah sosial dn ejonomi. Sebagai konsekuensinya maka sejarah
memerlukan sumber data yang tidak terbatas, mulai dariberbagai macam
jenis arsip dan dokumen, sampai kepada pamflet dan surat kabar tentang apa
saja yang memberikan kesaksian terhadap kejadian dimasa lalu.
Ciri khas pendirian new history ada tiga: (i) bervariasi dalam
metodologi, (ii) terbuka terhadap disiplin lain (iii) pluralisme dan subjek
matter atau bidang garapan yang menjadi titik perhatian kajiannya. Dilihat
daru gagasannya new history sebetulnya juga tidak baru. Karya sarjana
islam Ibnu Khaldum (1332-1404), karyanya yang berjudul mukkadimah
yang diakui sebagai salah satu pondasi teori ilmu-ilmu sosial selain itu
karya-karya sosiologi dan sejarah yang ditulis oleh Karl Marx, Max weber
dan Sombart juga sudah mendahului gagasan the new istory.
Perkembangan studi sejarah selanjutnya mendapat nafas baru dari
kelompok sejarawan Annales di Perancis. Dipelopori oleh Marc Bloch dan
L Febvre memalui jurnal ilmiah, Annales d.histoire economique et sociale
diterbitkan pada tahun 1929, orientasi aliran itu pada mulanya kepada
sejarah geografis, namun ketika sejumlah profesor dari berbagai latar
belakang (ekonomi, geografi, sejarah, sosiologi, politik), bergabung
didalamnya maka alisa semakin memiliki pengaruh luas dikalangan
sejarawan dunia, bahkan melampoi daya tarik the new historys dari
Amerika. Ciri khas Annales sesuai dengan sifatnya, total historys ialah
pendekatan struktural terhadap sejarah. Selain itu mengkaji sejarah dengan
jangka waktu yang panjang, loong duree.
Selain itu pusat perhatian Annales lebih tercurah kepada gejala sejarah
yang relatif bergerak (moveless history) atau mengalami revolusi yang
lambat laun seperti kejala fisik, alam, gunung, jalan raya, rute perdagangan.
Kalau kelompok new historys dari Amerika memakai metode kuantitatif
yang menggabungkan model-model analisis ilmu sosial dan ekonometriks,
kelompok Annales menggunakan model-model analisis statistik. Mereka
menyebunya dengan serial history, sejarah serial yang melihat perubahan
dalam rangkaian unit-unit waktu daklam menguji koherensi dan ketepatan
analisis sejarah mengenai berbagai aspek (harga, penyakit) dalam jangka
panjang atau longe duree.
Sejarawan Annales yang terkemuka ialah Emanuel Le Roy Ladurie,
yang sebagian besar karyanya sudah diterjemahakan kedalam bahasa
inggris. Pengikut Annales yang paling terkemuka adalah Emanel
Wallerstein, mengasuh sebuah jurnal terkemuka, Review. Fernad Barudel
Center for Economies, Historical Systems adn Civilization di Universitas
Binghantom, New York. Pengaruh karya-karya the new history dan Annales
juga diperkuat kelompok sejarawan sosilogis (Tilly, B. Moore, Wallerstein
dan Hobsbawn) karya mereka mempertegas perbedaan sejarah tradisional
dan sejarah ilmiah (istilah Fogel). Yang pertama hangat (dan kabur), yang
kedua dingin (dan dengan pengukuran yang tepat). Sejarah ilmiah menurut
Fogel cenderung berfokus kepada kolektivitas prang-orang atau kelompok
dan peristiwa-peristiwa berulang, sementara sejarawan tradisional
cenderung berfokus kepada orang atau peristiwa partikular.
Seperti halnya dengan sejarah ilmiah dari generalisasi penerus
positivisme abad ke-19 sejarawan tradisonal yang meneruskan tradisi
Herodotus, atau generasi Diltley abad ke-19, memiliki percabangan
(ramification) yang cukup berpariasi. Namun demikian, pada pokoknya
sejarawan dilihat dari subject matter dan orientasi metodologis yang mereka
gunakam dapat dibedakan atas empat kelompok: (i) sejarawan naratif, yang
berorientasi kepada sejarah politik dan biografi (ii) sejarawan kliometriks,
yang mempertahankan data ‘rombengan statistik’ (iii) sejarawan sosial keras
yang sibuk menerapkan model-model teori sosail terhadap stuktur
impersonal dan (iv) sejarawan mentaliteit, sejalan dengan dejarah
intelektual, yang menggabungkan gejala idea (cita-cita), nilai-nilai, mode
berfikir (mind-sets) dan pola-pola prilaku personal yang sangat rahasia-
makin intim makin baik. Yang terakhir minsalnya muncul dalam berbagai
bentuk penulisan sejarah kebudayaan, khususnya tentang berbagai perilaku
sosial-individu seperti, sejarah seksual (Foucault), perjudian (Geertz), bandit
atau mafia (Hobsbawm) atau minsalnya Jan Bremer dan Herman
Roodenburg tentang Cultural History of Gesture (1991).
Terlepas dari keberagaman katagori penulisan sejarah, ada satu lagi
yang termaksud ke dalam pengelompokan diatas yang di sebut New
Historicism atau sejarawanpost-modernist, yang menggunakan pendekatan
dari teori kritik sastra terhadap sejarah, seperti yang dikerjakan oleh Hyden
White, Ankersmit dan pengikut post-modernisme umumnya. Sejak dekade
abad ke-20 disiplin ilmu sejarah dengan berkembanganya teori-teori sosial ,
sejarah semakin bergeser dari cirinya yang asli sastra (humaniora) kepada
ilmu-ilmu sosial. Banyak sejarawan kini berpaling kepada pemikiran
Weber, Freud, Levi-Straus, Geetrz dan Imanuel Walerstein. Kalau penulisan
dulu hanya berurusan dengan Kronologis (kronik) kini mereka lebih
menekankan sejarah strukturis, sutu gendre baru dalam penulisan tematis
yang diperkenalkan oleh Chisphoters Lioyd. Kalau dulu penulisan sejarah
naratif sekarang lebih mementeingkan analitik. Sejarawan kini tidak lagi
terikat dengan metode kritik sumber sebagai metode dasar sejarah. Mereka
juga dapat mengguakan berbagai alternatif metode baru, entah itu metode
sejarah lisan, analisis kuantitatif, kliometriks, dan analisis isi dan
sebagainya. Meskipun demikian sejarawan tidak mungkin meninggalkan
dokumen sebagai bahan utama dalam peyelidikan sejarah.
MAKALAH TEORI DAN METODOLOGI SEJARAH

Tentang

ARAH BARU DALAM METODOLOGI


SEJARAH

Oleh:

DERI SAPUTRA 17161006

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


KONSENTRASI SEJARAH
PROGRAM PASCASARJA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2018