Anda di halaman 1dari 18

KONSEP TUMBUH KEMBANG MANUSIA

A. PENGERTIAN TUMBUH KEMBANG


Pertumbuhan (growth) adalah merupakan peningkatan jumlah dan besar sel di seluruh
bagian tubuh selama sel-sel tersebut membelah diri dan mensintesis protein-protein baru,
menghasilkan penambahan jumlah dan berat secara keseluruhan atau sebagian. Dalam
pertumbuhan manusia juga terjadi perubahan ukuran, berat badan, tinggi badan, ukuran
tulang dan gigi, serta perubahan secara kuantitatif dan perubahan fisik pada diri manusia itu.
Dalam pertumbuhan manusia terdapat peristiwa percepatan dan perlambatan. Peristiwa ini
merupakan kejadian yang ada dalam setiap organ tubuh.

Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada individu,yaitu secara
bertahap,berat dan tinggi anak semakin bertambah dan secara simultan mengalami
peningkatan untuk berfungsi baik secara kognitif, psikososial maupun spiritual ( Supartini,
2000).

Perkembangan (development) adalah perubahan secara berangsur-angsur dan bertambah


sempurnanya fungsi alat tubuh, meningkatkan dan meluasnya kapasitas seseorang melalui
pertumbuhan, kematangan atau kedewasaan (maturation), dan pembelajaran (learning).
Perkembangan manusia berjalan secara progresif, sistematis dan berkesinambungan dengan
perkembangan di waktu yang lalu. Perkembangan terjadi perubahan dalam bentuk dan fungsi
kematangan organ mulai dari aspek fisik, intelektual, dan emosional. Perkembangan secara
fisik yang terjadi adalah dengan bertambahnya sempurna fungsi organ. Perkembangan
intelektual ditunjukan dengan kemampuan secara simbol maupun abstrak seperti berbicara,
bermain, berhitung. Perkembangan emosional dapat dilihat dari perilaku sosial lingkungan
anak.

B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUMBUH KEMBANG


Setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda antara
satu dengan manusia lainnya, bisa dengan cepat bahkan lambat, tergantung pada individu dan
lingkungannya. Proses tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor di antaranya :
1. Faktor heriditer/ genetic
Faktor heriditer Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada
individu, yaitu secara bertahap, berat dan tinggi anak semakin bertambah dan secara
simultan mengalami peningkatan untuk berfungsi baik secara kognitif, psikososial
maupun spiritual ( Supartini, 2000).
Merupakan faktor keturunan secara genetik dari orang tua kepada anaknya. Faktor ini
tidak dapat berubah sepanjang hidup manusia, dapat menentukan beberapa karkteristik
seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, dan beberapa
keunikan sifat dan sikap tubuh seperti temperamen.
Faktor ini dapat ditentukan dengan adanya intensitas dan kecepatan dalam pembelahan
sel telur, tingkat sensitifitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas, dan
berhentinya pertumbuhan tulang. Potensi genetik yang berkualitas hendaknya dapat
berinteraksi dengan lingkungan yang positif agar memperoleh hasil yang optimal.

2. Faktor Lingkungan/ eksternal


Lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi individu setiap hari mulai lahir
sampai akhir hayatnya, dan sangat mempengaruhi tercapinya atau tidak potensi yang
sudah ada dalam diri manusia tersebut sesuai dengan genetiknya. Faktor lingkungan ini
secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Lingkungan pranatal (faktor lingkungan ketika masihdalam kandungan)
Faktor prenatal yang berpengaruh antara lain gizi ibu pada waktu hamil, faktor
mekanis, toksin atau zat kimia, endokrin, radiasi, infeksi, stress, imunitas, dan anoksia
embrio.
b. Lingkungan postnatal ( lingkungan setelah kelahiran )
Lingkungan postnatal dapat di golongkan menjadi :
1) Lingkungan biologis, meliputi ras, jenis kelamin, gizi, perawatan kesehatan,
penyakit kronis, dan fungsi metabolisme.
2) Lingkungan fisik, meliputi sanitasi, cuaca, keadaan rumah, dan radiasi.
3) Lingkungan psikososial, meliputi stimulasi, motivasi belajar, teman sebaya, stress,
sekolah, cinta kasih, interaksi anak dengan orang tua.
4) Lingkungan keluarga dan adat istiadat, meliputi pekerjaan atau pendapatan
keluarga, pendidikan orang tua, stabilitas rumah tangga, kepribadian orang tua.

3. Faktor Status Sosial ekonomi


Status sosial ekonomi dapat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Anak yang
lahir dan dibesarkan dalam lingkungan status sosial yang tinggi cenderung lebih dapat
tercukupi kebutuhan gizinya dibandingkan dengan anak yang lahir dan dibesarkan dalam
status ekonomi yang rendah.

4. Faktor nutrisi
Nutrisi adalah salah satu komponen penting dalam menunjang kelangsungan
proses tumbuh kembang. Selama masa tumbuh kembang, anak sangat membutuhkan zat
gizi seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air. Apabila kebutuhan
tersebut tidak di penuhi maka proses tumbuh kembang selanjutnya dapat terhambat.

5. Faktor kesehatan
Status kesehatan dapat berpengaruh pada pencapaian tumbuh kembang. Pada anak
dengan kondisi tubuh yang sehat, percepatan untuk tumbuh kembang sangat mudah.
Namun sebaliknya, apabila kondisi status kesehatan kurang baik, akan terjadi
perlambatan.
C. CIRI PROSES TUMBUH KEMBANG
Menurut Soetjiningsih, tumbuh kembang anak dimulai dari masa konsepsi sampai dewasa
memiliki ciri-ciri tersendiri yaitu :
1. Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak konsepsi sampai maturitas (dewasa)
yang dipengaruhi oleh faktor bawaan daan lingkungan.
2. Dalam periode tertentu terdapat percepatan dan perlambatan dalam proses tumbuh
kembang pada setiap organ tubuh berbeda.
3. Pola perkembangan anak adalah sama, tetapi kecepatannya berbeda antara anak satu
dengan lainnya.
4. Aktivitas seluruh tubuh diganti dengan respon tubuh yang khas oleh setiap organ.

Secara garis besar menurut Markum (1994) tumbuh kembang dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Tumbuh kembang fisis
Tumbuh kembang fisis meliputi perubahan dalam ukuran besar dan fungsi organisme atau
individu. Perubahan ini bervariasi dari fungsi tingkat molekuler yang sederhana seperti
aktifasi enzim terhadap diferensi sel, sampai kepada proses metabolisme yang kompleks
dan perubahan bentuk fisik di masa pubertas.
2. Tumbuh kembang intelektual
Tumbuh kembang intelektual berkaitan dengan kepandaian berkomunikasi dan
kemampuan menangani materi yang bersifat abstrak dan simbolik, seperti bermain,
berbicara, berhitung, atau membaca.
3. Tumbuh kembang emosional
Proses tumbuh kembang emosional bergantung pada kemampuan bayi umtuk membentuk
ikatan batin, kemampuan untuk bercinta kasih.

Prinsip tumbuh kembang menurut Potter & Perry (2005) yaitu:


1. Perkembangan merupakan hal yang teratur dan mengikuti arah rangkaian tertentu
2. Perkembangan adalah suatu yang terarah dan berlangsung terus menerus, dalam pola
sebagai berikut Cephalocaudal yaitu pertumbuhan berlangsung terus dari kepala ke arah
bawah bagian tubuh, Proximodistal yaitu perkembangan berlangsung terus dari daerah
pusat (proksimal) tubuh kearah luar tubuh (distal), Differentiation yaitu perkembangan
berlangsung terus dari yang mudah kearah yang lebih kompleks.
3. Perkembangan merupakan hal yang kompleks, dapat diprediksi, terjadi dengan pola yang
konsisiten dan kronologis.

D. TAHAP-TAHAP TUMBUH KEMBANG MANUSIA


Tahap-tahap tumbuh kembang pada manusia adalah sebagai berikut :
1. Neonatus (bayi lahir sampai usia 28 hari)
Dalam tahap neonatus ini bayi memiliki kemungkinan yang sangat besar tumbuh
dan kembang sesuai dengan tindakan yang dilakukan oleh orang tuanya. Sedangkan
perawat membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan tumbuh kembang bayi yang
masih belum diketahui oleh orang tuanya.

2. Bayi (1 bulan sampai 1 tahun)


Dalam tahap ini bayi memiliki kemajuan tumbuh kembang yang sangat pesat.
Bayi pada usia 1-3 bulan mulai bisa mengangkat kepala,mengikuti objek pada mata,
melihat dengan tersenyum dll. Bayi pada usia 3-6 bulan mulai bisa mengangkat kepala
90°, mulai bisa mencari benda-benda yang ada di depan mata dll. Bayi usia 6-9 bulan
mulai bisa duduk tanpa di topang, bisa tengkurap dan berbalik sendiri bahkan bisa
berpartisipasi dalam bertepuk tangan dll. Bayi usia 9-12 bulan mulai bisa berdiri sendiri
tanpa dibantu, berjalan dengan dtuntun, menirukan suara dll. Perawat disini membantu
orang tua dalam memberikan pengetahuan dalam mengontrol perkembangan lingkungan
sekitar bayi agar pertumbuhan psikologis dan sosialnya bisa berkembang dengan baik.

3. Todler (usia 1-3 tahun)


Anak usia toddler ( 1 – 3 th ) mempunyai sistem kontrol tubuh yang mulai
membaik, hampir setiap organ mengalami maturitas maksimal. Pengalaman dan perilaku
mereka mulai dipengaruhi oleh lingkungan diluar keluarga terdekat, mereka mulai
berinteraksi dengan teman, mengembangkan perilaku/moral secara simbolis, kemampuan
berbahasa yang minimal. Sebagai sumber pelayanan kesehatan, perawat berkepentingan
untuk mengetahui konsep tumbuh kembang anak usia toddler guna memberikan asuhan
keperawatan anak dengan optimal.

4. Pra Sekolah (3-6 tahun)


Anak usia pra sekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun ( Wong, 2000),
anak usia prasekolah memiliki karakteristik tersendiri dalam segi pertumbuhan dan
perkembangannya. Dalam hal pertumbuhan, secara fisik anak pada tahun ketiga terjadi
penambahan BB 1,8 s/d 2,7 kg dan rata-rata BB 14,6 kg.penambahan TB berkisar antara
7,5 cm dan TB rata-rata 95 cm.
Kecepatan pertumbuhan pada tahun keempat hampir sama dengan tahun sebelumnya.BB
mencapai 16,7 kg dan TB 103 cm sehingga TB sudah mencapai dua kali lipat dari TB
saat lahir. Frekuensi nadi dan pernafasan turun sedikit demi sedikit. Pertumbuhan pada
tahun kelima sampai akhir masa pra sekolah BB rata-rata mencapai 18,7 kg dan TB 110
cm, yang mulai ada perubahan adalah pada gigi yaitu kemungkinan munculnya gigi
permanent ssudah dapat terjadi.

5. Usia sekolah (6-12 tahun)


Kelompok usia sekolah sangat dipengaruhi oleh teman sebayanya. Perkembangan
fisik, psikososial, mental anak meningkat. Perawat disini membantu memberikan waktu
dan energi agar anak dapat mengejar hoby yang sesuai dengan bakat yang ada dalam diri
anak tersebut.
6. Remaja ( 12-18/20 tahun)
Perawat membantu para remaja untuk pengendalian emosi dan pengendalian
koping pada jiwa mereka saat ini dalam menghadapi konflik.

7. Dewasa muda (20-40 tahun)


Perawat disini membantu remaja dalam menerima gaya hidup yang mereka pilih,
membantu dalam penyesuaian diri, menerima komitmen dan kompetensi mereka, dukung
perubahan yang penting untuk kesehatan.

8. Dewasa menengah (40-65 tahun)


Perawat membantu individu membuat perencanaan sebagai antisipasi terhadap
perubahan hidup, untuk menerima faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan
kesehatan dan fokuskan perhatian individu pada kekuatan, bukan pada kelemahan.

9. Dewasa tua
Perawat membantu individu untuk menghadapi kehilangan (pendengaran,
penglihatan, kematian orang tercinta).

E. PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUAL
Dalam perkembangan psikoseksual dalam tumbuh kembang dapat dijelaskan beberapa
tahap sebagai berikut :
1. Tahap oral-sensori (lahir sampai usia 12 bulan)
Dalam tahap ini biasanya anak memiliki karakter diantaranya aktivitasnya mulai
melibatkan mulut untuk sumber utama dalam kenyamanan anak, perasaannya mulai
bergantung pada orang lain (dependen), prosedur dalam pemberian makan sebaiknya
memberkan kenyamanan dan keamanan bagi anak.

2. Tahap anal-muskular (usia 1-3 tahun / toddler)


Dalam tahap ini anak biasanya menggunakan rektum dan anus sebagai sumber
kenyamanan, apabila terjadi gangguan pada tahap ini dapat menimbulkan kepribadian
obsesif-kompulsif seperti keras kepala, kikir, kejam dan temperamen.

3. Tahap falik (3-6 tahun / pra sekolah)


Tahap ini anak lebih merasa nyaman pada organ genitalnya, selain itu masturbasi dimulai
dan keinggintahuan tentang seksual. Hambatan yang terjadi pada masa ini menyebabkan
kesulitan dalam identitas seksual dan bermasalah dengan otoritas, ekspresi malu, dan
takut.

4. Tahap latensi (6-12 tahun / masa sekolah)


Tahap ini anak mulai menggunakan energinya untuk mulai aktivitas intelektual dan fisik,
dalam periode ini kegiatan seksual tidak muncul, penggunaan koping dan mekanisme
pertahanan diri muncul pada waktu ini.
5. Genital (13 tahun keatas / pubertas atau remaja sampai dewasa)
Tahap ini genital menjadi pusat kesenangan seksual dan tekanan, produksi horman
seksual menstimulasi perkembangan heteroseksual, energi ditunjukan untuk mencapai
hubungan seksual yang teratur, pada awal fase ini sering muncuul emosi yang belum
matang, kemudian berkembang kemampuan untuk menerima dan memberi cinta.

F. PERKEMBANGAN BIOLOGIS
Teori biologisme, biasa disebut teori nativisme menekankan pentingnya peranan bakat.
Pendirian biologisme ini dimulai lebniz (1646-1716) yang mengemukakan teori kontunuitas
yang dilanjutkan dengan evoluisionisme. Selanjutnya Haeckel (1834-1919) seorang ahli
biologi Jerman mengemukakan teori biogenese, yang menyatakan bahwa perkembangan
ontogenese (individu) merupakan rekapitulasi dari filogesenasi.

Para penganut bilogisme menekankan pada faktor biologis, menekankan fase-fase


perkembangan yang harus dilalui. Sedangkan penganut sosiologisme atau empirisme
menekankan peranan lingkungan pada perkembangan pribadi. Wolf menentang teori
biogenese dan mengemukakan teori epigenese, yang menyatakan bahwa perkembangan
organisme itu tidak ditentukan oleh performansinya, melainkan ada sesuatu yang baru.
William Stern mengemukakan teori konvergensi yang berusaha mensitesakan kedua teori
tersebut.

Sebagai makhluk kodrati yang kompleks, manusia memiliki inteligensi dan kehendak
bebas. Dalam hal perkembangan, pada awalnya manusia berkembang alami sesuai dengan
hukum alam. Kemudian perkembangan alami manusia ini menjadi jauh melampui
perkembangan makhluk lain melalui intervensi inteligensi dan kebebasannya.

G. PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL
Erik H Erickson mengungkapkan pendapatnya tentang teori tentang perkembangan
psikososial diantaranya :
1. Trust vs mistrust -- bayi (lahir – 12 bulan)
Anak memiliki indikator positif yaitu belajar percaya pada orang lain, tetapi selain itu
ada segi negatifnya yaitu tidak percaya, menarik diri dari lingkungan masyarakat,dan
bahkan pengasingan. Pemenuhan kepuasan untuk makan dan menghisap, rasa hangat dan
nyaman, cinta dan rasa aman itu bisa menghasilkan kepercayaan. Pada saat kebutuhan
dasar tidak terpenuhi bayi akan menjadi curiga, penuh rasa takut, dan tidak percaya. Hal
ini ditandai dengan perilaku makan, tidur dan eliminasi yang buruk.
2. Otonomi vs ragu-ragu dan malu (autonomy vs shame & doubt) – todler
(1-3 tahun)
Gejala positif dari tahap ini adalah kontrol diri tanpa kehilangan harga diri, dan
negatifnya anak terpaksa membatasi diri atau terpaksa mengalah. Anak mulai
mengembangkan kemandirian dan mulai terbentk kontrol diri. Hal ini harus didukung
oleh orang tua, mungkin apabila dukungan tidak dimiliki maka anak tersebut memiliki
kepribadian yang ragu-ragu.

3. Inisiatif vs merasa bersalah (initiative vs guilt) -- pra sekolah ( 3-6 tahun)


Anak mulai mempelajari tingkat ketegasan dan tujuan mempengaruhi lingkungan dan
mulai mengevaluasi kebiasaan diri sendiri. Disamping itu anak kurang percaya diri,
pesimis, pembatasan dan kontrol yang berlebihan terhadap aktivitas pribadinya. Rasa
bersalah mungkin muncul pada saat melakukan aktivitas yang berlawanan dengan orang
tua dan anak harus diajari memulai aktivitas tanpa mengganggu hak-hak orang lain..

4. Industri vs inferior (industry vs inferiority) -- usia sekolah (6-12 tahun)


Anak mendapatkan pengenalan melalui demonstrasi ketrampilan dan produksi benda-
benda serta mengembangkan harga diri melalui pencapaian, anak biasanya terpengaruhi
oleh guru dan sekolah. Anak juga sering hilang harapan, merasa cukup, menarik diri dari
sekolah dan teman sebaya.

5. Identitas vs bingung peran (identity vs role confusion) -- remaja (12 - 18 tahun)


Teman sebaya memiliki pengaruh yang sangat besar yang kuat terhadap perilaku anak,
anak mengembangkan penyatuan rasa diri sendiri, kegagalan untuk mengembangkan rasa
identitas dengan kebingungan peran,sering muncul dari perasaan tidak adekuat, isolasi
dan keragu-raguan.

6. Intimasi vs isolasi (intimacy vs isolation) – dewasa muda (18-25sampai 45tahun)


Individu mengembangkan kedekatan dan berbagi hubungan dengan orang lain, yang
mungkin termasuk pasangan seksualnya, ketidakpastian individu mengenai akan
mempunyai kesulitan mengembangkan keintiman, individu tidak bersedia atau tidak
mampu berbagi mengenai diri sendiri hal ini akan menjadikan individu meraa sendiri.

7. Generativitas vs stagnasi atau absorpsi diri – dewasa tengah (45 – 65 tahun)


Absorpsi diri orang dewasa akan direnungi selanjutnya, mengekspresikan kepedulian
pada dunia di masa yang akan datang, perenungan diri sendiri mengarah pada stagnasi
kehidupan. Orang dewasa membimbing generasi selanjutnya, mengekspresikan kepada
dunia dimasa yang akan datang.

8. Integritas ego vs putus asa -- dewasa akhir (65 tahun keatas)


Masa lansia dapat melihat kebelakang dengan rasa puas dan penerimaan hidup dan
kematian, pencaian yang tidak berhasil dalam krisis ini bisa menghasilkan perasaan putus
asa karena individu melihat kehidupan sebagai bagian dari ketidakberuntungan.

Selain teori tersebut menurut, diketahui bahwa gejolak emosi remaja dan masalah remaja
lain pada umumnya disebabkan antara lain oleh adanya konflik peran sosial. Di satu pihak ia
sudah ingin mandiri sebagai orang dewasa, di pihak lain ia masih harus terus mengikuti
kemauan orang tua. Rasa ketergantungan pada orang tua di kalangan anak anak Indonesia
lebih besar lagi, karena memang dikehandaki demikian oleh orang tua.Konflik peran yang
yang dapat menimbulkan gejolak emosi dan kesulitan kesulitan lain pada amasa remaja dapat
dikurangi dengan memberi latihan latihan agar anak dapat mandiri sedini mungkin. Dengan
kemandiriannya anak dapat memilih jalannya sendiri dan ia akan berkembang lebih mantap.
Oleh karena ia tahu dengan tepat saat saat yang berbahaya di mana ia harus kembali
berkonsultasi dengan orang tuanya atau dengan orang dewasa lain yang lebih tahu dari
dirinya sendiri.

H. PERKEMBANGAN MORAL
Moral merupakan bagian yang cukup penting dalam jiwa remaja. Sebagian orang
berpendapat bahwa moral bisa mengendalikan tingkah laku anak yang beranjak dewasa ini
sehingga ia tidak melakukan hal hal yang merugikan atau bertentangan dengan kehendak
atau pandangan masyarakat.Di sisi lain tiadanya moral seringkali dituding sebagai faktor
penyebab meningkatnya kenakalan remaja.

Para sosiolog beranggapan bahwa masyarakat sendiri punya peran penting dalam
pembentukan moral. W.G. Summer (1907), salah seorang sosiolog, berpendapat bahwa
tingkah laku manusia yang terkendali disebabkan oleh adanya kontrol dari masyarakat itu
sendiri yang mempunyai sanksi sanksi tersendiri buat pelanggar pelanggarnya.Bayi berada
dalam tahap perkembangan moral yang oleh Piaget (Hurlock, 1980) disebut moralitas dengan
paksaan (preconventional level) yang merupakan tahap pertama dari tiga tahapan
perkembangan moral.
Menurut teori Kohlberg (1968) menyatakan bahwa perkembangan moral meliputi beberapa
tahap meliputi :
1. Tingkat premoral (prekonvensional) : lahir sampai 9 tahun
Anak menyesuaikan minat diri sendiri dengan aturan, berasumsi bahwa penghargaan atau
bantuan akan diterimanya, kewaspadaan terhadap moral yang bisa diterima secara sosial,
kontrol emosi didapatkan dari luar.
2. Tingkat moralitas konvensional : 9-13 tahun
Usaha yang dilakukan untuk memyensngkan orang lain, kontrol emosi didapat dari
dalam, anak menyesuaikan diri untuk menghindari penolakan dan menghindari kritikan
dari yang berwenang.
3. Tingkat moralitas pasca konvensional : 13 tahun sampai meninggal
Individu memperoleh nilai moral yang benar, pencapaian nilai moral yang benar terjadi

setelah dicapai formal operasional dan tidak semua orang mencapai tingkatan ini.
Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg, ialah
internalisasi (internalization), yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang
dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal.

I. PERKEMBANGAN SPIRITUAL
Sejalan dengan perkembangan social, perkembangan keagamaan mulai disadari bahwa
terdapat aturan-aturan perilaku yang boleh, harus atau terlarang untuk
melakukannya.Perkembangan spiritual anak sangat bepengaruh sekali dalam tumbuh
kembang anak. Agama sebagai pedoman hidup anak untuk masa yang akan datang. Selain
itu, moral seorang anak juga dapat dibentuk melalui perkembangan spiritual. Anak diberi
pengetahuan adanya kepercayaan terhadap Tuhan YME sesuai dengan kepercayaan yang
dianut orang tua. Karena agama seorang anak itu diturunkan/diwariskan oleh orang tuanya.
Para ahli berpendapat bahwa perkembangan spiritual dibagi menjadi 3 tahapan yaitu :
1. Masa kanak-kanak (sampai tujuh tahun)
Tanda-tandanya antara lain : sikap keagamaan resepsif meskipun banyak bertanya,
pandangan ke- Tuhanan masih dipersonifikasikan, penghayatan secara rohaniah masih
belum mendalam meskipun mereka telah melakukan kegiatan ritual.

2. Masa anak sekolah


Tanda-tandanya antara lain : sikap keagamaan resepsif tetapi disertai pengertian,
pandangan dan faham ke-Tuhanan diterangkan secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah
logika yang bersumber pada indikator alam semesta sebagai manifestasi dari eksistensi
dan keagungan-Nya, pengahayatan secara rohaniah makin mendalam dalam
melaksanakan ritual.

3. Masa remaja (12-18 tahun)


Tanda-tanda masa remaja awal : sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis
melihat kenyataan orang-orang beragama secara hypocrit yang pengakuan dan
ucapannya tidak selalu sama dengan perbuatannya, pandangan dalam hal ke-Tuhanan
menjadi kacau karena ia bingung terhadap berbagai konsep tentang aliran dan paham
yang saling bertentangan.
Tanda-tanda masa remaja akhir : sikap kembali kearah positif dengan tercapainya
kedewasaan intelektual, pandangan dalam hal ke-Tuhanan dipahamkan dalam konteks
agama yang dianut dan dipilih, penghayatan rohaninya kembali tenang setelah melalui
proses identifikasi dan membedakan agama sebagai doktrin bagi para penganutnya.
Perawat bisa membantu dengan melakukan tindakan memberikan pengetahuan kepada
anak tentang apa yang terbaik bagi kesehatan anak dan keadaan dimana anak
memerlukan dorongan secara spiritual demi kesembuhan penyakitnya. Allah selamanya
mendengar bisikan dan pembicaraan, melihat setiap gerak-geriknya dan mengetahui apa
yang dirahasiakan , memperhatikan khusu', taqwa dan ibadah.

J. APLIKASI TUMBUH KEMBANG DENGAN KEPERAWATAN


Dalam teori perkembangan hanya menjelaskan satu aspek yaitu perawat harus
mengaplikasikan beberapa teori perkembangan yang ada untuk memahami pasien saat
melakukan pengkajian dan implementasi tindakan keperawatan tentang tumbuh
kembang.Perkembangan setiap individu berbeda antara yang satu dengan yang lainnya sesuai
dengan tingkat perkembangan dirinya sendiri oleh arena itu perawat tidak boleh membeda-
bedakan antara klien yang satu dengan yang lainnya.
Teori-teori tumbuh kembang dapat bermanfaat dalam dunia keperawatan diantaranya untuk
pengkajian, mengetahui tingkatan perilaku klien dan memberikan intervensi keperawatan
terhadap klien sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Konsep tumbuh kembang manusia
ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam mempelajari konsep tumbuh kembang manusia pada
berbagai macam tingkatan usia dan masalah yand ada dalam masyarakat.

DAMPAK HOSPITALISASI

A. Pengertian Hospitalisasi
Hospitalisasi merupakan perawatan yang dilakukan dirumah sakit dan dapat
menimbulkan trauma dan stress pada klien yang baru mengalami rawat inap dirumah sakit.
Hospitalisasi dapat diartikan juga sebagai suatu keadaan yang memaksa seseorang harus
menjalani rawat inap di rumah sakit untuk menjalani pengobatan maupun terapi yang
dikarenakan klien tersebut mengalami sakit. Pengalaman hospitalisasi dapat mengganggu
psikologi seseorang terlebih bila seseorang tersebut tidak dapat beradaptasi dengan
lingkungan barunya di rumah sakit. Pengalaman hospitalisasi yang dialami klien selama
rawat inap tersebut tidak hanya mengganggu psikologi klien, tetapi juga akan sangat
berpengaruh pada psikososial klien dalam berinteraksi terutama pada pihak rumah sakit
termasuk pada perawat.

Dalam Supartini (2002), hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan
yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani
terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah.

Penelitian membuktikan bahwa hospitalisasi anak dapat menjadi suatu pengalaman yang
menimbulkan trauma, baik pada anak, maupun orang tua. Sehingga menimbulkan reaksi
tertentu yang akan sangat berdampak pada kerja sama anak dan orang tua dalam perawatan
anak selama di rumah sakit (Halstroom dan Elander, 1997, Brewis, E, 1995, dan Brennan, A,
1994). Oleh karena itu betapa pentingnya perawat memahami konsep hospitalisasi dan
dampaknya pada anak dan orang tua sebagai dasar dalam pemberian asuhan keperawatan
(Supartini, 2002).

B. Manfaat Hospitalisasi
Menurut Supartini (2004), cara memaksimalkan manfaat hospitalisasi anak adalah sebagai
berikut.
1. Membantu perkembangan orang tua dan anak dengan cara memberi kesempatan orang
tua mempelajari tumbuh-kembang anak dan reaksi anak terhadap stressor yang dihadapi
selama dalam perawatan di rumah sakit.
2. Hospitalisasi dapat dijadikan media untuk belajar orang tua.Untuk itu, pearawat dapat
memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak, terapi yang
didapat, dan prosedur keperawatan yang dilakukan pada anak, tentunya sesuai dengan
kapasitas belajarnya.
3. Untuk meningkatkan kemampuan kontrol diri dapat dilakukan dengan memberi
kesempatan pada anak mengambil keputusan, tidak terlalu bergantung pada orang lain
dan percaya diri. Tentunya hal ini hanya dapat dilakukan oleh anak yang lebih besar,
bukan bayi. Berikan selalu penguatan yang positif dengan selalu memberikan pujian atas
kemampuan anak dan orang tua dan dorong terus untuk meningkatkannya.
4. Fasilitasi anak untuk menjaga sosialisasinya dengan sesama pasien yang ada, teman
sebaya atau teman sekolah. Beri kesempatan padanya untuk saling kenal dan berbagi
pengalamannya. Demikian juga interaksi dengan petugas kesehatan dan sesama orang tua
harus difasilitasi oleh perawat karena selama di rumah sakit orang tua dan anak
mempunyai kelompok sosial yang baru.

C. Faktor-Faktor Penunjang Hospitalisasi


Faktor-faktor yang menunjang hospitalisasi (Stevens, 1992) :
1. Kepribadian Manusia
Tidak setiap orang peka terhadap hospitalisasi. Kita melihat ada sebagian orang
yang sangat menderita dan sangat tergantung pada pada apa yang diberikan
lingkungannya. Namun ada juga yang menangani sendiri dan tidak bisa menerima
keadaan itu begitu saja. Semua tergantung dari segi kepribadian manusia itu sendiri.

2. Kehilangan Kontak dengan Dunia Luar Rumah Perawatan


Pasien/ orang yang tinggal di rumah perawatan akan kehilangan kontak yang
sudah lama berjalan dengan terpaksa. Dia sudah tidak berada lagi dalam lingkungan yang
aman yang dijalaninya dalam sebagian besar hidupnya.
Orang-orang yang sering berkomunikasi dengannya kini hanya sekedar bertamu dalam
suasana yang berbeda, hanya sebagian kecil keluarga dekat yang menemaninya. Sebagian
besar kontak-kontak dengan orang senasib yang terbatas dalam ruang perawatan yang
sama dan dengan orang-orang yang membantunya. Dunia mereka boleh dikatakan
terbatas pada lingkungan kecil. Apalagi ia bergaul dengan orang-orang yang sebenarnya
bukan pilihannya.

3. Sikap Pemberi Pertolongan


Ada perbedaan tugas antara pasien dan yang memberi pertolongan. Ini terlihat
jelas dalam kegiatan mereka sehari-hari. Pasien biasanya menunggu dan yang menolong
yang menentukan apa yang dilakukan dan kapan. Pasien menunggu apa yang terjadi dan
perawat yang tahu. Pasien tergantung pada yang menolong dan ia terpaksa mengikuti. Ia
sering merasa tidak berdaya sehingga merasa harga dirinya berkurang. Hal ini membuat
dirinya lebih merasa tergantung. Perawat melakukan pekerjaan yang rutin dan
berkembang sedikit saja, hal ini akan membuat mereka menanamkan jiwa hospitalisasi
pada pasien.

4. Suasana Bagian Perawatan


Suasana bagian sebagian besar ditentukan oleh sikap personel/ perawat, baik oleh
hubungan antar sesama perawat, maupun oleh sikap mereka terhadap pasien dan tamu-
tamu mereka. Cara berpakaian orang-orang di bagian juga sangat penting. Cara manuasia
bergaul, dapat mempengaruhi sikap pasien. Ketergantungan antara personal biasanya
mudah dapat dipengaruhi. Pasien yang dirawat inap mendapat kesan bahwa mereka
bukan yang terpenting dalam perawatan ini. Juga ternyata bahwa orang-orang yang hanya
mendapatkan tugas melaksanakan pekerjaan dan tanpa bisa memberi tanggapan atau
saran maka pasien-pasien atau tamu-tamu mereka akan diperlakukan sama seperti itu. Ini
memperbesar kemungkinan adanya hospitalisasi.

5. Obat-Obatan
Obat-obatan dapat memberi pengaruh besar pada sikap. Beberapa obat-obatan
dapat mengakibatkan adanya tanda-tanda yang sama seperti hospitalisasi. Dengan
sendirinya, kemungkinan hospitalisasi besar. Jika dipakai obat-obatan yang dapat
merangsang adanya sikap tadi.

D. Mempersiapkan Anak Untuk Mendapatkan Pelayanan Di Rumah Sakit


Rumah sakit tempat dirawat mungkin merupakan tempat dan suasana baru bagi anak.
Oleh karena itu, persiapan sebelum dirawat itu sangat penting. Persiapan anak sebelum
dirawat di rumah sakit didasarkan pada asumsi bahwa ketakutan akan sesuatu yang tidak
diketahui akan menjadi ketakutan yang (Supartini, 2004).
Menurut Supartini (2004), pada tahap sebelum masuk rumah sakit dapat dilakukan :
1. Siapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia dan jenis penyakit dengan peralatan
yang diperlukan.
2. Apabila anak harus dirawat secara berencana, 1-2 hari sebelum dirawat diorientsikan
dengan situasi rumah sakit dengan bentuk miniatur bangunan rumah sakit.
Sedangkan pada hari pertama dirawat, menurut Supartini (2004), tindakan yang harius
dilakuan adalah :
1. Kenalkan perawat dan dokter yang akan merawatnya.
2. Orientasikan anak dan orang tua pada ruangan rawat yang ada beserta fasilitas yang dapat
digunakannya.
3. Kenalkan dengan pasien anak lain yang akan menjadi teman sekamarnya.
4. Berikan identitas pada anak. Misalnya pada papan nama anak.
5. Jelaskan aturan rumah sakit yang berlaku da jadwal kegiatan yang harus diikuti.
6. Laksanakan pengkajian riwayat keperawatan.
7. Lakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lainya sesuai dengan yang diprogramkan.

E. Stressor Dalam Hospitalisasi


Saat dirawat di rumah sakit atau tengah menjalani proses hospitalisasi, klien (dalam hal
ini adalah anak), tentu akan mengalami stress akibat dari segala macam bentuk perubahan
yang ia alami, seperti perubahan lingkungan, suasana, dan lain sebagainya.
1. Reaksi anak terhadap hospitalisasi
Stressor dan reaksi hospitalisasi sesuai dengan tumbuh kembang pada anak (Novianto
dkk,2009):
a. Masa Bayi (0-1 tahun)
Dampak perpisahan, usia anak > 6bulan terjadi stanger anxiety (cemas)
1) Menangis keras
2) Pergerakan tubuh yang banyak
3) Ekspresi wajah yang tidak menyenangkan

b. Masa Todler (2-3 tahun)


Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan. Disini respon perilaku anak dengan
tahapnya.

c. Masa Prasekolah (3-6 tahun)


Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman, sehingga
menimbulkanreaksi agresif.
1) Menolak makan
2) Sering bertanya
3) Menangis perlahan
4) Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan

d. Masa Sekolah (6-12 tahun)


Perawatan di rumah sakit memaksakan ;
1) Meninggalkan lingkungan yang dicintai
2) Meninggalkan keluarga
3) Kehilangan kelompok sosial, sehingga menimbulkan kecemasan
e. Masa Remaja (12-18 tahun)
Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh kelompok sebayanya. Reaksi yang
muncul:
1) Menolak perawatan / tindakan yang dilakukan
2) Tidak kooperatif dengan petugas
3) Bertanya-tanya
4) Menarik diri
5) Menolak kehadiran orang lain

Pendekatan yang digunakan dalam hospitalisasi (Novianto dkk, 2009) :


a. Pendekatan Empirik
Dalam menanamkan kesadaran diri terhadap para personil yang terlibat dalam
hospitalisasi, metode pendekatan empirik menggunakan strategi, yaitu ;
1) Melalui dunia pendidikan yang ditanamkan secara dini kepada peserta didik.
2) Melalui penyuluhan atau sosialisasi yang diharapkan kesadaran diri mereka
sendiridan peka terhadap lingkungan sekitarnya.

b. Pendekatan Melalui Metode Permainan


Metode permainan merupakan cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkankonflik
dalam dirinya yang tidak disadari. Kegiatan yang dilakukan sesuai keinginansendiri
untuk memperoleh kesenangan.

2. Reaksi keluarga terhadap hospitalisasi


Berikut beberapa reaksi orang tua saat anak mereka dirawat di rumah sakit
(Supartini,2004) :
a. Perasaan Cemas dan Takut
Perasaan cemas ini mungkin dapat terjadi ketika orang tua melihat anaknya
mendapat prosedur menyakitkan seperti pengambilan darah, injeksi, dan prosedur
invasiof lainnya. Hal ini mungkin saja membuat orang tua merasa sedih atau bahkan
menangis karena tidak tega melihat anaknya. Oleh karea itu, pada kondisi ini perawat
atau petugas kesehatan harus lebih bijaksana bersikap pada anak dan orang tuanya.
Penelitian membuktikan bahwa rasa cemas paling tinggi dirasakan orang tua saat
menunggu nformasi tentang diagnosis penyakit anaknya (Supartini, 2000), sedangkan
rasa takut muncul pada orang tua terutama akibat takut kehilangan anak pada kondisi
sakit yang terminal (Brewis, 1995). Hal lain yang mungkin menyebabkan rasa cemas
adalah rasa trauma terhadap lingkungan rumah sakit, ataupun rasa cemas karena
pertama kali membawa anaknya untuk dirawat di rumah sakit sehingga merasa asing
dengan lingkungan baru.
Perilaku yang sering ditunjukkan orang tua berkaitan dengan adanya perasaan
cemas dan takut ini adalah sering bertanya atau bertanya tentang hal yang sama
secara berulang pada orang yang berbeda, gelisah, ekspresi wajah tegang, dan bahkan
marah (Supartini, 2001).

b. Perasaan Sedih
Perasaan sedih sering muncul ketika anak pada saat anak berada pada kondisi
termal dan orang tua mengetahui bahwa anaknya hanya memiliki sedikit
kemungkinan untuk dapat sembuh. Bahkan ketika menghadapi anaknya yang
menjelang ajal, orang tua merasa sedih dan berduka. Namun di satu sisi, orang tua
harus berada di samping anaknya sembari memberikan bimbingan spiritual pada
anaknya. Pada kondisi ini, orang tua menunjukkan perilaku isolasi atau tidak mau
didekati orang lain, bahkan bisa tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan
(Supartini, 2000).

c. Perasaan Frustasi
Pada kondisi ini, orang tua merasa frustasi dan putus asa ketika melihat anaknya
yang telah dirawat cukup lama namun belum mengalami perubahan kesehatan
menjadi lebih baik. Oleh karena itu, perlu adanya dukungan psikologis dari pihak-
pihak luar (seperti keluarga ataupun perawat atau petugas kesehatan).

d. Perasaan Bersalah
Perasaan bersalah muncul karena orang tua menganggap dirinya telah gagal
dalam memberikan perawatan kesehatan pada anaknya sehingga anaknya harus
mengalami suatu perubahan kesehatan yang harus ditangani oleh tenaga kesehatan di
rumah sakit.
Memberikan dukungan pada angota keluarga lain (Supartini, 2004) :
1) Berikan dukungan pada keluarga untuk mau tinggal dengan anak di rumah sakit.
2) Apabila diperluakn, fasilitasi keluarga untuk berkonsultasi pada psikolog atau ahli
agama karena sangat dimungkinkan keluarga mengalami masalah psikososial dan
spiritual yang memerluakn bantuan ahli.
3) Beri dukungan pada keluarga untuk meneria kondisi anaknya dengan nilai-nilai
yang diyakininya.
4) Fasilitasi untuk menghadirkan saudara kandung anak apabila diperlukan keluarga
dan berdampak positif pada anak yang dirawat ataupun saudara kandungnya.

F. Dampak Hospitalisasi
Perawatan anak di rumah sakit tidak hanya menjadi masalah pada anak, tetapi juga pada
orang tua. Brewis (1995 dalam Supartini, 2002) menemukan rasa takut pada orang tua
selama perawatan anak di rumah sakit terutama pada kondisi sakit anak yang terminal karena
takut akan kehilangan anak yang dicintainya dan adanya perasaan berduka. Stessor lain yang
sangat menyebabkan orang tua stres adalah mendapatkan informasi buruk tentang diagnosis
medik anaknya, perawatan yang tidak direncanakan dan pengalaman perawatan di rumah
sakit sebelumnya yang dirasakan menimbulkan trauma (Supartini (2000) dalam Supartini,
2002)
Menurut Asmadi (2008), hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi
setiap orang. Penyakit yang diderita akan menyebabkan perubahan perilaku normal sehingga
klien perlu menjalani perawatan (hospitalisasi). Secara umum, menurut Asmadi (2008),
hospitalisasi menimbulkan dampak pada beberapa aspek, yaitu:
1. Privasi
Privasi dapat diartikan sebagai refleksi perasaan nyaman pada diri seseorang dan
bersifat pribadi. Bisa dikatakan, privasi adalah suatu hal yang sifatnya pribadi. Sewaktu
dirawat di rumah sakit, klien kehilangan sebagai privasinya. Kondisi ini disebabkan oleh
beberpa hal :
a. Selama dirawat di rumah sakit, klien berulang kali diperiksa oleh petugas kesehatan
(dalam hal ini perawat dan dokter). Bagian tubuh yang biasanya dijaga agar tidak
dilihat, tiba-tiba dilihat fdan disentuh oleh orang lain. Hal ini tentu akan membuat
klien merasa tidak nyaman.
b. Klien adalah orang yang berada dalam keadaan lemah dan bergantung pada orang
lain. Kondisi ini cendurung membuat klien “pasrah” dan menerima apapun tindakan
petugas kesehatan kepada dirinya asal ia cepat sembuh. Menyikapi hal tersebut,
perawat harus selalu memperhatikan dan menjaga privasi klien ketika berinteraksi
dengan mereka.
Beberapa hal yang dapat perawat lakukan guna menjaga privasi klien adalah sebagai
berikut.
a. Setiap akan melakukan tindakan keperawatan, perawat harus selalu memberitahu dan
menjelaskan perihal tindakan tersebut kepada klien.
b. Memperhatikan lingkungan sebelum melaksanakan tindakan keperawatan. Yakinkan
bahwa lingkungan tersebut menunjang privasi klien.
c. Menjaga kerahasiaan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan klien. Sebagai
contoh, setelah memasang kateter, perawat tidak boleh menceritakan alat kelamin
pasien kepada orang lain, termasuk pada teman sejajwat.
d. Menunjukkan sikap profesional selama berinteraksi dengan klien. Perawat tidak boleh
mengeluarkan kata-kata yang dapat membuat klien malu atau marah. Sikap tubuh pun
tidak boleh layaknya majikan kepada pembantu.
e. Libatkan klien dalam aktivitas keperawatan sesuai dengan batas kemampuannya jika
tidak ada kontraindikasi.

2. Gaya Hidup
Klien yang dirawat di rumah sakit sering kali mengalami perubahan pola gaya
hzidup. Hal ini disebabkan oleh perubahan kondisi antara rumah sakit dengan rumah
ztempat tinggal klien, juga oleh perubahan kondisi keehatan klien. Aktivitas hidup yang
klien jalani sewaktu sehat tentu berbeda dengan aktivitas yang dialaminya selama di
rumah sakit. Perubahan gaya hidup akibat hospitalisasi inilah yang harus menjadi
perhatian setiap perawat. Asuhan keperawatan yang diberikan harus diupayakan
sedemikian rupa agar dapat menghilangkan atau setidaknya meminimalkan perubahan
yang terjadi.

3. Otonomi
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa individu yang sakit da dirawat di
rumah sakit berada dalam posisi ketergantungan. Artinya, ia akan pasrah terhadap
tindakan apapun yang dilakukan oleh petugas kesehatan demi mencapai keadaan sehat.
Ini meniunjukkan bahwa klien yang dirawat di rumah sakit akan mengalami perubahan
otonomi. Untuk mengatasi perubahan ini, perawat harus selalu memberitahu klien
sebelum melakukan intervensi apapun dan melibatkan klien dalam intervensi, baik secara
aktif maupun pasif.

4. Peran
Peran dapat diartikan sebagai seperangkat perilaku yang diharapkan individu sesuai
dengan status sosialnya Jika ia seorang perawat, peran yang diharapkan adalah peran
sebagi perawat bukan sebagai dokter.Selain itu, peran yang dijalani seseorang adalah
sesuai dengan status kesehatannya. Peran yang dijalani sewaktu sehat tentu berbeda
dengan peran yang dijalani saat sakit.Tidak mengherankan jika klien yang dirawat di
rumah sakit mengalami perubahan peran. Perubahan yang terjadi tidak hanya pada diri
pasien, tetapi juga pada keluarga. Perubahan tersebut antara lain :
a. Perubahan peran. Jika salah seorang anggota keluarga sakit, akan terjadi perubahan
pera dalam keluarga. Sebagai contoh, jiak ayah sakit maka peran jepala keluarga akan
digantikan oleh ibu. Tentunya perubahan peran ini mengharuskan dilaksanakannya
tugas tertentu sesuai dengan peran tersebut.
b. Masalah keuangan. Keuangan keluarga akan terpengaruh oleh hospitalisasi.
Keuangan yang sedianya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga
akhirnya digunakan untukj keperluan klien yang dirawat. Akibatnya, keuangan ini
sangat riskan, terutama pada keluarga yang miskin. Dengan semakin mahalnya biaya
kesehatan, beban keuangan keluarga semakin bertambah.
c. Kesepian. Suasana rumah akan berubah jika ada seorang anggota keluarga ytang
dirawat. Keseharian keluarga yang biasanya dihiasi kegembiraan, keceriaan, dan
senda-gurau anggotaanya tiba-iba diliputi oleh kesedihan. Suasana keluarga pun
menjadi sepi karena perhatian keluarga terpusat pada penanganan anggota
keluarganya yang sedang dirawat.
d. Perubahan kebiasan sosial. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat.
Karenanya, keluarga pun mempunyai kebiasaan dalam lingkungan sosialnya.
Sewaktu seha, keluarga mampu berperan serta dalam kegiata sosial. Akan tetapi, saat
salah seorang anggota keluarga sakit, keterlibatan keluarga dalam aktivitas sosial di
masyarakatpun mengalami perubahan.

G. Mengatasi Dampak Hospitalisasi


Menurut Supartini (2004, hal. 196), cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak
hospitalisasi adalah sebagai berikut :
1. Upaya meminimalkan stresor :
Upaya meminimalkan stresor dapat dilakukan dengan cara mencegah atau mengurangi
dampak perpisahan, mencegah perasaan kehilangan kontrol dan mengurangi/
meminimalkan rasa takut terhadap pelukaan tubuh dan rasa nyeri
2. Untuk mencegah/meminimalkan dampak perpisahan dapat dilakukan dengan cara :
a. Melibatkan keluarga berperan aktif dalam merawat pasien dengan cara membolehkan
mereka tinggal bersama pasien selama 24 jam (rooming in).
b. Jika tidak mungkin untuk rooming in, beri kesempatan keluarga untuk melihat pasien
setiap saat dengan maksud mempertahankan kontak antar mereka.
c. Modifikasi ruangan perawatan dengan cara membuat situasi ruangan rawat perawatan
seperti di rumah dengan cara membuat dekorasi ruangan.

DAFTAR PUSTAKA
Asmadi. (20). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC.
Stevens, P.J.M. dkk (1997). Ilmu Keperawatan.2(1).Jakarta; EGC.
Supartini, Y. (2004). Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta:EGC.
http://ners-novriadi.blogspot.com/2012/09/askep-pada-klien-hospitalisasi.html
http://henitaekaputri.blogspot.com/2012/11/hospitalisasi.html