Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

P3 PENCAHAYAAN ALAMI

Disusun oleh Kelompok 6:


Putri Wulan Suci (3214 100 003)
Isnaeni Nur Chasanah (3214 100 004)
Alfia Nurul Pratiyani (3214 100 005)
Ramadhan Dwi Nugraha (3214 100 021)

Dosen Pembimbing :
Ir. Wiratno A Asmoro, M.Sc

Asisten Praktikum :
Evita Wahyundari (2411 100 031)

JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2015

i
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
P3 PENCAHAYAAN ALAMI

Disusun oleh Kelompok 6:


Putri Wulan Suci (3214 100 003)
Isnaeni Nur Chasanah (3214 100 004)
Alfia Nurul Pratiyani (3214 100 005)
Ramadhan Dwi Nugraha (3214 100 021)

Dosen Pembimbing :
Ir. Wiratno A Asmoro, M.Sc

Asisten Praktikum :
Evita Wahyundari (2411 100 031)

JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2015
2015

ii
ABSTRAK

Cahaya merupakan salah satu unsur penting yang


diperlukan manusia untuk melakukan aktivitasnya. Secara
garis besar cahaya bisa dibagi menjadi cahaya alami yaitu
yang bersumber dari cahaya matahari dan cahaya buatan
meliputicahaya listrik, cahaya dari gas, lampu minyak
maupun lilin yang digunakan sebagai sarana pelengkap
untuk penerangan di dalam buatan. untuk mendapatkan
pencahayaan alami pada suatu ruangan diperlukan
jendela-jendela yang besar ataupun dinding kaca
sekurang-kurangnya 1/6 daripada luas lantai. Cahaya
merupakan gelombang elektomagnetik yang dapat
dibangkitkan oleh gejala kelistrikan dan kemagnetan,
karenanya pencahayaan di dalam ruangan dapat
bersumber dari cahaya buatan yang diasilkan oleh energi
listrik. Pencahayaan ruangan dalam suatu kegiatan
merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan untuk
menjamin kenyamanan dan kelancaran dalam aktivitas
yang dilakukan. Pencahayaan suatu ruangan ditentukan
pada jenis aktivitas yang akan dilakukan dalam ruangan
tersebut oleh karena itu cahaya yang dibutuhkan disetiap
ruangan akan berbeda, baik intensitas maupun jenisnya.
Pencahayaan yang baik dapat ditentukan oleh jumlah titik
lampu yang dipasang atau pada tempat
dan jarak pemasangannya. Percobaan ini bertujuan untuk
menentukan kualitas pencahayaan alami dalam suatu
ruangan dengan membandingkan serta menganalisa
kualitas pencahayaan suatu ruangan dengan standar yang
ada menggunakan luxmeter. hasil percobaan menunjukkan
bahwa ruangan yang dipakai pada percobaan ini memiliki

iii
nilai penerangan yang kurang memenuhi standar
penerangan yang disarankan (sebesar 250 lux).

Kata kunci : pencahayaan, luxmeter

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha


Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya kami mampu
menyelesaikan Laporan Praktikum Pencahayaan Alami
yang diselenggarakan oleh Laboratorium Rekayasa Akustik
dan Fisika Bangunan Jurusan Teknik Fisika ITS dengan
tepat waktu.
Dalam laporan ini kami membahas mengenai hasil dan
analisis percobaan yang telah kami lakukan dalam
praktikum. Kami berharap laporan ini dapat menjadi
bahan acuan bagi mahasiswa maupun masyarakat umum
yang ingin mempelajari mengenai Pencahayaan Alami dan
tentunya dapat melengkapi prasyarat mata kuliah Fisika
Bangunan. Selain itu, kami juga menyadari adanya
kekurangan dalam laporan ini. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang membangun sangat kami harapkan agar
penyusunan laporan ataupun percobaan selanjutnya dapat
lebih baik lagi.

Surabaya, Mei 2015

Penulis

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............. iError! Bookmark not defined.


ABSTRAK........................................................... iiii
KATA PENGANTAR ................................................. v
DAFTAR ISI ........................................................ vii
BAB I PENDAHULUAN ..............................................1
1.1 Latar Belakang .............................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................1
1.3 Tujuan .......................................................1
1.4 Sistematika Laporan ......................................2
BAB II DASAR TEORI ...............................................5
2.1 Transmision Loss ..... Error! Bookmark not defined.
2.2 Material akustik ...... Error! Bookmark not defined.
2.3 Koefisien Absorbsi .........................................5
2.4 Waktu dengung dengan koofisien penyerapanError! Bookmark not defined.
BAB IIIMETODOLOGI PERCOBAAN.............................. 11
3.1 Alat Dan Bahan ....... Error! Bookmark not defined.
3.2 Langkah-Langkah PercobaanError! Bookmark not defined.
BAB IV.............................................................. 13
4.1 Analisis Data ............................................. 13
4.2 Pembahasan .............................................. 13
4.2.1 Rifian Rajakami Silalahi (241410635) ........ Error!
Bookmark not defined.
4.2.2 Muhammad Faizal (2414106015) .Error! Bookmark
not defined.
4.2.3 Eko Mamo Prapitag (2414106018)Error! Bookmark
not defined.
4.2.4 Triawan Ramadhan (2414105051)Error! Bookmark
not defined.
4.2.5 Susi Yanti N. (2414106034) . Error! Bookmark not
defined.
BAB V PENUTUP .................................................. 13
5.1 Kesimpulan ............................................... 13
5.2 Saran ...................................................... 13

vi
Halaman ini sengaja dikosongkan ............................ 14
DAFTAR PUSTAKA ................................................ 15

vii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Cahaya matahari sebagai sumber pencahayaan alami
merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang
sangat berlimpah di Indonesia. Sebagai negara yang
melintang dari barat sampai ke timur di bawah garis
khatulistiwa, negara ini sangat kaya akan energi yang
dihasilkan oleh matahari. Kondisi geografis ini pula yang
membawa pada stabilnya cahaya matahari yang diterima
diseluruh wilayah di Indonesia sepanjang tahun
(Parmonangan Manurung, 2012). Kondisi yang melimpah ini
hendaknya dapat dioptimalkan pemanfaatannya oleh
masyarakat Indonesia, terutama kaitannya dengan
pencahayaan. Sebagai mahasiswa teknik fisika, dituntut
memiliki kemampuan dalam bidang pencahayaan alami.
Terutama dalam hal perhitungan pencahayaan alami
didalam ruang.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada praktikum ini yaitu:
a. Bagaimana kualitas pencahayaan alami suatu
ruangan yang baik itu?
b. Bagaimana perbandingan antara kualitas
pencahayaan suatu ruangan kelas dengan standar
yang ada?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum pencahayaan alami ini
adalah :
a. Mampu menentukan kualitas pencahaayan alami
suatu ruangan

1
b. Mampu membandingkan dan menganalisa kualitas
pencahayaan suatu ruangan dengan standar yang
ada.

1.4 Sistematika Laporan


Sistematika penulisan laporan ini terdiri dari 5 Bab.
Bab Iadalah pendahuluan yang berisi latar belakang,
rumusan masalah, tujuan dan sistematika laporan. Bab II
adalah dasar teori yang berisi pengertian dasar yang
menjelaskan bahan ajar secara menyeluruh. Bab III adalah
metodologi percobaan yang berisi peralatan percobaan
dan prosedur percobaan. Bab IV adalah analisa data dan
pembahasan tiap mahasiswa. Bab V adalah penutup yang
berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan menjelaskan hasil
akhir dari percobaan dan saran menjelaskan saran yang
diberikan untuk praktikum ke depannya.

2
5

BAB II
DASAR TEORI

2.1 Pencahayaan Alami


Pencahayaan alami adalah sumber pencahayaan yang
berasal dari sinar matahari. Pencahayaan alami selain
menghemat energi listrik juga dapat membunuh kuman.
Untuk mendapatkan pencahayaan alami pada suatu ruang
diperlukan jendela-jendela yang besar ataupun dinding
kaca sekurang-kurangnya 1/6 daripada luas lantai. Sumber
pencahayaan alami kadang dirasa kurang efektif dibanding
dengan penggunaan pencahayaan buatan, selain karena
intensitas cahaya yang tidak tetap, sumber alami
menghasilkan panas terutama saat siang hari. Faktor-
faktor yang perlu diperhatikan agar penggunaan sinar
alami mendapat keuntungan, yaitu:
a. Variasi intensitas cahaya matahari
b. Distribusi dari terangnya cahaya
c. Efek dari lokasi, pemantulan cahaya, jarak antar
bangunan
d. Letak geografis dan kegunaan bangunan gedung

2.2 Faktor Langit ( fl )


Faktor langit (fl) suatu titik pada suatu bidang di
dalam suatu ruangan adalah angka perbandingan tingkat
pencahayaan langsung dari langit di titik tersebut dengan
tingkat pencahayaan oleh Terang Langit pada bidang
datar di lapangan terbuka. Pengukuran kedua tingkat
pencahayaan tersebut dilakukan dalam keadaan sebagai-
berikut:
a. Dilakukan pada saat yang sama. Praktikum Fisika
Bangunan Arsitektur 2015
b. Keadaan langit adalah keadaan Langit Perancangan
dengan distribusi terang yang merata di mana-
mana.
6

c. Semua jendela atau lubang cahaya diperhitungkan


seolah-olah tidak ditutup dengan kaca.

Suatu titik pada suatu bidang tidak hanya menerima


cahaya langsung dari langit tetapi juga cahaya langit yang
direfleksikan oleh permukaan di luar dan di dalam
ruangan. Perbandingan antara tingkat pencahayaan yang
berasal dari cahaya langit baik yang langsung maupun
karena refleksi, terhadap tingkat pencahayaan pada
bidang datar di lapangan terbuka disebut faktor
pencahayaan alami siang hari.
Dengan demikian faktor langit adalah selalu lebih kecil
dari faktor pencahayaan alami siang hari. Pemilihan faktor
langit sebagai angka karakteristik untuk digunakan sebagai
ukuran keadaan pencahayaan alami siang hari adalah
untuk memudahkan perhitungan oleh karena fl merupakan
komponen yang terbesar pada titik ukur.

2.3 Titik Ukur


Merupakan titik di dalam ruangan yang keadaan
pencahayaannya dipilih sebagai indikator keadaan
pencahayaan seluruh ruangan.
a. Titik ukur diambil pada suatu bidang datar yang
letaknya pada tinggi 0,75 meter di atas lantai.
Bidang datar tersebut disebut bidang kerja (lihat
gambar 1).
7

Gambar. Tinggi dan Lebar Lubang Cahaya Efektif


8

b. Untuk menjamin tercapainya suatu keadaan


pencahayaan yang cukup memuaskan maka Faktor
Langit (fl) titik ukur tersebut harus memenuhi
suatu nilai minimum tertentu yang ditetapkan
menurut fungsi dan ukuran ruangannya.
c. Dalam perhitungan digunakan dua jenis titik ukur:
- titik ukur utama (TUU), diambil pada tengah-
tengah antar kedua dinding samping, yang
berada pada jarak 1/3*d dari bidang lubang
cahaya efektif
- titik ukur samping (TUS), diambil pada jarak
0,50 meter dari dinding samping yang juga
berada pada jarak 1/3*d dari bidang lubang
cahaya efektif, dengan d adalah ukuran
kedalaman ruangan, diukur dari mulai bidang
lubang cahaya efektif hingga pada dinding
seberangnya, atau hingga pada "bidang" batas
dalam ruangan yang hendak dihitung
pencahayaannya itu.
d. Jarak “ d " pada dinding tidak sejajar. Apabila
kedua dinding yang berhadapan tidak sejajar, maka
untuk d diambil jarak di tengah antara kedua
dinding samping tadi, atau diambil jarak rata-
ratanya.
e. Ketentuan jarak "1/3*d" minimum
9

Untuk ruang dengan ukuran d ≤ 6 meter, maka


ketentuan jarak 1/3*d diganti dengan jarak minimum,
yaitu 2 meter.

2.4 Pencahayaan Alami Siang Hari yang Baik


Pencahayaan alami siang hari dapat dikatakan baik
apabila :
a. pada siang hari antara jam 08.00 sampai dengan
jam 16.00 waktu seternpat terdapat cukup banyak
cahaya yang masuk ke dalam ruangan.
b. distribusi cahaya di dalam ruangan cukup merata
dan atau tidak menimbulkan kontras yang
mengganggu.

2.5 Tingkat Pencahayaan Alami dalam Ruang


Tingkat pencahayaan alami di dalam ruangan
ditentukan oleh tingkat pencahayaan langit pada bidang
datar di lapangan terbuka pada waktu yang sama.
Perbandingan tingkat pencahayaan alami di dalam ruangan
dan pencahayaan alami pada bidang datar di lapangan
terbuka ditentukan oleh :
a. hubungan geometris antara titik ukur dan lubang
cahaya
b. ukuran dan posisi lubang cahaya.
c. distribusi terang langit.
d. bagian langit yang dapat dilihat dari titik ukur.

2.5 Faktor Pencahayaan Alami Siang Hari


Faktor pencahayaan alami siang hari adalah
perbandingan tingkat pencahayaan pada suatu titik dari
suatu bidang tertentu di dalam suatu ruangan terhadap
tingkat pencahayaan bidang datar di lapangan terbuka
yang merupakan ukuran kinerja lubang cahaya ruangan
tersebut :
Faktor pencahayaan alami siang hari terdiri dari 3
komponen meliputi :
10

a. Komponen langit (faktor langit-fl) yakni komponen


pencahayaan langsung dari cahaya langit.
b. Komponen refleksi luar (faktor refleksi luar - frl)
yakni komponen pencahayaan yang berasal dari
refleksi benda-benda yang berada di sekitar
bangunan yang bersangkutan.
c. Komponen refleksi dalam (faktor refleksi dalam-
frd) yakni komponen pencahayaan yang berasal
dari refleksi permukaan-permukaan dalam
ruangan, dan cahaya yang masuk ke dalam ruangan
akibat refleksi benda-benda di luar ruangan
maupun dari cahaya langit (lihat gambar1).

2.6 Persamaan Untuk menentukan Faktor Pencahayaan


Alami
H
D
L
Faktor pencahayaan alami siang hari ditentukan oleh
persamaan berikut ini:
Dengan:
L : lebar lubang cahaya efektif
H : tinggi lubang cahaya efektif
D : jarak titik ukur ke lubang cahaya

2.7 Klasifikasi Berdasarkan Kuallitas Pencahayaan


a. Kualitas pencahayaan yang harus dan layak
disediakan, ditentukan oleh :
11

- penggunaan ruangan, khususnya ditinjau


dari segi beratnya penglihatan oleh mata
terhadap aktivitas yang harus dilakukan
dalarn ruangan itu.
- lamanya waktu aktivitas yang memerlukan
daya penglihatan yang tinggi dan sifat
aktivitasnya, sifat aktivitas dapat secara
terus menerus memedukan perhatian dan
penglihatan yang tepat, atau dapat pula
secara periodik dimana mata dapat
beristirahat.
b. Klasifikasi kualitas pencahayaan.
Klasifikasi kualitas pencahayaan adalah sebagai
berikut
- Kualitas A: keda halus sekali, pekedaan
secara cermat terus menerus, seperti
menggambar detil, menggravir, menjahit
kain warna gelap, dan sebagainya.
- Kualitas B: keda halus, pekerjaan cermat
tidak secara intensif terus menerus, seperti
menulis, membaca, membuat alat atau
merakit komponen-komponen kecil, dan
sebagainya.
- Kualitas C: keda sedang, pekedaan tanpa
konsentrasi yang besar dari si pelaku,
seperti pekedaan kayu, merakit suku cadang
yang agak besar, dan sebagainya.
- Kualitas D: kerja kasar, pekedaan dimana
hanya detil-detil yang besar harus dikenal,
seperti pada guclang, lorong falu lintas
orang, dan sebagainya.
12

Halaman ini sengaja dikosongkan


BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

Dalam praktikum ini membutuhkan beberapa alat-alat


untuk menunjang jalannya praktikum dan beberapa
tahapan dalam melaksanakan praktikum. Berikut ini
merupakan alat-alat dan tahapan-tahapan yang butuhkan
dan dilakukan saat praktikum:
3.1 Alat Praktikum:
a) Lux meter
b) Meteran
c) Kapur/penanda lantai

3.2 Prosedur Praktikum:


a. Menyiapkan alat dan ruangan yang akan diukur
tingkat pencahayaan alaminya.
b. Mengukur tingkat pencahayaan di luar ruangan,
dengan mencari tempat yang langitnya tidak
terhalang oleh apapun.
c. Memosisikan lux meter 0.75 m di atas tanah dan
arahkan lux meter ke arah datangnya sinar.
d. Mencatat data yang didapat.
e. Mengukur panjang, lebar, dan tinggi ruangan.
f. Mengukur dimensi semua jendela ruangan.
g. Mengukur intensitas cahaya pada Titik Ukur
Utama (TUU) yaitu sejauh 1/3 D di depan
jendela tepat di tengah ruangan.
h. Mengukur intensitas cahaya pada Titik Ukur
Samping (TUS) yaitu sejauh sejauh 1/3 D di
depan jendela dan 0.5 m dari kedua tembok
samping ruangan.

11
i. Mengukur TUU dan TUS pada setiap tembok yang
memiliki jendela.
j. Mencatat data yang didapatkan.
k. Menghitung nilai fl dari dimensi jendela yang
ada.

12
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Data


Pembahasan
BAB V
PENUTUP Commented [A1]: Yakin disini?

Kesimpulan
Saran

13
Halaman ini sengaja dikosongkan

14
DAFTAR PUSTAKA

[1] Modul P3 Pencahayaan Alam

15