Anda di halaman 1dari 36

RELASI REKURSIF

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Matematika Diskrit


Dosen Pengampu : Dr. Rochmad, M.Si.

Kelompok 5

1. Uzlifa Khanifatul Muttaqi (0401517031)


2. Siti Aminah (0401517042)
3. Tri Wahyuningsih (0401517051)
4. Maula Amalia Maghfuroh (0401517056)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
TAHUN 2018

0
A. Deskripsi Singkat
Makalah ini membahas mengenai relasi rekursif beserta jenis-jenisnya. Terdapat pula
pembahasan untuk memodelkan suatu masalah dengan relasi rekursif dan penyelesaian masalah
menggunakan homogen dan non homogen dengan koefisien konstanta beserta penyelesaian
dengan fungsi pembangkit.
B. Tujuan
Setelah kegiatan belajar bersama, diharapkan mahasiswa dapat :
a. mengetahui definisi relasi rekursif dan jenis-jenisnya.
b. memodelkan suatu masalah dengan relasi rekursif.
c. menjelaskan relasi rekursif homogen dengan koefisien konstanta.
d. menyelesaikan masalah dengan relasi rekursif homogen dengan koefisien konstanta.
e. menjelaskan relasi rekursif non homogen dengan koefisien konstanta.
f. menyelesaikan masalah relasi rekursif non homogen dengan koefisien konstanta.
g. menyelesaikan masalah relasi rekursif dengan fungsi pembangkit.
C. Pendahuluan
Relasi rekursif adalah suatu topik penting dan menarik dalam kombinatorik. Banyak
permasalahan dalam matematika, khususnya kombinatorik dapat dimodelkan ke dalam bentuk
relasi rekursif. Suatu relasi rekursif dari barisan 𝑎0 , 𝑎1 , 𝑎2 … , 𝑎𝑛 adalah sebuah persamaan yang
menyatakan 𝑎𝑛 dengan suku-suku sebelumya 𝑎0 , 𝑎1 , 𝑎2 … , 𝑎𝑛−1 untuk semua bilangan bulat 𝑛 ≥
𝑚 dimana 𝑚 adalah bilangan bulat positif. Maka jelas bahwa relasi rekursif didefinisikan dengan
kondisi tertentu sebagai kondisi awal atau kondisi batas dari relasi tersebut.
D. Materi
1. Pengertian Relasi Rekursif
Perhatikan ilustrasi berikut, misal 𝑃𝑛 menyatakan banyaknya permutasi dari 𝑛 objek
berbeda. Jelas 𝑃1 = 1, karena hanya ada satu permutasi dari 1 objek. Untuk 𝑛 ≥ 2, 𝑃𝑛
diperoleh dengan cara berikut. Terdapat 𝑛 kemungkinan posisi dari satu objek tertentu, dan
setiap kemungkinan posisi dari objek ini akan diikuti oleh permutasi dari 𝑛 − 1 objek. Karena
banyaknya permutasi dari 𝑛 − 1 objek adalah 𝑃𝑛−1 maka terdapat hubungan 𝑃𝑛 = 𝑛𝑃𝑛−1,
dengan demikian
𝑃1 = 1; 𝑃𝑛 = 𝑛𝑃𝑛−1 , 𝑛 ≥ 2
Bentuk ini disebut relasi rekursif untuk 𝑃𝑛 , banyaknya permutasi 𝑛 objek. 𝑃1 = 1 disebut
kondisi awal, sedangkan 𝑃𝑛 = 𝑛𝑃𝑛−1 disebut bagian rekursif dari relasi rekursif tersebut.

1
Dipunyai barisan Fibonacci (1,1,2,3,5,8,13,21,34,55,89. . . ). Misal 𝐹𝑛 menyatakan suku
ke-n barisan tersebut. Perhatikan bahwa untuk 𝑛 ≥ 3, suku ke-𝑛 dari barisan adalah jumlah
dua suku berurutan didepannya. Sehingga relasi rekursif untuk 𝐹𝑛 dapat ditulis sebagai berikut
𝐹1 = 𝐹2 = 1; 𝐹𝑛 = 𝐹𝑛−1 + 𝐹𝑛−2 , 𝑛 ≥ 3
Dalam relasi ini terdapat dua kondisi awal yaitu 𝐹1 = 1 dan 𝐹2 = 1. Kalau kondisi awal ini
kita ubah nilainya, maka barisan Fibonacci yang kita peroleh tentu akan berbeda dari barisan
Fibonacci di atas. Untuk kasus dearrangement, dapat dimodelkan ke dalam bentuk rekursif
seperti berikut ini : 𝐷0 = 1; 𝐷𝑛 = 𝑛𝐷𝑛−1 + (−1)𝑛 , 𝑛 ≥ 1
Dalam hal ini 𝐷0 = 1 sebagai kondisi awal, sedangkan 𝐷𝑛 = 𝑛𝐷𝑛−1 + (−1)𝑛 adalah bagian
rekursif dari relasi rekursif.
a. Bentuk Umum Relasi Rekursif
Suatu relasi rekursif linier orde -k dengan koefisien-koefisien konstanta adalah suatu
relasi rekursif dalam bentuk
𝑎𝑛 = 𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + … + 𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 + 𝑓(𝑛)
Dimana 𝑐1 , 𝑐2, … , 𝑐𝑘 sebagai konstanta dengan 𝑐𝑘 ≠ 0, dan 𝑓(𝑛) adalah fungsi dari
𝑛. Pergertian dari istilah linier dan koefisien konstanta adalah:
Linier: tidak ada pangkat atau produk dari 𝑎𝑗
Koefisien konstanta: 𝑐1 , 𝑐2, … , 𝑐𝑘 adalah konstanta (tidak tergantung pada n).
Jika 𝑓(𝑛) = 0 maka relasi terebut juga disebut sebagai homogen.
Contoh relasi rekursif :
1) 𝑎𝑛 = 5𝑎𝑛−1 − 4𝑎𝑛−2 + 𝑛2
Misalkan keadaan-keadaan awal 𝑎1 = 1, 𝑎2 = 2
Ini adalah relasi rekursif orde kedua dengan koefisien-koefisien konstanta. Relasi ini
non homogen karena adanya suku 𝑛2 . Maka 𝑎3 = 5(2) − 4(1) + 32 = 15
2) 𝑎𝑛 = 2𝑎𝑛−1 𝑎𝑛−2 + 𝑛2
Misalkan keadaan-keadaan awal 𝑎1 = 1, 𝑎2 = 2
Hasil kali 𝑎𝑛−1 𝑎𝑛−2 berarti relasi rekursif ini tidak linier. Maka 𝑎3 = 2(2)(1) + 32 =
13
3) 𝑎𝑛 = 𝑛𝑎𝑛−1 + 3𝑎𝑛−2
Misalkan keadaan-keadaan awal 𝑎1 = 1, 𝑎2 = 2
Ini adalah relasi rekurif homogen linier orde dua tapi tidak memiliki koefisien-
koefisien konstanta. Karena koefisien dari 𝑎𝑛−1 adalah n, bukan konstanta. Maka 𝑎3 =
3(2) + 3(1) = 9
2
4) 𝑎𝑛 = 2𝑎𝑛−1 + 5𝑎𝑛−2 − 6𝑎𝑛−3
Misal diketahui keadaan-keadaan awal 𝑎1 = 1, 𝑎2 = 2, 𝑎3 = 3
Ini merupakan relasi rekursif homogen linier orde tiga. Jadi kira membutuhkan tiga,
bukan dua keadaan awal untuk menghasilkan suatu penyelesaian dari relasi rekursif
tersebut. Maka 𝑎4 = 2(1) + 5(2) − 6(1) = 6
5) 𝑎1 = 𝑎2 = 0; 𝑎𝑛 = 𝑎𝑛−1 + 𝑎𝑛−2 , 𝑛 ≥ 3
Adalah relasi rekursif linier homogen orde dua dengan koefisien konstanta
6) 𝑎1 = 𝑎2 = 1; 𝑎𝑛 = 𝑎𝑛−1 + 𝑎𝑛−2 + 1, 𝑛 ≥ 3
Adalah relasi rekursif linier nonhomogen orde dua dengan koefisien konstanta
7) 𝑎0 = 𝑎1 = 1; 𝑎𝑛 = 𝑎0 𝑎𝑛−1 + 𝑎1 𝑎𝑛−2 + ⋯ + 𝑎𝑛−1 𝑎0 , 𝑛 ≥ 1
Adalah relasi rekursif nonlinier
8) 𝐷0 = 1; 𝐷𝑛 = 𝑛𝐷𝑛−1 + (−1)𝑛 , 𝑛 ≥ 1
Adalah relasi rekursif linier nonhomogen dengan koefisien nonkonstanta
Dari contoh tersebut, dapat diketahui bahwa ada beberapa jenis relasi rekursif antara lain :
relasi rekursif homogen, relasi rekursif nonhomogen, relasi rekursif linear, dan relasi
rekursif nonlinier.
b. Model Relasi Rekursif
Relasi rekursif dapat digunakan untuk berbagai model dalam masalah kehidupan nyata,
baik di dalam dan di luar ilmu komputer. Pada bagian ini kita akan membahas beberapa
masalah dalam dunia nyata penting yang menggunakan model relasi rekursif.
1) Menara Hanoi
Teka-teki Menara Hanoi adalah ritual kuno Menara Brahma seperti yang ditunjukkan
di bawah. Menurut legenda, pada saat dunia diciptakan, ada sebuah menara diamond
(Tower A) dengan 64 piringan emas. Piringan yang mengalami penurunan ukuran
dari bawah ke atas. Selain dari ini, ada dua tiang lainnya (Tower B dan C). Sejak saat
diciptakan, imam Brahma telah mencoba untuk memindahkan piringan dari menara A
ke tiang C melewati tiang B untuk penyimpananan menengah. Piringan yang begitu
berat sehingga mereka dapat dipindahkan dengan hanya satu per satu dan piringan
yang lebih besar tidak dapat ditempatkan di atas piringan yang lebih kecil. Menurut
legenda, dunia akan berakhir ketika imam telah menyelesaikan tugas mereka. Dalam
model ini tujuan kami adalah untuk mentransfer piringan dari menara A ke tiang C
melalui tiang B lebih dahulu dengan memindahkan satu piringan pada suatu waktu.
Satu-satunya batasan adalah bahwa diameter yang lebih besarpasak tidak dapat

3
ditempatkan di atas pasak diameter yang lebih kecil. Ide dari model di atas dapat
diilustrasikan pada gambar berikut:

Menara 1 Tiang 2 Tiang 3


Sebuah solusi yang sangat elegan dari hasil penggunaan rekursi. Mari kita misalkan
jumlah piringan di menara A adalah n. Tujuannya adalah untuk mendapatkan piringan
yang lebih besar pada bagian bawah tiang C. Dalam rangka untuk mendapatkannya,
kita memindahkan sisanya (n - 1) piringan ke tiang B dan kemudian memindahkan
piringan terbesar ke tiang C seperti yang ditunjukkan pada gambar. Sekarang kita
harus memindahkan piringan dari tiang B ke tiang C. Untuk mendapatkan ini, menara
A dan tiang C tersedia. Oleh karena itu, solusi untuk bermasalah n piringan yang
mengarah ke dua (n - 1).

Tiang 1 Tiang 2 Tiang 3


Misalkan 𝑠𝑛 menunjukkan jumlah perpindahan yang diperlukan untuk memecahkan
teka-teki n piringan. Hal ini juga jelas bahwa, jika hanya ada satu piringan maka kita
hanya memindahkannya ke tiang C. Jadi diperoleh pola pemindahan sebagai berikut.
𝑠1 = 1 (kondisi awal)

4
𝑠2 = 3 = 1 + 2 = 1 + (2 × 1) = 1 + (2𝑠1 )
𝑠3 = 7 = 1 + 6 = 1 + (2 × 3) = 1 + (2𝑠2 )
Dari pola 𝑠2 dan 𝑠3 , kita memiliki pengulangan hubungan
sn = 2𝑠𝑛−1 + 1, 𝑛 > 1.
Kita dapat menggunakan pendekatan iterasi untuk memecahkan pengulangan
hubungan ini. Oleh karena itu, kita dapatkan:
sn = 2sn−1 + 1
= 2(2sn−2 + 1) + 1 = 22 𝑠𝑛−2 + 2 + 1
= 22 (2𝑠𝑛−3 + 1) + 2 + 1 = 23 𝑠𝑛−3 + 22 + 2 + 1
= 23 (2𝑠𝑛−4 + 1) + 22 + 2 + 1 = 24 𝑠𝑛−4 + 23 + 22 + 2 + 1
=…………
=…………
= 2𝑛−1 𝑠𝑛−(𝑛−1) + 2𝑛−2 + ⋯ + 23 + 22 + 2 + 1
= 2𝑛−1 𝑠1 + 2𝑛−2 + ⋯ + 23 + 22 + 2 + 1
= 2𝑛−1 + 2𝑛−2 + ⋯ + 23 + 22 + 2 + 1; [∵ 𝑠1 = 1]
1−𝑥 𝑛+1
Dengan menggunakan fugsi pembangkit = 1 + 𝑥 + 𝑥 2 + … . +𝑥 𝑛
1−𝑥

Dengan 𝑥 = 2
= 2𝑛 − 1
Dari rumus di atas, jumlah perpindahan yang dibutuhkan untuk memindahkan 64
piringan dari tower A ke tower C adalah sama dengan
s64 = 264 − 1
= 1,844674.1019 detik
≈ 5.84542.1011 tahun
2) Barisan Fibonacci
Sepasang kelinci muda, jantan dan betina ditempatkan di sebuah pulau. Setelah dua
bulan, masing-masing pasangan menghasilkan pasangan lain setiap bulan. Tujuan
kami adalah untuk mengetahui banyaknya pasangan kelinci di pulau setelah n bulan,
dengan asumsi bahwa tidak ada kelinci pernah mati. Masalah ini terkenal diajukan
oleh Leonardo de pisa, juga dikenal sebagai Fibonacci. Sebuah solusi yang sangat
elegan hasil dari penggunaan rekursi. Pertama kita memisalkan tabulasi kemudian
kita gunakan relasi rekurensi. Tabulasi reproduksi diberikan di bawah ini.

Bulan Pasangan reproduksi Pasangan muda Total pasangan

5
(n) (𝐬𝐧 )

1 0 1 1
2 0 1 1
3 1 1 2 = 1+1
4 1 2 3 = 2+1
5 2 3 5 = 3+2
6 3 5 8 = 5+3

Pada tabel sn menunjukkan jumlah pasangan kelinci setelah n bulan. Dari tabel di
atas jelas bahwa, pada akhir bulan pertama, jumlah pasangan kelinci di salah satu
pulau yaitu, s1 = 1. Hal ini karena pasangan ini tidak melahirkan selama dua bulan
pertama. Oleh karena itu, s2 = 1. Pada bulan ketiga pasangan pertama menghasilkan
satu lagi sepasang kelinci. Jadi, jumlah pasangan adalah 2 yaitu, s3 = 2 = s2 + s1.
Oleh karena itu, jumlah pasangan kelinci setelah n bulan adalah sama dengan jumlah
dari anggota kelinci pada bulan sebelumnya (sn−1) dan jumlah pasangan yang baru
lahir (sn−2). Oleh karena itu, kita mendapatkan hubungan pengulangan sebagai
berikut:
(1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, …)
sn = sn−1 + sn−2 dengan s1 = 1, s2 = 1
3) Bunga Majemuk
Aplikasi nyata lainnya yang penting dari relasi rekursif adalah untuk menghitung
bunga majemuk, tingkat bunga dan jumlah tahun yang diberikan. Misalkan Tuan
Smith telah menyimpan sejumlah 𝑠0 dalam rekening tabungan di bank. Tujuan kami
adalah untuk menghitung jumlah total setelah n tahun jika tingkat bunga per tahun
adalah r persen. Sebuah solusi dihasilkan dari penggunaan relasi rekursif. Misalkan
𝑠𝑛 menunjukkan jumlah simpanan dalam akun setelah n tahun. Jumlah rekening
setelah n tahun sama dengan penjumlahan dari jumlah dalam rekening setelah (n – 1)
tahun dan bunga yang dibayar pada tahun ke- n. Oleh karena itu, kita mendapatkan:
𝑟 𝑟
𝑆𝑛 = 𝑆𝑛−1 + ( ) 𝑆𝑛−1 = (1 + )𝑆
100 100 𝑛−1
Kita menggunakan pendekatan pengulangan untuk memecahkan relasi rekursif ini.
Sehingga

6
𝑟
𝑆𝑛 = (1 + )𝑆
100 𝑛−1
𝑟 𝑟 𝑟 2
= (1 + ) (1 + ) 𝑆𝑛−2 = (1 + ) 𝑆𝑛−2
100 100 100
𝑟 2 𝑟 𝑟 3
= (1 + ) (1 + ) 𝑆𝑛−3 = (1 + ) 𝑆𝑛−3
100 100 100
= ………
𝑟 𝑛
= (1 + ) 𝑆0
100
Oleh karenanya jumlah dalam rekening dapat dihitung menggunakan relasi rekursif
di atas dengan nilai dari s0 , r , dan n diketahui.

2. Relasi Rekursif Homogen Dengan Koefisien Konstanta


a. Pengertian relasi rekursif homogen dengan koefisien konstanta
Bentuk umum dari relasi rekursif homogen dengan koefisien konstanta adalah: 𝑎𝑛 +
𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 = 0 ; 𝑐𝑘 ≠ 0 (4.1)
dengan 𝑘 kondisi awal (syarat batas), dan untuk 1 ≤ 𝑖 ≤ 𝑘 , ci = konstanta.
Pada bagian ini akan dikembangkan suatu teknik untuk menyelesaikan relasi rekursif
(4.1) untuk maksut tersebut diperlukan teorema berikut.

Teorema 4.1 (Prinsip Superposisi)


Jika 𝑔1 (𝑛) dan 𝑔2 (𝑛) berturut-turut adalah solusi dari
𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 = 𝑓1 (𝑛) (4.2)
dan
𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 = 𝑓2 (𝑛) (4.3)
maka untuk sebarang konstanta 𝑐̂1 dan 𝑐̂2 , 𝑐̂1 𝑔1 (𝑛) + 𝑐̂1 𝑔1 (𝑛) adalah solusi dari
𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 = 𝑐̂1 𝑓1 (𝑛) + 𝑐̂2 𝑓2 (𝑛) (4.4)
Bukti:
Karena 𝑔1 (𝑛) dan 𝑔2 (𝑛) berturut-turut adalah solusi dari (4.2) dan (4.3), maka
𝑔1 (𝑛) + 𝑐1 𝑔1 (𝑛 − 1) + 𝑐2 𝑔1 (𝑛 − 2) + 𝑐3 𝑔1 (𝑛 − 3)+ . . . +𝑐𝑘 𝑔1 (𝑛 − 𝑘) = 𝑓1 (𝑛)
𝑔2 (𝑛) + 𝑐1 𝑔2 (𝑛 − 1) + 𝑐2 𝑔2 (𝑛 − 2) + 𝑐3 𝑔2 (𝑛 − 3)+ . . . +𝑐𝑘 𝑔2 (𝑛 − 𝑘) = 𝑓2 (𝑛)
Misal 𝑎𝑛 = 𝑐̂1 𝑔1 (𝑛) + 𝑐̂2 𝑔2 (𝑛) Maka

7
𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘
= 𝑐̂1 𝑔1 (𝑛) + 𝑐̂2 𝑔2 (𝑛) + 𝑐1 (𝑐̂1 𝑔1 (𝑛 − 1))
+ 𝑐1 (𝑐̂2 𝑔2 (𝑛 − 1))+ . . . +𝑐𝑘 (𝑐̂1 𝑔1 (𝑛 − 𝑘) + 𝑐̂2 𝑔2 (𝑛 − 𝑘))
= 𝑐̂1 [𝑔1 (𝑛) + 𝑐1 𝑔1 (𝑛 − 1) + 𝑐2 𝑔1 (𝑛 − 2)+ . . . +𝑐𝑘 𝑔1 (𝑛 − 𝑘)]
+ 𝑐̂2 [𝑔2 (𝑛) + 𝑐1 𝑔2 (𝑛 − 1) + 𝑐2 𝑔2 (𝑛 − 2)+ . . . +𝑐𝑘 𝑔2 (𝑛 − 𝑘)]
= 𝑐̂1 𝑓1 (𝑛) + 𝑐̂2 𝑓2 (𝑛)
Terbukti bahwa 𝑐̂1 𝑔1 (𝑛) + 𝑐̂2 𝑔2 (𝑛) adalah solusi dari (4.4).
b. Akibat Teorema Prinsip Superposisi
Jika 𝑔1 (𝑛), 𝑔2 (𝑛), . . . , 𝑔𝑘 (𝑛) berturut-turut adalah solusi dari:
𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 = 0 (*)
maka untuk sebarang konstanta
𝑐̂1 , 𝑐̂2 , . . . , 𝑐̂𝑘
𝑐̂1 𝑔1 (𝑛) + 𝑐̂2 𝑔2 (𝑛)+ . . . +𝑐̂𝑘 𝑔𝑘 (𝑛) juga solusi dari (*)
Bukti:
Teorema akibat diatas merupakan perluasan dari teorema superposisi.
Berdasarkan teorema superposisi
Jika 𝑔1 (𝑛), 𝑔2 (𝑛) solusi dari (*) maka 𝑐̂1 𝑔1 (𝑛) + 𝑐̂2 𝑔2 (𝑛) juga solusi dari (*)
Jika 𝑔1 (𝑛), 𝑔2 (𝑛) dan 𝑔3 (𝑛) solusi dari (*) maka 𝑐̂1 𝑔1 (𝑛) + 𝑐̂2 𝑔2 (𝑛) +
𝑐̂3 𝑔3 (𝑛)juga solusi dari (*)
Jika 𝑔1 (𝑛), 𝑔2 (𝑛), 𝑔3 (𝑛), … 𝑔𝑘−1 (𝑛), dan 𝑔𝑘 (𝑛) solusi dari (*) maka
𝑐̂1 𝑔1 (𝑛) + 𝑐̂2 𝑔2 (𝑛) + 𝑐̂3 𝑔3 (𝑛) + ⋯ + 𝑔𝑘−1 (𝑛) + 𝑔𝑘 (𝑛) juga solusi dari (*)
Jadi Jika 𝑔1 (𝑛), 𝑔2 (𝑛), 𝑔3 (𝑛), … , 𝑔𝑘 (𝑛) solusi dari (*) maka
Untuk sembarang 𝑐̂1 , 𝑐̂2 , … , 𝑐̂𝑘
𝑐̂1 𝑔1 (𝑛) + 𝑐̂2 𝑔2 (𝑛) + 𝑐̂3 𝑔3 (𝑛) + ⋯ + 𝑔𝑘 (𝑛) juga solusi dari (*)

Untuk menyelesaikan relasi (4.1), pertama tama kita misalkan 𝑎𝑛 = 𝑥 𝑛 , 𝑥 ≠ 0, untuk


menentukan x, kita substitusikan 𝑎𝑖 dengan 𝑥 𝑖 pada (4.1) dengan 𝑖 ∈ {𝑛, 𝑛 − 1, 𝑛 −
2, … . . , 𝑛 − 𝑘}; diperoleh
𝑥 𝑛 + 𝑐1 𝑥 𝑛−1 + 𝑐2 𝑥 𝑛−2 + ⋯ + 𝑐𝑘 𝑥 𝑛−𝑘 = 0
Bagi kedua ruas persamaan terakhir ini dengan 𝑥 𝑛−𝑘 diperoleh
𝑥 𝑛 + 𝑐1 𝑥 𝑘−1 + 𝑐2 𝑥 𝑘−2 + ⋯ + 𝑐𝑘 = 0 (4.0)
Persamaan (4.0) disebut persamaan karakteristik dari relasi rekursif (4.1). pada
umumnya persamaan (4.0) mempunyai k akar, beberapa diantaranya mungkin
8
bilangan kompleks. Jika 𝑥1 , 𝑥2 , . . . , 𝑥𝑘 adalah akar-akar yang berbeda dari
persamaan (4.1), maka 𝑎𝑛 = 𝑥𝑖 𝑛 ; 1 ≤ 𝑖 ≤ 𝑘 adalah solusi dari : 𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎𝑛−1 +
𝑐2 𝑎𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 = 0; 𝑐𝑘 ≠ 0.
Berdasarkan Teorema 4.2 jika 𝑔1 (𝑛), 𝑔2 (𝑛) , . . . , 𝑔𝑘 (𝑛) adalah solusi dari (4.5),
maka 𝑐̂1 𝑔1 (𝑛) + 𝑐̂2 𝑔2 (𝑛)+ . . . +𝑐̂𝑘 𝑔𝑘 (𝑛) juga solusi dari (4.5) untuk sebarang
konstanta 𝑐̂1 , 𝑐̂2 , . . . , 𝑐̂𝑘 .
𝑐̂1 𝑥1𝑛 + 𝑐̂2 𝑥2𝑛 + . .. . +𝑐̂𝑘 𝑥𝑘𝑛
Adalah penyelesaian dari (4.1), dengan demikian solusi umum dari relasi rekursif
(4.1) adalah :
𝑎𝑛 = 𝑐̂1 𝑥1𝑛 + 𝑐̂2 𝑥2𝑛 + . .. . +𝑐̂𝑘 𝑥𝑘𝑛 (4.7)
Dari persamaan (4.7) dan k kondisi awal akan terbentuk suatu sistem persamaan yang
terdiri dari k persamaan dengan k variabel 𝑐̂1 , 𝑐̂2 , . . . , 𝑐̂𝑘 , jika penyelesaian dari
sistem persamaan ini ke persamaan (4.7) diperoleh solusi dari relasi rekursif (4.1)

Contoh 1
𝑎1 = 𝑎2 = 1; 𝑎𝑛 = 𝑎𝑛−1 + 𝑎𝑛−2 , 𝑛 ≥ 3.
Misalkan 𝑎𝑛 = 𝑥 𝑛 ; 𝑥 ≠ 0. Maka bentuk rekursif 𝑎𝑛 = 𝑎𝑛−1 + 𝑎𝑛−2 menjadi

𝑥 𝑛 = 𝑥 𝑛+1 + 𝑥 𝑛+2

Ekuivalen dengan

𝑥 𝑛 − 𝑥 𝑛+1 + 𝑥 𝑛+2 = 0.

Bagi kedua ruas dengan 𝑥 𝑛−2 diperoleh

𝑥2 − 𝑥 − 1 = 0

Menggunakan rumus abc

−𝑏±√𝑏 2 −4𝑎𝑐
𝑥1,2 = 2𝑎

1±√(−1)2 −(4)(1)(1)
𝑥1,2 = 2(1)

1±√5)
𝑥1,2 = 2

Maka akar-akar karakteristiknya


9
1+√5 1−√5
𝑥1 = dan 𝑥2 =
2 2

Sehingga solusi homogen (khusus) dari relasi rekursif adalah

(ℎ)
𝑎𝑛 = 𝑐1 𝑥1𝑛 + 𝑐2 𝑥2𝑛

𝑛 𝑛
(ℎ) 1+√5 1−√5
𝑎𝑛 = 𝑐1 ( ) + 𝑐2 ( )
2 2

Kondisi awal 𝑎1 = 1 dan 𝑎2 = 1 , maka diperoleh system persamaan berikut

1+√5 1−√5
𝑐1 ( ) + 𝑐2 ( )=1 . . . . . . .(*)
2 2

2 2
1+√5 1−√5
𝑐1 ( ) + 𝑐2 ( ) = 1 . . . . . . (**)
2 2

Dari (*) dan (**) diperoleh

(1 + √5)𝑐1 + (1 − √5)𝑐2 = 2 × (1 + √5)

2 2
(1 + √5) 𝑐1 + (1 − √5) 𝑐2 = 4 ×1

2
(1 + √5) 𝑐1 + (1 − 5)𝑐2 = 2 + 2√5

2 2
(1 + √5) 𝑐1 + (1 − √5) 𝑐2 = 4

(−4 − 1 + 2√5 − 5)𝑐2 = 2√5 − 2

2(√5 − 5)𝑐2 = 2(√5 − 1)

2(√5 − 1)
𝑐2 =
2(√5 − 5)

−√5
𝑐2 =
5

−√5
(1 + √5)𝑐1 + (1 − √5) ( )=2
5

5 − √5
(1 + √5)𝑐1 + ( )=2
5

10
5 + √5
(1 + √5)𝑐1 = ( )
5

√5
𝑐1 =
5

√5 √5
Jadi 𝑐1 = dan 𝑐2 = −
5 5

Substitusikan nilai 𝑐1 dan 𝑐2 , maka diperoleh solusi homogen (khusus) dari relasi
rekursif sebagai berikut:

𝑛 𝑛
(ℎ) √5 1 + √5 √5 1 − √5
𝑎𝑛 = ( ) − ( )
5 2 5 2

c. Menyelesaikan relasi rekursif homogen yang memiliki akar rangkap


Misal persamaan karakteristik (4.6) mempunyai akar rangkap, katakan 𝑥1 akar
rangkap 𝑚 (artinya dari ke 𝑘 akar-akar dari (4.6) terdapat 𝑚 akar yang masing-
masing nilainya 𝑥1 ). Maka dapat di tunjukan bahwa masing-masing dari:
𝑥1𝑛 , 𝑛𝑥1𝑛 , 𝑛2 𝑥1𝑛 , … , 𝑛𝑚−1 𝑥1𝑛 adalah solusi dari relasi (4.6). Ini bersama dengan
Teorema 4.1, menghasilkan teorema berikut:
Teorema 4.3
Jika persamaan karakteristik (4.6) dari relasi rekursif 𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎(𝑛−1) + ⋯ + 𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 =
0 ; 𝑐𝑘 ≠ 0, mempunyai sebuah akar, 𝑥1 katakan, rangkap 𝑚 ≤ 𝑘, maka solusi umum
dari 𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎𝑛−1 + ⋯ + 𝑐𝑘 𝑎(𝑛−𝑘) = 0; 𝑐𝑘 ≠ 0, yang melibatkan 𝑥1 mempunyai
bentuk
𝑐0 𝑥1𝑛 + 𝑐1 𝑛𝑥1𝑛 + 𝑐2 𝑛2 𝑥1𝑛 + ⋯ + 𝑐𝑚−1 𝑛𝑚−1 𝑥1𝑛

Contoh 2
Misalkan kita akan mencari formula solusi homogen (umum) dan solusi homogen
(khusus) untuk 𝑎𝑛 yang memenuhi relasi berikut:

𝑎𝑛 = 3𝑎𝑛−1 + 6𝑎𝑛−2 − 28𝑎𝑛−3 + 24𝑎𝑛−4

Dengan

𝑎0 = 1; 𝑎1 = 2; 𝑎2 = 3; 𝑎3 = 4

11
Misalkan 𝑎𝑛 = 𝑥 𝑛 ; 𝑥 ≠ 0. Maka bagian rekursif dari relasi rekursif diperoleh:

𝑥 𝑛 = 3𝑥 𝑛−1 + 6𝑥 𝑛−2 − 28𝑥 𝑛−3 + 24𝑥 𝑛−4

Ekuivalen dengan

𝑥 𝑛 − 3𝑥 𝑛−1 − 6𝑥 𝑛−2 + 28𝑥 𝑛−3 − 24𝑥 𝑛−4 = 0

Bagi kedua ruas dengan 𝑥 𝑛−4 , diperoleh persamaan karakteristik sebagai berikut:

𝑥 4 − 3𝑥 3 − 6𝑥 2 + 28𝑥 − 24 = 0

Ekuivalen dengan

(𝑥 − 2)3 (𝑥 + 3) = 0

Akar karakteristik adalah

𝑥 = 2 (rangkap 3) dan 𝑥 = −3

Sehingga berdasarkan teorema 4.3 dan teorema 4.2 solusi homogen (umum) dari
rekursif diatas adalah

𝑎𝑛 = 𝑐0 2𝑛 + 𝑐1 𝑛2𝑛 + 𝑐2 𝑛2 2𝑛 + 𝑐3 (−3)𝑛

Karena 𝑎0 = 1; 𝑎1 = 2; 𝑎2 = 3; 𝑎3 = 4 diperoleh persamaan berikut

1 = 𝑐0 + 𝑐3

2 = 2𝑐0 + 2𝑐1 + 2𝑐2 − 3𝑐3

3 = 4𝑐0 + 8𝑐1 + 16𝑐2 − 9𝑐3

4 = 8𝑐0 + 24𝑐1 + 72𝑐2 − 27𝑐3

Mencari 𝑐0 , 𝑐1 , 𝑐2 , 𝑐3

1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1
5
[2 2 2 −3 2]~[ 0 2 2 −5 0 ] ~ [0 1 1 −2 0
]~
4 8 16 9 3 0 8 16 5 −1 0 8 16 5 −1
8 24 72 − 27 4 0 24 72 − 35 − 4 0 24 72 − 35 − 4

12
1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1
5 45 1
0 1 1
5
−2 0 0 1 1 −2 0 0 1 0 −8 8
[ ]~ 25 1 ~ 25 1 ~
0 0 8 25 − 1 0 0 1 −8 0 0 1 −8
8 8
0 0 48 25 − 4 [0 0 48 25 − 4] [0 0 0 − 125 2]

127
1 0 0 1 1 1 0 0 0
45 1 125
0 1 0 − 0 1 0 0
7
8 8
200
0 0 1
25
−8
1 ~ 3
8 0 0 1 0 − 40
2
[0 0 0 1 −
125] [0 0 0 1 − 125]
2

Diperoleh solusi

2 7 3 2
𝑐0 = 1 ; 𝑐1 = ; 𝑐2 = − ; 𝑐3 = −
125 200 40 125

Kita substitusikan untuk mendapatkan solusi homogen (khusus) yang diminta

2 7 3 2
𝑎𝑛 = 1 125 (2)𝑛 + 200 𝑛(2)𝑛 − 40 𝑛2 (2)𝑛 − 125 (−3)𝑛 .

3. Relasi Rekursif Non Homogen Dengan Koefisien Konstanta


Mengingat kembali bentuk umum dari relasi rekursif linear tidak homogen dengan
koefisien konstanta yaitu sebagai berikut :

𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + … + 𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 = 𝑓(𝑛) ; 𝑐𝑘 ≠ 0, 𝑓(𝑛) ≠ 0,

Dengan k kondisi awal (syarat bebas), dan untuk 1 ≤ 𝑖 ≤ 𝑘, 𝑐𝑖 = konstanta.


Dalam kasus yang sederhana, pertama-tama kita buat bentuk umum dari solusi khusus
berdasarkan bentuk 𝑓(𝑛), dan kemudian kita tentukan solusi pastinya berdasarkan relasi
rekursif yang diberikan. Perhatikanlah kasus-kasus berikut ini.
Kasus 1
Bila 𝑓(𝑛) merupakan suatu polinom berderajat t di dalam n yaitu

𝐴1 𝑛𝑡 + 𝐴2 𝑛𝑡−1 + 𝐴3 𝑛𝑡−2 + … + 𝐴𝑡 𝑛𝑡−(𝑡−1) + 𝐴𝑡+1

Maka bentuk umum solusi khususnya

𝐵1 𝑛𝑡 + 𝐵2 𝑛𝑡−1 + 𝐵3 𝑛𝑡−2 + … + 𝐵𝑡 𝑛𝑡−(𝑡−1) + 𝐵𝑡+1

13
Contoh Soal 1

Misalkan kita akan mencari solusi khusus untuk relasi rekursif tidak homogen

𝑎𝑛 + 5𝑎𝑛−1 + 6𝑎𝑛−2 = 3𝑛2 − 2𝑛 + 1 (4.13)

Penyelesaian Contoh Soal 1

Solusi khususnya mempunyai bentuk

𝐵1 𝑛2 + 𝐵2 𝑛 + 𝐵3 (4.14)

Dengan mensubsitusikan (4.14) ke dalam (4.13), kita peroleh

(𝐵1 𝑛2 + 𝐵2 𝑛 + 𝐵3 ) + 5(𝐵1 (𝑛 − 1)2 + 𝐵2 (𝑛 − 1) + 𝐵3 )


+ 6(𝐵1 (𝑛 − 2)2 + 𝐵2 (𝑛 − 2) + 𝐵3 ) = 3𝑛2 − 2𝑛 + 1

Setelah disederhanakan menjadi

12𝐵1 𝑛2 − (34𝐵1 − 12𝐵2 )𝑛 + (29𝐵1 − 17𝐵2 + 12𝐵3 ) = 3𝑛2 − 2𝑛 + 1 (4.15)

Dengan membandingkan koefisien kedua ruas (4.15), kita memperoleh persamaan-


persamaan

12𝐵1 = 3

34𝐵1 − 12𝐵2 = 2

29𝐵1 − 17𝐵2 + 12𝐵3 = 1

Yang menghasilkan

1 13 71
𝐵1 = 4 ; 𝐵2 = 24 ; 𝐵3 = 288

Jadi, solusi khususnya adalah

(𝑝) 1 13 71
𝑎𝑛 = 4 𝑛2 + 24 𝑛 + 288

Kasus 2

Bila 𝑓(𝑛) berbentuk 𝛽 𝑛 , maka solusi khususnya akan berbentuk umum 𝐵𝛽 𝑛 , dengan
syarat 𝛽 bukan akar karakteristik relasi rekursif tersebut.

14
Contoh Soal 2

Solusi khusus untuk relasi rekursif tidak homogen berikut adalah ...

𝑎𝑛 − 6𝑎𝑛−1 + 9𝑎𝑛−2 = 3𝑛 (pers. awal)

Penyelesaian Contoh Soal 2

Persamaan karakteristik dari persamaan tersebut adalah sebagai berikut.

𝑥 2 − 6𝑥 + 9 = 3𝑛

⇔ (𝑥 − 3)2 = 3𝑛

Diperoleh fakta, bahwa 3 merupakan akar karakteristik kembar dari persamaan


𝑎𝑛 − 6𝑎𝑛−1 + 9𝑎𝑛−2 = 3𝑛

Oleh karena itu, bentuk umum dari persamaan tersebut adalah 𝐵𝑛2 3𝑛 . Dengan
mensubtitusikan persamaan awal dengan umumnya, diperoleh

𝐵𝑛2 3𝑛 − 6𝐵(𝑛 − 1)2 3𝑛−1 + 9𝐵(𝑛 − 2)2 3𝑛−2 = 3𝑛

⇔ 𝐵𝑛2 3𝑛 − 6𝐵(𝑛2 − 2𝑛 + 1)3𝑛 3−1 + 9𝐵(𝑛2 − 4𝑛 + 4)3𝑛 3−2 = 3𝑛

6𝐵 2 9𝐵 2
⇔ 𝐵𝑛2 3𝑛 − (𝑛 − 2𝑛 + 1)3𝑛 + (𝑛 − 4𝑛 + 4)3𝑛 = 3𝑛
3 9

⇔ 𝐵𝑛2 3𝑛 − 2𝐵𝑛2 3𝑛 + 4𝐵𝑛3𝑛 − 2𝐵3𝑛 + 𝐵𝑛2 3𝑛 − 4𝐵𝑛3𝑛 + 4𝐵3𝑛 = 3𝑛

Dengan menyederhanakan persamaan tersebut, diperoleh

2𝐵3𝑛 = 3𝑛

1
⇔𝐵= .
2

Jadi solusi khususnya adalah

(𝑝) 1 2 𝑛
𝑎𝑛 = 𝑛 3 .
2

15
Kasus 3

Bila (𝑓𝑛 ) berbentuk pekalian antara polinom dengan fungsi eksponen, maka solusi
khususnya akan berbentuk perkalian antara kasus 1 dengan kasus 2. Yaitu, bila 𝑓(𝑛)
berbentuk

(𝐴1 𝑛𝑡 + 𝐴2 𝑛𝑡−1 + ⋯ + 𝐴𝑡 𝑛 + 𝐴𝑡+1 )𝛽 𝑛

Maka bentuk umum solusi khususnya adalah

(𝐵1 𝑛𝑡 + 𝐵2 𝑛𝑡−1 + ⋯ + 𝐵𝑡 𝑛 + 𝐵𝑡+1 )𝛽 𝑛

Contoh Soal 3

Misalkan kita akan mencari solusi khusus untuk relasi rekursif tidak homogen

𝑎𝑛 = −𝑎𝑛−1 + 3𝑛 . 2𝑛 (4.20)

Penyelesaian Contoh Soal 3

Solusi khususnya mempunyai bentuk umum [𝐵1𝑛 + 𝐵0 ]. 2𝑛 (4.21)

Dengan mensubstitusikan (4.21) ke dalam (4.20), kita memperoleh

[𝐵1𝑛 + 𝐵0 ]. 2𝑛 + [𝐵1 (𝑛 − 1) + 𝐵0 ]. 2𝑛−1 = 3𝑛. 2𝑛

⇔ 𝐵1𝑛 . 2𝑛 + 𝐵0 . 2𝑛 + 𝐵1𝑛. 2𝑛−1 − 𝐵1 . 2(𝑛−1) + 𝐵0 . 2𝑛−1 = 3𝑛. 2𝑛

𝐵1 𝐵1 𝐵0
⇔ 𝐵1𝑛 . 2𝑛 + 𝐵0 . 2𝑛 + 𝑛. 2𝑛−1 − . 2𝑛 + . 2𝑛 = 3𝑛. 2𝑛
2 2 2

𝐵1 3𝐵0 𝐵1
⇔ (𝐵1 + ) 𝑛. 2𝑛 + ( − ) . 2𝑛 = 3𝑛. 2𝑛 (4.22)
2 2 2

Dengan membandingkan koefisien kedua ruas (4.22), kita memperoleh persamaan-


persamaan

𝐵1 3𝐵0 𝐵1
𝐵1 + = 3 dan − =0
2 2 2

2
⇔ 𝐵1 = 2 dan 𝐵0 = 3

16
Jadi,solusi khususnya adalah

2
𝑎𝑛𝑝 = (2𝑛 + ) . 2𝑛
3

Solusi (total) bagi suatu relasi rekursif linear tidak homogen dengan koefisien-
koefisien konstanta merupakan jumlah dua bagian, solusi homogen (khusus) yang
memenuhi relasi rekursif itu bila ruas kanannya disamakan dengan 0, dan solusi khusus
yang memenuhi relasi rekursif itu dengan 𝑓(𝑟)di ruas kanan. Misalkan akar-akar
karakteristik relasi rekursif itu berbeda semuanya. Solusi totalnya mempunyai bentuk
umum

𝑎𝑛 = 𝐴1 𝑎1 𝑛 + 𝐴2 𝑎2 𝑛 + . . . + 𝐴𝑘 𝑎𝑘 𝑛 + 𝑝(𝑛)

dalam hal ini p(n) adalah solusi khususnya.

Contoh Soal 4

Misalkan kita akan mencari solusi total untuk relasi rekursif tidak homogen

𝑎𝑛 − 6𝑎𝑛−1 + 9𝑎𝑛−2 = 3𝑛 .

Penyelesaian Contoh Soal 4

Pada contoh 2 telah dikerjakan dan diperoleh 3 merupakan satu-satunya akar


karakteristik kembarnya, sehingga solusi homogen (umumnya) adalah

1
𝑎𝑛 (ℎ) = 𝐴0 ∙ 3𝑛 + 𝐴1 ∙ 𝑛 ∙ 3𝑛 dan solusi khususnya adalah 𝑎𝑛 (𝑝) = 𝑛2 ∙ 3𝑛 .
2

Diperoleh solusi totalnya adalah

1
𝑎𝑛 = 𝐴0 ∙ 3𝑛 + 𝐴1 ∙ 𝑛 ∙ 3𝑛 + 𝑛2 ∙ 3𝑛
2

4. Menyelesaikan Relasi Rekursif dengan Fungsi Pembangkit


CONTOH 1:
Gunakan Fungsi Pembangkit Biasa untuk menyelesaikan relasi rekursif berikut
𝑎0 = 1, 𝑎1 = 3; 𝑎𝑛 = 2𝑎𝑛−1 + 4𝑛−1 , 𝑛 ≥ 2.
Penyelesaian:
Misal 𝑃(𝑥) adalah Fungsi Pembangkit Biasa barisan (𝑎𝑛 ). Maka menurut definisi,
17

𝑃(𝑥) = ∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛
𝑛=0

Karena untuk 𝑛 ≥ 2, 𝑎𝑛 = 2𝑎𝑛−1 + 4𝑛−1, jika kedua ruas dari persamaan ini dikali 𝑥 𝑛
kemudian “dijumlahkan” untuk 𝑛 = 2 sampai 𝑛 = ∞, diperoleh
∞ ∞

∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 = ∑(2𝑎𝑛−1 + 4𝑛−1 )𝑥 𝑛
𝑛=2 𝑛=2

Ekuivalen dengan;
∞ ∞ ∞

∑ 𝑎𝑛 𝑥 = ∑ 2𝑎𝑛−1 𝑥 + ∑ 4𝑛−1 𝑥 𝑛
𝑛 𝑛
(∗)
𝑛=2 𝑛=2 𝑛=2

Ruas kiri persamaan (*) adalah:


∞ ∞

∑ 𝑎𝑛 𝑥 = ∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 − 𝑎0 − 𝑎1 𝑥
𝑛

𝑛=2 𝑛=0

= 𝑃(𝑥) − 1 − 3𝑥
Suku pertama ruas kanan persamaan (*) adalah
∞ ∞

2 ∑ 𝑎𝑛−1 𝑥 = 2𝑥 ∑ 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1


𝑛

𝑛=2 𝑛=2

= 2𝑥 (∑ 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1 − 𝑎0 )
𝑛=1

= 2𝑥(𝑃(𝑥) − 1)
= 2𝑥𝑃(𝑥) − 2𝑥
Suku kedua ruas kanan persamaan (*) adalah
∞ ∞
𝑛−1 𝑛
∑4 𝑥 = 𝑥 ∑ 4𝑛−1 𝑥 𝑛−1
𝑛=2 𝑛=2

= 𝑥 (∑ 4𝑛−1 𝑥 𝑛−1 − 𝑎0 )
𝑛=1

= 𝑥 (∑(4𝑥)𝑛−1 − 1)
𝑛=1
1
= 𝑥( − 1)
1 − 4𝑥
𝑥
= −𝑥
1 − 4𝑥
18
Sehingga persamaan (*) menjadi,
𝑥
𝑃(𝑥) − 1 − 3𝑥 = 2𝑥𝑃(𝑥) − 2𝑥 + − 𝑥,
1 − 4𝑥
𝑥
𝑃(𝑥) − 2𝑥𝑃(𝑥) = −2𝑥 + − 𝑥 + 1 + 3𝑥
1 − 4𝑥
𝑥
𝑃(𝑥)(1 − 2𝑥) = +1
1 − 4𝑥
𝑥 1 − 4𝑥
𝑃(𝑥)(1 − 2𝑥) = +
1 − 4𝑥 1 − 4𝑥
1−3𝑥
𝑃(𝑥)(1 − 2𝑥) = 1−4𝑥
1 − 3𝑥 𝑎 𝑏
1 − 3𝑥 = +
(1 − 4𝑥)(1 − 2𝑥) 1 − 4𝑥 1 − 2𝑥
𝑃(𝑥) =
(1 − 4𝑥)(1 − 2𝑥) 𝑎(1 − 2𝑥) + 𝑏(1 − 4𝑥)
=
Karena, (1 − 4𝑥)(1 − 2𝑥)
1⁄ 1 𝑎 − 2𝑎𝑥 + 𝑏 − 4𝑏𝑥
1 − 3𝑥
= 2 + ⁄2 =
(1 − 4𝑥)(1 − 2𝑥) 1 − 4𝑥 1 − 2𝑥 (1 − 4𝑥)(1 − 2𝑥)
𝑎 + 𝑏 + (−2𝑎 − 4𝑏)𝑥
=
(1 − 4𝑥)(1 − 2𝑥)

Diperoleh 𝑎 + 𝑏 = 1 dan −2𝑎 − 4𝑏 = −3. Dengan menggunakan eliminasi atau


1 1
substitusi diperoleh nilai 𝑎 = 2 dan 𝑏 = 2.

maka
1 1 1
𝑃(𝑥) = ( + )
2 1 − 4𝑥 1 − 2𝑥
∞ ∞
1
= (∑(4𝑥)𝑛 + ∑(2𝑥)𝑛 )
2
𝑛=0 𝑛=0

1
= ∑ (4𝑛 + 2𝑛 )𝑥 𝑛
2
𝑛=0

Karena 𝑎𝑛 adalah koefisien 𝑥𝑛 dalam 𝑃(𝑥), maka penyelesaian relasi rekursif yang
1
dimaksud adalah 𝑎𝑛 = 2 (4𝑛 + 2𝑛 ), untuk 𝑛 ≥ 0

CATATAN:
i. Pada dasarnya relasi rekursif dapat diselesaikan dengan menggunakan fungsi
pembangkit.
ii. Untuk jenis relasi rekursif tertentu, lebih mudah diselesaikan dengan fungsi
pembangkit eksponensial dari pada fungsi pembangkit biasa.

19
CONTOH 2:
Selesaikan relasi rekursif berikut dengan fungsi pembangkit
𝑎𝑛 − 9𝑎𝑛−1 + 20𝑎𝑛−2 = 0, dengan 𝑎0 = −3 dan 𝑎1 = −10
Penyelesaian:
𝑎𝑛 = 9𝑎𝑛−1 − 20𝑎𝑛−2
Misal: 𝑃(𝑥) = ∑∞
𝑛=0 𝑎𝑛 𝑥
𝑛

Kalikan kedua ruas dengan 𝑥 𝑛 kemudian dijumlahkan untuk 𝑛 = 2 sampai 𝑛 = ∞


sehingga diperoleh
∞ ∞ ∞

∑ 𝑎𝑛 𝑥 = ∑ 9𝑎𝑛−1 𝑥 − ∑ 20𝑎𝑛−2 𝑥 𝑛
𝑛 𝑛
(𝑖)
𝑛=2 𝑛=2 𝑛=2

 Ruas kiri dari persamaan (i)


∞ ∞

∑ 𝑎𝑛 𝑥 = ∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 − 𝑎0 𝑥 0 − 𝑎1 𝑥1
𝑛

𝑛=2 𝑛=0

= 𝑃(𝑥) + 3 + 10𝑥
 Suku pertama ruas kanan dari persamaan (i)
∞ ∞

∑ 9𝑎𝑛−1 𝑥 = 9 ∑ 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛
𝑛

𝑛=2 𝑛=2

= 9𝑥 ∑ 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1
𝑛=2

= 9𝑥 (∑ 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1 − 𝑎0 )
𝑛=1

= 9𝑥(𝑃(𝑥) + 3)
= 9𝑥 ∙ 𝑃(𝑥) + 27𝑥
 Suku kedua ruas kanan dari persamaan (i)
∞ ∞

∑ 20𝑎𝑛−2 𝑥 = 20 ∑ 𝑎𝑛−2 𝑥 𝑛
𝑛

𝑛=2 𝑛=2

= 20𝑥 2 ∑ 𝑎𝑛−2 𝑥 𝑛−2


𝑛=2
2
= 20𝑥 ∙ 𝑃(𝑥)
Sehingga,

20
∞ ∞ ∞

∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 = ∑ 9𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛 − ∑ 20𝑎𝑛−2 𝑥 𝑛
𝑛=2 𝑛=2 𝑛=2

𝑃(𝑥) + 3 + 10𝑥 = 9𝑥 ∙ 𝑃(𝑥) + 27𝑥 − 20𝑥 2 ∙ 𝑃(𝑥)


𝑃(𝑥) − 9𝑥 ∙ 𝑃(𝑥) + 20𝑥 2 ∙ 𝑃(𝑥) = 27𝑥 − 10𝑥 − 3 𝑃(𝑥)(1 − 9𝑥 + 20𝑥 2 )
= 17𝑥 − 3 17𝑥 − 3 𝑎 𝑏
17𝑥 − 3 = +
(1 − 5𝑥)(1 − 4𝑥) 1 − 5𝑥 1 − 4𝑥
𝑃(𝑥) =
1 − 9𝑥 + 20𝑥 2
17𝑥−3
𝑎(1 − 4𝑥) + 𝑏(1 − 5𝑥)
𝑃(𝑥) = (1−5𝑥)(1−4𝑥) =
(1 − 5𝑥)(1 − 4𝑥)
2 5 𝑎 − 4𝑎𝑥 + 𝑏 − 5𝑏𝑥
𝑃(𝑥) = − =
1 − 5𝑥 1 − 4𝑥 (1 − 5𝑥)(1 − 4𝑥)
∞ ∞ ∞
𝑎 + 𝑏 + (−4𝑎 − 5𝑏)𝑥
∑ 𝑎𝑛 𝑥 = 2 ∑ 5 𝑥 − 5 ∑ 4𝑛 𝑥 𝑛
𝑛 𝑛 𝑛
=
(1 − 5𝑥)(1 − 4𝑥)
𝑛=0 𝑛=0 𝑛=0
∞ ∞
𝑎 + 𝑏 = −3
𝑛
∑ 𝑎𝑛 𝑥 = ∑(2 ∙ 5𝑛 − 5 ∙ 4𝑛 ) 𝑥 𝑛
𝑛=0 𝑛=0 −4𝑎 − 5𝑏 = 17

Dengan metode eliminasi substitusi


diperoleh nilai 𝑎 = 2 dan 𝑏 = −5

Karena 𝑎𝑛 adalah koefisien 𝑥𝑛 dalam 𝑃(𝑥), maka penyelesaian relasi rekursif yang dimaksud
adalah 𝑎𝑛 = 2 ∙ 5𝑛 − 5 ∙ 4𝑛

CONTOH 3:
Gunakan Fungsi Pembangkit untuk menyelesaikan relasi rekursif berikut. 𝑎0 = 1; 𝑎𝑛 =
𝑛𝑎𝑛−1 + 2𝑛 , 𝑛 ≥ 1.
Penyelesaian:
Misalkan 𝑃(𝑥) adalah FPE dari barisan (𝑎𝑛 ). Maka, berdasarkan definisi
𝑥𝑛
𝑃(𝑥) = ∑∞
𝑛=0 𝑎𝑛 𝑛!
𝑥𝑛
Kalikan kedua ruas bagian rekursif 𝑎𝑛 = 𝑛𝑎𝑛−1 + 2𝑛 dengan kemudian ‘dijumlahkan’
𝑛!

untuk 𝑛 = 1 sampai 𝑛 = ∞, diperoleh


∞ ∞
𝑥𝑛 𝑛)
𝑥𝑛
∑ 𝑎𝑛 = ∑(𝑛𝑎𝑛−1 + 2
𝑛! 𝑛!
𝑛=1 𝑛=1

Ekuivalen dengan,

21
∞ ∞ ∞
𝑥𝑛 𝑥𝑛 𝑛
𝑥𝑛
∑ 𝑎𝑛 − 𝑎0 = ∑ 𝑛𝑎𝑛−1 +∑2
𝑛! 𝑛! 𝑛!
𝑛=0 𝑛=1 𝑛=1

Atau
∞ ∞ ∞
𝑥𝑛 𝑥 𝑛−1 𝑥𝑛
∑ 𝑎𝑛 − 1 = 𝑥 ∑ 𝑎𝑛−1 + (∑ 2𝑛 − 1)
𝑛! (𝑛 − 1)! 𝑛!
𝑛=0 𝑛=1 𝑛=0

Sehingga,
𝑃(𝑥) − 1 = 𝑥𝑃(𝑥) + 𝑒 2𝑥 − 1
𝑃(𝑥) − 𝑥𝑃(𝑥) = 𝑒 2𝑥
𝑃(𝑥)(1 − 𝑥) = 𝑒 2𝑥
𝑒 2𝑥
𝑃(𝑥) =
1−𝑥
Selanjutnya, akan dicari 𝑎𝑛 yaitu koefisien dalam 𝑃(𝑥).
Karena
1
𝑃(𝑥) = 𝑒 2𝑥
1−𝑥
∞ ∞
𝑥𝑛 𝑛
= (∑ 2 ) (∑ 𝑥 𝑛 )
𝑛!
𝑛=0 𝑛=0
∞ 𝑛
2𝑘 𝑛
= ∑ (∑ ) 𝑥
𝑘!
𝑛=0 𝑘=0
∞ 𝑛
2𝑘 𝑥 𝑛
= ∑ 𝑛! (∑ )
𝑘! 𝑛!
𝑛=0 𝑘=0

Maka solusi relasi rekursif yang dimaksud adalah


2𝑘
𝑎𝑛 = 𝑛! (∑𝑛𝑘=0 𝑘! ), 𝑛 ≥ 0

CONTOH 4:
Selesaikan relasi rekursif berikut dengan fungsi pembangkit
𝑎0 = 2, 𝑎𝑛 = 2𝑛 𝑎𝑛−1 + 4𝑛 dengan 𝑛 ≥ 1.
Penyelesaian:
𝑥𝑛
Misal : 𝑃(𝑥) = ∑∞
𝑛=0 𝑎𝑛 𝑛!
𝑥𝑛
Kalikan kedua ruas dengan kemudian dijumlahkan untuk 𝑛 = 1 sampai 𝑛 = ∞
𝑛!

22
∞ ∞ ∞
𝑥𝑛 𝑥𝑛 𝑛
𝑥𝑛
∑ 𝑎𝑛 = ∑ 2𝑛 𝑎𝑛−1 +∑4
𝑛! 𝑛! 𝑛!
𝑛=1 𝑛=1 𝑛=1

 Ruas kiri
∞ ∞
𝑥𝑛 𝑥𝑛 𝑥0
∑ 𝑎𝑛 = ∑ 𝑎𝑛 − 𝑎0
𝑛! 𝑛! 0!
𝑛=1 𝑛=0

𝑥𝑛
= ∑ 𝑎𝑛 − 𝑎0
𝑛!
𝑛=0

= 𝑃(𝑥) − 2
 Suku pertama Ruas kanan
∞ ∞
𝑥𝑛 𝑥𝑛
∑ 2𝑛 𝑎𝑛−1 = 2 ∑ 𝑛𝑎𝑛−1
𝑛! 𝑛!
𝑛=1 𝑛=1

𝑥 𝑛−1
= 2𝑥 ∑ 𝑎𝑛−1
(𝑛 − 1)!
𝑛=1

= 2𝑥 ∙ 𝑃(𝑥)
 Suku kedua Ruas kanan
∞ ∞
𝑥𝑛 𝑛
𝑥𝑛 𝑥0
∑4 = ∑ 4𝑛 − 40
𝑛! 𝑛! 0!
𝑛=1 𝑛=0

(4𝑥)𝑛
=∑ −1
𝑛!
𝑛=0

= 𝑒 4𝑥 − 1
Sehingga
∞ ∞ ∞
𝑥𝑛 𝑥𝑛 𝑛
𝑥𝑛
∑ 𝑎𝑛 = ∑ 2𝑛 𝑎𝑛−1 +∑4
𝑛! 𝑛! 𝑛!
𝑛=1 𝑛=1 𝑛=1
4𝑥
𝑃(𝑥) − 2 = 2𝑥 ∙ 𝑃(𝑥) + 𝑒 −1
𝑃(𝑥) − 2𝑥 ∙ 𝑃(𝑥) = 𝑒 4𝑥 − 1 + 2
𝑃(𝑥) (1 − 2𝑥) = 𝑒 4𝑥 + 1
1 + 𝑒 4𝑥
𝑃(𝑥) =
1 − 2𝑥
1 𝑒 4𝑥
𝑃(𝑥) = +
1 − 2𝑥 1 − 2𝑥

23
∞ ∞ ∞
𝑛
𝑥𝑛 𝑛 𝑛
= ∑(2𝑥) + ∑(2𝑥) ∑ 4
𝑛!
𝑛=0 𝑛=0 𝑛=0
∞ ∞ ∞
𝑛 𝑛 𝑛 𝑛
4𝑛 𝑥 𝑛
= ∑2 𝑥 +∑2 𝑥 ∑
𝑛!
𝑛=0 𝑛=0 𝑛=0
∞ ∞ 𝑛
𝑛 𝑛
2𝑘 4𝑘 𝑛
= ∑ 2 𝑥 + ∑ (∑ )𝑥
𝑘!
𝑛=0 𝑛=0 𝑘=0
∞ 𝑛
2𝑘 4𝑘 𝑛
= ∑ (2𝑛 + ∑ )𝑥
𝑘!
𝑛=0 𝑘=0
∞ 𝑛
2𝑘 4𝑘 𝑥 𝑛
= ∑ 𝑛! (2𝑛 + ∑ )
𝑘! 𝑛!
𝑛=0 𝑘=0

Jadi, solusinya adalah


𝑛
2𝑘 4𝑘
𝑛
𝑎𝑛 = 𝑛! (2 + ∑ )
𝑘!
𝑘=0

E. Rangkuman
1. Bentuk Umum Relasi Rekursif
Suatu relasi rekursif linier orde -k dengan koefisien-koefisien konstanta adalah suatu relasi
rekursif dalam bentuk
𝑎𝑛 = 𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + … + 𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 + 𝑓(𝑛)
dimana
𝑐1 , 𝑐2, … , 𝑐𝑘 sebagai konstanta dengan 𝑐𝑘 ≠ 0, dan 𝑓(𝑛) adalah fungsi dari 𝑛.
Linier: tidak ada pangkat atau produk dari 𝑎𝑗
Koefisien konstanta: 𝑐1 , 𝑐2, … , 𝑐𝑘 adalah konstanta (tidak tergantung pada n).
Jika 𝑓(𝑛) = 0 maka relasi terebut juga disebut sebagai homogen.
 Jenis relasi rekursif antara lain : relasi rekursif homogen, relasi rekursif nonhomogen, relasi
rekursif linear, dan relasi rekursif nonlinier.
Relasi rekursif dapat digunakan untuk pemodelan suatu masalah yang mempunyai pola khusus
(penentuan barisan selanjutnya menggunakan barisan sebelumnya).

2. Bentuk umum dari relasi rekursif homogen dengan koefisien konstanta adalah: 𝑎𝑛 +
𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 = 0 ; 𝑐𝑘 ≠ 0 dengan 𝑘 kondisi awal (syarat batas), dan
untuk 1 ≤ 𝑖 ≤ 𝑘 , ci = konstanta.
24
Bentuk solusi homogen : 𝐴𝛼1 𝑛
𝛼1 adalah akar karakteristik.
A adalah suatu konstanta yang ditentukan oleh syarat batasnya.
a. Teorema Prinsip Superposisi:
Jika 𝑔1 (𝑛) dan 𝑔2 (𝑛) berturut-turut adalah solusi dari
𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 = 𝑓1 (𝑛) (4.2)
dan
𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 = 𝑓2 (𝑛) (4.3)
maka untuk sebarang konstanta 𝑐̂1 dan 𝑐̂2 , 𝑐̂1 𝑔1 (𝑛) + 𝑐̂1 𝑔1 (𝑛) adalah solusi dari
𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 = 𝑐̂1 𝑓1 (𝑛) + 𝑐̂2 𝑓2 (𝑛) (4.4)
b. Teorema akibat dari teorema prinsip superposisi:
Jika 𝑔1 (𝑛), 𝑔2 (𝑛), . . . , 𝑔𝑘 (𝑛) berturut-turut adalah solusi dari:
𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 = 0 (*)
maka untuk sebarang konstanta
𝑐̂1 , 𝑐̂2 , . . . , 𝑐̂𝑘
𝑐̂1 𝑔1 (𝑛) + 𝑐̂2 𝑔2 (𝑛)+ . . . +𝑐̂𝑘 𝑔𝑘 (𝑛) juga solusi dari (*)
c. Misalkan 𝑎𝑛 = 𝑥 𝑛 , 𝑥 ≠ 0, kemudian substitusikan 𝑎𝑖 dengan 𝑥 𝑖
dimana 𝑖 ∈ {𝑛, 𝑛 − 1, 𝑛 − 2, . . . , 𝑛 − 𝑘}
Diperoleh 𝑥 𝑛 + 𝑐1 𝑥 𝑛−1 + 𝑐2 𝑥 𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑥 𝑛−𝑘 = 0
𝑥 𝑛 + 𝑐1 𝑥 𝑛−1 + 𝑐2 𝑥 𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑥 𝑛−𝑘 = 0

𝑥 𝑛−𝑘
⇔ 𝑥 𝑘 + 𝑐1 𝑥 𝑘−1 + 𝑐2 𝑥 𝑘−2 + . . . +𝑐𝑘 = 0 (4.6)
Persamaan (4.6) disebut persamaan karakteristik dari relasi rekursif homogen dengan
koefisien konstanta.
Pada umumnya persamaan (4.6) mempunyai 𝑘 akar – akar yang berbeda atau sama
(rangkap).
Jika 𝑥1 , 𝑥2 , . . . , 𝑥𝑘 adalah akar-akar yang berbeda dari persamaan (4.6), maka 𝑎𝑛 =
𝑥𝑖 𝑛 ; 1 ≤ 𝑖 ≤ 𝑘 adalah solusi dari: 𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 = 0; 𝑐𝑘 ≠ 0.
Berdasarkan Teorema 4.2 jika 𝑔1 (𝑛), 𝑔2 (𝑛) , . . . , 𝑔𝑘 (𝑛) adalah solusi dari (4.5), maka
𝑐̂1 𝑔1 (𝑛) + 𝑐̂2 𝑔2 (𝑛)+ . . . +𝑐̂𝑘 𝑔𝑘 (𝑛) juga solusi dari (4.5) untuk sebarang konstanta 𝑐̂1 , 𝑐̂2 ,
. . . , 𝑐̂𝑘 .
Dengan demikian solusi umum dari relasi rekursif homogen dengan konstanta adalah:
𝑎𝑛 (𝑘) = 𝑐̂1 𝑥1 𝑛 + 𝑐̂2 𝑥2 𝑛 + . . . + 𝑐̂𝑘 𝑥𝑘 𝑛 (4.7)

25
Dari persamaan (4.7) dengan k kondisi awal (syarat batas) akan terbentuk suatu sistem
persamaan yang terdiri dari 𝑘 persamaan dengan 𝑘 variabel 𝑐̂1 , 𝑐̂2 , … , 𝑐̂𝑘 .
Jika solusi dari sistem persamaan ini disubstitusikan ke persamaan (4.7), akan diperoleh
solusi homogen (khusus) dari relasi rekursif
𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + . . . +𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 = 0.
d. Misal persamaan karakteristik (4.6) mempunyai akar rangkap, katakan 𝑥1 akar rangkap 𝑚
mempunyai bentuk

𝑐0 𝑥1𝑛 + 𝑐1 𝑛𝑥1𝑛 + 𝑐2 𝑛2 𝑥1𝑛 + ⋯ + 𝑐𝑚−1 𝑛𝑚−1 𝑥1𝑛


3. Bentukumum dari relasi rekursif linear non homogen dengan koefisien konstanta adalah
sebagai berikut :
𝑎𝑛 + 𝑐1 𝑎𝑛−1 + 𝑐2 𝑎𝑛−2 + … + 𝑐𝑘 𝑎𝑛−𝑘 = 𝑓(𝑛) ; 𝑐𝑘 ≠ 0, 𝑓(𝑛) ≠ 0,
Dengank kondisi awal (syarat bebas), dan untuk 1 ≤ 𝑖 ≤ 𝑘, 𝑐𝑖 = konstanta.
a. Bila 𝑓(𝑛) merupakan suatu polinom berderajat t di dalam n yaitu
𝐴1 𝑛𝑡 + 𝐴2 𝑛𝑡−1 + 𝐴3 𝑛𝑡−2 + … + 𝐴𝑡 𝑛𝑡−(𝑡−1) + 𝐴𝑡+1
Maka bentuk umum solusi khususnya
𝐵1 𝑛𝑡 + 𝐵2 𝑛𝑡−1 + 𝐵3 𝑛𝑡−2 + … + 𝐵𝑡 𝑛𝑡−(𝑡−1) + 𝐵𝑡+1
b. Bila𝑓(𝑛) berbentuk 𝛽 𝑛 , maka solusi khususnya akan berbentuk umum 𝐵𝛽 𝑛 , dengan syarat
𝛽 bukan akar karakteristik relasi rekursif tersebut.
c. Bila(𝑓𝑛 ) berbentuk pekalian antara polinom dengan fungsi eksponen, maka solusi
khususnya akan berbentuk perkalian antara kasus 1 dengan kasus 2. Yaitu, bila 𝑓(𝑛)
berbentuk
(𝐴1 𝑛𝑡 + 𝐴2 𝑛𝑡−1 + ⋯ + 𝐴𝑡 𝑛 + 𝐴𝑡+1 )𝛽 𝑛
Maka bentuk umum solusi khususnya adalah
(𝐵1 𝑛𝑡 + 𝐵2 𝑛𝑡−1 + ⋯ + 𝐵𝑡 𝑛 + 𝐵𝑡+1 )𝛽 𝑛
d. Solusi (total) bagi suatu relasi rekursif linear tidak homogen dengan koefisien-koefisien
konstanta merupakan jumlah dua bagian, solusi homogen (khusus) yang memenuhi relasi
rekursif itu bila ruas kanannya disamakan dengan 0, dan solusi khususyang memenuhi
relasi rekursif itu dengan 𝑓(𝑟)di ruas kanan. Misalkan akar-akar karakteristik relasi rekursif
itu berbeda semuanya. Solusi totalnya mempunyai bentuk umum
𝑎𝑛 = 𝐴1 𝑎1 𝑛 + 𝐴2 𝑎2 𝑛 + . . . + 𝐴𝑘 𝑎𝑘 𝑛 + 𝑝(𝑛)
dalam hal ini p(n) adalah solusi khususnya.

26
F. Latihan Soal
1) Tentukan relasi rekursif untuk menentukan banyaknya cara menyusun n buah objek yang
berbeda dalam suatu barisan. Tentukan banyaknya cara untuk menyusun 8 buah objek.
2) Carilah relasi berulang dengan syarat awal dari barisan 1, 1, 2, 4, 16, 128, 4096, . ..
3) Sebuah rumah memiliki tangga dengan n buah anak tangga untuk dinaiki. Setiap langkah
dapat melewati satu atau dua anak tangga. Tentukan relasi rekursif untuk 𝑎𝑛 , banyaknya cara
berbeda sesorang dapat menaiki n buah anak tangga.
4) Selesaikanlah relasi rekursif

𝑎1 = 3, 𝑎2 = 6, 𝑎3 = 14 dan untuk 𝑛 ≥ 4 𝑎𝑛 = 6𝑎𝑛−1 − 11𝑎𝑛−2 + 6𝑎𝑛−3

5) Tentukan solusi homogen dari relasi rekursif 𝑎𝑛 = 3𝑎𝑛−1 − 3𝑎𝑛−2 + 𝑎𝑛−3 untuk 𝑛 ≥ 3
dengan kondisi awal 𝑎0 = 1, 𝑎1 = 2 dan 𝑎2 = 4.
6) Solusi khusus untuk relasi rekursif non homogen berikut adalah ...
𝑎𝑛 + 5𝑎𝑛−1 + 6𝑎𝑛−2 = 42.4𝑛
7) Solusi total untuk relasi rekursif tidak homogen berikut adalah ...
𝑎𝑛 + 5𝑎𝑛−1 + 6𝑎𝑛−2 = 42 ∙ 4𝑛
8) Selesaikan relasi rekursif berikut dengan fungsi pembangkit
𝑎𝑛 = 3𝑎𝑛−1 + 2 , dengan 𝑎0 = 1

9) Selesaikan relasi rekursif berikut dengan fungsi pembangkit.


𝑎0 = 0, 𝑎𝑛 = 𝑎𝑛−1 + 2𝑛 dengan 𝑛 ≥ 1.

G. Kunci Jawaban
1) Tentukan relasi rekursif untuk menentukan banyaknya cara menyusun n buah objek yang
berbeda dalam suatu barisan. Tentukan banyaknya cara untuk menyusun 8 buah objek.

Penyelesaian:
Misalkan 𝑎𝑛 menyatakan banyaknya cara menyusun 𝑛 objek yang berbeda, maka ada 𝑛
cara meletakan 𝑛 objek pada urutan pertama di barisan. Dengan cara yang sama untuk
𝑎𝑛−1 , maka ada 𝑛 − 1 cara. Oleh karena itu formula relasi rekursif dapat dinyatakan
sebagai 𝑎𝑛 = 𝑛 𝑎𝑛−1
𝑎𝑛 = 𝑛 𝑎𝑛−1 = 𝑛 [(𝑛 − 1)𝑎𝑛−2 ] = ⋯ = 𝑛 (𝑛 − 1)(𝑛 − 2) … × 2 × 1 = 𝑛!
Jadi 𝑎8 = 8!

27
2) Carilah relasi berulang dengan syarat awal dari barisan 1, 1, 2, 4, 16, 128, 4096, . ..
Penyelesaian
Bentuk rumusan setiap suku dengan menggunakan suku sebelumnya
1 = 1
1 = 1 × 1
2 = 2 × 1 × 1
4 = 2 × 2 × 1
16 = 2 × 4 × 2
128 = 2 × 16 × 4
4096 = 2 × 128 × 16 × 4

Dengan demikian relasi yang berulang yang diperoleh adalah


𝑎𝑛 = 2 × 𝑎𝑛−1 × 𝑎𝑛−2 untuk 𝑛 ≥ 2, dengan syarat awal 𝑎0 = 1 dan 𝑎1 = 1
3) Sebuah rumah memiliki tangga dengan n buah anak tangga untuk dinaiki. Setiap langkah
dapat melewati satu atau dua anak tangga. Tentukan relasi rekursif untuk 𝑎𝑛 , banyaknya cara
berbeda sesorang dapat menaiki n buah anak tangga.
Penyelesaian:
𝑎1 = 1 ,
𝑎2 = 2 , yaitu 1,1 atau 2
𝑎3 = 3 , yaitu 1,1,1 atau 1,2 atau 2,1
𝑎4 = 5, yaitu 1,1,1,1 atau 1,2,1 atau 1,1,2 atau 2,2 atau 2,1,1
Sangat jelas terlihat bahwa ketika sebuah langkah dijalankan, maka akan ada tiga atau kurang
anak tangga lagi yang tersisa untuk dinaiki. Dengan demikian setelah langkah pertama
menaiki sebuah anak tangga, akan ada 𝑎3 cara untuk meneruskan menaiki tiga anak tangga
berikutnya. Jika langkah pertama menaiki dua anak tangga, maka akan ada 𝑎2 cara untuk
meneruskan menaiki dua anak tangga yang tersisa. Jadi banyaknya cara berbeda sesorang
dapat menaiki n buah anak tangga dengan kondisi awal 𝑎1 = 1 dan 𝑎2 = 2, 𝑎𝑛 = 𝑎𝑛−1 +
𝑎𝑛−2
4. Selesaikanlah relasi rekursif

𝑎1 = 3, 𝑎2 = 6, 𝑎3 = 14 dan

untuk 𝑛 ≥ 4 𝑎𝑛 = 6𝑎𝑛−1 − 11𝑎𝑛−2 + 6𝑎𝑛−3

Jawaban
28
Subtitusikan 𝑎𝑛 dengan 𝑥 𝑛 𝑥 𝑛 = 6𝑥 𝑛−1 − 11𝑥 𝑛−2 + 6𝑥 𝑛−3

Bagi kedua ruas dengan 𝑥 𝑛−3 𝑥 3 = 6𝑥 2 − 11𝑥 + 6

𝑥 3 − 6𝑥 2 + 11𝑥 − 6 = 0

Faktorkan (𝑥 − 1)(𝑥 − 2)(𝑥 − 3) = 0

Didapatkan akar karakteristik 𝑥1 = 1, 𝑥2 = 2, 𝑥3 = 3

Solusi Umum rekursif Jadi 𝑎𝑛 = 𝑐1 + 2𝑛 𝑐2 + 3𝑛 𝑐3

Subsitusikan nilai 𝑛 dan kondisi awal 𝑐1 + 2𝑐2 + 3𝑐3 =3

𝑐1 + 4𝑐2 + 9𝑐3 =6

𝑐1 + 8𝑐2 + 27𝑐3=14

Mencari 𝑐1, 𝑐2 , 𝑐3 1 2 3 3 1 2 3 3
[1 4 9 6 ] ~ [0 2 5 3]
1 6 27 14 0 4 24 11

𝑐1 = 1
1 2 3 3 1
[0 2 6 3] jadi 𝑐2 = 2
0 0 6 2 1
𝑐3 = 3

Solusi homogen (khusus) 1 1


𝑎𝑛 = 1𝑐1 + 2𝑛 + 3𝑛
2 3

𝑎𝑛 = 1𝑐1 + 2𝑛−1 + 3𝑛−1

5. Tentukan solusi homogen dari relasi rekursif 𝑎𝑛 = 3𝑎𝑛−1 − 3𝑎𝑛−2 + 𝑎𝑛−3 untuk 𝑛 ≥ 3
dengan kondisi awal 𝑎0 = 1, 𝑎1 = 2 dan 𝑎2 = 4.
Penyelesaian:
29
Subtitusikan 𝑎𝑛 dengan 𝑥 𝑛 𝑥 𝑛 = 3𝑥 𝑛−1 − 3𝑥 𝑛−2 + 𝑥 𝑛−3

Bagi kedua ruas dengan 𝑥 𝑛−3 𝑥 3 = 3𝑥 2 − 3𝑥 + 1

𝑥 3 − 3𝑥 2 + 3𝑥 − 1 = 0

Faktorkan (𝑥 − 1)(𝑥 − 1)(𝑥 − 1) = 0

Didapatkan akar karakteristik 𝑥 = 1 (rangkap 3)

Solusi Umum rekursif Jadi 𝑎𝑛 = 𝑐0 + 𝑐1 𝑛 + 𝑐2 𝑛2

Subsitusikan nilai 𝑛 dan kondisi awal 𝑐0 = 1

𝑐0 + 𝑐1 + 𝑐2 = 2

𝑐0 + 2𝑐1 + 4𝑐2 = 4

Mencari 𝑐0 , 𝑐1 , 𝑐2 𝑐0 = 1…………(*)

Substitusi (*) ke persamaan

𝑐0 + 𝑐1 + 𝑐2 = 2

Diperoleh

𝑐1 + 𝑐2 = 1…………(**)

Substitusi (*) ke persamaan

𝑐0 + 2𝑐1 + 4𝑐2 = 4

Diperoleh

2𝑐1 + 4𝑐2 = 3…………(**)

Dari (**) dan (***) diperoleh solusi

1 1
𝑐0 = 1; 𝑐1 = ; 𝑐2 =
2 2

Solusi homogen (khusus) 1 1


𝑎𝑛 = 1 + 𝑛 + 𝑛 2
2 2

6. Solusi khusus dari persamaan tersebut memiliki bentuk umum 𝐵. 4𝑛 .


30
Dengan mensubtitusikan persamaan awal dengan solusi khusus, diperoleh
𝐵4𝑛 + 5𝐵4𝑛−1 + 6𝐵4𝑛−2 = 42.4𝑛
⟺ 𝐵4𝑛 + 5𝐵4𝑛 4−1 + 6𝐵4𝑛 4−2 = 42.4𝑛
5 6
⟺ 𝐵4𝑛 + 𝐵4𝑛 + 𝐵4𝑛 = 42.4𝑛
4 16
42
⟺ 𝐵 = 42.4𝑛
16
⟺ 𝐵 = 16.4𝑛
(𝑝)
Jadi solusi khususny a adalah 𝑎𝑛 = 16.4𝑛
7. Solusi totalnya adalah
𝑎𝑛 = 𝐴1 (−2)𝑛 + 𝐴2 (−3)𝑛 + 16 ∙ 4𝑛 (1)
Misalkan diketahui syarat-syarat batasnya adalah a2 = 278 dan a3= 962. Sehingga disubstitusi
ke (1), diperoleh sistem persamaan linear
278 = 4𝐴1 + 9𝐴2 + 256
962 = -8𝐴1 - 27𝐴2 + 1024
Setelah sistem persamaan linear ini diselesaikan menggunakan eliminasi dan atau substitusi
kita memperoleh
𝐴1 = 1 dan 𝐴2 = 2.
Jadi, solusi totalnya adalah
𝑎𝑛 = (−2)𝑛 + 2(−3)𝑛 + 16 ∙ 4𝑛

8. Misal : 𝑃(𝑥) = ∑∞ 𝑛
𝑛=0 𝑎𝑛 𝑥 , 𝑛 ≥ 1

Kalikan kedua ruas dengan 𝑥 𝑛 kemudian dijumlahkan untuk 𝑛 = 1 sampai 𝑛 = ∞


∞ ∞ ∞

∑ 𝑎𝑛 𝑥 = ∑ 3𝑎𝑛−1 𝑥 + ∑ 2𝑥 𝑛
𝑛 𝑛

𝑛=1 𝑛=1 𝑛=1

 Ruas kiri
∞ ∞

∑ 𝑎𝑛 𝑥 = ∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 − 𝑎0 𝑥 0
𝑛

𝑛=1 𝑛=0

= ∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 − 𝑎0
𝑛=0

= 𝑃(𝑥) − 1
 Suku pertama Ruas kanan

31
∞ ∞

∑ 3𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛 = 3 ∑ 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛
𝑛=1 𝑛=1

= 3𝑥 ∑ 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1
𝑛=1

= 3𝑥 ∙ 𝑃(𝑥)
 Suku kedua Ruas kanan

∞ ∞

∑ 2𝑥 = 2 ∑ 𝑥 𝑛
𝑛

𝑛=1 𝑛=1

= 2 (∑ 𝑥 𝑛 − 1)
𝑛=0
1
= 2( − 1)
1−𝑥
2
= −2
1−𝑥

Sehingga,
∞ ∞ 1 + 𝑥∞ 𝑎 𝑏
𝑛 𝑛 𝑛= +
∑ 𝑎𝑛 𝑥 = ∑ 3𝑎𝑛−1
(1 −𝑥 3𝑥)(1
+ ∑−2𝑥𝑥) 1 − 3𝑥 1 − 𝑥
𝑛=1 𝑛=1 𝑛=1
𝑎(1 − 3𝑥) + 𝑏(1 − 𝑥)
2 =
𝑃(𝑥) − 1 = 3𝑥 ∙ 𝑃(𝑥) + ( − 2) (1 − 3𝑥)(1 − 𝑥)
1−𝑥
2 𝑎 − 3𝑎𝑥 + 𝑏 − 𝑏𝑥
𝑃(𝑥) − 3𝑥 ∙ 𝑃(𝑥) = −2+1 =
1−𝑥 (1 − 3𝑥)(1 − 𝑥)
2 𝑎 + 𝑏 + (−3𝑎 − 𝑏)𝑥
𝑃(𝑥)(1 − 3𝑥) = −1 =
1−𝑥 (1 − 3𝑥)(1 − 𝑥)
2−1+𝑥
𝑃(𝑥)(1 − 3𝑥) = Diperoleh:
1−𝑥
1+𝑥 𝑎+𝑏 =1
𝑃(𝑥)(1 − 3𝑥) =
1−𝑥
−3𝑎 − 𝑏 = 1
1+𝑥
𝑃(𝑥) =
(1 − 3𝑥)(1 − 𝑥) Dengan metode eliminasi substitusi
2 1 diperoleh nilai 𝑎 = 2 dan 𝑏 = −1
𝑃(𝑥) = −
1 − 3𝑥 1 − 𝑥
∞ ∞ ∞

∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 = 2 ∑ 3𝑛 𝑥 𝑛 − ∑ 𝑥 𝑛
𝑛=0 𝑛=0 𝑛=0

32

= ∑(2 ∙ 3𝑛 − 1)𝑥 𝑛
𝑛=0

Jadi, solusinya adalah


𝑎𝑛 = 2 ∙ 3𝑛 − 1 𝑛 ≥ 1
9. Misal : 𝑃(𝑥) = ∑∞
𝑛=0 𝑎𝑛 𝑥
𝑛

Kalikan kedua ruas dengan 𝑥 𝑛 kemudian dijumlahkan untuk 𝑛 = 1 sampai 𝑛 = ∞


∞ ∞ ∞

∑ 𝑎𝑛 𝑥 = ∑ 𝑎𝑛−1 𝑥 + ∑ 2𝑛 𝑥 𝑛
𝑛 𝑛

𝑛=1 𝑛=1 𝑛=1

 Ruas kiri
∞ ∞

∑ 𝑎𝑛 𝑥 = ∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 − 𝑎0 𝑥 0
𝑛

𝑛=1 𝑛=0

= ∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 − 𝑎0
𝑛=0

= 𝑃(𝑥) − 0
= 𝑃(𝑥)
 Ruas kanan
∞ ∞

∑ 𝑎𝑛−1 𝑥 = 𝑥 ∑ 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1


𝑛

𝑛=1 𝑛=1

= 𝑥 ∙ 𝑃(𝑥)
∞ ∞

∑ 2 𝑥 = ∑(2𝑥)𝑛
𝑛 𝑛

𝑛=1 𝑛=1

= ∑(2𝑥)𝑛 − 1
𝑛=0

1
= −1
1 − 2𝑥
1 − 1 + 2𝑥
=
1 − 2𝑥
2𝑥
=
1 − 2𝑥
Sehingga

33
∞ ∞ ∞
2𝑥 𝑎 𝑏
∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 = ∑ 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛 + ∑ 2𝑛 𝑥 𝑛 = +
(1 − 2𝑥)(1 − 𝑥) 1 − 2𝑥 1 − 𝑥
𝑛=1 𝑛=1 𝑛=1
2𝑥 𝑎(1 − 𝑥) + 𝑏(1 − 2𝑥)
𝑃(𝑥) = 𝑥 ∙ 𝑃(𝑥) + =
1 − 2𝑥 (1 − 2𝑥)(1 − 𝑥)
2𝑥 𝑎 − 𝑎𝑥 + 𝑏 − 2𝑏𝑥
𝑃(𝑥) − 𝑥 ∙ 𝑃(𝑥) = =
1 − 2𝑥 (1 − 2𝑥)(1 − 𝑥)
2𝑥
𝑃(𝑥)(1 − 𝑥) = 𝑎+𝑏+(−𝑎−2𝑏)𝑥
1 − 2𝑥 = (1−2𝑥)(1−𝑥)
2𝑥
𝑃(𝑥) = 𝑎+𝑏 =0
(1 − 2𝑥)(1 − 𝑥)
2 2 −𝑎 − 2𝑏 = 2
𝑃(𝑥) = −
1 − 2𝑥 1 − 𝑥
Dengan metode eliminasi substitusi
1 1
𝑃(𝑥) = 2( − ) diperoleh nilai 𝑎 = 2 dan 𝑏 = −2
1 − 2𝑥 1 − 𝑥
∞ ∞ ∞
𝑛
∑ 𝑎𝑛 𝑥 = 2 (∑(2𝑥) − ∑ 𝑥 𝑛 )
𝑛

𝑛=0 𝑛=0 𝑛=0


= ∑ 2(2𝑛 − 1)𝑥 𝑛
𝑛=0

Jadi, solusinya adalah


𝑎𝑛 = 2(2𝑛 − 1) 𝑛 ≥ 1

34
Daftar Pustaka

Acharjya, D.P & Sreekumar. 2009. Second Edition Fudamental Approach To Discreate
Mathematics. New Delhi: New Age International Publisher.
Budayasa, I.K. 2008. Matematika Diskrit. Surabaya: UNESA University Press.
Lipschutz, Seymour & Marc L. Schmidt. 2007. Schaum’s Outlines Matematika Diskret. Jakarta:
Erlangga.
Merris, Russell. 2003. Combinatorics Second Edition. Canada : John Wiley & Sons, Inc.
Sutarno, H. N, Priatna. Nurjanah. 2003. Matematika Diskrit. Bandung: JICA

35