Anda di halaman 1dari 25

PENETASAN KISTA Artemia

(Laporan Praktikum Teknik Budidaya Pakan Hidup)

Oleh

Ris Restu Pertiwi


1514111008
Kelompok 2

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Nama : Ris Restu Pertiwi


NPM : 1514111008
Judul Praktikum : Penetasan Kista Artemia
Tanggal Praktikum : 21-22 Oktober 2017
Tempat Praktikum : Laboratorium Budidaya Perairan
Program Studi : Budidaya Perairan
Jurusan : Perikanan dan Kelautan
Fakultas : Pertanian
Universitas : Univeristas Lampung
Kelompok : 2 (Dua)

Bandar Lampung, 30 Oktober 2017


Mengetahui
Asisten,

Tri Yana Wulan Sari


NPM. 1414111076
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keberhasilan suatu usaha budidaya oleh berbagai macam kegiatan penunjang,
salah satunya ialah penyediaan makanan hidup bagi biota yang dibudidayakan.
Makanan hidup dapat berupa zooplankton dan fitoplankton. Zooplankton
digunakan secara luas di dalam industri budidaya ikan dan udang. Jenis
zooplankton yang banyak digunakan sebagai pakan utama dalam pebenihan ikan,
udang dan kepiting adalah Artemia. Harefa (2003), menyatakan bahwa, pakan
alami Artemia merupakan komponen penentu menuju keberhasilan dalam usaha
budidaya perikanan hal ini dikarenakan selain mudah dicerna, ukuran Artemia
sesuai bukaan mulut larva ikan dan bernutrisi tinggi. Nilai nutrisi dari Artemia
didapatkan dari kandungan protein Artemia dewasa yang mencapai 60%. Protein
tersebut pada dasarnya merupakan komponen utama yang dibutuhkan dalam
pembentukan organ-organ tubuh ikan.
Artemia merupakan pakan alami yang banyak digunakan dalam usaha
budidaya ikan dan udang, di indonesia belum ditemukan adanya artemia, sehingga
sampai saat ini Indonesia masih mangimpor artemia sebanyak 50 ton/tahun.
Walaupun pakan buatan dalam berbagai jenis telah berhasil dikembangkan dan
cukup tersedia untuk larva ikan dan udang, namun artemia masih tetap merupakan
bagian yang esensial sebagai pakan larva ikan dan udang di unit pembenihan.
Artemia merupakan pakan alami yang sangat penting dalam pembenihan ikan
laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias. Ini terjadi karena artemia
memiliki gizi yang tinggi, serta ukurannya sesuai dengan bukaan mulut hampir
seluruh jenis larva ikan (Djarijah, 2003).
Keunggulan lainnya dari Artemia adalah mampu hidup pada perairan yang
bersalinitas tinggi, dan juga kistanya dapat ditetaskan pada salinitas yang berbeda.
Sampai saat ini Artemia sebagai pakan alami belum dapat digantikan oleh pakan
lainnya. Hal ini dilihat dari beberapa keunggulan yang dimiliknya dan juga dari
proses pembudidayaannya yang cukup sederhana serta tidak membutuhkan biaya
produksi yang mahal. BiasanyaArtemia diperjual belikan dalam bentuk
kista/cyste, sehingga sebagai pakan alami Artemia merupakan pakan yang paling
mudah dan praktis, karena hanya tinggal menetaskan kista saja. Akan tetapi,
menetaskan kista Artemia bukan suatu hal yang dengan begitu saja dapat
dilakukan oleh setiap orang. Sebab membutuhkan suatu keterampilan dan
pengetahuan tentang penetasan itu sendiri. Kegagalan dalam menetaskan kista
Artemia barakibat fatal terhadap larva ikan yang sedang dipelihara. Oleh sebab itu
praktikum ini dilakukan, diharapkan agar mahasiswa mampu melakukan
penetasan dan mengetahui salinitas optimum bagi Artemia untuk dapat hidup dan
berkembang dengan baik.

1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan salinitas dan
intensitas cahaya terhadap derajat penetasan (Hatching Rate) Artemia.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Artemia


Artemia merupakan organisme sejenis udang-udangan berukuran kecil (renik)
dikenal dengan nama brine shrimp. Artemia mampu hidup di daerah yang
ekstrem.Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995) klasifikasi Artemia adalah
sebagai berikut:
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Subkelas : Branchiopoda
Ordo : Anostraca
Famili : Artemidae
Genus : Artemia
Spesies : Artemia salina Gambar 1. Artemia

2.2 Morfologi Artemia


Artemia termasuk golongan udang-udangan yang berukuran kecil. Bentuk
dewasanya mencapai ukuran 1 cm, kurang lebih sama ukurannya dengan jambret
(Mysidanceae). Hidup di perairan yang kadar garamnya tinggi sekali, dimana
hanya beberapa jenis bakteri serta algae yang dapat bertahan hidup. Hewan ini
memakan plankton, detritus serta butiran halus dalam air yang dapat masuk ke
dalam mulutnya (filter feeder). Pada kondisi kadar garam tinggi Artemia akan
menghasilkan kista yaitu telur yang diseliputi oleh selubung kuat untuk
melindungi embryo dari perubahan lingkungan yang merugikan. Bila akan
digunakan sebagai makanan hidup, kista direndam dalam air laut dan akan
menetas menjadi nauplius. Nauplius inilah yang digunakan untuk makanan larva
udang atau ikan (Ramdhini, 2010).
Larva Artemia yang baru menetas dikenal dengan nauplius. Nauplius dalam
pertumbuhannya mengalami 15 kali perubahan bentuk, masing-masing perubahan
merupakan satu tingkatan yang disebut instar. Nauplius stadia I (Instar I) ukuran
400 mikron, lebar 170 mikron dan berat 15 mikrongram, berwarna orange
kecoklatan. Setelah 24 jam menetas, naupli akan berubah menjadi Instar II,
Gnatobasen sudah berbulu, bermulut, terdapat saluran pencernakan dan dubur.
Tingkatan selanjutnya, pada kanan dan kiri mata nauplius terbentuk sepasang
mata majemuk. Bagian samping badannya mulai tumbuh tunas-tunas kaki, setelah
instar XV kakinya sudah lengkap sebanyak 11 pasang. Nauplius menjadi artemia
dewasa (Prosesinstar I-XV) antara 1-3 minggu (Mukti, 2004).
Stadia artemia yaitu kista yang ditetaskan menjadi nauplis yang berkembang
menjadi artemia dewasa.Kista berbentuk bulat-bulatan kecil berdiameter antara
200-350 mikron dengan warna kelabu kecoklatan.Satu gram kista Artemia kering
rata-rata terdiri atas 200.000-300.000 butir kista. Kista yang berkualitas baik akan
menetas sekitar 18-24 jam apabila diinkubasikan dalam air bersalinitas 5-70
permil. Ada beberapa tahapan proses penetasan Artemia yaitu tahap hidrasi, tahap
pecah cangkang dan tahap payung atau tahap pengeluaran. Pada tahap hidrasi
terjadi penyerapan air sehingga kista yang diawetkan dalam bentuk kering
tersebut akan menjadi bulat dan aktif bermetabolisme. Tahap selanjutnya adalah
tahap pecah cangkang, pada tahap ini kista menggelembung karena menyerap air,
selanjutnya kista mulai menetas dengan memecah cangkangnya, dan tahap yang
terakhir adalah tahap payung atau tahap pengeluaran yaitu anak Artemia keluar
dan menjadi Artemia (Mayasari, 2007).

Gambar 2. Morfologi Kista Artemia


Artemia yang baru menetas disebut nauplius. Nauplius yang baru menetas
berwarna orange, berbentuk bulat lonjong dengan panjang sekitar 400 mikron,
lebar 170 mikron, dan berat 0.002 mg. Ukuran-ukuran tersebut sangat bervariasi
tergantung strainnya. Nauplius mempunyai sepasang antenna dan sepasang
antenulla dengan ukuran lebih kecil dan pendek dari antenna, selain itu di antara
antenulla terdapat bintik mata yang disebut ocellus. Sepasang mandibula run
dimenter terdapat dibelakang antenna, sedangkan labium atau mulut terdapat
dibagian ventral (Wahyu, 2002).

Gambar 3. Morfologi Nauplius

Artemia dewasa biasanya berukuran 8-10 mm, ditandai dengan adanya


tangkai mata yang jelas terlihat pada kedua sisi bagian kepala, antenna sebagai
alat sensori, saluran pencernaan terlihat jelas dan 11 pasang thorakopoda. Pada
Artemia jantan, antenna berubah menjadi alat penjepit (mascular grasper).
Sepasang penis terdapat dibagian belakang tubuh, sedangkan pada Artemia
betina, antenna mengalami penyusutan. Sepasang indung telur atau ovari terdapat
dikedua sisi saluran pencernaan dibelakang thorakopoda (Soni, 2005).

Gambar 4. Morfologi Artemia Dewasa


2.3 Siklus Hidup Artemia
Perkembangbiakan Artemia melalui dua cara, yakni partenogenesis dan
biseksual. Pada Artemia yang termasuk jenis parthenogenesis populasinya terdiri
dari betina semua yang dapat membentuk telur dan embrio berkembang dari telur
yang tidak dibuahi, sedangkan pada Artemia jenis biseksual, populasinya terdiri
dari jantan dan betina yang berkembang melalui perkawinan dan embrio
berkembang dari telur yang dibuahi (Tyas, 2004).
Siklus hidup artemia bisa dimulai dari saat menetasnya kista atau telur.
Setelah 15-20 jam pada suhu 25°C kista akan menetas manjadi embrio. Dalam
waktu beberapa jam embrio ini masih akan tetap menempel pada kulit kista. Pada
fase ini embrio akan menyelesaikan perkembangannya kemudian berubah menjadi
naupli yang sudah akan bisa berenang bebas. Pada awalnya naupli akan berwarna
orange kecoklatan akibat masih mengandung kuning telur. Artemia yang baru
menetas tidak akan makan, karena mulut dan anusnya belum terbentuk dengan
sempurna. Setelah 12 jam menetas mereka akan ganti kulit dan memasuki tahap
larva kedua. Dalam fase ini mereka akan mulai makan, dengan pakan berupa
mikro alga, bakteri, dan detritus organik lainnya. Pada dasarnya mereka tidak
akan peduli (tidak pemilih) jenis pakan yang dikonsumsinya selama bahan
tersebut tersedia diair dengan ukuran yang sesuai. Naupli akan berganti kulit
sebanyak 15 kali sebelum menjadi dewasa dalam waktu 8 hari. Artemia dewasa
rata-rata berukuran sekitar 8 mm, meskipun demikian pada kondisi yang tepat
mereka dapat mencapai ukuran sampai dengan 20 mm. Pada kondisi demikian
biomasnya akan mencapi 500 kali dibandingkan biomas pada fase naupli (Utomo,
2004).

Gambar 5. Siklus Hidup Artemia


Artemia menjadi dewasa setelah umur 14 hari.Artemia dewasa ini biasa
menghasilkan telur sebanyak 50-300 butir setiap 4-5 hari sekali. Lebih-lebih bila
kondisi lingkungan memungkinkan untuk melakukan perkawinan ovovivipar.
Dengan perkembangbiakan secara ovovivipar ini biasa menghasilkan individu
baru dalam waktu yang relatif lebih cepat sehingga jumlah nauplius yang
dihasilkan seoleh setiap induk bisa lebih banyak. Umur maksimal Artemia sekitar
6 bulan, tetapi karena Artemia dapat melakukan perkembangbiakan dengan dua
cara, maka memungkinkan organisme ini bertahan hidup sepanjang masa. Dalam
keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan, induk Artemia mungkin mati,
tetapi siste atau telur yang dihasilkan dari perkawinan akan berkembang sebagai
generasi penerus (Djarijah, 2003).

2.4 Habitat Artemia


Artemia secara umum tumbuh dengan baik pada kisaran suhu antara 25-30oC,
berbeda dengan kista Artemia kering yang dapat tahan pada suhu -273-100oC.
Artemia dapat ditemui di danau dengan kadar garam tinggi yang biasa disebut
dengan brain shrimp. Kultur biomassa Artemia yang baik pada kadar garam antara
30-50 ppt. Untuk Artemia yang mampu menghasilkan kista membutuhkan kadar
garam diatas 100 ppt. Kadar oksigen terlarut yang dibutuhkan agar Artemia dapat
tumbuh dengan baik ialah sekitar 3 ppm. Media untuk penetasan kista, diperlukan
air yang pH-nya lebih dari 8, jika pH kurang dari 8 maka efisiensi penetasan akan
menurun atau waktu penetasan menjadi lebih panjang (Mudjiman, 1989).
Artemia sp. merupakan satu-satunya genus dalam keluarga artemidae.
Pertama kali ditemukan di Lymington, inggris pada tahun 1755. Artemia sp.
ditemukan diseluruh dunia dipedalaman saltwater tetapi tidak di lautan. Artemia
sp. hidup di perairan yang berkadar garam tinggi, yaitu antara 15-35 ppt. Pada
salinitas yang terlalu tinggi, telur tidak akan menetas yang disebabkan tekanan
osmosis dari luar tubuh lebih tinggi, sehingga telur tidak dapat menyerap air yang
cukup untuk metabolismenya (Irmasari, 2002).
Artemia termasuk hewan euroksibion yaitu hewan yang mempunyai kisaran
toleransi yang lebar akan kandungan oksigen, pada kandungan oksigen 1 mg/L
Artemia masih dapat bertahan. Sebaliknya, pada kandungan oksigen terlarut yang
tinggi sampai kejenuhan 150 persen Artemia masih mampu bertahan hidup,
sedangkan kandungan oksigen yang baik untuk pertumbuhan Artemia adalah
diatas 3 mg/L. Kemudian Keasaman air (pH) juga mempengaruhi kehidupan
Artemia. Umumnya Artemia membutuhkan pH air yang bersifat basa agar artemia
dapat tumbuh dengan baik, maka pH air yang digunakan untuk budidaya berkisar
antara 7,5-8,5. Sifat ekologi Artemia sangat menakjubkan yakni ketahanan
terhadap kandungan ammonia yang tinggi. Pada kondisi budidaya kandungan
ammonia hingga 90 mg/L masih dapat ditoleransi oleh artemia (Budiman, 2003).
III. METODELOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada Kamis tanggal 21-22 Oktober 2017,
bertempat di LaboratoriumBudidaya Perairan Jurusan Perikanan dan Kelautan,
Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain corong penetasan skala
kecil (1 L), botol sampel kecil, spuit 1 ml, mikroskop, aerasi, lampu pijar, pipet
tetes, rak, dan plankton net. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu air laut / air
laut buatan (salinitas 24, 26, 28, 30, dan 32 ppt), kista Artemia sebanyak 0,75 gr,
lugol, dan larutan pemutih.

3.3 Cara Kerja


Prosedur kerja dalam praktikum ini dilakukan dengan cara sebagai berikut:
3.3.1 Kultur Artemia
1. Dibuat tiga buah corong penetasan Artemia skala kecil dengan botol bekas
yang diberi warna hitam
2. Dimasukkan air laut / air laut buatan dengan salinitas 24, 26, 28, 30, dan 32
ppt kedalam corong penetasan sebanyak 500 ml
3. Dimasukkan aerasi hingga ke dasar corong penetasan, hingga air teraduk
sempurna
4. Lampu pijar ditempatkan diatas masing-masing corong penetasan
5. Dimasukkan 0,75 gr kista Artemia kedalam corong penetasan.
3.3.2 Sampling Artemia
1. Diamati penetasan kista (tiap fase) setiap 1 jam hingga kista keseluruhan
menetas selama 24 jam
2. Diambil 3 sampel masing-masing 0,25 mldari tiap corong penetasan,
dipindahkan ke botol kecil dan diberi 4 tetes lugol
3. Diamati di bawah mikroskop, dihitung dan dicatat rata-rata jumlah Nauplii
(N) dan Umberella / kista yang menonjol (U)
4. Ditambahkan 5 tetess larutan pemutih kedalam botol kecil dan dihitung
jumlah rata-rata embrio tidak menetas yang berwarna orange (E)
5. Dihitung Hatching Rate tiap jam dengan rumus sebagai berikut:
N
H(%) = X 100%
N+U+E
Keterangan : H : Hatching Rate
N : Jumlah Nauplii
U : Jumlah Umberella
E : Jumlah Embrio
6. Panen Artemia dilakukan dengan Plankton net.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan selama 24 jam pada penetasan
kista Artemia dalam media salinitas 26 ppt, diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Pengamatan Daya Tetas Kista Artemia
Jam Embrio Umbrella Nauphli H (%) Nama
11 0 0 0 0% winda&nurlia
12 0 0 0 0% winda&nurlia
13 0 0 0 0% rara&santrika
14 0 0 0 0% tiwi&nurlia
15 0 0 0 0% tiwi&nurlia
16 0 0 0 0% tiwi&nurlia
17 0 0.6 0.6 0% agung&falqi
18 0 1 0 0% agung
19 1 3.67 1.3 22% winda&agung
20 2.67 15.3 2.3 11.34% winda&tiwi
21 1.3 7.67 1 10.03% winda&tiwi
22 0 16 2.3 12.56% rara&santrika
23 0 14.67 14.67 50% rara&santrika
24 0 15.67 11.67 42.68% rara&santrika
1 0 8 22 73.33% falqi
2 0 7.67 23 74.99% falqi
3 0 9.33 33.67 78.30% falqi
4 0 9.67 34 77.85% falqi
5 0 2 36.67 94.82% agung
6 0 2 36.33 94.78% agung
7 0 0.33 22.33 98.54% nurlia&agung
8 0 3 45 93.75% winda&nurlia
9 0 13.67 33.67 71.12% rara&santrika
10 0 5 44.33 89.86% winda&rara

Grafik 1. Hasil Pengamatan Penetasan Artemia sp.

4.2 Pembahasan
Praktikum ini dilaksanakan dengan menggunakan salinitas yang berbeda
sebagai media penetasan kista Artemia. Salinitas yang digunakan antara lain ialah
24, 26, 28, 30 dan 32 ppt. Perbedaan salinitas ini bertujuan sebagai pembanding
guna didapatkan salinitas optimum yang baik dalam penetasan kista Artemia.
Pada media dengan salinitas 26 ppt, kista mulai menetas menjadi umbrella dan
nauphli mulai terlihat di jam pengamatan ke-17 yaitu pukul 17:00 dimana pada
saat itu telah ditemukan pada ketiga corong penetasan dengan rata-rata 0,6.
Sementara embrio baru terlihat di jam pengamatan ke-19 yaitu pukul 19: 00.
Setelah dilakukan 12 jam pengamatan, diperoleh persentase tertinggi pada akhir
pengamatan yaitu pukul 07:00 dengan HR (Hatching Rate) sebesar 98,54%.
Menurut Nelis et al (1984), proses penetasan kista sangat dipengaruhi oleh yolk
karena yolk mengandung zat-zat penting yang sangat dibutuhkan oleh embrio
untuk menetas, seperti gliserol, glikogen, dan enzim penetasan. Kandungan yolk
ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh nutrisi induk. Yolk kista Artemia
mengandung lipovitelin yang terdiri dari karotenoid yang kemungkinan
berhubungan dengan transpor elektron dan reaksi enzimatis. Penetasan terjadi jika
terdapat perbedaan tekanan osmotik antara bagian luar dan dalam kista. Selain itu,
faktor lain yang dibutuhkan embrio untuk menetas adalah glikogen sebagai energi
untuk memecah cangkang dan dapat keluar dari cangkang tanpa kehabisan energi
(Utomo, 2004).
Siklus hidup artemia bisa dimulai dari saat menetasnya kista atau telur.
Setelah 15-20 jam pada suhu 25°C kista akan menetas manjadi embrio. Dalam
waktu beberapa jam embrio ini masih akan tetap menempel pada kulit kista. Pada
fase ini embrio akan menyelesaikan perkembangannya kemudian berubah menjadi
naupli yang sudah akan bisa berenang bebas. Pada awalnya naupli akan berwarna
orange kecoklatan akibat masih mengandung kuning telur. Artemia yang baru
menetas tidak akan makan, karena mulut dan anusnya belum terbentuk dengan
sempurna. Setelah 12 jam menetas mereka akan ganti kulit dan memasuki tahap
larva kedua. Dalam fase ini mereka akan mulai makan, dengan pakan berupa
mikro alga, bakteri, dan detritus organik lainnya. Pada dasarnya mereka tidak
akan peduli (tidak pemilih) jenis pakan yang dikonsumsinya selama bahan
tersebut tersedia diair dengan ukuran yang sesuai. Naupli akan berganti kulit
sebanyak 15 kali sebelum menjadi dewasa dalam waktu 8 hari. Artemia dewasa
rata-rata berukuran sekitar 8 mm, meskipun demikian pada kondisi yang tepat
mereka dapat mencapai ukuran sampai dengan 20 mm. Pada kondisi demikian
biomasnya akan mencapi 500 kali dibandingkan biomas pada fase naupli
(Purwakusuma, 2008).
Penetasan kista Artemia dilakukan dengan cara merendam kista dalam air
laut buatan bersalinitas 26 ppt yang beraerasi dengan penambahan paparan lampu
pijar selama 24 jam. Telur Artemia yang baru dibuka dari kaleng berbentuk bola
kempes bukan seperti bola bundar. Hal ini disebabkan karena waktu pemrosesan
telur tersebut didehidrasi sehingga kadar air tinggal sekitar 10%. Telur yang
dimasukkan dalam air dengan waktu satu sampai dua jam telah menyerap air dan
bentuknya menjadi bulat. Sekitar 15 jam kemudian telur mulai menetas, dari
dalam telur keluar bentuk bulat telur yang masih terbungkus dalam selaput tipis,
bentuk ini disebut "Umbrella stage". Setelah beberapa jam, maka lapisan tipis ini
akan pecah dan keluarlah Nauplius (Maria, 1984).
Artemia akan menetas setelah 18-24 jam. Artemia yang sudah menetas dapat
diketahui secara sederhana yakni dengan melihat perubahan warna di media
penetasan. Artemia yang belum menetas pada umumnya berwarna cokelat muda,
akan tetapi setelah menetas warna media berubah menjadi oranye. Warna orange
belum menjamin Artemia sudah menetas sempurna, oleh karena itu untuk
meyakinkan bahwa Artemia sudah menetas secara sempurna disamping melihat
perubahan warna juga dengan mengambil contoh Artemia dengan menggunakan
beaker glass. Jika seluruh nauplius Artemia sudah berenang bebas maka itu
menunjukkan penetasan selesai. Akan tetapi jika masih banyak yang terbungkus
membran, maka harus ditunggu 1-2 jam agar semua Artemia menetas secara
sempurna (Lavens, 1996).
Keistimewaan Artemia sebagai plankton dalam perikanan adalah memiliki
toleransi (kemampuan beradaptasi dan mempertahankan diri) pada kisaran kadar
garam yang sangat luas. Pada kadar garam yang sangat tinggi di mana tidak ada
satu pun organisme lain mampu bertahan hidup, ternyata Artemia mampu
mentolerirnya (Dewi, 2007).
V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum Penetasan Kista Artemia adalah salinitas yang
baik untuk digunakan dalam kultur atau penetasan kista artemia sampai menjadi
nauplii yaitu pada salinitas 30ppt.

5.2 Saran
Untuk praktikum penetasan kista artemia sebaiknya tidak hanya salinitas saja
yang dibedakan pada tiap kelompok namun suhu juga perlu dilakukan karena
kista artemia menetas tidak hanya bergantung pada salinitas namun juga pada
suhu lingkungannya.
DAFTAR PUSTAKA

Budiman, M.A. 2003. Daya Tetas Kista Artemia salina pada Media Buatan
dengan Berbagai Salinitas.Skripsi. F Pertanian UGM.Yogyakarta.
Djarijah, Abbas Siregar. 2003. Pakan Ikan Alami. Kanisius. Yogyakarta.
Harefa. 2003. Pembudidayaan Artemia Untuk Pakan Udang dan Ikan. PT.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Irmasari, Dedeh. 2002. Pengaruh artemia yang diperkaya dengan kadar vitamin
C berbeda terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan daya tahan
larva Udang windu (Penaeus monodon). Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan IPB. Bogor.
Kurniastuty dan Isnansetyo. 1995. Artemia Pakan Alami Berkualitas untuk Ikan
dan Udang. Erlangga. Jakarta.
Lavens, P. and P. Sorgeloos. 1996. Manual On The Production and UsedOf Live
Food For Aquaculture. FAO Fisheries Technical Paper 361.
Maria G. L. P. 1984. Teknik Penetasan dan PemanenanArtemia Salina. Oseana,
Volume IX, Nomor 2: 57 - 65. ISSN 0216 – 1877.
Mayasari, D. 2007. Survival Rate Artemia pada Tingkat Salinitas yang Berbeda.
Laporan Penelitian. FMIPA. Undip, Semarang.
Mudjiman, A. 1989. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Mukti, Dedy. 2004. Modul Penetasan Artemia. Direktorat Pendidikan Menengah
Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah Departemen
Pendidikan Nasional.
Purwakusuma, W. 2008. Artemia Salina. Dinas Perikanan. Jawa Timur.
Ramdhini, RN. 2010. Uji Toksisitas Terhadap Artemia salina Leach dan
Toksisitas Akut Komponen Bioaktif Pandanu conoideus var. Conoideus Lam
Sebagai Kandidat Antikanker. Skripsi. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Soni, A. F. M., D. J. Sulistyono, Hermiyaningsih. 2005. Kajian Peningkatan
Protein Silase Ikan Terhadap Keberhasilan Peningkatan Fekunditas Induk
Artemia. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau. Jepara.
Tyas, I. K. 2004. Pengkayaan Pakan Nauplius Artemia dengan Korteks Otak Sapi
untuk Meningkatkan Kelangsungan Hidup, Pertumbuhan, dan Daya Tahan
Tubuh Udang Windu (Penaeus monodon.Fab) Stadium PL 5-PL 8.Skripsi.
Jurusan Biologi FMIPA UNS. Surakarta.
Utomo, I. K. 2004. Pengaruh Padat Penebaran Nauplii Artemia Terhadap
Perkembangan Gonad, Produksi Kista, Daya Tetas Kista dan Kelulushidupan
Artemia sp. yang Dikultur di Laboratorium. Skripsi. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan UNDIP. Semarang.
Wahyu, P. 2002. Artemia salina (Brine Shrime).O-fish.All right Reserved.
LAMPIRAN
DOKUMENTASI
No Gambar Keterangan
1

Penimbangan kista artemia sebanyak


0,75 gram

Kista artemia 0,75 gram

Pemasukan kista artemia kedalam


corong

Proses inkubasi kista artemia di dalam


corong
5

Diambil 0,25 ml sampel

Ditetesi 4 tetes lugol

Diamati dibawah mikroskop

Ditetesi 5 tetes larutan pemutih

Hasil pengamatan
10

Hasil pengamatan

11

Hasil pengamatan

12

Hasil pengamatan

13

Hasil pengamatan

14

Hasil pengamatan
15

Pemanenan artemia