Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Faktor-faktor yang berhubungan dengan Postpartum blues

2.1.1 Tingkat Pendidikan

Menurut Notoatmodjo dalam Pradita (2015), pendidikan adalah

suatu

kegiatan

atau

proses

pembelajaran

untuk

mengenbangkan

atau

meningkatkan kemampuan tertentu sehingga sasaran pendidikan itu dapat

berdiri

sendiri.

Tingkat

pendidikan

dapat

mentukan

mudah

tidaknya

seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang merekan peroleh,

pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin baik

pula pengetahuannya. Menurut UU Sisdiknas No.20 pasal 17,18,19 Tahun

2003 dalam Pradita (2015), jalur pendidikan formal terdiri dari :

1. Pendidikan dasar (SD,MI,SMP,MTs).

2. Pendidikan menengah (SMA,MA,SMK,MAK).

3. Pendidikan tinggi (Diploma, Sarjana, Magister, Spesialis,Dokter).

Menurut Nova (2015), ibu nifas yang memiliki pendidikan tinggi

akan berdampak tidak hanya pada perawatan bayi tetapi pada psikologis ibu

nifas itu sendiri. Seseorang yang memiliki pendidikan tinggi sadar akan

peran dan tugasnya sebagai ibu. Tingkat kecemasan yang terjadi pada ibu

berpendidikan tinggi akan lebih kecil daripada ibu berpendidikan dasar.

Pendidikan akan membantu proses adaptasi ibu nifas serta mengurangi

gejala psikologis.

6

7

2.1.2 Jenis Persalinan

Persalinan merupakan suatu proses yang dimulai dengan adanya

kontraksi

uterus

yang

menyebabkan

terjadinya

dilatasi

progresif

dari

serviks,

kelahiran

bayi,

dan

kelahiran

plasenta

serta

proses

tersebut

merupakan proses alamiah (Rohani dalam Oktarina, 2016: 2). Adapun jenis-

jenis persalinan menurut Prawirohardjo dalam Oktarina (2016: 2) ialah :

1. Persalinan

Spontan,

jika

persalinan

berlangsung

ibunya sendiri dan melalui jalan lahir.

dengan

kekuatan

2. Persalinan Buatan, persalinan yang berlangsung dengan bantuan tenaga

dari luar misalnya ekstaksi dengan forceps atau operasi sectio caesarea.

3. Persalinan Anjuran, bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan

ditimbulkan dari luar dengan jalan rangsangan misalnya pemberian

picotin dan prostaglandin.

Jenis persalinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

terjadinya postpartum blues. Menurut Patel RR et al dalam Masita (2007),

persalinan

sectio

caesar

yang

direncanakan

dapat

menurunkan

risiko

terjadinya gejala postpartum blues, sedangkan persalinan darurat atau tanpa

perencanaan merupakan faktor stres pada wanita bersalin dan postpartum

bahkan dapat berkembang menjadi gejala postpartum blues. Persalinan

darurat didefinisikan sebagai persalinan yang tidak direncanakan, berupa

persalinan

sectio

caesar

yang

tidak

direncanakan

atau

persalinan

pervaginam dengan bantuan alat (Koo V, et al, 2003). Hal ini tidak sejalan

dengan hasil penelitian Torksn B, et al (2007), yang menyatakan bahwa

8

kualitas hidup wanita postpartum dengan persalinan normal lebih baik

dibandingkan dengan wanita persalinan dengan sectio caesar, dan bila tanpa

indikasi medis persalinan normal pervaginam tetap menjadi perioritas dalam

mengakhiri kehamilan.

2.1.3 Dukungan Suami

1. Pengertian dukungan suami

Dukungan suami merupakan suatu bentuk perwujudan dari sikap

perhatian dan kasih sayang. Dukungan dapat diberikan baik fisik maupun

psikis. Suami memiliki andil yang cukup besar dalam menentukan status

kesehatan ibu. Dukungan suami yang baik dapat memberikan motivasi yang

baik pula bagi ibu (Eko dalam Mulyanti, 2008).

Menurut Kuswandi (2013:88), peran suami sangat mempengaruhi

kondisi kehamilan dan persalinan ibu serta janin. Tidak hanya itu, kerjasama

antara ayah ibu dan janin

mampu menjadi healing jiwa bagi mereka.

Penelitian menunjukan bahwa calon ibu yang persalinannya didampingi

oleh suaminya

akan

(postpartum blues).

lebih

jarang mengalami

2. Klasifikasi dukungan suami

depresi

pasca persalinan

Bentuk-bentuk dukungan suami yang dapat diberikan pada istri adalah

adanya kedekatan emosional. Menurut Ninuk dalam Maulidah (2015),

dukungan sosial diklasifikasikan menjadi 4 jenis yaitu :

9

a. Dukungan Emosional

Dukungan ungkapan empati, kepedulian, dan perhatian terhadap orang

bersangkutan.

b. Dukungan Penghargaan

Terjadi lewat ungkapan hormat atau penghargaan positif untuk orang

lain, dorongan maju atau persetujuan dengan gagasan perasaan individu

dan perbandingan positif orang dengan orang lain misalnya orang itu

kurang mampu atau lebih buruk keadaannya atau menambah harga diri.

c. Dukungan Instrumental

Mencakup bantuan langsung misalnya dengan memberi kebutuhan atau

peralatan yang dibutuhkan oleh ibu.

d. Dukungan Informasional

Mencakup

pemberian

nasihat,

saran,

pengetahuan,

informasi

serta

petunjuk.

Kurangnya dukungan keluarga dan teman, khususnya dukungan dari

suami selama periode setelah melahirkan atau masa nifas diduga kuat

merupakan faktor penting dalam terjadinya postpartum blues. Hal ini

dibuktikan dengan penelitiannya bahwa terdapat hubungan antara dukungan

suami dengan gejala postpartum blues (Dewi, dkk 2011).

2.2 Postpartum Blues

2.2.1 Pengertian postpartum Blues

10

Masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau 40 hari merupakan

masa postpartum dimana masa ini penting sekali untuk terus dipantau.

Karena, pada masa ini merupakan masa pembersihan rahim, sama halnya

seperti masa haid. Menurut Varney (2010), mengatakan bahwa periode

postpartum adalah masa waktu antara kelahiran plasenta

dan membran

yang menandai berakhirnya periode intrapartum sampai waktu menuju

kembalinya sistem reproduksi wanita tersebut ke kondisi tidak hamil.

Sedangkan menurut Nurjanah (2013:2), dimulai setelah 2 jam postpartum

dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum

hamil, biasanya berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari, namun secara

keseluruhan baik secara fisiologis atau psikologis akan pulih dalam waktu 3

bulan.

Periode

postpartum

yaitu

masa dimana tubuh

akan

mengalami

perubahan baik fisiologis maupun psikologis. Proses adaptasi fisiologis

meliputi perubahan tanda-tanda vital, sistem reproduksi, sistem pencernaan,

sistem traktus urinarius, sistem musculoskeletal, sistem kardiovaskuler,

sistem hematology dan sistem endokrin (Nurjanah,dkk 2013). Sedangkan

proses adaptasi psikologis yang terjadi pada masa postpartum yaitu fase

taking in, fase taking hold dan fase letting go (Dewi, 2011:4).

11

Perubahan tersebut merupakan perubahan psikologis yang normal

terjadi pada seorang ibu yang baru melahirkan. Namun hanya sebagian ibu

postpartum yang dapat menyesuaikan diri, sebagian yang lain tidak berhasil

menyesuaikan diri dan mengalami gangguan-gangguan psikologis. Menurut

Jhaquin (2010:48), gangguan-gangguan yang sering terjadi pada masa nifas

berupa gangguan psikologis diantaranya depresi postpartum, postpartum

psikologi dan postpartum blues.

Postpartum blues merupakan keadaan sementara yang dialami oleh

ibu

postpartum.

Biasanya

ibu

menjadi

mudah

sedih,

cemas

gampang

tersinggung, dan mudah menangis. Kondisi ini biasanya akan hilang sendiri

dalam waktu 1-2 minggu setelah persalinan (Senoaji, 2012:104).

Menurut Murtiningsih (2012:1), postpartum blues adalah sebuah

istilah yang diperuntukan bagi sebuah perasaan sedih tanpa dasar yang

terjadi setelah seorang wanita melahirkan bayinya. Adapun menurut Jhaquin

(2010:48), postpartum blues

melahirkan.

yaitu kesedihan atau kemurungan setelah

2.2.2 Gejala Postpartum Blues

Gejala

pada

masa

postpartum

blues

biasanya

ibu

mengalami

perubahan perasaan, sering menangis, cemas, khawatir mengenai sang bayi,

kesepian,

penurunan

gairah

seksual,

kurang

percaya

diri

terhadap

kemampuannya

menjadi

seorang

ibu

(Ambarwati,

2009:29).

Menurut

Saleha (2009:48), gejala yang sering muncul yaitu insomnia, depresi, cemas,

konsentrasi menurun, dan mudah marah serta ibu dapat menangis beberapa

12

jam, kemudian kembali normal lalu menangis lagi pada hari berikutnya,

kecemasan sangat menonjol pada keadaan ini akibat ibu terlalu khawatir

bahkan sering kali terobsesi pada kesehatan dan kesejahteraan bayinya.

Sedangkan menurut

Baston,dkk (2012:111), ada beberapa gejala

yang

biasanya sering terjadi pada ibu postpartum blues di antaranya perubahan

alam perasaan, iritabilitas, cengeng, bingung, pelupa, bermusuhan serta

respon terhadap stimulus meningkat.

2.2.3 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Postpartum Blues

Berdasarkan hasil beberapa penelitian mengatakan bahwa faktor

penyebab

terjadinya

postpartum

blues

adalah

faktor

hormonal,

faktor

demografik, pengalaman dalam proses kehamilan/persalinan, latar belakang

psikososial, dukungan keluarga, kecemasan pada kehamilan dan persalinan

serta jenis persalinan persalinan (Gonikadis, et al., 2007 dalam Dewi, 2007).

Sedangkan menurut Aini (2010:78), para pakar kesehatan dan ahli

kebidanan sepakat bahwa ada empat faktor penyebab Postpartum Blues :

1.

Hormonal

Ketika usai bersalin, kadar hormon kortisol (hormon pemicu stres)

pada tubuh ibu naik hingga mendekati kadar orang

yang sedang

mengalami depresi. Di saat yang sama hormon laktogen dan prolaktin

yang memicu ASI sedang meningkat. Sementara kadar progesteron

sangat

rendah.

Pertemuan

kedua

hormon

ini

akan

menimbulkan

keletihan fisik pada ibu dan memicu depresi.

2. Psikologis

13

Berkurangnya perhatian keluarga, terutama suami karena semua

perhatian tertuju pada anak yang baru lahir. Ibu merasa lelah dan sakit

pasca persalinan membuat ibu membutuhkan perhatian. Pengabaian ini

bisa memicu ‘benci’ dan iri pada si bayi.

3. Fisik

Kelelahan

fisik

karena

aktifitas

mengasuh

bayi,

menyusui,

memandikan, mengganti popok, dan menimang sepanjang hari bahkan

tak jarang di malam buta sangatlah menguras tenaga. Apalagi jika tidak

ada bantuan dari suami atau anggota keluarga yang lain.

4. Sosial

Ibu merasa sulit menyesuaikan diri dengan peran baru sebagai ibu.

Apalagi kini gaya hidupnya akan berubah drastis. Ibu akan merasa

dijauhi oleh lingkungan dan merasa terikat oleh si kecil yang seolah

tidak mau diusrus selain oleh ibu.

2.2.4 Cara mengatasi Postpartum Blues

Menurut

Dewi

postpartum blues :

(2011:68),

ada

beberapa

cara

untuk

mengatasi

1. Persiapan diri yang baik selama kehamilan untuk menghadapi masa

nifas.

2. Komunikasikan segala permasalahan atau hal yang ingin disampaikan

dan selalu membicarakan rasa cemas yang dialami.

 

14

3. Bersikap

tulus

serta

ikhlas

terhadap

apa

yang

telah

dialami

dan

berusaha melakukan peran barunya sebagai seorang ibu dengan baik.

4. Berikan dukungan dari semua keluarga, suami, atau saudara.

5. Konsultasikan pada tenaga kesehatan atau orang yang profesional agar

dapat

memfasilitasi

faktor

resiko

lainnya

selama

masa

nifas

dan

membantu dalam melakukan upaya pengawasan.

2.2.5 Dampak Postpartum Blues terhadap bayi

Stres serta sikap tidak tulus ibu yang terus menerus diterima oleh

bayi kelak bisa membuatnya tumbuh menjadi anak yang mudah menangis,

cenderung rewel, pencemas sekaligus pemurung. Dampak lain yang tak

kalah merugikan adalah bayi akan cenderung mudah sakit (Aini, 2010:81).

2.2.6 Penilaian Postpartum Blues

Penilaian

yang

digunakan

untuk

mengetahui

postpartum

blues

menggunakan EPDS (Endinburgh Posnatal Depression Scale) yaitu alat

yang digunakan untuk mendeteksi sedini mungkin terjadinya depresi, dapat

digunakan 6 sampai 8 minggu postpartum, 5 menit untuk menjawab semua

pertanyaan dan 3 menit untuk menilai. Setiap pertanyaan mempunyai

peilaian yang berbeda untuk pertanyaan 1, 2 dan 4 nilai a:0, b:1, c:2, d:3

sedangkan untuk pertanyaan 3, 5, 6, 7, 8, 9 dan 10 nilai a:3, b:2, c:1 dan d:4.

Untuk kriteria nilai, jika skor 1-9 maka tidak depresi, jika skor 10-12 maka

depresi sedang dan jika skor 13-30 maka depresi berat. Pertanyaan sebanyak

10 poin terlampir (Regina,2011:73).