Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bayi dengan badan lahir rendah akan meningkatkan angka kesakitan dan angka kematian
bayi. Berat badan lahir sangat menentukan prognosa dan komplikasi yang terjadi. Hal ini
akan bertambah buruk jika berat badan tidak bertambah untuk waktu yang lama.Masalah
yang mengancam pada BBLR dan BBLSR adalah resiko kehilangan panas dan ir yang
relative lebih besar karena permukaan tubuh reltif luas, jaringan lemak subkutan lebih tipis,
sehingga resiko kehilangan panas melalui kulit dan kekurangan cadangan energi lebih besar.
Daya tahan tubuh relative rendah karena prematuritas dan malnutisinya, juga fungsi organ
belum baik (terutama UK < 34 minggu), misalnya : system pernafasan, saluran cerna, hati ,
ginjal, metabolisme dan system kekebalan. Bayi BBLSR mempunyai insiden perumahsakitan
kembali yang lebih tinggi selama tahun pertama kehidupan, jika dibanding dengan bayi yang
lebih besar, sebagai akibat dari hernia inguinalis, infeksi, pengobatan sisa akibat prematuritas
dan gangguan perawatan.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud BBLR?
1.2.2 Apa penyebab BBLR?
1.2.3 Apa saja klasifikasi BBLR
1.2.4 Bagaimana pathway dan patofisiologisny?
1.2.5 Bagaimana Askep BBLR?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
Agar pembaca dapat mengetahui askep BBLR
1.3.2 Tujuan Khusus
Agar perawat dapat memberikan askep BBLR

1.4 Manfaat Penulisan


Untuk menambah pengetahuan pembaca tentang BBLR

1
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Pengertian BBLR

Bayi berat badan lahir rendah ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir
kurang dari 2500 gram (WHO, 1961). Berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat
badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir. (Huda dan Hardhi, NANDA NIC-NOC,
2013). Menurut Ribek dkk. (2011), berat badan lahir rendah yaitu bayi yang lahir dengan
berat badan kurang dari 2500 gram tanpa memperhatikan usia gestasi (dihitung satu jam
setelah melahirkan).

Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram
pada waktu lahir. (Amru Sofian, 2012). Dikutip dalam buku Nanda, (2013). Keadaan BBLR
ini dapat disebabkan oleh :

a. Masa kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat yang sesuai (masa kehamilan
dihitung mulai hari pertama haid terakhir dari haid yang teratur).

b. Bayi small gestational age (SGA); bayi yang beratnya kurang dari berat semestinya
menurut masa kehamilannya (kecil untuk masa kehamilan =KMK).

c. Masa kehamilan kurang dari 37 minggu dan SGA.

2.2 Klasifikasi

BBLR dibedakan dalam dua golongan, yaitu :

a. Prematuritas murni
Masa gestasi kurang dari 37 minggu dan berat badan lahir sesuai untuk masa
kehamilan.
b. Dismaturitas
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi
itu, artinya bayi mengalami pertumbuhan intrauterine dan merupakan bayi kecil untuk
masa kehamilan.

2.3 Etiologi

a) Faktor ibu : Riwayat kelahiran prematur sebelumnya, perdarahan antepartum, malnutrisi,


kelainan uterus, hidramnion, penyakit jantung/penyakit kronik lainnya, hipertensi, umur ibu

2
kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun, jarak dua kehamilan yang terlalu dekat, infeksi
trauma , dan lain-lain.

b) Faktor janin : Cacat bawaan, kehamilan ganda, hidramnion, ketuban pecah dini.

c) Faktor lingkungan : Kebiasaaan merokok, mionum alkohol, dan status ekonomi sosial.

2.4 Manifestasi Klinik

1) Sebelum bayi lahir

a. Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus prematurus dan lahir mati.
b. Pembesaran uterus tidak sesuai tuanya kehamilan.

c. Pergerakan janin yang pertama (Queckening) terjadi lebih lambat, gerakan janin lebih
lambat walaupun kehamilannya sudah agak lanjut.

d. Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut seharusnya .

e. Sering dijumpai kehamilan dengan oligohidramnion atau bisa pula dengan hidramnion,
hiperemesis gravidarum dan pada hamil lanjut dengan toksemia gravidarum atau perdarahan
ante partum.

2) Setelah bayi lahir

a. Berat lahir < 2500 gram

b. Panjang badan < 45 cm

c. Lingkaran dada < 30 cm

d. Lingkaran kepala < 33 cm

e. Umur kehamilan < 37 minggu

f. Kepala relatif lebih besar dari badannya

g. Kulit tipis, transparan, lanugonya banyak

h. Lemak subkutan kurang, sering tampak peristaltik usus

i. Tangisnya lemah dan jarang

3
j. Pernapasan tidak teratur dan sering terjadi apnea

k. Otot-otot masih hipotonik, paha selalu dalam keadaan abduksi

l. Sendi lutut dan pergelangan kaki dalam keadaan flexi atau lurus dan kepala mengarah ke
satu sisi.

m. Refleks tonik leher lemah dan refleks moro positif

n. Gerakan otot jarang akan tetapi lebih baik dari bayi cukup bulan

o. Daya isap lemah terutama dalam hari-hari pertama

p. Kulit mengkilat, licin, pitting edema

q. Frekuensi nadi berkisar 100-140 / menit.

2.5 Patofisiologi

Tingginya morbiditas dan mortalitas bayi berat lahir rendah masih menjadi masalah
utama. Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang hamil,
lebih sering menghasilkan bayi BBLR. Kurang gizi yang kronis pada masa anak-anak
dengan/tanpa sakit yang berulang akan menyebabkan bentuk tubuh yang “Stunting/Kuntet”
pada masa dewasa, kondisi ini sering melahirkan bayi BBLR. Faktor-faktor lain selama
kehamilan, misalnya sakit berat, komplikasi kehamilan, kurang gizi, keadaan stres pada hamil
dapat mempengaruhi pertumbuhan janin melalui efek buruk yang menimpa ibunya, atau
mempengaruhi pertumbuhan plasenta dan transpor zat-zat gizi ke janin sehingga
menyebabkan bayi BBLR. Bayi BBLR akan memiliki alat tubuh yang belum berfungsi
dengan baik. Oleh sebab itu ia akan mengalami kesulitan untuk hidup di luar uterus ibunya.
Makin pendek masa kehamilannya makin kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam
tubuhnya, dengan akibat makin mudahnya terjadi komplikasi dan makin tinggi angka
kematiannya.

Berkaitan dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya, baik anatomik


maupun fisiologik maka mudah timbul masalah misalnya : a) Suhu tubuh yang tidak stabil
karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang
bertambah akibat dari kurangnya jaringan lemak di bawah kulit, permukaan tubuh yang
relatif lebih luas dibandingkan BB, otot yang tidak aktif, produksi panas yang berkurang b)
Gangguan pernapasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR, hal ini

4
disebabkan oleh pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna, otot
pernapasan yang masih lemah c) Gangguan alat pencernaan dan problem nutrisi, distensi
abdomen akibat dari motilitas usus kurang, volume lambung kurang, sehingga waktu
pengosongan lambung bertambah d) Ginjal yang immatur baik secara anatomis mapun
fisiologis, produksi urine berkurang e) Gangguan immunologik : daya tahan tubuh terhadap
infeksi berkurang karena rendahnya kadar IgG gamma globulin. Bayi prematur relatif belum
sanggup membentuk antibodi dan daya fagositas serta reaksi terhadap peradangan masih
belum baik. f) Perdarahan intraventrikuler, hal ini disebabkan oleh karena bayi prematur
sering menderita apnea, hipoksia dan sindrom pernapasan, akibatnya bayi menjadi hipoksia,
hipertensi dan hiperkapnea, di mana keadaan ini menyebabkan aliran darah ke otak
bertambah dan keadaan ini disebabkan oleh karena tidak adanya otoregulasi serebral pada
bayi prematur sehingga mudah terjadi perdarahan dari pembuluh kapiler yang rapuh.

5
2.6. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intyrauterin serta menemukan


gangguan perttumbuhan, misalnya pemeriksaan USG.

b. Memeriksa kadar gula darah dengan destrostix atau di laboratorium.

c. Pemerioksaan hematokrit.

d. Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibandingkan dengan bayi SMK

e. Melakukan tracheal-washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi mekonium.

2.7 Penatalaksanaan

Dengan memperhatikan gambaran klinik diatas dan berbagai kemungkinan yang


dapat terjadi pada bayi BBLR, maka perawatan dan pengawasan bayi BBLR ditujukan pada
pengaturan panas badan , pemberian makanan bayi, dan menghindari infeksi.

1) Pengaturan Suhu Tubuh Bayi BBLR

Bayi BBLR mudah dan cepat sekali menderita Hypotermia bila berada di lingkungan
yang dingin. Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi yang relatif lebih luas
bila dibandingkan dengan berat badan, kurangnya jaringan lemak dibawah kulit dan
kekurangan lemak coklat ( brown fat). Untuk mencegah hipotermi, perlu diusahakan
lingkungan yang cukup hangat untuk bayi dan dalam keadaan istirahat komsumsi oksigen
paling sedikit, sehingga suhu tubuh bayi tetap normal. Bila bayi dirawat dalam inkubator,
maka suhunya untuk bayi dengan berat badan kurang dari 2000 gr adalah 35 C dan untuk
bayi dengan BB 2000 gr sampai 2500 gr 34 C , agar ia dapat mempertahankan suhu tubuh
sekitar 37 C. Kelembaban inkubator berkisar antara 50-60 persen . Kelembaban yang lebih
tinggi di perlukan pada bayi dengan sindroma gangguan pernapasan. Suhu inkubator dapat di
turunkan 1 C per minggu untuk bayi dengan berat badan 2000 gr dan secara berangsur
angsur ia dapat diletakkan di dalam tempat tidur bayi dengan suhu lingkungan 27C-29C.
Bila inkubator tidak ada, pemanasan dapat dilakukan dengan membungkus bayi dan
meletakkan botol-botol hangat di sekitarnya atau dengan memasang lampu petromaks di
dekat tempat tidur bayi atau dengan menggu nakan metode kangguru.

6
Cara lain untuk mempertahankan suhu tubuh bayi sekiter 36C-37C adalah dengan
memakai alat perspexheat shield yang diselimuti pada bayi di dalam inkubator. Alat ini
berguna untuk mengurangi kehilangan panas karena radiasi. Akhir-akhir ini telah mulai
digunakan inkubator yang dilengkapi dengan alat temperatur sensor (thermistor probe). Alat
ini ditempelkan di kulit bayi. Suhu inkubator di kontrol oleh alat
servomechanism. Dengan cara ini suhu kulit bayi dapat dipertahankan pada derajat yang telah
ditetapkan sebelumnya. Alat ini sangat bermanfaat untuk bayi dengan berat lahir yang sangat
rendah. Bayi dalam inkubator hanya dipakaikan popok. Hal ini penting untuk memudahkan
pengawasan mengenai keadaan umum,perubahan tingkah laku, warna kulit, pernapasan,
kejang dan sebagainya sehingga penyakit yang diderita dapat dikenal sedini mungkin dan
tindakan serta pengobatan dapat dilaksanakan secepat – cepatnya.

2) Pencegahan Infeksi

Infeksi adalah masuknya bibit penyakit atau kuman kedalam tubuh, khususnya mikroba. Bayi
BBLR sangat mudah mendapat infeksi. Infeksi terutama disebabkan oleh infeksi nosokomial.
Kerentanan terhadap infeksi disebabkan oleh kadar imunoglobulin serum pada bayi BBLR
masih rendah, aktifitas baktersidal neotrofil, efek sitotoksik limfosit juga masih rendah dan
fungsi imun belum berpengalaman. Infeksi lokal bayi cepat menjalar menjadi infeksi umum.
Tetapi diagnosis dini dapt ditegakkan jika cukup waspada terhadap perubahan (kelainan)
tingkah laku bayi sering merupakan tanda infeksi umum. Perubahan tersebut antara lain :
malas menetek, gelisah, letargi, suhu tubuh meningkat, frekwensi pernafasan meningkat,
muntah, diare, berat badan mendadak turun. Fungsi perawatan disini adalah memberi
perlindungan terhadap bayi BBLR dari infeksi. Oleh karena itu, bayi BBLR tidak boleh
kontak dengan penderita infeksi dalam bentuk apapun. Digunakan masker dan abjun khusus
dalam penanganan bayi, perawatan luka tali pusat, perawatan mata, hidung, kulit, tindakan
aseptik dan antiseptik alat – alat yang digunakan, isolasi pasien, jumlah pasien dibatasi, rasio
perawat pasien yang idea, mengatur kunjungan, menghindari perawatan yang terlalu lama,
mencegah timbulnya asfiksia dan pemberian antibiotik yang tepat.

3) Pengaturan Intake

Pengaturan intake adalah menetukan pilihan susu, cara pemberian dan jadwal pemberian
yang sesuai dengan kebutuhan bayi BBLR. ASI (Air Susu Ibu) merupakan pilihan pertama
jioka bayi mampu mengisap. ASI juga dapat dikeluarkan dan diberikan pada bayi jika bayi
tidak cukup mengisap. Jika ASI tidak ada atau tidak mencukupi khususnya pada bayi BBLR

7
dapat digunakan susu formula yang komposisinya mirip mirip ASI atau susu formula khusus
bayi BBLR. Cara pemberian makanan bayi BBLR harus diikuti tindakan pencegahan khusus
untuk mencegah terjadinya regurgitasi dan masuknya udara dalam usus. Pada bayi dalam
inkubator dengan kontak yang minimal, tempat tidur atau kasur inkubator harus diangkat dan
bayi dibalik pada sisi kanannya. Sedangkan pada bayi lebih besar dapat diberi makan dalam
posisi dipangku. Pada bayi BBLR yang lebih kecil, kurang giat mengisap dan sianosis ketika
minum melalui botol atau menetek pada ibunya, makanan diberikan melalui NGT. Jadwal
pemberian makanan disesuaikan dengan kebutuhan dan berat badan bayi BBLR. Pemberian
makanan interval tiap jam dilakukan pada bayi dengan Berat Badan lebih rendah.

4) Pernapasan

Jalan napas merupakan jalan udara melalui hidung, pharing, trachea, bronchiolus, bronchiolus
respiratorius, dan duktus alveeolaris ke alveoli. Terhambatnya jalan nafas akan menimbulkan
asfiksia, hipoksia dan akhirnya kematian. Selain itu bayi BBLR tidak dapat beradaptasi
dengan asfiksia yang terjadi selama proses kelahiran sehingga dapat lahir dengan asfiska
perinatal. Bayi BBLR juga berisiko mengalami serangan apneu dan defisiensi surfakatan,
sehingga tidak dapat memperoleh oksigen yang cukup yang sebelumnya di peroleh dari
plasenta. Dalam kondisi seperti ini dipelukan pembersihan jalan nafas segera setelah lahir
(aspirasi lendir), dibaringkan pada posisi miring, merangsang pernapasan dengan menepuk
atau menjentik tumit. Bila tindakan ini gagal , dilakukan ventilasi, intubasi endotrakheal,
pijatan jantung dan pemberian natrium bikarbonat dan pemberian oksigen dan selama
pemberian intake dicegah terjadinya aspirasi. Dengan tindakan ini dapat mencegah sekaligus
mengatasi asfiksia sehingga memperkecil kematian bayi BBLR.

2.8 Prognosis BBLR

Prognosis BBLR ini tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa
gestasi (makin muda masa gestasi/makin rendah berat bayi, makin tinggi angka kematian),
asfiksia/iskemia otak, sindroma gangguan pernapasan, perdarahan intraventrikuler, displasia
bronkopulmonal, retrolental fibro plasia, infeksi, gangguan metabolik
(asidosis,hipoglikemi,hiperbilirubinemia). Prognosis ini juga tergantung dari keadaan sosial
ekonomi, pendidikan orang tua dan perawatan pada saat kehamilan, persalinan dan postnatal
(pengaturan suhu lingkungan, resusitasi, makanan, mencegah oinfeksi, mengatasi gangguan
pernapasan, asfiksia, hiperilirunbinemia, hipoglikemia, dan lain-lain).

8
2.9 Pengamatan Lanjutan (follow up)

Bila bayi BBLR ini dapat mengatasi problematik yang dideritanya, maka perlu diamati
selanjjutnya oleh karena kemungkinan bayi ini akan mengalami gangguan pendengaran,
penglihatan, kognitif, fungsi motor susunan saraf pusat dan penyakit-penyakit seperti
hidrosefalus,serebral palsy, dsb.

2.10 Komplikasi

a. Kerusakan bernafas : fungsi organ belum sempurna.

b. Pneumonia, aspirasi : refleks menelan dan batuk belum sempurna .

2.11 ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Aktivitas/ istirahat Bayi sadar mungkin 2-3 jam bebrapa hari pertama tidur sehari rata-rata
20 jam.

b. Pernafasan

 Takipnea sementara dapat dilihat, khususnya setelah kelahiran cesaria atau persentasi
bokong.
 Pola nafas diafragmatik dan abdominal dengan gerakan sinkron dari dada dan abdomen,
perhatikan adanya sekret yang mengganggu pernafasan, mengorok, pernafasan cuping
hidung,

c. Makanan/ cairan Berat badan rata-rata 2500-4000 gram ; kurang dari 2500 gr menunjukkan
kecil untuk usia gestasi, pemberian nutrisi harus diperhatikan. Bayi dengan dehidrasi harus
diberi infus. Beri minum dengan tetes ASI/ sonde karena refleks menelan BBLR belum
sempurna,kebutuhan cairan untuk bayi baru lahir 120-150ml/kg BB/ hari.

d. Berat badan Kurang dari 2500 gram

e. Suhu BBLR mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus
dipertahankan.

9
f. Integumen Pada BBLR mempunyai adanya tanda-tanda kulit tampak mengkilat dan kering.
2. Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakefektifan Pola Nafas

2. Ketidakefektifan Bersihan jalan nafas

3. Risiko ketidakseimbangan temperatur tubuh

4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

5. Ketidakefektifan pola minum bayi

6. Hipotermi

7.Resikoinfeksi

10
3. INTERVENSI

NO DIAGNOSA TUJUAN & KRITERIA HASIL INTERVENSI KEPERAWATAN


KEPERAWATAN (NOC) (NIC)
1. Ketidakefektifan Pola nafas NOC : NIC :
Definisi : Pertukaran udara inspirasi dan/atau 1. Respiratory status : Ventilation Airway Management
ekspirasi tidak adekuat 2. Respiratory status : Airway patency. 1. Buka jalan nafas, guanakan teknik
Batasan karakteristik : 3. Vital sign Status chin lift atau jaw thrust bila perlu
- Penurunan tekanan inspirasi/ ekspirasi. - Kriteria Hasil : 2. Posisikan pasien untuk
Penurunan pertukaran udara per menit -  Mendemonstrasikan batuk efektif dan memaksimalkan ventilasi
Menggunakan otot pernafasan tambahan suara nafas yang bersih, tidak ada 3. Identifikasi pasien perlunya
- Nasal flaring sianosis dan dyspneu (mampu pemasangan alat jalan nafas buatan
- Dyspnea mengeluarkan sputum, mampu bernafas 4. Pasang mayo bila perlu
- Orthopnea dengan mudah, tidak ada pursed lips). 5. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
- Perubahan penyimpangan dada  Menunjukkan jalan nafas yang paten 6. Keluarkan sekret dengan batuk
- Nafas pendek (klien tidak merasa tercekik, irama atau suction
- Pernafasan pursed-lip nafas, frekuensi pernafasan dalam 7. Auskultasi suara nafas, catat
- Tahap ekspirasi berlangsung sangat lama rentang normal, tidak ada suara nafas adanya suara tambahan
- Peningkatan diameter anterior abnormal). 8. Lakukan suction pada mayo
-posterior  Tanda Tanda vital dalam rentang 9. Berikan bronkodilator bila perlu

11
- Pernapasan rata-rata/minimal Bayi : normal (tekanan darah, nadi, 10. Berikan pelembab udara Kassa
< 25 atau > 60 pernafasan). basah NaCl Lembab
Usia 1-4 : < 20 atau > 30 11. Atur intake untuk cairan
Usia 5-14 : < 14 atau > 25 mengoptimalkan keseimbangan.
Usia > 14 : < 11 atau > 24 12. Monitor respirasi dan status O2
- Kedalaman pernafasan
- Dewasa volume tidalnya 500 ml saat istirahat Oxygen Therapy
- Bayi volume tidalnya 6-8 ml/Kg 13. Bersihkan mulut, hidung dan
- Timing rasio secret trakea
- Penurunan kapasitas vital 14. Pertahankan jalan nafas yang
paten
Faktor yang berhubungan : 15. Atur peralatan oksigenasi
- Hiperventilasi 16. Monitor aliran oksigen
- Deformitas tulang 17. Pertahankan posisi pasien
- Kelainan bentuk dinding dada 18. Onservasi adanya tanda tanda
- Penurunan energi/kelelahan hipoventilasi
- Perusakan/pelemahan muskulo 19. Monitor adanya kecemasan
-skeletal pasien terhadap oksigenasi
- Obesitas
- Posisi tubuh
- Kelelahan otot pernafasan

12
- Hipoventilasi sindrom Vital sign Monitoring
- Nyeri 20. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
- Kecemasan 21. Catat adanya fluktuasi tekanan
- Disfungsi Neuromuskuler darah
- Kerusakan persepsi/kognitif 22. Monitor VS saat pasien berbaring,
- Perlukaan pada jaringan syaraf tulang belakang duduk, atau berdiri
- Imaturitas Neurologis 23. Auskultasi TD pada kedua lengan
dan bandingkan
24. Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
selama, dan setelah aktivitas
25. Monitor kualitas dari nadi
26. Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
27. Monitor suara paru
28. Monitor pola pernapasan
abnormal
29. Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
30. Monitor sianosis perifer
31. Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,

13
bradikardi, peningkatan sistolik)
32. Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign.
2. Ketidakefektifan Bersihan jalan nafas. NOC : NIC :
Definisi : Ketidakmampuan untuk membersihkan 1. Respiratory status : Ventilation Airway Suction
sekresi atau obstruksi dari saluran pernafasan 2. Respiratory status : Airway patency 1. Auskultasi suara nafas sebelum
untuk mempertahankan kebersihan jalan nafas. 3. Aspiration Control Kriteria Hasil : dan sesudah suctioning.
 Mendemonstrasikan batuk efektif dan 2. Informasikan pada klien dan
Batasan Karakteristik : suara nafas yang bersih, tidak ada keluarga tentang suctioning
- Dispneu, Penurunan suara nafas sianosis dan dyspneu (mampu 3. Minta klien nafas dalam sebelum
- Orthopneu mengeluarkan sputum, mampu bernafas suction dilakukan.
- Cyanosis dengan mudah, tidak ada pursed lips) 4. Berikan O2 dengan menggunakan
- Kelainan suara nafas (rales, wheezing)  Menunjukkan jalan nafas yang paten nasal untuk memfasilitasi suksion
- Kesulitan berbicara (klien tidak merasa tercekik, irama nasotrakeal
- Batuk, tidak efekotif atau tidak ada nafas, frekuensi pernafasan dalam 5. Gunakan alat yang steril sitiap
- Mata melebar rentang normal, tidak ada suara nafas melakukan tindakan
- Produksi sputum abnormal) 6. Anjurkan pasien untuk istirahat
- Gelisah  Mampu mengidentifikasikan dan dan napas dalam setelah kateter
- Perubahan frekuensi dan irama nafas mencegah factor yang dapat dikeluarkan dari nasotrakeal
menghambat jalan nafas 7. Monitor status oksigen pasien
8. Ajarkan keluarga bagaimana cara

14
Faktor-faktor yang berhubungan: melakukan suksion
- Lingkungan : merokok, menghirup asap rokok, 9. Hentikan suksion dan berikan
perokok pasif-POK, infeksi oksigen apabila pasien menunjukkan
- Fisiologis : disfungsi neuromuskular, hiperplasia bradikardi, peningkatan saturasi O2,
dinding bronkus, alergi jalan nafas, asma. dll.
- Obstruksi jalan nafas : spasme jalan nafas,
sekresi tertahan, banyaknya mukus, adanya jalan Airway Management
nafas buatan, sekresi bronkus, adanya eksudat di 10. Buka jalan nafas, guanakan
alveolus, adanya benda asing di jalan nafas. teknik chin lift atau jaw thrust bila
perlu
11. Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
12. Identifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan nafas buatan
13. Pasang mayo bila perlu
14. Lakukan fisioterapi dada jika
perlu
15. Keluarkan sekret dengan batuk
atau suction
16. Auskultasi suara nafas, catat
adanya suara tambahan

15
17. Lakukan suction pada mayo
18. Kolaborasikan pemberian
bronkodilator bila perlu
19. Berikan pelembab udara kassa
basah NaCl Lembab
20. Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
21. Monitor respirasi dan status
oksigen
3. Risiko ketidakseimbangan temperatur tubuh NOC : NIC :
Definisi : Risiko kegagalan mempertahankan suhu 1. Hydration Temperature Regulation (pengaturan

tubuh dalam batas normal. 2. Adherence Behavior suhu)


1. Monitor suhu minimal tiap 2 jam
Faktor factor resiko: 3. Immune Status
2. Rencanakan monitoring suhu secara
- Perubahan metabolisme dasar 4. Infection status
kontinyu
- Penyakit atau trauma yang mempengaruhi 5. Risk control
3. Monitor TD, nadi, dan RR
pengaturan suhu 6. Risk detection
4. Monitor warna dan suhu kulit
- Pengobatan pengobatan yang menyebabkan 5. Monitor tanda-tanda hipertermi dan
vasokonstriksi dan vasodilatasi hipotermi
- Pakaian yang tidak sesuai dengan suhu 6. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
lingkungan 7. Selimuti pasien untuk mencegah
- Ketidakaktifan atau aktivitas berat hilangnya kehangatan tubuh

16
- Dehidrasi 8. Ajarkan pada pasien cara mencegah
- Pemberian obat penenang keletihan akibat panas

- Paparan dingin atau hangat/lingkungan yang 9. Diskusikan tentang pentingnya


pengaturan suhu dan kemungkinan efek
panas
negatif dari kedinginan
10. Beritahukan tentang indikasi
terjadinya keletihan dan penanganan
emergency yang diperlukan
11. Ajarkan indikasi dari hipotermi dan
penanganan yang diperlukan
12. Berikan anti piretik jika perlu.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan NOC : NIC :
tubuh 1. Nutritional Status Nutrition Management
Definisi : Intake nutrisi tidak cukup untuk 2. Nutritional Status : food and Fluid 1. Kaji adanya alergi makanan
keperluan metabolisme tubuh. Intake 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
Batasan karakteristik : 3. Nutritional Status : nutrient Intake menentukan jumlah kalori dan nutrisi
- Berat badan 20 % atau lebih di bawah ideal 4. Weight control yang dibutuhkan pasien.
- Dilaporkan adanya intake makanan yang kurang 3. Anjurkan pasien untuk
dari RDA (Recomended Daily Allowance) Kriteria Hasil : meningkatkan intake Fe
- Membran mukosa dan konjungtiva pucat  Adanya peningkatan berat badan 4. Anjurkan pasien untuk
- Kelemahan otot yang digunakan untuk sesuai dengan tujuan meningkatkan protein dan vitamin C
menelan/mengunyah  Berat badan ideal sesuai dengan 5. Berikan substansi gula

17
- Luka, inflamasi pada rongga mulut tinggi badan 6. Yakinkan diet yang dimakan
- Mudah merasa kenyang, sesaat setelah  Mampu mengidentifikasi kebutuhan mengandung tinggi serat untuk
mengunyah makanan nutrisi mencegah konstipasi
- Dilaporkan atau fakta adanya kekurangan  Tidak ada tanda tanda malnutrisi 7. Berikan makanan yang terpilih (
makanan  Menunjukkan peningkatan fungsi sudah dikonsultasikan dengan ahli
– Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa pengecapan dari menelan gizi)
- Perasaan ketidakmampuan untuk mengunyah  Tidak terjadi penurunan berat badan 8. Ajarkan pasien bagaimana
makanan yang berarti membuat catatan makanan harian.
- Miskonsepsi 9. Monitor jumlah nutrisi dan
- Kehilangan BB dengan makanan cukup kandungan kalori
- Keengganan untuk makan 10. Berikan informasi tentang
- Kram pada abdomen kebutuhan nutrisi
- Tonus otot jelek 11. Kaji kemampuan pasien untuk
– Nyeri abdominal dengan atau tanpa patologi mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
- Kurang berminat terhadap makanan
- Pembuluh darah kapiler mulai rapuh Nutrition Monitoring
- Diare dan atau steatorrhea 12. BB pasien dalam batas normal
- Kehilangan rambut yang cukup banyak (rontok) 13. Monitor adanya penurunan berat
- Suara usus hiperaktif badan
- Kurangnya informasi, misinformasi 14. Monitor tipe dan jumlah aktivitas
yang biasa dilakukan

18
Faktor-faktor yang berhubungan : 15. Monitor interaksi anak atau
- Ketidakmampuan pemasukan atau mencerna orangtua selama makan
makanan atau mengabsorpsi zat-zat gizi 16. Monitor lingkungan selama
berhubungan dengan faktor biologis, psikologis makan
atau ekonomi. 17. Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak selama jam makan
18. Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
19. Monitor turgor kulit
20. Monitor kekeringan, rambut
kusam, dan mudah patah
21. Monitor mual dan muntah
22. Monitor kadar albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht
23. Monitor makanan kesukaan
24. Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
25. Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
26. Monitor kalori dan intake nuntrisi

19
27. Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan cavitas
oral. Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet

5. Ketidakefektifan pola minum bayi NOC : NIC :


1. Breastfeeding Estabilshment : infant Breastfeeding assistance
2. Knowledge : breastfeeding 1. Fasilitasi kontak ibu dengan bayi
3. Breastfeeding Maintenance sawal mungkin (maksimal 2 jam
Kriteria Hasil : setelah lahir )
 Klien dapat menyusui dengan efektif 2. Monitor kemampuan bayi untuk
 Memverbalisasikan tehnik untk menghisap
mengatasi masalah menyusui 3. Dorong orang tua untuk meminta
 Bayi menandakan kepuasan menyusu perawat untuk menemani saat
 Ibu menunjukkan harga diri yang menyusui sebanyak 8-10 kali/hari
positif dengan menyusui 4. Sediakan kenyamanan dan privasi
selama menyusui
5. Monitor kemampuan bayi untuk
menggapai putting
6. Dorong ibu untuk tidak membatasi
bayi menyusu

20
7. Monitor integritas kulit sekitar
putting
8. Instruksikan perawatan putting
untuk mencegah lecet.
9. Diskusikan penggunaan pompa
ASI kalau bayi tidakmampu menyusu
10. Monitor peningkatan pengisian
ASI
11. Jelaskan penggunaan susu
formula hanya jika diperlukan
12. Instruksikan ibu untuk makan
makanan bergizi selama menyusui
13. Dorong ibu untuk minum jika
sudah merasa haus
14. Dorong ibu untuk menghindari
penggunaan rokok danPil KB selama
menyusui
15. Anjurkan ibu untuk memakai Bra
yang nyaman, terbuat dari cootn dan
menyokong payudara
16. Dorong ibu untukmelanjutkan

21
laktasi setelah pulang bekerja/sekolah

6. Hipotermi NOC : NIC :


Definisi : temperatur suhu dibawah rentang 1. Thermoregulation Temperature Regulation
normal. 2. Thermoregulation : neonate 1. Monitor suhu minimal tiap 2 jam
Batasan karateristik : 2. Rencanakan monitoring suhu
- Penurunan suhu tubuh dibawah rentang normal. Kriteria Hasil : secara kontinyu
- Pucat  Suhu tubuh dalam rentang normal 3. Monitor TD, nadi, dan RR
- Kulit dingin  Nadi dan RR dalam rentang normal 4. Monitor warna dan suhu kulit
- Kuku sianosis 5. Monitor tanda-tanda hipertermi
dan hipotermi
6. Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
7. Selimuti pasien untuk mencegah
hilangnya kehangatan tubuh
8. Ajarkan pada pasien cara
mencegah keletihan akibat panas
9. Diskusikan tentang pentingnya
pengaturan suhu dan kemungkinan
efek negatif dari kedinginan
10. Beritahukan tentang indikasi

22
terjadinya keletihan dan penanganan
emergency yang diperlukan
11. Ajarkan indikasi dari hipotermi
dan penanganan yang diperlukan
12. Berikan anti piretik jika perlu

Vital sign Monitoring


13. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
14. Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
15. Monitor VS saat pasien berbaring,
duduk, atau berdiri
16. Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan
17. Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
selama, dan setelah aktivitas
18. Monitor kualitas dari nadi
19. Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
20. Monitor suara paru
21. Monitor pola pernapasan

23
abnormal
22. Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
23. Monitor sianosis perifer
24. Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
25. Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign

7. Resiko infeksi NOC : NIC :


Definisi : Peningkatan resiko masuknya 1. Immune Status Infection Control (Kontrol infeksi)
organisme patogen 2. Knowledge : Infection control 1. Bersihkan lingkungan setelah
Faktor-faktor resiko : 3. Risk control dipakai pasien lain
- Prosedur Invasif Kriteria Hasil : 2. Pertahankan teknik isolasi
- Ketidakcukupan pengetahuan untuk  Klien bebas dari tanda dan gejala 3. Batasi pengunjung bila perlu
menghindari paparan patogen infeksi 4. Instruksikan pada pengunjung
- Trauma  Menunjukkan kemampuan untuk untuk mencuci tangan saat
- Kerusakan jaringan dan peningkatan paparan mencegah timbulnya infeksi berkunjung dan setelah berkunjung
lingkungan  Jumlah leukosit dalam batas normal meninggalkan pasien
- Ruptur membran amnion  Menunjukkan perilaku hidup sehat 5. Gunakan sabun antimikrobia untuk

24
- Agen farmasi (imunosupresan) cuci tangan
- Malnutrisi 6. Cuci tangan setiap sebelum dan
- Peningkatan paparan lingkungan patogen sesudah tindakan keperawatan
- Imonusupresi 7. Gunakan baju, sarung tangan
- Ketidakadekuatan imum buatan sebagai alat pelindung
- Tidak adekuat pertahanan sekunder (penurunan 8. Pertahankan lingkungan aseptik
Hb, Leukopenia, penekanan respon inflamasi) selama pemasangan alat
- Tidak adekuat pertahanan tubuh primer (kulit 9. Ganti letak IV perifer dan line
tidak utuh, trauma jaringan, penurunan kerja silia, central dan dressing sesuai dengan
cairan tubuh statis, perubahan sekresi pH, petunjuk umum
perubahan peristaltik). - Penyakit kronik 10. Gunakan kateter intermiten untuk
menurunkan infeksi kandung kencing
11. Tingktkan intake nutrisi
12. Berikan terapi antibiotik bila
perlu

Infection Protection (proteksi


terhadap infeksi)
13. Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan lokal
14. Monitor hitung granulosit, WBC

25
15. Monitor kerentanan terhadap
infeksi
16. Batasi pengunjung
17. Saring pengunjung terhadap
penyakit menular
18. Partahankan teknik aspesis pada
pasien yang beresiko
19. Pertahankan teknik isolasi k/p
20. Berikan perawatan kuliat pada
area epidema
21. Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan, panas,
drainase
22. Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
23. Dorong masukkan nutrisi yang
cukup
24. Dorong masukan cairan
25. Dorong istirahat
26. Instruksikan pasien untuk minum
antibiotik sesuai resep
27. Ajarkan pasien dan keluarga

26
tanda dan gejala infeksi
28. Ajarkan cara menghindari infeksi
29. Laporkan kecurigaan infeksi
30. Laporkan kultur positif

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Melakukan intervensi

EVALUASI

Perawat dapat merasa yakin bahwa perawatan yang diberikan cukup efektif ,jika hasil akhir perawatan yang diharapkan dicapai.Untuk bayi hasil
akhir yang diharapkan meliputi :

 Transisi dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin berhasil


 Upaya mempertahankan pola napas dan pengaturan suhu efektif
 Bebas dari infeksi

27
28
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bayi berat badan lahir rendah ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir
kurang dari 2500 gram (WHO, 1961). Berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat
badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir. (Huda dan Hardhi, NANDA NIC-NOC,
2013). Menurut Ribek dkk. (2011), berat badan lahir rendah yaitu bayi yang lahir dengan
berat badan kurang dari 2500 gram tanpa memperhatikan usia gestasi (dihitung satu jam
setelah melahirkan). BBLR disebabkan oleh faktor ibu,faktor janin dan faktor lingkungan.

3.2 Saran

Penulis berharap dapat menambah wawasan mengenai askep BBLR

29