Anda di halaman 1dari 41

Teknik Pembuatan Garam Industri

Sejak tahun 2014, bestekin.com telah melakukan penelitian tentang


pembuatan garam industri dari air laut. Banyaknya temuan baru yang
dilakukan oleh bestekin.com (yang sebelumnya belum pernah
dilakukan) membuat teknologi ini dinamakan teknologi “Garam
Bestekin”.

Ebook “Teknik Pembuatan garam Industri” “metode


bestekin” terdiri dari 10 bab, yag dimulai dari Bab I dengan
judul Pendahuluan. Ebook membahas cara pembuatan garam
industri, yang dimulai dari persiapan lahan produksi dan diakhiri
dengan analisa biaya produksi. Daftar Isi dari ebook “Teknik
Pembuatan Garam Industri Metode Bestekin” tertera pada bagian
bawah ini.

I. Pendahuluan. Bab ini mengupas secara umum kandungan dari


air laut, senyawa-senyawa kimia ekonomis yang bisa didapatkan dari
air laut, kegunaan dari garam, dan sangat pentingnya produksi dan
konsumsi garam industri dalam industri dan kehidupan sehari-hari.

II. Persiapan Lahan Produksi. Bab ini membahas persiapan


lahan untuk produksi garam industri. Lahan merupakan bagian
terpenting dari proses produksi garam industri, oleh karena itu bab
tentang persiapan lahan produksi garam dibahas setelah bab
pendahuluan. Lahan produksi terdiri dari beberapa bagian atau seksi,
antara lain ; lahan parkir untuk masuknya air laut, lahan untuk lokasi
pemisahan dan pemurnian masing-masing senyawa kimia (termasuk
garam NaCl), lahan penjemuran air garam, lahan untuk gudang
penyimpanan sementara garam hasil produksi, dan beberapa seksi
lahan untuk kegunaan lainnya. Persiapan lahan juga harus
memasukkan komponen keekonomian lahan tersebut, letak yang
harus strategis dan mudah terjangkau, dekat dengan sumber bahan
baku air laut, tidak terlalu jauh dari konsumen (harus
mempertimbangkan biaya transportasi dan infrastruktur), dan
sebagainya.

III. Persiapan Peralatan Produksi. Peralatan produksi garam


industri (garam bestekin) tentu tak sama dengan peralatan yang
digunakan untuk pembuatan garam biasa (garam krusuk / garam
kasar). Bab ini menerangkan berbagai peralatan yang digunakan
untuk proses pembuatan garam industri “metode bestekin”, antara
lain ; pompa pengisi kolam air baku, bak-bak pemisahan dan
pemurnian air laut, pad liner (geo-membrane) untuk alas
penjemuran, pipa-pipa untuk proses pengkabutan, alat penyaringan
untuk pemisah suspensi dan koloid dari air laut, alat untuk
pemanenan, dan sebagainya. Semua peralatan untuk memproduksi
garam industri “metoda bestekin” dijelaskan pada bagian ini.

IV. Persiapan Kebutuhan Bahan Kimia. Garam Industri adalah


garam NaCl yang memiliki kemurnian (kadar NaCl) di atas 97%.
Proses pemurnian (purifikasi) sebagian besar dilakukan
menggunakan proses kimia, namun ada juga proses tertentu yang
dilakukan menggunakan fisika terapan. Ada beberapa bahan kimia
utama, dan beberapa senyawa kimia tambahan. Pada bagian ini
dijelaskan jenis-jenis bahan kimia tersebut, beserta tujuan
pemakaiannya dalam proses pemurnian garam.

V. Proses Pemurnian Tahap I. Untuk memperoleh garam industri


dengan kandungan NaCl minimum 97%, maka proses pemurnian air
garam harus dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap I adalah
pemurnian yang bertujuan memisahkan ion-ion logam berat dari air
garam, pemisahan kation magnesium, anion sulfat, dan anion toksik
lainnya (misalnya anion sianida). Bab ini juga mengajarkan
pemisahan berbagai mikroorganisme dan koloid yang terkandung
pada air garam (misalnya ganggang, bakteri, kuman, dan virus).
Proses pemurnian tahap I ditutup dengan pemisahan kation kalsium
(Ca2+) dari larutan jenuh air garam.

Proses pemurnian juga bertujuan memisahkan sebagian besar dari


senyawa-senyawa yang bersifat deliquscence. Pemisahan
senyawa deliquescence berimplikasi pada makin cepatnya laju
penguapan air.

VI. Proses Penuaan Air Garam. Air laut umumnya memiliki berat
jenis antara Be 2 hingga Be 3. Berat jenis air (H2O) pada suhu kamar
(250C) berada di posisi Be 0, artinya selisih berat jenis air dan berat
jenis air laut hanya sedikit.

Proses kristalisasi garam dimulai saat berat jenis air laut di posisi Be
2. Agar kristalisasi dapat berlangsung cepat (karena harus
memperhitungkan daya dukung lahan), diperlukan proses penuaan
cepat, menggunakan aplikasi fisika cahaya dan kalor. Bagian ini
menjelaskan rekayasa penuaan terhadap air laut, sehingga produksi
garam bisa berlangsung cepat.

VII. Proses Kristalisasi & Pemurnian Tahap II. Hasil dari


pemurnian tahap I masih menyisakan ion Kalium (K+) pada larutan
garam. Pemisahan ion K+ ini dilakukan pada saat mulai terbentuknya
kristal-kristal garam.

VIII. Pengeringan Kristal Garam. Pengeringan garam dilakukan


menggunakan Sentrifugal Drier dan Vacuum Pump. Pengeringan
bertujuan untuk menghilangkan kandungan air (moisture content)
pada kristal garam, sehingga kadar garam yang diinginkan bisa
tercapai. Pada bagian ini dibahas cara pengeringan dan pembuatan
alat pengering.

IX.Pengemasan dan Penyimpanan. Pengemasan dan


penyimpanan perlu mendapat perhatian khusus, karena menyangkut
garam yang bersifat korosif, volume produksi yang besar, dan resiko
terendam air pasang atau rob jika jarak gudang berdekatan dengan
garis pantai. Garam industri yang kembali tercemar tentu harus
diproses ulang lagi, suatu hal yang tak diinginkan.

X. Analisa Biaya Produksi. Biaya produksi memegang peranan


utama dalam industri pembuatan garam industri. Saat ini kebutuhan
akan garam industri seluruhnya diperoleh dari impor. Pasar domestik
untuk garam industri memang sangat besar, lebih dari 2 juta ton per
tahun ; namun kita harus memperhitungkan keekonomian
harga produksi, yang harus jauh lebih murah dibanding
harga produk impor. Bab ini membahas analisa biaya produksi,
agar praktisi yang akan memproduksi garam industri mampu
mendapat keuntungan yang maksimal.
Pendahuluan Teknik Pembuatan garam
Industri
Garam industri sering disalah artikan dengan “garam yang hanya
dipakai untuk industri atau kebutuhan industri”, atau “garam yang
tidak digunakan untuk konsumsi”.Pada dasarnya istilah “industri”
yang menempel pada garam terkait dengan aturan-aturan dasar,
antara lain :

 Standarisasi mutu atau kualitas. Hubungannya dengan garam


industri, misalnya produk soda api (caustic soda), yang di hampir
setiap negara mensyaratkan kandungan minimum NaOH 98%,
dimana untuk mencapai tingkat kemurnian tersebut membutuhkan
bahan baku berupa garam yang harus memiliki tingkat kemurnian
tinggi. Produk-produk hasil industri juga sudah menjadi produk lintas
negara, dimana untuk memasuki suatu negara, produk-produk ini
harus memenuhi beberapa persyaratan yang ditetapkan oleh negara
bersangkutan, dan juga persyaratan yang ditetapkan organisasi-
organisasi internasional.
 Mie instan buatan Indonesia mudah ditemukan di supermarket-
supermarket negara-negara maju ; artinya, garam sebagai salah satu
komponen dari mie instan ini sudah melewati persyaratan minimum
standar kualitas bahan baku yang diijinkan.
 Daya saing dan mutu barang. Barang-barang ataupun bahan-bahan
kimia yang menggunakan bahan baku yang berasal dari garam harus
memiliki mutu yang baik. Mutu atau kualitas menentukan daya saing
suatu barang atau produk.
 Garam yang memiliki kandungan NaCl rendah memiliki rasa yang
kurang enak, karena memiliki rasa asin yang cenderung pahit. Makin
tinggi kadar NaCl dalam suatu produk garam, makin gurih rasa garam
tersebut.
 Alasan Kesehatan. Air laut mengandung ratusan jenis unsur dan
senyawa kimia. Sebagai muara dari aliran air, tentulah air laut
mengandung cemaran-cemaran yang bisa membahayakan kesehatan.
Hampir semua jenis logam berat bisa ditemukan di air laut. Logam-
logam ini bisa berupa ion dari senyawa terlarut dalam air, dan bisa
juga berupa pertikel-pertikel koloid. Garam dengan kadar NaCl tinggi
tentu saja memiliki kandungan pengotor yang lebih rendah dibanding
garam berkualitas rendah.
 WHO dan beberapa lembaga dari beberapa negara menetapkan
kandungan logam berat maksimum yang masih diperbolehkan
terkandung di dalam garam. Artinya, garam yang digunakan harus
memenuhi standar maksimum kandungan logam berat yang masih
diijinkan ada di produk tersebut.

Dari beberapa paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa garam


industri sesungguhnya adalah garam yang sangat layak dikonsumsi
dan dipakai untuk berbagai kebutuhan. Untuk penggunaan sebagai
garam konsumsi, tentu saja kristal garam industri harus dicampur
terlebih dahulu dengan yodium yang berasal dari senyawa
KIO3 (kalium iodate), dengan kandungan yodium minimum 8 ppm.
Yodium sendiri berfungsi mencegah penyakit gondok.

Lantas apakah garam beryodium sudah layak dikatakan


sebagai garam yang layak dikonsumsi ?

Pertanyaan ini tentu dapat dengan mudah dijawab berdasar kriteria-


kriteria garam industri yang telah dijelaskan di atas. Yodium
merupakan unsur kimia golongan halida, satu golongan dengan unsur
kimia klorin sebagai anion dari garam. Pemberian yodium hanya
ditujukan untuk mencegah penyakit gondok, dan senyawa kimia ini
ada di garam karena memang dicampur pada produk garam
tersebut. Sehat atau tidaknya suatu produk garam beryodium
bergantung dari persyaratan yang telah dijelaskan di atas.

Sebagai negara kepulauan yang memiliki garis pantai terpanjang ke-2


di dunia, dan juga terletak di katulistiwa (terpapar matahari
sepanjang tahun), ketiadaan industri yang memproduksi garam
berkualitas tinggi menjadi hal yang sangat ironi. Impor garam kualitas
tinggi masih terjadi dan meningkat tiap tahunnya, sementara garam
yang diproduksi di dalam negeri justru tak mampu memenuhi standar
kualitas minimum yang dipersyaratkan.

Proses pembuatan garam berkualitas tinggi tak hanya mengandalkan


penguapan air dan warna kristal yang bersih saja. Kualitas garam
diukur dengan berbagai parameter, antara lain :

 Kadar air maksimum dalam kristal garam (moisture content)


 Kandungan logam berat dan unsur beracun maksimum yang masih
diperbolehkan. Beberapa logam berat beracun yang terdapat di dalam
air laut antara lain ; Hg (merkuri), Pb (timah hitam), Cd (Cadmium),
Cu (tembaga), As (arsenikum), dan beberapa jenis lainnya. Perairan
laut selalu mengandung sejumlah logam berat terlarut, namun besar
kecilnya tergantung dari cemaran yang masuk lewat daratan. Pada
perairan laut yang dekat dengan pabrik dan perkotaan, dapat
dikatakan bahwa air laut disekitar tersebut lebih banyak mengandung
logam berat.
 Kandungan NaCl dalam garam. Rasa asin pada garam umumnya
disebabkan oleh senyawa kimia NaCl. Makin asin rasa suatu garam,
makin tinggi kandungan NaCl nya. Karena garam industri ditujukan
untuk bahan baku produk-produk bermutu tinggi, maka kandungan
NaCl tinggi tentu lebih diutamakan.
 Persentase KCl dan atau MgCl2 maksimum yang diperbolehkan.
Magnesium klorida menyumbang rasa pahit pada garam. Sebagian
industri (baik makanan maupun industri kimia) membatasi
kandungan maksimum dua senyawa di atas.
 Kandungan belerang maksium yang diperbolehkan. Belerang
umumnya ditemukan sebagai anion dalam air laut. Anion dengan
kandungan belerang terbesar adalah anion sulfat (SO42-), diikuti oleh
anion S2-.
 Tingkat kecerahan (turbidity). Garam sebagai bahan baku produk
industri kimia lainnya harus memiliki kecerahan yang baik, dan
kandungan TSS (Total Solid in Solution) yang rendah.
 Dan sejumlah syarat lainnya.

Menaikkan kuantitas kandungan NaCl dan kualitas garam yang


dihasilkan harus berurusan dengan bahan-bahan kimia, karena proses
pemurnian garam hampir seluruhnya menggunakan reaksi kimia.

Pada bagian selanjutnya akan dijelaskan cara-cara membuat garam


industri, termasuk perhitungan biaya produksi yang layak secara
ekonomis.
Penentuan dan Persiapan Lahan Produksi
Untuk Pembuatan Garam Industri
Proses pembuatan garam secara konvensional membutuhkan luasan
lahan yang cukup besar. Kebutuhan lahan berbanding lurus dengan
target dan hasil produksi yang diinginkan. Pemilihan lokasi lahan
merupakan proses awal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan
suatu industri pembuatan garam industri.

Secara tradisional, luasan lahan berbanding lurus dengan hasil garam,


ini karena luas permukaan air berbanding lurus dengan laju
penguapan. Dalam hal ini, bestekin.com melakukan rekayasa
perluasan lahan secara vertikal, yaitu dengan cara memecah air
menjadi butir-butir halus secara vertikal. Proses ini diberi istilah
pengkabutan.

Dari hasil uji-coba pengkabutan yang telah dilakukan, bestekin.com


berhasil membuktikan perluasan vertikal mampu meluaskan lahan
hingga 100 kalinya. Artinya, dengan lahan yang hanya seluas 1 hektar,
rekayasa pemecahan butir air mampu menghasilkan volume garam
yang setara dengan volume garam dari lahan 100 hektar.

II.1. Penentuan Lokasi Produksi Garam Bestekin

Garam bestekin atau garam metode bestekin mampu memproduksi


garam hampir sepanjang tahun, meski musim hujan sekalipun. Oleh
karena itu, lokasi pembuatan garam sebaiknya berdekatan dengan
sumber air laut, atau berdekatan dengan pantai.

Jarak yang jauh dengan pantai beresiko dengan cara penyaluran air
baku, dimana pemakaian air baku pada proses penuaan dan
penggaraman sangatlah besar.

 Lokasi lahan harus berdekatan dengan sumber bahan


baku, dalam hal ini adalah air laut. Agar bahan baku mudah
diperoleh dan tidak mengeluarkan biaya, maka lahan pembuatan
garam harus berdekatan dengan pantai.
 Lokasi sebaiknya tidak berdekatan dengan muara sungai.
Pantai yang berada di atau dekat dengan muara sungai umumnya
memiliki kandungan garam NaCl yang rendah. Lokaksi pembuatan
garam sebaiknya berjarak minimum 500 m dari bibir muara sungai
atau irigasi. Jarak yang makin jauh makin menaikkan potensi hasil
yang diinginkan.
 Struktur tanah. Tanah di pinggir pantai memiliki beberapa jenis,
mulai dari tanah berlumpur hingga tanah berpasir. Tanah berlumpur
memiliki sifat yang keras di saat kering, namun sangat lembek di saat
basah. Tanah berlumpur sulit dibentuk dan diratakan, sehingga jenis
tanah ini membutuhkan investasi awal yang cukup tinggi. Tanah
berpasir pun memiliki permasalahan, namun proses penaganan
terhadap tanah jenis ini lebih mudah dibanding lahan tanah
berlumpur.
 Lokasi penggaraman harus memiliki akses jalan yang
baik, dan dekat dengan infrastruktur jalan utama. Lokasi
juga turut menentukan besaran biaya produksi. Lokasi penggaraman
yang jauh dari konsumen (pemakai garam) mengakibatkan komponen
biaya transportasi menjadi mahal dan tidak ekonomis. Infrastruktur
jalan yang buruk atau minim juga menaikkan biaya produksi.
 Lokasi penggaraman harus terhindar dari banjir rob
musiman yang besar. Pada daerah-daerah tertentu, banjir rob
tahunan bisa mencapai ketinggian di atas 1 meter. Banjir rob yang
tinggi sangat mungkin merusak prasarana dan sarana penggaraman,
dapat menghancurkan tanggul, dan menimbulkan jenis-jenis kerugian
lainnya. Namun jika harus berada di jalur rob, maka sebaiknya
pembuatan tanggul pengaman harus memperhitungkan kemungkinan
tingginya permukaan rob.
 Lokasi sebaiknya berjauhan dengan pemukiman warga,
dan masih memiliki potensi perluasan lahan di masa mendatang.
Lokasi yang berdekatan dengan pemukiman membuat tingkat
kenaikan harga lahan yang cepat, sehingga menghambat potensi
perluasan investasi, sedangkan lokasi yang sempit tak memungkinkan
dilakukannnya perluasan lahan dengan mudah.
 Lokasi penggaraman harus mempertimbangkan tingkat
curah hujan lokal. Curah hujan lokal yang relatif lebih rendah dari
wilayah-wilayah sekitar turut membantu peningkatan hasil produksi.

Dari beberapa paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa penentuan


awal lokasi penggaraman menjadi suatu hal yang sangat penting
untuk dilakukan. Sukses atau tidaknya usaha pembuatan garam
industri ikut ditentukan oleh strategi pemilihan lahan yang tepat.

II.2. Persiapan dan Pematangan Lahan Produksi Garam


Bestekin

Produksi garam industri metode bestekin mampu dilakukan hampir


sepanjang tahun. Lama proses produksi dari bahan baku air laut
hingga menjadi garam hanya berkisar 4-8 jam saja, sehingga hujan
yang terjadi di waktu sore atau malam bukan menjadi halangan untuk
produksi.

Dari beberapa percobaan yang dilakukan di perairan pantura sebelah


barat, produktifitas garam bestekin mencapai 300 hari dalam 1 tahun,
dengan hasil 2000 ton per hektar per tahun. Di wilayah timur yang
lebih jarang hujan, produktifitas bisa lebih tinggi dari 2000 ton per
hektar per tahun.

Hari-hari yang luput dari produksi adalah waktu-waktu sebagai


berikut :

 Hujan berlangsung di siang hari.


 Cuaca mendung dengan kelembaban yang sangat tinggi.
 Indeks UV (ultra violet) matahari berada di bawah angka 8.
 Banjir rob yang diluar dari kebiasaan.

Lahan untuk penggaraman metoda bestekin sebaiknya lahan keras


dan lebih tinggi dari lahan sekitarnya. Ini untuk menghindarkan
potensi rob yang di luar perkiraan.

Lahan juga harus terletak dekat dengan pantai, agar memudahkan


suplai air laut sebagai bahan baku. Proses pembuatan garam metode
bestekin berlangsung sangat cepat dan banyak menghabiskan air laut,
sehingga untuk lahan yang luas, sangat dibutuhkan suplai air baku
yang besar dan cepat.

Potensi rob setempat harus dipelajari terlebih dahulu, dimana


biasanya besar rob maksimal telah diketahui oleh warga sekitar lahan.
Potensi rob bisa ditangani oleh sistem drainase dan tanggul yang
tepat, sehingga drainase dan tanggul keliling lahan mampu
menangani kemungkinan kejadian rob yang di luar perkiraan.

Gambar berikut adalah bentuk meja penggaraman tipe bestekin


Penentuan dan Persiapan Lahan Produksi
Untuk Pembuatan Garam Industri
Proses pembuatan garam secara konvensional membutuhkan luasan
lahan yang cukup besar. Kebutuhan lahan berbanding lurus dengan
target dan hasil produksi yang diinginkan. Pemilihan lokasi lahan
merupakan proses awal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan
suatu industri pembuatan garam industri.

Secara tradisional, luasan lahan berbanding lurus dengan hasil garam,


ini karena luas permukaan air berbanding lurus dengan laju
penguapan. Dalam hal ini, bestekin.com melakukan rekayasa
perluasan lahan secara vertikal, yaitu dengan cara memecah air
menjadi butir-butir halus secara vertikal. Proses ini diberi istilah
pengkabutan.

Dari hasil uji-coba pengkabutan yang telah dilakukan, bestekin.com


berhasil membuktikan perluasan vertikal mampu meluaskan lahan
hingga 100 kalinya. Artinya, dengan lahan yang hanya seluas 1 hektar,
rekayasa pemecahan butir air mampu menghasilkan volume garam
yang setara dengan volume garam dari lahan 100 hektar.

II.1. Penentuan Lokasi Produksi Garam Bestekin

Garam bestekin atau garam metode bestekin mampu memproduksi


garam hampir sepanjang tahun, meski musim hujan sekalipun. Oleh
karena itu, lokasi pembuatan garam sebaiknya berdekatan dengan
sumber air laut, atau berdekatan dengan pantai.

Jarak yang jauh dengan pantai beresiko dengan cara penyaluran air
baku, dimana pemakaian air baku pada proses penuaan dan
penggaraman sangatlah besar.

 Lokasi lahan harus berdekatan dengan sumber bahan


baku, dalam hal ini adalah air laut. Agar bahan baku mudah
diperoleh dan tidak mengeluarkan biaya, maka lahan pembuatan
garam harus berdekatan dengan pantai.
 Lokasi sebaiknya tidak berdekatan dengan muara sungai.
Pantai yang berada di atau dekat dengan muara sungai umumnya
memiliki kandungan garam NaCl yang rendah. Lokaksi pembuatan
garam sebaiknya berjarak minimum 500 m dari bibir muara sungai
atau irigasi. Jarak yang makin jauh makin menaikkan potensi hasil
yang diinginkan.
 Struktur tanah. Tanah di pinggir pantai memiliki beberapa jenis,
mulai dari tanah berlumpur hingga tanah berpasir. Tanah berlumpur
memiliki sifat yang keras di saat kering, namun sangat lembek di saat
basah. Tanah berlumpur sulit dibentuk dan diratakan, sehingga jenis
tanah ini membutuhkan investasi awal yang cukup tinggi. Tanah
berpasir pun memiliki permasalahan, namun proses penaganan
terhadap tanah jenis ini lebih mudah dibanding lahan tanah
berlumpur.
 Lokasi penggaraman harus memiliki akses jalan yang
baik, dan dekat dengan infrastruktur jalan utama. Lokasi
juga turut menentukan besaran biaya produksi. Lokasi penggaraman
yang jauh dari konsumen (pemakai garam) mengakibatkan komponen
biaya transportasi menjadi mahal dan tidak ekonomis. Infrastruktur
jalan yang buruk atau minim juga menaikkan biaya produksi.
 Lokasi penggaraman harus terhindar dari banjir rob
musiman yang besar. Pada daerah-daerah tertentu, banjir rob
tahunan bisa mencapai ketinggian di atas 1 meter. Banjir rob yang
tinggi sangat mungkin merusak prasarana dan sarana penggaraman,
dapat menghancurkan tanggul, dan menimbulkan jenis-jenis kerugian
lainnya. Namun jika harus berada di jalur rob, maka sebaiknya
pembuatan tanggul pengaman harus memperhitungkan kemungkinan
tingginya permukaan rob.
 Lokasi sebaiknya berjauhan dengan pemukiman warga,
dan masih memiliki potensi perluasan lahan di masa mendatang.
Lokasi yang berdekatan dengan pemukiman membuat tingkat
kenaikan harga lahan yang cepat, sehingga menghambat potensi
perluasan investasi, sedangkan lokasi yang sempit tak memungkinkan
dilakukannnya perluasan lahan dengan mudah.
 Lokasi penggaraman harus mempertimbangkan tingkat
curah hujan lokal. Curah hujan lokal yang relatif lebih rendah dari
wilayah-wilayah sekitar turut membantu peningkatan hasil produksi.

Dari beberapa paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa penentuan


awal lokasi penggaraman menjadi suatu hal yang sangat penting
untuk dilakukan. Sukses atau tidaknya usaha pembuatan garam
industri ikut ditentukan oleh strategi pemilihan lahan yang tepat.
II.2. Persiapan dan Pematangan Lahan Produksi Garam
Bestekin

Produksi garam industri metode bestekin mampu dilakukan hampir


sepanjang tahun. Lama proses produksi dari bahan baku air laut
hingga menjadi garam hanya berkisar 4-8 jam saja, sehingga hujan
yang terjadi di waktu sore atau malam bukan menjadi halangan untuk
produksi.

Dari beberapa percobaan yang dilakukan di perairan pantura sebelah


barat, produktifitas garam bestekin mencapai 300 hari dalam 1 tahun,
dengan hasil 2000 ton per hektar per tahun. Di wilayah timur yang
lebih jarang hujan, produktifitas bisa lebih tinggi dari 2000 ton per
hektar per tahun.

Hari-hari yang luput dari produksi adalah waktu-waktu sebagai


berikut :

 Hujan berlangsung di siang hari.


 Cuaca mendung dengan kelembaban yang sangat tinggi.
 Indeks UV (ultra violet) matahari berada di bawah angka 8.
 Banjir rob yang diluar dari kebiasaan.

Lahan untuk penggaraman metoda bestekin sebaiknya lahan keras


dan lebih tinggi dari lahan sekitarnya. Ini untuk menghindarkan
potensi rob yang di luar perkiraan.

Lahan juga harus terletak dekat dengan pantai, agar memudahkan


suplai air laut sebagai bahan baku. Proses pembuatan garam metode
bestekin berlangsung sangat cepat dan banyak menghabiskan air laut,
sehingga untuk lahan yang luas, sangat dibutuhkan suplai air baku
yang besar dan cepat.

Potensi rob setempat harus dipelajari terlebih dahulu, dimana


biasanya besar rob maksimal telah diketahui oleh warga sekitar lahan.
Potensi rob bisa ditangani oleh sistem drainase dan tanggul yang
tepat, sehingga drainase dan tanggul keliling lahan mampu
menangani kemungkinan kejadian rob yang di luar perkiraan.

Gambar berikut adalah bentuk meja penggaraman tipe bestekin :


Persiapan Peralatan Produksi Untuk
Pembuatan Garam Industri
Proses pembuatan garam industri memerlukan peralatan yang jauh
lebih banyak dibanding pembuatan garam secara tradisional.
Peralatan-peralatan yang digunakan akan dituangkan pada bagian ini,
mulai dari geo-membrane hingga peralatan-peralatan lainnya.

1. Geomembrane yang digunakan berupa lembaran plastik yang bisa


terbuat dari jenis HDPE (High Density Polyethylene) atau LDPE
(Light Density Polyethylene). Dalam praktek, lebih banyak
penggunaan HDPE dibanding LDPE disebabkan harganya yang lebih
murah. Ukuran tebal geomembrane yang baik untuk digunakan
sebaiknya memiliki ketebalan 0,75 mm, namun ketebalan 0,50 mm
juga bisa digunakan. Geomembrane berfungsi menutup permukaan
dasar lahan, agar air garam yang dijemur tak bersinggungan dengan
permukaan tanah, sehingga diperoleh Kristal garam yang bersih dari
partikel padat pengotor.

Under Construction

Gbr III.1. Geomembrane

2. Pompa penyedot air laut. Pompa penyedot air laut dibutuhkan jika
lahan garam yang digunakan tak memungkinkan terjangkau oleh air
pasang. Lahan garam yang berdekatan dengan pantai dan memiliki
ketinggian yang hampir sama dengan permukaan pantai tidak
memerlukan pompa pengisi air, karena bisa diisi air laut yang selalu
naik pada saat pasang. Namun pada permukaan lahan penggaraman
yang relatif lebih tinggi, pompa pengisi sangat dibutuhkan. Pada
daerah pesisir yang memiliki kecepatan angin cukup tinggi, kita bisa
membuat pompa yang ditenagai oleh angin, namun pada lokasi-lokasi
dengan laju angin rendah, kita harus menggunakan pompa yang
digerakkan oleh mesin atau listrik. Pompa air laut harus memiliki laju
debit air yang sesuai dengan kapasitas produksi harian. Pompa juga
harus terbuat dari bahan yang tahan karat, atau bahan yang telah
dilengkapi oleh zinc anode. Ruang pompa yang terbuat dari
aluminium atau babet sangat beresiko terhadap korosi air laut, oleh
karena itu sebaiknya jenis pompa ini jangan digunakan.

Under Construction
Gbr III.2. Pompa Air Laut

3. Perangkat Sea Water Osmosis Membrane (Option). Proses pembuatan


garam industri bisa dipercepat dengan cara “desalinasi”, yaitu suatu
proses dimana kandungan air tawar dipisahkan dengan ion-ion
garam. Desalinasi bisa memisahkan hingga 80% dari air tawar yang
terkandung di dalam air laut. Pada umumnya air laut mengandung
rata-rata 97%-98% air tawar, sisanya senyawa garam dan mineral-
mineral ikutan lainnya. Pemisahan air tawar dimaksudkan agar
proses kristalisasi bisa berlangsung cepat, dan proses penggaraman
juga bisa dilakukan meski pada musim hujan sekalipun. Perangkat
“Membrane Osmosis untuk Sea Water” hanya berupa opsi, disamping
proses evaporasi alami yang kini digunakan oleh para petani garam.

Perangkat Membrane Osmosis untuk air laut terdiri dari

 Filter penyaring untuk partikel micron. Filter jenis ini digunakan


untuk menyaring partikel-partikel padat yang berukuran micron,
dimana jenis partikel ini menyebabkan kekeruhan air. Partikel yang
tersaring termasuk jenis mikroorganisme (ganggang, bakteri, kuman).
 Fiter penyaring partikel berukuran nanometer. Filter jenis ini
menyaring partikel berukuran antara 1 nanometer – 999 nanometer.
Yang tersaring oleh filter jenis ini antara lain silica halus (fine silica),
virus-virus, dan partikel-partikel koloid lainnya.
 Membrane osmosis untuk air laut. Membrane osmosis jenis air laut
memiliki spesifikasi yang berbeda dengan jenis membrane osmosis
lainnya. Membrane osmosis untuk sea water bisa menyaring dan
memisahkan larutan dari H2O, dengan tingkat kemurnian hingga 95%.
 Pompa-pompa pendukung.
 Kolam penampung air garam. Kolam air garam berfungsi menampung
output air garam yang keluar dari membrane osmosis. Air garam yang
dihasilkan oleh membrane osmosis umumnya telah memiliki berat
jenis di atas 1,2 kg/liter. Berat jenis terbaik berada di angka 1,4
kg/liter.
 Kolam penampung air tawar. Air tawar yang dihasilkan oleh
membrane osmosis umumnya masih memiliki kandungan mineral
hingga 2000 ppm. Air tawar selanjutnya bisa digunakan sebagai air
baku untuk irigasi, air untuk MCK, dan air minum. Namun agar bisa
digunakan untuk air minum, air keluaran dari sea water membrane
osmosis harus disaring kembali menggunakan membrane osmosis,
sehingga output akhir hanya mengandung mineral terlarut
maksimum 100 ppm.
4. Reaktor Air Garam. Air garam yang dihasilkan dari proses desalinasi
atau pun dari proses evaporasi yang memiliki berat jenis minimum 1,3
kg/liter selanjutnya dipompa ke dalam reaktor pemurni garam. Untuk
pemurnian, kita harus memiliki minimum 3 reaktor air garam, yang
masing-masing berguna untuk reaktor pengendap partikel logam-
logam berat, reaktor pemisah ion sulfat, dan reaktor pengendap
garam kalsium dan magnesium.

Gbr III.3. Membrane Osmosis Untuk Air Laut

5. Peralatan penunjang lainnya, yang akan dibahas pada bab-bab


selanjutnya.
Senyawa-senyawa Kimia yang Bersifat
Deliquescence
Zat yang menyerap uap air dari udara namun tidak harus sampai titik
pelarutan disebut higroskopis. Sedangkan deliquescence adalah
suatu sifat zat yang sangat hygroskopis, dimana zat
menyerap kelembaban dari atmosfer sampai larut dalam
air yang diserap, dan membentuk larutan. Deliquescence
terjadi ketika tekanan uap larutan yang terbentuk kurang dari tekanan
parsial uap air di udara.

Kalsium klorida dan magnesium klorida adalah zat deliquescent yang


sering digunakan untuk penangkap debu di jalanan berdebu. Jika
disebarkan dalam bentuk serbuk atau serpih, ia menyerap lebih
banyak air dibanding beratnya sendiri, membentuk cairan yang
membuat jalan tetap basah.

Sifat deliquescence dapat juga dilihat dari kelarutan maksimum suatu


zat yang berubah sangat signifikan terhadap perubahan suhu larutan.
Umumnya garam-garam bersifat hygroskopis karena kelarutan
maksimum dalam air yang berubah terhadap kenaikan suhu larutan;
namun pada senyawa deliquescence, perubahan kelarutan maksimum
terhadap perubahan suhu larutan sangatlah signifikan.

Grafik dibawah ini memperlihatkan beberapa kurva kelarutan dari


beberapa senyawa kimia.
Grafik 1. Kurva kelarutan berdasarkan suhu larutan

Dari grafik di atas terlihat bahwa kelarutan maksimum dari senyawa-


senyawa CaCl2, KNO3, NaNO3, Pb(NO3)2, KClO3, K2Cr2O7, naik sangat
signifikan terhadap naiknya suhu larutan. Sedangkan kelarutan NaCl
bersifat hampir stabil terhadap kenaikan suhu larutan, dan KCl naik
signifikan.

Dari grafik 1, dapat dikatakan bahwa senyawa-senyawa yang sangat


larut tersebut digolongkan sebagai senyawa deliquscent.

Ada banyak garam-garam lain yang bersifat deliquscence, antara lain ;


NaOH, MgCl2, ZnCl2, MgSO4, FeCl3, K2CO3, NH4NO3, KOH, dan
sebagainya.

Air laut mengandung sejumlahn senyawa yang bersifat deliquscence.


Sifat ini membuat proses penguapan air dari air laut berjalan lambat,
karena laju penguapan air diperlambat oleh ion-ion dari senyawa-
senyawa deliquescent.

Senyawa-senyawa deliquescent yang ada di dalam air laut umumnya


berasal dari senyawa-senyawa golongan II (alkali tanah), dan sedikit
dari golongan I (golongan alkali).

Rendahnya tingkat produktifitas garam yang diproduksi oleh para


petani garam umumnya disebabkan oleh senyawa-senyawa
deliquescent yang terlarut dalam air laut. Adanya senyawa
deliquescent membuat penguapan air menjadi lambat, dan sangat
tergantung pada panas matahari dan kelembaban udara.

Kelangkaan Garam Ditinjau Dari


Perspektif Daya Saing Industri

Kelangkaan Garam Ditinjau Dari


Perspektif Daya Saing Industri
Perlunya Perubahan Paradigma Tentang Industri Garam

Saat ini Indonesia masih menempatkan garam sebagai pelengkap,


bukan sebagai bahan baku industri utama. Pola perlindungan petani
penghasil garam masih dilakukan secara tradisional, parsial, dan
sektoral, dimana tingginya harga garam merupakan tujuan utama
keberpihakan pada petani garam. Pola pikir yang parsial ini tentunya
sangat merugikan industri-industri yang mengandalkan garam
sebagai bahan baku produk mereka. Sektor industri jelas merupakan
sektor yang paling terpukul akibat dari bergejolaknya harga garam.

Naiknya harga garam tahun ini telah berimbas pada naiknnya


sejumlah produk industri kimia lainnya. Harga soda api (NaOH) jenis
flake, yang sebelumnya Rp 200.000,00 per kg menjadi sekitar Rp
400.000,00 merupakan pertanda buruk bagi daya saing industri
kimia dan produk kimia nasional.
Isu-isu tentang mafia garam harus mulai disingkirkan, karena pada
dasarnya isu tersebut diragukan kebenarannya. Fluktuasi harga garam
rakyat yang terjadi tiap tahun lebih disebabkan oleh sempitnya
segmen pasar terhadap penggunaan garam rakyat, bukan karena
kartel atau mafia.

Dalam era globalisasi, agar suatu bangsa bisa unggul dalam daya
saing, bangsa tersebut harus mampu menghasilkan suatu produk yang
murah dan berkualitas, sehingga mampu bersaing secara
internasional. Garam bukanlah produk ecek-ecek, namun merupakan
produk sangat penting bagi majunya industri kimia suatu negara.
Kemajuan Tiongkok paling banyak dibebabkan kuatnya industri kimia
mereka. Bagaimana dengan kita?!

Memandang garam dari perspektif yang sederhana telah


menyebabkan kemandulan industri kimia dalam negeri (khususnya
industri yang menggunakan garam sebagai bahan baku produk).
Bicara tentang garam bukan hanya tentang petani garam dan tata
niaganya, namun harus membicarakan industri kimia sebagai agen
utama kemajuan dari suatu bangsa.

Saat ini harga garam industri di Tiongkok sangat murah, berkisar


antara USD 60 – USD 90 per ton (Rp 780.000,00 – Rp 1.170.000,00
per ton). Harga soda ash impor dari USA (yang merupakan produk
turunan dari garam) hanya USD 300 di Jakarta. Tahun ini, harga
garam rakyat (yang memiliki kadar NaCl rendah) pernah menembus
Rp 4.000.000,00 di tingkat petani (Rp 7.000.000,00 di pasar-pasar
tradisional).

Jika harga garam rakyat saja sudah sangat tinggi, bagaimana lagi
dengan harga garam industri di Indonesia!. Kenyataan ini tentu
bertentangan dengan keinginan kuat dari pemerintah dalam
memajukan industri nasional, khususnya industri yang menggunakan
garam sebagai bahan baku. Harga bahan baku garam yang tinggi
tentu mengakibatkan turunnya daya saing internasional, yang pada
akhirnya memandulkan industri kimia nasional.

Tahun ini persoalan komoditi garam nasional terjadi kembali. Akibat


dari musim kemarau yang tak menentu, harga garam rakyat naik
tajam dan langka di pasaran. Ini diikuti oleh naiknya harga garam
industri, yang timbul (mungkin) akibat pengetatan impor garam yang
dilakukan oleh pemerintah sebagai regulator.

Banyak kalangan tak habis pikir akan hal ini, mengingat Indonesia
yang dikelilingi oleh laut sebagai sumber dari garam. Panjang pantai
yang luar biasa rasanya tak mungkin harus mengalami kelangkaan
garam, apalagi harus dicukupi oleh impor. Namun inilah kenyataan
yang terjadi, yang harus dihadapi dan dipikirkan bersama cara
penyelesaiannya.

Apakah Defenisi Garam Jika Ditinjau Dari Segi Kimia?

Garam yang secara umum dikenal adalah senyawa yang merupakan


ikatan kimia antara atom natrium (Na) yang bermuatan positif dan
atom klor (Cl) yang bermuatan negatif. Saat terlarut dalam air, ion
Na+ dan Cl– terdissosiasi (independen antara satu dan lainnya),
namun setelah menjadi kristal terbentuk senyawa padat NaCl yang
memiliki rasa asin. Secara umum garam ditemukan secara massive di
laut. Artinya laut merupakan sumber utama dari garam.

Pentingnya Garam Bagi Industri Nasional

Hingga saat ini pembicaraan tentang garam masih sebatas


swasembada dan bersifat populis. Garam hanya dinilai sebagai perasa
untuk berbagai jenis makanan, bahan baku untuk pengasinan
makanan, penyamakan kulit, pencuci pada industri tekstil, dan
sebagian kecil penggunaan lainnya. Oleh karena itu secara politik
subjek dari pembicaraan garam masih di seputar penyejahteraan
petani, yaitu kelompok perorangan yang menjadi tulang punggung
produksi garam nasional.

Pada kenyataannya, garam (NaCl) merupakan tulang punggung dalam


industri kimia. Ada ribuan produk kimia yang menggunakan garam
sebagai salah satu bahan bakunya.

Beberapa produk kimia tersebut sebagian akan dijelaskan pada bagian


berikut :

1. Garam adalah bahan utama untuk industri klor-alkali, yang


memproduksi NaOH (soda api/caustic soda), HCl (asam klorida),
NaOCl (sodium hypoklorida), dan H2O2(hidrogen peroksida). Garam
juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan soda ash, soda kue,
dan ammonium klorida, yang ketiganya diperoleh melalui Solvay
Process.
2. Produk turunan garam digunakan dalam industri kertas (sebagai
pemutih dan penetral getah), industri pembuatan kaca (penurun titik
leleh silika), industri pembuatan minyak goreng dan mentega.
3. Natrium dari garam digunakan sebagai bahan baku pembuatan
senyawa sodium sulfite (Na2SO3) sodium sulphide (Na2S), sodium
metabisulfite (Na2S2O5), sodium thiosulfate (Na2S2O3).
4. Garam juga digunakan sebagai bahan baku industri pembuatan
senyawa-senyawa kimia organik seperti sodium poliakrilat (bahan
baku Super Absorbent Polymer pada industri popok bayi), pabrikasi
dan regenerant resin penukar ion, dan ribuan senyawa-senyawa
organik lainnya.
5. Garam digunakan sebagai bahan baku industri farmasi, yang
membuat cairan infus dan ratusan jenis obat-obatan.
6. Garam digunakan sebagai salah satu dalam pertanian dan
perkebunan, dimana natrium merupakan salah satu unsur penting
dari tumbuh-tumbuhan. Garam juga dipakai pada proses pengeboran
minyak dan gas bumi

Di negara Tiongkok dan India, harga garam yang memenuhi


spesifikasi industri (kandungan NaCl antara 97-99%) sangatlah
murah. Murahnya harga garam di negara-negara lain menyebabkan
majunya industri kimia mereka, suatu hal yang sulit diterapkan di
Indonesia.

Perlunya Perubahan Paradigma Tentang Industri Garam

Saat ini Indonesia masih menempatkan garam sebagai pelengkap,


bukan sebagai bahan baku industri utama. Pola perlindungan petani
penghasil garam masih dilakukan secara tradisional, parsial, dan
sektoral, dimana tingginya harga garam merupakan tujuan utama
keberpihakan pada petani garam. Pola pikir yang parsial ini tentunya
sangat merugikan industri-industri yang mengandalkan garam
sebagai bahan baku produk mereka. Sektor industri jelas merupakan
sektor yang paling terpukul akibat dari bergejolaknya harga garam.
Naiknya harga garam tahun ini telah berimbas pada naiknnya
sejumlah produk industri kimia lainnya. Harga soda api (NaOH) jenis
flake, yang sebelumnya Rp 200.000,00 per kg menjadi sekitar Rp
400.000,00 merupakan pertanda buruk bagi daya saing industri
kimia dan produk kimia nasional.

Isu-isu tentang mafia garam harus mulai disingkirkan, karena pada


dasarnya isu tersebut diragukan kebenarannya. Fluktuasi harga garam
rakyat yang terjadi tiap tahun lebih disebabkan oleh sempitnya
segmen pasar terhadap penggunaan garam rakyat, bukan karena
kartel atau mafia.

Dalam era globalisasi, agar suatu bangsa bisa unggul dalam daya
saing, bangsa tersebut harus mampu menghasilkan suatu produk yang
murah dan berkualitas, sehingga mampu bersaing secara
internasional. Garam bukanlah produk ecek-ecek, namun merupakan
produk sangat penting bagi majunya industri kimia suatu negara.
Kemajuan Tiongkok paling banyak dibebabkan kuatnya industri kimia
mereka. Bagaimana dengan kita?!

Memandang garam dari perspektif yang sederhana telah


menyebabkan kemandulan industri kimia dalam negeri (khususnya
industri yang menggunakan garam sebagai bahan baku produk).
Bicara tentang garam bukan hanya tentang petani garam dan tata
niaganya, namun harus membicarakan industri kimia sebagai agen
utama kemajuan dari suatu bangsa.

Saat ini harga garam industri di Tiongkok sangat murah, berkisar


antara USD 60 – USD 90 per ton (Rp 780.000,00 – Rp 1.170.000,00
per ton). Harga soda ash impor dari USA (yang merupakan produk
turunan dari garam) hanya USD 300 di Jakarta. Tahun ini, harga
garam rakyat (yang memiliki kadar NaCl rendah) pernah menembus
Rp 4.000.000,00 di tingkat petani (Rp 7.000.000,00 di pasar-pasar
tradisional).

Jika harga garam rakyat saja sudah sangat tinggi, bagaimana lagi
dengan harga garam industri di Indonesia!. Kenyataan ini tentu
bertentangan dengan keinginan kuat dari pemerintah dalam
memajukan industri nasional, khususnya industri yang menggunakan
garam sebagai bahan baku. Harga bahan baku garam yang tinggi
tentu mengakibatkan turunnya daya saing internasional, yang pada
akhirnya memandulkan industri kimia nasional.

Pentingnya Penguasaan Teknologi


Pembuatan Garam Industri dan Farmasi
Garam industri adalah garam yang mengandung senyawa NaCl tinggi,
di atas 97% dari total beratnya. Proses pembuatan garam industri
memiliki perbedaan dengan pembuatan garam yang dilakukan
dengan hanya menguapkan air laut.

Secara umum, garam memiliki arti sebagai “kristal yang


diperoleh dari proses penguapan air laut, dan memiliki
rasa asin di lidah orang yang mengkonsumsinya”.

Meskipun tak sepenuhnya asin (jika dirasakan ada rasa pahit), namun
rasa asin mendominasi, sehingga bisa dikatakan bahwa kristal garam
yang diperoleh dari proses penguapan memiliki rasa asin yang
dominan.

Rasa asin dari garam disebabkan oleh adanya kandungan senyawa


NaCl di dalamnya, sedangkan rasa pahit disebabkan kandungan
magnesium, kalsium, dan potassium.

Defenisi Garam Industri, Konsumsi, dan Garam Farmasi

Air laut tak hanya mengandung air dan NaCl saja, namun juga
mengandung sejumlah senyawa-senyawa kimia ikutan lainnya. Tabel
di bawah ini menampilkan sebagian besar dari konten unsur-unsur
kimia yang larut di dalam air laut.

Tabel 1. Komposisi Unsur-Unsur Kimia dalam Air Laut


Nama Unsur Kimia Massa Atom ppm (part per million)

Hydrogen 1.00797 110.000

Oxygen 15.9994 883,000


Sodium Na 22.9898 10,800

Chlorine Cl 35.453 19,400

Magnesium Mg 24.312 1,290

Sulfur S 32.064 904

Potassium K 39.102 392

Calcium Ca 40.08 411

Bromine Br 79.909 67.3

Helium He 4.0026 0.0000072

Lithium Li 6.939 0.170

Beryllium Be 9.0133 0.0000006

Boron B 10.811 4.450

Carbon C 12.011 28.0

Nitrogen N 14.007 15.5

Fluorine F 18.998 13

Neon Ne 20.183 0.00012

Aluminium Al 26.982 0.001


Silicon Si 28.086 2.9

Phosphorus P 30.974 0.088

Argon Ar 39.948 0.450

Scandium Sc 44.956 <0.000004

Titanium Ti 47.90 0.001

Vanadium V 50.942 0.0019

Chromium Cr 51.996 0.0002

Manganese Mn 54.938 0.0004

Ferrum (Iron) Fe 55.847 0.0034

Cobalt Co 58.933 0.00039

Nickel Ni 58.71 0.0066

Copper Cu 63.54 0.0009

Zinc Zn 65.37 0.005

Gallium Ga 69.72 0.00003

Germanium Ge 72.59 0.00006

Arsenic As 74.922 0.0026


Selenium Se 78.96 0.0009

Krypton Kr 83.80 0.00021

Rubidium Rb 85.47 0.120

Strontium Sr 87.62 8.1

Yttrium Y 88.905 0.000013

Zirconium Zr 91.22 0.000026

Niobium Nb 92.906 0.000015

Molybdenum Mo 0.09594 0.01

Ruthenium Ru 101.07 0.0000007

Rhodium Rh 102.905 –

Palladium Pd 106.4 –

Argentum (silver) Ag 107.870 0.00028

Cadmium Cd 112.4 0.00011

Indium In 114.82 –

Stannum (tin) Sn 118.69 0.00081

Antimony Sb 121.75 0.00033


Tellurium Te 127.6 –

Iodine I 166.904 0.064

Xenon Xe 131.30 0.000047

Cesium Cs 132.905 0.0003

Barium Ba 137.34 0.021

Lanthanum La 138.91 0.0000029

Cerium Ce 140.12 0.0000012

Praesodymium Pr 140.907 0.00000064

Neodymium Nd 144.24 0.0000028

Samarium Sm 150.35 0.00000045

Europium Eu 151.96 0.0000013

Gadolinium Gd 157.25 0.0000007

Terbium Tb 158.924 0.00000014

Dysprosium Dy 162.50 0.00000091

Holmium Ho 164.930 0.00000022

Erbium Er 167.26 0.00000087


Thulium Tm 168.934 0.00000017

Ytterbium Yb 173.04 0.00000082

Lutetium Lu 174.97 0.00000015

Hafnium Hf 178.49 <0.000008

Tantalum Ta 180.948 <0.0000025

Tungsten W 183.85 <0.000001

Rhenium Re 186.2 0.0000084

Osmium Os 190.2 –

Iridium Ir 192.2 –

Platinum Pt 195.09 –

Aurum (gold) Au 196.967 0.000011

Mercury Hg 200.59 0.00015

Thallium Tl 204.37 –

Lead Pb 207.19 0.00003

Bismuth Bi 208.980 0.00002

Thorium Th 232.04 0.0000004


Uranium U 238.03 0.0033

Plutonimu Pu 244 –

Strategi Peningkatan Hasil Panen Garam Petani

Air laut sebagai sumber utama penghasil garam tak hanya


mengandung air dan NaCl, namun juga mengandung ratusan jenis
senyawa-senyawa kimia lainnya.

Rendahnya hasil panen petani dalam luasan tertentu disebabkan oleh


beberapa senyawa kimia yang bersifat delikuesen (deliquescent).

Delikuesen (deliquescent) adalah sifat dari suatu zat, yang menyerap


kelembaban dari atmosfer sampai larut dalam air yang diserap.
Deliquescence terjadi karena tekanan uap larutan yang terbentuk
kurang dari tekanan parsial uap air di udara. Ada banyak zat kimia
yang bersifat delikuesen di dalam air laut, antara lain ZnCl2, CaCl2,
MgCl2, MgSO4, KCl, sodium poliakrilat, dan sebagainya.

Dalam proses penguapan air, senyawa-senyawa yang bersifat


delikuesen bertindak menghambat dan memperlambat laju
penguapan, sehingga laju penguapan air menjadi lebih lama. Pada
kondisi yang lembab dan kurang panas, proses penguapan menjadi
sangat lambat.

Proses penggaraman yang dilakukan oleh petani berlangsung sebagai berikut :

 Penuaan air laut, dari berat jenis air baku 1,03 kg/liter menjadi 1,25
kg/liter. Proses ini dilakukan di meja penuaan, yang memakan 75%
dari luasan lahan penggaraman. Proses penuaan dilakukan
menggunakan sistem ulir, yaitu mengalirkan air baku secara bertahap
dari satu petak ke petak berikutnya. Dari berbagai wilayah
penggaraman yang diobservasi, diperoleh waktu penuaan air
(menaikkan berat jenis dari 1,03 menjadi 1,20 kg/liter ) antara 14 hari
hingga 21 hari.
 Proses penggaraman. Proses ini dilakukan saat berat jenis air telah
mencapai antara 1,20 kg/liter hingga 1,23 kg/liter. Proses
penggaraman berlangsung di meja garam, yang bisa menggunakan
alas tanah maupun plastik geomembrane. Proses penggaraman
umumnya berlangsung antara 4-6 hari.
 Total proses penggaraman yang dilakukan oleh petani garam dan satu
siklus mencapai antara 20 hari hingga 25 hari.

Jika dalam periode proses tersebut terjadi hujan, maka waktu


penggaraman pun mengalami perlambatan, atau bisa gagal sama
sekali.

Pemurnian larutan garam bertujuan memisahkan senyawa-senyawa


delikuesen dan logam-logam berat dari larutan. Akibat dari proses
pemurnian diperoleh beberapa pencapaian sebagai berikut :

 Siklus penggaraman berlangsung lebih cepat. Dari beberapa aplikasi


yang telah dilakukan, proses penggaraman yang dilakukan setelah
proses pemurnian mampu mempersingkat waktu penggaraman, dari
total 20 hari menjadi hanya 5-6 hari. Waktu produksi yang singkat
mampu menjawab resiko iklim dan cuaca. Secara tradisional, waktu
produksi efektif penggaraman dari petani hanya berlangsung
maksimal 4 bulan. Dengan sistem pemurnian awal, waktu produksi
garam bisa ditingkatkan hingga 6 bulan.
 Penghematan terhadap luasan wilayah penggaraman. Artinya, lahan
penuaan bisa dipersempit, atau semua lahan digunakan untuk meja
penggaraman. Dengan adanya kenaikan daya dukung lahan, maka
wacana dan program ekstensifikasi bisa ditinggalkan sama sekali.
 Naiknya hasil produksi hingga 8 kali dari proses tradisional.
 Tingkat kemurnian NaCl menjadi makin baik. Garam yang dihasilkan
setelah proses pemurnian memiliki standar yang baik (minimal
memenuhi skala SNI)
 Harga yang stabil, karena produk yang dihasilkan memiliki harga
yang internasional.
Perbedaan Garam Rakyat dan Garam Industri atau Farmasi

Garam yang dihasilkan oleh petani garam adalah garam yang


diperoleh dari sisa penguapan air laut. Sebagaimana yang diketahui,
mineral-mineral yang terlarut dalam air laut terdiri dari ratusan jenis
senyawa kimia, dimana sebagian besar diantaranya adalah garam
(NaCl). Secara umum, mineral golongan I lainnya juga selalu ada
(misalnya kalium dalam senyawa KCl) dalam jumlah yang signifikan.
KCl memiliki rasa yang asin agak pahit, lebih higroskopis dari NaCl,
dan dalam jumlah signifikan dapat menyebabkan gejala hyperkalamia
pada jantung.

Selain mineral golongan alkali, air laut juga memiliki kandungan


senyawa-senyawa golongan alkali tanah (magnesium, kalsium, dsb)./

Dalam beberapa lokasi, magnesium merupakan unsur logam ke-2


terbanyak setelah natrium (Na) di air laut, dan kalsium di posisi ke-3.
Sebagai terminal air di bumi, tentunya laut mengandung sejumlah
mineral-mineral logam berat terlarut, yang porsinya bergantung pada
tingkat pencemaran di wilayah tersebut.

Penguapan air laut bertujuan mengurangi sebagian besar air (H2O),


dimana pada titik tertentu terbentuk kristal senyawa-senyawa yang
berasal dari mineral terlarut.

Magnesium, kalium, dan kalsium ikut mempengaruhi rasa garam.


Kandungan yang tinggi menyebabkan rasa garam menjadi asin pahit,
yang bisa mempengaruhi rasa makanan dan produk-produk makanan
dan minuman.

Untuk membuat soda api, diperlukan bahan baku garam berkadar


NaCl tinggi. Alasan utamanya tentu terhadap kualitas, standar
industri, warna kristal, persentase NaOH, dan kelayakan pemakaian
sebagai bahan baku untuk industri turunan.

Garam industri adalah garam yang memiliki persentase NaCl yang tinggi (di Indonesia
NaCl minimum 97%).

Beberapa syarat tambahan (pada pemakaian tertentu) antara lain ;


kandungan maksimum ion sulfat (SO42-) yang diijinkan, kandungan
magnesium maksimum, kandungan logam-logam berat maksimum,
kandungan ion sulfida maksimum, kandungan kalsium maksimum,
tingkat kecerahan, turbidity, dan beberapa parameter lainnya.

Untuk memperoleh garam berkualifikasi industri, dibutuhkan


beberapa tahap reaksi kimia dan proses fisika yang bertujuan
memurnikan air baku yang akan dikristalisasi menjadi garam NaCl.
Cara Membangkitkan Industri Garam Nasional

Saat ini kita sudah memiliki puluhan ribu petani garam sebagai tulang
punggung produksi garam nasional. Jumlah SDM yang besar tersebut
merupakan aset penting bagi jayanya industri garam.
Mengindustrikan garam nasional haruslah berpijak pada
kesejahteraan petani yang simultan dengan kemajuan industri
pemakai garam.

Persoalan yang dihadapi oleh petani garam saat ini adalah sebagai
berikut :

1. Rendahnya hasil yang diperoleh.


2. Kualitas garam yang tak masuk dalam golongan garam industri.
3. Perubahan iklim membuat makin kacaunya kepastian hasil panen.

Dari ke-3 persoalan tersebut, penulis mencoba menguraikan


penyebab dan cara-cara mengatasinya.

 Produk garam yang dihasilkan juga layak ekspor

Bergejolaknya harga garam rakyat (tiap tahun) bukan disebabkan oleh


mafia, namun lebih disebabkan oleh segmen dan pangsa pasar yang
kecil.

Meningkatnya mutu garam yang dihasilkan secara otomatis akan


memperlebar segmen dan pasar, sehingga harga garam bisa stabil.

Teknik pemurnian garam secara langsung berimplikasi pada :

 Naiknya produktifitas hasil garam rakyat. Dari hasil garam 1 musim


(secara tradisional) yang hanya 60 ton per tahun, melalui teknik
pemurnian mampu naik hingga 500 ton per hektar per tahun.
 Meluasnya segmen pasar garam rakyat. Segmen pasar yang membesar
menyebabkan harga garam rakyat mengikuti harga internasional,
sehingga fluktuasi dan kejatuhan harga dapat dihindarkan.
 Tingginya angka produksi yang dibarengi naiknya mutu menyebabkan
makin kuatnya daya saing industri nasional. Hal ini pada ujungnya
akan membuat Indonesia menjadi negara yang sangat layak investasi,
khususnya investasi dalam industri kimia.
Industrialisasi Garam Rakyat

Skema perlindungan garam rakyat harus memperhatikan semua


aspek, tak bisa hanya dilakukan secara parsial sektoral. Untuk
mengindustrialisasi garam rakyat, maka petani harus dilibatkan
sebagai aktor utama, subjek yang diberi edukasi bagaimana cara
membuat garam industri.

Edukasi harus berupa pelatihan-pelatihan, bantuan permodalan


(khususnya dalam pengadaan peralatan pengolahan garam industri,
dan beberapa proyek percontohan garam industri.

Keberhasilan dari industrialisasi garam rakyat pada akhirnya akan


menghapuskan istilah “garam rakyat” atau “garam krosok”, yang
digantikan oleh istilah garam “industrial grade”, garam “food grade”,
dan garam “pharmaceutical grade”, dimana produk-produk tersebut
diproduksi oleh industri-industri rakyat sebagai subjek utama.

Industrialisasi proses penggaraman (dengan petani sebagai subjek)


pada akhirnya akan membuat produk garam nasional meningkat
tajam, memiliki harga stabil dan mampu bersaing secara
internasional, meningkatkan (secara signifikan) pendapatan petani
garam, dan pada akhirnya menjadi akselerator bagi kemajuan industri
kimia dalam negeri.

Cara Menghitung Berat Garam dalam Air


Garam Murni
Garam (NaCl) adalah kristal senyawa kimia yang terbentuk dari
ikatan ionik antara 1 atom unsur kimia natrium dan 1 atom unsur
kimia klorin. Di alam, kristal garam dihasilkan dari proses
penambangan dan proses evaporasi. Saat ini lebih dari 75%
kebutuhan garam dunia dipenuhi melalui proses penambangan,
sisanya melalui proses evaporasi brine (larutan garam jenuh hasil
tambang) dan evaporasi air laut.

Air laut tak hanya mengandung NaCl, namun juga mengandung


puluhan unsur-unsur kimia lain di dalamnya. Untuk memperoleh
kristal garam yang mendekati kemurnian, diperlukan sejumlah proses
kimia dan fisika terhadap bahan baku (air laut) yang akan dijadikan
garam.

Kristal NaCl anhidrat (tak mengandung air) murni memiliki massa


jenis 2,165 kg/liter, atau 2,165 g/ml. Untuk mengetahui kadar NaCl
secara kasar bisa melalui proses penimbangan massa jenis suatu
kristal garam.

Garam murni memiliki kelarutan yang hampir sama dalam rentang


suhu yang lebar. Grafik dibawah menampilkan kelarutan NaCl dalam
100 ml pada rentang suhu antara 00C – 1000C.
Gbr 1. Kelarutan Garam NaCl berdasarkan suhu larutan

Dari grafik di atas terlihat bahwa kelarutan NaCl dalam berbagai suhu
membentuk garis linier, dengan gradien (kemiringan) yang sangat
kecil. Kelarutan NaCl dalam 100 ml air pada suhu 00C sebesar 351 g/L,
pada suhu 200C sebesar 352 g/L, pada suhu 1000C sebesar 359 g/L.
Dapat dikatakan bahwa kelarutan NaCl bersifat nyaris stabil dalam
berbagai rentang suhu.

Hubungan Berat Jenis Air Garam dengan Skala Baume

Skala baume (Be) adalah skala yang digunakan untuk menghitung


berat jenis suatu cairan kimia, pada suhu 160C. Meskipun kurang
akurat, namun karena kepraktisannya, alat ini juga sering digunakan
untuk menimbang berat jenis larutan garam yang diperoleh dari
penguapan air laut. Namun skala Be tak sama persis dengan rumusan
berat jenis yang mendasarkan pada hukum Archimedes.

Untuk mengetahui berat jenis suatu skala Be, kita harus


menggunakan formula konversi nilai Be ke berat jenis, seperti
rumusan di bawah ini :

Dari rumus di atas, berat jenis suatu larutan garam bisa ditentukan
dengan mudah jika Be nya telah diketahui. Misalnya, pada timbangan
yang menunjukkan skala Be 2, maka berat jenisnya = 1,014 kg/L,
demikian seterusnya.

Untuk mengetahui berat garam yang dihasilkan pada skala be


tertentu, kita bisa menggunakan formula berikut :
Dimana :

W1 = berat garam (NaCl) dalam berat jenis tertentu

BJ = berat jenis larutan garam (NaCl)

W2 = berat garam dalam 1 m3 air garam pada berat jenis tertentu

V1 = volume dari berat garam pada berat jenis tertentu


1000 = 1 m3 air TDS 0 (air suling)

2,165 = konstanta berat jenis NaCl murni

Contoh soal :

Berapa berat jenis larutan garam murni, yang memiliki skala Be = 1,


dan berapa kandungan garamnya dalam 1000 liter air garam?

Jawab :

 Pertama, kita harus menghitung berat jenisnya, menggunakan


formula (1), dimana hasil perhitungan memperoleh berat jenis air
garam (BJ) air garam = 1,007 kg/L.
 Selanjutnya kita mencari berat garam pada BJ 1,007 kg/L,
menggunakan formula (2). Hasil perhitungan diperoleh angka W1 =
13,0872 kg.
 Nilai V1 (volume dari garam seberat 13,0872 kg) dihitung
menggunakan formula (3), diperoleh hasil 6,045 Liter
 Nilai W2 sebagai jumlah garam dalam 1 m3 pada Be 1 diperoleh
melalui rumus (4), sebesar 13,01 kg. Artinya, pada Be =1, jumlah
kristal NaCl dalam volume 1 m3pada suhu 200C sebesar 13,01 kg.

Tabel berikut menampilkan korelasi antara berat jenis, konsentrasi


garam dalam air, dan skala baume. Berat garam dalam 1 m3 air garam
pada skala Be tertentu bisa dihitung menggunakan formula 4, yang
kemudian disusun menjadi table 1 berikut.

Tabel 1. Korelasi Antara Skala Be dengan Berat Jenis air garam, dan
berat garam dalam volume 1 m3.

Berat Jenis Air Garam


Skala Be Berat Garam per 1 m3 Air Garam (kg)
(kg/L)

1 1,007 13,01

2 1,014 26,02
3 1,021 39,03

4 1,028 52,03

5 1,036 66,90

6 1,043 79,92

7 1,051 94,79

8 1,058 107,79

9 1,066 122,65

10 1,074 137,52

11 1,082 152,39

12 1,090 167,26

13 1,099 183,97

14 1,107 198,84

15 1,115 213,71

16 1,124 230,44

17 1,133 247,17

18 1,142 263,89
19 1,151 280,61

20 1,160 297,34

20,22 1,162 301,04

Tabel 1. Di atas menampilkan nilai Be, berat jenis, dan kandungan


NaCl 1 m3 larutan garam (brine) pada suhu 200C. Pada suhu di atas
200C nilai Be, berat jenis, dan kandungan NaCl mengalami pembiasan
akibat pemuaian volume air. Namun pembiasan masih bisa
ditoleransi, karena hanya bergeser sedikit.

Tabel 1. Menampilkan larutan garam murni, yaitu larutan yang hanya


berupa gabungan antara air (H2O) dan garam (NaCl). Berdasarkan
kelarutan garam maksimum (titik jenuh kelarutan NaCl), maka pada
kelarutan NaCl maksimum sebesar 351 g/L air murni pada suhu 200C,
nilai Be menampilkan skala 20,22. Kristalisasi sebagian dari larutan
jenuh (brine) tak mengakibatkan naiknya Be, dimana nilai Be stabil
pada suhu yang sama

Dari table 1. Dapat disimpulkan bahwa nilai Be larutan jenuh NaCl


murni tetap pada suhu tetap

 Pada larutan garam jenuh yang masih mengandung ion-ion ikutan


semisal Mg2+dan Ca2+, nilai Be di atas skala 20,22. Skala Be larutan
jenuh bervariasi, tergantung banyak sedikitnya mineral-mineral Mg,
Ca, dan K.
 Pada larutan garam yang hanya memiliki ion K+ sebagai mineral
ikutan, nilai Be larutan jenuh menjadi kurang dari 20,22. Penurunan
nilai Be pada larutan garam yang mengandung mineral ikutan K+
tergantung pada banyak tidaknya mineral ikutan ion K dalam larutan
garam.

Contoh soal :

Hitung kemungkinan hasil kristal garam (NaCl) pada larutan garam


murni, dimana Be air garam sebesar 15, dan volume air garam 200 m3.
Jawab :

Dari table 1, pada Be = 15, berat kristal garam yang dihasilkan sebesar
213,71 kg/m3air garam. Untuk volume 200 m3, kita tinggal mengalikan
berat garam per m3 dengan volume air garam, sebagai berikut :

Berat garam total = 213,71 Kg/m3 x 200 m3 = 42.742 kg.

Angka pada tabel 1. adalah hasil perhitungan yang menghasilkan


garam secara ideal. Dalam prakteknya, hasil garam seperti tabel di
atas tak mungkin diperoleh, karena adanya penguapan sebagian dari
senyawa garam dalam proses penjemuran, dan kehilangan NaCl
dalam proses panen dan pengemasan.

Dari beberapa percobaan yang dilakukan oleh tim bestekin.com, loss


factor rata-rata di angka 4% dari total garam ideal, sehingga hasil
garam yang diperoleh mengalami penyusutan 4%.