Anda di halaman 1dari 3

TUGAS XII SEJARAH INDONESIA

12 2-6 Maret 2018 Terangkan tentang peristiwa perumusan teks


proklamasi mulai dari persiapan sampai tersususnnya
teks proklamasi
Perumusan Teks Proklamasi
Peristiwa Rengasdengklok telah mengubah jalan pikiran Bung Karno dan Bung Hatta.
Mereka telah menyetujui bahwa Proklamasi Kemerdekaan harus segera dikumandangkan.
Kemudian diadakanlah rapat yang membahas Persiapan Proklamasi Kemerdekaan di rumah
Laksamana Maeda, dipilihnya rumah Laksamana Maeda karena tempat tersebut dianggap
tempat yang aman dari ancaman tindakan militer Jepang karena Maeda adalah Kepala Kantor
Penghubung Angkatan Laut Jepang dan Maeda juga merupakan kawan baik Mr. Ahmad
Subardjo.

Di kediaman Maeda itulah rumusan teks proklamasi disusun. Hadir dalam pertemuan
itu Sukarni, B.M.Diah dan Mbah Diro dari golongan muda yang menyaksikan perumusan teks
proklamasi. Semula golongan muda menyodorkan teks proklamasi yang keras nadanya dan
karena itu rapat tidak menyetujui.

Teks Naskah Proklamasi tulisan Ir Soekarno yang ditempatkan di Monumen Nasional

Kemudian berdasarkan pembicaraan antara Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo,


diperoleh rumusan teks proklamasi yang ditulis tangan oleh Soekarno yang berbunyi:

Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang
mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l, diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam
tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, 17-08-‘05
Wakil bangsa Indonesia
Setelah teks proklamasi selesai disusun, Permasalahan baru muncul yaitu perihal siapa
yang harus menandatangani teks tersebut, setelah teks proklamasi disusun. Drs. M.
Hatta memberi usulan, agar teks proklamasi itu ditandatangani oleh seluruh yang hadir sebagai
Wakil Bangsa Indonesia. Sukarni dari golongan muda, mengajukan usulan bahwa teks
proklamasi tidak perlu ditandatangani oleh semua yang hadir, tetapi cukup oleh dua orang saja,
yaitu Ir. Sukarno dan Drs. M. Hatta, Atas Nama Bangsa Indonesia. dan Ir. Sukarno juga
diusulkan untuk membacakan teks proklamasi tersebut. Usulan dari Sukarni, diterima.
Kemudian, Sukarno meminta kepada Sayuti Melik untuk mengetik naskah proklamasi tersebut,
dengan perubahan-perubahan yang disetujui bersama.

Setelah konsep selesai disepakati, Sayuti Melik menyalin dan mengetik naskah tersebut
menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor (Laut)
Dr. Hermann Kandeler. Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan
Ikada, namun berhubung alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Ir. Soekarno.

Persiapan Pembacaan Teks Proklamasi


Dini hari pada tanggal 17 Agustus 1945, para pemimpin nasional dan para pemuda
kembali ke rumah masing-masing guna menyiapkan penyelenggaraan pembacaan teks
proklamasi setelah teks proklamasi selesai di rumuskan dan di sahkan. saat itu Jepang
mengetahui rencana pembacaan proklamasi dan mengira bahwa pembacaan proklamasi akan
dilaksanakan di lapangan Ikada, oleh karena itu tentara Jepang memblokade lapangan Ikada.
Barisan Muda pun telah ramai berdatangan menuju lapangan Ikada dalam rangka menjadi saksi
pembacaan teks proklamasi. Pemimpin Barisan Pelopor (Sudiro), juga datang ke lapangan
Ikada dan melihat pasukan Jepang dengan persenjataan lengkap telah memblokade lapangan
Ikada. Sudiro kemudian melaporkan keadaan itu kepada Muwardi (Kepala Keamanan Bung
Karno). Sudiro pun kemudian mengetahui bahwa pembacaan proklamasi dipindah dari
lapangan Ikada ke rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

Saat itu, halaman rumah Sukarno mulai ramai dipadati oleh massa, menjelang
pembacaan teks proklamasi. Dr. Muwardi mengutus Latief Hendraningrat untuk menjaga
keamanan pelaksanaan upacara dan untuk mengantisipasi gangguan dari tentara Jepang, dalam
melaksanakan pengamanan Latief Hendraningrat dibantu oleh Arifin Abdurrahman. Suasana
halaman rumah Sukarno, terlihat sangat ramai. Suwiryo, Wakil Walikota Jakarta, meminta
kepada Wilopo untuk mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan. Wilopo kemudian
meminjam mikrofon dan beberapa pengeras suara ke toko elektronik milik Gunawan.

Kemudian Sudiro (Pemimpin Barisan Pelopor) mengutus Komandan Pengawal rumah


Sukarno, S. Suhud, untuk mencari tiang bendera. Suhud kemudian memperoleh sebatang tiang
bambu dari belakang rumah, dan menancapkan bambu tersebut di dekat teras, kemudian dia
memberi tali sebagai kelengkapan untuk pengibaran bendera. Di sisi lain, Fatmawati (Istri
Sukarno) mempersiapkan bendera yang dijahit dengan tangannya sendiri. Ukuran bendera
tersebut masih belum standar seperti ukuran bendera sekarang.
Para pemuda mengiginkan agar pembacaan teks proklamasi segera dilaksanakan karena
mereka sudah tidak sabar untuk menyaksikan proklamasi kemerdekaan indonesia. Mereka
mendesak Muwardi agar mengingatkan Ir. Sukarno agar segera melaksanakan proklamasi
kemerdekaan indonesia. Namun Sukarno menolak jika harus melaksanakannya sendiri tanpa
didampingi Bung Hatta. Ketegangan pun terjadi sebab Muwardi terus mendesak Sukarno,
untuk segera membacakan teks proklamasi tanpa harus menunggu kehadiran Bung Hatta.
Untunglah, 5 menit sebelum pelaksanaan upacara, Bung Hatta datang dan langsung
mendampingi Sukarno untuk segera melaksanakan upacara proklamasi kemerdekaan
Indonesia.

Pelaksanaan Upacara Proklamasi Kemerdekaan


Pelaksanaan pembacaan naskah Proklamasi Kemerdekaan dilaksanakan pada tanggal
17 Agustus 1945 (hari Jum’at) di jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta (yang sekarang
menjadi jalan Proklamasi).

Bendera Indonesia dikibarkan pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945

Upacara proklamasi kemerdekaan dipimpin oleh Latief Hendraningrat, tanpa protokol.


Latief segera memimpin barisan untuk berdiri, dengan sikap sempurna. Suhud
dan Latief mengibarkan bendera merah putih secara perlahan-lahan, sesudah selesainya
pembacaan proklamasi, Bendera merah putih dinaikkan sambil diiringi lagu Indonesia Raya,
yang secara spontan dinyanyikan oleh seluruh masyarakat yang hadir pada saat itu.

Seusai pengibaran bendera Merah Putih acara dilanjutkan sambutan dari Wali Kota
Suwiryo dan dr. Muwardi. Pelaksanaan upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dihadiri
oleh tokoh tokoh Indonesia lainnya, seperti Sukarni, Mr. Latuharhary, Ibu Fatmawati, Ny. S.K.
Trimurti, Mr. A.G. Pringgodigdo, Mr. Sujono dan dr. Samsi.