Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Meningitis adalah peradangan dari jaringan yang membungkus otak dan
medula spinalis. Peradangan tersebut kadang-kadang mengenai otak itu sendiri.
Meningitis adalah penyakit yang sangat serius, yang jarang terjadi. Namun, bila
hal ini terjadi kita melihatnya paling sering pada anak-anak di bawah lima tahun.
Dengan diagnosis dini dan penanganan yang benar, seorang anak yang menderita
meningitis memiliki kesempatan yang baik untuk sembuh tanpa komplikasi.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari penyakit meningitis?
2. Apa saja etiologi dari penyakit meningitis?
3. Bagaimana patofisiologi dari penyakit meningitis?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari penyakit meningitis?
5. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk penderita penyakit meningitis?
6. Apa saja komplikasi yang dapat terjadi pada penderita penyakit meningitis?
7. Bagaimana penatalaksanaan terapeutik bagi penderita penyakit meningitis?
8. Adakah vaksin untuk mencegah penyakit meningitis?
9. Bagaimana asuhan keperawatan pada anak penderita penyakit meningitis?

C. Tujuan
1. Menegtahui pengertian dari penyakit meningitis
2. Mengetahui etiologi dari penyakit meningitis
3. Menjelaskan patofisiologi dari penyakit meningitis
4. Mengetahui manifestasi klinis dari penyakit meningitis
5. Mengetahui pemeriksaan penunjang untuk penderita penyakit meningitis
6. Mengetahui komplikasi yang dapat terjadi pada penderita penyakit meningitis
7. Menjelaskan penatalaksanaan terapeutik bagi penderita penyakit meningitis
8. Mengetahui vaksin untuk mencegah penyakit meningitis
9. Menjelaskan asuhan keperawatan pada anak penderita penyakit meningitis

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal
dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada system syaraf pusat.
(Suriadi, 2001).
Meningitis adalah inflamasi akut pada meninges dan CSF (Wong, 2003).
Secara umum terdapat 5 jenis meningitis :
1. Meningitis bakterialis
Disebabkan bakteri dan menyebar melalui kontak jarak dekat. Jika
tidak ditangani, bisa menyebabkan kerusakan otak parah, kehilangan
indera pendengaran dan menimbulkan infeksi pada darah.
2. Meningitis virus
Disebabkan oleh virus yang bisa menyebar melalui batuk, bersin, dan
lingkungan yang tidak higienis.
3. Meningitis jamur
Biasanya merupakan hasil dari menyebarnya jamur di sumsum tulang
belakang melalui aliran darah.
4. Meningitis parasit
Disebabkan oleh parasit yang biasanya masuk ke dalam tubuh melalui
hidung.
5. Meningitis non-infeksi
Ada lebih dari satu faktor penyebabnya. Meningitis jenis ini tidak
menular

B. Etiologi
 Bakteri ; Haemophilus influenza (tipe B), streptococcus pneumonie, neisseria
meningitis, β hemolytic streptococcus, staphilococcus aureu, e.coli, naegleria
fowleri
 Faktor predisposisi ; jenis kelamin : laki-laki lebih sering dibandingkan
dengan wanita
 Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir
kehamilan
 Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin,
anak yang mendapat obat obat imunosupresi
 Anak dengan kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang
berhubungan dengan sistem pernafasan

2
C. Patofisiologi
- Efek peradangan akan menyebabkan peningkatan cairan cerebrospinalis yang
dapat menyebabkan obstruksi dan selanjutnya terjadi hidrosefalus dan
peningkatan tekanan intrakranial. Efek patologi dari peradangan tersebut
adalah : hiperemi para meningen. Edema dan eksudasi yang kesemuanya
menyebabkan peningkatan intrakranial.
- Organisme masuk melalui sel darah merah pada blood brain barrier.
Masuknya dapat melalui trauma penetrasi, prosedur pembedahan atau abses
serebral atau kelainan sistem saraf pusat. Otorrhea atau rhinorrhea akibat
fraktur dasar tengkorak dapat menimbulkan meningitis, dimana terjadi
hubungan antara CSF dan dunia luar.
- Masuknya mikroorganisme ke susunan saraf pusat melalui ruang
subarachnoid dan menimbulkan respon peradangan pada via, arachnoid, CSF
dan ventrikel.
- Dari reaksi radang muncul eksudat dan perkembangan infeksi pada ventrikel,
edema dan skar jaringan sekeliling ventrikel menyebabkan obstruksi pada
CSF dan menimbulkan hidrosefalus
- Meningitis bakteri ; netrofil, monosit, limfosit, dan yang lainnya merupakan
sel respon radang. Eksudat terdiri dari bakteri fibrin dan lekosit yang dibentuk
di ruang subarachnoid. Penumpukan pada CSF di sekitar otak dan medulla
spinalis. Terjadi vasodilatasi yang cepat dar pembuluh darah dan jaringan otak
dapat menjadi infract.
- Meningitis virus sebagai akibat dari penyakit virus seperti meales, mump,
herpes simplek dan herpes zoster. Pembentukan eksudat ppada umumnya
tidak terjadi dan tidak ada mikroorganisme pada kultur CSF.

D. Manifestasi Klinis
1. Neonatus : menolak untuk makan, refleks menghisap kurang, muntah atau
diare, tonus otot kurang, kurang gerak dan menangis lemah
2. Bayi dan anak-anak (usia 3 bulan hingga 2 tahun) : demam, malas makan,
muntah, mudah terstimulasi, kejang, menangis dengan merintih, ubun-ubun
menonjol, kaku kuduk, dan tanda kernig dan brudzinsky positif
3. Anak-anak dan remaja : demam tinggi, sakit kepala, muntah yang diikuti
dengan perubahan sensori, kejang, mudah terstimulasi dan teragitasi,
fotofobia, delirium, halusinasi , perilaku agresif atau maniak, stupor, koma,
kaku kuduk, opistotonus. Tanda kernig dan brudzunki positif, reflek fisiologis
hiperaktif, ptechiae atau pruritus (menunjukkan adanya infeksi
meningococcal)

3
E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pungsi lumbal : tekanan cairan meningkat, jumlah sel darah merah putih
meningkat, glukosa menurun, protein meningkat
2. Kultur darah
3. Kultur swab hidung dan tenggorokan

F. Komplikasi
 Hidrosefalus obstruktif
 Meningococcal septicemia (meningocemia)
 Sindrom Water-Friderichsen (septik syok, DIC, perdarahan adrenal bilateral)
 SIADH (Syndrome Inappropiate AntidiureticHormone)
 Efusi subdural
 Kejang
 Edema dan herniasi serebral
 Cerebral Palsy
 Gangguan mental
 Attention deficit disorder
 Tuli
 Buta

G. Penatalaksanaan Terapeutik
 Isolasi
 Terapi antimikroba : antibiotik yang diberikan didasarkan pada hasil kultur,
diberikan dengan dosis tinggi
 Mempertahankan hidrasi optimum : mengatasi kekurangan cairan dan
mencegah kelebihan cairan yang dapat menyebabkan edema serebral
 Mencegah dan mengobati komplikasi : aspirasi efusi subdural (pada bayi),
terapi heparin pada anak yang mengalami DIC
 Mengontrol kejang : pemberian anti epilepsi
 Mempertahankan ventilasi
 Mengurangi meningkatnya tekanan intra kranial
 Penatalaksanaan syok bakterial
 Mengontrol perubahan suhu lingkungan yang ekstrim
 Memperbaiki anemia

H. Vaksin Pencegah Penyakit Meningitis


Di Indonesia vaksin meningitis belum termasuk dalam jadwal vaksin wajib.
Terdapat dua jenis vaksin meningitis, yaitu vaksin meningokokus polysakarida
dan vaksin meningokokus konjugat. Vaksin meningokokus polysakarida bisa

4
diberikan untuk usia berapa pun dan mamapu memberi perlindungan sebesar 90-
95 persen. Untuk anak di bawah 5 tahu, vaksin ini bisa bertahan 1-3 tahun.
Sedangkan untuk dewasa akan melindungi selama 3-5 tahun. Untuk vaksin
meningokokus konjugat hanya untuk usia 11-55 tahun, biasanya diberikan pada
jamaah haji dan tidak dianjurkan dijadikan sebagai imunisasi rutin

I. Teori Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian keperawatan
 Riwayat keperawatan : riwayat kelahiran, penyakit kronis, neoplasma,
riwayat pembedahan pada otak, cedera kepala
 Pada neonatus : kaji adanya perilaku menolak untuk makan, reflek
menghisap kurang, muntah atau diare, tonus otot kurang, kurang gerak dan
menangis lemah
 Pada anak-anak dan remaja : kaji adanya demam tinggi, sakit kepala,
muntah yang diikuti dengan perubahan sensori, kejang mudah terstimulasi
dan teragitasi, fotofobia, delirium, halusinasi, perilaku agresif atau maniak,
penurunan kesadaran, kaku kuduk, opistotonus, tanda kernig dan brudzinky
positif, reflek fisiologis hiperaktif, ptechiae atau pruritus
 Bayi dan anak-anak : demam, malas makan, muntah, mudah terstimulasi,
kejang, menangis dengan merintih, ubun-ubun menonjol, kaku kuduk, dan
tanda kernig dan brudzinsky positif

B. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul


a. Nyeri kepala b.d peningkatan tekanan kranial
b. Hipertermi b.d proses infeksi
c. Perubahan persepsi sensori b.d penurunan tingkat kesadaran
d. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan serebral b.d edema
serebral
e. Resiko perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia,
mual, muntah

C. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri kepala b.d peningkatan tekanan kranial
Kriteria hasil : Anak akan melaporkan nyeri kepala hilang atau terkontrol
Intervensi/rasional :
 Ciptakan lingkungan yang tenang
Rasional : Mengurangi reaksi terhadap stimulan dari lingkungan
 Tingkatkan tirah baring
Rasional : Menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri

5
 Dukung untuk menentukan posisi yang nyaman, seperti kepala agak tinggi
sedikit
Rasional : menurunkan iritasi meningeal
 Kolaborasi : pemberian analgetik
Rasional : menghilangkan nyeri yang berat
2. Hipertermi b.d proses infeksi
Kriteria hasil : suhu badan anak dalam batas normal
Intervensi /rasional :
 Ukur suhu badan anak setiap 4 jam
Rasional : suhu 38,9 – 41,1 menunjukkan proses penyakit infeksius
 Pantau suhu lingkungan
Rasional : Untuk mempertahankan suhu badan mendekati normal
 Berikan kompres hangat
Rasional : Untuk mengurangi demam
 Berikan selimut pendingin
Rasional : Untuk mengurangi demam lebih dari 39,5 0C
 Kolaborasi dengan tim medis : pemberian antipiretik
Rasional : Untuk emngurangi demam dengan aksi sentralnya di
hipotalamus
3. Perubahan persepsi sensori b.d penurunan tingkat kesadaran
Kriteria hasil : Mempertahankan fungsi persepsi
Intervensi/rasional :
 Kaji tingkat kesadaran sensorik
Rasional : Tingkat kesadaran sensorik yang buruk dapat meningkatkan
resiko terjadinya injury
 Kaji reflek pupil, extraocular movement, respon terhadap suara, tonus otot
dan reflek-reflek tertentu
Rasional : Penurunan reflek menandakan adanya kerusakan syaraf dan
dapat berpengaruh terhadap keamanan pasien
 Hilangkan suara bising
Rasional : Menurunkan stimulan dari lingkungan
 Bicara dengan suara yang lembut dan pelan
Rasional : dapat membantu pasien dalam berkomunikasi
4. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan serebral b.d edema serebral
Kriteria hasil : Perfusi jaringan serebral maksimal
Intervensi :
 Observasi tingkat kesadaran dan nilai status neurology setiap 1-2 jam
Rasional : Berguna untuk menentukan lokasi dan luasnya penyebaran
kerusakan serebral

6
 Kaji adanya regiditas nukal, gemetar, kegelisahan yang meningkat, kejang
Rasional : Merupakan indikasi iritasi meningeal
 Pantau tanda vital
Rasional : kehilangan fungsi autoregulasi mungkin dapat mengikuti
kerusakan vascular serebral
 Pantau pola dan irama pernafasan
Rasional : dapat mengindikasikan peningkatan TIK
 Berikan waktu istirahat antara aktivitas perawatan dan batasi lamanya
tindakan
Rasional : untuk mencegah kelelahan yang dapat meningkatkan TIK
 Kolaborasi dengan tim medis : pemberian steroid, asetaminofen
Rasional : Dapat menurunkan permeabilitas kapiler sehingga
pembentukan edema serebral dapat diminimalkan
5. Resiko perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual,
muntah
Kriteria hasil : Masukan nutrisi adekuat
Intervensi/rasional :
 Kaji kemampuan pasien untuk mengunyah, menelan, batuk dan mengatasi
sekresi
Rasional : Berpengaruh terhadap pemilihan jenis makanan
 Timbang BB setiap hari
Rasional : Menunjukkan status nutrisi
 Auskultasi bising usus
Rasional : Menentukan respon makan atau berkembangnya komplikasi
 Anjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dalam porsi kecil
tapi sering
Rasional : meningkatkan proses pencernaan dan toleransi pasien terhadap
nutrisi yang diberikan
 Kolaborasi dengan tim gizi
Rasional : Merupakan sumber yang efektif untuk mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi pasien

D. Discharge Planning
 Anjurkan bagaimana mempertahankan nutrisi yang adekuat; makanan yang
rendah lemak
 Jelaskan pentingnya istirahat
 Ajarkan cara mencegah infeksi
 Jelaskan tanda dan gejala hepatitis fulminant: perubahan status neurologis,
pendarahan, retensi cairan.

7
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan
spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada system syaraf pusat.
Meningitis disebabkan oleh berbagai macam bakteri, faktor predisposisi, faktor
maternal, faktor imunologi dan kelainan sistem saraf pusat pada anak itu sendiri.
Dengan diagnosis dini dan penanganan yang benar, seorang anak yang menderita
meningitis memiliki kesempatan yang baik untuk sembuh tanpa komplikasi. Dan
untuk mencegahnya anak dapat diberikan vaksin meningokokus polysakarida.

B. Saran
Selelah kita mempelajari apa yang telah dibahas, maka kita perlu menerapkan
dalam profesi kita. Kiranya makalah ini dapat berguna dan memberi wawasan
tentang penyakit meningitis yang terjadi pada anak-anak.

8
DAFTAR PUSTAKA

Suriadi, Skp, MSN, Rita Yuliani, Skp, M.Psi. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak
Edisi 2. Jakarta: Sagung Seto

Alih bahasa, Surya Satyanegara dan Anton Cahaya Widjaja. 2004. Panduan Lengkap
Perawatan untuk Bayi dan Balita. Jakarta: Arcan

www.alodokter.com

Anda mungkin juga menyukai