Anda di halaman 1dari 4

Antijamur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Krim antijamur Canesten (klotrimazol)

Antijamur (atau dapat disebut juga antifungal) adalah suatu golongan obat yang
bersifat fungisida atau fungistatik yang dapat digunakan untuk mengobati dan
mencegah mikosis seperti kutu air, kurap, kandidiasis, infeksi sistemik serius
seperti meningitis kriptokokus, dan lain-lain. Biasanya obat antijamur harus diberikan
dengan resep dokter, tetapi beberapa ada yang tersedia secara bebas (over-the-counter).

Daftar isi
[sembunyikan]

 1Kelas
o 1.1Antijamur Poliena
o 1.2Antijamur golongan imidazol, triazol, dan tiazol
 1.2.1Imidazol
 1.2.2Triazol
 1.2.3Tiazol
o 1.3Alilamina
o 1.4Echinocandin
o 1.5Obat lain
 2Efek yang tidak diinginkan
 3Mekanisme aksi
 4Lihat pula
 5Referensi
 6Tautan eksternal

Kelas[sunting | sunting sumber]


Antijamur Poliena[sunting | sunting sumber]
Poliena merupakan molekul yang memiliki banyak ikatan ganda terkonjugasi. Antijamur
poliena berupa poliena makrosiklik dengan bagian cincin yang terhidroksilasi pada sistem yang
terkonjugasi. Hal ini membuat antijamur poliena bersifat ampifilik. Antijamur ini berikatan
dengan sterol di membran sel jamur, terutama ergosterol. Hal ini menyebabkan perubahan
transisi suhu (Tg) dari membran sel, dengan demikian membran dalam yang kurang cair dan
lebih berupa keadaan terkristalisasi. (Dalam keadaan normal, membran sterol meningkatkan
kekakuan dari phospholipid bilayer sehingga membuat membran plasma lebih padat.) Sehingga,
isi sel jamur termasuk ion monovalen (K+, Na+, H+, dan Cl−), molekul organik berukuran kecil
keluar dari sel karena membran tersebut bocor dan hal ini merupakan cara agar sel mati.[1] Sel
hewan yang mengandung kolesterol dan bukan ergosterol sehingga sel hewan tidak ditarget
oleh obat. Namun, pada dosis terapi, beberapa molekul amfoterisin B dapat berikatan dengan
kolesterol pada membran sel hewan, meningkatkan risiko toksisitas pada manusia. Amphoterisin
B bersifat nefrotoksik saat diberikan secara intravena. Dengan rantai hidrofobik pada poliena
memendek, aktivitas pengikatan dengan sterol meningkat. Oleh karena itu, pemendekan rantai
hidrofobik dapat mengakibatkan poliena dapat mengikat kolesterol, sehingga toksik untuk
hewan.

 Amfoterisin B
 Kandisidin
 Filipin – 35 atom karbon, dapat mengikat kolesterol (toksik)
 Hamisin
 Natamisin – 33 atom karbons, mengikat secara baik ke ergosterol
 Nistatin
 Rimosidin
Antijamur golongan imidazol, triazol, dan tiazol[sunting | sunting sumber]
Obat antifungal golongan azol (kecuali abafungin) menghambat enzim Lanosterol 14 α-
demetilase; enzim yang diperlukan untuk mengubah lanosterol menjadi ergosterol. Kekurangan
ergosterol pada membran di jamur merusak struktur dan fungsi membran di jamur dan
mengakibatkan penghambatan pertumbuhan jamur.[2]
Imidazol[sunting | sunting sumber]

 Bifonazol
 Butokonazol
 Klotrimazol
 Ekonazol
 Fentikonazol
 Isokonazol
 Ketokonazol
 Lulikonazol
 Mikonazol
 Omokonazol
 Oksikonazol
 Sertakonazol
 Sulkonazol
 Tiokonazol
Triazol[sunting | sunting sumber]

 Albakonazol
 Efinakonazol
 Epoksikonazol
 Flukonazol
 Isavukonazol
 Itrakonazol
 Posakonazol
 Propikonazol
 Ravukonazol
 Terkonazol
 Vorikonazol
Tiazol[sunting | sunting sumber]

 Abafungin
Alilamina[sunting | sunting sumber]
Alilamina[3] menghambat skualena epoksidase, enzim lain yang diperlukan untuk sintesis
ergosterol. Contoh obat-obatan golongan ini termasuk Amorolfin, Butenafin, Naftifin,
dan Terbinafin.[4][5][6]
Echinocandin[sunting | sunting sumber]
Echinocandin digunakan untuk infeksi jamur sistemik pada pasien imunokompromais, obat
golongan menghambat sintesis dari glucan dalam dinding sel melalui enzim Beta (1-3) glucan
synthase:

 Anidulafungin
 Caspofungin
 Micafungin
Echinocandin kurang terabsorbsi ketika diberikan secara oral. Maka perlu diberikan secara
intravena agar tersebar sebagian besar jaringan dan organ dengan konsentrasi dalam plasma
yang cukup untuk mengobati infeksi jamur lokal dan sistemik.[7]
Obat lain[sunting | sunting sumber]

 Asam benzoat – memiliki sifat antifungal, tetapi harus dikombinasikan dengan


agen keratolitikum seperti pada salep Whitfield[8]
 Ciclopirox – (ciclopirox olamine) – antijamur golongan hidroksipiridon yang mengganggu
aktivitas transpor membran, struktur membran sel, dan proses respirasi jamur. Obat Ini
efektif terhadap panau.[9]
 Flusitosin atau 5-fluorositosin – sebuah antimetabolit analog pirimidin [10]
 Griseofulvin – mengikat mikrotubulus terpolimerisasi dan menghambat aktivitas mitosis
jamur
 Haloprogin – penggunaannya telah dihentikan karena adanya antijamur dengan efek
samping yang lebih sedikit[11]
 Kristal violet– zat pewarna triarilmetana, yang mempunyai aktivitas antibakteri, antijamur,
dan anthelmintik dan dulunya penting sebagai antiseptik topikal.[12]
 Balsam Peru mempunyai aktivitas antijamur.[13] [14] [15]

Efek yang tidak diinginkan[sunting | sunting sumber]


Banyak obat antijamur yang menyebabkan reaksi alergi pada orang-orang. Contohnya, obat
golongan azol diketahui menyebabkan anafilaksis.
Selain itu juga terdapat banyak interaksi obat. Pasien harus membaca keterangan yang terlampir
pada kemasan obat. Seperti, antijamur azol yakni ketokonazol atau itrakonazol yang dapat
menjadi substrat dan inhibitor dari glikoprotein-P, yang dapat mengekskresikan racun dan obat
ke usus.[16] Antijamur azol juga merupakan substrat dan inhibitor dari famili sitokrom
P450 CYP3A4,[16] dan menyebabkan peningkatan konsentrasi obat pada plasma ketika diberikan
dengan calcium channel blocker, imunosupresan, obat kemoterapi, benzodiazepin, Antidepresan
trisiklik, makrolida dan Inhibitor ambilan kembali serotonin selektif (SSRI).
Sebelum obat antijamur oral diberikan untuk mengobati penyakit kuku, diperlukan diagnosis
untuk memastikan penyakit tersebut disebabkan oleh jamur.[17] Setengah dari kasus yang diduga
infeksi jamur di kuku disebabkan oleh nonjamur.[17] Efek samping dari pengobatan ini cukup
besar dan pasien yang tidak terinfeksi tidak dianjurkan untuk meminum obat ini.[17]

Mekanisme aksi[sunting | sunting sumber]


Antijamurbekerja dengan memanfaatkan perbedaan antara sel hewan dan jamur untuk
membunuh organisme jamur dengan sedikit efek samping pada pasien. Tidak
seperti bakteri, jamur dan manusia merupakan eukariota. Dengan demikian, sel jamur dan
manusia mempunyai kemiripian pada tingkat biologis. Hal ini membuat sulitnya menemukan obat
yang mentarget jamur tanpa mempengaruhi sel-sel manusia. Karena itu, banyak obat-obatan
antijamur memberikan efek samping. Beberapa efek samping dapat membahayakan manusia
jika obat-obatan tersebut tidak digunakan dengan benar.

Anti fungi atau anti jamur adalah obat-obat yang digunakan untuk menghilangkan infeksi
yang disebabkan oleh jamur. Infeksi oleh jamur dapat terjadi pada:
1. Kulit oleh dermatofit (jamur yang hidup diatas kulit)
2. Selaput lender mulut, bronchi, usus dan vagina oleh sejenis ragi yang disebutcandida
albicans.