Anda di halaman 1dari 8

Hunian sementara (huntara) adalah tempat tinggal sementara selama korban bencana mengungsi,

baik berupa tempat penampungan massal maupun keluarga, atau individual. Huntara tersebut bisa
menggunakan bangunan yang sudah ada atau tempat berlindung yang bisa dibuat dengan cepat
seperti gubug darurat, tenda, dan sebagainya.
Menurut Buku Pedoman Tata Cara Pemberian Bantuan Pemenuhan Kebutuhan Dasar yang
dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, bantuan penampungan/hunian sementara
diberikan dalam bentuk tenda-tenda, barak, atau gedung fasilitas umum/sosial, seperti tempat
ibadah, gedung olah raga, balai desa, dan sebagainya, yang memungkinkan untuk digunakan
sebagai tempat tinggal sementara.
Adapun standar minimal bantuan huntara menurut buku pedoman tersebut yaitu:

 Berukuran 3 (tiga) meter persegi per orang.


 Memiliki persyaratan keamanan dan kesehatan.
 Memiliki aksesibititas terhadap fasilitas umum.
 Menjamin privasi antar jenis kelamin dan berbagai kelompok usia.
Tujuan dibangunnya huntara untuk mengamankan pengungsi dengan menjauhkannya dari tempat
bencana. Bangunan huntara yang meliputi sarana dan pra sarananya hampir semuanya bersifat
non-permanen untuk menekankan fungsinya sebagai tempat tinggal pada masa transisi.
Hal utama yang tidak boleh dilupakan dalam membangun huntara yaitu ketersediaan sarana dan
prasarana infrastruktur, ketersediaan berbagai pelayanan, dan ketersediaan akses. Semua hal
tersebut harus disesuaikan dengan budaya setempat.
Salah satu contoh petunjuk teknis pembangunan huntara di daerah yaitu Pergub Daerah Istimewa
Yogyakarta No. 40.2 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kawasan Hunian Sementara bagi
korban bencana Gunung Merapi. Huntara diperuntukkan bagi kepala keluarga korban bencana alam
Gunung Merapi yang rumah tinggalnya tidak layak huni yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati.
Satu kepala keluarga berhak mendapat satu huntara.
Dana yang digunakan untuk membangun kawasan hunian sementara bersumber pada:

 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana
 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi dan Kabupaten
 Dana Swasta
 Dana masyarakat
 Dana-dana lain yang syah.
Untuk bencana Merapi pemerintah membangun huntara bagi pengungsi di enam titik yaitu huntara
Plosokerep, Gondang, Dongkelsari, Banjarsari, Jetis sumur, dan Kuwang.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X meresmikan huntara (ugm.ac.id)

Huntara lahar hujan

Kronika
 2008 - Dikeluarkannya Peraturan Kepala BNPB No. 7 Tahun 2008 tentang Pedoman Tata Cara
Pemberian Bantuan Pemenuhan Kebutuhan
 2010, 19 November - Pemerintah Kabupaten Mentawai mengeluarkan keputusan Bupati
Kepulauan Mentawai No. 188.45-280 tahun 2010 tentang Penetapan Lokasi Relokasi
Pembangunan Hunian Sementara Masyarakat Korban Gempa Bumi dan Tsunami 25 Oktober
2010
 2010 - Pemerintah DIY mengeluarkan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No.
40.2 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kawasan Hunian Sementara
 2010-2011 - Universitas Gadjah Mada membangun 1.017 hunian sementara bagi korban
bencana Merapi
 2011, 21 Mei - Disaster Unit Response UGM (DERU) LPPM UGM dan BAZNAS mengadakan
rapat koordinasi mengenai acara peresmian HUNTARA Kuwang di daerah Jalan Magelang-
Yogya
 2011 - Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Gubernur DIY meresmikan huntara yang
pertama bagi korban letusan Gunung Merapi

Sumber : http://bencanapedia.id/Hunian_sementara

Terpisah, Universitas Gajah Mada (UGM) sudah menyiapkan model rumah hunian sementara. Dosen
Teknik Arsitek UGM Ir Ikaputra menjelaskan, UGM akan menginisiasi dengan membangun 87 rumah
untuk pengungsi dari dusun Kinahrejo di lahan Purwomartani, Sleman.

Dikatakan, lahan yang diperlukan untuk membangun hunian sementara ini mencapai 1,5 hektare dan
bisa ditempati 87 Kepala Keluarga (KK). Masing-masing KK akan menempati lahan seluas 150 meter
persegi. “Model rumah yang akan dibangun ini berbahan dasar kayu atau bambu, lengkap dengan lahan
pekarangan untuk mendukung aktivitas peternakan dan pertanian. Luas areal rumah 18 meter persegi.
Sisanya untuk kandang dan pekarangan, karena lebih dari setengah pengungsi memiliki ternak. Jadi
mereka bisa tinggal sambil memberi makan sapinya, sambil menunggu kejelasan lokasi hunian yang
permanen,” katanya.

Untuk mendukung aktivitas pengungsi selama menempati rumah hunian sementara ini, UGM akan
melibatkan tim dari fakultas seperti Fakultas Kehutanan, Peternakan, Kedokteran Hewan, Ekonomika dan
Bisnis, dan Ilmu Budaya untuk mengadakan pelatihan dan pemberdayaan. “Akan ada kandang ternak,
pembuatan biogas dan aktivitas ekonomi lainnya,” ucapnya.

Pembuatan 87 rumah hunian sementara ini diperkirakan akan menelan biaya dana Rp 783 juta (rumah
bambu) dan Rp 1, 56 milyar (model kayu). Satu rumah dari bahan bambu memakan biaya Rp 9 juta,
sedang rumah berbahan kayu Rp 18 juta. Ikaputra menegaskan, pembangunan rumah hunian sementara
ini tengah diusulkan ke Pemda DIY.

Sumber : http://sp.beritasatu.com/nasional/kompensasi-korban-merapirumah-rusak-berat-rp-15-juta/1139

Penampungan pengungsi (Idps) muncul dalam kondisi yang spesifik dan bertempat tinggal dalam
beragam cara, seringnya berada dalam area yang ‘tidak berpenghuni/ fasilitas umum’ dan bahkan
membuat sebuah penampungan sendiri. Terkadang pula, Idps membuat sebuah perkampungan baru
yang tersebar dibeberapa tempat dan kadang tinggal pada rumah-rumah penduduk.
Organisasi kemanusiaan terbiasa dihadapkan dengan dua kemungkinan situasi; entah itu penampungan
yang sudah ada atas inisiatif Idps sendiri atau bahkan yang baru akan dibuatkan oleh
pemerintah/lembaga kemanusiaan sebelum mereka dipindahkan

Definisi

Penampungan darurat adalah kegiatan suatu kelompok manusia yang memiliki kemampuan untuk
menampung korban bencana dalam jangka waktu tertentu, dengan menggunakan bangunan yang telah
ada atau tempat berlindung yang dapat dibuat dengan cepat seperti tenda, gubuk darurat, dan
sebagainya.

Tujuan

Menyelamatkan atau mengamankan penderita dengan menjauhkannya dari tempat bencana yang
dianggap berbahaya, ketempat yang aman agar dapat memudahkan pemberian bantuan dan
pertolongan secara menyeluruh dan terpadu tanpa menimbulkan kesulitan baru yang sukar diatasi.

Pengorganisasian

A. Sasaran

1. Sasaran utama operasi pengungsian ialah memindahkan penduduk (termasuk yang luka/sakit) dari
daerah bencana ketempat lain yang sudah disiapkan.

2. Berusaha memperkecil kemungkinan terjadinya korban atau resiko baik fisik, material maupun
spiritual ditempat terjadinya bencana dan pada saat pelaksanaan pengungsian menuju ke penampungan
sementara

B. Prioritas

Yang pertama-tama harus dilakukan ialah memindahkan orang – orang yang luka berat atau pasien –
pasien yang memerlukan perawatan lebih lanjut ke Rumah Sakit terdekat atau Rumah Sakit Rujukan.

C. Langkah-langkah yang perlu diambil

1. Membantu meyakinkan penduduk bahwa demi keselamatan mereka harus diungsikan ketempat
yang lebih aman ;

2. Menyiapkan suatu bentuk atau sistem transportasi yang tepat bagi penduduk yang diungsikan ;

3. Menyiapkan persediaan dan memberikan makanan, minuman dan keperluan lain yang cukup untuk
penduduk yang akan diungsikan selamam dalam perjalanan samapai ketempat penampungan
sementara ;
4. Menyiapkan obat – obatan dan memberikan perawatan medis selama dalam perjalanan

5. Menyelenggarakan pencatatan nama – nama penduduk yang diungsikan termasuk yang luka, sakit
dan meninggal dunia ;

6. Membantu petugas keamanan setempat dalam melindungi harta milik dan barang-barang
kebutuhan hidup penduduk yang diungsikan ;

7. Sesampai di tempat tujuan para pengungsi hendaklah diserah terimakan secara baik kepada
pengurus penampungan sementara atau darurat untuk penanganan lebih lanjut

Persyaratan dan jenis penampungan sementara

Persyaratan penampungan sementara

1. Pemilihan tempat meliputi

Ø Lokasi penampungan seharusnya berada didaerah yang bebas dari seluruh ancaman yang berpotensi
terhadap gangguan keamanan baik internal maupun external;

Ø Jauh dari lokasi daerah rawan bencana;

Ø Hak penggunaan lahan seharusnya memiliki keabsahan yang jelas; diutamakan hasil dari koordinasi
dengan pemerintah setempat;

Ø Memiliki akses jalan yang mudah;

Ø Dekat dengan sumber mata air, sehubungan dengan kegiatan memasak dan MCK;

Ø Dekat dengan sarana-sarana pelayanan sosial termasuk pelayanan kesehatan, olahraga, sekolah dan
tempat beribadah atau dapat disediakan secara memadai.

2. Penampungan harus dapat meliputi kebutuhan ruangan

Ø Lokasi penampungan seharusnya berada didaerah yang bebas dari seluruh ancaman yang berpotensi
terhadap gangguan keamanan baik internal maupun external;

Ø Jauh dari lokasi daerah rawan bencana;

Ø Hak penggunaan lahan seharusnya memiliki keabsahan yang jelas; diutamakan hasil dari koordinasi
dengan pemerintah setempat;

Ø Memiliki akses jalan yang mudah;

Ø Dekat dengan sumber mata air, sehubungan dengan kegiatan memasak dan MCK;
Ø Dekat dengan sarana-sarana pelayanan sosial termasuk pelayanan kesehatan, olahraga, sekolah dan
tempat beribadah atau dapat disediakan secara memadai.

3. Bahan pertimbangan untuk penampungan

Ø Idealnya, ada beberapa akses untuk memasuki areal penampungan dan bukan merupakan akses
langsung dari komunitas terdekat;

Ø Tanah diareal penampungan seharusnya memiliki tingkat kemiringan yang landai untuk melancarkan
saluran pembuangan air;

Ø Tanah diareal penampungan seharusnya bukan merupakan areal endemik penyakit;

Ø Lokasi penampungan seharusnya tidak dekat dengan habitat yang dilindungi atau dilarang seperti
kawasan konservasi hutan, perkebunan, lahan tanaman;

Ø Pengalokasian tempat penampungan seharusnya menggunakan cara yang bijak mengikuti dengan
adat budaya setempat;

Ø Libatkan masyarakat dalam pemilihan lokasi dan perencanaan

4. Penampungan harus dapat meliputi kebutuhan ruangan :

Ø Posko

Ø Pos Pelayanan Komunikasi

Ø Pos Dapur Umum

Ø Pos Watsan

Ø Pos TMS

Ø Pos PSP

Ø Pos Humas dan Komunikasi

Ø Pos Relief dan Distribusi

Ø Pos Assessment

Ø Pos Pencarian dan Evakuasi

Jenis penampungan Sementara

Untuk menampung korban bencana diperlukan tempat penampungan sementara berupa :

1. Bangunan yang sudah tersedia yang bisa dimanfaatkan


Contoh : gereja, masjid, sekolahan, balai desa, gudang

2. Tenda ( penampungan darurat yang paling praktis )

Contoh : tenda pleton, tenda regu, tenda keluarga, tenda pesta

3. Bahan seadanya

Contoh : kayu, dahan , ranting, pelepah kelapa dll

Perencanaan dan Pelaksanaan

Perencanaan

Setelah data assesment diperoleh, maka rencana umum harus diketahui oleh semu petugas pada saat
aman (kesiapsiagaan) , meliputi :

1. Waktu yang diperlukan untuk menuju ke daerah rawan bencana dan lokasi penampungan

2. Tempat Penampungan Sementara dapat menampung beberapa pengungsi

3. Beberapa bangunan yang dapat dipakai dan di mana bengunan itu dapat dipakai untuk menampung
pengungsi

4. Personil yang dibutuhkan

5. Peralatan yang diperlukan

Pelaksanaan

• Lahan yang dibutuhkan untuk satu jiwa 45 m2;

• Ruang tenda/shelter per jiwa 3.5 m2;

• Jumlah jiwa untuk satu tempat pengambilan air = 250 jiwa;

• Jumlah jiwa untuk satu MCK = 20 jiwa;

• Jarak ke sumber air tidak melampui jarak 15 m;

• Jarak ke MCK 30 m;

• Jarak sumber air dengan MCK 100 m

• Jarak antara dua tenda/shelter minimal 2 m

Sumber : http://pmikaltim.blogspot.co.id/2013/05/penampungan-sementara_13.html
BACAAN BAGUS TTG BAMBU

http://kharismabambu.blogspot.co.id/