Anda di halaman 1dari 26

Makalah Pemanfaatan Batubara

Pembuatan Metanol Dari Proses Gavifikasi


Batubara

Disusun oleh: Kelompok III

Dosen Pembimbing: Ir. Fadarina M.T


Kelas: 5.KA
Jurusan : Teknik Kimia
Nama Anggota: 1. Anggik Pratama (061330400289)
2. Beryl Kholif Arrahman (061330400292)
3. Dwi Sandi Wahyudi (061330400297)

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


Jalan Srijaya Negara Bukit Besar Palembang 30139 Telepon : +620711353414
Fax: +62711355918 Web : http :// www.polsri.ac.id atau
http://www.polisriwijaya.ac.id Email : info@polsri.ac.id
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan
Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Pembuatan
Methanol dari Proses Gasifikasi Batubara”

Makalah ini berisikan tentang informasi lebih khususnya membahas


mengenai pembuatan methanol dari gasifikasi batubara. Kami menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua
pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah
ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Banjarbaru, 27 Maret
2013

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1

1.2 Sejarah Ditemukannya Batubara ................................................... 1

1.3 Pengertian Batubara ...................................................................... 2

1.4 Materi Pembentuk Batubara .......................................................... 3

1.5 Klasifikasi Batubara ...................................................................... 4

1.6 Sifat-Sifat Batubara ....................................................................... 6

BAB II ISI ....................................................................................................... 8

BAB III PENUTUP ........................................................................................ 20

3.1 Kesimpulan ................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 21


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu daerah penghasil tambang batu bara terbesar
di dunia. Salah satu daerah penghasil tambang terbesar di Indonesia adalah
Kalimantan Selatan. Pertumbuhan tambang di Kalimantan Selatan sendiri semakin
pesat karena semakin banyak lahan tambang baru yang ditemukan.
Kebanyakan bahan kimia dari batubara pada mulanya diperoleh melalui
proses distilasi destruktif, yang menghasilkan terutama bahan-bahan aromatik.
Beberapa tahun terakhir ini, sebagian besar zat aromatik, terutama benzene,
toluene, xilena, naftalena, dan metilnaftalena didapat dari pengolahan minyak bumi.
Dengan semakin majunya penerapan kenversi batubara secara kimia, maka akan
lebih banyak lagi jenis bahan kimia yang bisa dibuat dari batubara.
Batubara merupakan cadangan bahan baku yang mendapat perhatian terbesar
didunia. Batubara juga merupakan sumber energi yang murah untuk pemanasan
maupun pembangkit tenaga yang diperlukan untuk suatu proses. Oleh karena itu,
pengolahan batubara yang baik diperlukan agar penggunaan batubara sebagai
sumber energi tidak merusak keseimbangan ekosistem di bumi pertiwi ini.

1.2 Sejarah ditemukannya “Batubara”


Beberapa ahli sejarah meyakini bahwa batubara pertama kali digunakan
secara komersial di Cina. Ada laporan yang menyatakan bahwa suatu tambang di
timur laut Cina menyediakan batu bara untuk mencairkan tembaga dan untuk
mencetak uang logam sekitar tahun 1000 SM. Bahkan petunjuk paling awal tentang
batubara ternyata berasal dari filsuf dan ilmuwan Yunani yaitu Aristoteles, yang
menyebutkan adanya arang seperti batu. Abu batu bara yang ditemukan di
reruntuhan bangunan bangsa Romawi di Inggris juga menunjukkan bahwa batubara
telah digunakan oleh bangsa Romawi pada tahun 400 SM.
Catatan sejarah dari Abad Pertengahan memberikan bukti pertama
penambangan batu bara di Eropa, bahkan suatu perdagangan internasional batu bara
laut dari lapisan batu bara yang tersingkap di pantai Inggris dikumpulkan dan
diekspor ke Belgia. Selama Revolusi Industri pada abad 18 dan 19, kebutuhan akan
batubara amat mendesak. Penemuan revolusional mesin uap oleh James Watt, yang
dipatenkan pada tahun 1769, sangat berperan dalam pertumbuhan penggunaan batu
bara. Oleh karena itu, riwayat penambangan dan penggunaan batu bara tidak dapat
dilepaskan dari sejarah Revolusi Industri, terutama terkait dengan produksi besi dan
baja, transportasi kereta api dan kapal uap.
Namun tingkat penggunaan batubara sebagai sumber energi primer mulai
berkurang seiring dengan semakin meningkatnya pemakaian minyak. Dan
akhirnya, sejak tahun 1960 minyak menempati posisi paling atas sebagai sumber
energi primer menggantikan batubara. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa
batubara akhirnya tidak berperan sama sekali sebagai salah satu sumber energi
primer.
Krisis minyak pada tahun 1973 menyadarkan banyak pihak bahwa
ketergantungan yang berlebihan pada salah satu sumber energi primer, dalam hal
ini minyak, akan menyulitkan upaya pemenuhan pasokan energi yang kontinyu.
Selain itu, labilnya kondisi keamanan di Timur Tengah yang merupakan produsen
minyak terbesar juga sangat berpengaruh pada fluktuasi harga maupun stabilitas
pasokan (Iptek, 2013)

1.3 Pengertian Batubara


Istilah batubara merupakan hasil terjemahan dari “coal”. Disebut batubara
mungkin karena dapat terbakar seperti halnya arang kayu. Batubara adalah batuan
sedimen yang secara kimia dan fisika adalah heterogen dan mengandung unsur-
unsur karbon, hidrogen dan oksigen sebagai unsur utama dan belerang serta
nitrogen sebagai unsur tambahan. Zat lain, yaitu senyawa organik pembentuk “ash”
tersebar sebagai partikel zat mineral dan terpisah-pisah di seluruh senyawa
batubara. Beberapa jenis batu meleleh dan menjadi plastis apabila dipanaskan,
tetapi meninggalkan residu yang disebut kokas. Batubara dapat dibakar untuk
membangkitkan uap atau dikarbonisasikan untuk membuat bahan bakar cair atau
dihidrogenisasikan untuk membuat metan. Gas sintetis atau bahan bakar berupa gas
dapat diproduksi sebagai produk utama dengan jalan gasifikasi sempurna dari
batubara dengan oksigen dan uap atau udara dan uap (Permana : 2011).
Batubara awalnya merupakan bahan organik yang terakumulasi dalam rawa-
rawa yang dinamakan peat. Pembentukan batubara memerlukan kondisi-kondisi
tertentu dan hanya terjadi pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman
karbon kira-kira 340 juta tahun yang lalu (Jtl) adalah masa pembentukan Batubara
yang paling produktif (Arief : 2012).

1.4 Materi pembentuk batu bara


Hampir seluruh pembentuk batu bara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis
tumbuhan pembentuk batu bara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah
sebagai berikut:
 Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal.
Sangat sedikit endapan batu bara dari perioda ini.
 Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga.
Sedikit endapan batu bara dari perioda ini.
 Pteridofita, umur Devon Atas hingga Karbon Atas. Materi utama pembentuk
batu bara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa
bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.
 Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur
Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus,
mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti
gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batu bara Permian
seperti di Australia, India dan Afrika.
 Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern,
buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah
dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan

1.5 Klasifikasi Batubara


Klasifikasi batu bara berdasarkan tingkat pembatubaraan biasanya
dimaksudkan untuk menentukan tujuan pemanfaatannya. Misalnya, batu bara
bintuminus banyak digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik, pada industri
baja atau genteng serta industri semen (batu bara termal atau steam coal). Adapun
batu bara antrasit digunakan untuk proses sintering bijih mineral, proses pembuatan
elektroda listrik, pembakaran batu gamping, dan untuk pembuatan briket tanpa
asap.
Tipe batu bara berdasarkan tingkat pembatubaraan ini dapat dikelompokkan
sebagai berikut :
a. Lignite
Disebut juga batu bara muda. Merupakan tingkat terendah dari batu bara,
berupa batu bara yang sangat lunak dan mengandung air 70% dari beratnya. Batu
bara ini berwarna hitam, sangat rapuh, nilai kalor rendah dengan kandungan karbon
yang sangat sedikit, kandungan abu dan sulfur yang banyak. Batu bara jenis ini
dijual secara eksklusif sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga uap
(PLTU).

Gambar 1.1 Lignite

b. Sub-Bituminous
Karakteristiknya berada di antara batu bara lignite dan bituminous, terutama
digunakan sebagai bahan bakar untuk PLTU. Sub-bituminous coal mengandung
sedikit carbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang tidak
efisien.

Gambar 1.2 Sub-Bituminous

c. Bituminous :
Batu bara yang tebal, biasanya berwarna hitam mengkilat, terkadang cokelat
tua. Bituminous coal mengandung 86% karbon dari beratnya dengan kandungan
abu dan sulfur yang sedikit. Umumnya dipakai untuk PLTU, tapi dalam jumlah
besar juga dipakai untuk pemanas dan aplikasi sumber tenaga dalam industri
dengan membentuknya menjadi kokas-residu karbon berbentuk padat.
Gambar 1.3 Bituminous

d. Anthracite
Peringkat teratas batu bara, biasanya dipakai untuk bahan pemanas ruangan di
rumah dan perkantoran. Anthracite coal berbentuk padat (dense), batu-keras dengan
warna jet-black berkilauan (luster) metallic, mengandung antara 86% – 98% karbon
dari beratnya, terbakar lambat, dengan batasan nyala api biru (pale blue flame)
dengan sedikit sekali asap.

Gambar 1.4 Anthracite

(Ratna, 2010).

1.6 Sifat-Sifat Batubara


Berdasarkan klasifikasi batubara yang telah disebutkan diatas, ternyata setiap
jenis batubara memiliki sifat-sifat yang berbeda pula. Berikut ini, merupakan sifat-
sifat batubara menurut jenisnya:
a. Sifat batubara jenis lignit (brown coal)
Jenis batubara ini memiliki sifat :
1. Warna hitam, sangat rapuh.
2. Nilai kalor rendah, kandungan karbon sedikit.
3. Kandungan air tinggi.
4. Kandungan abu banyak.
5. Kandungan sulfur banyak.
(Sheila, 2010).

b. Sifat batubara jenis bituminous / subbituminous


Jenis batubara ini memiliki sifat :
1. Warna hitam mengkilat, kurang kompak.
2. Nilai kalor tinggi, kandungan karbon relatif tinggi.
3. Kandungan air sedikit.
4. Kandungan abu sedikit.
5. Kandungan sulfur sedikit.

c. Sifat batubara jenis anthracite


Jenis batubara ini memiliki sifat :
1. Warna hitam sangat mengkilat dan kompak.
2. Nilai kalor sangat tinggi, kandungan karbon sangat tinggi.
3. Kandungan air sangat sedikit.
4. Kandungan abu sangat sedikit.
5. Kandungan sulfur sangat sedikit.

Ada beberapa sifat batubara yang harus diperhatikan ketika memilih batubara
untuk suatu kegiatan produksi, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Kadar sulfur
Kadar sulfur adalah salah satu elemen pembakaran dalam batubara dan
menghasilkan energi, hasil pembakaran utama yaitu sulfur dioksida (SO2), adalah
bahan polutan utama bagi atmosfer.
2. Karakteristik pembakaran
Batubara haruslah yang bersifat dapat terbakar bebas, bila batubara akan
dibakar pada tempat yang stasioner dengan pergerakan kecil.
3. Daya tahan terhadap cuaca
Daya tahan terhadap cuaca dari suatu batubara adalah suatu ukuran tentang
kemampuan batubara tetap berada dalam keadaan terbuka unsur-unsur lingkungan
tanpa mengalami pecah-pecah yang berlebihan. Semua pembangkit besar yang
menggunakan bahan bakar batubara, biasanya menyimpan cadangan batubara
dalam tumpukan besar di dekat pusat pembangkit tersebut.

4. Temperatur pelunakan abu


Temperatur pelunakan abu adalah suatu pertimbangan penting pula dalam
pemilihan batubara untuk suatu sistem pembangkit tertentu. Temperatur pelunakan
abu adalah temperatur dimana abu menjadi sangat plastis, beberapa derajat di
bawah titik lebur abu.

5. Kemampuan untuk digerinda


Sifat penting lainnya yang harus diperhatikan ketika memilih batubara untuk
suatu pusat pembangkit ialah indeks dapat digerindanya. Hal ini khususnya berlaku
untuk sistem-sistem tenaga yang menggunakan serbuk batubara dimana batubara
digerinda menjadi serbuk tepung yang sangat halus.

6. Kandungan energi batubara


Kadar energi atau nilai pembakaran batubara adalah sifat yang sangat penting.
Nilai pembakaran menunjukkan jumlah energi kimia yang terdapat dalam suatu
massa bahan bakar.
BAB II
PEMBAHASAN

Integrated Coal Gasification Combined Cycle


Teknologi IGCC merupakan merupakan salah satu teknologi batubara
bersih yang sekarang dalam tahap pengembangan. Istilah IGCC ini merupakan
istilah yang paling banyak digunakan untuk menyatakan daur kombinasi gasifikasi
batubara terintegrasi. Meskipun demikian masih ada beberapa istilah yang
digunakan yaitu ICGCC (Integrated Coal Gasification Combined Cycle) dan
CGCC (Coal Gasification Combined Cycle) yang sama artinya.
Komponen utama dalam riset IGCC adalah pengembangan teknik gasifikasi
batubara. Gasifikasi batubara pada prinsipnya adalah suatu proses perubahan
batubara menjadi gas yang mudah terbakar. Proses ini melalui beberapa proses
kimia dalam reaktor gasifikasi (gasifier). Mula-mula batubara yang sudah diproses
secara fisis diumpankan ke dalam reaktor dan akan mengalami proses pemanasan
sampai temperatur reaksi serta mengalami proses pirolisa (menjadi bara api).
Kecuali bahan pengotor, batubara bersama-sama dengan oksigen dikonversikan

menjadi hidrogen, karbon monoksida dan methana. Proses gasifikasi batubara


berdasarkan sistem reaksinya dapat dibagi menjadi empat macam yaitu : fixed bed,
fluidized bed, entrained flow dan molten iron bath.
Dalam fixed bed, serbuk batubara yang berukuran antara 3 – 30 mm diumpankan
dari atas reaktor dan akan menumpuk karena gaya beratnya. Uap dan udara (O2)
dihembuskan dari bawah berlawanan dengan masukan serbuk batubara akan
bereaksi membentuk gas. Reaktor tipe ini dalam prakteknya mempunyai beberapa
modifikasi diantaranya adalah proses Lurgi, British Gas dan KILnGas.
Sedangkan proses yang menggunakan prinsip fluidized bed adalah High-
Temperature Winkler, Kellog Rust Westinghouse, dan U-gas. Dalam fluidized
bed gaya dorong dari uap dan O2 akan setimbang dengan gaya gravitasi sehingga
serbuk batubara dalam keadaan mengambang pada saat terjadi proses gasifikasi.
Serbuk batubara yang digunakan lebih halus dan berukuran antara 1 – 5 mm.
Dalam entrained flow serbuk batubara yang berukuran 0.1 mm dicampur dengan
uap dan O2 sebelum diumpankan ke dalam reaktor. Proses ini telah digunakan untuk
memproduksi gas sintetis dengan nama proses Koppers-Totzek. Proses yang
sejenis kemudian muncul seperti proses PRENFLO,Shell, Texaco , dan DOW.
Proses molten iron bath merupakan pengembangan dalam proses industri baja.
Serbuk batubara diumpankan ke dalam reaktor bersama-sama dengan kapur dan O2.
Kecuali proses molten iron bath semua proses telah digunakan untuk keperluan
pembangkit listrik.
Saat ini teknologi IGCC sedang dikembangkan di seluruh dunia, seperti :
Jepang, Belanda, Amerika Serikat dan Spanyol. Di samping proses gasifikasi yang
terus mengalami perbaikan, gas turbin jenis baru juga terus dikembangkan.
Temperatur masukan gas turbin yang tinggi akan dapat menaikkan efisiensi dan ini
dapat dicapai dengan penggunaan material baru dan perbaikan sistem
pendinginnya.
IGCC merupakan perpaduan teknologi gasifikasi batubara dan proses
pembangkitan uap. Gas hasil gasifikasi batubara mengalami proses pembersihan
sulfur dan nitrogen. Sulfur yang masih dalam bentuk H2S dan nitrogen dalam
bentuk NH3 lebih mudah dibersihkan sebelum dibakar dari pada sudah dalam
bentuk oksida dalam gas buang. Sedangkan abu dibersihkan dalam reaktor
gasifikasi. Gas yang sudah bersih ini dibakar di ruang bakar dan kemudian gas hasil
pembakaran disalurkan ke dalam turbin gas untuk menggerakkan generator. Gas
buang dari turbin gas dimanfaatkan dengan menggunakan HRSG (Heat Recovery
Steam Generator) untuk membangkitkan uap. Uap dari HRSG (setelah turbin gas)
digabungkan dengan uap dari HRSG (setelah reaktor gasifikasi) digunakan untuk
menggerakkan turbin uap yang akan menggerakkan generator.
Pada proses pembuatan metanol dari batubara, menggunakan reaktor
Fluidized Bed karena memiliki keunggulan yaitu:
1. Mampu memproses bahan baku berkualitas rendah,
2. Kontak antara padatan dan gas bagus,
3. Luas permukaan reaksi besar sehingga reaksi dapat berlangsung dengan cepat,
4. Efisiensi tinggi, dan
5. Emisi rendah.
Reaksi yang terjadi pada Fluidized Bed umumnya terdiri dari empat proses,
yaitu pengeringan, pirolisis, oksidasi, dan reduksi. Pada gasifier jenis ini, kontak
yang terjadi saat pencampuran antara gas dan padatan sangat kuat sehingga
perbedaan zona pengeringan, pirolisis, oksidasi, dan reduksi tidak dapat dibedakan.
Salah satu cara untuk mengetahui proses yang berlangsung pada gasifier jenis ini
adalah dengan mengetahui rentang temperatur masing-masing proses, yaitu:
 Pengeringan: T > 150 °C
 Pirolisis/Devolatilisasi: 150 < T < 700 °C
 Oksidasi: 700 < T < 1500 °C
 Reduksi: 800 < T < 1000 °C

Proses pengeringan, pirolisis, dan reduksi bersifat menyerap panas


(endotermik), sedangkan proses oksidasi bersifat melepas panas (eksotermik). Pada
pengeringan, kandungan air pada bahan bakar padat diuapkan oleh panas yang
diserap dari proses oksidasi. Pada pirolisis, pemisahan volatile matters (uap air,
cairan organik, dan gas yang tidak terkondensasi) dari arang atau padatan karbon
bahan bakar juga menggunakan panas yang diserap dari proses oksidasi.
Pembakaran mengoksidasi kandungan karbon dan hidrogen yang terdapat pada
bahan bakar dengan reaksi eksotermik, sedangkan gasifikasi mereduksi hasil
pembakaran menjadi gas bakar dengan reaksi endotermik. Penjelasan lebih lanjut
mengenai proses-proses tersebut disampaikan pada uraian berikut ini.

Pirolisis
Pirolisis atau devolatilisasi disebut juga sebagai gasifikasi parsial. Suatu
rangkaian proses fisik dan kimia terjadi selama proses pirolisis yang dimulai secara
lambat pada T < 350 °C dan terjadi secara cepat pada T > 700 °C. Komposisi produk
yang tersusun merupakan fungsi temperatur, tekanan, dan komposisi gas selama
pirolisis berlangsung. Proses pirolisis dimulai pada temperatur sekitar 230 °C,
ketika komponen yang tidak stabil secara termal, seperti lignin pada biomassa dan
volatile matters pada batubara, pecah dan menguap bersamaan dengan komponen
lainnya. Produk cair yang menguap mengandung tar dan PAH (polyaromatic
hydrocarbon). Produk pirolisis umumnya terdiri dari tiga jenis, yaitu gas ringan
(H2, CO, CO2, H2O, dan CH4), tar, dan arang. Secara umum reaksi yang terjadi pada
pirolisis beserta produknya adalah:

Oksidasi (Pembakaran)
Oksidasi atau pembakaran arang merupakan reaksi terpenting yang terjadi
di dalam gasifier. Proses ini menyediakan seluruh energi panas yang dibutuhkan
pada reaksi endotermik. Oksigen yang dipasok ke dalam gasifier bereaksi dengan
substansi yang mudah terbakar. Hasil reaksi tersebut adalah CO2 dan H2O yang
secara berurutan direduksi ketika kontak dengan arang yang diproduksi pada
pirolisis. Reaksi yang terjadi pada proses pembakaran adalah:

C + O2 -> CO2 + 393.77 kJ/mol karbon

Reaksi pembakaran lain yang berlangsung adalah oksidasi hidrogen yang


terkandung dalam bahan bakar membentuk kukus. Reaksi yang terjadi adalah:

H2 + ½ O2 -> H2O + 742 kJ/mol H2

Reduksi (Gasifikasi)
Reduksi atau gasifikasi melibatkan suatu rangkaian reaksi endotermik yang
disokong oleh panas yang diproduksi dari reaksi pembakaran. Produk yang
dihasilkan pada proses ini adalah gas bakar, seperti H2, CO, dan CH4. Reaksi berikut
ini merupakan empat reaksi yang umum telibat pada gasifikasi.
a. Water-gas reaction
Water-gas reaction merupakan reaksi oksidasi parsial karbon oleh kukus yang
dapat berasal dari bahan bakar padat itu sendiri (hasil pirolisis) maupun dari
sumber yang berbeda, seperti uap air yang dicampur dengan udara dan uap yang
diproduksi dari penguapan air. Reaksi yang terjadi pada water-gas reaction adalah:

C + H2O -> H2 + CO – 131.38 kJ/kg mol karbon

Pada beberapa gasifier, kukus dipasok sebagai medium penggasifikasi dengan


atau tanpa udara/oksigen.
1. Boudouard reaction
Boudouard reaction merupakan reaksi antara karbondioksida yang terdapat di
dalam gasifier dengan arang untuk menghasilkan CO. Reaksi yang terjadi pada
Boudouard reaction adalah:
CO2 + C -> 2CO – 172.58 kJ/mol karbon

2. Shift conversion
Shift conversion merupakan reaksi reduksi karbonmonoksida oleh kukus untuk
memproduksi hidrogen. Reaksi ini dikenal sebagai water-gas shift yang
menghasilkan peningkatan perbandingan hidrogen terhadap karbonmonoksida pada
gas produser. Reaksi ini digunakan pada pembuatan gas sintetik. Reaksi yang
terjadi adalah sebagai berikut:
CO + H2O -> CO2 + H2 – 41.98 kJ/mol

3. Methanation
Methanation merupakan reaksi pembentukan gas metan. Reaksi yang terjadi
pada methanation adalah:
C + 2H2 -> CH4 + 74.90 kJ/mol karbon
Pembentukan metan dipilih terutama ketika produk gasifikasi akan digunakan
sebagai bahan baku indutri kimia. Reaksi ini juga dipilih pada aplikasi IGCC
(Integrated Gasification Combined-Cycle) yang mengacu pada nilai kalor metan
yang tinggi. . Batubara muda merupakan alternatif yang baik terutama batubara
muda yang mempunya kandungan air hingga 35%, yang tidak ekonomis untuk
diangkut dan diperdagangkan. Batubara keberadaannya hampir merata dibanding
dengan sumber minyak bumi. Gas metan memang lebih mudah untuk dipergunakan
pada proses FT, namun gas ini telah mempunyai harga mahal. Bahkan gas ini dapat
pula diproduksi dari batu bara dengan proses FT memerlukan biaya 3-3,5 USD per
MMBtu, bandingkan dengan harga gas alam jenis yang sama mempunyai harga bisa
dua kali lipat.

Diagram Kualitatif Flow Diagram Process Pembuatan Metanol dengan


Gasifikasi Batubar

Pertama batubara masuk sebagai aliran 1 dengan kondisi temperatur 30°C, dan
tekanan 1 atm ke dalam Hopper (F-111). Di Hopper terdapat WC (Weight Control),
keluar sebagai aliran 2, pada kondisi temperatur 30°C dan tekanan 1 atm. Kemudian
masuk ke Reaktor Fluidized Bed (R-110), reaktor fluidized bed adalah jenis reaktor
kimia yang dapat digunakan untuk mereaksikan bahan dalam keadaan banyak fase.
Reaktor jenis ini menggunakan fluida (cairan atau gas) yang dialirkan melalui
katalis padatan (biasanya berbentuk butiran-butiran kecil) dengan kecepatan yang
cukup sehingga katalis akan tertolak sedemikian rupa dan akhirnya katalis tersebut
dapat di analogikan sebagai fluida juga. Proses ini, dinamakan fluidisasi. ketika di
Reaktor terdapat Pressure Control, kemudian dinaikkan tekanannya menjadi 18
atm dan temperaturnya naik menjadi 760°C sebagai aliran ke-7.
Disini bahan lain selain batubara adalah udara, udara masuk sebagai aliran ke-
3 dengan kondisi T = 29°C dan P = 1 atm, di flow ini ada FC untuk mengontrolnya
kemudian bahan ini masuk ke Kompresor (G-113), bahan ini sebagai aliran ke-5
dengan T = 29°C dan P = 9,5 atm. Lalu masuk ke Furnace (Q-114) yang bertugas
untuk memanaskan udara, udara yang telah dipanaskan keluar sebagai aliran ke-6
dengan T = 760°C dan P = 18 atm kemudian udara masuk bercampur ke Reaktor
Fluidized Bed (R-110) dengan umpan Batubara awal tadi.
Keluar dari Reaktor, bahan masuk ke Siklon (H-115) dan keluar sebagai aliran
ke-8 dengan temperatur 760°C dan tekanan 18 atm. Kemudian masuk ke Expander
(G-116), ada PC disini, fungsi dari expander sendiri adalah untuk menurunkan
tekanan jadi bahan tadi keluar sebagai aliran ke-9 dengan temperatur 759,7°C dan
tekanan 10,2 atm. Masuk ke Cooler (E-117) ada TC disini, sebagai aliran ke-10,
dengan T = 400°C dan P = 10,2 atm. Kemudian masuk ke Absorber H2 S (D-210)
ada PC disini dan masuk ke Expander (G-211) sebagai aliran ke-12 dengan T =
395,5°C dan P = 10,2 atm. Masuk ke Cooler (G-212) , seharusnya kode ini adalah
(E-212), disini ada TC dan bahan keluar sebagai aliran ke-13 dengan T = 70°C dan
P = 6,5 atm, setelah keluar ada FC.
Masuk ke Absorber CO2 (D-220), ada PC disini dan kemudian terdapat 2 aliran
yaitu aliran yang masih bisa digunakan dan aliran sisa. Aliran sisa akan bertindak
sebagai aliran ke-25 dan T = 115°C dan P = 6,5 atm dan masuk ke Tangki Gas
Buang (F-223). Kemudian aliran yang masih bisa digunakan masuk sebagai aliran
ke-14 dan T = 115°C dan P = 6,5 atm. Bahan diteruskan ke Expander (G-221) dan
ke Cooler (E-222), bahan ini sebagai aliran ke-16 dan T = 115°C dan P = 1,1 atm
ada TC disini untuk mengatur temperatur, keluar dari TC sebagai aliran ke-15, T =
114,8°C dan P = 1,1 atm, disini ada FC untuk mengatur Flownya bahan kemudian
masuk ke Stripper (D-230).
Ada sisa bahan yang masuk ke Tangki Benlield (F-231) dengan T = 37°C dan
P = 1,1 atm. Sisa bahan lain masuk sebagai aliran ke-17 dengan T = 119,4°C dan P
= 1,1 atm ke Expander (G-232). Keluar dari Expander sebagai aliran ke-18 dan T =
114,4°C dan P = 2,9 atm kemudian diteruskan ke Cooler (E-233) disini ada TC,
keluar dari Cooler masuk ke Tangki Hidrogen (F-311) sebagai aliran ke-21 dengan
T = -15°C dan P = 20 atm, masuk ke Cooler (E-312) untuk mendinginkan bahan.
Kemudian bahan dari Cooler ini akan satu aliran dengan bahan dari Cooler (E-233).
Disini terdapat FC untuk mengatur Flow bahan yang tergabung tadi, jadi aliran ini
bertindak sebagai aliran ke-22, T = 259,7°C dan P = 1,1 atm.
Setelah itu bahan masuk ke Reaktor Fixed Bed (R-310), Reaktor Fixed Bed
merupakan suatu reaktor yang mana katalis berdiam di dalam reaktor bed. Di
Reaktor Fixed Bed, ada TC di Reaktor ini, ketika bahan keluar dari reaktor ada PC,
jadi aliran ini sebagai aliran ke-24, dengan T = 259,7°C dan P = 3 atm. Di reaktor
fixed bed, terjadi pengolaha kemudian masuk ke Cooler (E-313) dan ada TC disini.
Kemudian masuk ke Menara Distilasi (D-320), Menara Distilasi ini bertingkat 14,
aliran yang masuk sebagai aliran ke-26 dengan T = 259,7°C dan P = 3 atm. Sisa
keluar dari Distilasi ada LC, ini sebagai aliran ke-33 dengan T = 259,7°C dan P =
3 atm, kemudian masuk ke Reboiler (E-324) dengan bertindak sebagai aliran ke-32
dan T = 259,7°C dan P = 3 atm. Hasil dari Reboiler masuk kembali ke Distilasi.
Keluar dari Distilasi ada PC untuk mengontrol tekanan, disini aliran ke-29
dengan T = 259,7°C dan P = 3 atm masuk ke Kondensor (E-321) sebagai aliran ke-
28 dan T = 259,7°C dan P = 3 atm. Kemudian masuk ke Tangki Distilat (F-322)
sebagai aliran ke-27, T = 259,7°C dan P = 3 atm, lalu masuk ke Pompa (L-323)
sebagai aliran ke-30, T = 259,7°C, P = 3 atm. Bahan di aliran ini bisa masuk lagi
ke dalam Distilasi. Dari Tangki Distilat, bahan sebagai aliran ke-31, T = 259,7°C,
P = 3 atm kemudian masuk ke Kondensor (E-325) disini ada TC, bahan ini sebagai
aliran ke-34, T = 259,7°C dan P = 3 atm. Setelah ini adalah hasil akhir yaitu
Metanol, metanol ini kemudian akan dimasukkan ke dalam Tangki Metanol (F-326)
di tangki ini ada LI (Level Indicator).
Flow Diagram Process Prarancangan Pabrik
Methanol dari Proses Gasifikasi Batubara
Prosesnya dimulai dengan membuat gas sintetis yaitu gas H2 atau hidrogen dan
gas CO atau karbon monoksida. Gas H2 mudah terbakar dan gas CO sangat beracun,
tapi tidak perlu khawatir karena semuanya dikontrol dalam bejana tertutup.
Pembuatan gas diawali dengan membakar batubara dengan gas oksigen bukan
udara supaya lebih efisien. Batu bara akan membara berwarna merah kemudian
dimasukkan uap air, jika mulai padam dialirkan lagi oksigen dan seterusnya. Maka
akan dihasilkan campuran gas yang kemudian dimurnikan seperti terjadi di banyak
industri kimia. Selanjutnya diperoleh syngas yaitu H2 dan CO yang siap direaksikan
menjadi molekul yang lebih tinggi dan banyak dibutuhkan.
Syngas Production – Bagian ini terdiri dari coal handling, drying dan grinding
yang kemudian diikuti dengan gasifikasi. Unit pemisahan udara menyediakan
oksigen untuk gasifier. Syngas cleanup terdiri dari proses hydrolysis, cooling, sour-
water stripping, acid gas removal, dan sulfur recovery. Gas dibersihkan dari
komponen sulfur dan komponen lain yang tidak diinginkan sampai pada level yang
terendah untuk melindunginya dari downstream katalis. Proses sour-water stripping
akan menghilangkan ammonia yang dihasilkan dari nitrogen yang ada pada
batubara. Sulfur dalam batubara akan dikonversikan menjadi hydrogen sulfide
(H2S) dan carbonyl sulfide (COS). Proses hidrolisis digunakan untuk
mengkonversikan COS dalam syngas menjadi H2S.
Konversi gas sintetik – Bagian ini terdiri dari water-gas shift, a sulfur guard
bed, synthesis-gas conversion reactors, CO2 removal, dehydration dan
compression, hydrocarbon dan hydrogen recovery, autothermal reforming, dan
syngas recycle. A sulfur guard bed dibutuhkan untuk melindungi katalis konversi
gas sintesis yang dengan mudah diracuni oleh trace sulfur pada cleaned syngas.
Clean synthesis gas dipindahkan untuk mendapatkan hydrogen/carbon monoxide
ratio yang diinginkan, dan kemudian secara katalitik dikonversikan menjadi bahan
bakar gas.
Dalam proses selanjutnya, menggunakan sintesis Fischer-Tropsch yang
merupakan teknologi untuk memproduksi bahan bakar murni dari gas sintesis hasil
gasifikasi biomassa, gas alam, atau batubara. Reaksi sintesis Fischer-Tropsch
merupakan reaksi katalitik. Katalis komersial Fischer-Tropsch sendiri umumnya
berbasis logam Fe dan Co.
Katalis yang digunakan dalam Fischer-Trops adalah besi atau cobalt.
Keuntungan katalist besi dengan cobalt berlebih untuk mengkonversi coal-derived
syngas yang mana besi memiliki kemampuan mengaktivasi reaksi water-gas shift
dan secara internal mengatur rasio low H2/CO dari coal derived syngas yang
diperlukan dalam reaksi Fischer-Trops. Syngas dan produk F-T yang tidak
terkonversi harus dipisahkan setelah langkah sintesis F-T. CO2 dipisahkan dengan
menggunakan teknik absorbsi. CO2 dengan kemurnian tinggi biasanya dibuang
langsung ke udara bebas.
Proses pendinginan digunakan untuk memisahkan air dan hidrokarbon ringan
(terutama metana, etana, dan propane) dari produk liquid hydrocarbon yang
dihasilkan pada proses sintesis F-T. Hasil dari metana di olah kembali menjadi
metanol dan akhirnya akan di simpan di dalam tangki penyimpanan metanol.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini yaitu:
a. Methanol selain dapat dihasilkan dari proses bahan baku gas alam, dapat juga
di hasilkan dari bahan baku batu bara.
b. Proses pembuatan methanol dari bahan baku batubara terbagi menjadi 4 proses
yaitu : Pengeringan, pirolisis, pembakaran (oksidasi), reduksi (gasifikasi).
c. Dalam Gasifikasi batubara melakukan sintesis dengan cara sintesis Fischer-
Tropsch yang merupakan teknologi untuk memproduksi bahan bakar murni
dari gas sintesis hasil gasifikasi biomassa, gas alam, atau batubara. Reaksi
sintesis Fischer-Tropsch merupakan reaksi katalitik. Katalis komersial Fischer-
Tropsch sendiri umumnya berbasis logam Fe dan Co.
d. Gasifikasi batubara adalah sebuah proses guna merubah batubara padat
menjadi gas batubara yang mudah terbakar (combustible gases), setelah proses
pemurnian gas – gas ini karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2),
Hidrogen (H), metan (CH4) dan nitrogen (N2) – dapat digunakan sebagai
bahan bakar.
e. Hasil dari gasifikasi batubara memiliki harga jual yang tinggi daripada
pembuatan dengan gas sintetik dengan bahan lainnya dengan jenis yang hampir
sama.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim1. 2011. Asal Usul Batubara.


http://esmartschool.co.id/index2.php/option.pdf. Diakses pada 20 Maret 2013.

Anonim2.2013. Batubara. http://id.wikipedia.org/wiki/batu_bara Diakses pada 19


Maret 2013.

Arief. 2012. Makalah Kimia DasarBatubara Dampak dan Solusi.


http://ariefrvi.blogspot.com Diakses pada 19 Maret 2013.

Gunadarma. 2009. Energi fosil.


http://elearning.gunadarama.ac.id/docmodul/dasar/_fisika_energi/bab3_energi
_fosil.pdf Diakses pada 20 Maret 2013.

Imam. 2009. Gasifikasi Batubara.


http://imambudiraharjo.wordpress.com/2009/03/06/gasifikasi-batubara
Diakses pada 20 Maret 2013.

Irawan, Chairul dkk. 2008. Bahan Ajar Proses Industri Kimia 1. UNLAM:
Banjarbaru.

Permana, Aman. 2011. Makalah Batubara.


http://www.amanpermana.blogspot.com. Diakses pada 20 Maret 2013.

Sheila. 2010. Batubara. http://sheiladefiravays.blogspot.com/2010/10/batubara-


part-1-sifat.html. Diakses pada 20 Maret 2013.

Ratna. 2010. Klasifikasi Batubara. http://www.chem-is-try.org. Diakses pada 19


Maret 2013.
NOTULEN

1. Apa materi pembentuk batubara ? (Nurul Agustini)


Jawab :
Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal.
Sangat sedikit endapan batu bara dari perioda ini.
Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari
alga. Sedikit endapan batu bara dari perioda ini.
Pteridofita, umur Devon Atas hingga Karbon Atas. Materi utama
pembentuk batu bara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara.
Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan
tumbuh di iklim hangat.
Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur
Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal
pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti
gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batu bara Permian
seperti di Australia, India dan Afrika.
Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan
modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga,
kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang
dapat terawetkan

2. Mengapa pada flowsheet yang ditampilkan terdapat 2 absorber yang disusun


secara berdampingan ? (Elvania Novianti)
Jawab :
Karena absorber berfungsi untuk menghilangkan zat zat pengotor pada
suatu komponen, selain itu absorber yang digunakan memiliki fungsi ang
berbeda. Dimana pada absorber yang pertama berfungsi untuk
menghilangkan kadar CO dan absorber yang kedua berfungsi untuk
menghilangkan kadar sulfur pada batubara
3. Reaksi apa yang terjadi pada reaktor fluidized bed ? (Diah Lestari)
Jawab :
Pada reaktor fluidized bed terjadi reaksi :

C + O2 -> CO2 + 393.77 kJ/mol karbon

H2 + ½ O2 -> H2O + 742 kJ/mol H2

4. Mengapa digunakan jenis reaktor fluidized bed dan Fixed Bed ?


Jawab :
Karena reaktor fluidized bed merupakan jenis reaktor kimia yang dapat
digunakan untuk mereaksikan bahan dalam keadaan banyak fase. Dimana
seperti kita ketahui bahan baku yang digunakan pada proses ini yaitu serbuk
batubara yang difluidisasikan dan air (liquid). Sedangkan reaktor Fixed Bed
digunakan karena pada reaktor ini karena pada reaktor ini katalis berdiam
di dalam reaktor, sehingga lebih menghemat penggunaan katalis

5. Pada proses gasifikasi batubara ini, berapa % yield yang dihasilkan ?


Jawab : untuk secara pastinya tidak diketahui, yang pasti % yield pada
proses ini dibawah 100%, hal ini dikarenakan masih adanya proses recycle
pada kolom destilasi