Anda di halaman 1dari 17

HUBUNGAN LAMA DIABETES MELITUS DENGAN TERJADINYA

GAGAL GINJAL TERMINAL DI RUMAH SAKIT DR. MOEWARDI


SURAKARTA

NASKAH PUBLIKASI
Utuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana Kedokteran

Diajukan Oleh :

Qholfi Anggi Uraini Sahid


J500090060

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012
ABSTRAK

Qholfi Anggi Uraini Sahid, J500090060, 2013. Hubungan Lama Diabetes


Melitus Dengan Terjadinya Gagal Ginjal Terminal di Rumah Sakit DR.
Moewardi.
Latar Belakang: Era globalisasi yang serba cepat ini manusia dituntut agar dapat
bersaing satu sama lain untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan, sehingga
faktor kesehatan menjadi pertimbangan terakhir dalam kehidupan.Pendapatan
perkapita dan perubahan gaya hidup terutama di kota-kota besar, meningkatkan
prevalensi penyakit degeneratif, seperti salah satu contohnya adalah Diabetes
Melitus yang cukup tinggi perkembangannya di Indonesia. Penyakit Diabetes
Melitus mempunyai resiko 34% untuk terjadinya Gagal Ginjal Terminal apabila
tidak terkontrol dengan baik dan benar.
Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan lama Diabetes Melitus dengan Gagal
Ginjal Terminal di rumah sakit DR. Moewardi.
Metodologi Penelitian: penelitian ini merupakan penelitian observational
analitik dengan pendekatan cross sectional, dengan teknik purposive sampling.
Ukuran sampel adalh 68 responden, 34 responden penderita Diabetes Melitus
dengan Gagal Ginjal Terminal dan 34 responden pernderita Diabetes Melitus
tanpa Gagal Ginjal Terminal. Masing-masing sampel dilakukan observasi lama
menderita Diabetes Melitus. Teknik analisa data yang digunakan adalah Pearson
yang diolah menggunakan Statistical Product and Service Solution (SPSS) 19.0
for Windows.
Hasil Penelitian: dari perhitungan data statistik didapatkan nilai p = 0,045
(p<0,05) dengan nilai r = 0,244 (r = 0,20-0,399), sehingga disimpulkan bahwa ada
korelasi yang bermakna antara lama Diabetes Melitus dengan Gagal Ginjal
Terminal, dengan kekuatan korelasi yang lemah dan arah korelasi positif.
Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan
antara Lama Diabetes Melitus dengan Gagal Ginjal Terminal.
Kata kunci: Diabetes Melitus, Gagal Ginjal Terminal.
ABSTRACT

Qholfi Anggi Uraini Sahid, J500090060, 2013. Correlation Between Long Term
of Diabetes Melitus and The Occurance of Impacts End Stage Renal Disease in
DR. Moewardi Hospital.
Background: In this fast-paced era of globalization,human required to compete
each other to reach everything they want, until the health factor become the last
consideration in life. Per capita income and the changing of capital city’s lifestyle,
increasing the prevalenceof degenerative diseaseas, such as Diabetes Melitus that
have high enough expansion in Indonesia. Diabetes Melitus disease have 34% risk
for the occurance of impacts end stage Renal Disease if isn’t well controlled.
Research Purposes: Knowing the correlation between long term of Diabetes
Melitus and The occurance of impacts end stage Renal Disease in DR. Moewardi
Hospital.
Research Method: This research method is analitic observational with cross
sectional approaching, with purposive sampling technic. The sample measurement
are 68 respondents, 34 respondents are Diabetes with impacts end stage Renal
Disease patients and 34 respondents are Diabetes Melitus without impacts end
stage Renal Disease patients. Each sample is observed by long term of enduring
Diabetes Melitus. Data analyisis technic used in this research is Pearson,
processed using Statistical Product and Service Solution (SPSS) 19.0 for
Windows.
Result: From the calculation of statistical data obtained p = 0,045 (p<0,05) with r
= 0,244 (r = 0,20-0,399). In conclusion there are significant corellation between
long term of Diabetes Melitus with impacts end stage Renal Disease, with weak
correlation and positive direction of correlation.
Summary: Bassed on this research it can be conclude that there are correlation
between Long Term Diabetes Melitus and Impacts End Stage Renal Failure.
Keywords: Diabetes Mellitus, End Stage Renal Disease.
PENDAHULUAN
Diabetes Melitus (DM) adalah suatu penyakit menahun yang ditandai
oleh kadar glukosa darah yang melebihi normal. Pada dasarnya, DM
disebabkan oleh hormon insulin penderita yang tidak mencukupi atau tidak
efektif sehingga tidak dapat bekerja secara normal. Padahal insulin mempunyai
peran utama mengatur kadar gula dalam darah. Jadi pada DM terjadi kelainan
metabolik yang bersifat kronik, yang ditandai oleh gangguan metabolisme
karbohidrat, lemak dan protein, yang diikuti oleh komplikasi baik mikro
maupun makrovaskuler dengan gejala klinik utama adalah intoleransi glukosa.
Faktor-faktor yang mendukung terjadinya DM di Indonesia khususnya DM tipe
2 diantaranya faktor demografi yang meliputi peningkatan jumlah penduduk,
peningkatan penduduk yang berumur 40 tahun, urbanisasi, gaya hidup yang
kebarat-baratan seperti pendapatan perkapita tinggi, restoran cepat saji, hidup
santai, berkurangnya penyakit infeksi dan kekurangan gizi (Darmono, 2002).
Diantara penyakit degeneratif, diabetes adalah salah satu diantara
penyakit tidak menular yang akan meningkat jumlahnya di masa mendatang.
Diabetes sudah merupakan salah satu ancaman utama bagi kesehatan umat
manusia pada abad 21. Perserikatan bangsa-bangsa (WHO) membuat perkiraan
bahwa pada tahun 2000 jumlah pengidap diabetes diatas umur 20 tahun
berjumlah 150 juta orang dan dalam kurun waktu 25 tahun kemudian, pada
tahun 2025, jumlah itu akan membengkak menjadi 300 juta orang (Slamet,
2009).
Nefropati diabetik merupakan komplikasi mikrovaskuler yang sering
ditemukan baik pada diabetes melitus tipe 1 maupun diabetes melitus tipe 2.
Pada saat ini di Amerika Serikat nefropati merupakan penyebab utama gagal
ginjal. Di Indonesiapun demikian, pada tahun 1983 prevalensi nefropati
diabetik hanya 8,3% dari semua chronic kidney disease, sepuluh tahun
kemudian pada tahun 1993 angka itu meningkat menjadi 2 kali lebih tinggi
yaitu 17% dan angka ini akan menuju ke tahap Gagal Ginjal Terminal (Arsono,
2005).
Untuk mengingat belum diketahuinya berapa banyak pasien yang
menderita gagal ginjal terminal karena diabetes melitus dan tingginya risiko
pada komplikasi ini, penulis berkeinginan untuk meneliti adanya hubungan
Lama Diabetes Melitus dengan Terjadinya Gagal Ginjal Terminal di Rumah
Sakit Dr.Moewardi karena kejadian gagal ginjal terminal termasuk kedalam
sepuluh kunjungan terbesar.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama Diabetes Melitus
dengan terjadinya Gagal Ginjal terminal di Rumah Sakit Dr. Moewardi.
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian analitik
observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian ini
dilakukan di Poliklinik Penyakut Dalam dan di ruang Hemodialisa RSUD DR
Moewardi dengan waktu penelitian bulan September 2012. Populasi pada
penelitian ini adalah seluruh pasien Gagal Ginjal Terminal karena Disbetes
Melitus type2 di RSUD DR Moewardi dan sampel penelitiannya adalah pasien
yang Gagal Ginjal Terminalkarena DM ke ruang Hemodialisa dan pasien Diabetes
melitus tipe 2 di Poliklinik Penyskit Dalam RSUD Dr Moewardi. Teknik
sampaling yang digunakan pada penelitian ini adalah non-probability sampling
dengan pendekan pusposive sampling. Penentuan besar sampel penelitian dengan
menggunakan rumus uji hipotesis terhadap rerata dua populasi dan dihasilkan
besar minimal sampel 34 sampel untuk satu kelompok. Sehingga dibutuhkan
minimal 68 sampel untuk dua kelompok. Peneliti menggunakan 68 sampel untuk
penelitian ini.
Kriteria sampel yang memenuhi syarat penelitian (inklusi) adalah pasien
DM tipe 2dengan Gagal Ginjal Terminal di poliklinik Penyakit Dalam dan Ruang
Hemodialisa RSUD DR Moewardi dan pasien yang bersedia berpartisipasi dalam
penelitian. Kriteria eksklusi pada penelitian ini yaitu adanya pasien memiliki sakit
pendamping seperti hipertensi, ulkus diabetik, batu ginjal dan penyakit penyerta
lainnnya.
Variabel bebas pada penelitian ini adalah Diabetes Melitus, apakah dibetes
melitus tipe 1, 2, 3 atau lainnya. Variabel terikatnya adalah Gagal Ginjal
Terminal. Variabel perancu antara lain usia dan faktor genetik.
Prosedur penelitian ini yang pertama adalah membagikan kuesioner yang
berisi blanko persetujuan (inform consent), identitas pasien, serta data
pemeriksaan laboratorium, riwayat terkena DM, lamanya terkena DM, obat yang
dikonsumsi dan penyakit penyerta lainnya
Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis
data menggunakan program SPSS 19 for windows, untuk mengetahui hubungan
Lama Diabetes Melitus dengan Terjadinya Gagal Ginjal Terminal. Untuk
mengetahui uji korelasi digunakan uji korelasi Pearson untuk melihat kekuatan
pengaruh antara DM (Diabetes Melitus) dengan terjdinyaGagal Ginjal Terminal.
HASIL PENELITIAN
Deskripsi Sampel Penelitian
Tabel 1. Deskripsi subjek penelitian berdasarkan kejadian gagal ginjal Terminal

Kejadian Gagal Ginjal Terminal Frekuensi %


Gagal Ginjal Terminal 34 50
Non Gagal Ginjal Terminal 34 50
Total 68 100

Berdasarkan tabel 1, baik penderita Gagal Ginjal Terminal maupun non


Gagal Ginjal terminal masing-masing adalah 50% atau 34 responden.

Tabel 2. Deskripsi jumlah kejadian gagal ginjal terminal berdasarkan jenis


kelamin.

Jenis Kelamin Jumlah Kejadian %


Laki-laki 21 61,76
Perempuan 13 38,24
Jumlah 34 100

Tabel 2 menunjukan bahwa Gagal Ginjal terminal karena Diabetes


Melitus banyak diderita oleh laki-laki sebesar 61,76% (21 responden) sedangkan
pada perempuan 38,24 % (13 responden).

Tabel 3. Deskripsi jumlah kejadian gagal ginjal terminal berdasarkan umur


Umur Jumlah Kejadian %
45-50 7 20,59
51-55 17 50
56-60 5 14,70
61-65 4 11,76
66-70 0 0
>70 1 2,94
Total 34 100

Tabel 3 menunjukkan bahwa responden dengan Gagal Ginjal Terminal


yang berumur 45-50 menempati angka kejadian 20,59% (7 responden) sedangkan
pada umur 51-55 menduduki angaka tertinggi dengan presentase sebesar 50%
(17responden), pada umur 56-60 sebesar 14,70 % (5 responden), pada umur 56-60
sebesar 14,70% (5 responden), pada umur 61-70 sebesar dan Gagal Ginjal
Terminal dengan umur >70 sebesar 2,94 % (1 responden).

Tabel 4. Deskripsi jumlah kejadian gagal ginjal terminal berdasarkan lama


diabetes melitus.

Lama DM-GGT Jumlah %


1-5 tahun 18 52,94
6-10 tahun 12 35,29
11-15 tahun 4 11,77
Jumlah 34 100
Tabel 4
menunjukkan bahwa Diabetes Melitus dengan lama 1-5 tahun untuk
mendapatkan komplikasi Gagal ginjal Terminal sebanyak 52,94 % (18
responden), Diabetes Melitus dengan lama 6-10 tahun sebanyak 35,29 % (12
responden) dan 11-15 tahun sebesar 11,77 % (4 responden) untuk terkena Gagal
Ginjal Terminal.

Tabel 5. Deskripsi jumlah kejadian kadar kreatinin serum dalam Gagal Ginjal
Terminal
Kadar Kreatinin Jumlah %
serum
6-10 mg/dl 18 52,94
11-15 mg/dl 16 47,06

Total 34 100

Tabel 5, menunjukkan kejadian bahwa jumlah kreatinin serum yang terdapat pada
responden yang menjalani hemodialisa berkisar 6-10 mg/dl sebanyak 52,94%
(18 responden) dan jumlah kreatinin serum 11-15 mg/dl sebanyak 47,06% (16
responden).
Tabel 6. Deskripsi subjek penelitian berdasarkan lama DM sampai terjadinya
GGT dengan Jenis kelamin.

Lama Jenis Kelamin %


DM-GGT
LK PR Lk Pr
1-5 tahun 11 7 32,35 20,59
6-10 tahun 7 3 20,59 8,82
11-15 3 1 8,82 2,94
tahun

Tabel 6, menunjukkan kejadian bahwa lama DM sampai ke GGT dalam waktu 1-5
tahun untuk laki-laki memiliki nilai lebih tinggi yaitu 32,35% (11 responden)
dari pada wanita 20,59% (7 responden) sedangkan pada waktu 6-10 tahun laki-
laki juga memiliki nilai lebih tinggi 20,59% (7 responden) daripada wanita 8,82%
(3 responden), dan pada 11-15 tahun laki-laki memiliki presentase 8,82% dan
perempuan 2,94 % (1 responden).

Sebelum uji korelasi pearson uji yang dibutuhkan guna melengkapi persyaratan
sebagai uji korelasi pearson maka dibutuhkan uji distribusi data untuk mengetahui
apakah data yang diperoleh terdistribusi normal atau tidak.

Tabel 7. Uji Distribusi Data


One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Kreatinin Lama_DM
N 68 68
Normal Mean 4.753 6.537
Parametersa,b

Std. Deviation 3.7976 4.2875


Most Extreme Absolute .184 .102
Differences

Positive .184 .102


Negative -.137 -.098
Kolmogorov- 1.518 .839
Smirnov Z
Asymp. Sig. (2- .020 .482
tailed)

Test distribution is Normal.


Calculated from data.

Tabel 7, menunjukkan bahwa data terdistribusi normal.

Tabel 8. Uji Hubungan Lama Diabetes Melitus dengan Terjadinya Gagal Ginjal
Terminal

Correlations
Kreatinin Lama DM
Kreatinin Pearson 1 .244*
Correlation
Sig. (2-tailed) .045
N 68 68
Lama DM Pearson .244* 1
Correlation
Sig. (2-tailed) .045
N 68 68
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Tabel 8, menunjukkan adanya korelasi yang bermakna antara lama Diabetes


Melitus dengan Gagal Ginjal Terminal karena memiliki nilai (p) = 0,045 (p <
0,05). Korelasi yang didapatkan disini memiliki kekuatan yang lemah, yang
ditunjukan dari (r) = 0,244 (r = 0,20-0,399). Arah korelasi yang didapatkan dari
tabel di atas adalah korelasi positif.
PEMBAHASAN
Penelitian ini merupakan penelitian tentang Lama Diabetes Melitus
dengan Terjadinya Gagal Ginjal Terminal pada RS. Dr. Moewardi di Surakarta
yang menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan
Cross Sectional. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada pasien-pasien
RS. Dr. Moewardi di Surakarta, telah diperoleh data-data yang dicantumkan
dalam bentuk tabel yang terdapat pada hasil penelitian.
Dari penelitian ini diperoleh hasil terdapat hubungan yang bermakna antara Lama
Diabetes Melitus dengan Terjadinya Gagal Ginjal Terminal ditunjukkan dengan
uji Pearson didapatkan hasil p=0,045, yang mana mempunyai nilai signifikan
p<0,05.
Dalam hasil penelitian ini didapatkan (r) = 0,244, karena nilai (r) yang
didapatkan diantara 0,20-0,399 sehingga mempunyai makna kekuatan korelasinya
lemah dengan arah korelasinya positif (+). Arah korelasi positif memiliki makna
bahwa semakin lama Diabetes Melitus maka semakin tinggi risiko terjadinya
Gagal Ginjal Terminal. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian
sebelumnya bahwa seseorang yang menderita Diabetes Melitus dapat
menimbulkan komplikasi salah satunya Nefropatik Diabetik dalam kurun waktu
11,90 + 4,852 tahun. Apabila Nefropatik Diabetik tidak ditangani secara benar
dan berlangsung terus menerus akan menyebabkan Gagal Ginjal Terminal (Jovita,
2010).
Laki-laki lebih berisiko 1,61:1 terkena penyakit Diabetes melitus dan
juga Gagal Ginjal Terminal dibandingkan dengan perempuan, hal ini bisa dilihat
dari hasil presentase terkenanya Gagal Ginjal Terminal pada penderita Diabetes
Melitus yang mana laki-laki sebanyak 61,76% sedangkan pada perempuan
38,24%. Hal ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan di RS.
Mangun Kusumo yang mana perempuan memiliki nilai presentase yang besar
51,7% dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki 48,3% (Triyanti, 2008).
Berdasarkan lamanya Diabetes Melitus untuk terjadinya Gagal Ginjal
terminal laki-laki memiliki presentasi yang lebih tinggi daripada perempuan,
lama DM dengan kurun waktu 1-5 tahun laki-laki memiliki nilai 32,35% dan pada
perempuan 20,6%, sedangkan dalam kurun waktu 6-10 tahun laki-laki memiliki
nilai 20,6% dan perempuan 8,82%, dalam kurun waktu 11-15 memiliki nilai
8,82% untuk laki-laki dan 2,24% untuk perempuan, pada penelitian sebelumnya
juga menunjukan bahwa Diabetes Melitus dengan lama 1-5 tahun mempunyai
nilai 41,7%, 6-10 tahun mempunyai nilai 44,4% dan untuk lama 11-15 tahun
mempunyai nilai 11,9% meskipun dalam penelitian sebelumnya tidak disebutkan
berdasarkan jenis kelaminnya (Arsono, 2005).
Selain jenis kelamin yang mempunyai resiko terkenanya Diabetes
Melitus dan Gagal Ginjal terminal, umur juga menjadi salah satu faktor resiko
untuk terkenanya penyakit Diabetes melitus dan Gagal Ginjal Terminal, dari hasil
penelitian yang telah diperoleh bahwa umur yang sering terkena Diabetes Melitus
dan mempunyai komplikasi Gagal Ginjal Terminal adalah umur 40-55 tahun yang
memiliki nilai 14,70% umur 61-65 me3miliki nilai 11,76%, untuk umur >70 tahun
memiliki nilai 2,94%. Penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang
sudah dilakukan di RSUD. Prof. DR. Margono Suekarso bahwa umur 45-50 tahun
memiliki presentase 25,0%, pada umur 51-55 tahun memiliki nilai 36,1% pada
umur 56-60 tahun memiliki nilai 16,7%, pada umur 61-65 tahun memiliki nilai
13,9% dan 66-70 tahun 8,3% (Arsono, 2005).
Komplikasi Gagal Ginjal terminal ini sering kali didapatkan pada
penderita Diabetes Melitus dalam kurun waktu 1-5 tahun 52,94%, untuk kurun
waktu 6-10 tahun 35,29% dan untuk kurun waktu 11-15 tahun 11,77%. Gaya
hidup dan kedisiplinan dalam mengonsumsi obat sangat berpengaruh dalam
proses terjadinya komplikasi. Dalam hal ini, persentase terbanyak adalah pada
kurun waktu 1-5 tahun. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang
menyatakan bahwa lama DM > 5 tahun sebanyak 26,6% dan < 5 sebanyak 73,4%
(Triyanti, 2008).
Kadar kreatinin serum dalam penelitian ini juga diperhatikan, seperti
penelitian terdahulu, responden yang memiliki kreatinin serum 6-10 mg/dl
mencapai 52,94%, untuk kreatinin serum 11-15 mg/dl 47,06% dari nilai ini dapat
dinilai bahwa banyaknya penderita Gagal Ginjal Terminal yang diakibatkan oleh
Diabetus Melitus yang menjalani Hemodialisa di rumah sakit dr. Moewardi
memiliki kadar kreatinin serum yang paling sering didapat 6-10 mg/dl dan ini
menunjukan bahwa semakin tinggi kadar kreatinin serumnya maka semakin lama
responden menderita Gagal Ginjal Terminal. Pada kasus kontrol juga didapati
nilai kreatinin serum yang masih dalam batas normal, namun dari penelitian
sebelumnya menunjukan bahwa nilai kreatinin serum yang mengalami kenaikan >
2 mg/dl mencapai 5,8% dan yang < 2 mg/dl mencapai 94,2% (Triyanti, 2008).
Diantara penyakit degeneratif, diabetes adalah salah satu diantara
penyakit tidak menular yang akan meningkat jumlahnya di masa mendatang.
Diabetes sudah merupakan salah satu ancaman utama bagi kesehatan umat
manusia pada abad 21. Perserikatan bangsa-bangsa (WHO) membuat perkiraan
bahwa pada tahun 2000 jumlah pengidap diabetes diatas umur 20 tahun berjumlah
150 juta orang dan dalam kurun waktu 25 tahun kemudian, pada tahun 2025,
jumlah itu akan membengkak menjadi 300 juta orang (Slamet, 2009)
Kelebihan dari penelitian ini adalah peneliti mengambil sampel kontrol
yang dapat membandingkan dengan sampel yang diambil sehingga data yang
didapatkan lebih valid. Kasus kontrol ini yang membandingkan lama Diabetes
Melitus tipe 2 dalam menjalani gaya hidup dan kerutinan dalam mengonsumsi
obat yang mana perbandingan ini berpengaruh dalam hasil data yang
menunjukkan kekuatan korelasi yang lemah karena gaya hidup dan rutinitas tiap
responden berbeda-beda.
Kelemahan dari penelitian ini adalah data yang didapatkan diperoleh dari
hasil wawancara yang sifatnya subjektif dan perkiraan sehingga hasilnya kurang
optimal; Selain itu data didapatkan dari rekam medik menunjukkan bahwa lama
Diabetes Melitus diukur dari pertama didiagnosis sampai Gagal Ginjal Terminal
yang mana responden sebelumnya sudah menderita DM tetapi belum terdiagnosis.
Responden yang menderita DM tipe 2 sering kali dengan menjaga gaya hidupnya
saja sudah cukup tanpa harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada dokter,
yang mana hal ini salah satu bentuk awal Diabetes Melitus tidak terkontrol.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis statistik dapat disimpulkan bahwa ada
hubungan antara lama Diabetes Melitus dengan terjadinya Gagal Ginjal Terminal
Di Rumah Sakit DR. Moewardi.

SARAN
Adanya hubungan antara lama Diabetes Melitus dengan terjadinya Gagal
Ginjal Terminal merupakan masukan bagi petugas kesehatan agar dapat
memberikan konseling tentang komplikasi Diabetes Melitus sehingga pasien
Diabetes Melitus dapat melakukan kontrol secara rutin.
Bagi peneliti selanjutnya, apabila tertarik meneliti tema yang sama sebaiknya
dilakukan penelitian dengan desain case-control atau dengan desain cohort, untuk
melihat adanya hubungan sebab akibat.
DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association., 2004. Hypertension Management in adultswith


diabetes (position statement). Diabetes Care (Suppl 1): S65-S67.

Arief M. T., 2010. Pengantar Metodologi Penelitian Untuk Ilmu kesehatan. 3th ed.
Surakarta: LPP UNS & UNS press.

Arsono, Soni., 2005. Diabetus Melitus sebagai Faktor Resiko Terjadinya Gagal
Ginjal Terminal di Unit Hemodialisis RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo
Purwokerto Tahun 2005. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Semarang.

Bossi M.C., 2003. The Kidney and Adrenal Glands In: Goldberg BB. Petterson H.
Ultrasonography. Philadelphia: editor Nieer. Pp 187-220.

Dahlan M. S., 2005. Statistik Untuk Kedokteran dan kesehatan. 4th ed. Jilid 1.
Ssalemba Medika.

Darmono., 2002. Status Glikemi dan Komplikasi Vaskuler Diabetus Melitus,


dalam: Naskah lengkap KONAS V PERSADIA dan Pertemuan Ilmiah
PERKENI. Semarang: UNDIP.

Donague K.C. Chiarelli, F. Trotta D. Allgrove, J. Dahl- Jorgensen., 2007.


Microvascular and Macrovascular Complication. ISPAD Clinical Practice
Consensus Guidelines Pediatric Diabetes. Pp 163-70

Dorlan., 2010. Kamus Kedokteran. Jakarta: EGC.

Djokomoeljanto., R. 2002. Microalbuminuria In Diabetes melitus. Simposium


Mikroalbuminuria Indikator, Prediktor atau Faktor Resiko. Semarang.
UNDIP.

Fatrakul N. Fatrakul P., 2011. Indices Indicating Early Renal Microvaskular


Disease in Diabetes. The Royal Institute of Thailand journal of Medicine.

FK UNAIR., 2012. Manual ProsedurTatalaksanaHipoglikemia&Hiperglikemia.


Surabaya: FK UNAIR.

Fouque, D., 2004. Influence of Dietery Protein Intake on the progression of


Chronic Renal Insuficiency. Dalam Koople, Massry, penyuntinng
Nutritional Managemen of Renal Desease. Edisi. 2. USA. Lippinocott
Williams & wilkims..

Gross JL, de Azevedo MJ, Silveiro SP, Canani LH, Caramori ML, Zelmanovitz T.
Diabetic Nephropathy: Diagnosis, Prevention, and Treatment: Stages,
Clinical Features, and Clinical Course. http:/medscape.com [Diakses 6
Februari 2010]

Hendromartono. Nefropati Diabetik: dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid
III. Edisi IV. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2007. 1898-1901.

Keller Nancy, at al., 2012. Distinguishing Type 2 Diabetes from Type 1 Diabetes
in African American and Hispanic American Pediatric. African American
Journal of Medicine.

Levey A.S., et al, Ann Intern Med 2003. National kidney foundation practice
guidelines for chronic kidney disease: evaluation, classification and
stratification. Pp 139-147

Mitchell RN, Kumar V, Abbas AK, Fausto N. Buku Saku Dasar Patologis
Penyakit Robbins & Cotran. Ed 7. 2006. Jakarta: EGC.

Mittal, at al., 2010. Diabetes Melitus as a Potential Risk Factor for Renal Disease
among Nepalese: A hospital Based Case Control Study. Nepal Journal of
Epidemiologi. www.nepjol.info/index.php/NJE.

Nicholas, S., 2011. Diabetic Kidney DiseaseDiagnosis Da. dalam Hannry Ford.
Clinical Practice Recommendations for Primary care Physiciansand Helt
Cares Providers. 6th ed, Los Angeles, Univercity of California.Pp.4-10.

Notoatmojo S., 2005. Metodelogi Penelitian Kesehatan. 3th ed. Jakarta: Rineka
Cipta.

Price, at al., 2006. Patofisiologi: Clinical Conseps of Desease Processes. Ed. 6.


Jakarta.EGC.

Pernamasari, D., 2009. Diagnosis Dan Klasifikasi Diabetes Melitus. dalam


Sudoyo A.W, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibarata M. K, Setiati S. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam jilid III. 5th ed, Jakarta: Interna Publishing Pusat
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam.Pp 1880-1883.
Sastroasmoro Sudigdo, Ismael., 2002. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis,.
CV. Sagung Seto., Jakarta.

Secunda, J.L., Leonard, K., Katrin, K., Michele, P.A., 2010. Rereata Durasi
penderita Diabetes Melitus Terkena Nefropati Diabetik Sejak Terdiagnosis
Diabetes Melitus Pada Pasien Di Poliklinilk Geriatri RSUP Sanglah. Bali:
FK Udayana

Sherwood, L., 2011. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC.

Shiraishi, F. G, at al., 2012. Inflamation, Disbetes, and Chronic Kidney Disease:


Role of Aerobic Capacity. Paulo State University (UNESP), Brazil.

Sidartawan, S., 2009. Masalah Diabetes Di Indonesia dalam Sudoyo A.W,


Setiyohadi B, Alwi I, Simadibarata M. K, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Edisi IV, Jakarta: Interna Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit
Dalam.

Situmorang T. D., 2005. Perjalanan Klinis Penyakit Ginjal Diabetik. Naskah


Lengkap The 5th Jakarta Nephrology & Hypertension Course and
Symposium on Hypertension. Jakarta: PERNEFRI. Pp 42-51.

Skorecki K. Green J, Brenner BM., 2005. Chronic Renal Failure. In: Bramwald.
E, Harrison’s Principles of Internal Medicine Vol II, 15th editor, Mc. Graw-
Hill. Pp 1551 – 1558.

Slee, D., 2012. Exploting Metabolic Dysfuntion In Chronic Kidney Disease.


Journal of Nutrition and Metabolism.

Subekti I., 2009. Nefropatik Diabetik, dalam Sudoyo A.W, Setiyohadi B, Alwi I,
Simadibarata M. K, Setiati S.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II. 5th ed,
Jakarta: Interna Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam. Pp 1947

Sukandar E., 2006. Gagal Ginjal Kronik dan terminal. Dalam: Nefropati klinik
edisi III, Bandung: penerbit Pusat Informasi Ilmiah bagian Ilmu Penyakit
Dalam FK. UNPAD. Pp 465-524.

Suwitra, K., 2009. Penyakit Ginjal Kronik. dalam Sudoyo A.W, Setiyohadi B,
Alwi I, Simadibarata M. K, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid
II. 5th ed, Jakarta: Interna Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit
Dalam.Pp 581-4
Suyono, S., 2009. Diabetes Melitus Di Indonesia. dalam Sudoyo A.W, Setiyohadi
B, Alwi I, Simadibarata M. K, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
jilid III. 5th ed, Jakarta: Interna Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit
Dalam.Pp 1873-1883

Triyanti, K., Suhardjono., Pradana, S., Hamzah, S., 2006. Renal Function
Decrement Type 2 Diabetes Mellitus Patients in Cipto Mangunkusumo
Hospital. The Indonesia Journal of Medicine.