Anda di halaman 1dari 3

5.

Kurikulum Pendidikan Inklusif


a. Tujuan Pengembangan kurikulum
Kurikulum yang digunakan dalam penyelenggaraan mainstreaming school pada dasarnya
adalah menggunakan kurikulum reguler yang berlaku di sekolah umum. Namun demikian
karena ragam hambatan yang dialami ABK sangat bervariasi mulai dari sifatnya ringan,
sedang sampai berat, maka dalam implementasinya di lapangan, kurikulum reguler perlu
dilakukan penyesuaian sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan anak.

Tujuan pengembangan kurikulum pendidikan dalam program mainstreaming school adalah


sebagai berikut :
1) Membantu anak dalam mengembangkan potensi dan mengatasi hambatan belajar yang
dialami semaksimal mungkin dalam setting sekolah inklusif.
2) Membantu guru dan orang tua dalam mengembangkan program pendidikan bagi ABK
baik yang diselenggarakan dirumah atau disekolah.
3) Menjadi pedoman bagi sekolah, dan masyarakat dalam mengembangkan, menilai dan
menyempurnakan program pendidikan inklusif.
b. Model pengembangan kurikulum
1) Model Kurikulum Reguler Penuh
Pada model ini anak yang berebutuhan khusus mengikuti kurikulum reguler sama seperti
anak yang lainnya di dalam kelas yang sama. Program layanan khususnya lebih diarahkan
kepada proses pembimbingan belajar, motivasi dan ketekunan belajarnya.
2) Model Kurikulum Reguler Modifikasi
Pada model ini guru melakukan modifikasi pada strategi, media pembelajaran, jenis penilaian
dan pelaporan, maupun pada program tambahan lainnya dengan tetap mengacu pada
substansi kurikulum reguler. Modifikasi tersebut dimaksudkan untuk mengatasi kesulitan
anak berkebutuhan khusus yang dikarenakan dari akibat langsung kelainannya. Dengan
modifikasi diharapkan anak berkebutuhan khusus mampu mengikuti pembelajaran dengan
kurikulum reguler.
3) Model Kurikulum PPI
Pada kurikulum ini guru mempersiapkan program pendidikan individual (PPI) yang
dikembangkan bersama tim pengembang yang melibatkan guru pembimbing khusus, kepala
sekoalh, orang tua, dan tenaga ahli terkait. Model ini diperuntukan pada anak yang memiliki
hambatan yang tidak memungkinkan untuk mengikuti proses belajar berdasarkan kurikulum
reguler atau dengan kecerdasan dan bakt istimewa. Anak seperti ini dapat dikembangkan
melalui PPI dalam setting kelas reguler, sehingga mereka bisa mengikuti belajar sesuai
dengan fase perkembangan, potensi, serta kebutuhannya.

Adapun secara teknik, model pengembangan kurikulum di sekolah penyelenggara inklusi


menurut Yusuf (2011) meliputi model – model dibawah ini:

a) Duplikasi Kurikulum

Yakni ABK menggunakan kurikulum yang tingkat kesulitannya sama dengan siswa rata-
rata/regular. Model kurikulum ini cocok untuk peserta didik tunanetra, tunarungu wicara,
tunadaksa, dan tunalaras. Alasannya peserta didik tersebut tidak mengalami hambatan
intelegensi. Namun demikian perlu memodifikasi proses, yakni peserta didik tunanetra
menggunkan huruf Braille, dan tunarungu wicara menggunakan bahasa isyarat dalam
penyampaiannya.

b) Modifikasi Kurikulum
Yakni kurikulum siswa rata-rata/regular disesuaikan dengan kebutuhan dan
kemampuan/potensi ABK. Modifikasi kurikulum ke bawah diberikan kepada peserta didik
tunagrahita dan modifikasi kurikulum ke atas (eskalasi) untuk peserta didik gifted and
talented.

c) Substitusi Kurikulum
Yakni beberapa bagian kurikulum anak rata-rata ditiadakan dan diganti dengan yang kurang
lebih setara. Model kurikulum ini untuk ABK dengan melihat situasi dan kondisinya.

d) Omisi Kurikulum
Yaitu bagian dari kurikulum umum untuk mata pelajaran tertentu ditiadakan total, karena
tidak memungkinkan bagi ABK untuk dapat berfikir setara dengan anak rata-rata.

c. Konsep dasar program pembelajaran individual


PPI pada dasarnya merupakan dokumen tertulis yang dikembangkan dalam suatu rencana
pembelajaran bagi ABK. Berkenaan dengan ini Mercer dan Mercer mengemukakan bahwa
“program individual menunjuk kepada suatu program pengajaran dimana siswa bekerja
dengan tugas – tugas yang sesuai dengan kondisi dan motivasinya”. Dengan demikian PPI
pada prinsipnya adalah suatu program pembelajaran yang didasarkan kepada kebutuhan
setiap individu (anak). Oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa siswalah yang
mengendalikan program dan bukan program yang mengendalikan siswa. Sehingga masalah
kebutuhan, perkembangan dan minat anak menjadi orientasi didalam mempertimbangkan
penyusunan program.
Menurut Endang Rusyani (2009) PPI ini bertolak dari suatu pandangan yang mengakui bahwa
manusia merupakan makhluk individu. Kebutuhan merupakan dasar timbulnya tingkah laku
individu. Pemenuhan kebutuhan untuk keberlangsungan hidup individu sangatlah mendasar.
Dan kebutuhan belajar pada hakekatnya merupakan salah satu cara untuk memenuhi
kebutuhan. Untuk itu PPI merupakan cara tepat di dalam proses belajar mengajar anak luar
biasa, khususnya dalam membelajarkan anak kebutuhan khusus. Tajamnya perbedaan,
kompleksnya masalh dan hambatan belajar yang dihadapi ABK membawa konsekuensi
kepada kompetensi guru di dalam menyusun rencana pembelajaran yang mengakomodasi
kebutuhan mereka. Oleh karena itu PPI sangat penting karena PPI merupakan cara yang
senantiasa berupaya mengakomodasi kebutuhan yang dihadapi anak.
PPI dalam pembelajaran bagi ABK merupakan kebutuhan dasar. Beberapa hal yang perlu
dipahami tentang PPI adalah :
1) Alasan pelaksanaan PPI itu penting bagi ABK menurut snell (1983) adalah 1) semua
ABK masih memiliki potensi untuk belajar; 2) semua ABK membutuhkan keterampilan yang
sesuai dengan kebutuhab kehidupan sehari – hari di rumah dan di masyarakat; 3) sekolah
harus melaksanakan pembelajaran keterampilan fungsional, sesuai kebutuhan individual; 4)
prinsip -prinsip pengembangan perilaku secara universal, dapat diterapkan sebagai metode
pembelajaran; 5) penilaian hasil belajar dilakukan secara informal (tidak perlu kriteria
standar), lebih sesuai diterapkan untuk penilaian tingkah laku fungsional; dan 6) prosedur
dan tujuan pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan anak.
2) Secara teoritis pembelajaran terindividualisasikan didefinisikan sebagai suatu strategi
untuk mengatur kegiatan belajar setiap siswa. Pembelajaran individual adalah rancangan
pembelajaran yang dikembangkan untuk memfasilitasi perbedaan individu. Pembelajaran
individual merupakan siklus pembelajara berkelanjutan yang mencakup diagnosis,
pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi. Pembelajaran individual merupakan salah satu
model belajar yang memperhatikan perbedaan individu.
3) Pelaksanaan pembelajaran individual pada sekolah dengan siswa normal,
memberikan tanggung jawab kepada siswa untuk mengelola cara belajarnya sendiri – sendiri.
Bahan belajar diberikan kepada siswa berfungsi sebagai panduan siswa untuk memutuskan
langkah – langkah pembelajaran. Penerapan PPI pada PLB, didasarkan atas kondid ABK yang
memiliki berbedaan karakteristik individual yang sangat mencolok antara satu anak dengan
lainnya. Karakteristik ini yang menyebabkan kemampuan belajar ABK tidak dapat diprediksi
berdasarkan kemampuan rata – rata kelompok.
4) PPI dalam bidang PLB di indonesia dikembangkan dari konsep individualized
Educational Program (IEP) . IEP sebagai suatu program yang utuh dan menyeluruh dalam
intervensi individual with Special Nedds. Program IEP dimulai sejak anak datang di lembaga
layanan, kemudian dlakukan indentifikasi kondisi anak dari semua aspek penempatan di
lembaga layanan anak yang sesuai, pengembangan program dan pelaksanaan evaluasi
program. IEP disusun oleh suatutim kerja yang terdiri dari berbagai ahli, yang bekerja sama
untuk menangani layanan ABK.
5) PPI diadopsi dari salah satu langkah IEP, yang disebut Individual Instructional
Desicion Making. Langkah ini berisi rancangan program intervensi tiap -tiap individu ABK, dan
pelaksanaannya sesuai dengan penempatan anak. Apabila penempatan ABK pada lembaga
sekolah, maka program berupa pembelajaran terindividualisasikan. Adopsi PPI ini hanya
diterapkan untuk tingkat sekolah mikro dan disesuaikan dengan sistem pembelajaran SLB di
Indonesia. Prinsip yang dimodifikasi antara lain: a) PPI dikembangkan dan dilaksanakan oleh
guru. Keterlibatan pihak lain dalam PPI hanya insidental bukan tim kerja, dan b) komponen
PPI terbatas untuk intervensi ABK di sekolah.