Anda di halaman 1dari 11

PUTERI SHOLIHAH (ON GOING)

INTAN NUR JANNAH

THE MEASUREMENT PERSPECTIVE ON DECISION USEFULNESS


(Alasan Atas Adanya Perhatian Tambahan Terhadap Pengukuran)

1.Konsep Perspektif Pengukuran


2.Alasan Perspektif Pengukuran
3.Teori Prospek
4.Beta
5.Anomali Pasar Modal Efisien
6.Kesimpulan tentang Efisiensi Pasar
7.Auditors’ Legal Liability
8. Assymetry of investor losses

A. Konsep Perspektif Pengukuran


Perspektif pengukuran (measurement perspective) terhadap pelaporan keuangan adalah
suatu pendekatan yang menuntut akuntan untuk melaksanakan tanggungjawab memasukkan
nilai wajar terhadap laporan keuangan pokok, dengan reliabilitas yang masih rasional, yang
berarti meningkatnya tanggungjawab akuntan untuk membantu investor dalam memprediksi
kinerja masa depan perusahaan.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan relevansi laporan keuangan, tetapi jangan
meninggalkan reliabilitasnya dalam rangka membantu investor mengambil keputusan.
Measurement perspective dapat meningkatkan earnings quality dengan semakin
relevannya informasi akuntansi. Apabila informasi akuntansi semakin relevan, maka reaksi
investor terhadap informasi tersebut akan semakin besar.
Namun demikian, measurement perspective juga dibatasi oleh reliabilitas. Metode fair
value yang dapat dimasukkan dalam laporan keuangan pokok adalah metode yang tidak
mengakibatkan menurunnya reliabilitas laporan keuangan tersebut.
Measurement perspective berusaha untuk meningkatkan relevansi informasi akuntansi.
Akuntan mengambil tanggungjawab untuk membantu investor dengan cara menggunakan
pengukuran fair value terhadap laporan keuangan pokok. Akan tetapi, sesuai dengan SFAC 2
menyatakan bahwa ada dua kualitas informasi pokok, yaitu relevansi dan reliabilitas, yang
harus dijaga keseimbangannya.
Apabila hanya memperhatikan relevansi, maka reliabilitas akan berkurang dan
menyebabkan laporan keuangan tidak bisa diaudit. Akuntan publik yang merupakan ujung
tombak profesi akuntansi tidak lagi bisa berjalan karena laporan keuangan tidak bisa diaudit.
Karena itu, batasan measurement perspective adalah berusaha untuk menggunakan pengukuran
yang berorientasi pada fair value terhadap laporan keuangan pokok asalkan kualitas reliabilitas
laporan keuangan pokok tersebut tidak berkurang.
Measurement perspective bukan untuk mengganti historical cost. Apabila suatu
measurement tidak reliabel, maka tetap menggunakan historical cost.
Namun demikian, tidak mudah menggunakan fair value tanpa mengurangi reliabilitas.
Batasannya adalah, kita menggunakan fair value untuk meningkatkan relevansi selama
reliabilitas tidak terganggu.
Mengapa unsur reliabilitas menjadi dasar untuk pelaksanaan audit oleh akuntan publik?
Akuntan publik adalah gambaran pokok akuntansi dan menjadi ujung tombak akuntansi.
Akuntan publik jangan ditempatkan pada posisi yang berisiko karena dituntut.

B. Alasan Perspektif Pengukuran


Mengapa measurement perspective mengusulkan untuk memasukkan informasi yang
bernilai lebih relevan (more value-relevant information) dalam laporan keuangan pokok,
padahal teori pasar modal efisien berimplikasi bahwa catatan kaki dan pengungkapan lain
sudah cukup?
Berdasarkan information perspective, historical cost digunakan sebagai basis akuntansi
dan mengandalkan pengungkapan penuh untuk meningkatkan manfaat informasi akuntansi
bagi investor. Bentuk pengungkapan tidak penting, yang penting adalah bahwa diasumsikan
banyak rational investor dan informed investor yang bereaksi cepat terhadap informasi
akuntansi. Riset empiris tentang efisiensi pasar modal telah mengkonfirmasi bahwa setidaknya
informasi laba bermanfaat bagi pasar.
Akan tetapi, ada berbagai pertanyaan berkaitan dengan information pespective , seperti:
(1) laba hanya direaksi oleh pasar sebesar 2% – 5%,
(2) pasar modal mungkin tidak seefisien yang diduga, dan
(3) tuntutan tanggungjawab hukum oleh masyarakat terhadap akuntan meningkat.
Ketiga alasan tersebut mendasari adanya kemungkinan bahwa measurement
perspective dapat meningkatkan relevansi informasi akuntansi tanpa mengabaikan reliabilitas
informasi akuntansi tersebut.
Dari sisi riset empiris, informasi laba hanya mampu menjelaskan sangat kecil tentang
harga sekuritas. Lev (1989) menemukan bahwa respon pasar terhadap berita baik atau berita
buruk tentang earnings sangat kecil. Variabilitas keuntungan abnormal dalam narrow window
hanya 2% sampai 5% yang dijelaskan oleh informasi earnings, sisanya diakibatkan oleh faktor
lain selain perubahan earnings.
Menurut Lev, rendahnya respon pasar terhadap earnings disebabkan oleh earnings
quality yang rendah. Collins, Kothari, Shanken, dan Sloan (1994) menyatakan bahwa
rendahnya reaksi pasar terhadap informasi laba disebabkan oleh keterlambatan historical cost;
yaitu historical cost menunggu terlalu lama untuk mengakui suatu kejadian yang relevan. Hal
ini menuntut perlunya perbaikan earnings quality dengan pengenalan perspektif pengukuran
terhadap laporan keuangan.
Dari sisi teori pasar modal efisien, pasar modal mungkin tidak efisien seperti dalam
teori efisiensi pasar modal. Investor memerlukan bantuan bagaimana implikasi informasi
akuntansi terhadap prediksi keuntungan masa depan.
Dari sisi praktis, dengan meningkatnya tuntutan terhadap tanggungjawab hukum,
auditor dituntut untuk menggunakan nilai wajar dalam laporan keuangan. Tuntutan ini muncul
karena kenyataan gagalnya perusahaan-perusahaan besar, khususnya lembaga keuangan.
Sebagai contoh, Resolution Trust serta Federal Deposit Insurance menuntut Deloitte
and Touche karena memberikan clean opion terhadap perusahaan pinjaman dan tabungan yang
insolvent. Kasus terbaru adalah kasus Enron dan World.com. Salah satu cara bagi akuntan
untuk memproteksi diri dari tuntutan hukum adalah dengan mengadopsi perspektif
pengukuran, menggunakan nilai wajar, dalam laporan keuangan.
Hal ini diperkuat oleh Ohlson’s clean surplus theory yang menekankan bahwa peran
utama laporan keuangan adalah dalam penentuan nilai perusahaan, bukan perspektif informasi
di mana laporan keuangan sebagai salah satu sumber informasi. Teori ini menuntut ke arah
perspektif pengukuran.

C. Ohlson’s Clean Surplus Theory


Ohlson’s clean surplus theory menunjukkan bahwa nilai pasar dari perusahaan dapat
diekspresikan dalam variabel laporan laba-rugi dan neraca. Teori ini menunjukkan bahwa nilai
perusahaan yang bergantung pada variabel akuntansi yang fundamental konsisten dengan
perspektif pengukuran. Model Feltham dan Ohlson (1995) dapat digunakan untuk
mengestimasi nilai dari saham perusahaan. Kemudian dibandingkan dengan nilai pasar aktual,
untuk mengindikasikan kemungkinan terjadinya penilaian yang terlalu tinggi atau rendah dari
pasar. Clean surplus theory menekankan pada kegunaan dari informasi laporan keuangan saat
ini untuk memprediksi earnings di masa depan.

D. Teori Prospek
Expected utility theory (EUT) sudah mendominasi analisis pengambilan keputusan dalam
kondisi ketidakpastian (berrisiko). Bahkan teori ini sudah diterima sebagai pedoman normatif
dalam pemilihan yang rasional.
Kahneman dan Tversky (1979) menyajikan bukti empiris terjadinya pelanggaran
aksioma EUT. Berdasarkan aksioma EUT, dalam kondisi ketidakpastian, orang akan memilih
pilihan yang menghasilkan expected utility terbesar. Mereka menamainya teori prospek
(prospect theory).
Teori prospek adalah teori yang menjelaskan bagaimana seseorang mengambil
keputusan dalam kondisi tidak pasti. Substansi teori prospek adalah proses pembuatan
keputusan individual yang berlawanan dengan pembentukan harga yang biasa terjadi di ilmu
ekonomi.
Aksioma-aksioma dalam teori prospek (PT) meliputi:
• Reference point.
• Utility function.
• Loss aversion.
•Teori Prospek
•Reference point:
–PT. Orang menentukan laba atau rugi berdasarkan reference point, bukan nilai absolut laba
atau rugi tersebut. Utilitas adalah fungsi dari laba atau rugi relatif terhadap benchmark
(reference point).
–EUT. Orang menentukan laba atau rugi berdasarkan nilai absolut kekayaan. Utilitas adalah
fungsi dari nilai kekayaan absolut (tidak ada reference point).
•Teori Prospek
•Utility function:
–PT. Dalam domain laba, orang risk averse; dalam domain rugi, orang risk seeking. Fungsi
utilitas adalah cekung pada domain laba dan cembung pada domain rugi.
–EUT. Orang diasumsikan selalu bersikap risk averse. Fungsi utilitas adalah cembung baik
pada domain laba maupun pada domain rugi.
•Teori Prospek
•Loss aversion:
–PT. Loss aversion adalah tendensi orang lebih mengutamakan menghindari rugi daripada
memperoleh laba. Rugi memiliki kekuatan (power) psikologis sebanyak dua kali lipat daripada
laba. Overweight terhadap rugi dan underweight terhadap laba. Berubah 1% dari 2% ke 3%
lebih bernilai besar daripada berubah 1% dari 30% ke 31% (diminishing sensitivity).
–EUT. Laba atau rugi tidak dapat didefinisikan karena teori ini tidak memiliki reference point
untuk mengukur laba atau rugi tersebut.
E. Beta
Beta adalah pengukur volatilitas return suatu sekuritas terhadap return pasar. Beta
menggambarkan besarnya perubahan harga suatu saham tertentu dibandingkan dengan
perubahan harga pasar.
Beta pasar diestimasi dengan menggunakan return historis sekuritas dan pasar,
misalnya 200 hari untuk return harian. Beta pasar dapat diestimasi dengan CAPM.
Beta merupakan konsep yang penting dalam akuntansi keuangan karena beta
merupakan pengukur risiko sistematis suatu sekuritas terhadap risiko pasar
Risiko sistematis adalah risiko yang tidak dapat didiversifikasi melalui portofolio.
Risiko ini menggambarkan faktor ekonomi secara keseluruhan yang mempengaruhi semua
sekuritas yang ada. Apabila fluktuasi return suatu sekuritas mengikuti fluktuasi return pasar,
maka beta sekuritas tersebut bernilai 1. Beta bernilai 1 berarti bahwa risiko sistematis suatu
saham sama dengan risiko pasar.
Fama dan French, meneliti pasar modal USA untuk periode 1963-1990, menemukan
bahwa beta memiliki sedikit kemampuan untuk menjelaskan keuntungan sekuritas. Mereka
menemukan bahwa book-to-market ratio dan ukuran perusahaan (firm size) lebih signifikan
menjelaskan keuntungan sekuritas.
Daripada melihat beta, lebih baik melihat book-to-market ratio dan ukuran perusahaan
sebagai ukuran risiko. Risiko akan meningkat dengan meningkatkanya book-to-marke ratio
dan menurun dengan semakin besarnya ukuran perusahaan. Hasil penelitian Fama dan French
ini menjadikan beta “mati.”
Schiller (1981) yang menyatakan bahwa variabilitas harga sekuritas sama dengan
variabilitas dividen. Determinan yang menentukan nilai perusahaan adalah dividen masa
depan. Selain itu, asumsi bahwa beta konstan (stationary) juga kurang tepat. Apabila beta
konstan, satu-satunya yang tidak pasti adalah RMt yang bersifat random.
Beta pasar modal berkembang perlu disesuaikan karena adanya perdagangan tidak
sinkron. Perdagangan tidak sinkron terjadi karena transaksi di pasar jarang terjadi. Beberapa
sekuritas tidak mengalami perdagangan beberapa lama.
Jika beta tidak bias, maka beta pasar (atau rata-rata tertimbang semua beta) adalah 1. Apabila
rata-rata tertimbang beta tidak 1, maka selisihnya menggambarkan bias dalam beta. Koreksi
terhadap beta yang bias dapat dilakukan dengan tidak metode, yaitu metode yang diajukan oleh
Scholes dan Williams (1977), Dimson (1979), dan Fowler dan Rorke (1983).
Selain beta pasar, ada juga beta lain yang dikenal, yaitu: beta akuntansi dan beta
fundamental. Beta akuntansi dihitung sama dengan beta pasar dengan mengganti data return
menjadi data laba (earnings).
Beta fundamentel dihitung dengan berbagai variabel fundamental seperti: dividend
payout, pertumbuhan aktiva, leverage, likuiditas, asset size, dan earnings variability.

F. Anomali Pasar Modal Efisien


Apabila harga tidak bereaksi cepat terhadap informasi baru tetapi membutuhkan waktu
lebih lama, maka keuntungan abnormal dapat terjadi.
Efisiensi pasar modal dinyatakan sebagai pasar modal efisien dengan anomali. Hal ini
terjadi karena pasar tidak sepenuhnya efisien karena dengan informasi yang diumumkan masih
ada abnormal return.

G. Auditors Legal Liability


Kemungkinan sumber utama dari penekanan kegunaan perpektif pengukuran berasal
dari reaksi atas kegagalan spektakuler perusahaan-perusahaan besar, terutama institusi
keuangan. Dengan dasar historical cost, perusahaan yang ada saat ini, dengan anggapan bahwa
laporan laba rugi dan neraca memperlihatkan bahwa mereka dapat bertahan lama, dapat
bangkrut besok. Auditor sering kesulitan dalam mempertahankan diri mereka dari tuntutan
hukum yang biasanya mengikuti kegagalan bisnis. Salah satu jalan akuntan dan auditor dapat
melindungi dirinya dari tekanan ini yaitu dengan mengadopsi perspektif pengukuran yang lebih
mengenalkan nilai wajar dalam akun-akun.
Akuntan menghadapi risiko tuntutan hukum yang lebih besar apabila aktiva tetap
dinyatakan terlalu tinggi dibandingkan apabila aktiva tetap dinyatakan terlalu rendah. Hal ini
sesuai dengan prinsip konservatisme. Pengungkapan terhadap risiko (value at risk) juga
berorientasi pada measurement perspective. Dalam hal ini, perusahaan (bukan investor)
menyiapkan penilaian tentang risiko karena perusahaan lebih mengerti risiko yang mereka
hadapi daripada investor. Pengungkapan risiko ini memiliki potensi yang besar dalam decision
usefulness.
Akuntan dapat memproteksi diri dengan penggunaan measurement perspective dengan
mengadopsi fair value seperti mark-to-market. Akuntan dapat secara eksplisit menjawab
tuntutan hukum masyarakat dengan mengatakan bahwa laporan keuangan telah mengantisipasi
perubahan nilai instrumen keuangan apakah akan mengarah ke kelangsungan hidup atau ke
kebangkrutan. Dalam hal ini estimasi dan judgment banyak digunakan. Karena itu, akuntan
dapat mengadopsi fair value hanya apabila dengan pengukuran tersebut reliabilitas informasi
keuangan tidak berkurang.
Apakah ancaman tuntutan hukum, apabila nilai neraca mengandung kesalahan,
mempengaruhi kredibilitas pelaporan keuangan?
•Ya. Apabila nilai neraca salah, misalnya dinyatakan terlalu tinggi atau terlalu rendah, maka
kredibilitas laporan keuangan berkurang. Apakah dinyatakan terlalu tinggi atau terlalu rendah
tergantung pada metode pengukuran yang digunakan. Karena itu, untuk mengurangi tuntutan
hukum dan meningkatkan kredibilitas laporan keuangan, akuntan mengambil sebagian
tanggungjawab investor dengan menggunakan fair value terhadap laporan keuangan pokok.
Berkaitan dengan aktiva, ancaman terhadap tututan hukum lebih besar terhadap akuntan
apabila necara dinyatakan terlalu tinggi dibandingkan dinyatakan terlalu rendah. Sebaliknya
berlalu bagi pasiva.

H. ASYMMETRY OF INVESTOR LOSSES


Contoh:
Bill Cautious, seorang investor rasional, memiliki investasi pada saham x Ltd., dengan nilai
pasar saat ini sebesar $ 10.000. dia berencana untuk menggunakan rasa takjub ini untuk hidup
selama dua tahun ke depan. Setelah itu, dia akan lulus dan akan memiliki pekerjaan dengan
bayaran tinggi. Oleh karena itu, dia tidak peduli sekarang tentang perencanaan lebih dari dua
tahun. Tujuannya adalah memaksimalkan utilitas totalnya selama periode ini. Untuk
kesederhanaan, kami berasumsi bahwa X Ltd. tidak membayar dividen selama dua tahun ini.
RUU adalah penghindaran risiko, dengan utilitas di setiap tahun sama dengan akar kuadrat dari
jumlah yang ia habiskan di tahun itu.
Hal ini mudah untuk melihat bahwa utilitas total Bill akan dimaksimalkan jika ia
menghabiskan jumlah yang sama setiap tahunnya. Dengan demikian, dia menjual $ 5.000 dari
sahamnya sekarang dan berencana untuk menjual sisa $ 5.000 pada awal tahun kedua.
Namun, misalkan, pada awal tahun pertama, aset x Ltd tertentu telah jatuh nilainya.
kerugiannya belum direalisasi, dan auditor x Ltd. gagal mengetahuinya. Akibatnya, kerugian
tetap ada sebagai informasi dari dalam, dan nilai pasar dari saham Bill yang tidak terjual tetap
sebesar $ 5.000. Kerugian tersebut terwujud pada tahun ke 1, dan sisa saham Bill bernilai $
3.000 pada akhir tahun.
Menghitung utilitas Bill untuk dua tahun, dievaluasi pada akhir tahun 1:
EUa (overstatement) = √5,000 + √3,000
= 70.71 + 54.77
= 125.48
di mana EUa menunjukkan utilitas sebenarnya Bill, menjadi utilitas dari $ 5.000 yang

dihabiskannya di tahun pertama ditambah dengan utilitas yang akan datang di tahun 2 dari

penjualan sahamnya seharga $ 3.000.

Jika Bill tahu di awal tahun pertama bahwa kekayaannya hanya $ 8.000. dia akan

berencana untuk menghabiskan $ 4.000 setiap tahunnya. Utilitas yang diharapkannya adalah:

EU (overstatement) = √4,000 + √4,000


= 63.25 + 63.25
= 126.50

di mana UE menunjukkan utilitas Bill jika dia mengetahui nilai tertinggi dari sahamnya.

Dengan demikian, Bill kehilangan utilitas sebesar 126.50 -125.48 = 1,02 sebagai akibat dari

pelepasan kekayaan senilai $ 2.000.

Sekarang anggap saja bahwa aset x Ltd. telah meningkat nilainya sebesar $ 2.000 pada

awal tahun 1. Sekali lagi, keuntungan yang belum direalisasi tidak diakui oleh auditor pada

awal tahun 1, dan tetap sebagai informasi orang dalam. Keuntungan tersebut terealisasi

sepanjang tahun, dan saham Bill bernilai $ 7.000 pada akhir tahun. Utilitas sebenarnya selama

dua tahun adalah:

EUa (understatement) = √5,000 + √7,000


= 70.71 + 83.65
= 154.38

Padahal, jika Bill tahu kekayaannya adalah $ 12.000:


EU (understatement) = √6,000 + √6,000
= 77.46 + 77.46
= 154.92

Dengan demikian, Bill kehilangan utilitas 154,92-154.38 = 0,54 sebagai hasil dari

meremehkan kekayaan pembukaan. Perhatikan bahwa meskipun total konsumsi Bill akan

menjadi $ 2.000 lebih tinggi dari perkiraan semula. dia masih menderita kehilangan utilitas,

karena meremehkan biaya dia kesempatan untuk secara optimal merencanakan pengeluarannya

dari waktu ke waktu.

Poin utama dari contoh ini adalah bahwa sementara jumlah salah saji adalah sama.

Hilangnya utilitas Bill untuk melebih-lebihkan hampir dua kali kerugian untuk meremehkan.

Kerugian tersebut muncul karena Bill salah mengartikan konsumsinya dari waktu ke waktu

karena kesalahan dan bias dalam melaporkan kekayaannya. Bill akan kecewa dalam kedua

kasus tersebut, tapi dia lebih kecewa dengan pernyataan yang berlebihan. Karena itu. auditor

lebih cenderung dituntut karena kesalahan berlebih. Untuk model yang lebih formal untuk

menunjukkan asimetri ini. lihat Scott (1975).

Mengantisipasi asimetri kerugian investor. auditor bereaksi dengan konservatif bemg.

Bila nilai saat ini mengalami penurunan. menulis aset ke nilai saat ini menguntungkan investor

dalam contoh kita dengan kata-kata kehilangan utilitas sebesar 1,02, sehingga mengurangi

kemungkinan investor menuntut auditor. Regulator, yang juga ingin melihat lebih sedikit

kerugian investor dan tuntutan hukum, akan mendorong konservatisme ini dengan undang-

undang hukuman bagi perusahaan dan manajer mereka yang gagal melepaskan berita buruk

pada waktu yang tepat, dan dengan standar akuntansi baru seperti tes di langit-langit.

Contoh ini mengilustrasikan kondisional, atau ex post, konservatisme. Kerugian


ekonomi dalam nilai telah terjadi, walaupun belum direalisasikan pada awal tahun 1. Contoh
ini menyarankan alasan untuk mengenali kerugian yang belum direalisasi - kehilangan investor
yang lebih rendah dan lebih sedikit terpapar tuntutan hukum.
Alhasil. Salah satu cara agar akuntan dan auditor dapat mendukung perilaku etis. meningkatkan
kegunaan bagi investor, dan melindungi diri dari tanggung jawab hukum adalah untuk
memperluas konservatisme bersyarat. Perhatikan bahwa karena konservatisme bersyarat
memerlukan pengukuran nilai arus, kita dapat menganggapnya sebagai versi asimetris (yaitu
satu sisi) pada pendekatan pengukuran.
Tentu saja, Contoh ini menimbulkan pertanyaan, mengapa tidak menulis aset sampai
nilai saat ini juga? Mengakui kenaikan aset $ 2.000 yang belum direalisasi pada awal tahun
pertama akan meningkatkan utilitas Bill sebesar 0,54. Meskipun tidak sebesar peningkatan
utilitas dari mengenali kerugian yang belum direalisasi sebesar $ 2.000. ini akan merupakan
perbaikan lebih lanjut dalam kegunaan laporan keuangan. Jawaban yang mungkin adalah
bahwa auditor mungkin memperhatikan keandalan nilai saat ini. Peningkatan kegunaan dan
penurunan eksposur hukum dari aset penulisan turun mungkin cukup tinggi untuk lebih besar
daripada masalah keandalan, sedangkan manfaat dari menulis aset mungkin tidak. Juga. Selain
motivasi berorientasi investor yang digambarkan di sini, konservatisme bersyarat memiliki
motivasi kontrak dan motivasi perusahaan. Menulis aset bekerja melawan motivasi ini.
Asimetri kerugian utilitas ini. yang didorong oleh keruntuhan fungsi utilitas investor
yang menolak risiko, merupakan permintaan investor untuk konservatisme, yang mendasari
penjelasan litigasi dan peraturan untuk konservatisme.

 Kesimpulan pada pendekatan pengukuran terhadap kegunaan keputusan

Pendekatan informasi terhadap pelaporan keuangan adalah konten untuk menerima

basis biaya historis akuntansi dan mengandalkan pengungkapan penuh untuk

meningkatkan kualitas dan kegunaan laba kepada investor. Bentuk pengungkapan tidak

menjadi masalah, karena diasumsikan bahwa ada cukup banyak investor yang rasional dan

rasional untuk secara cepat dan benar menggabungkan bentuk yang masuk akal ke harga

pasar yang efisien, sehingga harga melindungi investor yang mungkin tidak ingin

melakukan analisis mendalam mereka sendiri. Penelitian empiris telah mengkonfirmasi

bahwa pasar menemukan informasi laba bersih setidaknya berguna. Akibatnya, penelitian

empiris berdasarkan pendekatan informasi menerima harga pasar yang efisien dan

mengevaluasi kegunaan informasi akuntansi dalam kaitannya dengan harga pasar ini.
Namun, ada beberapa pertanyaan tentang pendekatan informasi. Pertama, pasar

sekuritas mungkin sama efisiennya dengan yang sebelumnya diyakini, menunjukkan

bahwa investor mungkin memerlukan bantuan untuk mengetahui implikasi penuh dari

informasi akuntansi untuk keuntungan di masa depan. Teori perilaku menunjukkan bahwa

bantuan dapat diberikan dengan memindahkan informasi nilai arus dari catatan keuangan

ke dalam laporan keuangan yang benar. Kedua, pangsa pasar 2 sampai 5% untuk laba bersih

nampaknya rendah dan, terlepas dari dukungan teoritis, sulit untuk menemukan reaksi pasar

langsung sama sekali terhadap informasi akuntansi laba sekarang. Selain itu,

pertanggungjawaban hukum dapat memaksa akuntan, auditor, dan manajer untuk

meningkatkan konservatisme dalam laporan keuangan dengan menerapkan versi asimetris

dari pengukuran nilai sekarang.

Pendekatan pengukuran diperkuat oleh pengembangan teori surplus bersih Ohlson,

yang menekankan peran fundamental informasi akuntansi keuangan dalam menentukan

nilai perusahaan. Teori ini menyiratkan peran yang lebih mendasar untuk laporan keuangan

dalam melaporkan nilai perusahaan daripada pendekatan informasi, yang memandang

informasi akuntansi sebagai salah satu dari banyak sumber informasi yang bersaing untuk

mendapatkan perhatian pasar yang efisien. Dengan demikian, teori surplus bersih secara

alami mengarah pada pendekatan pengukuran.

Tentu saja, pendekatan pengukuran mm menjadi masalah reliabilitas. Oleh karena itu,

kami tidak mengharapkan pendekatan ini mencakup keseluruhan laporan keuangan

berdasarkan nilai lancar. Sebaliknya, pertanyaannya adalah salah satu tingkat - sampai

tingkat berapa biaya pengganti dalam pelaporan keuangan? Akibatnya, di bab berikutnya

kita mengulas GAAP dari perspektif penilaian saat ini. Selalu ada nilai present value dan

komponen nilai pasar yang besar terhadap laporan keuangan. Tapi, seperti yang akan kita

lihat, beberapa tahun terakhir telah menyaksikan sejumlah standar nilai arus baru.