Anda di halaman 1dari 2

8 Poin Penting dalam UU Jasa Konstruksi Terbaru

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI akhirnya membenahi iklim usaha jasa konstruksi
dengan menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) Jasa Konstruksi menjadi
undang-undang (UU) No 12 Tahun 2017 tentang jasa konstruksi dalam Rapat
Paripurna Ke-15 di Gedung DPR RI yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR Fahri
Hamzah, Kamis (15/12). UU Jasa Konstruksi terbaru ini memiliki beberapa poin
penting yang akan menggantikan Undang-Undang Jasa Konstruksi Nomor 18 Tahun
1999 yang sudah berlaku kurang lebih selama 17 tahun.

Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly saat menyampaikan Pendapat Akhir
Presiden atas RUU tentang Jasa Konstruksi dalam Sidang Paripurna mengatakan
bahwa RUU tentang Jasa Konstruksi ini telah melalui proses pembahasan yang
mendalam. Dirinya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
berperan dalam proses pembahasan RUU serta mengapresiasi Pimpinan serta Anggota
DPR RI karena telah memberikan perhatian penuh selama berlangsungnya
pembahasan RUU Jasa Konstruksi.

"Kiranya, niatan baik kita untuk kepentingan dan kemajuan bangsa-negara demi
NKRI bisa terwujud dan didukung oleh seluruh rakyat Indonesia," katanya. Turut
hadir dalam Sidang Paripurna tersebut Sekjen Kementerian PUPR Anita Firmanti dan
Direktur Jenderal Bina Konstruksi Yusid Toyib mewakili Menteri PUPR Basuki
Hadimuljono yang tengah berada di Aceh mendampingi Presiden RI Joko Widodo.

UU Jasa Konstruksi No 12 Tahun 2017 yang baru disahkan ini terdiri dari 14 Bab dan
106 pasal telah melalui harmonisasi dengan peraturan sektor lain, seperti UU Nomor
11/2014 tentang Keinsinyuran, UU Nomor 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, UU
Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, UU Nomor 23/2004
tentang Pemerintahan Daerah dan aturan terkait lainnya.

Menurutnya, tantangan kedepan terhadap perkembangan jasa konstruksi mendorong


dilakukannya revisi RUU, mengingat industri konstruksi Indonesia yang sangat
dinamis dan perlu adanya pengaturan terhadap rantai pasok, system delivery dalam
sistem pengadaan barang dan jasa serta mutu konstruksi.

Sementara itu Ketua Komisi V DPR RI, Fary Djemy Francis mengatakan bahwa RUU
Jasa Konstruksi yang menjadi inisiatif DPR RI telah dibahas bersama pemerintah
sejak 27 Februari 2016 dan pemerintah telah menyampaikan 905 Daftar Inventaris
Masalah (DIM). Kemudian dilanjutkan dengan Rapat Panitia Kerja (Panja) dan Tim
Perumus (Timus) secara intensif serta menghasilkan rumusan yang disepakati
bersama pemerintah.
Substansi Penting UU Jasa Konstruksi

Yasonna menegaskan bahwa RUU Jasa Konstruksi ini tidak lagi berorientasi hanya
kepada urusan bidang PUPR tetapi mencakup penyelenggaraan pekerjaan konstruksi
di Indonesia secara utuh.

Ia menyampaikan bahwa ada beberapa substansi penting dalam UU Jasa Konstruksi


yang disepakati antara Pemerintah dan DPR-RI, antara lain

1. Adanya pembagian peran berupa tanggung jawab dan kewenangan antara


Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan jasa
konstruksi;
2. Menjamin terciptanya penyelenggaraan tertib usaha jasa konstruksi yang adil,
sehat dan terbuka melalui pola persaingan yang sehat;
3. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan jasa konstruksi
melalui kemitraan dan sistem informasi, sebagai bagian dari pengawasan
penyelenggaraan jasa konstruksi;
4. Lingkup pengaturan yang diperluas tidak hanya mengatur usaha jasa
konstruksi melainkan mengatur rantai pasok sebagai pendukung jasa
konstruksi dan usaha penyediaan bangunan;
5. Adanya aspek perlindungan hukum terhadap upaya yang menghambat
penyelenggaraan jasa konstruksi agar tidak mengganggu proses pembangunan.
Perlindungan ini termasuk perlindungan bagi pengguna dan penyedia jasa
dalam melaksanakan pekerjaan konstruksi. Pada RUU tentang Jasa Konstruksi
yang baru tidak terdapat klausul kegagalan pekerjaan konstruksi hanya ada
klasul kegagalan bangunan. Hal ini sebagai perlindungan antara pengguna dan
penyedia jasa saat melaksanakan pekerjaan konstruksi;
6. Perlindungan bagi tenaga kerja Indonesia dalam bekerja di bidang jasa
konstruksi, termasuk pengaturan badan usaha asing yang bekerja di Indonesia,
juga penetapan standar remunerasi minimal untuk tenaga kerja konstruksi;
7. Adanya jaring pengaman terhadap investasi yang akan masuk di bidang jasa
konstruksi;
8. Mewujudkan jaminan mutu penyelenggaraan jasa konstruksi yang sejalan
dengan nilai-nilai keamanan, keselamatan, kesehatan, dan keberlanjutan (K4).