Anda di halaman 1dari 35

TEKNIK PEMERIKSAAN KNEE JOINT PADA KASUS FRAKTUR

TIBIA FIBULA DI INSTALASI RADIOLOGI

RS ORTOPEDI PROF. DR. R. SOEHARSO SURAKARTA

Laporan Kasus

Disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Praktek Kerja Lapangan (PKL) I

di Instalasi Radiologi RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta

Disusun Oleh:

ULFATUZ ZAHROH

NIM: P1337430216049

PROGAM STUDI SARJANA TERAPAN TEKNIK RADIOLOGI

JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN

SEMARANG

TAHUN AJARAN 2016/2017


LEMBAR PENGESAHAN

NAMA : ULFATUZ ZAHROH

NIM : P1337430216049

JUDUL : “TEKNIK PEMERIKSAAN KNEE JOINT PADA KASUS FRAKTUR

TIBIA FIBULA DI INSTALASI RADIOLOGI RS ORTOPEDI PROF. DR.

R. SOEHARSO SURAKARTA.”

Telah disetujui dan disahkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Praktek Kerja Lapangan

(PKL) I, Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik Kesehatan

Kementerian Kesehatan Semarang pada:

Hari / Tanggal : Jumat, 24 November 2017

Tempat : Instalasi Radiologi RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta

Surakarta, 24 November 2017

Mengetahui,

Clinical Instruktur Pembimbing

SRIYONO HARTANTO

NIP. 19700912 199403 1 003 NIP. 19800928 200604 1 012


KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan berkat-Nya,

penulis diberikan kemudahan dan kelancaran untuk dapat menyelesaikan laporan kasus

yang berjudul “Teknik Pemeriksaan Knee Joint pada Kasus Fraktur Tibia Fibula di

Instalasi Radiologi RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta”.

Laporan ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Praktek Kerja Lapangan

(PKL) I semester III Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik

Kesehatan Kemenkes Semarang yang bertempat di Instalasi Radiologi RS Ortopedi Prof.

Dr. R. Soeharso Surakarta.

Dalam penyusunan laporan ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan serta

bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan banyak terimakasih

kepada:

1. Allah SWT yang selalu memberikan petunjuk dan membimbing penuh dalam

menuntut ilmu di jalan – Nya.

2. Bapak Sugiyanto, S.Pd. M.App. Sc, selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Semarang

3. Ibu Rini Indrati, S.Si. M.Kes, selaku Ketua Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan

Radioterapi Poltekkes Kemenkes Semarang.

4. Ibu Siti Masrochah, S.Si. M.Kes, selaku Ketua Program Studi Sarjana Terapan

Teknik Radiologi Poltekkes Kemenkes Semarang.

5. Bapak Nanang Sulaksono, S.ST. M.Kes, selaku supervisor di RS Ortopedi Prof. Dr.

R. Soeharso Surakarta.

6. Seluruh Dosen dan Staff Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik

Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang.

Page i
7. Dr. Leli Sabariyah, Sp. Rad, selaku Ka. Instalasi Radiologi RSOP Dr. Soeharso

Surakarta.

8. Ibu Yustina Paran Subekti, S.ST, selaku Kepala Ruang Pelayanan Radiologi RSO

Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta.

9. Bapak Sriyono, selaku Clinical Instructur di Instalasi Radiologi RSO Prof. Dr. R.

Soeharso Surakarta.

10. Bapak Hartanto, selaku radiografer pembimbing di Instalasi Radiologi RS Ortopedi

Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta yang telah membimbing penulis selama PKL I.

11. Seluruh Radiografer dan staff Instalasi Radiologi RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso

Surakarta, dr. Handry, Bapak Wasripin, Ibu Yustina, Ibu Sri Hidayati, Bapak

Gunawan, Bapak Teguh, Bapak Elli, Ibu Rini, Mas Rofik, Mas Ari, Mas Doni, Mas

Dhamar, Mbak Fera, Mbak Harum, Mbak Nadia, Bapak Murni, Ibu Tuti, bapak

Sugeng, Bapak Yoseph, yang telah membimbing dan membina penulis selama PKL I.

12. Rekan – rekan PKL dari STIKES Widya Husada dan ATRO Citra Bangsa.

13. Rekan – rekan mahasiswa Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi angkatan

32 Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang.

14. Semua pihak yang telah turut serta membantu penyusunan laporan kasus ini selesai

tepat waktu yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan kasus ini masih banyak

kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun

untuk perbaikan laporan ini.

Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis pada

khususnya dan pembaca pada umumnya.

Surakarta, 24 November 2017

Penulis

Page ii
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN

KATA PENGANTAR ................................................................................................ i

DAFTAR ISI............................................................................................................. iii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. v

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ..................................................................................................... 1

1.2. Rumusan Masalah ................................................................................................ 2

1.3. Tujuan Penulisan .................................................................................................. 2

1.4. Manfaat Penulisan ................................................................................................ 2

1.5. Sistematika penulisan........................................................................................... 3

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Anatomi dan Fisiologi Knee joint ......................................................................... 4

2.2 Patologi Fraktur .................................................................................................... 7

2.3 Teknik Pemeriksaan Radiografi Knee joint ........................................................ 12

2.4 Proteksi Radiasi .................................................................................................. 19

BAB III PAPARAN KASUS DAN PEMBAHASAN

3.1 Paparan Kasus ..................................................................................................... 20

3.2 Teknik Pemeriksaan ............................................................................................ 20

3.3 Pembahasan......................................................................................................... 24

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 26

4.2 Saran ................................................................................................................... 26

Page iii
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 27

LAMPIRAN............................................................................................................. 28

Page iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Knee joint AP dan lateral view ...................................................................... 6

Gambar 2.2 Posisi Knee untuk Proyeksi AP .................................................................. 13

Gambar 2.3 Ketebalan pelvis dan sudut central ray untuk radiografi Knee AP ............. 14

Gambar 2.4 Gambar Radiograf Antero Posterior Knee joint Normal ............................ 15

Gambar 2.5 Posisi Knee untuk Proyeksi Lateral (Mediolateral) .................................... 16

Gambar 2.6 Gambar Radiograf Knee joint pada Proyeksi Lateral ................................ 17

Gambar 3.1 Hasil radiograf proyeksi AP ........................................................................ 22

Gambar 3.2 Hasil radiograf proyeksi lateral arah sinar horizontal ................................. 24

Page v
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pemeriksaan radiografi merupakan suatu pemeriksaan penunjang untuk

menegakkan diagnosa dari dokter. Citra radiograf yang dihasilkan baik atau tidaknya

sangat menentukan tindakan medis yang akan dilakukan selanjutnya kepada pasien.

Radiografer berperan sebagai tenaga medis yang akan membantu mendapatkan hasil citra

radiograf, melalui teknik pemeriksaan yang tepat. Objek yang difoto harus tampak

seluruhnya dan terlihat optimal pada hasil radiograf.

Pemilihan proyeksi yang tepat pada teknik pemeriksaan sangat berpengaruh

terhadap efektifnya dosis dan waktu yang dikehendaki. Pada umumnya terdapat dua

proyeksi utama yang digunakan untuk pemeriksaan radiografi pada objek Knee Joint,

yaitu Anterio-Posterior dan Lateral dengan arah sinar vertikal. Namun ketika penulis

melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) I di Instalasi Radiologi RS Ortopedi Prof. Dr.

R. Soeharso Surakarta, pemeriksaan radiografi untuk proyeksi lateral menggunakan arah

sinar yang horizontal pada pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan kasus fraktur

Tibia Fibula.

Dari uraian di atas, penulis tertarik ingin mengetahui lebih lanjut peran proyeksi

Lateral dalam menegakkan diagnosa dengan indikasi Fraktur Tibia Fibula. Oleh karena

itu, penulis mengangkat kasus tersebut sebagai laporan kasus dengan judul “Teknik

Pemeriksaa Knee Joint pada Kasus Fraktur Tibia Fibula di Instalasi Radiologi RS

Ortopedi Prof. Dr. R. SOEHARSO SURAKARTA”

Page 1
1.2 Rumusan Masalah

Dalam laporan kasus ini penulis menetapkan rumusan masalah sebagai batasan

lingkup pembahasan. Adapun rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut :

1.2.1 Mengapa dilakukan pemeriksaan teknik radiografi Knee Joint untuk kasus

fraktur Tibia Fibula?

1.2.2 Bagaimana prosedur pelaksanaan pemeriksaan teknik radiografi Knee Joint

pada kasus fraktur Tibia Fibula?

1.3 Tujuan Penulisan

Penulis memiliki beberapa tujuan dalam penulisan laporan kasus ini, diantaranya

adalah :

1.3.1 Untuk mengetahui dasar dilakukannya pemeriksaan teknik radiografi Knee

Joint untuk kasus fraktur Tibia Fibula.

1.3.2 Untuk mengetahui prosedur pelaksanaan pemeriksaan teknik radiografi Knee

Joint pada kasus fraktur Tibia Fibula.

1.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan ini adalah:

1.4.1 Menambah pengetahuan tentang prosedur teknik pemeriksaan radiografi Knee

Joint pada kasus fraktur Tibia Fibula.

1.4.2 Dapat mengetahui dan melakukan modifikasi teknik pemeriksaan radiografi

Knee Joint pada kasus fraktur Tibia Fibula dengan arah sinar horizontal pada

proyeksi lateral.

Page 2
1.5 Metode Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan,

dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN TEORI

Berisi anatomi dan fisiologi knee joint, patologi, serta teknik radiografi knee

joint.

BAB III PAPARAN KASUS DAN PEMBAHASAN

Berisi paparan kasus dan pembahasan.

BAB IV PENUTUP

Berisi kesimpulan dan saran.

DAFTAR PUSTAKA

Berisi daftar buku dan referensi yang digunakan sebagai dasar teori

pembuatan laporan kasus ini.

LAMPIRAN

Berisi lampiran form permintaan foto.

Page 3
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Anatomi dan Fisiologi Knee joint

Knee joint adalah salah satu sendi kompleks dalam tubuh manusia. Femur, Tibia,

Fibula, dan patella disatukan menjadi satu kelompok yang kompleks oleh ligament.

(Ballinger, 2007)

Sendi merupakan pertemuan antara dua atau beberapa tulang dari kerangka.

Terdapat tiga jenis utama berdasarkan kemungkinan gerakannya yaitu sendi fibrus, sendi

tulang rawan dan sendi sinovial (C Evelyn, 2010).

Sendi fibrus atau sinartroses adalah sendi yang tidak dapat bergerak atau merekat

ikat, maka tidak mungkin ada gerakan antara tulang – tulangnya, misalnya: sutura antara

tulang pipih tengkorak. Sendi tulang rawan atau amfiartroses adalah sendi dengan

gerakan sedikit dan permukaan persendiannya dipisahkan oleh bahan dan mungkin

sedikit gerakannya. Misalnya, simphisis pubis, dimana sebuah bantalan tulang rawan

mempersatukan kedua tulang pubis. Sendi synovial atau diartroses adalah persendian

yang bergerak bebas dan terdapat banyak ragamnya.

Sendi lutut dibentuk oleh epiphysis distalis tulang femur, epiphysis proksimalis,

tulang Tibia dan tulang patella, serta mempunyai beberapa sendi yang terbentuk dari

tulang yang berhubungan, yaitu antar tulang femur dan patella disebut articulatio patella

femoral, antara tulang Tibia dengan tulang femur disebut articulatio tibio femoral dan

antara tulang Tibia dengan tulang Fibula proximal disebut articulatio tibio Fibular

proxsimal (De Wolf, 1996).

Page 4
Sendi lutut merupakan suatu sendi yang disusun oleh beberapa tulang, ligament

beserta otot, sehingga dapat membentuk suatu kesatuan yang disebut dengan sendi lutut

atau Knee joint. Anatomi sendi lutut terdiri dari:

2.1.1 Tulang pembentuk sendi lutut antara lain:

2.1.1.1 Tulang Femur

Merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar di dalam tulang

kerangka pada bagian pangkal yang berhubungan dengan

acetabulum membentuk kepala sendi yang disebut caput femoris. Di

sebelah atas dan bawah dari columna femoris terdapat taju yang

disebut trochantor mayor dan trochantor minor, di bagian ujung

membentuk persendian lutut, terdapat dua buah tonjolan yang

disebut condylus medialis dan condylus lateralis, di antara kedua

condylus ini terdapat lekukan tempat letaknya tulang tempurung lutut

(patella) yang disebut dengan fosa condylus (Syaifuddin, 2010).

2.1.1.2 Tulang Tibia

Tulang Tibia bentuknya lebih kecil, pada bagian pangkal

melekat pada os Fibula, pada bagian ujung membentuk persendian

dengan tulang pangkal kaki dan terdapat taju yang disebut os

maleolus medialis. (Syaifuddin, 2010).

2.1.1.3 Tulang Fibula

Merupakan tulang pipa yang terbesar sesudah tulang paha yang

membentuk persendian lutut dengan os femur pada bagian ujungnya.

Terdapat tonjolan yang disebut os maleolus lateralis atau mata kaki

luar. (Syaifuddin, 2010).

Page 5
2.1.1.4 Tulang Patella

Pada gerakan fleksi dan ekstensi patella akan bergerak pada

tulang femur. Jarak patella dengan Tibia saat terjadi gerakan

adalah tetap dan yang berubah hanya jarak patella dengan femur.

Fungsi patella di samping sebagai perekatan otot-otot atau tendon

adalah sebagai pengungkit sendi lutut. Pada posisi flexi lutut 90˚,

kedudukan patella di antara kedua condylus femur dan saat extensi

maka patella terletak pada permukaan anterior femur (Syaifuddin,

2010).

Gambar 2.1 Knee joint AP dan lateral view.

Page 6
2.2 Patologi Fraktur

2.2.1 Klasifikasi Fraktur

Fraktur adalah Patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau

tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu

sendiri, dan jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah

fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap

terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak

lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang.

Jenis-jenis fraktur yang perlu diketahui secara radiologis adalah :

2.2.1.1 Complete Noncominuted Fracture

Secara radiologis akan terlihat sebagai garis Radioluscent di tempat

fraktur dimana terjadi diskontinuitas tulang.

Keadaan ini disertai bermacam-macam bentuk antara lain :

2.2.1.1.1 Fraktur transversal

Adalah fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap

sumbu panjang tulang. Pada fraktur semacam ini, segmen-

segmen tulang yang patah direposisi atau direduksi kembali

ke tempat semula, maka segmen-segmen itu akan stabil,

dan biasanya mudah dikontrol dengan bidai gips.

2.2.1.1.2 Fraktur oblik

Adalah fraktur yang garis patahnya membentuk sudut

terhadap tulang. Fraktur ini tidak stabil dan sulit diperbaiki.

2.2.1.1.3 Fraktur spiral

Timbul akibat torsi pada ekstremitas. Yang menarik adalah

bahwa jenis fraktur rendah energi ini hanya menimbulkan

Page 7
sedikit kerusakan jaringan lunak, dan fraktur semacam ini

cenderung cepat sembuh dengan imobilisasi luar.

2.2.1.1.4 Fraktur multipel

Keadaan ini dinamakan suatu multipel apabila terdapat

lebih dari satu fraktur complete pada satu tulang panjang.

2.2.1.1.5 Fraktur avulsi

Fraktur avulsi memisahkan suatu fragmen tulang pada

tempat insersi tendon maupun ligamen. Biasanya tidak ada

pengobatan spesifik yang diperlukan. Namun, bila diduga

akan terjadi ketidakstabilan sendi atau hal-hal lain yang

menyebabkan kecacatan, maka perlu dilakukan

pembedahan untuk membuang atau meletakkan kembali

fragmen tulang tersebut.

2.2.1.1.6 Chip fracture

Fraktur ini sejenis dengan avultion fracture, tetapi hanya

sedikit fragmen dari sudut tulang yang terlepas, sering

terjadi pada tulang-tulang pendek pada phalanges.

2.2.1.2 Incomplete fracture

Dinamakan suatu fraktur inkomplet bila tidak semua struktur tulang

terputus. Ini hanya dapat diketahui dengan pemeriksaan radiologis.

Ada beberapa golongan fraktur inkomplet :

2.2.1.2.1 Green stick fracture

Adalah fraktur tidak sempurna dan sering terjadi pada anak-

anak. Korteks tulangnya sebagian masih utuh, demikian

juga periosteum. Fraktur-fraktur ini akan segera sembuh

Page 8
dan segera mengalami re-modelling ke bentuk dan fungsi

normal.

2.2.1.2.2 Impacted fracture

Pada fraktur ini bagian fraktur dari tulang masuk ke bagian

fragmen lainnya. Garis fraktur terlihat sebagai garis dens

dan disertai terjadinya pemendekan tulang.

2.2.1.3 Fraktur kompresi

Fraktur kompresi terjadi ketika dua tulang menumbuk tulang ketiga

yang berada diantaranya, seperti satu vertebra dengan dua vertebra

lainnya. Fraktur pada korpus vertebra ini dapat didiagnosis dengan

radiogram. Pada orang muda fractur kompresi dapat disertai

perdarahan retroperitoneal yang cukup berat.

2.2.1.4 Fraktur patologik

Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah

menjadi lemah oleh karena tumor atau proses patologik lainnya.

Tulang seringkali menunjukkan penurunan densitas. Penyebab yang

paling sering dari fraktur-fraktur semacam ini adalah tumor baik

primer atau tumor metastasis.

2.2.1.5 Fraktur traumatis

Pada keadaan ini struktur tulang adalah normal akibat suatu benturan

menyebabkan suatu fraktur.

2.2.1.6 Fraktur beban lainnya

Fraktur beban terjadi pada orang-orang yang baru saja menambah

tingkat aktivitas mereka. Pada saat gejala timbul, radiogram mungkin

tidak menunjukkan adanya fraktur. Tetapi, biasanya setelah 2

Page 9
minggu, timbul garis-garis radio-opak linear tegak lurus terhadap

sumbu panjang tulang. Fraktur semacam ini akan sembuh dengan

baik jika tulang itu diimobilisasi selama beberapa minggu. Tetapi

jika tidak terdiagnosis, tulang-tulang itu dapat bergeser dari tempat

asalnya dan tidak menyembuh dengan seharusnya. Penderita

semacam ini harus dianjurkan untuk memakai alat proteksi seperti

tongkat, atau bidai gips yang tepat. Setelah 2 minggu, harus

dilakukan pemeriksaan radiografi.

2.2.2 Deskripsi Fraktur

Angulasi dan oposisi adalah dua istilah yang sering dipakai untuk

menjelaskan fraktur tulang panjang. Derajat dan arah angulasi dari posisi

normal suatu tulang panjang dapat menunjukkan derajat keparahan

fraktur. Oposisi menunjukkan tingkat pergeseran fraktur dari permukaan

asalnya dan dipakai untuk menjelaskan seberapakah proporsi satu

fragmen tulang yang patah menyentuh permukaan fragmen tulang

lainnya.

Fraktur tertutup (simpel fracture) dan fraktur terbuka (compound

fracture) adalah istilah yang sering dipakai untuk menjelaskan fraktur.

Fraktur tertutup adalah fraktur dimana kulit tidak tembus oleh fragmen

tulang, sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan. Secara

teknik, fraktur terbuka adalah fraktur dimana kulit dari ekstremitas yang

terlibat telah ditembus.

Page 10
2.2.3 Empat ”R” pada fraktur

Ada empat konsep dasar yang harus dipertimbangkan pada waktu

menangani fraktur yaitu Rekognisi, Reduksi, Retensi dan Rehabilitasi.

2.2.3.1 Rekognisi

Rekognisi menyangkut riwayat kecelakaan, diagnosis fraktur pada

tempat kejadian kecelakaan dan di rumah sakit, derajat

keparahannya, dan deskripsi tentang peristiwa yang terjadi oleh

penderita sendiri untuk menentukan apakah ada kemungkinan

fraktur, dan apakah perlu dilakukan pemeriksaan spesifik untuk

mencari adanya fraktur.

2.2.3.2 Reduksi

Reduksi adalah usaha dan tindakan manipulasi fragmen-fragmen

tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak

asalnya.

Fraktur tertutup pada tulang panjang seringkali ditangani dengan

reduksi tertutup.

2.2.3.3 Retensi

Retensi menyatakan metode-metode yang dilaksanakan untuk

mempertahankan fragmen-fragmen tersebut selama penyembuhan.

2.2.3.4 Rehabilitasi

Rencana rehabilitas harus segera dimulai dan dilaksanakan

bersamaan dengan pengobatan fraktur.

Page 11
2.3 Teknik Pemeriksaan.

2.3.1 Persiapan pasien

Pada dasarnya pemeriksaan Knee joint tidak membutuhkan

persiapan khusus, seperti hanya melepaskan benda – benda yang dapat

menimbulkan bayangan artefak pada area sekitar Knee joint, selain itu

sebelum pemeriksaan petugas memberitahu prosedur pemeriksaan

sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dari pasien yang berakibat

timbulnya unsharpness movement karena pergerakan pasien selama

eksposi sehingga memungkinkan terjadinya pengulangan foto. Teknik

pemeriksaan radiografi Knee joint terdapat beberapa pyoyeksi,

diantaranya proyeksi AP, PA, Lateral, AP Weight-Bearing, PA

Rosenberg Weigh-Bearing, AP Oblique (lateral rotation dan medial

rotation), dan PA Oblique (lateral dan medial rotation), sedangkan

proyeksi yang sering dilakukan adalah proyeksi AP, Lateral, AP Weight-

Bearing dan AP Oblique (lateral dan medial rotation). (Ballinger 2007)

2.3.2 Persiapan alat.

2.3.2.1 Pesawat sinar – x

2.3.2.2 Kaset ukuran 24 x 30 cm.

2.3.2.3 Marker R dan L

2.3.2.4 Softbag

2.3.2.5 Apron

2.3.2.6 CR

Page 12
2.3.3 Teknik pemeriksaan Knee joint (Ballinger 2007).

2.3.3.1 Proyeksi Anterior Posterior ( AP )

Gambar 2.2 Posisi Knee untuk Proyeksi Antero Posterior (Ballinger, 2007)

Image receptor (IR) : 24 x 30 cm melintang

Posisi Pasien : pasien diposisikan supine (terlentang) diatas meja

pemeriksaan dan tidak rotasi pada pelvis, berikan bantal

dibawah kepala, kedua tangan disamping tubuh, kaki

endorotasi penuh .

Posisi Objek :

- Letakkan IR berada di bawah knee pasien, sedikit

fleksikan sendi, tempatkan apex patella dan

luruskan knee pasien, atur ½ inch (1,3 cm) bawah

apex patella di pertengahan kaset. Ini akan

menempatkan ruang sendi di pertengahan kaset.

- Atur kaki pasien dengan meletakkan femoral

epicondyles parallel terhadap kaset agar true AP.

Patella sedikit menempel ke sisi medial. Jika knee

Page 13
tidak bisa full ekstensi, membengkokkan kaset

mungkin diperlukan.

Pengaturan sinar : Diarahkan pada titik ½ inch (1,3 cm) inferior apex

patella.

Berdasarkan pada pengukuran antara anterior superior

iliac spine (ASIS) dan permukaan atas meja, sebagai

berikut :

< 19 cm 30 sampai 50 caudad (pelvis kurus)

19 sampai 24 cm 00

>24 cm 30 sampai 50 cephalad (pelvis gemuk)

Gambar 2.3 Ketebalan pelvis dan sudut central ray untuk radiografi Knee Antero Posterior (Ballinger, 2007)

Page 14
Kriteria Radiografi :

Gambar 2.4 Gambar Radiograf Antero Posterior Knee joint Normal (Ballinger, 2007)

Struktur yang terlihat :

- Distal femur dan proksimal Tibia dan Fibula terlihat

- Ruang femorotibial joint terbuka, dengan articular

facets Tibia terlihat di akhir dengan visualisasi area

permukaan yang minimalis.

Posisi :

- Tidak ada rotasi dibuktikan dengan Tibial condyles

dan ruang sendinya simetris.

- Kira-kira setengah dari pertengahan caput Fibula

superposisi dengan Tibia.

- Intercondylar eminence terlihat di pertengahan

intercondylar fossa.

Page 15
Kolimasi dan CR :

- Lapangan kolimasi lurus dengan poros panjang IR.

- Pertengahan lapangan kolimasi berada di

pertengahan Knee joint.

Kriteria eksposi :

- Eksposi yang optimal akan menampakkan garis tepi

patella pada distal femur, dan caput Fibula dan leher

Fibula tidak terlihat overeksposi.

- Tidak ada pergerakan, trabekula tulang tampak dan

tajam

- Tampak soft tissue

2.3.3.2 Proyeksi Lateral (Mediolateral)

Gambar 2.5 Posisi Knee untuk Proyeksi Lateral (Mediolateral) (Ballinger, 2007)

Image Receptor : 24 x 30 cm melintang

Posisi Pasien : Atur pasien untuk memutar badan ke sisi yang sakit.

Pastikan bahwa pelvis tidak mengalami rotasi

Page 16
Posisi Objek :

- Memfleksikan 200 hingga 300 biasanya lebih

digunakan karena posisi ini merelaksasi otot dan

menunjukkan volume maksimal dari rongga sendi.

- Untuk mencegah celah fragmen dalam fraktur patela

baru atau belum sembuh, knee tidak harus di

feksikan lebih dari 100.

- Letakkan fiksasi dibawah ankle.

- Pegang epicondilus dan tambahkan fiksasi sehingga

dapat tegak lurus dengan kaset (condylus

superposisi). Patella akan tegak lurus dengan kaset.

Central Ray : Diarahkan menuju Knee joint 1 inch (2,5 cm) distal ke

medial epicondyles pada sudut 50 hingga 70 cephalad.

Central ray jatuh di pertengah IR secara vertikal tegak

lurus.

Kriteria Radiograf :

Gambar 2.6 Gambaran Radiograf Knee joint pada Proyeksi Lateral (Mediolateral) Normal (CLARK, 2005)

Page 17
Struktur yang terlihat :

- Distal femur, proksimal Tibia dan Fibula,

dan patella terlihat dalam posisi lateral

- Femoropatellar dan Knee joint terbuka

Posisi :

- Overrotasi atau underrotasi dapat dilihat dengan

identifikasi adductor tubercle pada medial condyle,

jika memungkinkan dan superposisi caput Fibula

dengan Tibia. (overrotasi, sedikit superposisi caput

Fibula; underrotasi, lebih superposisi)

- True lateral knee tanpa rotasi tampak dengan

posterior border dari femoral condyles superposisi.

- Patella tampak dengan ruang femoropatellar joint

membuka.

Kolimasi dan CR :

- Sudut CR 50 hingga 100 cephalad dihasilkan dalam

superposisi langsung distal border condyles.

- Knee joint berada di pertengahan lapangan

kolimasi. Meminimalkan kolimasi. Terlihat soft

tissue.

Kriteria eksposi :

- Eksposi yang optimal tanpa pergerakan

akan menampakkan detail soft tissue, termasuk

Page 18
lapisan lemak anterior Knee joint dan trabekula

yang tajam.

2.4 Proteksi Radiasi

2.4.1 Proteksi pasien.

2.4.1.1 Kolimasi secukupnya dengan memperkecil luas lapangan

penyinaran.

2.4.1.2 Menggunakan factor eksposi yang tepat.

2.4.1.3 Tidak terjadi pengulangan foto karena kesalahan.

2.4.1.4 Waktu penyinaran sesingkat mungkin.

2.4.1.5 Pasien menggunakan apron atau alat pelindung yang dibutuhkan.

2.4.1.6 Pasien hamil pada triwulan pertama ditunda pemeriksaannya.

2.4.2 Proteksi bagi petugas.

2.4.2.1 Tidak menggunakan berkas sinar – x yang mengarah ke petugas

2.4.2.2 Berlindung pada tabir / tirai, saat melakukan eksposi.

2.4.3 Proteksi bagi masyarakat.

2.4.3.1 Pintu pemeriksaan tertutup rapat.

2.4.3.2 Tidak mengarahkan sinar sumber sinar – x keruangan umum.

Page 19
BAB III

PAPARAN KASUS DAN PEMBAHASAN

3.1 Paparan Kasus.

3.1.1 Identitas pasien.

Nama Pasien : SDR. X

Umur : 27 tahun

Jenis Kelamin : Laki – laki

Alamat : Surakarta

Nomor RM : 3114XX

Foto : Knee joint

Dokter Pengirim :

Pemeriksaan : Ro Knee (S) AP/Lateral

Klinis : Fraktur Tibia Fibula

Tanggal : 11 November 2017

3.1.2 Riwayat Pasien.

Pada tanggal 11 November 2017, pasien datang dari IGD ke Instalasi

Radiologi dengan menggunakan brangkard dan diantar oleh perawat

membawa lembar permintaan foto dengan klinis fraktur Tibia Fibula. Pasien

masih dalam keadaan sadar namun tidak kooperatif dan kesakitan.

3.2 Teknik Pemeriksaan.

Teknik pemeriksaan untuk pembuatan foto radiografi Knee joint di Instalasi

Radiologi RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta menggunakan proyeksi AP

Page 20
(Anterior Posterior) dan Lateral sinar horizontal, adapun pelaksanaannya adalah

sebagai berikut:

3.2.1 Persiapan Pasien : Pada dasarnya pemeriksaan Knee joint tidak

membutuhkan persiapan khusus.

3.2.2 Persiapan Alat.

3.2.2.1 Pesawat X – Ray yang digunakan

Merk : Quantum Medical Imaging

No seri : M-5CE-30 SX10780806

Tipe Tabung : R10-T140

kV Maksimum : 150 kV

mA Maksimum : 500 mA

Tahun Pembuatan : Agustus 2011

Focal Spot : 1.2/1.6

Permanent Filtration :0.9 Al/75

3.2.2.2 Imajing Plate dengan ukuran 35 x 43 cm, dibagi dengan posisi melintang

menjadi dua bagian. Seharusnya menggunakan kaset dengan ukuran 24 x

30 cm, tetapi di Instalasi Radiologi hanya terdapat satu ukuran kaset saja.

3.2.2.3 Marker L

3.2.2.4 CR (Computer Radiograf)

Computer Name : hP

Reader : CR 30-X

Printer : DRYSTAR 5302

3.2.2.5 Alat fiksasi

Page 21
3.2.3 Teknik Pemeriksaan.

3.2.3.1 Proyeksi Antero Posterio (AP)

Posisi Pasien : Pasien diposisikan supine diatas brangkard dan tidak

terjadi rotasi atau pergeseran pada pelvis, kedua tangan

disamping tubuh senyaman mungkin.

Posisi Objek :

- Meluruskan kedua kaki dan merotasikan pedis ke

medial kira – kira 3 o s/d 5 o sehingga lutut true AP.

- Menempatkan sandbag dibawah ankle joint untuk

kestabilan jika perlu.

Pengaturan Sinar : Arah sinar tegak lurus Tibial plateu. Titik bidik

setengah inch atau 1,25 cm dari puncak patella.

SID : 40 Inch (100 cm)

Hasil Radiograf :

Gambar 3.1 hasil radiograf proyeksi AP

Page 22
Kriteria Radigraf :

- Tampak distal femur, proximal Tibia dan Fibula.

- Celah FemoroTibial joint terlihat membuka.

- Patella superposisi dengan distal femur

3.2.3.2 Proyeksi Lateral Arah Sinar Horizontal.

Posisi Pasien : Menurut Ballinger pada pemeriksaan lateral untuk

posisi pasien adalah lateral recumbent, tetapi karena

pasien berasal dari IGD dan kesakitan untuk dilakukan

posisi tersebut, maka dilakukan alternatif dengan pasien

diposisikan supine diatas brangkard.

Posisi Obyek :

- Kaset ukuran 35 x 43 cm di tempatkan melintang

dan dibagi menjadi dua bagian.

- Karena posisi kaki pasien tegak (dalam posisi AP)

maka kaset ditempatkan di medial objek.

- Bagian bawah kaki yang akan diperiksa diberi

pengganjal, agar objek yang akan diperiksa masuk

kedalam penyinaran.

Pengaturan Sinar : Arah sinar horizontal tegak lurus dengan kaset.

Titik Bidik (CP) : Titik bidik pada epicondylus lateralis

SID : 40 inch (100 cm)

Page 23
Hasil Radiograf :

Gambar 3.2 hasil radiograf proyeksi lateral arah sinar horizontal

Kriteria Radiograf : Tampak distal femur, proksimal Tibia, Fibula dan

patella terlihat lateral dalam gambar.

3.3 Pembahasan

3.3.1 Mengapa dilakukan pemeriksaan teknik radiografi Knee joint pada kasus

fraktur Tibia dan Fibula?

Dilakukan pemeriksaan teknik radiografi Knee joint pada kasus fraktur Tibia

Fibula adalah untuk melihat apakah ada kemungkinan terjadi fraktur pada

daerah proksimal Tibia dan Fibula seperti Tibial plateu, dan area Knee joint

seperti pada patella.

Page 24
3.3.2 Bagaimana prosedur pelaksanaan pemeriksaan teknik radiografi Knee joint

pada kasus fraktur Tibia Fibula?

Menurut Ballinger (2007) disebutkan pemeriksaan umum Knee joint

menggunakan proyeksi AP dan Lateral arah sinar vertikal. Dengan

menggunakan kedua proyeksi tersebut sudah dapat membantu menegakkan

diagnosa. Pada pasien IGD dengan kondisi non kooperatif dan kesakitan untuk

pemeriksaan knee joint proyeksi lateral dengan posisi pasien lateral recumbent

tidak memungkinkan untuk dilakukan, dikarenakan pasien akan sangat

merasakan kesakitan dan ada kemungkinan memperparah kondisi pasien,

sehingga dilakukan modifikasi, yaitu dengan menggunakan proyeksi lateral

arah sinar horizontal, yaitu dengan posisi pasien tetap dalam posisi supine,

kaki khususnya area ankle joint diberi pengganjal agar area knee joint

terangkat, sehingga sisi posterior dari knee joint dapat tercover oleh kaset.

Setelah itu kaset diletakkan di sisi medial objek. Titik bidiknya berada di

epicondilus lateralis, dengan kolimasi dilebarkan seluas lapangan objek,

kemudian dilakukan eskposi dengan menggunakan factor eksposi kV 55 dan

mAs 3,2, setalah itu dilakukan pemprosesan dan editing film melalui CR,

kemudian hasilnya dicetak dan diberikan kembali kepada perawat yang

mengantar pasien tersebut, dan pasien pun dipulangkan kembali ke IGD.

Page 25
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari pemaparan yang telah dijelaskan sebelumnya penulis dapat menyimpulkan

beberapa hal yakni sebagai berikut :

4.1.1 Prosedur pemeriksaan knee joint di Instalasi Radiologi RS Ortopedi Prof. Dr.

R. Soeharso Surakarta pada umumnya sudah sesuai dengan Ballinger, yaitu

menggunakan proyeksi AP dan lateral.

4.1.2 Pada pasien IGD dengan kondisi non kooperatif dan kesakitan untuk

dilakukan pemeriksaan knee joint proyeksi lateral dengan posisi pasien lateral

recumbent tidak mungkin dilakukan, dikarenakan pasien akan sangat

merasakan kesakitan dan ada kemungkinan memperparah kondisi pasien,

sehingga dilakukan modifikasi, yaitu salah satunya dengan menggunakan

proyeksi lateral sinar horizontal.

4.2 Saran

4.2.1 Sebaiknya dalam setiap pemeriksaan proteksi radiasi yang diberikan kepada

pasien harus benar – benar diperhatikan.

4.2.2 Apabila pasien datang di instalasi radiologi menggunakan brangkard dan non

kooperatif maka menggunakan alternatif penyinaran yaitu dengan arah sinar

yang horizontal.

4.2.3 Untuk menghindari kesalahpahaman dalam pemeriksaan ini perlu adanya

situasi yang cukup komunikatif dan kondusif antara petugas radiographer,

pasien dan dokter.

Page 26
DAFTAR PUSTAKA

Ballinger, Phillip; Eugene Frank. 2007. Merrill’s Atlas of Radiographic Positions &

Radiologic Procedures 11th Edition Volume 1. St. Louis, Missouri: Mosby.

Torsten Moeller, M.D. 2000. Pocket Atlas of Radiographic Anatomy, Second Edition,

Revised and Enlarged. New York: Thieme Stuttgart

Pearce, Evelyn C. 2010. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia.

De Wolf, AN dan J.M.A.Men. 1996. Pemeriksaan Alat Penggerak Tubuh, cetakan kedua.

Bohn StafIcu Van Loghum. Houten Zeventen Netherlands.

Syaifuddin. 2010. Anatomi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta:

Salemba Medika.

Price, Sylvia. A, dan Wilson, Lorrains, M. 1995. Patofisiologi konsep klinis proses-

proses penyakit. Jakarta : Penerbit EGC.

Page 27
LAMPIRAN

Page 28