Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada semua organisme, reproduksi merupakan peran kunci untuk kelangsungan hidup.
Manusia, hewan, maupun setiap organisme yang hidup memiliki cara reproduksi. Pada
manusia sistem reproduksi pria memiliki banyak fungsi, termasuk melestarikan keturunan dan
memberikan hormon seks yang mendukung kesejahteraan seksual yang merupakan iplementasi
fungsi sistem reproduksi sebagai prokreasi dan rekreasi.

Sistem reproduksi laki-laki sangat penting, yang juga berkaitan dengan sistem ekskresi. Tapi
seperti semua sistem tubuh, sistem reproduksi juga memiliki kesempatan untuk terjadi
kerusakan, penyakit, atau gangguan. Meskipun masalah yang timbul dalam sistem sering
diobati, beberapa gangguan dapat memiliki konsekuensi yang serius.

Beberapa penyakit, kerusakan, atau gangguan dari sistem reproduksi laki-laki adalah misalnya
penyakit menular seksual (PMS), disfungsi seksual, dan tumor atau kanker. Infeksi dapat
berkembang dalam setiap gangguan atau kerusakan ini, berpotensi menyebabkan peradangan
dan nyeri pada testis atau struktur lainnya. Infeksi dapat disebabkan baik oleh bakteri atau
virus. Dan masih banyak gangguan sistem reproduksi lainnya, gangguan sistem reproduksi ini
dapat segera diatasi sebelum terlambat dan mengganggu sistem reproduksi secara keseluruhan.
Oleh karena itu dibutuhkan pendeteksian secara dini serta penanganan yang baik dan benar.
1.2 Tujuan

Tujuan Umum : Mengetahui penatalaksanaan pada pasien laki-laki dengan gangguan sistem
reproduksi

Tujuan Khusus :

1. Mengetahui dan menjelaskan penyakit menular seksual (PMS) beserta pencegahan maupun
pengobatannya.

2. Mengetahui dan menjelaskan disfungsi seksual beserta pencegahan maupun pengobatannya.

3. Mengetahui dan menjelaskan tumor pada sistem reproduksi beserta pencegahan maupun
pengobatannya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penyakit Menular Seksual


2.1.1 Definisi

Penyakit menular seksual dikenal dengan nama “venereal diseases”, berarti penyakit Dewi
Cinta menurut versi Yunani. Dalam penelitian lebih lanjut dijumpai bahwa makin bertambah
penyakit yang timbul akibat hubungan seksual sehingga nama penyakit kelamin (veneral
disease) berubah menjadi Sexually Transmitted Disease (STD) yang dalam bahasa Indonesia
menjadi penyakit menular seksual. Penyakit menular seksual (PMS) adalah infeksi yang
menyebar dari orang ke orang melalui kontak seksual, termasuk seks oral, seks anal dan berbagi
mainan seks. Penyakit ini dapat ditularkan melalui kontak antara alat kelamin dari satu orang
dan alat kelamin, anus, mulut atau mata orang lain.

Menurut Katrina Smith (2005), Penyakit Menular Seksual adalah sekelompok infeksi yang
ditularkan melalui hubungan seksual. Kebanyakan PMS dapat ditularkan melalui hubungan
seksual antara penis, vagina, anus dan/atau mulut.

PMS adalah salah satu penyakit menular yang paling umum di Amerika Serikat. Lebih dari 15
juta orang Amerika didiagnosis dengan STD setiap tahun.Ada banyak PMS yang berbeda,
tetapi yang paling umum di Amerika Serikat adalah virus herpes simpleks tipe II (herpes
kelamin), klamidia, gonore, sifilis, HIV dan kutil kelamin. Beberapa infeksi yang dapat
ditularkan melalui hubungan seks, seperti virus hepatitis B.

Meskipun dapat dicegah dan diobati, penyakit menular seksual merupakan suatu masalah
kesehatan masyarakat yang sangat besar. Pada tahun 1997 menurut Institute of Medicine
menyatakan bahwa penyakit menular seksual (PMS) menjadi epidemi dari luar biasa bagi
kesehatan dan mempengaruhi konsekuensi ekonomi di Amerika Serikat. Sementara itu, pada
umumnya PMS sulit untuk dilacak untuk didata karena sebagian besar orang dengan infeksi
ini melakukan tidak memiliki gejala dan tidak terdiagnosis. Epidemi semakin besar dengan
setiap infeksi baru yang terjadi, daripada yang telah diketahui dan diobati. Jika tidak segera
diobati maka penyakit menular seksual dapat semakin berbahaya akibatnya. Akan terjadi
komplikasi klinis yang sering ireversibel dan mahal pengobatannya, seperti masalah kesehatan
reproduksi, masalah kesehatan janin dan perinatal, dan kanker.

2.1.2 Etiologi

2.1.2.1 Jenis - Jenis PMS

Penyakit Menular Seksual Yang Disebabkan Oleh Organisme dan Bakteri

Gonorea

Gonorea merupakan penyakit menular yang paling sering di jumpai di berbagai Negara yang
lebih maju. Rerata di Negara-negara ini adalah 5-10 kali lebih tinggi dibandingkan dengan
Negara yang kurang maju. (Linda, 2008)

Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual. Sebutan lain penyakit ini adalah kencing
nanah. Penyakit ini menyerang organ seks dan organ kemih. Selain itu akan menyerang selaput
lendir mulut, mata, anus, dan beberapa bagian organ tubuh lainnya. Bakteri yang membawa
penyakit ini dinamakan gonococcus. Kokus gram negative yang menyebabkan penyakit ini
yaitu Neisseria Gonorrhoeae.

Manifestasi klinis yang sering terjadi pada pria adalah uretritis. Gejala-gejalanya meliputi
disuria dan/atau keluarnya cairan purulen dari uretra. Komplikasi local akibat gonorea jarang
terjadi pada pria, walaupun dapat terjadi striktur uretra, epididimitis, dan prostratitis. (Linda,
2008)
Pada wanita, konsekwensi kesehatan yang paling penting akibat infeksi gonorrhea adalah
kerusakan tuba fallopi yang berkaitan dengan predisposisi terjadinya kehamilan ektopik (tuba)
dan infertilitas. (Linda, 2008)

Sifilis

Sifilis dikenal juga dengan sebutan “raja singa”. Penyakit ini sangat berbahaya. Penyakit ini
ditularkan melalui hubungan seksual atau penggunaan barang-barang dari seseorang yang
tertular (seperti baju, handuk, dan jarum suntik). Penyebab timbulnya penyakit ini adalah
kuman treponema pallidum. Kuman ini menyerang organ-organ penting tubuh lainnya seperti
selaput lendir, anus, bibir, lidah dan mulut. (Ajen Dianawati, 2003). Sifilis congenital terjadi
melalui penularan vertical dari ibu kepada janinnya. Bayi yang terkena mungkin menunjukkan
gambaran khas, yang mencakup ruam generalisata, limfadenopati, dan hepatitis. (Ensiklopedia
Keperawatan, 2008)

Gejala umum yang timbul pada sifilis yaitu adanya luka atau koreng, jumlah biasanya satu,
bulat atau, lonjong, dasar bersih, teraba kenyal sampai keras, tidak ada rasa nyeri pada
penekanan. Kelenjar getah bening di lipat paha bagian dalam membesar, kenyal, juga tidak
nyeri pada penekanan. (Depkes RI, 2008)

Sifilis memiliki dua stadium, dini dan lanjut. Tahap dini ditandai oleh syanker (lesi primer) di
tempat kuman masuk ke dalam tubuh, yang sembuh dalam waktu sekitar 1 bulan, dan mungkin
diikuti oleh penyakit generalisata (sifilis sekunder) yang ditandai oleh ruam kulit, demam,
pembesaran kelenjar limfe generalisata, dan ulkus mukosa (snail track). Tahap lanjut (terjadi
bertahun-tahun kemudian setelah tahap dini) menunjukkan lesi kulit dan organ dalam (guma),
neurosifilis (tabes dorsalis dan paralisis generalisata pada gangguan jiwa), atau sifilis
kardiovaskuler (mis. Aneurisma aorta). (Ensilopedia Keperawatan, 2008)

Klamidia

Klamidia berasal dari kata Chlamydia, sejenis organisme mikroskopik yang dapat
menyebabkan infeksi pada leher rahim, saluran indung telur, dan dan saluran kencing. Gejala
yang banyak dijumpai pada penderita penyakit ini adalah keluarnya cairan dari vagina yang
berwarna kuning, disertai rasa panas seperti terbakar ketika kencing. Karena organisme ini
dapat menetap selama bertahun-tahun dalam tubuh seseorang. Ia juga akan merusak organ
reproduksi penderita dengan atau tanpa merasakan gejala apa pun.

Chancroid

Penyakit ini diawali dengan benjolan-benjolan kecil yang muncul disekitar genetalia atau anus,
4-5 hari setelah kontak dengan penderita. Benjolan itu akhirnya akan terbuka dan
mengeluarkan cairan yang berbau tidak sedap. Borok chancroid pada pria biasanya sangat
menyakitkan, sedangkan pada wanita tidak menimbulkan rasa sakit (Rosari, 2006)

Chancroid adalah sejenis bakteri yang menyerang kulit kelamin dan menyebabkan luka kecil
bernanah. Jika luka ini pecah, bakteri akan menjalar kearah pubik dan kelamin.
Granula inguinale

Penyakit ini sama dengan chancroid, yaitu disebabkan oleh bakteri. Bagian yang terserang
biasanya permukaan kulit penis, bibir vagina, klitoris, dan anus, akan berubah membentuk
jaringan berisi cairan yang mengeluarkan bau tidak sedap selanjutnya akan terjadi pembesaran
yang bersifat permanen atau terlihat sesekali pada penis, klitoris, dan kandung pelir. Penderita
bisa kehilangan berat badan, kemudian meninggal dunia. Penyakit ini tidak memperlihatkan
gejala-gejala awal, Memasuki masa 3 bulan, barulah terlihat adanya infeksi yang sangat
berbahaya dan dapat ditularkan kepada orang lain.

2. Penyakit Menular Seksual Yang Disebabkan Oleh Virus

Herpes

Herpes termasuk jenis penyakit biasa, disebabkan oleh virus herpes simpleks. Virus herpes
terbagi 2 macam, yaitu herpes 1 dan herpes 2. Perbedaan diantaranya adalah kebagian mana
virus tersebut menyerang. Herpes 1 menyerang dan menginfeksi bagian mulut dan bibir,
sedangkar herpes 2 atau disebut genital herpes menyerang dan menginfeksi bagian seksual
(penis atau vagina).
Gejala klinis herpes ini yaitu :

Herpes Genital Pertama.

Diawali dengan bintil – lentingan – luka / erosi berkelompok, di atas dasar kemerahan, sangat
nyeri, pembesaran kelenjar lipat paha, kenyal, dan disertai gejala sistemik.

Herpes Genital Kambuhan

Timbul bila ada factor pencetus (daya tahan menurun, faktor stress pikiran, senggama
berlebihan, kelelahan dan lain-lain). Umumnya lesi tidak sebanyak dan seberat pada lesi
primer. (Depkes, 2008)

Virus herpes ini tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat diobati. Obat yang biasa diberikan untuk
genital herpes adalah Acyclovir. Karena cara kerjanya menetap dalam system saraf tubuh, virus
tersebut tidak dapat disembuhkan atau dihilangkan selama-lamanya

Viral Hepatitis

Terdapat sejumlah jenis radang hati atau hepatitis. Penyebabnya adalah virus dan sering
ditularkan secara seksual. Jenis yang terutama adalah hepatitis A, B, C dan D. (Hutapea, 2003).

Lymphogranuloma venereum
Penyakit ini biasa disingkat LGV, disebabkan oleh virus dan dapat mempengaruhi seluruh
organ tubuh. Penyakit ini sangat berbahaya karena antibiotic tidak dapat menanggulanginya.
Gejala awalnya berupa luka kecil yang tidak biasa terjadi di sekitar organ seksual selama 3
minggu. Dua minggu kemudian, luka tersebut membengkak sebesar telur yang menyebar di
bagian pangkal paha. Perubahan lain yang timbul akan semakin bertambah parah seperti
penderita akan mengalami kelumpuhan jika infeksi mulai menyebar melalui kelenjar getah
bening (pangkal paha) menuju anus.

3. Penyakit Menular Seksual Yang Disebabkan Oleh Parasit

Trichomoniasis

Trichomoniasis atau trich adalah suatu infeksi vagina yang disebabkan oleh suatu parasit atau
suatu protozoa (hewan bersel tunggal) yang disebut trichomonas vaginalis. Gejalanya meliputi
perasaan gatal dan terbakar di daerah kemaluan, disertai dengan keluarnya cairan berwarna
putih seperti busa atau juga kuning kehijauan yang berbau busuk. Sewaktu bersetubuh atau
kencing sering terasa agak nyeri di vagina. Namun sekitar 50% dari wanita yang mengidapnya
tidak menunjukkan gejala apa-apa.

Pediculosis
Pediculosis adalah terdapatnya kutu pada bulu-bulu di daerah kemaluan. Kutu pubis ini diberi
julukan crabs karena bentuknya yang mirip kepiting seperti di bawah mikroskop. Parasit ini
juga dapat dilihat dengan mata telanjang. Parasit ini menempel pada rambut dan dapat hidup
dengan cara mengisap darah, sehingga menimbulkan gatal-gatal. Masa hidupnya singkat,
hanya sekitar satu bulan. Tetapi kutu ini dapat tumbuh subur dan bertelur berkali-kali sebelum
mati (Hutapea, 2003).

2.1.3 Patofisiologi

Penyakit menular seksual (PMS) adalah infeksi yang didapat melalui kontak seksual.
Organisme penyebabnya yang tinggal dalam darah atau cairan tubuh, meliputi virus,
mikoplasma, bakteri, jamur, spirokaeta dan parasit-parasit kecil (misalnya Phthirus pubis,
scabies). Sebagian organisme yang terlibat hanya ditemukan di saluran genital (reproduksi)
saja tetapi yang lainnya juga ditemukan di dalam organ tubuh lain. Di samping itu, seringkali
berbagai PMS timbul secara bersama-sama dan jika salah satu ditemukan, adanya PMS
lainnnya harus dicurigai. Terdapat rentang keintiman kontak tubuh yang dapat menularkan
PMS termasuk berciuman, hubungan seksual, hubungan seksual melalui anus, kuninglingus,
anilingus, felasio, dan kontak mulut atau genital dengan payudara. Menurut Somelus (2008),
Cara lain seseorang dapat tertular PMS juga melalui :

Darah

Dari tansfusi darah yang terinfeksi, menggunakan jarum suntik bersama, atau benda tajam
lainnya ke bagian tubuh untuk menggunakan obat atau membuat tato.

Ibu hamil kepada bayinya

Penularan selama kehamilan, selama proses kelahiran. Setelah lahir, HIV bisa menular melalui
menyusui.
Sentuhan

Herpes dapat menular melalui sentuhan karena penyakit herpes ini biasanya terdapat luka-luka
yang dapat menular bila kita tersentuh, memakai handuk yang lembab yang dipakai oleh orang
penderita herpes.

Tato dan tindik

Pembuatan tato di badan, tindik, atau penggunaan narkoba memberi sumbangan besar dalam
penularan HIV/AIDS. Sejak 2001, pemakaian jarum suntik yang tidak aman menduduki angka
lebih dari 51 % cara penularan HIV/AIDS.

2.1.4 WOC (Web Of Causation)

Terlampir

2.1.5 Pemeriksaan Diagnostik

2.1.5.1 Tes Laboratium

Jika terdapat tanda-tanda dan gejala saat ini yang menunjukkan bahwa seorang laki-laki
memiliki PMS, tes laboratorium dapat mengidentifikasi penyebabnya dan mendeteksi infeksi
mungkin terjadi setelah ada kontak dengan seorang yang memiliki penyakit ini.
Tes darah

Tes darah dapat mengkonfirmasi diagnosis terjangkitnya HIV atau stadium sifilis.

Sampel urin

Beberapa PMS dapat dikonfirmasikan dengan sampel urin.

Sampel cairan

Jika seorang laki-laki memiliki luka genital aktif, pengujian cairan dan sampel dari luka dapat
dilakukan untuk mendiagnosa jenis dari infeksi. Tes laboratorium material dari luka genital
atau debit yang paling umum digunakan untuk mendiagnosa bakteri dan beberapa virus PMS
pada tahap awal.

2.1.5.2 Skrining

Pengujian untuk suatu penyakit pada seseorang laki-laki yang tidak memiliki gejala
disebut skrining. Terdapat beberapa pengecualian untuk dilakukan tes ini, skrining kebanyakan
bukan merupakan bagian rutin dari perawatan kesehatan.

Setiap orang

Tes skrining yang disarankan untuk semua orang berusia 13 sampai 64 tahun adalah tes darah
atau air liur untuk Human Immunodeficiency Virus (HIV), virus yang menyebabkan AIDS. Di
Amerika Serikat sebagian besar menawarkan tes HIV yang cepat dengan hasil yang dapat
langsung diketahui pada hari itu juga.

Pria yang berhubungan seks dengan laki-laki


Dibandingkan dengan kelompok lain, lelaki yang berhubungan seks dengan laki-laki memiliki
risiko lebih tinggi tertular PMS. Banyak praktisi kesehatan masyarakat di Amerika
merekomendasikan skrining PMS tahunan atau lebih sering bagi laki-laki. Tes rutin untuk HIV,
sifilis, klamidia dan gonore sangat penting. Evaluasi untuk herpes dan hepatitis B juga mungkin
dianjurkan agar mengetahui sejauh mana PMS menjangkit dan menyebar.

Orang dengan HIV

Jika seorang laki-laki memiliki HIV, secara signifikan dapat meningkatkan risiko terkena PMS.
Para ahli merekomendasikan untuk orang dengan HIV melakukan tes sifilis, gonore, klamidia
dan herpes. Perempuan yang ditularkan laki-laki dengan HIV dapat memicu kanker serviks
yang ganas, sehingga mereka harus melakukan tes dua kali setahun untuk melihat adanya HPV.
Beberapa ahli juga merekomendasikan skrining HPV rutin kepada laki-laki yang terinfeksi
HIV karena dapat berisiko kanker dubur jika terjadi kontak secara anal.

2.1.6 Penatalaksaan

Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri, umumnya lebih mudah untuk diobati.
Infeksi virus dapat dirawat, namun tidak selalu dapat disembuhkan. Pada wanita hamil dan
memiliki penyakit menular seksual akibat ditularkan oleh suaminya, pengobatan yang tepat
dapat mencegah atau mengurangi risiko penularan infeksi pada bayi. Pengobatan biasanya
diberikan tergantung pada infeksinya, yang diantaranya meliputi antibiotik dan antivirus.

Menurut WHO (2003), penanganan pasien infeksi menular seksual terdiri dari dua cara, bisa
dengan penaganan berdasarkan kasus (case management) ataupun penanganan berdasarkan
sindrom (syndrome management). Penanganan berdasarkan kasus yang efektif tidak hanya
berupa pemberian terapi antimikroba untuk menyembuhkan dan mengurangi infektifitas
mikroba, tetapi juga diberikan perawatan kesehatan reproduksi yang komprehensif. Sedangkan
penanganan berdasarkan sindrom didasarkan pada identifikasi dari sekelompok tanda dan
gejala yang konsisten, dan penyediaan pengobatan untuk mikroba tertentu yangmenimbulkan
sindrom. Penanganan infeksi menular seksual yang ideal adalah penanganan berdasarkan
mikrooganisme penyebnya. Namun, dalam kenyataannya penderita infeksi menular seksual
selalu diberi pengobatan secara empiris (Murtiastutik, 2008).

Antibiotika untuk pengobatan IMS adalah:

Pengobatan gonore: penisilin, ampisilin, amoksisilin, seftriakson, spektinomisin, kuinolon,


tiamfenikol, dan kanamisin (Daili, 2007).

Pengobatan sifilis: penisilin, sefalosporin, termasuk sefaloridin, tetrasiklin, eritromisin, dan


kloramfenikol (Hutapea, 2001).

Pengobatan herpes genital: asiklovir, famsiklovir, valasiklovir (Wells et al, 2003).

Pengobatan klamidia: azithromisin, doksisiklin, eritromisin (Wells et al., 2003).

Pengobatan trikomoniasis: metronidazole (Wells et al., 2003).

Resisten adalah suatu fenomena kompleks yang terjadi dengan pengaruh dari mikroba, obat
antimikroba, lingkungan dan penderita. Menurut Warsa (2004), resisten antibiotika
menyebabkan penyakit makin berat, makin lama menderita, lebih lama di rumah sakit, dan
biaya akan lebih mahal.

2.1.7 Komplikasi

Pengobatan yang tepat dapat membantu mencegah komplikasi beberapa PMS. Karena menurut
pengalaman bahwa banyak orang di tahap awal PMS tanpa gejala, skrining untuk PMS sangat
penting dalam mencegah komplikasi. Komplikasi yang mungkin antara lain :
Luka atau benjolan di manapun pada tubuh

Luka pada alat kelamin

Bintil merah pada kulit

Nyeri selama hubungan seksual

Nyeri skrotum, kemerahan dan bengkak

Nyeri panggul

Abses pada selakangan

Radang mata

Radang sendi

Penyakit radang panggul

Infertilitas

Kanker lain, termasuk limfoma terkait HIV dan HPV terkait kanker dubur

Infeksi oportunistik yang terjadi dalam lanjutan HIV

Suatu studi epidemiologi menggambarkan bahwa pasien dengan infeksi menular seksual lebih
rentan terhadan HIV. Infeksi menular seksual juga diimplikasikan sebagai faktor yang
memfasilitasi penyebaran HIV (WHO,2004).

2.1.8 Prognosis

Kebanyakan PMS merespon dengan baik terhadap pengobatan. Namun, banyak pasien
mengembangkan episode berulang dari PMS karena pasangan seks mereka tidak diobati atau
karena mereka terus terkena PMS melalui hubungan seks tanpa kondom. Untuk membantu
menghindari penyakit yang sama lagi, semua pasangan seks juga harus diobati baik laki-laki
ataupun wanita.

Herpes kelamin tidak dapat disembuhkan, karena virus tetap aktif dalam saraf untuk sepanjang
hidup pasien. Namun, banyak orang tidak melihat ada masalah setelah infeksi awal, dan banyak
orang bahkan tidak menyadari ketika mereka pertama kali terinfeksi. Pada pasien dengan virus
herpes simpleks tipe II, terapi antiviral dapat berhasil menekan episode berulang dari ulkus di
alat kelamin, tetapi tidak akan menyingkirkan virus.

HIV tidak dapat disembuhkan, tetapi dengan hati-hati perawatan medis, pemantauan dan
pengobatan, kebanyakan orang dengan HIV hidup selama bertahun-tahun dengan gejala
minimal atau bahkan tidak ada gejala.

A. Pengkajian
Pria yang menderita penyakit menular seksual mungkin tidak menampakkan
gejala pada stadium awal infeksi. Meski demikian, pemeriksaan fisik dapat
memperlihatkan tanda-tanda infeksi, seperti peningkatan suhu tubuh dan frekuensi denyut
jantung. Kulit diperiksa untuk mengetahui adanya kemerahan, lesi, dan tanda bekas
penggunaan obat per iv (periksa adanya bekas tusukan jarum pada kedua lengan bawah,
tungkai, dan kaki). Pemeriksaan abdomen dan panggul dapat mengungkapkan adanya
nyeri tekan pada palpasi, eritema dan edema.
Resiko tertular pms meningkat jika pria mempunyai banyak pasangan seksual,
pasanagn yang menggunakan obat-obatan terlarang atau pasangan biseksual dan jika pria
adalah seorang pengguna obat-obatan intravena. Riwayat pms juga meningkatkan resiko
tertular. Jenis dan lama penatalaksanaan sanagt penting dalam mengatasi keluhan atau
mengkaji kekambuhan atau ketidakmanjuran terapi.
B. Diagnosa keperawatan
1. Resiko penularan infeksi yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tenatang sifat
menular penyakit dan laporan tentang perilaku beresiko tinggi
2. Ketakutan yang berhubungan dengan karakteristik kondisi dan implikasinya pada gaya
hidup
3. Nyeri akut yang berhubungan dengan proses inflamasi
4. Isolasi sosial yang berhubungan dengan rasa takut akan menularkan penyakit pada
orang lain
5. Resiko ketidakefektifan penatalakasananaan program terapeutik yang berhubungan
dengan kurang pengetahuan tenatang kondisi, bentuk penularan, konsekuensi infeksi
berulang, dan pencegahan kekambuhan
6. Hipertermi yang berhubungan dengan proses inflamasi
7. Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan proses inflamasi