Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI

A. DEFINISI

Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan sensori persepsi yang dialami oleh pasien
dengan gangguan jiwa. Pasien merasakan sensasi berupa suara, penglihaan, pengecapan,
perabaan, atau penghidupan tanpa stimulus nyata. (Budi Anna Keliat, 2011)
Halusinasi adalah persepsi yang salah (misalnya tanpa stimulus eksternal) atau persepsi
sensori yang tidak sesuai dengan relitas/kenyataan seperrti melihat bayangan atau suara-suara
yang sebenarnya tidak ada. Pencerapan tanpa adanya rangsang apapun dari panca indra,
dimana orang tersebut sadar dan dalam keadaan terbangun yang disebabkan oleh psikotik,
gangguan fungsional, organic atau histerik. (Wijayaningsih, 2015)

B. Rentang Respon

Halusinasi merupakan salah satu respon maldaptive individual yang mempunyai


rentang respon neurobiologi yang berbeda (Stuart and Laraia, 2005). Jika klien yang sehat
persepsinya akan akurat, mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus
berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indera (pendengaran, pengelihatan,
penciuman, pengecapan dan perabaan). Klien halusinasi mempersepsikan suatu stimulus
melalui panca indera walaupun sebenarnya stimulus tersebut tidak ada.

RENTANG RESPON NEUROLOGI


(Stuart & Laraia 2005)

Respon Adaptif Distorsi Pikiran Respon Maladaptif


Respon Adaptif - Emosi Berlebihan - Gejala Pikiran
- Respon Logis - Distorsi pikiran - Delusi Halusinasi
- Respon akurat - Perilaku aneh / - Perilaku diorganisasi
- Perilaku sesuai tidak sesuai - Sulit berespon dgn penglman
- Emosi sosial - Menarik diri

C. FAKTOR PENYEBAB HALUSINASI


Faktor penyebab halusinasi menurut Yosep (2010) terdiri dari :
Faktor Predisposisi
a. Faktor perkembangan
Tugas perkembangan klien yang terganggu misalnya rendahnya kontrol dan
kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah
frustasi, hilang percaya diri dan lebih rentan terhadap stres.

b. Faktor sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungannya sejak bayi (unwanted child)
akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada lingkungannya
c. Faktor biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya stres yang
berlebihan dialami seseorang maka di dalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang
dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytransferase
(DMP). Akibat stres berkepanjangan menyebabkan teraktivasinya neurotransmiter
otak. Misalnya erjadi ketidakseimbangan acetylcolin dan dopamin.
d. Faktor psikologis
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggungjawab mudah terjerumus
penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan klien dalam
mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. Klien lebih memilih
kesengan sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam hayal.
e. Faktor genetik dan pola asuh
Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orangtua skizofrenia
cenderung mengalami skizofrenia.
D. Faktor Presipitasi

Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan
yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya.
Penilaian individu terhadap stresor dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan
kekambuhan (Keliat, 2006).
Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah:
a. Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses
informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang
diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
b. Stres Lingkungan
Ambang toleransi terhadap stres yang berinteraksi terhadap stresor lingkungan
untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
c. Sumber Koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stresor.
E. Manifestasi Klinis
prilaku pasien yang berkaitan dengan halusinasi adalah sebagai berikut
a. bicara,senyum,dan ketawa
b. menggerakan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, dan respon verbal
lambat
c. menarik diri dari orang lain, dan berusaha untuk menghindari diri dari orang
lain
d. tidak dapat membedakan antara keadaan nyata dan keadaan tidak nyata
e. terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah
f. perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik
g. curiga, bermusuhan, dan takut
h. ekspresi tegang, mudah tersinggung jengkel dan marah
i. tidak mampu mengikuti perintah
j. mengatakan mencdengar suara
k. pembicaraan kacau terkadang tidak masuk akal.

F. Psikodinamika
Menurut Iyus Yosep 2009 faktor predisposisi pada teori yaitu, gangguan sensori persepsi
disebabkan oleh tugas perkembangan yang terganggu misalnya rendahnya kontrol dan
kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah frustasi,
hilang percaya diri, dan lebih rentan terhadap stress. Seseorang yang tidak diterima
lingkungannya sejak bayi akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada
lingkungannya.

Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa, adanya stress yang berlebihan
dialami seseorang maka dalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat
halusinogenik neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP). Akibat stress
berkepanjangan menyebabkan teraktifasinya neurotransmitter otak. Misalnya terjadi
ketidakseimbangan acetylcholine dan dopamine.
Tipe kepribadian lemah juga menyebabkan terjadinya Gangguan Sensori Persepsi karena
mudah terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan
dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. Klien lebih memilih kesenangan
sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam hayal.
Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orangtua skizofrenia
cenderung megalami skizofrenia. Hasil studi menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh
pada penyakit ini.
Faktor Presipitasi teori ini mengatakan respon klien terhadap halusinasi dapat berupa
curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah, dan bingung, perilaku merusak diri, kurang
perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata
dan tidak nyata Dari faktor-faktor tersebut maka muncul tanda dan gejala yang tampak seperti
tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara, gerakan mata
cepat, respon verbal lamban atau diam, diam dan penuh dengan sesuatu yang mengasikkan,
tampak biacara sendiri, duduk terpaku atau memandang sesuatu, gelisah, ketakutan, ansietas,
dan mengatakan adanya halusinasi.
Akibat yang dapat ditimbulkan jika keadaan tersebut tidak ditangani yaitu, akan
menyebabkan timbulnya respon maladaptive seperti menciderai diri sendiri. orang lain, dan
lingkungan, perilaku kekerasan serta bunuh diri.
G. Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang sering digunakan klien dengan halusinasi meliputi (Muhith, 2015):
1. Regresi : menjadi malas beraktivitas sehari-hari
2. Proyeksi : mencoba menjelaskan gangguan persepsi dengan mengalihkan tanggungjawab
kepada orang lain atau sesuatu benda
3. Menarik diri : sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal
4. Keluarga mengingkari masalah yang dialami oleh klien
H. Sumber Koping
Suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Individu dapat
mengatasi stress dan ansietas dengan menggunakan sumber koping di lingkungan. Sumber
koping tersebut sebagai modal untuk menyelesaikan masalah, dukungan social dan keyakinan
budaya, dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress
dan mengadopsi strategi koping yang berhasil.
I. Penatalaksanaan Umum
Penatalaksanaan pada pasien halusinasi menurut Budi ana, dkk tahun 2011: 147) dengan
cara:
Menciptakan lingkungan yang terapeutik Tujuan dari komunikasi terapeutik untuk mengurangi
tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi sebaiknya pada
permulaan dilakukan secara individu dan usahakan terjadi kontak mata jika perlu pasien di
sentuh atau dipegang.
1. Melaksanakan program terapi dokter
Sering kali pasien menolak obat yang diberikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi
yang di terimanya.pendekatan sebaiknya secara persuasif tapi nstruktif.perawat harus
mengamati agar obat yang diberikan betul di telannya serta reaksi obat yang diberikan.
2. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali masalah pasien yang
merupakan penyebabab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada.
3. Memberi aktifitas kepada pasien
Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolahraga,
bermain, atau melakukan kegiatan untuk menggali potensi keterampilan dirinya.
4. Memberi aktifitas kepada pasien
5. Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolahraga,
bermain, atau melakukan kegiatan untuk menggali potensi keterampilan dirinya. Melibatkan
keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan
Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya diberitahu tentang data pasien agar ada kesatuan pendapat
kesinambungan dalam asuhan keperawatan.
Penatalaksanaan Keperawatan
1. Membina Hubungan Saling Percaya dengan Pasien
Tindakan pertama dalam melakukan pengkajian klien dengan halusinasi adalah membina
hubungan saling percaya, sebagai berikut:
2. Awali pertemuan dengan selalu mengucapkan salam, misalnya: assalamualaikum, selamat
pagi/siang/malam atau sesuai dengan konteks agama klien.
3. Berkenalan dengan pasien
4. Perkenalkan nama lengkap dan nama panggilan perawat termasuk peran, jam dinas,
ruangan, dan senang dipanggil dengan apa. Selanjutnya perawat menanyakan nama klien serta
senang dipanggil dengan apa. Buat kontrak asuhan
Jelaskan kepada pasien tujuan kita merawat klien, aktivitas apa yang akan dilaksanakan untu
mencapai tujuan itu, kapan aktivitas akan dilaksanakan, dan berapa lama akan dilaksanakan
aktivitas tersebut.
5. Bersikap empati yang ditunjukan dengan : mendengarkan keluhan pasien dengan penuh
perhatian, tidak membantah dan tidak menyokong halusinasi pasien ; segera menolong pasien
jika pasien membutuhkan perawat.
6.Mengkaji Data Objektif dan Subjektif
a. Dirumah sakit jiwa Indonesia, sekitar 70% halusinasi dialami oleh pasien gangguan jiwa
adalah halusinasi suara, 20% halusinasi penglihata, 10% adalah halusinasi penghidu,
pengecapan dan perabaan. Mengkaji halusinasi dapat dilakukan dengan mengobservasi
perilaku pasien dan menanyakan secara verbal apa yang sedang dialami oleh pasien.
b. Berikut ini jenis-jenis halusinasi, data objektif dan subjektifnya. Data objektif dikaji
perawat dnegan cara mengobservasi perilaku pasien, memeriksa, mengukur, sedangkan
data subjektif didapatkan dengan cara wawancara, curahan hati, ungkapan-ungkapan
klien, apa-apa yang dirasakan dan didengar klien secara subjektif. Data ini ditandai
dengan “klien menyatakan atau klien merasa”.

J. Diagnosa Keperawatan
Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi Pendengaran
k. Intervensi
No Tujuan Intervensi Rasional

1. Pasien mampu: SP 1 (Tgl ) 1. Untuk mengetahui


 - Mengenali yang 1. Bantu pasien mengenali tindak lanjut
dialaminya halusinasi: mengontrol atau
- Mengontrol - Isi menghardik
- halusinasinya - Frekuens halusinasi
- Mengikuti - Waktu
program - Situasi pencetu
pengobatan secara - Perasaan saat terjadi
optimal halusinasi
2. Latih mengontrol halusinasi 2. Dengan latihan
dengan cara menghardik mengontrol
Tahap tindakan yang halusinasi akan
meliputi: mampu mengurangi
- Menjelaskan cara menghardik halusinasi
halusinasi
- Peragakan cara menghardik
- Minta pasien mempragakan
ulang
- Pantau penerapan cara ini,
beri pengutana prilaku pasien
- Masukkan dalam jadwal
kegiatan pasien

SP 2 (Tgl ) 1. Untuk mengetahui


1. Evaluasi kegiatan yang lalu sejauh mana klien
(SP1) mengingat dan
2. Latih bicara atau bercakap menerapkannya
dengan orang lain saat caramengontrol
halusinasi muncul halusinasi
3. Masukan ke dalam jadwal 2. Dengan bercakap
harian pasien dengan orang lain
dapat membantu
menghilangkan
halusinasi
3. Untuk menerapkan
cara mengontrol
halusinasi saat
datang kembali
SP 3 (Tgl ) 1. Untuk mengetahui
1. Evaluasi kegiatan yang lalu (sp1 sejauh mana klien
dan sp2) menerapkan cara
2. Latih kegiatan agar halusinasi mengontrol halusinasi
untutidak muncul tahapannya yang pertama dan
1) Jelaskan aktifitas yang kedua
teraturuntuk mengatasi halusinasi 2. Dengan melakukan
2) Diskusikan aktifitas yang aktivitas akan
dilakukan pasien mengatasi halusinasi
3) Latih pasien melakukan aktifitas dating kembali
yang telah dilatih
4) Pantau pelaksanaan jadwal
kegiatan, berikan penguatan
prilaku pasien yang positif

SP 4 (Tgl ) 1. Untuk mengetahui


1. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP sejauhmana klien
1,2 dan 3) menerapkan cara
2. Tanyakan program pengobatan mengontrol hausinasi
3. Jelaskan pentingnya penggunaan yang sudah di
obat gangguan jiwa terapkan
4. Jelaskan akibat bila tidak 2. Untuk mengetahui
dilakukan sesuai program jenis program
5. Jelaskan akibat bila putus obat pengobatan apa yang
6. Jlaskan cara mendapatkan obat di terapkan
atau berobat 3. Dengan mengetahui
7. Jelaskan pengobatan (5B) pentingnya
8. Latih pasien minum obat penggunaan obat
9. Masukan dalam jadwal harian dapat mengurangi ke
pasien lalaian klien dalam
minum obat
4. Dengan mengetahui
akibat bila tidak
minum obat akan
membuat klien untuk
meminum obat tepat
waktu
5. Dengan mengetahui
dampak dari putus
pengobatan klien
mampu mengerti
dengan pentingnya
program pengobatan
6. Agar klien
mengetahui tempat
mendapatkan obat
dan pengobatanbila
mana obat habis

7. Dengan mengetahui
prinsip 5B klien
mendapatkan
pengobatan yang
sesuai
8. Agar klien
mengetahui cara
minum obat yang
bener
9. Untuk menerapkan
jadwal minum obat
harian.