Anda di halaman 1dari 16

1.

1 Pengertian dan Konsep Dasar Pajak Penghasilan, Subyek, dan Obyek PPh
1.1.1 Pengertian dan Konsep Dasar Pajak Penghasilan
Pajak Penghasilan adalah Pajak yang dikenakan terhadap orang pribadi atau perseorangan
dan badan, berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya selama satu tahun
pajak. Menurut Waluyo (2006) : “pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap
subjek pajak berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau yang diperolehnya dalam
tahun pajak.”
Pajak penghasilan pertama kali diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 dan
beberapa kali mengalami amandemen dan perubahan sebagai berikut:
a. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1991
b. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994
c. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000
d. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008
1.1.2 Subjek Pajak Penghasilan
A. Macam-Macam Subjek PPh

Dalam UU PPh tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan subjek PPh, namun secara
umum pengertian subjek pajak adalah siapa yang dikenakan pajak. UU PPh menegaskan ada
3 (tiga) kelompok yang menjadi subjek PPh, yaitu sebagai berikut :

1) Orang pribadi dan warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan
yang berhak.
2) Badan yang terdiri dari Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan
Lainnya, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah dengan nama
dan bentuk apa pun, Persekutuan, Firma, kongsi, Koperasi, Yayasan atau Organisasi
yang sejenis, lembaga dana pensiun dan bentuk badan usaha lainnya.
3) Bentuk Usaha tetap
Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang
pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih
dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 ( dua belas ) bulan
atau badan yang tidak didirikan dan tidak berkedudukan di Indonesia, untuk
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia. Misalnya tempat
kedudukan manajemen, cabang perusahaan, kantor perwakilan, pabrik bengkel dan
gedung kantor.

B. Subjek PPh Dalam Negeri dan Luar Negeri


Subjek PPh dibedakan antara subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri.
Subjek pajak dalam negeri :
1. Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang bertempat
tinggal di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka

1
waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam satu tahun pajak berada di
Indonesia dan mempunyai niat bertempat tinggal di Indonesia.
2. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia.
3. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak.

Subjek pajak luar negeri :


1. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia
tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua
belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak berkedudukan di Indonesia
yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.
2. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia
tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua
belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan atau tidak berkedudukan di Indonesia
yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.

Perbedaan penting antara subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri diketahui
terutama dalam hal pemenuhan kewajiban pajaknya yaitu :

1. Subjek pajak dalam negeri dikenakan pajak atas penghasilan yang diterima atau di
peroleh dari Indonesia, sedangkan subjek pajak luar negeri dikenakan pajak
berdasarkan penghasilan yang bersumber dari Indonesia.
2. Subjek pajak dalam negeri dikenakan pajak berdasarkan penghasilan neto dengan tarif
umum, sedangkan subjek pajak luar negeri dikenakan pajak berdasarkan penghasilan
bruto dengan tarif pajak sepadan (proposional).
3. Subjek pajak dalam negeri wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT
Tahunan) sebagai sarana menghitung pajak yang terutang, sedangkan subjek pajak
luar negeri tidak wajib menyampaikan SPT Tahunan karena kewajiban pajaknya
sudah dipenuhi melalui pemotongan pajak yang bersifat final.

C. Kewajiban Pajak Subyektif


Untuk lebih memperjelas pengertian, kapan mulai dan berakhirnya sebagai subyek pajak
dalam negeri maupun subyek pajak luar negeri, berikut ini diberikan tabel mulai dan
berakhirnya kewajiban pajak subyektif.

MULAI BERAKHIR

Subyek Pajak Dalam Negeri Orang Subyek Pajak Dalam Negeri Orang
Pribadi : Pribadi :

2
• Saat dilahirkan. • Saat meninggal.
• Saat berada di Indonesia atau bertempat • Saat meninggalkan Indonesia untuk
tinggal di Indonesia. selama-lamanya.
Subyek Pajak Dalam Negeri Badan : Subyek Pajak Dalam Negeri Badan :
• Saat didirikan atau bertempat • Saat dibubarkan atau tidak lagi
kedudukan di Indonesia. bertempat kedudukan di Indonesia.

Subyek Pajak Luar Negeri Melalui BUT Subyek Pajak Luar Negeri Melalui BUT
: :
• Saat menjalankan usaha atau • Saat tidak lagi menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui BUT di melakukan kegiatan melalui BUT di
Indonesia. Indonesia.

Subyek Pajak Luar Negeri Tidak Subyek Pajak Luar Negeri Tidak
Melalui BUT : Melalui BUT :
• Saat menerima atau memperoleh • Saat tidak lagi menerima atau
penghasilan dari Indonesia. memperoleh penghasilan dari
Indonesia.

Warisan Belum Terbagi : Warisan Belum Terbagi :


• Saat timbulnya warisan yang belum • Saat warisan telah selesai dibagikan.
terbagi.

D. Tidak Termasuk Subjek Pajak Penghasilan


Yang tidak termasuk subjek pajak penghasilan yakni :
a. Kantor perwakilan Negara asing.
b. Pejabat perwakilan diplomatik, dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara
asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan
bertempat tinggal bersama-sama mereka, dengan syarat :
• Bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh
penghasilan lain di luar jabatannya di Indonesia.
• Negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik.
c. Organisasi Internasional, dengan syarat :
• Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut.
• Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari
Indonesia selain pemberian pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari
iuran para anggota.
d. Pejabat perwakilan organisasi internasional, dengan syarat :
• Bukan warga negara Indonesia.
• Tidak menjalankan usaha, kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh
penghasilan dari Indonesia.
1.1.3 Objek Pajak Penghasilan
A. Macam-Macam Objek PPh
Objek PPh adalah penghasilan itu sendiri. Penghasilan sebagai objek pajak PPh diartikan
secara luas yaitu “ setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib
pajak baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dapat dipakai untuk
3
konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak dengan nama dan dalam bentuk
apapun.” Menurut ketentuan UU No.7 Tahun 1983 yang telah diperbaharui oleh UU No.36
Tahun 2008 pasal 4 ayat 1 yang termasuk dalam penghasilan adalah:
1) Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau
diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang
pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya kecuali ditentukan lain dalam undang-
undang ini,
2) Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan,
3) Laba usaha,
4) Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk :
a) Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan
lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal.
b) Keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu atau
anggota yang diperoleh dari perseroan, persekutuan, dan badan lainnya.
c) Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan,
pengambilalihan perusahaan, atau reorganisasi dengan nama dan dalam bentuk
apa pun.
d) Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau sumbangan,
kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu
derajat dan badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan,
koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil yang
ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang
tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan
diantara pihak-pihak yang bersangkutan, dan
e) Keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak
pengembangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan dalam
perusahaan pertambangan.
5) Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan
pembayaran tambahan pengembalian pajak,
6) Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian
utang,
7) Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen daari asuransi
kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi,
8) Royalty atau imbalan atas penggunaan hak,
9) Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta,
10) Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala,
11) Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang
ditetapkan dengan peraturan pemerintah,
12) Keuntungan selisih kurs mata uang asing,

4
13) Karena penilaian kembali aktiva,
14) Premi asuransi,
15) Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari
wajib pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas,
16) Tambahan kekayaan netto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak,
17) Penghasilan dari usaha berbasis syariah,
18) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengtur mengenai
ketentuan umum dan tata cara perpajakan,
19) Surplus Bank Indonesia.
B. Tidak Termasuk Objek PPh
Penghasilan yang Tidak Termasuk Objek Pajak Penghasilan adalah:

1. Bantuan atau sumbangan dan harta hibahan.

a) bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau
lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang
diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang
sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh
lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang
diterima oleh penerima sumbangan yang berhak; dan
b) harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu
derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan,
koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, sepanjang
tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di
antara pihak-pihak yang bersangkutan.

2. Warisan.

3. harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau
sebagai pengganti penyertaan modal.

4. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau
diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah,
kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak, Wajib Pajak yang dikenakan pajak
secara final atau Wajib Pajak yang menggunakan norma penghitungan khusus
(deemed profit).

5
5. pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan
asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan
asuransi bea siswa.

6. dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai
Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha milik
daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat
kedudukan di Indonesia dengan syarat:

a) dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan

b) bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik
daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan
dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang
disetor.

7. iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan
Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai.

8. penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana dimaksud
pada huruf g, dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan Menteri Keuangan.

9. bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang
modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan
kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif.

10. penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian
laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan
di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut:

a) merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan


dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan; dan
b) sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.

11. beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

6
12. sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak
dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan, yang telah
terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk
sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan,
dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih
tersebut, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan.

13. bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

1.2 Penghasilan Kena Pajak


Penghasilan kena pajak adalah penghasilan Wajib Pajak yang menjadi dasar untuk
menghitung pajak penghasilan. Pendapatan kena pajak diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.

1.2.1 Dasar Pengenaan Pajak


Untuk dapat menghitung PPh, terlebih dahulu harus diketahui dasar pengenaan pajaknya.
Untuk Wajib Pajak dalam negeri dan Badan Usaha Tetap (BUT) yang menjadi dasar
pengenaan pajak adalah Penghasilan Kena Pajak. Sedangkan untuk Wajib Pajak luar negeri
adalah penghasilan bruto.
Besarnya Penghasilan Kena Pajak untuk Wajib Pajak badan dihitung sebesar penghasilan
netto. Sedangkan untuk Wajib Pajak orang pribadi dihitung sebesar penghasilan netto
dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Secara singkat dapat dirumuskan
sebagai berikut:
Penghasilan kena pajak (WP Badan) = Penghasilan netto
Penghasilan kena pajak (WP orang pribadi) = penghasilan netto – PTKP
1.2.2 Cara Menghitung Penghasilan Kena Pajak
Penghitungan besarnya Penghasilan Netto bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk
usaha tetap dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Menggunakan pembukuan
2. Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Netto

7
Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk
mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal,
penghasilan, dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang
ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi pada setiap
Tahun Pajak berakhir. Wajib Pajak badan dan orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha
atau pekerjaan bebas diwajibkan menyelenggarakan pembukuan.
Dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan, tetapi wajib pajak
melakukan pecatatan adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan uasaha atau
pekerjaan bebas yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan:
 Diperbolehkan menghitung penghasilan netto dengan menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Netto, dan
 Wajib Pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha dan pekerjaan bebas.
Pencatatan oleh Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha dan pekerjaan
bebas meliputi peredaran dan penerimaan bruto dan penerimaan penghasilan lainnya.
Sedangkan bagi mereka yang semata-mata menerima penghasilan dari luar usaha dan
pekerjaan bebas pencatatannya hanya mengenai penghasilan bruto, pengurang, dan
penghasilan netto yang merupakan objek Pajak Penghasilan. Di samping itu pencatatan
meliputi pula penghasilan yang bukan objek pajak dan atau yang dikenakan pajak yang
bersifat final.
Pembukuan dan pencatatan harus:
 diselenggarakan dengan memperhatikan itikad dan mencerminkan keadaan atau
kegiatan usaha yang sebenarnya,
 diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan
mata uang Rupiah, dan
 disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri
Keuangan (misalnnya, bahasa Inggris)
A. Menghitung Penghasilan Kena Pajak dengan Menggunakan Pembukuan
Untuk Wajib Pajak badan besarnya Penghasilan Kena Pajak sama dengan penghasilan
netto, yaitu penghasilan bruto dikurangi dengan biaya-biaya yang dikenakan oleh Undang-
undang PPh. Sedangkan untuk Wajib Pajak Orang Pribadi, besarnya Penghasilan Kena Pajak
sama dengan penghasilan netto dikurangi dengan PTKP. Untuk menghitung Penghasilan
Kena Pajak dapat dirumuskan sebagai berikut:
Penghasilan Kena Pajak (WP Orang Pribadi)
= Penghasilan netto – PTKP

8
= Penghasilan brutto – Biaya yang diperkenankan UU PPh)-PTKP
Penghasilan Kena Pajak (WP Badan)
= Penghasilan netto
= Penghasilan brutto – Biaya yang diperkenankan UU PPh
Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap,
ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi dengan biaya untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk:
1. biaya yang secara langsung dan tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha,
antara lain:
a. biaya pembelian bahan;
b. biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium,
bonus, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang;
c. bunga, sewa, dan royalty;
d. biaya perjalanan;
e. biaya pengolahan limbah;
f. premi asuransi;
g. biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan;
h. biaya administrasi dan;
i. pajak, kecuali Pajak Penghasilan;
2. penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas
pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa
manfaat lebih dari I tahun;
3. iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan;
4. kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam
perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan;
5. kerugian selisih kurs mata uang asing;
6. biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia;
7. biaya beasiswa, magang, dan pelatihan
8. piutang yang nyata-nyata tidak bisa ditagih dengan syarat:
a. telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
b. Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada
Direktorat Jenderal Pajak;dan
c. telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negara atau instansi
pemerintah yang menangani piutang negara, atau adanya perjanjian tertulis
mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur
yang bersangkutan, atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau
khusus, atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan
untuk jumlah utang tertentu.
9
d. syarat sebagaimana dimaksud pada huruf c tidak berlaku untuk penghapusan
piutang tak tertagih debitur kecil
9. sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang ketentuannya diatur
dengan Peraturan Pemerintah;
10. sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia
yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;
11. biaya penggunaan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan Peraturan
Pemerintah;
12. sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan
Pemerintah;
13. sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dengan
Peraturan Pemerintah;
14. kompensasi kerugian fiskal tahun sebelumnya (maksimal 5 tahun).
Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib pajak dalam negeri dan
bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan :
1. Pembagian laba dengan nama dan bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen
yang dibagikan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa
hasil usaha koperasi.
2. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham,
sekutu, atau anggota.
3. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali:
a. cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang
menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan
konsumen, dan perusahaan anjak piutang;
b. cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial dibentuk oleh
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial;
c. cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan;
d. cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;
e. cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan; dan
f. cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri
untuk usaha pengolahan limbah industri, yang ketentuan dan syarat-syaratnya
diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;
4. Premi asuransi kesehtan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan
asuransi beasiswa, yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi, kecuali jika dibayar
oleh pemberi kerja dan premi asuransi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi
Wajib Pajak yang bersangkutan;
5. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan
dalam bentuk naturan dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman
bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan
10
kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang
diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;
6. Jumlah yang melebihi kewajiban yang dibayarkan kepada pemegang saham atau
kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan
dengan pekerjaan yang dilakukan;
7. Harta yang diibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan, kecuali :
 sumbangan yang diperbolehkan dikurangkan
 zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang
dibentuk atau disahkan oleh pemerintah
 sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui
di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau
disahkan oleh pemerintah;
8. Pajak Penghasilan;
9. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak atau
orang yang menjadi tanggungannya;
10. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer
yang modalnya tidak terbagi atas saham;
11. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa
denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di bidang
perpajakan;
12. Biaya-biaya (pengeluaran) utuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan
yang :
 dikenakan PPh yang bersifat final
 bukan objek PPh
13. biaya-biaya (pegeluaran) untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan
yang PPh-nya dihitung dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan
Netto.
B. Menghitung Penghasilan Kena Pajak dengan Menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Netto
Apabila dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak-ya Wajib Pajak menggunakann
Norma Penghitungan Penghasilan Netto, besarnya penghasilan netto adalah sama besarnya
dengan besarnya (persentase) Norma Penghitungan Penghasilan Neetto dikalikan dengan
jumlah peredaran usaha atau penerimaan bruto pekerjaan bebas setahun.
Pedoman untuk menentukan penghasilan netto, dibuat dan disepurnakan terus-menerus
serta diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak berdasarkan pegangan yang ditetapkan oleh
Menteri Keuangan.
Wajib Pajak boleh menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Netto adalah Wajib
Pajak orang pribadi yang memenuhi syarat sebagai berikut:
11
1. Peredaran bruto kurang dari 4.800.000.000,00 per tahun
2. Mengajukan permohonan dalam jangka waktu 3 bulan pertama dari tahun buku
3. Menyelenggarakan pencatatan
Berikut ini contoh penghitungan pajak yang teruang dengan menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Netto.
Wajib Pajak Anto kawin (istri tidak bekerja) dan mempunyai 3 orang anak. Ia seorang dokter
bertempat tinggal di Jakarta yang juga memiliki industri rotan di Cirebon. Misalkan besarnya
persentase norma untuk industri rotan di Cirebon 12,5 % dan dokter di Jakarta 45%
Peredaran usaha dari industri rotan di Cirebon setahun Rp 400.000.000,00
Penerimaan bruto seorang dokter di Jakarta setahun Rp 100.000.000,00
Penghasilan netto dihitung sebagai berikut :
Dari industri rotan : 12,5% x Rp 400.000.000,00 Rp 50.000.000,00
Sebagai seorang dokter : 45% x 100.000.000,00 Rp 45.000.000,00
Jumlah penghasilan netto Rp 95.000.000,00
Penghasilan Tidak Kena Pajak Rp 21.120.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp 73.880.000,00

1.3 Penghitungan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi dan Badan

1.3.1 Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)


Besarnya PTKP setahun yang berlaku saat ini adalah:
1. Rp 54.000.000,00 untuk diri Wajib Pajak orang pribadi
2. Rp 4.500.000,00 tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin
3. Rp 54.00.000,00 tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya di gabung
dengan penghasilan suami, dengan ketentuan :
 Penghasilan istri tidak semata-mata diterima atau diperoleh dari satu pemberi
kerja yang telah dipotong pajak berdasarkan ketentuan dalam Undang-undang PPh
pasasl 21, dan
 Pekerjaan istri tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami
atau anggota keluarga yang lain.
4. Rp 4.500.000,00 tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga
semenda dalam garis keturunan lurus satu derajat serta anak angkat yang menjadi
tanggungan sepenuhnya (maksimal 3 orang)

12
Penghitungan PTKP ditentukan menurut keadaan pada awal tahun pajak atau bagian tahun
pajak. Penghitungan PTKP untuk pegawai lama (tahun sebelumnya sudah bekerja di
Indonesia) dilakukan dengan melihat keadaan pada awal tahun takwim (1 Januari). Bagi
pegawai yang baru datang dan menetap di Indonesia dalam bagian tahun takwim, besarnya
PTKP tersebut berdasarkan keadaan pada awal bulan dari bagian tahun takwim yang
bersangkutan.
Dalam hal karyawati kawin, PTKP yang dikurangkan adalah hanya untuk dirinya sendiri.
Dalam hal ini karyawati tidak kawin , pengurangan PTKP selain untuk dirinya sendiri juga
PTKP untuk keluarga yang menjadi tanggungan sepenuhnya.
Contoh penghitungan PTKP:
1. Joko sudah menikah dengan mempunyai seorang anak. PTKP Joko adalah :
PTKP setahun :
Untuk Wajib Rp 54.000.000,00
Tambahan WP kawin Rp 4.500.000.00
Tambahan 1 anak Rp 4.500.000,00
Jumlah Rp 63.000.000,00
2. John (warga negara asing) bekerja di Indonesia pada tanggal 1 Maret 2009 dengnan
kontrak kerja selama 2 tahun. John sudah menikah dan mempunyai 3 anak. PTKP
John adalah:
PTKP setahun :
Untuk WP sendiri Rp 54.000.000,00
Tambahan WP kawin Rp 4.500.000.00
Tambahan 3 anak Rp 13.500.000,00
Jumlah Rp 72.000.000,00
1.3.2 Tarif Pajak
1. Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri
Tarif pajak yang diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak orang pribadi
dalam negeri adalah sebagai berikut:

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak


sampai dengan Rp 50.000.000,00 5%
di atas Rp 50.000.000,00 sampai dengan Rp 15%
250.000.000,00
di atas Rp 250.000.000,00 sampai dengan Rp 25%
500.000.000,00
di atas Rp500.000.000,00 30%

Tarif tertinggi bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri dapat diturunkan paling rendah
25% yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.

13
2. Wajib Pajak Badan Negeri dan Bentuk Usaha Tetap
Sedangkan tarif pajak yang diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak
badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebesar 28%. Tarif pajak bagi Wajib Pajak
badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap, mulai dari sejak tahun pajak 2010, diturunkan
menjadi 25%. Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk perseroan terbuka yang paling
sedikit 40% dari jumlah keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan di bursa efek di
Indonesia dan memenuhi persyaratan tertentu lainnya dapat memperoleh tarif sebesar 5%
lebih rendah daripada tarif yang berlaku. Wajib Pajak dalam negeri dengan peredaran bruto
sampai dengan Rp 50.000.000.000,00 mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar
50% yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan
Rp 4.800.000.000,00.
1.3.3 Cara Menghitung Pajak
Pajak Penghasilan (bagi Wajib Pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap) setahun
dihitung dengan cara mengalikan PKP dengan tarif pajak sebagaimana diatur dalam UU PPh
pasal 17. Untuk menghitung PPh dapat digunakan rumus sebagai berikut:
Pajak Penghasilan (WP badan)
= PKP x tarif pasal 17
= Penghasilan netto x tarif pasal 17
= (Penghasilan bruto – biaya yang diperkenankan UU PPh) – tarif pasal 17
Pajak Penghasilan (WP Orang Pribadi)\
= PKP x tarif pasal 17
= Penghasilan netto – PTKP) x tarif pasal 17
= [(Penghasilan - biaya yang diperkenankan UU PPh) – PTKP] x tarif pasal 17
Catatan :
Untuk keperluan penghitungan PPh yang terutang pada akhir tahun, Penghasilan Kena
Pajak dibulatkan ke bawah hingga ribuan penuh.
Contoh:
1. Peredaran bruto PT Makmur dalam tahun pajak 2010 sebesar Rp Rp 4.500.000.000,00
dengan PKP sebesar Rp 500.000.000,00. Penghitungan pajak yang terutang :
Seluruh PKP yang diperoleh dari peredaran bruto tersebut dikenakan tarif 50% dari tarif
Pajak Penghasilan badan yang berlaku karena jumlah peredaran bruto PT Makmur tidak
melebihi Rp 4.800.000.000,00.
Pajak Penghasilan yang terutang :
(50% x 25%) x Rp 500.000.000,00 = 62.500.00,00
2. Peredaran bruto PT Jaya dalam tahun pajak 2010 sebesar Rp 30.000.000.000,00 dengan
PKP sebesar Rp 3.000.000.000,00. Penghitungan Penghasilan Kena Pajak yang terutang :
(Rp 4.800.000.000,00 : Rp 30.000.000.000,00) x Rp 3.000.000.000,00 = Rp
480.000.000,00)
Jumlah penghasilan Kena Pajak dari bagian peredran bruto yang tidak memperoleh
fasilitas :
Rp 30.000.000.000,00 – Rp 480.000.000,00 = Rp 2.520.000.000,00
14
Pajak Penghasilan yang terutang :
(50% x 25%) x 480.000.000,00 Rp 60.000.000,00
25% x Rp 2.520.000.000,00 Rp 630.000.000,00 +
Jumlah Penghasilan Pajak yang terutang Rp 690.000.000,00
3. Gunawan pada tahun 2010 mempunyai PKP sebesar Rp 241.850.600,00. Besarnya Pajak
Penghasilan yang harus dibayar atau terutang oleh Gunawan adalah :
Penghasilan Kena Pajak Rp 241.850.600,00
(dibulatkan ke bawah hingga ribuan penuh)
Pajak Penghasilan yang harus dibayar :
5% x Rp 50.000.000,00 Rp 2.500.000,00
15% x 191. 850.000,00 Rp 28.777.500,00
Jumlah Rp 31.277.500,00

KESIMPULAN
Pajak Penghasilan adalah Pajak yang dikenakan terhadap orang pribadi atau
perseorangan dan badan, berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya
selama satu tahun pajak. Pajak penghasilan pertama kali diatur dalam Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2008. Subjek pajak penghasilan dibedakan antara subjek pajak dalam negeri
dan subjek pajak luar negeri. Perbedaan penting antara subjek pajak dalam negeri dan subjek
pajak luar negeri diketahui terutama dalam hal pemenuhan kewajiban pajaknya. Objek PPh
adalah penghasilan itu sendiri. Dalam ketentuan UU No.7 Tahun 1983 yang telah
diperbaharui oleh UU No.36 Tahun 2008 pasal 4 ayat 1 telah diatur hal-hal yang termasuk
penghasilan.

15
Penghasilan kena pajak adalah penghasilan Wajib Pajak yang menjadi dasar untuk
menghitung pajak penghasilan. Penghasilan kena pajak diatur dalam Undang-Undang Nomor
36 Tahun 2008. Besarnya Penghasilan Kena Pajak untuk Wajib Pajak badan dihitung sebesar
penghasilan netto. Sedangkan untuk Wajib Pajak orang pribadi dihitung sebesar penghasilan
netto dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Penghitungan besarnya
Penghasilan Netto bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu : menggunakan pembukuan dan menggunakan norma penghitungan
penghasilan netto.
Penghitungan PTKP ditentukan menurut keadaan pada awal tahun pajak atau bagian tahun
pajak. Tarif tertinggi bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri dapat diturunkan paling
rendah 25% yang diatur dengan Peraturan Pemerintah. Sedangkan tarif pajak yang diterapkan
atas PKP bagi Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebesar 28%.
Tarif pajak bagi Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap, mulai dari sejak
tahun pajak 2010, diturunkan menjadi 25%. Pajak Penghasilan (bagi Wajib Pajak dalam
negeri dan Bentuk Usaha Tetap) setahun dihitung dengan cara mengalikan PKP dengan tarif
pajak sebagaimana diatur dalam UU PPh pasal 17.

16