Anda di halaman 1dari 26

KAJIAN SISTEM TATA KELOLA

KOMODITAS KELAPA SAWIT


2016
Direktorat Penelitian dan Pengembangan
Kedeputian Pencegahan
Komisi Pemberantasan Korupsi

1
Bersama KPK Berantas Korupsi
Pendahuluan
Kontribusi Komoditas Kelapa Sawit Permasalahan dalam Pengelolaan
terhadap Perekonomian Komoditas Kelapa Sawit

Kasus kebakaran hutan dan lahan


Menyumbang 7-8% PDB (BPS, 2015) 2015 menimbulkan kerugian sebesar
USD 295 juta (World Bank, 2015)

Ekspor ketiga terbesar yaitu USD Sepanjang 2015 terjadi 127 konflik
18,1 milyar atau 13,7% dari total lahan dengan luas lahan konflik
ekspor (BPS, 2015) 200.217 Ha (KPA, 2015)

Menyumbang Rp 22,27 triliyun Ketimpangan penguasaan lahan di


penerimaan negara dari pajak (DJP, Indonesia; korporasi menguasai 11,3
2015) juta Ha (71%)

Menyumbang Rp 11,7 triliyun Sistem perizinan yang membuka


penerimaan negara dari pungutan peluang korupsi (kasus Gubernur
ekspor (BPDPKS, 2016) Riau dan Bupati Buol)
2
Posisi Indonesia Dalam Produksi
Minyak Sawit Dunia
Data Produksi Minyak Sawit Dunia menurut Negara Penghasil,
Tahun 2012-2015
70,000

60,000
• Indonesia merupakan produsen
50,000 terbesar minyak sawit dunia,
40,000
market share 52,5%.

30,000
• Total produksi Indonesia tahun
2012-2015 sebesar 124 juta MT
20,000 dengan pertumbuhan pertahun
10,000
mencapai 4,0%

-
• Pesaing Indonesia adalah Malaysia
2012 2013 2014 2015 dengan market share 32,6%
PRODUKSI MINYAK SAWIT (ribu MT)
Indonesia Malaysia Thailand Kolombia Nigeria Lainnya

Sumber: USDA, 2016 (diolah)


3
Struktur Penguasaan Lahan Perkebunan
Kelapa Sawit di Indonesia

Data Struktur Kepemilikan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit di


Indonesia, 2015

• Total luasan lahan perkebunan


4,422,365 kelapa sawit di Indonesia tahun
2015 seluas 15,7 juta Has
• Perkebunan kelapa sawit yang
dikelola oleh perusahaan swasta
493,776 seluas 10,7 juta Ha (68%); BUMN
seluas 493,7 ribu Ha (3%) dan
10,788,631
perkebunan rakyat seluas 4,4 juta
Ha (29%)

Perusahaan Swasta BUMN Perkebunan Rakyat

Keterangan: *) Data HGU dari Kementerian ATR (belum diverifikasi dengan data HGU di Kanwil BPN Propinsi)
**) Data dari Kementerian Pertanian (masih perlu diverifikasi)
Sumber: Diolah dari Data Kementerian ATR dan Kementerian Pertanian, 2015 4
Kontribusi Penerimaan Pajak Sektor
Kelapa Sawit

Total Penerimaan Pajak dan Penerimaan Pajak Sektor Kelapa Sawit,


2011-2015

1,200.00 3.00

2.62
1,000.00 2.50
2.37
2.03 2.10 • Penerimaan pajak sektor kelapa sawit
800.00 2.00
1.88 tahun 2015 sebesar Rp 22,2 triliyun,
600.00 1.50 hanya berkontribusi sebesar 2,1% dari
total penerimaan pajak
400.00 1.00
• Rata-rata pertumbuhan penerimaan pajak
200.00 0.50 sektor kelapa sawit sebesar 10,9%
pertahun
- -
2011 2012 2013 2014 2015
Penerimaan Pajak Sektor Kelapa Sawit (Rp Triliyun)
Total Penerimaan Pajak (Rp Triliyun)
Persentase Penerimaan Pajak Sektor Kelapa Sawit (%)

Sumber: DJP, 2016 (diolah)


5
Kebijakan dan Regulasi Pengelolaan
Komoditas Kelapa Sawit
di Indonesia, 2004-2015
PP No 55/2008 Perpres No 61/2015
tentang tentang Penghimpunan dan
Pengenaan Bea Pengelolaan Dana
Permentan
Keluar terhadap Permentan No PMK No
98/2013 UU No 39/2014 Perkebunan Kelapa Sawit
Barang Ekspor 19/2011 75/2012 tentang
tentang tentang
tentang Penetapan
Pedoman Perkebunan Poin:
Poin: Pedoman Barang Ekspor
Perizinan • Pengaturan teknis
UU No • Menjamin yang dikenakan
Perkebunan Usaha Poin: penghimpunan dana
18/2004 terpenuhinya Bea Keluar dan
Kelapa Sawit Perkebunan • Pembatasan perkebunan kelapa sawit
tentang kebutuhan Tarif Bea Keluar
Berkelanjutan penguasan
Perkebunan dalam negeri Indonesia Poin: lahan oleh Kepmentan No 321/2015
• Melindungi Poin:
• Pengaturan badan usaha tentang Pedoman Produksi,
Poin: kelestarian • Pengenaan tarif
Poin: mekanisme • Penghimpunan Sertifikasi dan Peredaran
• Tidak ada SDA bea keluar
• Kewaiban perizinan dana publik dan Pengawasan Benih
pembatasan • Menjaga terhadap
badan usaha • Pembatasan untuk Tanaman Kelapa Sawit
penguasaan stabilitas ekspor
memiliki penguasaan pengembangan
lahan oleh harga komoditas
sertifikasi lahan oleh perkebunan Poin:
badan usaha kelapa sawit
ISPO badan usaha berkelanjutan • Pengaturan pembenihan

2004 2008 2011 2012 2013 2014 2015 6


Tata Laksana Mekanisme Pengurusan
Izin Perkebunan Kelapa Sawit

Izin lokasi Izin lingkungan Izin Usaha SK Pelepasan Hak Guna


Perkebunan (IUP) Kawasan Hutan Usaha

Izin lokasi • IUP diterbitkan oleh SK Pelepasan


Izin lingkungan HGU diterbitkan
diterbitkan oleh Bupati/Walikota jika Kawasan Hutan
dikeluarkan oleh oleh Kanwil
Bupati/Walikota lahan berada dalam diterbitkan oleh
Pemerintah Pertanahan atau
berdasarkan satu kab/kota KLHK jika lahan
Kab/Kota, Badan Pertanahan
kesesuaian • IUP diterbitkan oleh masuk kawasan
Pemerintah Nasional
dengan Gubernur jika lahan hutan
Propinsi atau
peruntukan berada lintas
KLHK sesuai
penggunaan kab/kota
lingkup izinnya
lahan dalam • IUP diterbitkan oleh
RTRW kab/kota Menteri Pertanian jika
lahan berada di lintas
propinsi 7
TEMUAN KELEMAHAN DALAM TATA KELOLA KOMODITAS KELAPA SAWIT

1
Sistem pengendalian
2 3
Tidak optimalnya
Tidak efektifnya
perizinan usaha pengendalian pungutan pungutan pajak sektor
perkebunan tidak ekspor komoditas kelapa kelapa sawit oleh
akuntabel untuk sawit Direktorat Jenderal Pajak
memastikan kepatuhan
pelaku usaha

8
1
Sistem pengendalian perizinan usaha perkebunan
tidak akuntabel untuk memastikan kepatuhan
pelaku usaha

9
Kondisi Saat Ini
Luasan Tumpang Tindih HGU Perkebunan Kelapa Sawit dengan Izin-izin Lain dan
Lahan Kubah Gambut berdasarkan Propinsi di Indonesia, 2016
NO PROPINSI LUASAN TUMPANG TINDIH HGU (HA)
IZIN IUPHHK IUPHHK KUBAH
PERTAMBANGAN -HTI -HA GAMBUT
1 Aceh 33,204 8,499 11,608 -
2
3
Sumatera Utara
Sumatera Barat
11,420
9,304
6,041
9,841
8,918
-
5
-
▪ HGU dengan Izin Pertambangan (3,01 juta
4
5
Riau
Kep. Riau
34,038
5
17,792
-
-
-
245,546
- ha)
6 Jambi 26,749 8,329 1,053 44,499
7
8
Bengkulu
Sumatera Selatan
60,267
245,175
-
40,056
-
5,765
-
147,764
▪ HGU dengan IUPHHK-HTI (534 ribu ha)
9
10
Bangka Belitung
Lampung
11,882
56,744
4,524
2,932
-
-
-
- ▪ HGU dengan IUPHHK-HA (349 ribu ha)
11 Jawa Barat 1,938 - - -
12
13
Banten
Kalimantan Barat
763
615,052
-
15,471
-
4,122
-
119,436
▪ HGU dengan Kubah Gambut (801 ribu ha)
14
15
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
396,162
228,631
81,834
89,973
86,484
21,213
152,422
71,080 ▪ Propinsi dengan kondisi tumpang tindih HGU
16 Kalimantan Timur dan Utara 1,116,103 240,039 99,090 -
18 Sulawesi Utara 4,433 68 308 - sawit terparah umumnya di Pulau
19 Gorontalo 8,543 - - -
20 Sulawesi Tengah 55,389 6,799 3,282 - Kalimantan
21 Sulawesi Tenggara 14,955 549 - -
22 Sulawesi Barat 3,885 420 - -
23 Sulawesi Selatan 26,903 422 - -
25 Maluku Utara 15,251 - 9,938 -
26 Papua Barat 5,605 923 70,829 -
27 Papua 35,450 - 27,054 20,955
10
TOTAL 3,017,851 534,512 349,664 801,707 Sumber: Dari berbagai sumber, 2016 (diolah)
1.1
Tidak adanya perencanaan usaha perkebunan kelapa sawit
• UU 39/2014 memandatkan alokasi ruang usaha
budidaya harus berdasarkan perencanaan perkebunan.
• Pemerintah daerah sebagai penerbit izin tidak memiliki
sistem perencanaan perkebunan sesuai mandat UU
39/2014.
• Permentan 98/OT.140/9/2013 tidak mengatur
mekanisme sanksi terhadap izin yang melangggar tata
ruang.
• Akibatnya izin usaha perkebunan diterbitkan tidak sesuai
dengan peruntukan ruang.
• Contoh di Kab. Ketapang ditemukan 3898 ha HGU
berada dalam lahan IUPHHK-HA dan Izin
Pertambangan

11
Tidak ada mekanisme integrasi perizinan dalam skema satu peta
Overlay Peta Izin Usaha Perkebunan dan Izin Lokasi dengan
Peruntukan Tata Guna Lahan di Propinsi Kalimantan Tengah

• Mekanisme verifikasi lahan tidak


dilakukan oleh pemberi izin dan
tidak ada instrumen verifikasi antar
lintas perizinan dan tata guna
lahan karena tidak ada satu peta
yang sama yang menjadi
pegangan dalam pemberian izin

12
Sumber: Dari berbagai sumber, 2016 (diolah)
1.2
Tidak adanya koordinasi antara pemerintah daerah dengan
kementerian/lembaga dalam proses penerbitan dan pengendalian perizinan

PP 27/2012 tidak Permentan 98/2013 tidak Tidak ada ketentuan di PP 40/1996 tidak mengatur
mengatur terhadap mengatur apabila kehutanan untuk mengembalikan konsekuensi apabila izin
kegiatan usaha yang izin pelepasan kawasan tidak kawasan terhadap hak yang dicabut/ hak sedang
lingkungannya dicabut dapat diberikan ditelantarkan oleh pelaku usaha dijadikan agunan

• Alur perizinan di sektor perkebunan terfragmentasi • Akibatnya, pengendalian izin tidak efektif (kasus
berdasarkan kewenangan berbagai lembaga negara. tumpang tindih lahan) dan menimbulkan
• Permentan 98/OT.140/9/2013 secara formal tidak ketidakpastian hukum (kasus IUP yang tidak
mengatur mekanisme koordinasi antar pemerintah memiliki HGU karena berada dalam kawasan
daerah dengan K/L dalam proses penerbitan dan hutan atau kasus izin usaha perkebunan yang izin
pengendalian izin usaha perkebuan. lingkungannya sudah dicabut tetapi perusahaanya
masih beroperasi )
13
Target, Target
Kementerian Pertanian membangun sistem
Indikator Meningkatnya akuntabilitas izin usaha
perkebunan sehingga tingkat kepatuhan
informasi perizinan sebagai instrumen
akuntabilitas publik dan pengendalian terhadap
Kriteria dan kewajiban keuangan, administrasi, dan
lingkungan hidup seluruh usaha
usaha perkebunan yang terintegrasi – meliputi
R1.3
budidaya, industri, dan perdagangan
Rekomendasi perkebunan mencapai 100%.

Perbaikan Indikator Kriteria


• Seluruh penggunaan lahan perkebunan dan
dalam Sistem izin usaha perkebunan diharmonisasi dan
disinkronisasi dalam kebijakan satu peta
Perizinan (KSP).
Kementerian Pertanian revisi
Permentan 98/2013 dalam
• Revisi Permentan 98/2013 untuk R1.2 bentuk Peraturan Pemerintah dan
menyediakan mekanisme penataan dan memasukan ketentuan penataan
pengendalian perizinan berdasarkan hasil perizinan-berdasarkan tata
sinkronisasi satu peta dan kesesuaian ruang, lingkungan hidup dan
rencana perkebunan.
penguasaan lahan
• Tersedianya sistem informasi usaha dan

1
penggunaan lahan perkebunan yang
terintegrasi dengan akses yang terbuka R1.1 Kementerian Pertanian
untuk publik. melakukan rekonsiliasi usaha
perkebunan, dan
melaksanakan KSP
Rekomendasi Perbaikan Sistem Perizinan 14
2
Tidak efektifnya pengendalian pungutan
ekspor komoditas kelapa sawit

15
2.1
Sistem verifikasi ekspor tidak berjalan baik

Hasil Uji Petik terhadap Verifikasi Laporan Surveyor Ekspor Komoditas Kelapa Sawit, CPO dan
Produk Turunannya untuk Pelaksanaan Pungutan Ekspor, Juni-Agustus 2016

• Ditemukan kasus kurang bayar pungutan


ekspor sebanyak 625 kasus dengan nilai Rp Jumlah LS Nilai (Rp)
2,1 milyar
LS Kurang LS Lebih
• Ditemukan kasus lebih bayar sebanyak 1.055 Bulan Bayar Bayar Total LS Kurang Bayar Lebih Bayar
kasus dengan nilai Rp 10,5 milyar
• Ini terjadi karena tidak ada sistem verifikasi Juni 105 399 1,497 488,596,289 5,334,591,477
data yang dilakukan oleh Badan Pengelola
Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Juli 151 303 1,268 1,513,574,915 1,431,927,041
dengan data Laporan Surveyor oleh
Kementerian Perdagangan Agustus 369 353 1,526 150,819,403 3,739,443,339
• Data Laporan Surveyor juga tidak terintegrasi
dengan data Persetujuan Ekspor yang dikelola TOTAL 625 1,055 4,291 2,152,990,607 10,505,961,856
oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
Sumber: diolah dari data LS dari Kementerian Perdagangan (2016)
16
2.2
Penggunaan dana perkebunan kelapa
sawit habis untuk program subsidi biofuel

Mandatori Biofuel & Riset Re-planting


Perencanaan & Pengelolaan Pengembangan SDM
• 89% dari Rp 1,79 triliyun dana yang dialokasikan Promosi Perkebunan Dukungan Surveyor
sepanjang tahun 2015 digunakan untuk subsidi Beban Operasional
biofuel
1%
• Tahun 2016, total subsidi biofuel meningkat menjadi 1% 2%
Rp 10,6 triliyun 1%
1% Komposisi
5% Alokasi
• Akibatnya penggunaan dana untuk program inti
tidak terpenuhi seperti re-planting
Penggunaan
Dana Perkebunan
Kelapa Sawit,
Tahun 2015
89%

Sumber: BPDPKS, 2015


17
2.3
Tiga grup usaha menjadi penerima manfaat utama dana perkebunan
kelapa sawit
Daftar Perusahaan Penerima Dana Perkebunan Kelapa Sawit untuk Program Subsidi
Biofuel, Agustus 2015-April 2016
DANA • Tiga grup usaha mendapatkan alokasi
NAMA PERUSAHAAN VOLUME (L) 81,7% dari total Rp 3,25 triliyun alokasi
Rp Persentase
dana perkebunan kelapa sawit untuk subsidi
Wilmar Bioenergi Indonesia 256,148,728 779,606,236,354 23.92 biofuel
Wilmar Nabati Indonesia 330,139,061 1,023,620,388,544 31.40
• Penerima terbesar adalah Wilmar Grup
Musim Mas 201,105,072 534,570,146,109 16.40
dengan alokasi 54,32%
Eterindo Wahanatama 13,345,150 30,952,580,855 0.95
Anugerahinti Gemanusa 14,651,000 38,036,372,544 1.17
Darmex Biofuels 138,609,831 330,661,948,299 10.14
Pelita Agung Agrindustri 68,168,350 193,469,104,879 5.93
Primanusa Palma Energi 12,415,415 37,402,503,113 1.15
Ciliandra Perkasa 42,282,021 133,272,813,634 4.09
Cemerlang Energi Perkasa 45,592,354 134,977,962,185 4.14
Energi Baharu Lestari 8,455,200 23,329,908,879 0.72
TOTAL 1,130,912,182 3,259,899,965,395 100.00
18
Sumber: Diolah dari Laporan BLU BPDPKS, 2016
Target
Target, Berjalannya sistem verifikasi yang terintegrasi antara
BPDPKS, Ditjen Bea Cukai dan Surveyor serta penggunaan
Indikator dana perkebunan kelapa sawit sesuai dengan mandat UU
39/2014 tentang Perkebunan
Kriteria dan
Indikator Kriteria
Rekomendasi • Adanya sistem rekonsiliasi
BLU BPDPKS harus
memperbaiki sistem
Perbaikan data LS dengan data ekspor
yang dikeluarkan oleh Ditjen
verifikasi dan penelusuran
Kebijakan Bea dan Cukai teknis terhadap ekspor
kelapa sawit, CPO dan BLU BPDPKS, Direktorat
Pungutan • Adanya data real time
penerimaan pungutan ekspor
produk turunannya, Jenderal Bea dan
Cukai dan Lembaga
Komite pengarah BLU
memastikan bahwa BPDPKS harus
Ekspor • Tersedianya laporan lembaga surveyor Surveyor harus mengembalikan fungsi
penggunaan dana untuk memvalidasi laporan membangun sistem penggunaan dana
pengembangan SDM survey (LS) dengan rekonsiliasi data perkebunan kelapa sawit
perkebunan kelapa sawit, realisasi ekspor yang pungutan ekspor dan sesuai dengan Undang-
untuk penelitian dan berdasarkan laporan realisasi ekspor yang Undang No 39 Tahun 2014
pengembangan perkebunan instansi Bea dan Cukai terintegrasi
kelapa sawit, untuk promosi tentang Perkebunan

2
perkebunan kelapa sawit,
untuk peremajaan tanaman
kelapa sawit dan unuk
prasarana perkebunan R3.1 R3.2 R3.3
kelapa sawit
Rekomendasi Perbaikan Pungutan Ekspor Komoditas Kelapa Sawit
19
3
Tidak optimalnya pungutan pajak sektor
kelapa sawit oleh Direktorat Jenderal
Pajak

20
Perbandingan Produksi dan Ekspor
Komoditas Kelapa Sawit dengan
Penerimaan Pajak
Total Penerimaan Pajak dan Penerimaan Pajak Sektor Kelapa Sawit,
2011-2015
35.00 25.00

21.88 21.79 22.27


30.00
20.00 • Produksi dan ekspor meningkat tapi
18.48
25.00 tidak elastis dengan peningkatan
20.00
15.48 15.00 penerimaan pajak
15.00
10.00

10.00
5.00
5.00

0.00 0.00
2011 2012 2013 2014 2015
Realisasi Produksi CPO & Produk Turunannya (Juta Ton)
Realisasi Ekspor CPO dan Produk Turunannya (Juta Ton)
Penerimaan Pajak Sektor Kelapa Sawit (Rp Triliyun)

Sumber: DJP, 2016 (diolah)


21
3.1
DJP tidak mendorong kepatuhan Wajib Pajak sektor
perkebunan kelapa sawit
80.0
Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak (Badan dan Perorangan) dalam
Melaporkan SPT Pajak, 2011-2015
70.0

60.0

50.0

40.0
• Tingkat kepatuhan Wajib Pajak (Badan dan
30.0 Perorangan) mengalami penurunan signifikan
20.0 • Tingkat kepatuhan Wajib Pajak Badan turun
10.0
dari 70,6% tahun 2011 menjadi 46,3% tahun
2015
0.0
2011 2012 2013 2014 2015 • Tingkat kepatuhan Wajib Pajak Perorangan
Tingkat Kepatuhan WP Badan (%) Tingkat Kepatuhan WP Perorangan (%) turun dari 42,3% tahun 2011 menjadi 6,3%
tahun 2015
Sumber: DJP, 2016 (diolah)
22
3.2
Tidak ada sistem integrasi data
perkelapasawitan dengan data perpajakan

Data IUP, HGU

• Tidak ada sistem integrasi data perkelapasawitan dengan


Data realisasi
penyaluran
benih
Data PUP database perpajakan
• Data perkelapasawitan juga tidak terintegrasi antar K/L dan
pemerintah daerah
• Direktorat Jenderal Pajak tidak memiliki sistem verifikasi
Data
kepemilikan
Sistem
Database
Data
perdagangan
laporan pajak sektor kelapa sawit, kecuali verifikasi manual
kebun rakyat antar Pulau
Perpajakan
(STDB)
• Karena sistem integrasi data tidak ada maka, tidak ada
mekanisme perencanaan penerimaan pajak tahunan,
perhitungan potensi penerimaan pajak tahunan dan analisis
Data Harga
gap (tax gap)
TBS, CPO dan Data Ekspor
Produk
Turunannya
Data satuan Data Perkelapasawitan Seharusnya Terintegrasi dengan
biaya kebun
dan PKS setiap
wilayah
Database Perpajakan
23
3.3
Belum terpungutnya potensi pajak di sektor kelapa sawit
Luasan lahan tanam yang diluar
HGU dan tak dilaporkan dalam Contoh Kasus:
laporan pajak
• Perusahaan ini memiliki HGU seluas 10.157 Ha
• Tapi, dilapangan mereka beroperasi melebihi batas HGU
yaitu seluas 10.399 Ha
• Ada tambahan luasan tanaman di luar HGU sebesar 242
Ha
• Sedangkan, pelaporan kewajiban pajaknya hanya sebatas
luasan HGU
• Artinya, ada produksi yang tidak dilaporkan yang
berimplikasi terhadap hilangnya potensi pajak
PBB (tarif 0.5% dari NJOP) = 242 ha x Rp 99.997 = Rp
24.199.328
Potensi penghasilan tak terhitung = 242 ha x 19 ton/ha x
Rp 2.000.000 = Rp 9.196.000.000,-

Hasil Overlay data HGU dengan Delinasi Luasan Tanam


Sumber: Data HGU Kementerian ATR dan Peta Citra Satelit Resolusi Tinggi LAPAN, 2016 (diolah) yang menunjukan Penanaman di Luar HGU oleh 24
Perusahaan
7
Target Indikator Kriteria

Target, Meningkatnya penerimaan


pajak sektor kelapa sawit dari
• Terhubungnya sistem informasi perpajakan dengan sistem informasi
perizinan usaha perkebunan (budidaya, industri, dan perdagangan)
Indikator Rp 22 triliun menjadi Rp 40
triliun di tahun 2018
• Tersedianya laporan analisis tax gap tahunan di sektor kelapa sawit
Kriteria dan • Adanya perusahaan yang tak patuh atau menunggak pajak yang masuk ke
penindakan
Rekomendasi
Perbaikan
terkait Sistem Direktorat
Data ekspor dan data
Penerimaan List data izin usaha perdagangan antar pulau
Jenderal Pajak
perkebunan dan HGU yang membangun
komoditas kelapa sawit yang ada
Pajak sudah diverifikasi oleh di Direktorat Jenderal Bea dan
tipologi Wajib
Direktorat Jenderal Pajak yang tidak
Cukai, Direktorat Perdagangan Luar
Perkebunan dan Kementerian patuh dan
Negeri, Direktorat Perdagangan
Agraria dan Tata Ruang melakukan
Dalam Negeri dan PT Sucofindo
diintegrasikan dengan data proses
diintegrasikan dengan data Wajib
Wajib Pajak oleh Direktorat penindakan
Pajak oleh Direktorat Jenderal

3
Jenderal Pajak hukum
Pajak

R3.1 R3.2 R3.3

Rekomendasi Perbaikan Tata Kelola Perpajakan Sektor Kelapa Sawit


25
Terima Kasih

Direktorat Penelitian dan Pengembangan


Deputi Pencegahan
Komisi Pemberantasan Korupsi

Gerakan Nasional Penyelamatan Sumber Daya Alam


www.acch.kpk.go.id

26