Anda di halaman 1dari 8

LO 2: Pemeriksaan dan Diagnosa

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan kepala dan leher yang komperhensif perlu dilakukan
terutama pada rongga mulut. Seluruh mukosa pada rongga mulut dan orofaring
harus diperiksa secara sistematis. Palpasi pada lesi perlu dilakukan untuk
menentukan luas dan kedalaman dari lesi. Adanya penyebaran kanker ke
mandibula dan maksila juga harus diidentifikasi. Laring dan faring juga harus
diperiksa dengan menggunakan cermin atau endoskopi untuk menilai adanya
tumor atau lesi pada area tersebut. Telinga juga harus diperiksa karena terdapat
bukti bahwa otalgia terkadang disebabkan nyeri alih akibat malignancy
(Christopher, 2015).
Kelenjar getah bening leher dan parotis harus diperiksa secara hati-hati
untuk menentukan adanya adenopati. Diaz et al. menemukan bahwa 27%
panderita SCC mengalami pembesaran kelenjar getah bening. Adanya
pembesaran kelenjar getah bening akan meningkatkan stadium dari penyakit
tersebut (Christopher, 2015).
Adapun sign yang sering didapatkan pada pemeriksaan fisik ialah adanya
perdarahan, ulkus, massa pada leher, bengkak pada wajah, paresis dan parestesi
pada wajah dan trismus (Christopher, 2015).
Lesi pada SCC dapat muncul dengan bentuk yang variatif, yaitu
leukoplakia, verukus leukoplakia, eritro-leukoplakia dan eritroplakia. Setiap
bentuk tersebut dapat berkembang menjadi ulkus dengan tepi yang irreguler dan
mengalami indurasi, lesi pada SCC dapat mengalami perdarahan dan infeksi
sekunder. Lesi yang besar dapat menimbulkan gangguan fungsi berbicara,
mengunyah dan menelan. Sekitar 2/3 SCC pada rongga mulut yang telah
membesar, secara klinis biasanya telah dijumpai metastasis ke KGB leher. KGB
yang membesar biasanya akan teraba keras. SCC yang telah menyebar melewati
ekstra-kapsular, akan teraba sebagai massa yang terfiksasi. Batas dari lesi juga
harus diidentifikasi dengan jelas, agar tatalaksana yang dilakukan efektif dan tidak
menimbulkan rekurensi (Feller et al., 2012).
Stadium dan Klasifikasi
Tingkat keparahan pada karsinoma ditentukan berdasarkan the American
Joint Commission on Cancer (AJCC) Staging System for the oral cavity.
Modifikasi terakhir pada sistem staging ini terakhir dilakukan pada tahun 2002.
Stadium dapat ditentukan berdasarkan pemeriksaan fisik dan temuan lain pada
pemeriksaan penunjang (Christopher, 2015).
Klasifikasi stadium berdasarkan TNM merupakan deskripsi dari anatomi
tumor primer (T), pembesaran KGB (N) dan ada atau tidaknya metastasis (M).
Adapun kriteria penentuan stadium menurut the American Joint Commission on
Cancer (AJCC) Staging System for the oral cavity adalah:
 Tumor primer (T)
o Tx – Tumor primer tidak dapat dinilai
o T0 – Tidak ada bukti adanya tumor primer
o Tis - Carcinoma in situ
o T1 – Tumor < 2 cm pada dimensi terbesar
o T2 – Ukuran tumor 2-4 cm pada dimensi terbesar
o T3 – Ukuran tumor > 4 cm pada dimensi terbesar
o T4a – Terdapat invasi tumor ke struktur disekitarnya (seperti tulang maksila
atau mandibula, otot lidah ekstrinsik, dan kulit wajah
o T4b – Terdapat invasi tumor ke basis crania dan/atau arteri karotis interna.
 KGB regional
o NX - KGB regional tidak dapat dinilai
o N0 – Tidak terdapat pembesaran KGB regional
o N1 – Terdapat pembesaran single KGB ipsilateral dengan ukuran < 3 cm pada
dimensi terbesar.
o N2a - Terdapat pembesaran single KGB ipsilateral dengan ukuran < 6 cm pada
dimensi terbesar.
o N2b - Terdapat pembesaran multiple KGB ipsilateral dengan ukuran < 6 cm
pada dimensi terbesar.
o N2c - Terdapat pembesaran multiple KGB kontralateral dengan ukuran < 6 cm
pada dimensi terbesar.
o N3 - Terdapat pembesaran KGB dengan ukuran > 6 cm pada dimensi terbesar.
 Metastasis
 MX – Metastasis jauh tidak dapat dinilai
 M0 – Tidak terdapat metastasis
 M1 – Terdapat metastasis

 Adapun stadium SCC berdasarkan kriteria TNM adalah :


o Stadium 0 - Tis N0 M0
o Stadium 1 - T1 N0 M0
o Stadium 2 - T2 N0 M0
o Stadium 3 - T3 N0 M0; T1, T2, or T3 N1 M0
o Stadium 4a - T4a N0 M0; T4a N1 M0; T1, T2, T3 or T4a N2 M0
o Stadium 4b – Any T N3 M0; T4b any N M0
o Stadium 4c - Any T any N M1

Squamous Cell Carcinoma dapat tumbuh lambat merusak jaringan


setempat dengan kecil kemungkinan bermetastase. Namun dapat pula tumbuh
cepat merusak jaringan sekitar dan bermetastasis jauh umumnya melalui saluran
getah bening (Manuaba,2010).
Squamous Cell Carcinoma dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu :
1. SCC Insitu atau Bowen Carcinoma
SCC ini terbatas pada epidermis dan terjadi pada berbagai lesi kulit
yang telah ada sebelumnya. Seperti solar keratosit, kronis radiasi keratosit,
hidrokarbon keratosit, arsenik keratosit, kornu kutanea, penyakit bowen
dan eritroplasia queyrat. SCC insitu dapat menetap di epidermis dalam
jangka waktu yang lama dan tidak dapat diprediksi, dapat menembus
lapisan basal ingga ke dermis dan selanjutnya bermetastasis melalui
kelenjar getah bening regional (Manuaba,2010).

2. SCC Invasif
SCC invasif dapat berkembang dari SCC insitu dan dapat juga dari
kulit normal. SCC invasif baik yang muncul dari SCC insitu, lesi
premalignan atau kulit normal biasanya dapat berupa nodul kecil dengan
batas yang tidak jelas, sewarna dengan kulit atau sedikit eritem.
Permukaannya pada awalnya rata namun lama kelamaan dapat
berkembang menjadi verukosa atau papilomatosa. Ulserasi biasanya
muncul dari bagian tengah tumor dapat terjadi cepat atau lambat sering
ebelum tumor berdiameter 1-2 cm. Permukaan tumor dapat granular dan
mudah berdarah, sedangkan pinggir ulkus biasanya meninggi dan
mengeras serta dapat dijumpai krusta (Manuaba,2010).
Urutan kecepatan invasif dan metastase SCC adalah sebagai berikut:
1. Tumor yang tumbuh diatas kulit normal atau denovo (30%)
2. Tumor didahului kelainan prakanker seperti radiodermatitis, sikatriks,
ulkus, sinus fistula (25%)
3. Penyakit Bowen, eritroplasia queyrat (20%)
4. Keratosit solaris (2%)
Tumor yang terletak di daerah bibir, anus, vulva, penis lebih cepat
mengadakan invasi dan bermetastasis dibandingkan dengan daerah lainnya.
Metastasis umumnya melalui saluran getah bening dengan perkiraan sekitar 0,1-
50 % dari semua kasus. Perbedaan metastasis bergantung pada diagnosis dini,
cara pengobatan dan pengawasan secara terapi (Feller et al., 2012).
Secara histologis, karsinoma sel skuamosa diklasifikasikan oleh WHO
menjadi:
1. Well differentiated (Grade I): yaitu proliferasi sel-sel tumor dimana sel-sel
keratin basaloid masih berdiferensiasi dengan baik membentuk keratin.
2. Moderate differentiated (Grade II): yaitu proliferasi sel-sel tumor dimana
sebagian sel-sel basaloid tersebut menunjukkan diferensiasi, membentuk
keratin.
3. Poorly differentiated (Grade III): yaitu proliferasi sel-sel tumor dimana
seluruh sel-sel basaloid tidak berdiferensiasi membentuk keratin, sehingga
sulit dikenali lagi.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan peri-operatif harus dilakukan terutama pada pasien dengan
rencana operasi, selain itu untuk mengetahui gambaran awal kondisi medis pasien,
pemeriksaan laboratorium yang diperiksa adalah (Christopher, 2015):

Darah rutin, elektrolit, Ureum dan Kreatinin (tujuannya adalah untuk
skrining anemia, infeksi gangguan elektrolit dan gangguan fungsi ginjal

Prothrombin time (PT), activated partial thromboplastin time (aPTT), and
international normalized ratio (INR) untuk menentukan ada atau tidanya
koagulopati

SGOT dan SGPT (untuk menilai adanya gangguan fungsi hati akibat
alkohol dan/atau metastasis ke hati).
 Pemeriksaan golongan darah dan cross-match (pemeriksaan ini
diindikasikan untuk pasien anemia atau pasien dengan rencana operasi).

Pemeriksaan Radiologi
 Foto Thorax AP dan lateral, untuk menilai adanya metastasis ke paru dan
melihat adanya penyakit paru kronis yang biasanya dijumpai pada pasien
kanker di rongga mulut.
 CT scan atau MRI dengan kontras, digunakan untuk mengetahui luas dan
kedalaman tumor serta ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening
regional, selain itu untuk menentukan sejauh mana invasi sel kanker ke
jaringan tulang dan sekitarnya.
 CT scan thorax dan positronemission tomography (PET), biasanya perlu
dilakukan jika dijumpai kelainan pada foto thorax (Christopher, 2015).

Pemeriksaan Histopatologi
 Biopsi insisi
Merupakan gold standar penegakan diagnosis SCC. Pada
pemeriksaan ini akan didapatkan tipe dari sel tumor dan juga menentukan
apakah sel tersebut ganas atau tidak. Biopsi biasanya juga dilakukan
intraoperatif untuk menentukan batas antara jaringan tumor dan jaringan
yang sehat (Christopher, 2015).
Pada SCC akan dijumpai gambaran histopatologi berupa epitel
atipikal tang menginfiltrasi membrana basalis dan dijumpai formasi
keratin sesuai dengan derajat diferensiasi (Christopher, 2015).
LO 4: Penatalaksanaan
Secara umum penatalaksanaan SCC pada mukosa mulut memerlukan
terapi multidisiplin. Tujuan utama terapi SCC adalah untuk mengeradikasi kanker,
mencegah rekurensi dan mengembalikan fungsi organ/bagian yang terkena.
Penetuan terapi yang akan digunakan ditentukan berdasarkan spesifikasi kanker
dan keadaan pasien. Yang diperhatikan pada spesfikasi kanker adalah organ yang
terkena, ukuran kanker, ada tidaknya invasi lokal, gambaran histopatologi, ada
tidaknya pembesaran KGB regional dan metastasis jauh. Adapun jenis-jenis
modalitas terapi untuk SCC pada bukkal adalah eksisi/reseksi, radioterapi,
systemic cytotoxic chemotherapy, dan blocking of epithelial growth factor
receptor (EGF-R) (Manuaba,2010).
Tindakan pembedahan dilakukan pada SCC oral yang kecil dan dapat
dijangkau. Pada SCC stadium lanjut terapi yang digunakan meliputi kombinasi
dari pembedahan, radioterapi dan kemoterapi. Pada SCC rekuren, blocking of
epithelial growth factor receptor (EGF-R) dan radio-kemoterapi merupakan
tatalaksana pilihan pertama (Feller et al., 2012).
Pada ekisisi SCC, harus dilakukan pengangkatan jaringan tumor lebih dari
5 mm dari jaringan tumor. Hal ini dilakukan untuk mencegah rekurensi.
Walaupun pada penelitian didapatkan bahwa reseksi dengan batas bebas tumor >
5 mm juga masih menimbulkan rekurensi pada 20-30% pasien. Penjelasan logis
dari keadaan ini adalah kemungkinan adanya sel kanker keratinosit yang masih
terdapat pada tepi eksisi yang tidak terdeteksi dengan pemeriksaan histopatologi
atau adanya sel keratinosit pre-cancer yang dapat berkembang menjadi SCC yang
tidak direseksi saat pembedahan (Feller et al., 2012).
Lin, CS et al. melaporkan adaya rekurensi regional pada pasien post
pembedahan sebesar 57%. Kesimpulan darip penelitian tersebut
merekomendasikan dilakukannya tindakan radioterapi pada pasien yang telah
dioperasi terutama pada pasien dengan T3 dan 4 atau N1 (Lin et al., 2006)
1. Christopher Klem, MD. Buccal Carcinoma. Medscape Refference. 2014.
Access date: October 2nd 2015 from:
http://emedicine.medscape.com/article/855235
2. Feller L, Lemmer J. Oral Squamous Cell Carcinoma: Epidemiology, Clinical
Presentation and Treatment. Journal of Cancer Therapy, 2012. (3). p263-268
3. Manuaba IB. Karsinoma Sel Skuamosa. Panduan Penatalaksaanan Kanker
Solid PERABOI 2010. Jakarta: Sagung Seto. 2010
4. Lin CS, Jen YM, Cheng MF. Squamous Cell Carcinoma of the Buccal
Mucosa : an Aggressive Cancer Requiring Multimodality Treatment. Wiley
InterScience. 2006: p150-57