Anda di halaman 1dari 2

BAB 4

DISKUSI

Seorang pasien laki-laki berusia 58 tahun, dirawat di RSUP Dr. M. Djamil Padang mulai
tanggal 19 April 2018 dengan keluhan utama penurunan kesadaran sejak 3 hari sebelum masuk
rumah sakit. Penurunan kesadaran dirasakan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit dan terjadi
secara perlahan-lahan. Tidak ada riwayat trauma kepala. Batuk sejak 1 minggu yang lalu, dahak
berwarna kekuningan. Tidak ada batuk berdarah. Mual, dan muntah disangkal oleh pasien.
Terjadi penurunan nafsu makan dan terjadi penurunan berat badan namun pasien tidak tau sejak
kapan terjadi penurunan tersebut. Perut membuncit sejak 1 bulan yang lalu. Sembab pada
tungkai sejak 2 minggu yang lalu. Pasien mengalami demam sejak 5 hari yang lalu, demam tidak
terlalu tinggi, menggigil dan berkeringat banyak tidak ada. BAK dan BAB tidak ada kelainan.

Pasien memiliki tidak memiliki riwayat diabetes melitus, hipertensi, jantung, keganasan dan
penyakit kuning. Tidak ada anngota keluarga pasien yang memiliki riwayat diabetes melitus,
hipertensi, jantung, keganasan dan penyakit kuning. Pasien seorang wiraswasta, tidak ada
riwayat minum alkohol, obat-obat terlarang serta riwayat transfusi darah.

Pada pemeriksaan fisik diperoleh keadaan umum sakit berat, nadi 70x/menit, nafas
18x/menit, tekanan darah 100/60 mmhg, suhu 37˚C, keadaan gizi sedang, ditemukan edem pada
kedua tungkai, serta ikterus pada kedua sklera pasien. Tidak ditemukan sianosis dan anemis pada
pasien. Pada pemeriksaan fisik didapatkan jantung dan paru dalam batas normal. abdomen
terlihat membuncit, hepar tidak teraba dan ditemukan adanya splenomegali sebesar S3, dan
shifting dullness positif.

Pada pemeriksaan abdomen, ditemukan distensi. Tes shifting dullness yang positif
menandakan adanya cairan bebas dalam rongga peritonium pasien yang disebut dengan asites.
Distensi diakibatkan oleh menumpuknya cairan asites dalam rongga abdomen pasien.
Penumpukan cairan ini diakibatkan oleh meningkatnya tekanan vena porta akibat dari perjalanan
sirosis yang diderita pasien sehingga mengganggu drainase cairan dalam rongga peritonium.
Penurunan kadar albumin akibat gangguan fungsi hati juga mengakibatkan penurunan tekanan
onkotik intravaskular, sehingga cairan plasma tidak terjaga dalam vaskuler dan mengisi rongga
abdomen. Bising usus yang sulit dinilai merupakan akibat dari adanya cairan asites yang
mengurangi hantaran bunyi usus. Edem tungkai juga diakibatkan oleh penurunan kadar albumin.
Pada kondisi sirosis hepatis, aliran darah pada vena porta mengalami obstruksi karena terjadi
fibrosis hati. Keadaan seperti ini menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik vena porta dan
vena splenik, sehingga menyebabkan pembesaran limpa.

Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya leukositosis (16.000), inverted albumin


globulin (3,1/4,1) dan hiperbilirubinemia (11,4), HbsAg (+), HbsAg reaktif dan anti HCV non
reaktif. Dari pemeriksaan laboratorium, ditemukan penurunan kadar albumin, peningkatan kadar
total bilirubin, bilirubin direk dan indirek, dan SGOT-SGPT. Penurunan kadar albumin dapat
bermanifestasi sebagai edem tungkai dan asites, yang ditemui pada pasien. Peningkatan bilirubin
bermanifestasi sebagai jaundice atau kekuningan yang ditemui pada pasien. Peningkatan kadar
SGOT-SGPT menandakan terganggunya faal hepar. Anti HCV yang non reaktif pada pasien,
dapat menjadi petunjuk bahwa pada pasien tidak terjadi suatu proses infeksi kronis pada hati.

Pasien didiagnosis dengan sirosis hepatis post nekrotik stadium dekompensata dengan
enchefalopati hepatikum grade II karena adanya kelainan fungsi otak dan penurunan fungsi hati
akibat adanya inflamasi kronik dari hati disertai dengan asites.

Tatalaksana pada pasien dengan sirosis hepatis yaitu pemberian cairan aminofusin triofusin
karena rendahnya kadar albumin pasien. Diberikan juga injeksi ceftriaxone 2 x 1 mg. (dua obat
lagi tidak terbaca sama aku) . Diet rendah garam ringan sampai sedang dianjurkan pada pasien
dengan asites karena dapat membantu diuresis. Konsumsi garam harian dibatasi 40-60 meq/hari.
Terapi parasentesis sempat ditinggalkan, namun akhir-akhir ini terapi parasentesis kembali
dilakukan karena memiliki banyak keuntungan jika dikerjakan dengan baik. Sebaiknya setiap
liter cairan asites yang dikeluarkan sebaiknya diikuti dengan substitusi albumin parenteral
sebanyak 6-8 gram. Namun parasintesis asites sebaiknya tidak dilakukan pada pasien sirosis
dengan Child-Pugh C, kecuali asites tersebut refrakter. Pemberian albumin 20% dianjurkan pada
pasien sirosis yang dilakukan parasentesis.