Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hepatitis telah menjadi masalah global, dimana dipengaruhi oleh pola
makan, kebisaaan merokok, gaya hidup tidak sehat, penggunaan obat-
obatan, bahkan tingkat ekonomi dan pendidikan menjadi beberapa penyebab
dari penyakit ini. Penyakit hepatitis merupakan suatu kelainan berupa
peradangan organ hati yang dapat disebabkan oleh banyak hal, antara lain
infeksi virus, gangguan metabolisme, obat-obatan, alkohol, maupun parasit.
Hepatitis juga merupakan salah satu penyakit yang mendapatkan perhatian
serius di Indonesia, terlebih dengan jumlah penduduk yang besar serta
kompleksitas yang terkait. Selain itu meningkatnya kasus obesitas, diabetes
melitus, dan hiperlipidemia, membawa konsekuensi bagi komplikasi hati,
salah satunya hepatitis. Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh
virus disertai nekrosis dan klinis, biokimia serta seluler yang khas. Hepatitis
telah menjadi masalah global. Saat ini diperkirakan 400 juta orang di dunia
terinfeksi penyakit hepatitis B kronis, bahkan sekitar 1 juta orang meninggal
setiap tahun karena penyakit tersebut. Hepatitis menjadi masalah penting di
Indonesia yang merupakan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia.
Hepatitis B termasuk pembunuh diam-diam karena banyak orang yang
tidak tahu dirinya terinfeksi sehingga terlambat ditangani dan terinfeksi
seumur hidup. Kebanyakan kasus infeksi hepatitis B bisa sembuh dalam
waktu enam bulan, tetapi sekitar 10 persen infeksi bisa berkembang menjadi
infeksi kronis. Infeksi kronis pada hati bisa menyebabkan terjadinya
pembentukan jaringan ikat pada hati sehingga hati berbenjol-benjol dan
fungsi hati terganggu dan dalam jangka panjang penderitanya bisa terkena
sirosis serta kanker hati.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2007), prevalensi nasional
hepatitis klinis sebesar 0,6 persen. Sebanyak 13 provinsi di Indonesia
memiliki prevalensi di atas nasional. Kasus penderita hepatitis tertinggi di

1
provinsi Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Penyakit
hepatitis kronik menduduki urutan kedua berdasarkan penyebab kematian
pada golongan semua umur dari kelompok penyakit menular. “Rata-rata
penderita hepatitis antara umur 15-44 tahun untuk di pedesaan. Penyakit hati
ini menduduki urutan pertama sebagai penyebab kematian. Sedangkan di
daerah perkotaan menduduki urutan ketiga,” kata Menteri Kesehatan
Endang Rahayu Sedyaningsih dalam peringatan di RS Dr Sardjito
Yogyakarta. Indonesia telah mengusulkan kepada WHO agar hepatitis
menjadi isu dunia dengan menetapkannya sebagai resolusi World Health
Assembly (WHA) tentang viral hepatitis. Usulan tersebut diterima WHO
untuk dibahas dalam sidang WHA atau majelis kesehatan sedunia ke-63
pada bulan Mei 2010 yang menetapkan tanggal 28 Juli sebagai hari hepatitis
sedunia.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan Umum dalam pembuatan makalah ini, yaitu:
1.2.1 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang Hepatitis.
Tujuan Khusus dalam pembuatan makalah ini, yaitu:
1.2.2 Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang Definisi
Hepatitis.
1.2.3 Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang Manifestasi
Klinis Hepatitis.
1.2.4 Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang Patofisiologi
Hepatitis.
1.2.5 Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang Komplikasi
Hepatitis.
1.2.6 Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang
Penatalaksanaan Hepatitis.
1.2.7 Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang Asuhan
Keperawatan Hepatitis.

2
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi Hepatitis


Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis
dan inflamasi pada sel sel hati yang menghasilkan kumpulan perubahan
klinis, biokimia serta selular yang khas. Hepatitis adalah proses terjadinya
inflamasi atau nekrosis jaringan hati yang dapat disebabkan oleh infeksi,
obat-obatan, toksin, gangguan metabolik, maupun kelainan autoimun.
Hepatitis virus merupakan infeksi hati yang sering terjadi yang dapat
mengakibatkan destruksi, nekrosis, serta autolisi sel hati. Hepatitis adalah
peradangan pada hati (liver) yang disebabkan oleh virus. Virus hepatitis
termasuk virus hepatotropik yang dapat mengakibatkan hepatitis A (HAV),
hepatitis B (HBV), hepatitis C (HCV), hepatitis D (HDV), hepatitis E
(HEV), hepatitis F dan hepatitis G. Hepatitis dibagi menjadi tiga tahapan,
yaitu:
1) Hepatitis akut adalah Infeksi virus sistemik yang berlangsung selama <
6 bulan.
2) Hepatitis kronis adalah gangguan-gangguan yang terjadi > 6 bulan dan
kelanjutan dari hepatitis akut.
3) Hepatitis fulminan adalah perkembangan mulai dari timbulnya hepatitis
hingga kegagalan hati dalam waktu kurang dari 4 minggu, oleh karena
itu hepatitis ini hanya terjadi pada bentuk akut.
Dibawah ini, adalah perbandingan berbagai macam penyakit hepatitis, yaitu:
Tipe Virus Cara Masa Diagnosis
Penularan Tunas Akut Kronik
(Minggu)
A RNA Enteral 2-6 Anti HAV- Tidak ada
Ig M
E RNA Enteral 2-9 Anti HEV- Tidak ada

3
Ig M
B DNA Parenteral 4 - 25 HbsAg, Sama
HBV- dengan
DNA, Anti akut
HBc-Ig M
C RNA Parenteral 2 - 20 HCV RNA Sama
dengan
akut
D RNA Parenteral 2-6 Anti D-Ig Sama
M dengan
akut
Keterangan: Enteral = melalui jalan cerna.
Parenteral = tidak melalui jalan cerna.
2.2 Manifestasi Klinis Hepatitis
Stadium prodromal, yaitu:
1) Keluhan mudah lelah dan tidak enak badan yang menyeluruh akibat
efek sistemik inflamasi hati.
2) Anoreksia dan sedikit penurunan berat badan akibat efek sistemik
inflamasi hati.
3)
4) Atralgia dan mialgia akibat efek sistemik inflamasi hati.
5) Mual dan muntah akibat efek inflamasi hati pada GI.
6) Perubahan pada indera pengecap dan pembau yang berhubungan
dengan inflamasi hati.
7) Demam yang terjadi sekunder karena proses inflamasi.
8) Nyeri pada abdomen kuadran kanan atas akibat inflamasi hati dan iritasi
serabut saraf didaerah tersebut.
9) Urine berwarna gelap akibat urobilinogen.
10) Feses berwarna seperti dempul akibat penurunan sekresi empedu
kedalam traktus GI.
Stadium klinis, yaitu:

4
1) Semua gejala pada stadium prodromal yang semakin parah.
2) Keluhan gatal-gatal akibat peningkatan kadar bilirubin dalam darah.
3) Nyeri abdomen atau nyeri tekan pada abdomen akibat inflamasi hati
yang berlanjut.
4) Gejala ikterus akibat kenaikan kadar bilirubin didalam darah.
5) Stadium pemulihan: keluhan dan gejala yang dalami pasien mereda dan
selera makannya kembali pulih.
2.3 Patofisiologi Hepatitis
Kerusakan hati yang terjadi biasanya serupa pada semua tipe hepatitis
virus. Cedera dan nekrosis sel hati ditemukan dengan berbagai derajat.
Ketika memasuki tubuh, virus hepatitis meyebabkan cedera dan kematian
hepatosit yang bias dengan cara membunuh langsung sel hati atau dengan
cara mengaktifkan reaksi imun serta inflamasi. Reaksi imun serta inflamasi
ini selanjutnya akan mencederai atau menghancurkan hepatosit dengan
menimbulkan lisis pada sel-sel yang terinfeksi atau yang berada
disekitarnya. Kemudian, serangan anti bodi langsung pada antigen virus
menyebabkan destruksi lebih lanjut sel-sel hati yang terinfeksi. Edema dan
pembengkakan interstisium menimbulkan kolaps kapiler serta penurunan
aliran darah, hipoksia jaringan, dan pembentukan parut serta fibrosis.

5
2.4 Komplikasi Hepatitis
Komplikasi hepatitis yang paling sering adalah sirosis. Dalam keadaan
normal (sehat), sel hati yang mengalami kerusakan akan digantikan oleh sel-
sel sehat yang baru. Pada sirosis, kerusakan sel hati diganti oleh jaringan
parut (sikatrik). Semakin parah kerusakan, semakin besar jaringan parut
yang terbentuk dan semakin berkurang jumlah sel hati yang sehat.
Pengurangan ini akan berdampak pada penurunan sejumlah fungsi hati
sehingga menimbulkan sejumlah gangguan pada fungsi tubuh secara
keseluruhan. Tidak semua pasien dengan hepatitis virus akan mengalami
perjalanan penyakit yang lengkap. Sejumlah kecil pasien (kurang dari 1%)
memperlihatkan kemunduran klinis yang cepat akibat hepatitis fulminan dan
nekrosis hati masif. Dibawah ini adalah contoh macam-macam hepatitis,
yaitu:
1) Hepatitis fulminan, yaitu dapat dicirikan oleh tanda dan gejala gagal
hati akut, penciutan hati, kadar bilirubin serum meningkat cepat, serta
pemanjangan waktu protrombin yang sangat nyata dan koma hepatik.
2) Hepatitis kronik persisten, yaitu komplikasi hepatitis virus yang paling
sering dijumpai di mana perjalanan penyakit memanjang hingga 4-8
bulan, namun pasien akan sembuh kembali.
3) Hepatitis virus akut, yaitu pasien mengalami kekambuhan setelah
serangan awal yang bisaanya dihubungkan dengan minum alkohol atau
aktivitas fisik yang berlebihan.
4) Hepatitis agresif atau kronik aktif, yaitu dimana terjadi kerusakan hati
seperti digerogoti (piecemeal) dan perkembangan sirosis.
5) Karsinoma hepatoseluler, yaitu merupakan komplikasi lanjut hepatitis
yang cukup bermakna yang disebabkan oleh dua faktor yang berkaitan
dengan patogenesisnya, yaitu infeksi HBV kronik dan sirosis terkait.
2.5 Penatalaksanaan Hepatitis
Contoh Penatalaksanaan Medis, yaitu:
1) Penderita yang menunjukkan keluhan berat harus istirahat penuh selama
1-2 bulan.

6
2) Diet harus mengandung cukup kalori dan mudah dicerna.
3) Pada umumnya tidak perlu diberikan obat-obatan, karena sebagian
besar obat akan di metabolisme di hati dan meningkatkan SGPT.
4) Wanita hamil yang menderita hepatitis perlu segera di rujuk ke rumah
sakit.
5) Pemeriksaan enzim SGPT dan gamma-GT perlu dilakukan untuk
memantau keadaan penderita. Bila hasil pemeriksaan enzim tetap tinggi
maka penderita dirujuk untuk menentukan apakah perjalanan penyakit
mengarah ke hepatitis kronik.
6) Hepatitis b dapat dicegah dengan vaksin. Pencegahan ini hanya
dianjurkan bagi orang-orang yang mengandung risiko terinfeksi.
7) Pada saat ini belum ada obat yang dapat memperbaiki kerusakan sel
hati.
Contoh Penatalaksanaan Keperawatan, yaitu:
1) Rawat jalan, kecuali pasien dengan mual atau anoreksia berat yang akan
menyebabkan dehidrasi.
2) Aktivitas fisik yang berlebihan dan berkepanjangan harus dihindari.
3) Pembatasan aktivitas sehari-hari tergantung dari derajat kelelahan dan
malaise.
4) Beristirahat: Pasien yang sangat keletihan membutuhkan sering istirahat
dan membuat interval sering istirahat.
5) Nutrisi yang adekuat (prioritas utama): Anjurkan untuk diet karbohidrat
tinggi untuk mensuplai kalori yang cukup. Pemberian makanan melalui
IV hanya diperlukan apabila pemasukan peroral terbatas karena mual
dan muntah.
6) Mencegah terjadinya stress lebih lanjut pada hepar dengan menghindari
bahan-bahan dan obat-obat hepatotoksik.

7
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Asuhan Keperawatan Hepatitis


1. Pengkajian
1) Aktivitas/istirahat: Klien mengalami kelemahan, kelelahan, dan malaise
umum.
2) Sirkulasi: Klien mengalami bradikardi (hiperbilirubinemia berat),
ikterik pada sklera, kulit, dan membran mukosa.
3) Eliminasi: Urin gelap, diare/konstipasi; feses warna tanah liat,
adanya/berulang hemodialisis.
4) Makanan/cairan: Klien mengalami hilang nafsu makan (anoreksia),
penurunan berat badan atau meningkat (edema), mual/muntah dan
ansietas.
5) Neurosensori: Klien peka rangsang, cenderung tidur, dan letergis.
6) Nyeri/kenyamanan: Klien mengeluh kram abdomen, nyeri tekan pada
kuadran kanan atas, mialgia, atralgia, sakit kepala, gatal (pruritus), otot
tegang dan gelisah.
7) Keamanan: Adanya transfusi darah, demam, urtikaria, lesi
makulopapular, eritema tak beraturan, eksaserbasi jerawat, angioma
jaring-jaring, eritema palmar, ginekomastia (kadang-kadang ada pada
hepatitis alkoholik), splenomegali, dan pembesaran nodus servikal
posterior.
8) Seksualitas: Pola hidup/perilaku meningkat risiko terpajan.
9) Penyuluhan/pembelajaran: Riwayat diketahui/ mungkin terpajan oleh
virus, bakteri atau toksin, adanya prosedur bedah, terpajan pada kimia
toksik, obat resep. Obat jalanan (IV) atau penggunaan alkohol.
Diabetes, GJK, atau penyakit ginjal adanya infeksi pernapasan atas.
2. Diagnosa Keperawatan

8
1) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tidak adekuatnya masukan
nutrisi sekunder terhadap hepatitis, malaise umum, dan pembatasan
aktivitas.
2) Risiko tinggi terhadap gangguan integritas kulit berhubungan dengan
gatal sekunder terhadap akumulasi garam empedu pada jaringan.
3) Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan
intake yang tidak adekuat (diare dan muntah sekunder terhadap
hepatitis).
4) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak
adekuat, dan depresi imun, dan malnutrisi.
5) Perubahan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, mual/muntah, gangguan absorbsi dan metabolisme.
6) Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kondisi,
prognosis dan penatalaksanaan penyakitnya.
3. Intervensi
1) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tidak adekuatnya masukan
nutrisi sekunder terhadap hepatitis, malaise umum, dan pembatasan
aktivitas.
Tujuan: Nutrisi dapat terpenuhi.
Kriteria Hasil:
1) Menunjukkan teknik/perilaku yang memampukan kembali melakukan
aktivitas.
2) Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas.
Intervensi Rasional
Ubah posisi dengan sering, Meningkatkan fungsi pernapasan dan
berikan perawatan kulit yang baik. meminimalkan tekanan pada daerah
tertentu untuk menurunkan risiko
kerusakan jaringan.
Lakukan tugas dengan cepat dan Memungkinkan periode tambahan
sesuai toleransi. istirahat tanpa gangguan.

9
Tingkatkan aktivitas sesuai Tirah baring lama dapat menurunkan
toleransi, bantu melakukan latihan kemampuan. Ini dapat terjadi karena
rentang gerak sendi/pasif/aktif. keterbatasan aktivitas yang
mengganggu periode istirahat.
Dorong penggunaan teknik Meningkatkan relaksasi dan
manajemen stress, contoh: penghematan energi, memusatkan
relaksasi progresif, bimbingan kembali perhatian, dan dapat
imajinasi. Berikan aktivitas meningkatkan koping.
hiburan yang tepat, contoh:
menonton tv, mendengarkan radio,
membaca.
Awasi terulangnya anoreksia dan Menunjukkan kurangnya
nyeri tekan pembesaran hati. resolusi/eksaserbasi penyakit,
memerlukan istirahat lanjut, mengganti
program terapi.
Awasi kadar enzim hati Membantu menentukan kadar aktivitas
tepat, sebagai peningkatan prematur
pada potensial risiko berulang.

2) Risiko tinggi terhadap gangguan integritas kulit berhubungan dengan


gatal sekunder terhadap akumulasi garam empedu pada jaringan.
Tujuan: tidak terjadi kerusakan integritas kulit.
Kriteria Hasil:
1) Menunjukkan jaringan/kulit utuh bebas ekskoriasi.
2) Melaporkan tidak ada lecet/penurunan pruritus.
Intervensi Rasional
Gunakan air mandi dingin dan Mencegah kulit kering berlebihan,
soda kue atau mandi kanji, memberikan penghilangan gatal.
berikan minyak kalamin sesuai
indikasi.
Anjurkan menggunakan kuku- Menurunkan potensial cedera kulit.

10
kuku jari untuk menggaruk bila
tidak terkontrol.
Berikan masase pada waktu tidur. Bermanfaat dalam meningkatkan tidur
dengan menurunkan iritasi kulit.
Hindari komentar tentang Meminimalkan stress psikologis
penampilan pasien. sehubungan dengan perubahan kulit.

3) Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan


intake yang tidak adekuat (diare dan muntah sekunder terhadap
hepatitis).
Tujuan: volume cairan dapat terpenuhi.
Kriteria Hasil:
1) Tanda vital stabil.
2) Mukosa lembab.
3) Turgor kulit baik.
4) Pengeluaran urine sesuai.
5) Klien kooperatif.
Intervensi Rasional
Monitor intake dan output dan Memberikan informasi tentang kebutuhan
bandingkan dengan BB harian. pengganti.
Kaji tanda-tanda vital, nadi Memberikan informasi untuk derajat
perifer, pengisian kapiler, turgor kekurangan cairan dan membantu
kulit dan membrane mukosa. menentukan kebutuhan nutrisi.
Periksa apakah ada Mengetahui kemungkinan pendarahan ke
arsitex/udem, ukur lingkar dalam jaringan.
perut.
Biarkan klien menggunakan Menghindari trauma dan pendarahan
spon dan pembersih mulut gusi.
untuk sikap gigi.
Anjurkan klien untuk banyak Untuk membantu/menghindari
minum kurang lebih 8 gelas kekurangan cairan.

11
sehari.
Observasi tanda pendarahan Kadar protrombin menurun dan waktu
seperti hematuna, melena, koagulasi memanjang.
ekimosis, pendarahan terus
menerus dari gusi/bekas injeksi.

4) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak


adekuat, depresi imun, dan malnutrisi.
Tujuan: infeksi tidak terjadi.
Kriteria Hasil:
1) Klien mengetahui tentang penyebab/faktor risiko infeksi.
2) Klien menunjukkan perubahan PL mengindari infeksi.
Intervensi Rasional
Isolasi untuk klien infeksi interik Mencegah transmisi penyakit virus ke
sesuai dengan kebijakan rumah orang lain.
sakit.
Cuci tangan sebelum dan sesudah Mencegah transmisi penyakit virus ke
tindakan. orang lain.
Awasi/batasi pengunjung sesuai Klien dapat terpapar terhadap proses
indikasi. infeksi.
Jelaskan prosedur isolasi pada Untuk melindungi diri dari oranglain,
klien/orang terdekat. isolasi dapat berakhir 2-3 minggu dari
timbulnya penyakit, tergantung lamanya
gejala dan tipe.

5) Perubahan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


anoreksia, mual/muntah, gangguan absorbsi dan metabolisme.
Tujuan: nutrisi klien terpenuhi secara adekuat.
Kriteria Hasil:
1) Menunjukkan perilaku terhadap perubahan pola hidup bertujuan untuk
meningkatkan/mempertahankan berat badan yang sesuai.

12
2) Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai
laboratorium normal dan bebas tanda malnutrisi.
Intervensi Rasional
Awasi pemasukan diet/jumlah Makan banyak sulit untuk mengatur bila
kalori, berikan makan sedikit pasien anoreksia. Anoreksia juga paling
dalam frekuensi sering dan buruk selama siang hari, membuat
tawarkan makan pagi paling masukan makanan yang sulit pada sore
besar. hari.
Berikan perawatan mulut Menghilangkan rasa tak enak dapat
sebelum makan. meningkatkan nafsu makan.
Anjurkan makan pada posisi Menurunkan rasa penuh pada abdomen
duduk tegak. dan dapat meningkatkan pemasukan.
Dorong pemasukan sari jeruk, Bahan ini merupakan ekstra kalori dan
minuman karbonat dan permen dapat lebih mudah dicerna/toleran bila
berat sepanjang hari. makanan lain tidak.
Berikan obat sesuai indikasi. Memperbaiki kekurangan dan membantu
Contoh nya vitamin: B kompleks, proses penyembuhan.
C, tambahan diet lain sesuai
indikasi dengan azatioprin.
Berikan tambahan Mungkin perlu untuk memenuhi
makanan/nutrisi dan dukungan kebutuhan kalori bila tanda kekurangan
total bila dibutuhkan. terjadi/gejala memanjang.

6) Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan orang tua tentang


kondisi, prognosis dan penatalaksanaan penyakitnya.
Tujuan: pengetahuan orang tua bertambah.
Kriteria Hasil:
1) Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan.
2) Mengidentifikasi hubungan tanda/gejala penyakit dan hubungan gejala
dengan faktor penyebab.
3) Melakukan perubahan perilaku dan berpartisipasi pada pengobatan.

13
Intervensi Rasional
Kaji tingkat pemahaman proses Mengidentifikasi area kekurangan
penyakit, harapan/prognosis, pengetahuan/salah informasi dan
kemungkinan pilihan memberikan kesempatan untuk informasi
pengobatan. dan memberikan kesempatan untuk
informasi tambahan sesuai keperluan.
Berikan informasi khusus Kebutuhan/rekomendasi akan bervariasi
tentang pencegahan/penularan karena tipe hepatitis (agen penyebab) dan
penyakit. situasi individu.
Dorong kesinambungan diet Meningkatkan kesehatan umum dan
seimbang klien. meningkatkan proses
penyembuhan/regenerasi jaringan.
Identifikasi cara untuk Penurunan tingkat aktivitas, perubahan
mempertahankan fungsi usus pada pemasukan makanan/cairan dan
masanya. Contoh: masukan motilitas usus dapat mengakibatkan
cairan adekuat/diet, serat, konstipasi.
aktivitas/latihan sedang sesuai
toleransi.

14
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Hepatitis adalah peradangan pada hati (liver) yang disebabkan oleh
virus. Virus hepatitis termasuk virus hepatotropik yang dapat
mengakibatkan hepatitis A (HAV), hepatitis B (HBV), hepatitis C (HCV),
hepatitis D (HDV), hepatitis E (HEV), hepatitis F dan hepatitis G.
Semua hepatitis virus mempunyai gejala yang hampir sama, sehingga
secara klinis hampir tidak mungkin dibedakan satu sama lain. Pencegahan
terhadap hepatitis virus ini adalah sangat penting karena sampai saat ini
belum ada obat yang dapat membunuh virus, sehingga satu-satunya jalan
untuk mencegah hepatitis virus adalah dengan vaksinasi.
4.2 Saran
Adapun yang menjadi saran penulis kepada teman-teman mahasiswa
agar dapat memahami materi dalam penulisan makalah ini serta dapat
mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, karena mengingat
betapa pentingnya mempelajari penyakit hepatitis.
Kepada teman-teman penderita hepatitis sebaiknya memperhatikan pola
makan yang sehat, menghindari mengkonsumsi minuman keras, serta
menjaga sanitasi lingkungan sekitar. Dan untuk para teman-teman sebagai
calon perawat agar menghindari adanya kontak langsung dengan alat medis
dalam pengobatan pasien hepatitis disaat turun dinas nanti, serta untuk
selalu memperhatikan kesterilan alat-alat yang akan digunakan saat praktik.

15
DAFTAR PUSTAKA

Mohammad Juffrie, dkk. 2011. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi. Jakarta:


Perpustakaan Nasional.

Nurarif. H, dkk. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis dan Nanda Nic-Noc, Edisi Revisi Jilid 2. Yogyakarta: Mediaction Jogja.

Suratun & Lusianah. 2010. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem


Gastrointestinal. Jakarta: Perpustakaan Nasional.

16