Anda di halaman 1dari 65

1

BAB I

PENDAHULUAN

Ternak unggas merupakan kelompok burung dengan memiliki tujuan

pemeliharaan yang berbeda sehingga memberikan keuntungan ekonomis bagi

manusia. Beberapa unggas yang dapat memberikan keuntungan ekonomis

diantaranya ayam, itik, angsa dan kalkun. Ternak unggas menurut tipenya

dibedakan menjadi unggas air dan unggas darat. Menurut tujuan pemeliharaan

unggas dapat dibedakan menjadi tipe petelur, tipe pedaging, tipe dwiguna dan tipe

fancy. Pengenalan anatomi dan fisiologi pada unggas dilakukan untuk mengetahui

ciri dan fungsi organ, serta untuk mengidentifikasi penyakit pada unggas. Ransum

merupakan campuran dari beberapa bahan pakan yang diberikan kepada ternak

untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pakan yang seimbang dan tepat selama 24 jam.

Penyusunan ransum pada ternak unggas sangat dibutuhkan untuk menyesuaikan

kandungan nutrisi pada ransum dengan kebutuhan nutrisi ternak sehingga dapat

memenuhi kebutuhan ternak.

Tujuan dari praktikum untuk mengetahui perbedaan anatomi dan fisiologis

antara ternak unggas darat dengan unggas air, mengenali dan mengidentifikasi

beberapa jenis penyakit pada unggas, dan mengetahui cara penyusunan ransum

unggas. Manfaat dari praktikum adalah dapat mengetahui perbedaan anatomi dan

fisiologis antara ternak unggas darat dengan unggas air, dapat mengenali dan

mengidentifikasi beberapa jenis penyakit pada unggas, dan dapat mengetahui cara

penyusunan ransum unggas.


2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengenalan Jenis dan Klasifikasi Ternak Unggas

Ternak unggas merupakan spesies ternak yang memiliki sayap yang

sengaja dipelihara manusia untuk diambil produknya dan bernilai ekonomis

(Suharno dan Amri, 2010). Spesies unggas yang secara umum telah dipelihara dan

dimanfaatkan oleh manusia yaitu ayam (Gallus domesticus), itik (Anas

platthyrynchos), angsa (Anser anser), kalkun (Meliagris galapavo), puyuh

(Coturnix coturnix) dan merpati (Colomba livia). Masing-masing jenis unggas

memiliki karakteristik yang berbeda (Rahayu et al., 2011).

2.1.1. Klasifikasi ternak unggas

Ternak unggas dapat dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu unggas darat

dan unggas air. Unggas darat dan unggas air memiliki beberapa perbedaan

karakteristik yaitu pada bentuk paruh, selaput pada kaki, bulu dan bentuk pakan

yang dikonsumsi (Suharno dan Amri, 2010). Unggas darat yang umum dipelihara

dan dikembangkan oleh masyarakat yaitu ayam dan puyuh. Jenis unggas air yang

umum dipelihara oleh peternak yaitu itik dan angsa. Kelas ayam menurut buku

The American Standard of Perfection, terdapat 11 kelas ayam, tetapi yang

dianggap penting diketahui hanya 4 kelas, yaitu kelas Inggris, kelas Amerika,

kelas Asia dan kelas Mediterania (Rahayu et al., 2011). Unggas air memiliki ciri

yang dapat membedakan dengan unggas darat yaitu pada bulunya yang dilapisi
3

cairan minyak sehingga tidak basah atau kedinginan saat berada dalam air dan

juga memiliki selaput kaki yang berguna untuk berenang (Wahid, 2013).

Ayam kelas Inggris, merupakan tipe pedaging yang memiliki ciri-ciri badan

berbentuk padat kompak dan berdaging penuh, kaki tidak berbulu, cuping telinga

berwarna merah dan kulit berwarna putih kecuali pada bangsa ayam Cornish dan

berwarna kuning, dan kulit telur berwarna cokelat (Tamalludin, 2014). Bangsa

ayam yang termasuk kelas Inggris yaitu Orpington, Cornish, Australorp, Sussex

dan Dorking (Santoso dan Sudaryani, 2015).

Ayam kelas Amerika, ayam yang dikembangkan di Amerika dan termasuk

sebagai ayam tipe dwiguna yang memiliki ciri-ciri bentuk tubuh sedang, warna

kulit kuning, cakar tidak berbulu, cuping dan jengger berwarna merah dan kulit

telur berwarna cokelat kecuali pada bangsa Lamonas (Tamalludin, 2014). Bangsa-

bangsa ayam yang termasuk dalam kelas ini adalah Playmouth Rock Rhode Island

Red (RIR), Wyandotte, New Hampshire, Lamonas, Jersey, Yavas dan Chantecler

(Santoso dan Sudaryani, 2015).

Ayam kelas Mediterania, ayam kelas mediterania memiliki karakteristik berbulu

mengembang, cuping berwarna putih, bentuk tubuh ramping dan kulit telur

berwarna putih atau cokelat (Susilorini et al., 2008). Ayam kelas Mediterania

memiliki ciri-ciri umum ukuran tubuh relatif kecil, cuping berwarna putih, kaki

tidak berbulu, kulit telur berwarna putih dan kulit berwarna putih kecuali pada

banga ayam Leghorn dan Ancona (Rahayu et al., 2011).

Ayam kelas Asia, bangsa ayam yang termasuk kelas Asia yaitu Brahma,

Langhan dan Cochins (Suprijatna et al., 2008). Merupakan tipe pedaging


4

memiliki ciri-ciri umum yaitu ukuran tubuh yang relatif besar, memiliki bulu pada

kaki, cuping berwarna merah, kulit telur berwarna cokelat dan kulit berwarna

kuning kecuali pada ayam langshan (Rahayu et al., 2011).

2.1.2. Unggas darat

Unggas darat memiliki paruh besar, kuat, beralur dari lubang hidung ke

arah muka, serta jari kaki panjang, kecil, kuat, susunan jarinya berbentuk mekar

(Rahayu et al., 2011). Unggas yang termasuk ke dalam unggas darat yang paling

popular yaitu ayam (Villa et al., 2014).

Ayam, karakteristik ayam jantan maupun betina hampir sama. Ayam jantan

berbadan lebih besar, padat dan tinggi serta kakinya lebih besar dan kuat

dibandingkan ayam betina. Jengger ayam jantan terlihat dengan jelas karena

bentuknya besar dan tebal, sedangkan pada ayam betina jenggernya relatif kecil

(Kholis dan Sitanggang, 2008). Ayam memiliki bentuk paruh yang lancip dan

warnanya kuning, warna jengger merah, kaki berwarna kuning serta ayam jantan

memiliki bulu yang indah sebagai daya tarik untuk menarik lawan jenisnya

(Rasyaf, 2008).

Puyuh, juga termasuk salah satu unggas darat yang memiliki ciri khas yaitu

warna bulunya yang terlihat jelas pada bagian leher dan dada puyuh betina

warnanya lebih terang serta terdapat totol-totol coklat tua sedangkan puyuh jantan

dadanya berwarna coklat muda (Dewansyah, 2010). Puyuh jantan dan betina bisa

dibedakan dari anus puyuh dimana pada jantan terdapat tonjolan berwarna merah
5

di atasnya yang jika ditekan akan mengeluarkan busa berwarna putih yang tidak

terdapat pada puyuh betina (Tumbilung et al., 2014).

2.1.3. Unggas air

Unggas air merupakan bangsa unggas yang dapat hidup di air. Ternak

yang termasuk unggas air yaitu itik dan angsa. Unggas air memiliki karakteristik

meliputi bentuk paruh pipih yang didalamnya terdapat penyaring pakan atau filter,

kaki berselaput dan bulu dilapisi cairan minyak (Suprijatna et al., 2008). Unggas

air memiliki bentuk paruh yang pipih dan di dalamnya terdapat filter atau

penyaring pakan karena habitatnya di air dan pakannya yang lembek/cairan

(Suharno dan Amri, 2010). Keistimewaan unggas air yaitu kakinya memiliki

selaput dan bulu dilapisi cairan minyak sehingga dapat berenang di air dan

bulunya tidak basah (Wahid, 2013).

2.1.4. Perbedaan unggas darat dan air

Unggas air (itik) memiliki ciri khas yang dapat membedakan dengan

unggas lain yaitu memiliki bulu yang berminyak sehingga itik tidak basah atau

kedinginan saat berada dalam air (Suharno dan Amri, 2010). Perbedaan antara

unggas darat dan unggas air yaitu unggas darat (ayam) memiliki paruh yang

berbentuk runcing serta memiliki taji atau jalu pada kakinya (Rasyaf, 2011).

Unggas air memiliki paruh yang tumpul dan dilapisi oleh selaput halus yang

sensitif serta mempunyai kaki yang pendek dan diantara jari-jari kaki

dihubungkan dengan selaput yang berfungsi untuk berenang di dalam air serta
6

memiliki tembolok yang bentuknya berbeda dengan tembolok pada unggas darat

(Suharno dan Setiawan, 2012).

2.2. Anatomi dan Identifikasi Penyakit Ternak Unggas

Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa ayam betina afkir

yang diamati tidak memiliki kelainan dilihat dari eksterior dan interior saat

dibedah. Ayam sehat memiliki gerakan yang aktif, lincah, pertumbuhan normal,

ayam berdiri tegak, memiliki nafsu makan dan minum baik serta bulu yang

kelihatan mengkilap (Aryanti et al., 2013). Nafsu makan dapat dijadikan sebagai

indicator ayam sehat. Unggas yang sehat pada umumnya memiliki nafsu makan

yang baik. Terlihat dari bagian tubuh luarnya, ayam sakit bulunya terlihat kotor,

lesu dan malas bergerak. Ayam yang sehat memiliki nafsu makan yang baik. Jika

ayam sakit biasanya tidak mau makan ransum (Ariyanto et al., 2013)

2.2.1. Sistem pencernaan unggas

Alat pencernaan ayam terbagi menjadi saluran pencernaan dan organ

aksesoris. Saluran pencernaan adalah organ yang menghubungkan bagian.

Saluran pencernaan tersusun dari: paruh, esophagus, tembolok, proventrikulus,

ventrikulus, usus halus, seka, usus besar dan kloaka, sedangkan organ aksesori

terdiri dari hati dan pankreas (Suprijatna et al., 2008). Organ pencernaan utama

ayam terdiri dari: paruh, esophagus, tembolok, proventrikulus, ventrikulus, usus

halus, usus buntu, usus besar dan kloaka, sedangkan organ pencernaan tambahan

terdiri dari hati, geta empedu dan pankreas (Yuwanta, 2008).


7

Paruh, merupakan bagian dari organ pencernaan unggas yang memiliki lidah dan

tidak memiliki gigi. Paruh memiliki rahang atas dan bawah yang keras untuk

menutup mulut dan mengambil makanan. Paruh pada unggas terletak pada daerah

sekitar kepala. Paruh bagian dalam terdapat lidah yang memiliki fungsi untuk

menghasilkan saliva yang mengandung maltase dan amilase (Yuwanta, 2008).

Unggas memiliki paruh yang berbeda beda tergantung dari jenis makanannya.

Unggas darat memilik paruh yang kebanyakan runcing, sedangkan pada unggas

air memiliki pentuk paruh yang pipih (Rasyaf, 2008).

Esofagus, saluran pencernaan yang bertekstur lunak dan elastis dengan fungsi

sebagai saluran untuk lewatnya makanan. Organ ini dapat menghasilkan mukosa

untuk melicinkan pakan agar memudahkan unggas untuk menelan makanan

(Yuwanta, 2008). Esofagus terletak pada bagian belakang mulut hingga ke

proventrikulus (Suprijatna et al., 2008).

Tembolok, sebuah saluran modifikasi dari esofagus yang sangat elastis dan

terletak di bawah esophagus, berfungsi sebagai penyimpan makanan sementara

saat unggas makan dalam jumlah yang banyak (Yuwanta, 2008). Tembolok

mempunyai saraf yang berguna untuk penanda saat lapar dan kenyang. Didalam

tembolok jarang terjadi pencernaan bahkan tidak terdapat proses pencernaan

selain pencampuran saliva dengan pakan (Suprijatna et al., 2008).

Proventrikulus, organ pencernaan yang terletak setelah tembolok dan disebut

juga sebagai perut kelenjar yang bertugas untuk mencerna lemak dan protein.

Pada proventrikulus pakan akan mudah masuk ke empedal sehingga pakan tidak

tercerna secara sempurna (Yuwanta, 2008). Proventrikulus mempunyai dua


8

kelenjar yang membantu proventrikulus yaitu kelenjar gastrik dan kelenjar tubular

(Murwani, 2010).

Ventrikulus, organ pencernaan yang terletak setelah proventrikulus dan juga

merupakan perpanjangan dari proventrikulus yang disebut juga sebagai perut

muscular, berfungsi untuk memecah pakan (Yuwanta, 2008). Ventrikulus tersusun

atas otot otot yang kuat untuk membantu mencerna makanan (Murwani, 2010).

Hati, bagian dari organ tambahan yang berperan untuk mensekresi getah empedu

dan menetralkan asam lambung, terletak pada bagian bawah jantung, berfungsi

untuk membantu absorpsi dan translokasi asam lemak (Yuwanta, 2008). Warrna

hijau pada empedu berasal dari bliverdin dan bilirubin yang merupakan hasil

destruksi sel darah merah (Suprijatna et al., 2008).

Pankreas, saluran pencernaan yang berfungsi mensekresikan hormon insulin dan

glukagon serta mensekresikan cairan pancreatic juice yang berguna dalam proses

pencernaan di usus halus. (Suprijatna, et al., 2008). Pankreas berbentuk lonjong

dan terletak diantara duodenal loop pada usus halus (Supartini dan Fitasari, 2011).

Usus Halus, saluran pencernaan yang berfungsi sebagai tempat terjadinya

penyerapan sari-sari pakan termasuk vitamin dan mineral (Rahayu, et al., 2011).

Usus halus berbentuk seperti pipa pipih dan terletak diantara lambung otot dan

usus besar (Yaman, 2012).

Seka, saluran pencernaan yang berfungsi sebagai tempat terjadinya dekomposisi

beberapa nutrien yang tidak tercerna dalam jumlah yang sedikit oleh mikroba seka

serta sebagai tempat terjadinya proses pencernaan serat kasar oleh bakteri
9

pencerna serat kasar (Yuwanta, 2008). Seka adalah saluran buntu yang berbentuk

lonjong dan terletak diantara usus halus dan usus besar (Rahayu, et al., 2011).

Usus Besar, saluran pencernaan yang berfungsi sebagai tempat terjadinya proses

perombakan partikel pakan yang tidak tercerna oleh mikroorganisme menjadi

feses serta sebagai tempat terjadinya penyerapan air sebelum feses dikeluarkan

(Yuwanta, 2008). Usus besar berberntuk seperti pipa dan terletak diantara seka

dan kloaka (Rahayu, et al., 2011).

Kloaka, saluran pencernaan yang berfungsi sebagai tempat bermuaranya saluran

pencernaan dan reproduksi (Suprijatna, et al., 2008). Kloaka merupakan saluran

pencernaan yang berbentuk bulat dan terletak pada bagian akhir saluran

pencernaan (Rahayu, et al., 2011).

2.2.2. Sistem pernafasan

Alat pernafasan ayam terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian atas

(lubang hidung dan pangkal tenggorokan atau (larynx), saluran pernafasan, dan

paru-paru yang berfungsi sebagai tempat pertukaran udara yang masuk dan keluar

dari tubuh ayam (Fadilah dan Polana, 2011). Saluran pernapasan unggas terdiri

dari glottis, larynx, trachea, syrinx, bronchus, paru-paru dan kantung-kantung

udara (Prawira, 2014).

Glottis, merupakan saluran yang memisahkan antara saluran pernafasan atas dan

bawah tepatnya di pangkal trakea atau larynx (Prawira, 2014). Glottis akan

menutup ketika makanan turun ke oesophagus, sehingga makanan tidak masuk ke

dalam paru-paru (Adnin, 2015).


10

Trakea, merupakan berfungsi sebagai tempat keluar masuknya udara,

menghubungkan laring dan faring dengan paru-paru. Trakea dapat ditemukan di

daerah dada dan tersusun atas tulang lunak yang disebut dengan tulang rawan

(Adnin, 2015). Bentuk trakea unggas panjang berupa pipa bertulang rawan yang

berbentuk cincin, dan bagian akhir trakea bercabang menjadi dua bagian, yaitu

bronkus kanan dan bronkus kiri. Bronkus pada pangkal trakea terdapat syrinx

bagian dalamnya terdapat lipatan-lipatan berupa selaput yang dapat bergetar

(Febriani, 2015).

Syrinx, merupakan kotak suara pada unggas. Suara ayam dihasilkan dari tekanan

udara pada katup suara dan dimodifikasi oleh tegangan otot. Baik ayam jantan

maupun betina, keduanya mampu berkokok (Prawira, 2014). Syirinx merupakan

lipatan-lipatan pada pangkal trakea berupa selaput yang dapat menghasilkan suara

(Febriani, 2015).

Paru-paru, fungsi utama paru-paru yaitu untuk mencukupi kebutuhan oksigen

yang diperlukan untuk pembentukan tenaga (Fadilah dan Polana, 2011). Paru-paru

pada unggas (ayam) memiliki parabronchi yang merupakan perpanjangan saluran

yang membuat udara dapat melewati paru-paru dalam satu arah menuju kantung-

kantung udara di luar paru-paru. Parabronchi ini terisi oleh darah kapiler dan di

tempat inilah terjadi pertukaran gas (Prawira, 2014).

2.2.3. Sistem reproduksi ayam jantan

Sistem reproduksi ayam jantan memiliki perbedaan dengan sistem

reproduksi ayam betina. Sistem reproduksi ayam jantan dibedakan menjadi empat
11

bagian utama yang meliputi testis, epididimis, vas deferens dan alat kopularis

(Yuwanta, 2008). Testis merupakan organ utama sistem reproduksi ayam jantan

yang berjumlah sepasang yang terletak diantara tulang punggung bagian dalam

perut (Fadillah dan Polana, 2011).

Testis, organ reproduksi utama yang berbentuk mirip biji buah buncis, testis

sebelah kiri memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan testis sebelah

kanan dikarenakan kandungan sperma yang lebih banyak (Rahayu et al., 2011).

Testis berfungsi menghasilkan hormon androgen yaitu hormon testosteron dan

menghasilkan sel gamet jantan atau spermatozoa (Afiati et al., 2013).

Epididimis, saluran yang berjumlah sepasang yang terletak pada bagian dorsal

testis (Yuwanta, 2008). Epididimis berfungsi sebagai tempat penyimpanan,

pematangan dan transport sperma (Afiati et al., 2013).

Vas deferens, sebuah saluran proses yang berfungsi sebagai tempat proses

pematangan dan proses penyimpanan sementara sperma sebelum diejakulasikan

(Yuwanta, 2008). Vas deferens merupakan sebuah saluran perpanjangan dari

saluran epididimis, vas deferens bermuara pada kloaka (Afiati et al., 2013).

Alat kopulasi, pada ayam berupa dua papila dan organ kopularis yang mengalami

rudimenter. Papila pada ayam memproduksi cairan transparan yang bercampur

dengan sperma saat terjadi kopulasi (Yuwanta, 2008). Organ kopularis pada

ayam yang terletak pada bagian ventral median salah satu lipatan melintang pada

kloaka yang digunakan untuk pembedaan jenis kelamin pada anak ayam umur

sehari (Suprijatna et al., 2005).


12

2.2.4. Sistem reproduksi betina

Sistem reproduksi betina pada ayam yaitu terdiri dari ovarium dan oviduk

yang terdiri dari infundibulum sebagai penangkap telur, magnum memberi putih

telur, isthmus memberi membran cangkang telur, uterus membentuk cangkang

telur dan vagina sebagai tempat penyimpanan teur (Rahayu et al., 2011). Ovarium

terdiri dari dua bagian yaitu ovarium bagian kanan dan bagian kiri. Ovarium

berfungsi untuk menghasilkan ovum atau kuning telur, infundibulum berfungsi

sebagai penangkap ovum atau kuning telur yang telah diovulasikan oleh ovarium,

magnum berfungsi untuk mensekresikan albumen atau putih telur yang akan

membungkus kuning telur, isthmus berfungsi untuk mensekresikan membran

cangkang telur, uterus berfungsi sebagai tempat pembentukan cangkang telur

karena di dalamnya terjadi sekresi cangkang telur dan vagina berfunsi untuk

mensekresikan kutikula yang melaipisi cangkang telur dan juga berfungsi sebagai

tempat penyimpanan telur sementara sebelum telur dikelurkan melalui kloaka

(Afiati et al., 2013).

Ovarium, saluran reproduksi yang berfungsi untuk menghasilkan kuning telur

(Rahayu et al., 2011). Ovarium terletak diantara rongga dada dan rongga perut

pada garis punggung unggas (Afiati et al., 2013).

Infundibulum, saluran reproduksi yang berfungsi sebagai tempat terjadinya

fertilisasi antara sel spermatozoa dan ovum (Rahayu et al., 2011). Infundibulum

merupakan saluran reproduksi betina pada ayam yang bentuknya menyerupai

corong berfungsi sebagai penangkap ovum atau kuning telur yang telah

diovulasikan oleh ovarium (Afiati et al., 2013).


13

Magnum, merupakan organ reproduksi betina pada ungags yang berfungsi untuk

mensekresikan albumen atau putih telur yang akan membungkus kuning telur

(Rahayu et al., 2011). Magnum mensekresikan putih telur yang melapisi kuning

telur (Afiati et al., 2013).

Isthmus, terdapat kelenjar-kelenjar yang mensekresikan dua buah selaput putih

yang akan membungkus semua isi telur (Rahayu et al., 2011). Isthmus merupakan

organ reproduksi betina pada unggas yang berfungsi untuk mensekresikan

membran cangkang telur (Afiati et al., 2013).

Uterus, merupakan organ reproduksi betina pada ayam yang berfungsi sebagai

tempat pembentukan cangkang telur karena di dalamnya terjadi proses sekresi

cangkang telur (Rahayu et al., 2011). Uterus merupakan saluran reproduksi pada

ternak unggas yang berfungsi sebagai tempat terjadinya proses pembentukan

cangkang telur (Afiati et al., 2013).

Vagina, merupakan organ reproduksi betina pada ayam yang berfungsi sebagai

tempat untuk mensekresikan kutikula yang melapisi cangkang telur dan juga

berfungsi sebagai tempat penyimpanan telur sementara sebelum dikelurkan

melalui kloaka (Rahayu et al., 2011). Vagina adalag organ reproduksi yang

berfungsi sebagia tempat terjadinya proses penyimpanan kutikel pada cangkang

telur sehingga terbentuk pori-pori pada cangkang telur (Afiati et al., 2013).

Kloaka, merupakan saluran reproduksi yang berfungsi sebagai tempat keluarnya

telur, selain itu kloaka juga mempunyai fungsi yaitu sebagai tempat keluarnya

ekskreta (Yuwanta, 2008). Kloaka merupakan saluran reproduksi yang berfungsi

sebagai tempat peneluran atau pengeluaran telur (Rahayu et al., 2011).


14

2.2.5. Sistem urinari

Sistem urinari pada ayam terdiri atas sepasang ginjal yang berbentuk besar

dan panjang, terletak diantara paru-paru dan tulang punggung. Ginjal berfungsi

memproduksi urin dengan cara memfiltrasi darah dan mereabsorpsi nutrien

(Suprijatna et al., 2008). Terdapat sebuah saluran yang menghubungkan antara

ginjal dan kloaka yang disebut uretra, berfungsi untuk mengalirkan urin dari ginjal

menuju ke kloaka (Yuwanta, 2014).

Ginjal, organ urinari yang berfungsi memproduksi urin dengan cara memfiltrasi

darah dan mereabsorpsi nutrien, terletak diantara paru-paru dan tulang punggung.

(Suprijatna et al., 2008). Selain berfungsi memproduksi urin ginjal juga berfungsi

sebagai pengatur keseimbangan asam-basa dan keseimbangan osmosis bagi cairan

tubuh (Yuwanta, 2008).

Ureter, tempat bermuaranya urin yang terletak diantara ginjal dan kloaka

(Suprijatna et al., 2008). Ureter adalah sebuah saluran yang berfungsi untuk

mengalirkan urin dari ginjal menuju ke kloaka (Yuwanta, 2008).

Kloaka, tempat keluarnya urin yang bercampur feses unggas (ekskreta) yang

merupakan sisa hasil metabolisme (Suprijatna et al., 2008). Kloaka merupakan

tempat keluarnya kskreta yang terletak setelah ureter (Yuwanta, 2008).

2.2.6. Identifikasi penyakit unggas

Ayam sehat memiliki gerakan yang aktif, lincah, pertumbuhan normal,

ayam berdiri tegak, memiliki nafsu makan dan minum baik serta memiliki bulu

yang kelihatan mengkilap (Aryanti et al., 2013). Ayam yang sehat memiliki nafsu
15

makan yang baik, jika ayam sakit biasanya nafsu makannya menurun bahkan

tidak mau makan. Terlihat dari bagian tubuh luarnya, ayam sakit bulunya terlihat

kotor, lesu dan malas bergerak (Ariyanto et al., 2013). Penyakit unggas

disebabkan oleh serangan virus, bakteri, jamur dan protozoa. Ayam yang

mengalami avian influenza memiliki ciri-ciri keluarnya cairan dari mata dan

hidung, pembengkakan pada muka dan kepala, diare, batuk, bersin dan ngorok.

Nafsu makan menurun. Ayam yang terkena fowl pox memiliki ciri-ciri terdapat

lesi berwarna putih pada daerah kulit yang tidak ditumbuhi bulu (Syibli, 2014).

2.3. Formulasi Ransum

Ransum adalah campuran dari beberapa bahan pakan yang dapat

memenuhi nutrisi ternak selama 24 jam dan disusun menurut aturan tertentu

(Budiansyah, 2007). Pemberian ransum dengan kandungan energi dan protein

yang rendah dapat memberikan efek negatif pada unggas yaitu adanya

kanibalisme dan dapat menghambat pertumbuhan (Pratama, 2008). Aturan ini

meliputi nilai kandungan nutrisi pada bahan pakan yang digunakan. Ransum

sangat dibutuhkan oleh ternak karena mengandung campuran bahan pakan yang di

dalamnya terdapat nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak dan komposisinya sesuai

dengan kebutuhan berdasar fase hidupnya. Nutrisi yang dimaksud berupa protein,

energi metabolis, lemak, serat kasar, kalsium, dan fosfor. Semua nutrisi ini harus

disusun dalam jumlah yang tepat dan seimbang (Marginingtyas et al., 2015).
16

2.3.1. Metode penyusunan ransum

Penyusunan ransum adalah pencampuran bahan pakan dengan komposisi

yang telah ditentukan sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang

dibutuhkan oleh ternak. Hal yang harus diperhatikan dalam penyusun ransum

adalah: kandungan nutrisi bahan pakan, harga bahan pakan, jenis unggas dan

umur unggas (Yaman, 2013). Beberapa cara dalam penyusunan ransum, antara

lain metode coba-coba (trial and error), metode program linier, metode bujur

sangkar pearson, metode program parametrik, metode program tujuan ganda dan

metode matrik (Tamalludin, 2014).

2.3.2. Jenis-jenis bahan pakan

Bungkil kedelai, bungkil kedelai mengandung 89,01% BK, 44,15% protein,

7,23% abu, 14,45% NDF, 10,12% ADF, gross energi sebesar 3110 kkal/kg dan

zat anti nutrisi yaitu antitripsin (Uhi, 2006). Bungkil kedelai merupakan limbah

hasil pengolahan ekstraksi minyak kedelai berbentuk pecahan-pecahan. Bungkil

kedelai memiliki ciri-ciri yaitu berbentuk bubuk kasar dan kering, serta memiliki

bau yang harum (Husnaeni et al., 2015).

Jagung gilling, jagung giling merupakan butiran kasar yang diperoleh dari proses

penggilingan jagung kering (Supartini dan Eka, 2011). Kandungan nutrisi pada

jagung giling yaitu ME 3370 Kkal/kg, protein kasar 10,56%, lemak 4,93%, serat

kasar 2,84% (Nugraha, 2012). Jagung giling yang diberikan kepada ternak

umumnya dalam bentuk giling dan jenis jagung kuning (Uzer et al., 2013).

Bekatul, bekatul secara organoleptik memiliki ciri-ciri yang meliputi berwarna


17

coklat cerah, berbau khas dan berbentuk tepung (Sarbini et al., 2009). Bekatul

merupakan bahan pakan yang berasal dari limbah hasil penggilingan padi menjadi

beras (Supartini dan Eka, 2011). Kandungan nutrisi pada bekatul yang

mempunyai kualitas baik yaitu protein kasar 9 - 12%, serat kasar 8 - 11% dan

lemak 8 – 12% (Supartini dan Fitasari, 2011).

Premix, kandungan nutrisi yang terdapat pada premix yaitu Ca 20%, P 20% dan

pemberiannya maksimal 3% (Sihombing et al., 2010). Premix merupakan bahan

yang dicampurkan dalam ransum yang biasa digunakan sebagai sumber mineral

bagi ternak (Safingi, 2013). Ciri-ciri premix yaitu berbentuk tepung, halus dan

tidak berbau (Uzer et al., 2013).

Meat bone meal (MBM), kandungan nutrisi pada Meat bone meal (MBM) yaitu

protein 53.6%, lemak 12.5%, abu 24.7%, serat kasar 2.7%, P 4.03% dan kadar air

6% (Supartini dan Fitasari, 2011). MBM merupakan bahan pakan yang diberikan

kepada ternak sebagai sumber protein dan mineral bagi ternak, diberikan dalam

bentuk tepung (Swastike, 2012). MBM memiliki ciri-ciri yaitu berbau khas,

berwarna coklat kemerahan dan berbentuk gilingan halus (Ollong et al., 2012).

Tepung ikan, tepung ikan memiliki ciri-ciri berwarna coklat, berbau khas ikan

sebagai sumber protein hewani dalam ransum (Filawati, 2008). Kandungan nutrisi

pada tepung ikan paling tinggi yaitu protein sebesar 60 - 70% dan kandungan

energi metabolisme sebesar 2640 - 3190 kkal/kg (Yaman, 2010). Tepung ikan

merupakan bahan pakan sumber protein. Sumber protein dari ikan yang diberikan

kepada ternak dalam ransum biasanya dalam bentuk tepung (Baye et al., 2015).
18

BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum Produksi Ternak Unggas dengan materi Pengenalan Jenis

Ternak Unggas dan Formulasi Ransum Unggas dilaksanakan pada hari Senin,

tanggal 4 April 2016 pukul 13.00 – 15.00 WIB. Praktikum Produksi Ternak

Unggas dengan materi Anatomi, Fisiologis dan Identifikasi Penyakit Ternak

Unggas dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 11 Mei 2016 pukul 09.00 – 11.00

WIB. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Produksi Ternak Unggas, Fakultas

Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1. Materi

3.1.1. Pengenalan jenis ternak unggas

Alat yang digunakan dalam praktikum Pengenalan Jenis Unggas antara

lain buku praktikum untuk panduan praktikum. Alat tulis digunakan untuk

mencatat dan menggambar hasil praktikum. Media movie dan slide power point

sebagai media untuk berdiskusi dan gambar penjelas.

3.1.2. Anatomi, fisiologis dan identifikasi penyakit ternak unggas

Materi yang digunakan dalam praktikum Anatomi, Fisiologis dan

Identifikasi Penyakit Ternak Unggas yaitu ayam betina petelur afkir. Alat yang

digunakan antara lain alat seksio, nampan, lap, kitchen scale digital, pita ukur dan

alat tulis. Alat seksio digunakan untuk melakukan seksio terhadap ayam, nampan
19

digunakan untuk menempatkan ayam, lap digunakan untuk membersihkan,

kitchen scale digital dan pita ukur digunakan untuk mengukur ayam, alat tulis

digunakan untuk mencatat hasil pengamatan.

3.1.3. Formulasi ransum unggas

Materi yang digunakan dalam praktikum Formulasi Ransum Unggas

adalah bahan pakan untuk menguji organoleptik bahan pakan dan menyusun

ransum. Bahan pakan yang digunakan antara lain bungkil kedelai, jagung giling,

bekatul, premix, meat bone meal (MBM) dan tepung ikan. Alat yang digunakan

yaitu tabel komposisi kandungan bahan pakan untuk membantu dalam pembuatan

formulasi ransum, laptop untuk membantu memformulasikan ransum dengan

Microsoft excel, timbangan “kitchen scale” untuk menimbang pakan, alas plastik

dan nampan untuk menimbang dan mencampurkan pakan.

3.2. Metode

3.2.1. Pengenalan jenis ternak unggas

Metode yang dilakukan dalam praktikum yaitu mengamati karakteristik

eksterior masing-masing jenis unggas baik darat maupun air. Mengamati

perbedaan karakteristik antara unggas jantan dan betina, selanjutnya mempelajari

tentang klasifikasi unggas menurut buku The American Standar of Perfection,

mempelajari klasifikasi ayam sesuai dengan tujuan pemeliharaannya dengan cara

berdiskusi. Hasil pengamatan dan hasil diskusi digambarkan serta dicatat pada

buku diktat.
20

3.2.2. Anatomi, fisiologis dan identifikasi penyakit ternak unggas

Unggas yang akan disembelih, diamati organ eksteriornya terlebih dahulu.

Sebelum penyembelihan dilakukan penimbangan bobot hidup terlebih dahulu.

Melakukan penyembelihan kemudian mengukur waktu bleeding menggunakan

stopwatch. Ayam telah mati ditimbang bobotnya untuk mengetahui bobot darah.

Bulu yang masih menempel pada ayam dibersihkan. Sayatan dibuat dengan cara

menghitung secara horizontal otot perut di dekat tulang rusuk hingga pertautan

antartulang dada dan sayap. Bagian dada dipotong dari persendiaan scapulnya,

sehingga bagian tersebut terbuka. Memisahkan berbagai sistem yang ada pada

tubuh unggas, meliputi sistem pencernaan, pernafasan, urinari, dan reproduksi.

Diamati preparasi utuh sebelum dilakukan pemisahan masing-masing organ dan

saluran yang akan diamati. Saluran dan organ yang akan diamati dipisahkan,

ditimbang dan diukur panjang masing-masing bagiannya.

3.2.3. Formulasi ransum unggas

Metode yang dilakukan dalam formulasi ransum yaitu menghitung standar

kebutuhan ransum yang akan disusun menggunakan metode trial and error

dengan bantuan program microsoft excel. Formulasi ransum diawali dengan

menentukan kebutuhan pakan ternak dan kandungan bahan pakan yang tersedia

serta faktor pembatasnya. Bahan pakan diuji organoleptik sebelum dihitung agar

dapat mengetahui tekstur, bau dan warna. Bahan pakan yang tersedia dihitung

berdasarkan kandungan nutriennya hingga memenuhi standar kebutuhan dan

komposisi ransum yang sesuai. Bahan pakan ditimbang dan disusun sesuai dengan
21

perhitungan yang telah dilakukan secara berlapis, kemudian dicampurkan secara

merata. Pencampuran dilakukan mulai dari bahan pakan dengan jumlah komposisi

terkecil diikuti bahan pakan dengan komposisi yang semakin besar dalam ransum.
22

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pengenalan Jenis dan Klasifikasi Ternak Unggas

Berdasarkan hasil praktikum, dapat diketahui bahwa kelas ayam sekaang

ini menurut buku The American Standard of Perfection, terdapat 11 kelas ayam,

tetapi yang dianggap penting diketahui hanya 4 kelas, yaitu kelas Inggris, kelas

Amerika, kelas Asia dan kelas Mediterania. Jenis unggas dapat dibedakan menjadi

2, yaitu unggas darat dan unggas air. Beberapa perbedaan antara unggas darat

dengan unggas air, yaitu pada bentuk paruh, selaput pada kaki, bulu serta bentuk

pakan yang dikonsumsi. Hal ini sesuai dengan pendapat Suharno dan Amri (2010)

yang menyatakan bahwa unggas air memiliki ciri yang dapat membedakan dengan

unggas darat yaitu pada bulunya yang berminyak sehingga tidak basah atau

kedinginan saat berada dalam air dan juga memiliki selaput kaki yang berguna

untuk berenang. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahayu et al. (2011) yang

menyatakan bahwa terdapat empat kelas ayam yang dianggap penting untuk

diketahui, diantaranya kelas Inggris, kelas Amerika, kelas Mediterania dan kelas

Asia.

4.1.1. Klasifikasi unggas

Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa klasifikasi unggas

dikelompokkan berdasarkan kelas, bangsa, varietas dan strain seperti yang

dijelaskan dalam buku The American Standard of Perfection.


23

Ayam Kelas Inggris, ayam kelas Inggris adalah ayam yang dikembangkan di

Inggris dan termasuk sebagai ayam tipe pedaging. Ayam kelas Inggris memiliki

ciri-ciri tubuh berbentuk besar, warna kulit putih kecuali pada bangsa Cornish

berwarna kuning, cuping dan jengger berwarna merah, cakar tidak berbulu dan

kulit telur berwarna cokelat kecuali pada bangsa Dorking dan Redcup berwarna

putih. Hal ini sesuai dengan pendapat Tamalludin (2014) yang menyatakan bahwa

ayam kelas Inggris memiliki ciri-ciri badannya padat kompak dan berdaging

penuh, kaki tidak berbulu dan berwarna kuning, dan kulit telur berwarna cokelat.

Bangsa-bangsa ayam yang termasuk dalam kelas ini adalah Orpington, Cornish,

Australorp, Sussex, Dorking dan Redcup. Menurut Santoso dan Sudaryani (2015),

ciri - ciri umum ayam kelas inggris adalah kulit telur berwarna cokelat, cuping

telinga berwarna merah dan kulit berwarna putih kecuali pada bangsa ayam

Cornish.

Sumber : www.omlet.co.uk.

Ilustrasi 1. Ayam Kelas Inggris.


24

Ayam Kelas Amerika, ayam kelas Amerika adalah ayam yang dikembangkan di

Amerika dan termasuk sebagai ayam tipe dwiguna. Ayam kelas Amerika

memiliki ciri-ciri bentuk tubuh sedang, warna kulit kuning, cakar tidak berbulu,

cuping dan jengger berwarna merah dan kulit telur berwarna cokelat kecuali pada

bangsa Lamonas. Bangsa-bangsa ayam yang termasuk dalam kelas ini adalah

Playmouth Rock, Rhode Island Red (RIR), Wyandotte, New Hampshire, Lamonas,

Jersey, Yavas dan Chantecler. Hal ini sesuai dengan pendapat Tamalludin (2014)

bahwa ayam kelas Amerika memiliki ciri-ciri kulit berwarna kuning, kaki tidak

berbulu, cuping berwarna merah dan kulit telur berwarna cokelat. Menurut

Santoso dan Sudaryani (2015), ayam kelas amerika memiliki ciri-ciri kulit

berwarna kuning, kaki tidak berbulu, cuping berwarna merah dan kulit telur

berwarna cokelat.

Sumber : Yuwanta (2008).

Ilustrasi 2. Ayam Kelas Amerika.


25

Ayam Kelas Mediterania, ayam kelas Mediterania adalah ayam yang

dikembangkan di Spanyol dan Italia, termasuk sebagai ayam tipe petelur. Ayam

kelas mediterania memiliki ciri-ciri bentuk tubuh ramping, warna kulit putih

kecuali pada bangsa Leghorn dan Ancona berwarna kuning, cuping berwarna

putih, cakar tidak berbulu, jengger dan pial relatif besar, tempramen nervous,

jarang mengeram dan umumnya petelur yang baik. Sesuai dengan pendapat

Susilorini et al., (2008) ayam kelas Mediterania memiliki karakteristik berbulu

mengembang, cuping berwarna putih, bentuk tubuh ramping dan kulit telur

berwarna putih atau cokelat. Bangsa-bangsa ayam yang termasuk dalam kelas ini

adalah Leghorn, Minorca, Ancona, Spanish, Buttercup dan Andalussia. Hal ini

sesuai dengan pendapat Rahayu et al., (2011) yang menyatakan bahwa ayam kelas

mediterania memiliki ciri-ciri umum ukuran tubuh relatif kecil, cuping berwarna

putih, kaki tidak berbulu, kulit telur berwarna putih dan kulit berwarna putih

kecuali pada banga ayam Leghorn dan Ancona.

Sumber : Yuwanta (2008).

Ilustrasi 3. Ayam Kelas Mediterania.


26

Ayam Kelas Asia, ayam kelas Asia adalah ayam yang dikembangkan di wilayah

Asia dan termasuk sebagai ayam tipe pedaging. Ayam kelas Asia memiliki ciri-

ciri bentuk tubuh relatif besar, warna kulit kuning kecuali pada bangsa Langshan

berwarna putih, cuping dan jengger berwarna merah, cakar berbulu dan kulit telur

berwarna cokelat. Bangsa-bangsa ayam yang termasuk dalam kelas ini adalah

Brahman, Cochin dan Langshan. Menurut Suprijatna et al., (2008), ayam kelas

Asia memiliki karakteristik bentuk tubuh besar, cuping berwarna merah, kaki

berbulu, kulit berwarna putih sampai gelap dan kulit telur berwarna cokelat

kekuningan sampai putih. Rahayu, et al. (2011) menyatakan bahwa ayam kelas

Asia memiliki ciri-ciri umum ukuran tubuh relatif besar, kaki berbulu, cuping

berwarna merah, kulit telur berwarna cokelat dan kulit berwarna kuning kecuali

pada bangsa ayam Langshan.

Sumber : Yuwanta (2008).

Ilustrasi 4. Ayam Kelas Asia


27

4.1.2. Unggas darat

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan dengan materi pengamatan

eksterior unggas dapat diperoleh hasil sebagai berikut :

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Ayam Jantan Ayam Betina


Ilustrasi 5. Eksterior ayam jantan dan betina

Keterangan :
1. Jengger 6. Sayap
2. Paruh 7. Punggung
3. Mata 8. Ekor
4. Cuping 9. Kaki
5. Leher

Berdasarkan data hasil praktikum diketahui bahwa ayam jantan dan betina

pada umumnya memiliki organ eksterior yang sama namun terdapat beberapa

perbedaan diantara keduanya. Ayam jantan memiliki badan cenderung lebih besar

serta kakinya lebih besar, kuat dan kokoh dibandingkan ayam betina. Hal ini

sesuai dengan pendapat Kholis dan Sitanggang (2008) yang menyatakan bahwa

ayam jantan berbadan lebih besar, padat dan tinggi serta kakinya lebih besar dan

kuat dibandingkan ayam betina. Bulu pada ayam jantan lebih sedikit
28

dibandingkan betina akan tetapi bulu pada ayam jantan lebih panjang daripada

bulu ayam betina. Menurut Rasyaf (2008), ayam memiliki bentuk paruh yang

lancip dan warnanya kuning, warna jengger merah, kaki berwarna kuning serta

ayam jantan memiliki bulu yang indah sebagai daya tarik untuk menarik lawan

jenisnya.Jengger ayam jantan terlihat dengan jelas karena bentuknya besar dan

tebal, sedangkan pada ayam betina jenggernya relatif kecil. Hal ini sesuai dengan

pendapat Sujionohadi dan Setiawan (2013) yang menyatakan bahwa jengger pada

ayam jantan tumbuh lebih tegas, besar dan bergerigi nyata sedangkan pada betina

jenggernya tumbuh lebih pendek dan tipis, mata ayam jantan lebih besar dan

bercahaya dibandingkan ayam betina yang matanya kecil dan terlihat lemah, bulu

ekor pada ayam jantan lebih cepat tumbuh dibanding bulu bagian lainnya

sehingga terlihat lebih panjang sedangkan pada ayam betina bulu badan tumbuh

merata sehingga terlihat lebih banyak.

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan dengan materi pengamatan

eksterior unggas dapat diperoleh hasil sebagai berikut :

1
2
3
4
5
6

Puyuh Jantan Puyuh Betina


Ilustrasi 6. Eksterior puyuh jantan dan betina
29

Keterangan :
1. Paruh 4. Sayap
2. Mata 5. Dada
3. Leher 6. Kaki

Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa puyuh memiliki bagian-

bagian antara lain paruh, mata, leher, sayap, dada dan kaki. Puyuh jantan dan

betina umumnya memiliki bagian-bagian yang sama akan tertapi terdapat

beberapa perbedaan di bagian-bagian tertentu antara puyuh jantan dan betina. Hal

ini sesuai dengan pendapat Sugiharto (2009), cara membedakan puyuh jantan dan

betina bisa diamati dari anus puyuh dimana pada jantan terdapat tonjolan

berwarna merah di atasnya yang jika ditekan akan mengeluarkan busa berwarna

putih yang tidak terdapat pada puyuh betina. Perbedaan pada puyuh jantan dan

betina bentuk badan pada betina lebih besar dibandingkan pada puyuh jantan. Hal

ini sesuai dengan pendapat Dewansyah (2010) yang menyatakan bahwa puyuh

betina memiliki badan yang lebih besar, betina dewasa warnanya mirip dengan

jantan, kecuali bulu dada bagian atas pada puyuh betina lebih terang serta dihiasi

totol-totol coklat tua. Puyuh yang diamati memiliki perbedaan warna antara yang

jantan dan betina yaitu puyuh jantan berwarna coklat matang sedangkan pada

betina selain memiliki warna coklat juga terdapat bercak coklat dibagian bulu

dadanya. Hal ini sesuai dengan pendapat Tumbilung et al. (2014), untuk

membedakan puyuh jantan dan betina adalah dengan melihat warna bulunya

dimana terlihat jelas pada bagian leher dan dada puyuh betina warnanya lebih

terang serta terdapat totol-totol coklat tua sedangkan puyuh jantan dadanya

berwarna coklat muda.


30

4.1.3. Unggas air

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dengan materi

pengamatan eksterior unggas air dapat diperoleh data sebagai berikut:

6
Itik Jantan Itik Betina
Ilustrasi 7. Eksterior Itik Jantan dan Betina

Keterangan :
1. Paruh 4. Sayap
2. Cuping 5. Kaki
3. Leher 6. Ekor

Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa unggas air atau yang

lebih dikenal dengan sebutan itik memiliki karakteristik paruh berbentuk pipih

serta didalamnya terdapat filter pakan, leher panjang dan kaki berselaput. Hal ini

sesuai dengan pendapat Suprijatna et al. (2008), unggas air memiliki karakteristik

yang berbeda dibanding itik darat yaitu bentuk paruh pipih, kaki berselaput bulu

dilapisi cairan minyak dan leher lebih panjang. Itik jantan memiliki postur tubuh

yang lebih tegak badan lebih kecil dibanding itik betina. Hal ini sesuai dengan

pendapat Suharno dan Amri (2010) menyatakan bahwa itik jantan memiliki postur
31

tubuh yang lebih kecil dan lebih tegak dibandingkan itik betina. Keistimewaan

dari unggas air yaitu bulu tidak basah ketika berenang, hal ini disebabkan karena

bulu pada unggas air dilapisi oleh cairan minyak. Hal ini sesuai dengan pendapat

Wahid (2013) yang menyatakan bahwa unggas air memiliki bulu yang dilapisi

oleh cairan minyak sehingga bulunya tidak basah ketika berenang.

4.1.4. Pebedaan unggas darat dan air

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dengan materi pengenalan

karakteristik unggas darat dan unggas air, diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 1. Perbedaan Unggas Darat dan Air


No. Karakteristik Unggas darat Unggas air
1 Bentuk paruh Runcing Tumpul dan pipih
2 Pial/jengger Ada Tidak ada
3 Leher Pendek Panjang
4 Bulu Tidak berminyak Berminyak
5 Taji/jalu Ada Tidak ada
6 Selaput kaki Tidak ada Ada
Berupa
7 Pakan Biji-bijian kering cairan/lembek
Penyaring pakan pada
8 paruh Tidak ada Ada

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa

terdapat beberapa perbedaan antara unggas darat (ayam) dengan unggas air (itik).

Perbedaannya terletak pada bentuk paruh, jengger atau pial, leher, selaput pada

kaki, taji/jalu pada kaki, bulu serta bentuk pakan yang dikonsumsi. Unggas

darat memiliki paruh yang runcing karena pakannya biasanya dalam bentuk biji-

bijian kering, sedangkan unggas air memiliki paruh yang berbentuk tumpul dan

dilapisi oleh salaput halus yang sensitif serta terdapat penyaring pakan (filter)
32

karena pakan yang dikonsumsi berbentuk cairan atau lembek. Unggas darat

memiliki jalu atau taji pada kakinya sedangkan unggas air memiliki kaki yang

pendek dan terdapat selaput diantara jari kaki yang berfungsi untuk berenang. Hal

ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (2011) yang menyatakan bahwa ayam

memiliki paruh yang berbentuk runcing serta memiliki jalu pada kakinya.

Menurut pendapat Suharno dan Setiawan (2012), itik memiliki paruh yang tumpul

dan dilapisi oleh selaput halus yang sensitif serta mempunyai kaki yang pendek

dan diantara jari-jari kaki dihubungkan dengan selaput yang memungkinkan itik

dapat berenang di air.

Unggas air memiliki bulu yang berminyak yang berfungsi untuk

melindungi tubuh agar tidak basah saat berenang didalam air. Hal ini sesuai

dengan Suharno dan Amri (2010) yang menyatakan bahwa unggas air (itik)

memiliki ciri khas yang dapat membedakan dengan unggas lain yaitu memiliki

bulu yang berminyak sehingga itik tidak basah atau kedinginan saat berada dalam

air. Ayam memiliki jengger atau pial di kepala sedangkan itik tidak memiliki pial

di kepala sehingga kepala ayam terlihat lebih besar dari kepala itik. Ayam

memiliki leher yang lebih pendek dan tembolok yang berkembang dengan baik

sedangkan itik memiliki leher yang lebih panjang dan tembolok yang tidak

berkembang. Ayam mengonsumsi pakan yang berupa biji-bijian sehingga

membutuhkan tembolok yang besar untuk menyimpan pakan sementara. Hal ini

sesuai dengan pendapat Suharno dan Setiawan (2012) yang menyatakan bahwa

bentuk tembolok pada itik tidak terlihat jelas dan bentuknya kecil berbeda dengan

bentuk tembolok pada ayam yang bentuknya besar.


33

4.2. Anatomi dan Identifikasi Penyakit Ternak Unggas

Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa anatomi unggas yang

diamati adalah sistem pencernaan, pernafasan dan reproduksi, serta identifikasi

penyakit pada ternak yang diamati sebagai berikut :

4.2.1. Sistem pencernaan

Hasil pengamatan terhadap sistem pencernaan pada unggas sebagai

berikut:

1
Commented [MC1]: Diperkecil aja de sampai keterangan bisa
2 masuk ke lembar yg sama.
3
4
5
6
7
8
9
10
11 Commented [MC2]: Gambar pembanding dr google plus
sumbernya
Sumber : Data Primer
Sumber :
Praktikum Produksi Ternak
Unggas, 2016.
Ilustrasi 8. Anatomi Sistem Pencernaan

Keterangan:
1. paruh 6. Hati 11. kloaka
2. esophagus 7. pankreas
3. tembolok 8. usus halus
4. proventrikulus 9. seka
5. ventrikulus 10. Usus besar

Berdasarkan hasil praktikum didapatkan hasil bahwa saluran pencernaan

pada ayam terdiri dari paruh, esofagus, tembolok, proventrikulus, ventrikulus,


34

hati, pankreas, usus halus, seka, usus besar dan kloaka. Hal ini sesuai dengan

pendapat Suprijatna et al. (2008) yang menyatakan bahwa sistem pencernaan

unggas terdiri dari paruh, esofagus, tembolok, proventrikulus, ventrikulus, usus

halus, seka, usus besar dan kloaka, serta juga terdapat organ aksesoris yaitu

pankreas dan hati. Menurut Yuwanta (2008), saluran pencernaan unggas tersusun

atas paruh, esofagus, tembolok, proventrikulus, ventrikulus, hati, pankreas, usus

halus, seka, usus besar dan kloaka.

Paruh, berdasarkan hasil praktikum didapatkan esofagus pada ayam petelur afkir

memiliki panjang 16 cm dan berat 4 gram. Paruh merupakan bagian dari organ

pencernaan unggas yang memiliki lidah dan tidak memiliki gigi, lidah pada paruh

berfungsi untuk menghasilkan saliva yang mengandung maltase dan amilase . Hal

ini sesuai dengan pendapat Yuwanta (2008) yang menyatakan bahwa paruh pada

bagian dalam terdapat lidah yang memiliki fungsi untuk menghasilkan saliva yang

mengandung maltase dan amilase. Unggas darat dan ungags air memiliki bentuk

paruh yang berbeda beda tergantung dari jenis makanannya. Hal ini sesuai dengan

pendapat Rasyaf (2008) yang menyatakan bahwa unggas darat memilik paruh

yang kebanyakan runcing, sedangkan pada unggas air memiliki pentuk paruh

yang pipih.

Esofagus, berdasarkan hasil praktikum didapatkan esofagus pada ayam petelur

afkir memiliki panjang 16 cm dan berat 4 gram. Esofagus merupakan saluran

pencernaan yang bertekstur lunak dan elastis, didalam esofagus, pakan akan

bercampur dengan saliva dan menjadi licin sehingga dapat dengan mudah masuk

dan menuju organ pencernaan selanjutnya. Hal ini sesuai dengan pendapat
35

Yuwanta (2008) bahwa esofagus merupakan saluran pencernaan yang berfungsi

sebagai saluran untuk lewatnya makanan dari paruh dan menghasilkan mukosa

untuk melicinkan pakan. Esofagus merupakan organ pencernaan yang berupa

saluran lewatnya makanan dari mulut hingga ke proventrikulus. Hal ini sesuai

dengan pernyataan Suprijatna et al. (2008) bahwa pakan yang di telan akan masuk

melalui saluran esofagus dari mulut hingga proventrikulus.

Tembolok, berdasarkan hasil praktikum didapatkan tembolok pada ayam petelur

afkir memiliki panjang 9,5 cm dan berat 101 gram. Organ ini merupakan bagian

dari esofagus yang termodifikasi menjadi lebih besar dan elastis. Hal ini sesuai

dengan pendapat Yuwanta (2008) bahwa tembolok merupakan modifikasi dari

esofagus yang sangat elastis. Tembolok bertugas untuk menampung pakan

sementara dan tidak ada proses pencernaan pada organ ini. Hal ini sesuai dengan

pernyataan Suprijatna et al. (2008) bahwa pada tembolok sedikit terjadi

pencernaan bahkan tidak terdapat proses pencernaan selain pencampuran saliva

dengan pakan.

Proventrikulus, berdasarkan hasil praktikum didapatkan proventrikulus pada

ayam petelur afkir memiliki panjang 4,5 cm dan berat 9 gram. Organ ini disebut

juga dengan perut kelenjar yang bertugas untuk mencerna lemak dan protein.

Proses pencernaan pada proventrikulus tidak tercerna secara sempurna. Hal ini

sesuai dengan pendapat Yuwanta (2008) bahwa pada proventrikulus pakan akan

mudah masuk ke empedal sehingga pakan tidak tercerna secara sempurna.

Proventrikulus mempunyai dua kelenjar yaitu gastrik dan tubular. Hal ini sesuai
36

dengan pendapat Murwani (2010) bahwa terdapat dua kelenjar yang membantu

proventrikulus yaitu kelenjar gastrik dan kelenjar tubular.

Ventrikulus, berdasarkan hasil praktikum didapatkan ventrikulua pada ayam

petelur afkir memiliki panjang 6 cm dan berat 35 gram. Ventrikulus merupakan

organ pencernaan yang merupakan perpanjangan dari proventrikulus yang disebut

juga sebagai perut muscular dengan fungsi sebagai pemecah pakan. Hal ini sesuai

dengan pendapat Yuwanta (2008) bahwa fungsi dari ventrikulus yaitu sebagai

memecah pakan. Pada ventrikulus terdiri dari otot otot yang berguna untuk

melumat dan mencampur makanan. Hal ini sesuai pendapat Murwani (2010)

bahwa ventrikulus tersusun atas otot otot yang kuat untuk membantu mencerna

makanan.

Hati, berdasarkan hasil praktikum didapatkan hati pada ayam petelur afkir

memiliki panjang 6 cm dan berat 32 gr. Organ ini termasuk bagian dari organ

tambahan yang berperan untuk mensekresi getah empedu dan menetralkan asam

lambung, sehingga dapat membantu absorpsi asam lemak. Hal ini sesuai pendapat

Yuwanta (2008) bahwa fungsi hati akan berguna untuk membantu absorpsi dan

translokasi asam lemak. Warna hijau pada empedu di pengaruhi oleh hasil

destruksi sel darah merah. Menurut Suprijatna et al., (2008) menyatakan bahwa

bliverdin dan bilirubin merupakan hasil destruksi sel darah merah yang

mempengaruhi warna pada empedu.

Pankreas, berdasarkan hasil praktikum pankreas ayam petelur betina afkir

memiliki panjang 14,5 cm dan memiliki berat 1 gram. Pankreas berbentuk

lonjong dan terletak pada lipatan usus halus. Pankreas berfungsi untuk
37

mensekresikan getah pankreas dan hormon insulin. Suprijatna, et al., (2008)

menyatakan bahwa pankreas berfungsi mensekresikan hormon insulin dan

glukagon serta mensekresikan cairan pancreatic juice yang berguna dalam proses

pencernaan di usus halus. Yuwanta (2008) menyatakan bahwa pankreas berfungsi

mensekresikan getah pankreas dan hormon insulin.

Usus Halus, berdasarkan hasil praktikum usus halus ayam petelur betina afkir

memiliki panjang usus halus 112 cm dan memiliki berat 52 gram. Usus halus

berbentuk seperti pipa pipih dan terletak setelah lambung otot. Usus halus

berfungsi sebagai tempat penyerapan zat-zat pakan. Suprijatna, et al., (2008)

menyatakan bahwa usus halus adalah ogran utama tempat terjadinya pencernaan

dan absorpsi produk pencernaan. Organ pencernaan usus halus berfungsi sebagai

organ penyerapan hasil pencernaan. Menurut Rahayu, et al., (2011) menyatakan

bahwa usus halus berfungsi sebagai tempat terjadinya penyerapan sari-sari pakan

termasuk vitamin dan mineral.

Seka, berdasarkan hasil praktikum seka ayam petelur betina afkir memiliki

panjang seka kanan 17 cm dan memiliki berat 5 gram serta seka kiri dengan

panjang 16 cm dan berat 5 gram. Seka adalah saluran buntu yang berbentuk

lonjong dan terletak diantara usus halus dan usus besar. Seka berfungsi sebagai

tempat terjadinya pencernaan serat kasar. Suprijatna, et al., (2008) menyatakan

bahwa pada unggas dewasa dalam keadaan normal panjang setiap seka sekitar 15

cm. Seka berfungsi sebagai organ pencernaan serat kasar dari oakan. Hal ini

sesuai dengan pendapat Yuwanta (2008) yang menyatakan bahwa pada seka

terjadi dekomposisi nutrien yang tidak tercerna dalam jumlah yang sedikit oleh
38

mikroba seka dan terjadi proses pencernaan serat kasar oleh bakteri pencerna serat

kasar.

Usus Besar, berdasarkan hasil praktikum usus besar ayam petelur betina afkir

memiliki panjang usus besar 11 cm dan memiliki berat 9 gram. Usus besar

berbentuk seperti pipa dan terletak sebelum kloaka. Usus besar berfungsi sebagai

tempat terjadinya penyerapan air. Panjang usus besar pada ayam sebesar 10 cm.

Hal ini sesuai dengan pendapat Suprijatna, et al., (2008) menyatakan bahwa pada

unggas dewasa panjang usus besar sekitar 10 cm. Usus besar berfungssi sebagai

organ penyerapan air. Hal ini seuai dengan pendapat Rahayu et al. (2011) yang

menyatakan bahwa usus besar memiliki panjang sekitar 10 cm dan berfungsi

sebagai tempat terjadinya proses penyerapan air sebelum feses dikeluarkan.

Kloaka, berdasarkan hasil praktikum kloaka ayam petelur betina afkir memiliki

panjang 4 cm dan memiliki berat 12 gram. Kloaka berbentuk bulat dan terletak di

bagian akhir saluran pencernaan. Kloaka berfungsi sebagai muara dari saluran

pencernaan, urinari dan reproduksi. Kloaka merupakan organ pengeluaran dari

limbah pencernaan ayam. Hal ini sesuai dengan pendapat Suprijatna et al. (2008)

yang menyatakan bahwa kloaka berfungsi sebagai tempat bermuaranya saluran

pencernaan, urinasi dan reproduksi. Kloaka merupakan organ akhir dari system

pencernaan unggas. Rahayu, et al., (2011) menyatakan bahwa kloaka terletak

pada bagian akhir saluran pencernaan.


39

4.2.2. Sistem pernafasan

Hasil pengamatan terhadap sistem pernafasan pada unggas sebagai

berikut:

1 Commented [MC3]: Sumber?

Ilustrasi 9. Anatomi Sistem Pernafasan

Keterangan:
1. Lubang hidung atau Glottis 4. Trachea
2. Syrinx 5. Paru-paru
3. Larynx

Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa sistem pernafasan

pada ayam terdiri atas nostril, larynx, trachea, paru-paru dan kantung udara (air

sac). Menurut Fadilah dan Polana (2011) alat pernafasan ayam terbagi menjadi

tiga bagian yaitu bagian atas (lubang hidung dan pangkal tenggorokan atau

larynx), saluran pernafasan, dan paru-paru yang berfungsi sebagai tempat

pertukaran udara yang masuk dan keluar dari tubuh ayam. Hal ini sesuai dengan

pendapat Prawira (2014) yang menyatakan bahwa saluran pernapasan unggas


40

terdiri dari lubang hidung, glottis, larynx, trachea, syrinx, bronchus, paru-paru

dan kantung-kantung udara. Commented [MC4]: Pembahasan lubang hidung mana? Lihat
tipus juga, lengkapi

Glottis, berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa glottis merupakan

saluran yang memisahkan antara saluran pernafasan atas dan bawah. Menurut

Prawira (2014), glottis terletak di pangkal trachea atau larynx. Glottis akan

menutup ketika makanan turun ke oesophagus, sehingga makanan tidak masuk ke

dalam paru-paru. Hal ini dipertambah oleh pendapat Adnin (2015) yang

menyatakan bahwa glottis akan mencegah masuknya makanan ke dalam paru-paru

karena akan bisa menutup otomatis sehingga aspirasi tidak terjadi.

Trakea, berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa trakea pada ayam

berbentuk seperti pipa memanjang yang struktur dinding-dindingnya berbentuk

seperti cincin. Prawira (2014) bahwa trachea tersusun atas cincin cartilago

melingkar berbentuk O yang mencegah collaps dari tekanan negatif paru-paru.

Hal in ditambahkan oleh Adnin (2015) bahwa trakea merupakan berfungsi sebagai

tempat keluar masuknya udara, menghubungkan laring dan faringdengan paru-

paru. Trakea dapat ditemukan di daerah dada dan tersusun atas tulang lunak yang

disebut dengan tulang rawan.

Syrinx, berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa syrinx merupakan

salah satu ciri organ saluran pernafasan pada ayam yang tidak dimiliki hewan lain.

Syrinx terletak di bagian akhir trakea dan dapat menghasilkan suara. Menurut

Prawira (2014) syrinx merupakan kotak suara pada unggas. Suara ayam dihasilkan

dari tekanan udara pada katup suara dan dimodifikasi oleh tegangan otot. Baik
41

ayam jantan maupun betina, keduanya mampu berkokok. Hal ini ditambahkan

oleh Adnin (2015) bahwa Syrinx pada unggas ada tiga tipe, yaitu Syrinx yang

terletak di daerah terminalis trachea disebut syrinx-trachealis; syrinx yang

terletak di daerah awal bronchi disebut syrinx-bronchialis; dan syrinx yang

terletak di ujung terminalis trachea dan awal bronchi yang disebut syrinx-

tracheobronchialis, syrinx pada ayam merupakan tipe yang ketiga.

Paru-paru, berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa setelah melewati

trachea udara mulai masuk ke paru-paru dimana tempat berlangsungnya

pertukaran udara. Hal ini sesuai dengan pendapat Fadilah dan Polana (2011) yang

menyatakan bahwa fungsi utama paru-paru yaitu untuk mencukupi kebutuhan

oksigen yang diperlukan untuk pembakaran dan pembentukan tenaga. Menurut

Prawira (2014) paru-paru pada unggas (ayam) memiliki parabronchi yang

merupakan perpanjangan saluran yang membuat udara dapat melewati paru-paru

dalam satu arah menuju kantung-kantung udara di luar paru-paru. Parabronchi ini

terisi oleh darah kapiler dan di tempat inilah terjadi pertukaran gas.
42

4.2.5. Sistem urinari

Hasil pengamatan terhadap sistem urinari pada unggas sebagai berikut:

1 Commented [MC5]: Sumber gambar pembanding dr mana?

Ilustrasi 10. Anatomi Sistem Urinari

Keterangan:

1. Ginjal
2. Ureter
3. Kloaka

Berdasarkan hasil praktikum dapat dikaetahui bahwa saluran urinari pada

ayam terdiri dari ginjal, ureter dan kloaka. Menurut Suprijatna et al. (2008) yang

meyatakan bahwa sistem urinari pada ayam terdiri atas sepasang ginjal yang

berbentuk besar dan panjang, terletak diantara paru-paru dan tulang punggung.

Setelah urin diproduksi oleh ginjal, urin bermuara di ureter menuuju ke kloaka

dan selanjutnya keluar bersama feses yang biasa disebut dengan ekskreta. Hal ini

sesuai dengan pendapat Yuwanta (2008) yang menyatakan bahwa terdapat sebuah
43

saluran yang menghubungkan antara ginjal dan kloaka yang disebut uretra,

berfungsi untuk mengalirkan urin dari ginjal menuju ke kloaka.

Ginjal, berdasarkan letak organ yang memfiltrasi darah menjadi urin, terletak di

belakang paru-paru dan menempel pada tulang punggung. Hal ini sesuai dengan

pendapat Suprijatna et al. (2008) yang menyatakan bahwa ginjal adalah organ

urinari yang berfungsi memproduksi urin dengan cara memfiltrasi darah dan

mereabsorpsi nutrien, terletak diantara paru-paru dan tulang punggung. Ginjal

juga dapat berfungsi sebagai pengatur keseimbangan osmosi bagi cairan tubuh

dan keseimbangan asam-basa. Hal ini sesuai dengan pendapat Yuwanta (2008)

yang menyatakan bahwa selain berfungsi memproduksi urin ginjal juga berfungsi

sebagai pengatur keseimbangan asam-basa dan keseimbangan osmosis bagi cairan

tubuh.

Ureter, merupakan saluran mengalirnya urine yang terletak diantara ginjal dan

kloaka. Hal ini sesuai dengan pendapat Suprijatna et al. (2008) yang menyatakan

bahwa ureter adalah tempat bermuaranya urin yang terletak diantara ginjal dan

kloaka. Ureter berfungsi sebagai saluran yang mengalirkan urin dari ginjal menuju

ke kloaka. Hal ini sesuai dengan pendapat Yuwanta (2008) yang menyatakan

bahwa ureter adalah sebuah saluran yang berfungsi untuk mengalirkan urin dari

ginjal menuju ke kloaka.

Kloaka, merupakan suatu tempat keluarnya sisa hasil metabolisme berupa

ekskreta. Hal ini sesuai dengan pendapat Suprijatna et al. (2008) yang

menyatakan bahwa kloaka adalah tempat keluarnya urin yang bercampur feses

unggas (ekskreta) yang merupakan sisa hasil metabolisme. Kloaka merupakan


44

sebuah saluran urinari yang terletak setelah ureter. Hal ini sesuai dengan pendapat

Yuwanta (2008) yang menyatakan bahwa kloaka merupakan tempat keluarnya

ekskreta yang terletak setelah ureter.

4.2.3. Sistem reproduksi betina

Hasil pengamatan terhadap sistem reproduksi pada unggas sebagai berikut:

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Ilustrasi 11. Anatomi Sistem Reproduksi

Keterangan:

1. Ovarium 6. Vagina
2. Infundibulum 7. Kloaka
3. Magnum
4. Isthmus
5. Uterus

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa

system reproduksi betina pada ayam yaitu terdiri dari ovarium dan oviduk.

Oviduk terdiri dari infundibulum, magnum, isthmus, uterus dan vagina. Hal ini
45

sesuai dengan pendapat Rahayu et al. (2011) yang menyatakan bahwa organ

reproduksi betina pada unggas terdiri dari ovarium dan saluran telur (oviduk).

Afiati et al. (2013) menyatakan bahwa oviduk merupakan saluran telur terdiri dari

lima saluran yaitu infundibulum, magnum, isthmus, uterus dan vagina.

Ovarium, berdasarkan fungsinya ovarium berfungsi untuk menghasilkan ovum

atau kuning telur. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahayu et al. (2011)

menyatakan bahwa ovarium berfungsi untuk menghasilkan kuning telur. Ovarium

terletak diantara rongga dada dan rongga perut pada garis punggung unggas. Hal

ini sesuai dengan pendapat Afiati et al. (2013) yang menyatakan bahwa ovarium

berada di daerah kranial ginjal yang terletak diantara rongga perut dan rongga

dada pada unggas.

Infundibulum, berdasarkan fungsinya imfundibukum sebagai tempat terjadinya

fertilisasi antara sel spermatozoa dan ovum. Hal ini sesuai dengan pendapat

Rahayu et al. (2011) menyatakan bahwa selain untuk menangkap kuning telur,

infundibulum juga berfungsi sebagai tepat bertemunya antara sel spermatozoa dan

sel kuning telur. Infundibulum merupakan saluran reproduksi betina pada ayam

yang bentuknya menyerupai corong berfungsi sebagai penangkap ovum atau

kuning telur yang telah diovulasikan oleh ovarium. Hal ini sesuai dengan

pendapat Afiati et al. (2013) yang menyatakan bahwa infundibulum berbentuk

seperti corong yang berfungsi untuk menangkap kuning telur yang diovulasikan

oleh ovarium.

Magnum, berdasarkan fungsinya berfungsi untuk mensekresikan albumen atau

putih telur yang akan membungkus kuning telur. Rahayu et al. (2011) menyatakan
46

bahwa magnum mensekresikan putih telur yang melapisi kuning telur. Hal ini

juga sesuai dengan pendapat Afiatai et al. (2013) yang menyatakan bahwa

magnum berfungsi dalam menghasilkan putih telur atau albumen yang akan

membungkus kuning telur.

Isthmus, berdasarkan fungsinya isthmus berfungsi sebagai organ reproduksi yang

berfungsi untuk mensekresikan membran cangkang telur. Hal ini sesuai dengan

pendapat Rahayu et al. (2011) menyatakan bahwa di dalam isthmus terdapat

kelenjar-kelenjar yang mensekresikan dua buah selaput putih yaitu selaput dalam

dan luar yang akan membungkus semua isi telur. Hal ini sesuai dengan pendapat Commented [MC6]: Pendapat kalian dulu baru sitasi

Afiati et al. (2013) yang menyatakan bahwa isthmus berfungsi dalam

menghasilkan membran cangkang telur.

Uterus, berdasarkan fungsinya uterus berfungsi sebagai tempat pembentukan

cangkang telur karena di dalamnya terjadi sekresi cangkang telur. Rahayu et al.

(2011) menyatakan bahwa di dalam uterus terjadi proses pembentukan cangkang

telur. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Afiati et al. (2013) yang menyatakan

bahwa uterus berfungsi mensekresikan cangkang telur yang memberi bentuk pada

telur.

Vagina, berdasarkan fungsinya vagina berfungsi untuk mensekresikan kutikula

yang melaipisi cangkang telur dan juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan

telur sementara sebelum dikelurkan melalui kloaka. Hal ini sesuai dengan

pendapat Rahayu et al. (2011) yang menyatakan bahwa vagina berperan sebagai

tempat penyimpanan telur sementara. Pori-pori cangkang dibentuk didalam

vagina. Hal ini sesuai dengan pendapat Afiati et al. (2013) menyatakan bahwa di
47

dalam vagina terjadi proses penyimpanan kutikel pada cangkang telur sehingga

terbentuk pori-pori pada cangkang telur.

Kloaka, berdasarkan fungsinya kloaka berfungsi sebagai tempat peneluran atau

pengeluaran telur. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahayu et al. (2011) yang

menyatakan bahwa saluran yang berfungsi sebagai tempat peneluran disebut

kloaka. Selain berfungsi sebagai tempat keluarnya telur, kloaka juga mempunyai

fungsi yaitu sebagai tempat keluarnya ekskreta. Hal ini sesuai dengan pendapat

Yuwanta (2008) yang menyatakan bahwa kloaka merupakan tempat keluarnya

ekskreta.
48

Commented [MC7]: 4,2,4. Sistem Reproduksi Jantan.... dan


gambar

Berdasarkan hasil praktikum didapatkan bahwa saluran reproduksi ayam

jantan terdiri dari testis, vas deferens, alat kopularis. Testis merupakan organ yang

utama dalam sistem reproduksi ternak jantan yang berjumlah sepasang. Testis

terletak di antara tulang punggung bagian dalam dan bagian dalam abdomen.

Fadillah dan Polana (2011) menyatakan bahwa Testis merupakan organ utama

sistem reproduksi ayam jantan yang berjumlah sepasang yang terletak diantara

tulang punggung bagian dalam perut. Testis memiliki bentuk seperti biji buncis

yang berfungsi menghasilkan hormon testoteron dan sel gamet jantan atau

sperma. Afiati et al. (2013) menyatakan bahwa Testis berfungsi menghasilkan

hormon androgen yaitu hormon testosteron dan menghasilkan sel gamet jantan

atau spermatozoa yang mana testis kiri berukuran lebih besar karena mengandung

sel mani atau sperma lebih banyak.

Testis, berdasarkan bentuknya testis berbentuk mirip biji buah buncis, dengan

bagian kiri lebih besar dibandingkan pada bagian kanan. Hal ini sesuai dengan

pendapat Rahayu et al. (2011) yang menyatakan bahwa testis merupakan organ

reproduksi utama yang berbentuk mirip biji buah buncis, testis sebelah kiri

memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan testis sebelah kanan

dikarenakan kandungan sperma yang lebih banyak. Testis mempunyai fungsi

yaitu memproduksi sperma dan hormon testoteron. Hal ini sesuai dengan

pendapat Afiati et al. (2013) yang menyatakan bahwa testis berfungsi

menghasilkan hormon androgen yaitu hormon testosteron dan menghasilkan sel

gamet jantan atau spermatozoa.


49

Epididimis, berdasarkan letaknya epididymis terletak pada bagian dorsal testis

dan berjumlah sepasang. Hal ini sesuai dengan pendapat Yuwanta (2008) yang

menyatakan bahwa epididimis merupakan saluran yang berjumlah sepasang yang

terletak pada bagian dorsal testis. Epididimis berfungsi sebagai tempat

penyimpanan, pematangan dan transport sperma. Hal ini sesuai dengan pendapat

Afiati et al. (2013) yang menyatakan bahwa epididimis merupakan saluran

reproduksi yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan, pematangan dan

transport sperma.

Vas deferens, berdasarkan fungsinya vas deferens berfungsi sebagai saluran

pengangkut sperma. Vas deferens dibedakan menjadi dua bagian yaitu bagian atas

yang merupakan muara dari kloaka dan bagian bawah yang merupakan

perpanjangan dari epididimis yang disebut saluran deferens yang bermuara di

kloaka. Yuwanta (2008) menyatakan bahwa Saluran vas deferens merupakan

perpanjangan dari saluran epididimis dan bermuara pada kloaka. Selama di dalam

saluran vas deferens sperma mengalami proses pematangan dan proses

penyimpanan sementara sebelum diejakulasikan. Afiati et al. (2013) menyatakan

bahwa sebelum diejakulasikan sperma dimatangkan dan disimpan sementara di

dalam saluran deferens.

Alat kopulasi, berdasarkan bentuknya alat kopulasi pada ayam jantan terdiri dari

dua papile yang memproduksi cairan transparan yang bercampur dengan sperma

pada saat kopulasi dan sebuah alat kopularis yang rudimenter. Yuwanta (2008)

menyatakan bahwa papila pada ayam memproduksi cairan transparan yang

bercampur dengan sperma saat terjadi kopulasi. Penentuan jenis kelamin anak
50

ayam dapat dilakukan dengan melihat organ kopularis ayam yang terletak pada

bagian ventral median salah satu lipatan melintang pada kloaka. Hal ini sesuai

dengan pendapat Suprijatna et al, (2005) menyatakan bahwa organ kopularis pada

ayam yang terletak pada bagian ventral median salah satu lipatan melintang pada

kloaka yang digunakan untuk pembedaan jenis kelamin pada anak ayam umur

sehari.

4.2.5. Identifikasi penyakit ternak unggas

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa

unggas yang diamati dalam keadaan sehat. Hal ini ditunjukan dari bulu yang

cerah, pergerakan lincah, mata cerah dan nafsu makan baik. Hal ini sesuai dengan

pendapat Aryanti et al. (2013) menyatakan bahwa ayam sehat memiliki gerakan

yang aktif, lincah, pertumbuhan normal, ayam berdiri tegak, memiliki nafsu

makan dan minum baik serta bulu yang kelihatan mengkilap. Nafsu makan dapat

dijadikan sebagai indicator ayam sehat. Unggas yang sehat pada umumnya

memiliki nafsu makan yang baik. Terlihat dari bagian tubuh luarnya, ayam sakit

bulunya terlihat kotor, lesu dan malas bergerak. Sesuai dengan pendapat Ariyanto Commented [MC8]: Perbaiki, sertakan juga pembahasan ttg
jenis penyakit berdasarkan penyebabnya dan tambah contoh
penyakit unggas
et al. (2013) yang menyatakan bahwa ayam yang sehat memiliki nafsu makan

yang baik. Jika ayam sakit biasanya tidak mau makan ransum.

4.3. Formulasi Ransum Ternak Unggas

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, formulasi ransum ternak unggas

dapat diamati pada tabel 2 dan 3 berikut ini :


51

Tabel 2. Hasil Organoleptik Bahan Pakan


No. Bahan Pakan Bentuk Tekstur Warna Bau
Coklat
1 Bungkil kedelai Crumble Kasar Khas
muda
2 Jagung kuning Crumble Kasar Kuning Khas
Coklat
3 Bekatul Tepung Halus Khas
muda
Kuning
4 Premix Tepung Halus Khas
coklat
5 Meat bone meal Tepung Halus Coklat Khas
6 Tepung ikan Tepung Kasar Coklat tua Khas

Berdasarkan hasil diatas, dapat diketahui bahwa ciri-ciri bungkil kedelai

adalah berbentuk crumble, bertekstur kasar, berwarna coklat muda dan berbau

khas. Jagung kuning memiliki ciri-ciri berbentuk crumble, bertekstur kasar,

berwarna kuning dan berbau khas. Bekatul memiliki ciri-ciri berbentuk tepung,

bertekstur halus, berwarna coklat muda dan berbau khas. Premix memiliki ciri-ciri

berbentuk tepung, bertekstur halus, berwarna kuning kecoklatan dan berbau khas.

Meat bone meal memiliki ciri-ciri berbentuk tepung, bertekstur halus, berwarna

cokla dan berbau khas. Tepung ikan memiliki ciri-ciri berbentuk tepung,

bertekstur kasar, berwarna coklat tua dan berbau khas. Berdasar pada data

tersebut, diketahui bahwa warna pakan ayam yang diberikan sebagian besar

berwarna kuning dan coklat. Menurut Situmorang et al. (2013) yang menyatakan

bahwa ayam lebih menyukai pakan yang berwarna cerah, oranye kuning dan

mengkilap yang menarik perhatian. Ayam lebih suka dan memilih pakan yang

berwarna terang terlebih dahulu karena ayam menggunakan indra penglihatan saat

memilih pakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Prayitno dan Sugiharto (2015)

yang menyatakan bahwa unggas lebih suka dengan pakan yang berwarna terang
52

dibanding pakan dengan warna gelap, hal ini dikarenakan unggas menggunakan

indera penglihatan dalam memilih pakan.

4.3.1. Bungkil kedelai

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa ciri-ciri bungkil kedelai

adalah berbentuk crumble atau pecahan, bertekstur kasar, berwarna coklat muda

dan berbau khas. Hal ini sesuai dengan pendapat Uhi (2006) yang menyatakan

bahwa bungkil kedelai memiliki ciri-ciri berbentuk bubuk kasar dan kering, serta

berbau harum. Bahan pakan bungkil kedelai meruapakan bahan pakan yang

berasal dari limbah industri pengolahan minyak kedelai. Hal ini sesuai dengan

pendapat Husnaeni et al. (2015) yang menyatakan bahwa bungkil kedelai

merupakan limbah hasil pengolahan ekstraksi minyak kedelai berbentuk pecahan-

pecahan.

4.3.2. Jagung gilling

Berdasarkan tabel diatas, ciri-ciri jagung giling adalah berbentuk

crumble, bertekstur kasar, berwarna kuning dan berbau khas. Hal ini sesuai

dengan pendapat Supartini dan Eka (2011) yang menyatakan jagung giling

merupakan butiran kasar yang diperoleh dari proses penggilingan jagung kering.

Pemberian jagung pada pakan unggas biasanya dalam bentuk tepung, giling atau

bersamaan dengan bahan pakan lain yang dibentuk dlaam bentuk pellet. Hal ini

sesuai dengan pendapat Uzer et al. (2013) yang menyatakan bahwa jagung

giling yang diberikan kepada ternak umumnya dalam bentuk giling dan jenis

jagung kuning.
53

4.3.3. Bekatul

Berdasarkan table diatas, dapat diketahui bahwa ciri-ciri bekatul adalah

berbentuk tepung, bertekstur halus, berwarna coklat muda dan berbau khas. Hal

ini sesuai dengan pendapat Sarbini et al. (2009) yang menyatakan bahwa bekatul

secara organoleptik memiliki ciri-ciri berwarna coklat cerah, berbau khas dan

berbentuk tepung. Bahan pakan bekatul merupakan bahan pakan yang berasal dari

limbah hasil pertanian penggilingan beras. Hal ini sesuai denga pendapat

Supartini dan Eka (2011) yang menyatakan bahwa bahwa bekatul merupakan

limbah dari proses penggilingan padi menjadi beras.

4.3.4. Premix

Berdasarkan tabel diatas, ciri-ciri premix adalah berbentuk tepung,

bertekstur halus, berwarna kuning dan berbau khas. Hal ini sesuai dengan

pendapat Uzer et a.l (2013) yang menyatakan bahwa ciri-ciri premix berbentuk

tepung, halus dan tidak berbau. Premix merupakan bahan pakan sumber mineral

bagi unggas. Hal ini sesuai dengan pendapat Safingi (2013) yang menyatakan

bahwa premix dalam ransum digunakan sebagai sumber mineral bagi ternak.

4.3.5. Meat bone meal (MBM)

Berdasarkan tabel diatas, ciri-ciri MBM adalah berbentuk tepung,

bertekstur halus, berwarna coklat dan berbau khas. Swastike (2012) menyatakan

bahwa MBM diberikan kepada ternak sebagai sumber protein dan mineral bagi

ternak, diberikan dalam bentuk tepung. Meat bone meal merupakan bahan pakan
54

yang berasal dari daging dan tulang ruminansia. Ollong et al. (2012) menyatakan

bahwa MBM memiliki ciri-ciri berbau khas, berwarna coklat kemerahan dan

berbentuk gilingan halus.

4.3.6. Tepung ikan

Berdasarkan tabel diatas, ciri-ciri tepung ikan adalah berbentuk tepung,

bertekstur kasar, berwarna coklat tua dan berbau khas. Hal ini sesuai dengan

pendapat Filawati (2008) yang menyatakan bahwa tepung ikan memiliki ciri-ciri

berwarna coklat, berbau khas ikan sebagai sumber protein hewani dalam ransum.

Tepung ikan merupakan bahan pakan sumber protein dalam ransum unggas.

Menurut Baye et al. (2015) menambahkan bahwa sumber protein dari ikan biasa

diberikan kepada ternak dalam ransum dalam bentuk tepung.

Tabel 3. Formulasi Ransum


PK EM
PK EM Kompo
No. Bahan pakan ransum ransum Harga/kg
(%) (kkal/kg) sisi (%)
(%) (kkal/kg)
Jagung
1 8,6 3.370 54 4,644 1.819,8 3780
kuning
Bungkil
2 48 2.240 12 5,76 268,8 972
kedelai
3 Bekatul 12 2.860 25 3 715 1000
4 Tepung ikan 58 2.650 3 1,74 795 210
Meat bone
5 50,4 2.150 5 2,52 107,5 550
meal
6 Premix 0 0 1 0 0 90
Total 100 17,664 2.990,6 6602
Keterangan : Jenis ransum untuk ternak : Ayam petelur
Periode : Grower
Kebutuhan PK (%) : 15 – 18
Kebutuhan EM (kkal/kg) : 2.900 – 3.000

Berdasarkan hasil diatas, didapatkan kandungan protein kasar dan energi


55

metabolisme dalam ransum masing-masing sebesar 17,66% dan 2.990,6 kkal/kg.

Energi metabolisme dalam ransum sebagian besar berasal dari jagung dan bekatul,

sedangkan protein kasar berasal dari bungkil kedelai, tepung ikan dan meat bone

meal. Hal ini sesuai dengan pendapat Sarno dan Dewi (2007) yang menyatakan

bahwa bahan pakan ayam petelur umumnya menggunakan jagung giling, pollard

dan bekatul sebagai bahan pakan sumber energi, sedangkan sumber protein adalah

tepung ikan, bungkil kedelai dan meat bone meal. Kandungan protein dan energi

dalam ransum sudah memenuhi kebutuhan nutrisi ayam petelur fase grower . Hal

ini sesuai dengan pendapat Muriyasa et al. (2010) yang menyatakan bahwa

kandungan protein kasar dan energi metabolismee dalam ransum ayam petelur

fase grower masing-masing sebesar 17 – 18 % dan 2.750 – 3.000 kkal/kg.

Penggunaan bahan pakan jagung, bungkil kedelai, bekatul, tepung ikan,

meat bone meal dan premix dalam ransum masing-masing sebesar 54%, 12%,

25%, 3%, 5% dan 1%. Wattiheluw et al. (2014) menyatakan bahwa penggunaan

jagung, bekatul, bungkil kedelai, tepung ikan dan premix dalam ransum dapat

mencapai masing-masing sebesar 57%, 20%, 26%, 9%, dan 1%. Penggunaan

tepung ikan dalam ransum umumnya hanya sedikit, hal ini dikarenakan harga

tepung ikan yang mahal. Harga yang didapat untuk 1 kilogram ransum dengan

penyusun bahan pakan seperti diatas sebesar Rp. 6602. Harga tersebut jauh lebih

murah dibanding dengan harga ransum ayam petelur fase grower produksi pabrik.

Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur (2016) menyatakan bahwa harga ransum

ayam petelur pabrikan pada tanggal 21 April 2016 sebesar Rp. 7.700/kg.
56
57

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa

ternak unggas diklasifikasikan menjadi unggas darat dan unggas darat. Perbedaan

keduanya terletak pada bentuk paruh, selaput pada kaki, bulu yang berminyak dan

bentuk pakan dikonsumsi. Sistem pencernaan pada unggas yaitu terdiri dari paruh,

esofagus, tembolok, proventrikulus, ventrikulus, usus halus, seka, usus besar dan

kloaka. Sistem pernafasan pada ayam yaitu terdiri dari lubang hidung, glottis,

larynx, trachea, syrinx, bronchus, paru-paru dan kantung-kantung udara. Sistem

reproduksi jantan pada ayam terdiri dari testis, epididims, vas deferen dan alat

kopulasi. Sistem reproduksi betina pada ayam terdiri dari ovarium, infundibulum,

magnum, isthmus, uterus dan vagina. Sistem urinari pada ayam yaitu terdiri dari

sepasang ginjal, ureter dan kloaka. Hal yang harus diperhatikan dalam penyusun

ransum adalah kandungan nutrisi bahan pakan, harga bahan pakan, jenis unggas

dan umur unggas.

5.2. Saran

Sebaiknya saat praktikum dilakukan dengan hati-hati, teliti dan tetap agar

tidak terjadi kesalahan atau kekeliruan selama praktikum sehingga prakitkum

dapat berjalan dengan lancar.


58

DAFTAR PUSTAKA

Afiati, F., Herdis dan S. Said. 2013. Pembibitan Ternak dengan Inseminasi
Buatan. Penebar Swadaya, Jakarta.

Ardi, N. A., N. Iriyanti, dan M. Mufti. 2013. Pemanfaatan tepung kunyit dan
sambiloto dalam pakan terhadap konsumsi pakan dan pertambahan
bobot badan broiler. J. Ilmiah Peternakan 1 (2) : 471 – 478.

Aryanti, F., M. B. Aji, dan N. Budiono. 2013. Pengaruh pemberian air gula merah
terhadap performans ayam kampung pedaging. J. Sains Veteriner 31
(2) : 156 - 165.

Baye, A., F. N. Sompie, B. Bagau dan R. Mursye. 2015. Penggunaan tepung


limbah pengalengan ikan dalam ransum terhadap performa broiler. J.
Zootek. 35 (1) : 96 – 105.

Budiansyah, A. 2007. Performan Ayam Broiler yang diberi ransum yang


mengandung bungkil kelapa yang difermentasi ragi tape sebagai
pengganti sebagian ransum komersial. J. Ilmiah Ilmu-Ilmu
Peternakan. 13 (5) : 260 – 268.

Dewansyah, A. 2010. Efek Suplementasi Vitamin A dalam Ransum Terhadap


Produksi dan Kualitas Telur Burung Puyuh. Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret. (Skripsi).

Fadilah, R. dan A. Polana. 2011. Mengatasi 71 Penyakit pada Ayam. Agromedia


Pustaka, Jakarta.

Filawati. 2008. Performans ayam pedaging yang diberi ransum mengandung


silase limbah udang sebagai pengganti tepung ikan. J. Ilmiah Ilmu-
ilmu Peternakan. 10 (3) : 134 – 143.

https://www.disnak.jatimprov.go.id diakses pada tanggal 30 April 2016 pukul


06.08 WIB.

https://www.omlet.co.uk. diakses pada tanggal 20 April 2016 pukul 18.45 WIB.

Husnaeni, Sunarso, dan K. N. Limbang. 2015. Perkiraan pasokan nitrogen mikrob


pada domba ekor tipis yang diberi bungkil kedelai terproteksi tanin. J.
Veteriner. 16 (2) : 212 - 219.

Kholis, S dan M. Sitanggang. 2008. Ayam Arab dan Poncin Petelur Unggul.
AgroMedia Pustaka, Tanggerang.
59

Marginingtyas, E., W. F. Mahmudy dan Indriati. 2015. Penentuan komposisi


pakan ternak untuk mememnuhi kebutuhan nutrisi ayam petelur
dengan biaya minimum menggunakan algoritma genetika. 2 (5) : 12-
17.

Muriyasa, I. M., E. Puspani dan I. G. N. Sumatra. 2010. Peningkatan efisiensi


produksi ayam petelur melalui peningkatan kenyamanan kandang di
Desa Bolangan. Udayana Mengabdi. 9 (2) : 55 - 58.

Murwani R. 2010. Broiler Modern. Widya Karya. Semarang.

Nugraha, R. N. 2012. Optimalisasi formulasi pakan ternak terhadap ayam


pedaging dengan menggunakan metode linear progamming.
Univeritas Dipoegoro, Semarang. (Skripsi).

Ollong, A R. Whandoyo, dan E, Yuny. 2012. Penampilan produksi ayam broiler


yang diberi pakan mengadung minyak buah merah pada aras yang
berbeda. Buletin Peternakan. 36 (2) : 14 – 18.

Pratama, J. A. 2008. Nilai Energi Metabolis Ransum Ayam Broiler Periode


Finisher yang Disuplementasi Dengan DL-Metionin. (Skripsi).

Prayitno, D. S., dan Sugiharto. 2015. Kesejahteran dan metode penelitian tingkah
laku unggas. Universitas Diponegorom Semarang. (Skripsi).

Rahayu, I., T. Sudaryani, H. Santosa. 2011. Panduan Lengkap Ayam. Penebar


Swadaya, Jakarta.

Rasyaf, M. 2008. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.

Rasyaf, M. 2011. Beternak Ayam Kampung. Penebar Swadaya, Jakarta.

Safingi, A., M. Mufti dan I. Ning. 2013. Penggunaan berbagai jenis probiotik
dalam ransum ayam arab terhadap konsumsi pakan dan income over
feed cost. J. Ilmiah Peternakan. 1 (3) : 970 – 975.

Sarbini, D., R. Setyaningrum dan K. Pramudya. 2009. Uji fisik, organoleptik dan
kandungan zat gizi biscuit tempe-bekatul dengan fortifikasi Fe dan Zn
untuk anak kurang gizi. J. Penelitian Sains dan Teknologi. 10 (1) : 18
– 26.

Santoso, H., T. Sudaryani. 2015. Panduan Praktis Pembesaran Ayam Pedaging.


Penebar Swadaya, Jakarta.
60

Sarno dan H. Dewi, 2007. Sistem pengadaan pakan ayam petelur di perusahaan
Populer Farm desa Kuncen Kec. Mijen Kab. Semarang. J. Mediagro. 3
(1) : 49 - 58.

Sihombing, G., W. Pratitis dan A. Dewangga. 2010. Pengaruh penggunaan tepung


cacing tanah (Lambricus rubellus) terhadap kecernaan bahan kering
dan bahan organik ransum domba lokal jantan. Caraka Tani. 25 (1):
80 – 86.

Situmorang, N. A., L. D. Mahfudz, dan U, Atmomarsono. 2013. Pengaruh


pemberian tepung rumput laut dalam ransum terhadap efisiensi
penggunaan protein ayam broiler. J. Animal Agricultural 2 (2) : 49 –
56.

Sugiharto, R.E. 2009. Meningkatkan Keuntungan Beternak Puyuh. AgroMedia


Pustaka, Tanggerang.

Suharno, B. dan K. Amri. 2010. Panduan Beternak Itik secara Intensif. Penebar
Swadaya, Jakarta.

Suharno, B. dan T. Setiawan. 2012. Beternak Itik Petelur di Kandang Baterai.


Panebar Swadaya, Jakarta.

Sujionohadi, K dan A.I. Setiawan. 2013. Ayam Kampung Petelur. Penebar


Swadaya, Jakarta.

Supartini, N. Dan E. Fitasari. 2011. Penggunaan bekatul fermentasi “Aspergillus


niger” dalam pakan terhadap karakteristik organ dalam ayam
pedaging. Buana Sains. 11 (2) : 127 - 136.

Suprijatna, E., U. Atmomarsono, R. Kartasudjana. 2008. Ilmu Dasar Ternak


Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Susilorini, T. E., M. E. Sawitri dan Muharlien. 2008. Budi Daya 22 Ternak


Potensial. Penebar Swadaya, Jakarta.

Swasike, W. 2012. Efektifitas antibiotic herbal dan sintetik pada pakan ayam
broiler terhadap performance, kadar lemak abdominal dan kadar
kolesterol. Prossiding Seminar Nasional 3 tahun 2012, Universitas Commented [MC9]: Lihat cara penulisan dapus prosiding di
KIM
Wahid Hasyim, Semarang.

Syibli, M. 2014. Manual Penyakit Unggas. Direktorat Jendral Peternakan dan


Pertanian, Jakarta.

Tamalludin, F. 2014. Panduan Lengkap Ayam Broiler. Penebar Swadaya, Jakarta.


61

Tumbilung, W., L. Lambey., E. Pudjihastuti dan E.Tangkere. 2014. Sexing


berdasarkan morfologi burung puyuh (Coturnix coturnix japonica). J.
Zootek. 34 (2) : 170 - 184.

Uhi, H. T. 2006. Perbandingan suplemen katalitik dengan bungkil kedelai


terhadap penampilan domba . J. Ilmu Ternak. 6 (1) : 1 – 6.

Uzer, F., I. Ning, dan Roesdiyanto. 2013. Penggunaan pakan fungsional dalam
ransum terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan ayam
broiler. J. Ilmiah Peternakan. 1 (1) : 282 – 288.

Villa, Y.N., I.D. Sartika., A.N. Al Baarri. 2014. Analisis sifat-sifat organoleptik
burger yang berbahan dasar daging tiktok dan daging ayam. 3 (2) : 7 –
11.

Wahid, A. 2013. Super Lengkap Beternak Itik. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Wattiheluw, M. J., D. U. Udju, A. H. Yuli, W. T. 2014. Performa ayam broiler


yang diberi fermentasi kotoran ayam layer dalam ransum. J.
Agrinimal 4 (2) : 83 – 88.

Yaman, A. 2012. Ayam Kampung. Depok, Agriflo.

Yuwanta, T. 2008. Dasar Ternak Unggas. Kanisius, Yogyakarta.


62

LAMPIRAN

Lampiran 1. Pengenalan Jenis Commented [MC10]: Keseluruhan di scan, ttg perbedaan


unggas darat dan air juga. Diktatnya saja discan

Ayam Jantan Ayam Betina

Puyuh Jantan Puyuh Betina

Itik Jantan Itik Betina


63

Lampiran 2. Dokumentasi Anatomi


64

Lampiran 3. Perhitungan Manual Ransum Commented [MC11]: Perhitungan manualnya mana?

PK EM
PK EM Kompo
No. Bahan pakan ransum ransum Harga/kg
(%) (kkal/kg) sisi (%)
(%) (kkal/kg)
Jagung
1 8,6 3.370 54 4,644 1.819,8 3780
kuning
Bungkil
2 48 2.240 12 5,76 268,8 972
kedelai
3 Bekatul 12 2.860 25 3 715 1000
4 Tepung ikan 58 2.650 3 1,74 795 210
Meat bone
5 50,4 2.150 5 2,52 107,5 550
meal
6 Premix 0 0 1 0 0 90
Total 100 17,664 2.990,6 6602
65

Lampiran 4. Dokumentasi Ransum