Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

KETERAMPILAN KLINIK PRAKTIK KEBIDANAN II


“Obat-Obatan dan Cairan Dalam Praktik
Kebidanan & Pendokumentasian Keterampilan
Dasar Praktik Klinik”

OLEH:
KELOMPOK 7
DYAH AYU SANTOSO (02171265)
RAHMAWATI (02171275)
RIRIN (02171277)

DOSEN PEMBIMBING
Andi Kasrida Dahlan S. ST. M. Keb
AKBID MUHAMMADDIYAH PALOPO
TAHUN AJARAN 2018
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah. Puji syukur milik Allah SWT. Hanya karena izin-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Tak lupa kami
panjatkan salawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw.
beserta keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh insan yang dikehendaki-
Nya.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas kelompok mata
kuliah KETERAMPILAN KLINIK PRAKTIK KEBIDANAN II yang
berjudul “OBAT-OBATAN DAN CAIRAN DALAM PRAKTIK
KEBIDANAN DAN PENDOKUMENTASIAN KETERAMPILAN DASAR
PRAKTIK KLINIK”
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Karena itu
kami mengharapkan adanya saran dan kritik yang bersifat membangun demi
perbaikan makalah mendatang. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat
dan memenuhi harapan berbagai pihak. Aamiin

Palopo, 8 Maret 2018

Kelompok 7
Daftar isi
Kata Pengantar ........................................................................................................... ii
Daftar Isi ....................................................................................................................... iii
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................................. 2
BAB II Pembahasan
2.1 Obat-Obatan Dalam Praktik Kebidanan .............................................................. 3
2.2 Cairan Dalam Praktik Kebidanan ...................................................................... 11
2.3 Contoh Pendokumentasian Keterampilan Dasar Praktik Klinik ........................ 23
Bab III Penutup
3.1 Kesimpulan .......................................................................................................... 26
3.2 Saran ................................................................................................................... 26
Daftar Pustaka .............................................................................................................. 27
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Obat-obatan kebidanan yang sering digunakan biasanya obat-obatan
yang berhubungan dengan kehamilan, sehingga dalam memberi terapi
suatu penyakit harus diperhatikan ada tidaknya pengaruh terhadap
kehamilan tersebut, karena bila obat berpengaruh akan berakibat pada
gangguan perkembangan pada bayi dan anak kecil sampai usia lima tahun.
Obat-obatan yang biasa digunakan selama masa kehamilan dan
menyusui digolongkan menjadi 3 daftar yaitu :
1) Daftar obat yang tidak boleh diberikan pada wanita hamil
Yaitu obat yang mempunyai khasiat teratogen yaitu obat yang pada
dosis terapeutis untuk wanita hamil dapat mengakibatkan cacat pada
janin seperti kelainan pada mata, telinga dan jantung, juga pada
saluran pencernaan.
2) Daftar obat yang dianggap aman bagi wanita hamil
Yaitu obat yang setelah digunakan dalam jangka waktu panjang tidak
menimbulakan efek buruk pada janin.
3) Daftar obat yang boleh diminum ibu selama menyusui
Yaitu obat yang tidak atau hanya sedikit diekskresikan ke air susu ibu.
Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia
secara fisiologis kebutuhan ini memiliki proporsi besar dalam bagian
tubuh dengan hampir 90% dari total berat badan. Sementara itu, sisanya
merupakan bagian padat dari tubuh, secara keseluruhan, persentase cairan
tubuh berbeda berdasarkan usia. Persenatse cairan tubuh bayi baru lahir
sekitar 75% dari total berat badan, pria dewasa 57% dari total berat badan,
wanita dewasa 55% dari total berat badan, dan dewasa tua 45%dari total
berat badan. Selain itu, persentase jumlah cairan tubuh yang bervariasi
juga bergantung pada lemak dalam tubuh dan jenis kelamin. Jika lemak
dalam tubuh sedikit, maka cairan tubuh pun lebih besar. Wanita dewasa
mempunyai jumlah cairan tubuh lebih sedikit dibanding pria, karena
jumlah lemak dalam tubuh wanita dewasa lebih banyak dibandingkan
dengan lemak dalam tubuh pria dewasa.
1.2. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja jenis obat-obatan dalam praktek kebidanan ?
2. Cairan apa saja yang digunakan dalam praktek kebidanan?
3. Berikan contoh pendokumentasian keterampilan dasar praktik klinik ?
1.3. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui jenis obat-obatan dan cairan dalam praktek kebidanan
2. Untuk mengetahui pendokumentasian yang benar dalam keterampilan
dasar praktik klinik
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. OBAT-OBATAN DALAM PRAKTIK KEBIDANAN
(Fitrianingsih, Dwi, S, Farm., Apt, Drs. H Zulkoni,. M Si. 2009)
2.1.1. Obat Anti Infektikum
1. Amoxicillin
Indikasi
Amoksilina efektif terhadap penyakit:
a. Infeksi lain:septikimia, endokard Infeksi pernafasan kronik dan
akut: pneumonia, faringitis (tidak untuk farongitis gonore),
bronchitis, laryngitis.
b. Infeksi saluran cerna:disentri basiler.
c. Infeksi kandungan kemih:gonore tiadak berkomplikasi, uretritis,
sistitis, pielonefritis.
d. infek lain: septikemia, endokarditis.
2. Ampicillin
Indikasi
Ampisilina gunakan untuk pengobatan:
a. Infeksi saluran pernapasan, seperti:
peneumonia,faringitis,bronchitis, laryngitis.
b. Infeksi saluran pencernaan, seperti shigellosis, salmonellosis.
c. Infeksi saluran kemih dan kelamin, seperti gonore (tanpa
komplikasi), uretritis, sistitis, pielonefritis
d. Infeksi kulit, dan jaringan kulit.
e. Septikemia, meningitis.
3. Ciprofloxacin
Indikasi
Untuk pengobatan
a. Infeksi yang di sebabkan oleh kuman pathogen yang peka
terhadap siprofloksasin pada saluaran kemih kecuali prostatitis;
uretritis dan servitis gonore.
b. Infeksi saluran pernafasan kecuali pneumonia oleh streptokokus
c. Infeksi kulit dan jaringan lunak
d. Infeksi tulang dan sendi
e. Infeksi saluran pencernaan termasuk demam tifoid dan
paratifoid.
4. Metronidazole
Indikasi
Metronidazol terutama digunakan untuk amoebiasis intestinal dan
extra intestinal dan juga trichomoniasi, giardiasis, lambliasis,. Juga
untuk pencegahan dan pengobatan infeksi bakteri anaerobic.
5. Acyclovir
Indikasi
Pengobatan inveksi virus herpes simplex pada kulit dan selaput
lender, termaksud herpes genitalis inisial dan rekuren. Pengobatan
infeksi herpes zoster varicella.
6. Cotrimoxasol
Indikasi
a. Infeksi saluran kemih seperti pielenofritis dan pielitis oleh
kuman yang sensitive, seperti Escherichia coli, klebsiella,
enterobacter dan proteus.
b. Infeksi saluran pencernaan terutama oleh kuman salmonella dan
shigella, seperti tifoid, paratifoid dan disentri basiler.
c. Infeksi saluran pernafasan seperti bronchitis akut dan kronis
oleh kuman H. influenza
Infeksi lain seperti toxoplasmosis dan infeksi lainnya dimana
obat terpilih tidak dapat diberikan.
7. Spiramycin
Indikasi
a. Inamycin digunakan untuk infeksi saluran nafas, seperti
tonsillitis, faringitis, bronchitis, pneumonia, sinusitis dan otitis
media
b. Infeksi pada kulit
c. Infeksi pada telinga
d. Infeksi-infeksi lain yang disebabkan oleh bakteri yang sensitive
terhadap spiramisina
8. Nystasin
Indikasi
Pengobatan kandidiasis pada rongga mulut dan kondidiasis
intestestinal.
9. Valaciclovir
Indikasi
a. Herpes zoster
b. Herpes simplex (pada kulit bayi membrane mukosa, termaksuk
herpes genital awal dan kambuhan).
10. Metronidazole, nystasin
Indikasi
NEO GYNOXA ovula diindikasikan untuk pengobatan infeksi
campuran vagina yang disebabkan oleh Tricomonas vaginalis dan C.
albicans.
11. Doxycycline
Indikasi
a. Infeksi saluran pernafasan: Imnfeksi saluran pernapasan bahwa
termasuk pneumonia yang disebabkan Haemophilus influenza,
Klebsiella sp., S. pneumonia
b. Pneumonia yang disebabkan oleh Mycoplasma pneumonia.
c. Pengobatan bronkitis dan sinusitis kronis
d. Infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh klebsiella,
Enterobacter, S. faecalis, E. coli.
e. Infeksi kulit : acne vulgaris.
f. Penyakit karena hubungan seksual
2.1.2. Anti emetikum
1. Domperidone
Indikasi
a. Sindroma dyspepsia fungsional. Tidak dianjurkan untuk
pemberian jangka lama.
b. Mual dan muntah yang disebabkan oleh pemberian levodopa
dan bromokriptin lebih dari 12 minggu.
c. Mual dan muntah akut. Tidak dianjurkan pencegahan rutin pada
muntah setelah operasi.
d. Pemakaian pada anak-anak tidak dianjurkan, kecuali untuk mual
dan muntah pada kemoterapi kanker dan radioterapi.
2. Metoclopramidehcl
Indikasi
a. Meringankan/mengurangi gastroparesis akut dan yang kambuh
kembali
b. Menghilangkan rasa panas sehubungan dengan reflux
esophagitis
c. Menanggulangi mual dan muntah metabolic karena obat atau
sesudah operasi
3. Promethazine
Indikasi
Mengurangi rasa mual dan mencegah muntah yang disebabkan
gastroenteritis, vertigo yang disebabkan oleh maniere sindrom dan
labirintitis, mabuk perjalanan (motion sickness) dan mual setelah
operasi
4. Prathiazinetheoclate, pyridoxinehcl
Indikasi
Untuk mencegah muntah-muntah setelah operasi, muntah-muntah
pada masa kehamilan dan muntah-muntah dalam perjalanan.
2.1.3. Antipiretik analgetik
1. Asam mefenamat
Indikasi
Meredakan nyeri ringan sampai sedang sehubungan dengan sakit
kepala, sakit gigi, dismenore primer, termasuk nyeri karena trauma,
nyeri otot, dan nyeri sesudah operasi.
2. Paracetamol
Indikasi
a. Sebagai antipiretik/analgesic,termaksuk bagi pasien yang tidak
tahan asetosal.
b. Sebagai analgesic,misalnya untuk mengurangi rasa nyeri pada
saki kepala,sakit gigi,sakit waktu haid dan sakit pada otot.
c. Menurunkan demam pada influenza dan setelah waksinasi.
3. Lidocain HCL
Indikasi
local anesthetika
4. Asam asetilsalisilat (acetosal)
5. Natrium diklofenat
Indikasi
Pengobatan jangka pendek untuk kondisi akut dan kronis pada gejala
gejala:
a. Rheumatoid arthritis.
b. Osteoartrutis
c. Angkilosing spondilitis
2.1.4. Anti perdarahan
1. Methylergometrin
Indikasi
a. penaganan aktif pada tahap 3 kelahiran.
b. perdarahan uterin yang terjadi setelah pemisahan plasenta,uterin
atony
c. subinvolusi dari puerperal uterus ,lochiometra .
d. pendarahan uterin karena aborsi.
2. Tranexamid acid
Indikasi
a. untuk fibrionolisis local seperti:epistaksis,prostatektomi,konisasi
serviks.
b. Edema angioneurotik herediter
c. Perdarahan abnormal sesudah oprasi
d. Perdarahan sesudah operasi gigi pada pen derita hemophilia
2.1.5. Obat system endokrin
1. Levonogestrel, ethynylestradiol
Indikasi
Kontrasepsi oral
2. Lynestrenol
3. Progesterone
Indikasi
a. Pengobatan perdarahan uterus disfungsional (PUD) atau sebagai
penyokong fase liteal pada konsepsi.
b. Pengobatan sindron premenstrual
4. Noretesteron
Indikasi
Pendarahan disfungsional, amenorea primer dan skunder, sindroma
pre-menstruasi, mastopati siklis, pengaturan waktu menstruasi,
endometriosis.
5. Clomifenecitrat
Indikasi
Infertilitas pada wanita.
Menambah spermatogenesis pada penderita oligosperma.
2.1.6. Obat saluran pencernaan
1. Loperamide
Indikasi
Lodia diindikasikan untuk diare non spesifik akut dan kronik.
2. Cimetidine
Indikasi
Simetidin di gunakan untuk penderita tukak lambung dan duodenum,
reflukesopagitis dan keadaan hipersekresi patologis ,seperti sindroma
zollinger-ellison.
3. Bisacodyl
Indikasi
Digunakan untuk pasien yang menderita konttipasi.
Untuk persiapan prosedur diagnostic, terapi sebelum dan sesudah
operasi dan kondisi untuk mempercepat defekasi ,bisacodyl harus
digunakan dengan pengawasan medis
4. Ranitidine
Indikasi
Ranitidine di gunakan untuk pengobatan tukak lambung dan
dupdenum akut ,refluks esophagus ,keadaan hipersikresi asam
lambung patologis seperti pada sindroma zolliger- Ellison
,hipersekresi pasca bedah .
5. Alumunium hydroside, magnesium carbonate, calcium carbonat
Indikasi
Mengurangi gejala yang berhubungan dengan kelebihan asam
lamung,tukak lambung,gastritis,tukak usus 12 jari,dengan gejala
gejala mual ,nyeri lambung,nyeri uluh hati,perasaan penuh pada
lambung.
2.1.7. Dermatologi
1. Hydrocortisone
Indikasi
Menekan reaksi radang pada kulit yang bukan disebabkan infeksi
seperti eksim dan elergi kulit seperti : dermatitis atropic ,dermatitis
kontak , dermatitis alergi , priritis anogenital dan neuro dermatitis.
2. Ketoconazole
Ketakonazole krim diindikasikan untuk pengobatan topical pada
pengobatan infeksi kulit seperti :
• Tinea karporis
• Tinea kruris
• Tinea manus
• Tinea pedis
2.1.8. Obat saluran pernafasan
1. Dextromethorphan
Indikasi
Dekstrometrofan sangat efektif untuk pengobatan batuk kering yang
kronis dan batuk yang di sebabkan iritasi tenggorokan dan bronkus.
2. Salbutamol
Indikasi
Untuk meringankan gejala sesak nafas pada penderita asma
bronchial,bronchitis kronis dan emfisema.
3. Ambroxol
Indikasi
Diindikasikan untuk penyakit saluran pernafasan akut dan kroniks
yang di sertai dengan sekresi bronchial yang abnormal,terutama pada
serangan akut dari bronchitis kronis,asma bronchial ,bronchitis
asmatik,pengobatan sebelum dan sesudah oprasi.serta pada
perawatan intensif untuk menghindari komplikasi paru paru.
2.1.9. Obat saluran urogenital
1. Oxytocin
Indikasi
Oxytocin akan meningkatkan kontraksi uterus, agar proses
persalinan dapat berjalan lebih cepat untuk kepentingan ibu dan/atau
fetus.
Dapat digunakan untuk:
a. Induksi persalinan
b. Stimulasi atau memperkuat kontraksi persalian, seperti pada
inertia uteri
c. Terapi tambahan pada abortus inkomplit, ataupun abortus yang
terjadi pada trimester II
2.1.10. Vitamin
1. Asam folat
Indikasi
Asam folat berperan dalam pertumbuhan janin yang normal serta
membantu memelihara kesehatan tubuh.
2. Ext. placentae, cyanocobalamin
3. Zat besi
Indikasi
1. Untuk pengobatan pada defisiensi zat besi laten dan anemia
(gejala defisiensi zat besi)
2. Terapi pencegahan defisiensi zat besi selama masa kehamilan.
4. Calsiumlactate
Indikasi
Membantu memenuhi kebutuhan kalsium.
5. Dososahexanoicacis (DHA)
Indikasi
Memelihara kesehatan wanita hamil,menyusui.
2.2. CAIRAN DALAM PRAKTIK KEBIDANAN
1. Kebutuhan Cairan Dan Elektrolit
Pengertian kebutuhan cairan dan elektrolit
Kebutuhan cairan dan elektrolit ialah proses dinamik lantaran
metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespon
terhadap stressor fisiologis & lingkungan. Cairan dan elektrolit saling
berhubungan, ketidakseimbangan yang berdiri sendiri jarang terjadi
dalam bentuk kelebihan atau kekurangan.
Kebutuhan Cairan Tubuh
Pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh diatur oleh
ginjal, kulit, paru-paru dan gastrointestinal
a. Ginjal
Ginjal merupakan organ yang memiliki peran cukup besar dalam
pengaturan kebutuhan cairan dan, elektrolit.
b. Kulit
Kulit merupakan bagian penting dalam pengaturan cairan yang terkait
dengan proses pengaturan panas.
c. Paru-paru
Organ paru-paru berperan dalam pengeluaran cairan dengan
menghasilkan insensible water loss ±400ml/hari.
d. Gastrointestinal
Gastrointestinal merupakan organ saluran pencernaan yang berperan
dalam mengeluarkan cairan melalui proses penyerapan dan
pengeluaran air. Dalam keadaan normal, cairan yang hilang dalam
system ini sekitar 100-200 ml/hari.
2. Kebutuhan Cairan Tubuh Bagi Manusia
Kebutahan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara
fisiologis kebutuhan ini memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh
dengan hampir 90% dari total berat badan.
Cara Perpindahan Cairan
a) Difusi
Difusi merupakan bercampurnya molekul-molekul dalam cairan,
gas, atau zat padat secara bebas atau acak.
b) Osmosis
Osmosis adalah proses perpindahan pelarut murni (seperti Air)
melalui membrane semipermeabel, biasanya terjadi dari larutan dengan
konsentrasi lebih pekat, sehingga larutan yang berkonsentrasi rendah
volumenya akan berkurang, sedangkan larutan yang berkonsentrasi
lebih tinggi akan bertambah volumenya.
c) Transpor Aktif
Transpor aktif merupakan gerak zat yang akan berdifusi dan
berosmosis yang memerlukan aktivitas metabolic dan pengeluaran
energy untuk menggerakkan berbagai materi guna menembus
membrane sel.
Faktor Yang Berpengaruh Dalam Pengaturan Cairan
Proses pengaturan cairan dipengaruhi oleh 2 faktor yakni:
a) Tekanan Cairan
Proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan
b) Membran semipermiabel
merupakan penyaringan agar cairan yang bermolekul besar tidak
tergabung
3. Jenis Cairan
Cairan zat gizi (nutrien)
Pasien yang istirahat di tempat tidur memerlukan kalori 450 kalori setiap
harinya. Cairan nutrient dapat diberikan melalui intravena dalam bentuk
karbohidrat, itrogen dan vitamin untuk metabolisme. Kalori yang terdapat
dalam cairan nutrient dapat berkisar antara 200-500 kalori perliter. Cairan
nutrient tediri atas:
a) Karbohidrat dan air, contoh: dektrosa (glukosa), levulosa (fruktusa),
serta invert sugar (½ dekstrosa dan ½ levulosa).
b) Asam Amino, contoh: Amigen, Aminosol,, dan travitamin.
c) Lemak, contoh: lipomul dan liposyn.
Blood Volume Expanders
Blood volume expanders merupakan jenis cairan yang berfungsi
meningkatkan volume darah sesudah kegilangan darah atau plasma.
4. Masalah dalam pemenuhan kebutuhan cairan
Hipovolume atau dehidrasi
Kekurangan cairan eksternal dapat terjadi karena penurunan asupan cairan
dan kelebihan pengeluaran cairan.
Ada tiga kekurangan volume cairan eksternal atau dehidrasi, yaitu:
1) Dehidrasi isotonic, terjadi jika kekurangan sejumlah cairan dan
elektrolitnya yang seimbang
2) Dehidrasi hipertonik, terjadi jika kehilangan sejumlah air yang lebih
banyak dari pada elektrolitnya
3) Dehidrasi hipotonik, terjadi jika tubuh lebih banyak kehilangan
elektrolitnya dari pada air
5. Kebutuhan Elektrolit
Elektrolit terdapat pada seluruh cairan tubuh. cairan tubuh mengandung
oksigen, nutrient, dan sisa metabolisme (seperti karbondioksida), yang
semuanya disebut dengan ion.
6. Jenis Cairan Elektrolit
Cairan elektrolit adalah cairan saline atau cairan yang memiliki sifat
bertegangan tetap. Cairan saline terdiri dari:
1) Cairan hipotonik:
osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion
Na+ lebih rendah di bandingkan serum), maka larut dalam serum dan
menurunkan osmolaritas serum. Sehingga cairan ditarik dari dalam
pembuluh darah menuju ke luar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan
berpindah dari osmolaritas yang rendah ke osmolaritas lebih tinggi),
sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada kondisi
sel mengalami dehidrasi, contohnya pada pasien cuci darah (dialisis)
dalam terapi diuretic, serta pada pasien hiperglikemia (dengan kadar
gula darah tinggi) dengan gangguan ketoasidosis diabetic. Komplikasi
yang membahayakan ialah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam
pembuluh darah ke sel, menyebabkAn kolaps kardiovaskular &
peningkatan tekanan intracranial( didalam otak) pada sebagian orang.
misalnya ialah NaCl 45% & Dekstrosa 2,5%
2) Cairan isotonik:
osmolaritas (merupakan tingkat kepekatan) cairannya mendekati
serum (merupakan bagian cair dari komponen darah), maka terus
berada di dalam pembuluh darah. Berguna pada pasien yang mengalami
hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, maka tekanan darah konsisten
menurun). Mempunyai resiko terjadinya overload (kelebihan cairan),
khususna pada penyakit gagal jantung kongestif & hipertensi. misalnya
iyalah cairan Ringer-Laktat (RL), & normal saline/larutan faram
fisiologis (NaCl 0,9%).
3) Cairan hipertonik:
osmolaritasnya lebih tinggi di bandingkan serum, maka “menarik”
cairan & elektrolit dari jaringan & sel ke dalam pembuluh darah. Dapat
mengurangi edema ( bengkak), menstabilkan tekanan darah &
meningkatkan produksi urin. Penggunaannya kontradiktif dengan cairan
hipotonik. Contohnya NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5% , Dextrose
5% + Ringer-Lactate, Dextrose 5% + NaCl 0,9%, product darah
(darah),& Albumin.
7. Tindakan Untuk Mengatasi Masalah Dalam Pemenuhan Kebutuhan
Cairan Dan Elektrolit
1. Pemberian cairan melalui infuse
Pemberian cairan melalui infuse merupakan tindakan memasukkan
cairan melalui intravena yang dilakukan pada pasien dengan bantuan
perangkat infuse. Tindakan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
cairan dan elektrolit, serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian
makanan.
Persiapan Bahan dan alat:
1) Standar infuse
2) Prangkat infuse
3) Cairan infuse
4) Jarum infuse/abocath atau sejenisnya sesuai dengan ukuran
5) pengalas
6) tourniquet/pembendung
7) kapas alkohol 70%
8) plester
9) gunting plester
10) kasa steril
11) betadien
12) sarung tangan
Prosedur kerja:
1) Cuci tangan
2) jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan
dilaksanakan
3) Hubungkan cairan dan prangkat infuse dengan menusukkan ke
dalam botol infuse (cairan)
4) Isi cairan kedalam prangkat infuse dengan menekan bagian
ruang tetesan hingga ruangan tetesan terisi sebagian, kemudian
buka penutup hingga selang terisi dan keluar udaranya
5) letakakkan pengalas
6) Lakukan pembendungan dengan tourniquet
7) gunakan sarung tangan
8) disinfeksi daerah yang akan ditusuk
9) lakukan penusukan dengan arah lubang jarum ke atas
10) cek apakah sudah mengenai vena dengan ciri darah keluar
melalui jarum infuse/Abocath
11) tarik jarum infuse dan hubungkan dengan selang infuse
12) buka tetesan
13) lakukan desinfeksi dengan betadin dan tutup dengan kasa steril
14) beri tanggal dan jam pelaksanaan infuse pada plester
15) catat respons yang terjadi
16) cuci tangan
8. Cara menghitung tetesan infuse:
a) Dewasa: makro dengan 20 tetes/menit
TPM= Jumlah Cairan x Faktor Tetes
RUMUS : Lama Waktu x 60 menit
Lama Waktu= Jumlah Cairan x Factor Tetes
Jumlah TPM x 60 Menit
CONTOH:
 Seorang pasien dewasa diberikan cairan 500 cc dalam waktu 6 jam
maka tetesan per menit adalah ?
TPM= 500 cc x 20 = 10.000 = 27,77 = 28 tetes/menit
6 x 60 menit 360
 Seorang pasien diberikan cairan 500 cc. Setelah beberapa saat
kemudian, perawat mengecek kembali sisa infusnya dan yang
tersisa adalah sebanyak 200 cc, jika jumlah tetesan 20 tetes/menit
dengan menggunakan infuse makro, berapa lama lagi infuse
tersebut akan habis ?
Lama waktu= 200 cc x 20 = 4000 = 3.3 = 3 jam 30 menit
20 tetes x 60 1200

b) Anak: mikro dengan 60 tetes/menit


TPM= Jumlah cairan x Faktor tetes
RUMUS: Lama waktu x 60 menit
Lama waktu= Jumlah cairan x factor tetes
Jumlah TPM x 60 menit
CONTOH:
 Seorang anak diberikan cairan oleh dokter sebanyak 500 cc dan
habis dalam waktu 8 jam. maka tetesan per menitnya adalah ?
TPM= 500 cc x 60 = 30.000 = 62.5 = 62 tetes/menit
8 x 60 menit 480
 Seorang Anak diberiakan cairan sebanyak 500 cc oleh perawat. jika
jumlah tetesan 25 tetes per menit, maka berapa lamA cairan
tersebut akan habis ?
LamA waktu= 500 cc x 60 = 30,000 = 20 jam
30 tetes x 60 1,500
9. Jenis-jenis cairan :
1) ASERING
Manfaat:
- Dapat menjaga suhu tubuh sentral
pada anastesi dan isofluran terutama
kandungan asetatnya pada saat
pasien dibedah
- Meningkatkan tonositas sehingga
Gambar 1 dapat mengurangi resiko eema
serebral
https://halosehat.com/review/tindaka
n-medis/jenis-jenis-cairan-infus/amp
2) KA-EN 1B
Manfaat :
Dapat menjadi cairan elektrolit
pasien pada kasus pasian yang
sedang dehidrasi karena tidak
mendapat asupan oral dan pasien
yang sedang demam. Selain itu
cairan ini bias diberikan kepada bayi
premature maupun bayi yang baru
Gambar 2 lahir sebagai cairan elektrolitnya.
https://halosehat.com/review/tindaka
n-medis/jenis-jenis-cairan-infus/amp
3) KA-EN 3A dan KA-EN 3B
Manfaat :
Membantu memenuhi kebutuhan
pasien akan cairan dan elektrolit
karena kandungan kaliumnya (pada
KA-EN 3A mengandung kalium 20
mEq/L) yang cukup walaupun
Gambar 3 pasien sudah melakukan ekskresi
harian.
https://halosehat.com/review/tindaka
n-medis/jenis-jenis-cairan-infus/amp
4) KA-EN MG3
Manfaat :
Membantu cairan elektrolit harian
pasien maupun saat pasien
mendapat asuhan oral terbatas,
memenuhi kebutuhan kalium
pasien (20 mEq/L) dan sebagai
Gambar 4 suplemen NPC yang dibutuhkan
pasien (400 kcal/L)
https://halosehat.com/review/tinda
kan-medis/jenis-jenis-cairan-
infus/amp
5) KA-EN 4A
Manfaat:
Sebagai larutan infus untuk bayi
dan anak-anak, menormalkan
kadar konsentrasi kalium serum
pada pasien, membantu pasien
mendapatkan cairan kembali
ketikan mengalami dehidrasi
Gambar 5 hipertonik.
https://halosehat.com/review/tinda
kan-medis/jenis-jenis-cairan-
infus/amp
6) KA-EN 4B
Manfaat:
Dapat diberikan pada bayi dan
anak-anak usia kurang dari 3 tahun
sebagai cairan infus bagi mereka,
mengurangi resiko hypokalemia
ketika pasien kekurangan kalium
dan mengganti cairan elektrolit
pasien ketika dehidrasi hipertonik.

Gambar 6
7) Otsu-NS
Manfaat:
mengganti Na dan Cl ketika pasien
diare, mengganti kehilangan
natrium pada pasien saat asidosis
diabetikum, insufisiensi
adrenokortikal, dan luka bakar,
mengganti cairan saat pasien
mengalami dehidrasi akut.
Gambar 7

8) Otsu-RL
Manfaat:
Memberi pasien ion bikarbonat dan
sebagai asidosi metabolic dan
sebagai resuisitasi.

Gambar 8

9) MARTOS-10
Manfaat
Dapat membantu mencukupi
suplai air dan karbohidrat pada
pasien diabetic secara parental dan
dapat memberi nutrisi eksogen
pada pasien kritis penderita tumor,
infeksi berat, pasien stress berat
maupun pasien mengalami
Gambar 9
defisiensi protein.
10) AMIPAREN
Manfaat:
Bermanfaat bagi pasien yang
mengalami stress metabolic berat,
mengalami luka bakar, kwasiokor
dan sebagai kebutuhan nutrisi
secara parenteral.

Gambar 10

11) AMINOVEL-600
Manfaat:
Meningkatkan kebutuhan
metabolic pada pasien yang
mengalami luka bakar, trauma
pasca operasi serta pasien yang
mengalami stress metabolic
sedang, selain itu, cairan diberikan
Gambar 11 kepada pasien GI sebagai
penambah nutrisi.
(https://halosehat.com/review/tinda
kan-medis/jenis-jenis-cairan-
infus/amp)
12) PAN-AMIN G
Manfaat:
Untuk perawatan sakit kronis,
penyembuhan luka, gigi sensitive,
virus herpes simpleks, stress
oksidatif, peradangan, penyakit
kulit, radang sendi,
imunomodulator, penyakit alergi
Gambar 12
dan kondisi lainnya.
(https://www.tabletwise.com/indon
esia-id/pan-amin-g-infusio)
1.3 CONTOH PENDOKUMENTASIAN
PENDOKUMENTASIAN HASIL ASUHAN KEBIDANAN
PADA NY “N” DENGAN KELUHAN UTAMA ANEMIA
BERAT DI RSUD BATARA GURU BELOPA
TANGGAL 12 JULI 2016

No. register : xx xx xx
Tanggal kunjungan: : 07 juli 2016
Tanggal pengkajian : 12 juli 2016
Tempat : kelas II / RSUD BATARA GURU
Nama pengkaji : Ningsih Jayanti

Identitas Klien
Nama : Ny “N”
Umur : 57 tahun
Nikah/lamanya : 36 tahun
Suku : Bugis
Agama : Islam
Pendidikan terakhir : SD
Pekerjaan : IRT
Alamat : Pitumpanua

Data Subjektif (s)


- Klien Nampak pucat
- Keadaan umum lemah
- TTV : TD : 100/70 mmHg
N : 90 × / i
, C
P : 24 × / i
ASSEMENT (A)
Diagnosa : anemia berat (masalah belum diatasi)

PLANNING (P)
- Lanjutkan intervensi
- Transfer darah 2 bag prc
- Mengobservasi TTV
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
0bat-obatan yang digunakan dalam kebidanan yaitu:
1) Obat Anti Infektikum
2) Anti Emetikum
3) Antipiretik Analgetik
4) Anti Perdarahan
5) Obat System Endokrin
6) Obat Saluran Pencernakan
7) Dermatologi
8) Obat Saluran Pernafasan
9) Obat Saluran Urogenital
10) Vitamin
1.2 Saran
Sebaiknya gunakanlah obat sesuai anjuran dokter, dan
pergunakanlah obat tersebut sesuai dengan penyakit yang di derita, jangan
menggunakan obat kurang atau melebihi batasnya.
Daftar Pustaka
Fitrianingsih, Dwi, S, Farm., Apt, Drs. H Zulkoni,. M Si. 2009. Farmakologi
Obat-Obatan Dalam Praktik Kebidanan. Yogyakarta :Nuha Medika
AK Dahlan.,. A. St. Umrah. S. ST. 2013. Keterampilan Dasar Praktik Kebidanan.
Malang : Intimedia
https://halosehat.com/review/tindakan-medis/jenis-jenis-cairan-infus/amp diakses
pada tanggal 22 april 2018
https://www.tabletwise.com/indonesia-id/pan-amin-g-infusio diakses pada
tanggal 22 april 2018