Anda di halaman 1dari 2

Guruku ………

Engkau bagaikan cahaya


Yang menerangi jiwa…. dari segala gelap gulita
Dan kau……
Bak setetes embun …
memberi kesejukan….Pada hati yang kusam
yang terselimut kabut kebodohan

Kau hadir …. memikul sebongkah harapan


Kau hidangkan Ilmu dengan sajian kasih sayang
menyapa hari-hariku lewat senyum yang penuh keakraban

Aku tahu….
Kau pasti terusik…. dengan riuhnya canda peradaban
Yang kerap memaksa kami …apatis dalam menatap masa depan
Dan akupun tahu….
Terkadang kesabaranmu seakan teruji…Menyaksikan ragam tingkah polah kami
yang cendrung luput ….mengingat tugas dan tanggungjawab
atas takdir yang telah digariskan kepada kami
sebagai pemimpin bangsa dimasa mendatang.

Guruku…
Hari ini kan kujemput maafmu….
Karena selama ini kami telah lalai akan nasihatmu….
terlena oleh permainan dunia
dan segala bentuk kesia-siaan yang menjejali memory fikiran kami.

Atau mungkin ….memang kami yang tidak sanggup lagi mendengar segala ucapanmu…
Sebab head set begitu erat menyumbat ditelinga kami

Guruku …….
Kini izinkanlah kami undur diri
Tuk berjuang..melampaui tantangan yang kian pasti
Menggapai asa yang lebih tinggi
Bersama restumu yang selalu kunanti

Hanya tersisa satu harapan


Iringilah kepergian kami bersama do’amu
Untuk kami jadikan pelita….sebagai penuntun jalan hidup kami
Dalam mewujudkan masa depan yang gemilang

Terimakasih atas segaala pengorbananmu.


Guruku ………
Engkau bagaikan cahaya
Yang menerangi jiwa…. dari segala gelap gulita
Engkau bagai setetes embun
Yang menyejukkan hati…..Hati yang ditikam kebodohan
Lalu kau terangi dengan chaya mentari
Engkau berikan kesabaran senyummu
Bahkan pengorbananmu

Guruku …….
Kini tibalah saatnya kami undur diri
Tuk menggapai asa yang lebih tinggi
Tuk menggapai tantangan masa depan
Yang lebih gemilang
Tersisa satu harapanku
Do’amu kutunggu…restumu kunanti
Tuk terangi jalan yang makin berliku
Semoga do’amu selalu menyertaiku
Terimakasih untuk semua pengorbananmu.