Anda di halaman 1dari 10

BAHAYA KEBAKARAN

Pendahuluan

Jika kita bicara masalah api akan terlintas di benak kita dua hal: pertama, api merupakan sahabat
yang amat kita butuhkan di dalam kehidupan ini, dan yang kedua, api bisa menjadi sumber
malapetaka. Api sangat kita butuhkan, misalnya untuk memasak di dapur, menghangatkan air
untuk mandi, peleburan logam di bidang pengecoran. Api akan sangat bermanfaat bagi manusia
selama ada di bawah kontrol manusia itu sendiri.
Api akan menjadi sumber bahaya bagi manusia karena dapat menimbulkan kerugian baik harta
benda maupun jiwa jika api tersebut di luar kemampuan kendali kita, seperti: kebakaran rumah,
pabrik, dan pasar-pasar.
Sebagaimana kita ketahui, semakin maju budaya manusia, dunia semakin dipenuhi oleh industri-
industri yang semakin canggih juga. Perkembangan industri dan perkembangan teknologi yang
semakin canggih ini kurang diimbangi dengan sistem keselamatan yang memadai, maka petaka
kebakaran juga semakin meningkat. Disinyalir, selama periode 30 tahun terakhir ini nilai kerugian
rata-rata setiap dasa warsa meningkat lebih dari 30%. Hal ini menunjukkan betapa kritisnya
masalah kebakaran, yang memerlukan kesigapan semua lapisan masyarakat, industri dan turun
tangannya Pemerintah dalam hal yang berhubungan dengan pencegahan dan penanggulangan
bahaya kebakaran. Mengingat betapa kritis masalah kebakaran ini maka pada bagian ini akan
dibahas masalah pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang ditinjau dari segi kognitifnya.
Karena demikian luas ruang lingkup permasalahan ini maka bahasan ini hanya dimaksudkan untuk
memberikan gambaran dan informasi yang bersifat umum.

Proses Terjadinya Api

Untuk dapat melakukan pencegahan dan penanggulangan kebakaran, terlebih dahulu perlu
mengetahui asal mula terjadinya api (kebakaran). Api akan timbul jika terdapat tiga komponen,
yaitu, bahan bakar (fuel), oksigen (oxygen) dan panas (heat) pada suatu tingkat keadaan tertentu.
Bahan bakar: dapat berbentuk padat, cair maupun gas. Contohnya:

- Bahan bakar padat: kayu, kertas, karet, dll.


- Bahan bakar cair: bensin, kerosin, alkohol, dll

- Bahan bakar gas; asetilin, hidrogen, gas alam, dll.


Panas: adalah panas yang cukup untuk menimbulkan api.

Sumber panas ini bisa berasal dari panas matahari, listrik, gesekan, reaksi kimia, dll.
Oksigen: Sumber oksigen adalah udara sekitar kita, yang kandungan oksigennya 21%.

Oleh karena api terjadi akibat dari terkumpulnya ketiga komponen sehingga konsep terjadinya api
dapat digambarkan dengan segi tiga yang disebut “Segitiga api” (fire triangle), di mana bahan
bakar (fuel), oksigen (oxygen), dan panas (heat) membentuk sisi-sisinya (Gambar 6.1). Hilangnya
salah satu komponen akan menghilangkan kemungkinan timbulnya api.

Biasanya di setiap tempat kerja selalu terdapat bahan bakar (kayu, minyak, kertas, atau bahan-
bahan lain yang dapat terbakar). dan oksigen, sehingga jalan yang paling efektif untuk mencegah
timbulnya kebakaran adalah dengan menghilangkan atau mengontrol sumber panas. Untuk
mencegah timbulnya kebakaran, di samping pengontrolan sumber panas, perlu juga dilakukan
pembatasan jumlah bahan bakar sebatas yang diperlukan. Untuk menghindari bahaya kebakaran
pada tempat-tempat penyimpanan (terutama tempat penyimpanan bahan-bahan kimia, bahan bakar
cair atau gas) di samping cara penyimpannya harus betul, harus diperhatikan juga masalah ventila
sinya. Dengan adanya ventilasi yang baik akan mencegah kebakaran akibat rendahnya kandungan
uap bahan bakar di udara. Sejalan dengan kemajuan teknologi, telah ditemukan bahwa api terjadi
karena adanya reaksi kimia, maka timbullah konsep baru yang merupakan penyempurnaan konsep
segi tiga api, yang disebut “Piramida Api” (fire pyramid). Piramida api terdiri dari empat elemen,
yaitu: bahan bakar, oksigen, panas dan reaksi kimia seperti yang terlihat pada Gambar 6.2.

Prinsip Pencegahan dan Pemadaman Api

Berdasarkan konsep piramida api kita mempunyai empat cara untuk menang-
gulangi/memadamkan api (kebakaran):

Pemisahan Oksigen
Memisahkan oksigen dari api, dengan jalan, misalnya, menutup lobang pengisi tangki bahan bakar
yang terbakar, atau menggunakan busa (foam) di mana busa akan mengisolir api dari udara.
Hal ini akan menyebabkan kadar oksigen sampai dengan api mati (smoothering action), atau
dengan memasukkan gas murni CO2 (purging/inerting).

Penghilangan Bahan Bakar


Menghilangkan/memisahkan bahan bakar dengan api, dengan jalan menutup katup saluran bahan
bakar/kimia yang menyebabkan kebakaran.

Pengontrolan Sumber Panas


Dengan jalan mendinginkan bahan yang terbakar sehingga tercapai suhu di bawah suhu bakar
(ignition temperature), missalnya dengan semprotan air.

Penghentian Reaksi Kimia


Dengan menghentikan/mengganggu reaksi kimia yang terjadi dalam proses pembentukan
api/kebakaran, dengan jalan menyemprotkan bahan kimia kering (dry chemical) atau dengan gas
halon.

Dengan diketahuinya konsep dasar terjadinya api/kebakaran diharapkan kita akan lebih berhati-
hati dan lebih waspada lagi terhadap bahaya kebakaran; mengetahui bagaimana seharusnya agar
tidak terjadi api/kebakaran dan alat-alat apa yang harus disiagakan untuk memadamkan
api/kebakaran serta yang tak kalah penting adalah adanya personil-personil yang telah siap
melakukan tindakan penanggulangannya.

6.4 Penyebab Kebakaran

Secara umum, faktor-faktor yang dapat menimbulkan kebakaran adalah manusia, mesin/alat dan
alam.

6.4.1 Faktor manusia.

Faktor ini merupakan faktor yang paling dominan dari ketiga faktor penyebab kebakaran lainnya,
karena manusia merupakan faktor pengendali faktor-faktor yang lain. Kebakaran akibat faktor
manusia, antara lain disebabkan oleh:

Kurang pengetahuan
Kurangnya pengetahuan sering kali menyebabkan kebakaran. Misalnya, pekerjaan pengelasan di
dekat/pada suatu kontainer yang berisi/pernah berisi cairan yang mudah terbakar tidak dapat
dilakukan begitu saja, melainkan memerlukan cara-cara dan prosedur-prosedur tertentu yang harus
diikuti/dipenuhi

Kurangnya pengawasan
Meskipun sudah cukup diberikan penerangan dan pengetahuan, kadangkala manusia lupa; untuk
itu perlu ada pengawasan.
Kesengajaan

Berdasarkan hasil penyelidikan suatu kebakaran yang dilakukan oleh yang ber-wenang, sering
dijumpai adanya faktor kesengajaan. Sedangkan faktor kesengajaan itu sendiri mempunyai
berbagai motif, misalnya: karena sakit hati, penghilangan jejak kejahatan, untuk mendapatkan
asuransi, atau tindakan subversi.

6.4.2 Faktor alat/mesin

Alat dan mesin dapat menjadi penyebab timbulnya kebakaran jika kurang benar cara pemakaian
dan penangannya.

Instalasi kelistrikan
Dewasa ini sebagian besar peralatan atau permesinan menggunakan listrik sebagai sumber
energinya, maka potensi timbulnya api sangatlah tinggi. Kesalahan instalasi atau kesalahan operasi
bisa mengakibatkan suatu kebakaran.

Gesekan/friksi
Gesekan antara bearing/bantalan dan poros atau tali kipas dan pulley jika kurang mendapatkan
pengawasan (pendinginan) dapat menimbulkan panas.

Api terbuka
Yang dimaksud dengan api terbuka adalah api yang berasal dari suatu alat, misalnya: korek api,
las, solder, kompor.

Penyalaan spontan (spontaneous ignition)


Penyalaan sendiri (spontan) merupakan hasil suatu pemanasan yang terjadi akibat reaksi kimia
yang menimbulkan panas akibat terjadinya oksidasi. Misalnya sodium dan potassium akan
berdekomposisi jika bercampur dengan air, mengeluarkan gas hidrogen dan dapat
menyala/terbakar dengan sendirinya. Hal ini erat sekali dengan masalah penyimpanan.
Penyimpanan yang salah dapat berakibat fatal, kebakaran atau peledakan.

Listrik statis
Masalah listrik statis ini sering juga menimbulkan kebakaran jika kurang menda-patkan perhatian.
Akumulasi muatan listrik pada suatu tingkat dan kondisi tertentu akan melakukan loncatan ke
kumpulan muatan tak sejenis. Lompatan muatan ini menimbulkan busur api yang jika terjadi di
sekitar bahan-bahan yang mudah terbakar dapat menimbulkan kebakaran. Kebakaran akibat listrik
statis ini sering terjadi di pabrik-pabrik tekstil.

6.4.3 Faktor alam

Meskipun manusia diberi kemampuan untuk mengelola alam akan tetapi sering terjadi musibah
yang sama sekali di luar jangkauan kemampuan manusia (meskipun mungkin akibat ulah
manusia), yang menimbulkan kebakaran, misalnya: petir, gempa bumi, gunung meletus.

6.5 Alarm Kebakaran

Pada suatu industri atau lingkungan kerja yang baik selalu dilengkapi dengan fire alarm. Fire alarm
ini, jika diaktifkan, akan memberi tanda/sirene adanya kebakaran kepada para pekerja sehingga
semua pekerja mengetahui kalau terjadi kebakaran, kemudian melakukan tindakan penyelamatan
diri atau penaggulangan secara bersama-sama. Pada suatu industri yang besar, di mana terdapat
berbagai jenis/tingkat bahaya kebakaran, biasanya, sistem alarm tidak hanya digunakan untuk
memberikan tanda ke daerah sekeliling saja, namun sekaligus dirancang untuk mengaktifkan
sistem pemadam kebakaran otomatis, dan dapat juga berhubungan dengan pusat satuan pemadam
kebakaran setempat. Alat untuk mengaktifkan fire alarm ini dapat berupa pull handle, break glass,
atau push button, yang telah direncanakan sedemikian rupa sehingga mudah mengoperasikannya.
Para pekerja harus tahu di mana terdapat fire alarm dan bagaimana mengoperasikannya. Sering
kali terjadi kebakaran besar (yang seharusnya dapat diatasi) akibat ketidaktahuan para pekerja
dalam mengaktifkan fire alarm di lingkungan kerjanya. Semakin dini kebakaran diketahui dan
diatasi maka akan semakin besar pula keberhasilannya.
Ada tiga hal mendasar yang harus diketahui oleh para pekerja yaitu:
di mana terdapat fire alarm.
bagaimana cara mengaktifkan fire alarm
kapan fire alarm perlu diaktifkan (setiap ada kebakaran, meskipun kecil)

6.6 Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

Semua kebakaran besar asal mulanya dari api yang kecil maka pemadaman yang paling tepat
adalah saat api masih kecil (sedini mungkin). Untuk menanggulangi kebakaran dalam ukuran
terbatas (kecil) ini perlu disediakan alat pemadam api ringan (portable fire extinguisher) di sekitar
lingkungan kerja yang dianggap mempunyai potensi kebakaran. Banyak jenis APAR dan salah
satunya ditunjukkan pada Gambar 1.36. Penyediaan alat pemadam kebakaran ini harus tetap
dilakukan meskipun telah tersedia sistem pemadam kebakaran otomatis (misal: sistem sprinkler).
Jenis pemadam api ringan ini harus dipilih berdasarkan bahan/alat yang akan diamankan, karena
dengan salahnya pemilihan ini bisa berakibat fatal bagi objek yang diamankan pada saat terjadi
kebakaran.
Ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan dalam memilih dan menempatkan alat pemadam
kebakaran termaksud, yaitu:
tempat/sumber-sumber api
tempat-tempat di mana terdapat bahan-bahan yang mudah terbakar
jenis/kelas bahaya api/kebakaran yang ada.

Sehubungan dengan hal yang terakhir, berikut ini akan dibahas tentang penggolongan
api/kebakaran.

6.6.1 Klasifikasi kebakaran

Api/kebakaran dapat digolongkan menjadi 4 kelas, yaitu kelas A, B, C, dan D (lihat Gambar 6.3).

Kelas A adalah kebakaran pada bahan-bahan biasa, seperti kayu, kain, kertas, karet, dan plastik.
Kelas B adalah kebakaran pada bahan cair dan gas yang dapat terbakar, oli, grease, aspal, minyak
cat, gas yang mudah terbakar, dll.
Kelas C adalah kebakaran pada peralatan-peralatan yang beraliran listrik, di mana diperlukan
media pemadam yang bersifat nonkonduktif.
Kelas D adalah kebakaran pada logam-logam yang dapat terbakar, seperti magnesium, titanium,
zirconium, sodium, lithium dan potasium.

Ditinjau dari kelas bahaya kebakarannya maka pemilihan alat pemadam kebakaran adalah sebagai
berikut :
Untuk kelas A, dipilih alat pemadam yang menggunakan media air, soda acid, foam (busa),
aqueous film forming foam (AFFF), dry chemical, wetting agent, dan
bromochlorodifluoromethane (Halon 1211).
Untuk kelas B, dipilih alat pemadam yang menggunakan media bromotri-fluoromethane (Halon
1301), Halon 1211, carbon dioxide, dry chemical, foam, dan AFFF.
Untuk kelas C, dipilih alat pemadam kebakaran yang menggunakan media Halon 1301, Halon
1211, carbon dioxide, dan dry chemical.
Untuk memadamkan kebakaran pada kelas D digunakan dry chemical serta teknik pemadaman
yang khusus juga.
6.6.2 Peletakan Alat Pemadam Kebakaran

Sebagaimana telah disinggung pada bagian bagian sebelumnya bahwa pemadam-


an/penanggulangan kebakaran harus dilakukan secara tepat dan cepat. Untuk dapat melakukan hal
ini, di samping faktor kesiapan personel dan kesiapan alat (berisi penuh, siap dioperasikan), faktor
letaknya pun amat penting. Apa artinya kesiapan personil dan alat kalau letaknya terlalu jauh dan
tersembunyi. Dalam keadaan darurat (emergency). hal ini akan sangat menyulitkan.
Untuk meletakkan alat pemadam kebakaran perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1) Letak alat pemadam kebakaran harus mudah dicapai dan diambil untuk dipergu-nakan.
Letaknya biasanya di sekitar tempat jalan orang.
2) Jika ditempatkan di dalam lemari, lemari tidak boleh terkunci kecuali ada alasan lain dan
termasuk di dalam tindakan darurat (emergency plan).
3) Harus terlihat jelas, tidak boleh terhalang dari pandangan atau tersembunyi. Untuk ruang yang
sangat luas atau pada suatu tempat tertentu di mana hal yang tersebut di
atas tidak dimungkinkan maka perlu diberi tanda atau terdapat alat pemadam kebakaran.
4) Alat pemadam kebakaran diletakkan tergantung pada suatu hanger atau di dalam lemari atau di
atas roda (untuk tipe beroda).
5) Letak alat pemadam kebakaran di atas lantai harus disesuaikan dengan beratnya.
- berat < 40 lb (18,14 kg) : ketinggian (ujung bagian atas) < 4 ft (1,53 m)
- berat > 40 lb (18,14 kg) ; ketinggian < 3,5 ft (1,07 m) di atas lantai.

Harus diperhatikan hal-hal yang dapat membahayakan alat pemadam kebakaran seperti
temperatur, atau lainnya yang dapat mengakibatkan terjadinya karat atau kerusakan fisik lainnya.
Untuk dapat menggunakan APAR perlu mempelajari cara penggunaan APAR. Prosedur dan tata
cara penggunaan APAR pada umunya dicetak pada tabungnya. Antara satu APAR dan lainnya
mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, oleh karena itu, pemahaman terhadap prosedur
mutlak harus dilakukan sebelum memakainya. Secara prinsip prosedur pemadaman api/kebakaran
dengan menggunakan APAR ditunjukkan pada Gambar 6.5.
6.7 Detektor Kebakaran Otomatis

Detektor kebakaran otomatis (Automatic fire detector (AFD)) merupakan mata rantai dari suatu
sistem proteksi kebakaran otomatis, di mana detektor ini bekerja/berfungsi mendeteksi dan
memberi tahu adanya api/kebakaran. Untuk dapat bekerja dengan baik dan sebagaimana mestinya,
AFD ini harus dipasang dengan benar di tempat yang akan diproteksi.
Ada banyak jenis detektor yang digunakan untuk mendeteksi kebakaran.

Jenis-jenis detektor yang umum digunakan dimuat berikut ini.

Detektor panas (Heat Detector)

Suhu tetap
Detektor ini akan bekerja dan memberikan informasi bila suhu di sekitarnya mencapai suatu suhu
tertentu sesuai dengan peruntukannya.

Laju kenaikan suhu


Detektor ini bekerja mendeteksi adanya suatu kenaikan suhu yang cepat/tidak normal melebihi
nilai kecepatan yang menjadi nilai presetnya.

Gambar 6.7 dan 6.8 adalah contoh detektor suhu otomatis dengan sistem yang berbeda. Detektor
pada Gambar 6.6 menggunakan logam campuran sebagai detektornya. Detektor ini sesuai suhu
tinggi dan biasanya dipasang pada ruang-ruang pembakaran boiler. Sedangkan detektor pada
Gambar 6.7 menggunakan thermistor sebagai alat deteksinya.

Detektor Asap (Smoke Detector)


Smoke detector akan mendeteksi asap atau partikel lain yang merupakan output dari suatu
kebakaran. Ada beberapa jenis detector ini, di antaranya adalah yang menggunakan radioaktif
(Gambar 6.7) dan fotoelektrik (Gambar 6.8).

Detektor Nyala Api (Flame Detector)


Detektor jenis ini mendeteksi adanya energi panas, baik yang terlihat mata dalam bentuk nyala api
(4000-7700 Angstrom); atau yang di luar jangkauan penglihatan mata manusia (type flame flicker,
Infra-red/di atas 7700 Angstrom, ultra violet/dibawah 4000 Angstrom). Contoh detektor ini
ditunjukkan pada Gambar 6.9.
Detektor Gas Api (Fire Gas Detector)
Mendeteksi adanya gas–gas yang timbul sebagai akibat atau output dari suatu api/kebakaran.
Melalui fire protection control panel, informasi atau signal dari automatic fire detector tersebut
akan mengaktifkan fire alarm, dan atau dapat langsung digunakan untuk mengaktifkan sistem
pemadam kebakaran otomatis (bila ada). Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) 54
6.8 Pemadam Kebakaran Otomatis

Pemadam kebakaran otomatis adalah peralatan pemadam kebakaran yang terpasang permanen
untuk melindungi peralatan, bangunan dari bahaya kebakaran yang bekerja secara otomatis.
Terdapat berbagai sistem dan media pemadam, yang pemilihannya disesuaikan dengan sifat-sifat
api/kebakaran dan situasi setempat lainnya (material, besar kecilnya bahaya api, kecepatan
pemadaman, dan sebagainya). Jenis-jenis media yang digunakan antara lain adalah: air, foam,
halon, CO2, kimia kering. Gambar 6.10 dan 6.11 menunjukkan sistem pemadam kebakaran
otomatis dengan media air dan gas.