Anda di halaman 1dari 14

PERILAKU ORGANISASI

Dasar Berpikir Perilaku Organisasi


1. Organisasi

2. Perilaku Manusia (Karyawan)

3. Kebiasaan / Budaya

1. Organisasi:

1
2. Perilaku Manusia:

(Supriyono, hal.225), Faktor-faktor yang mempengaruhi

perilaku manusia dalam organisasi:

a. Kebutuhan,

Kekurangan sesuatu manfaat atau ketidak cocokan antara

keadaan yang diinginkan dengan keadaan sesungguhnya.

b. Persepsi,

Pandangan individu-individu terhadap tujuan (goals) dan

sasaran (Objectives) organisasi.

c. Motivasi,

Faktor-faktor yang mempengaruhi individu untuk

melaksanakan kegiatan dalam rangka pencapaian tujuan

organisasi.

d. Pembuatan Keputusan,

Penggunaan model-model yang relevan untuk memilih

alternative-alternatif tertentu yang mempunyai hubungan


2
khusus dan terutama sekali dengan kepentingan individu-

individu.

Hubungan antara kebutuhan, motivasi, perilaku


berarah tujuan dan kepuasan kebutuhan.

APA HUBUNGANNYA
DENGAN SPM?

3
Contoh kebutuhan yang tidak terpuaskan:

https://www.jawapos.com/read/2017/07/08/142820/ka
sir-cantik-diler-mobil-gelapkan-uang-rp-25-m-begini-
modusnya

“Mobil Jerman buatan 2016 itu paling mahal milik Leni yang hanya

bergaji setiap bulannya Rp 2.500.000 sebagai kasir di PT SMA. Belum

lagi mobil Prancis Peugeot RCZ dua pintu.”

KETEGANGAN,
DORONGAN
GAYA HIDUP

4
PENCARIAN PERILAKU

“Sebelum beraksi, Leni mempelajari seluruh aktivitas proses

administrasi, hingga unit mobil dikeluarkan. Setiap bulan, dia mampu

melakukan transaksi 2–3 kali. Setiap transaksi, Leni tak menyetorkan

seluruh duit konsumen, dia “menyunatnya”.

“Dana tak disetorkan semua. Misalnya Rp 50 juta, disetor Rp 30 juta,”

ungkap Kapolda Kaltim Irjen Pol Safaruddin bersama Direktur Kriminal

Khusus Kombes Pol Yustan Alpiani saat memberikan keterangan resmi

setelah mengungkap kasus ini di Markas Polda Kaltim, Balikpapan,

kemarin (7/7)”

KEBUTUHAN
TERPUASKAN

“Ada yang sudah terjual. Duitnya dipakai foya-foya, belanja, beli mobil,

dan lainnya,” ungkap Dharma. Total aset dan uang tunai yang disita

penyidik kurang lebih Rp 9 miliar.

5
PENURUNAN
KETEGANGAN

STRESS
KEMBALI

SPI
AUDIT INTERNAL

(Supriyono, hal.228), Peran SPM,

1. Fungsi utama SPM adalah membantu manajemen


dalam proses memaksimalkan laba.
2. SPM merupakan suatu alat alokasi tujuan yang
memungkinkan manajemen untuk memilih tujuan
operasionalnya dan memecah dan membagi tujuan
tersebut melalui perusahaan, yaitu membebankan
tanggung jawab untuk melaksanakannya
(perencanaan)

6
3. SPM merupakan suatu alat pengendalian yang
mengidentifikasikan dan mengoreksi pelaksanaan
yang tidak diinginkan.
4. Terdapat kepastian rasionalitas dan pengetahuan yang
mencukupi dalam SPM untuk membandingkan secara
teliti tanggung jawab pelaksanaan dengan manfaat
ahkir dan biaya pelaksanaan tersebut.
5. SPM merupakan system evaluasi yang bersifat netral
dan dapat mengeleiminasi prasangka (bias) pribadi.

(Supriyono, hal.241), Teori-Teori Motivasi:


1. Teori X dan Y, McGregor,
Sikap manajer terhadap karyawan akan mempengaruhi
motivasi para karyawannya, sehingga ahkirnya
mempengaruhi pula produktivitas karyawan.
2. Teori Hierarki Kebutuhan, Abraham Maslow,
Motivasi manusia itu berasal dari dalam diri seseorang dan
sifatnya tidak dapat dipaksakan. Seseorang mencari tujuan-
tujuan dan mengarahkan dirinya untuk mencapai tujuan
tersebut.
Motivasi seseorang didasarkan pada dua anggapan:
7
 Kebutuhan seseorang tergantung apa yang
sudah dimiliki
 Dilihat dari pentingnya
3. Teori Dua Faktor, Frederick Herzberg,
“Kepuasan diperoleh karena karyawan melakukan
pekerjaan. Kepuasan tersebut merupakan motivasi yang
semuanya berhubungan dengan apa yang harus dikerjakan
atau terhadap isi pekerjaan

Faktor Kepuasan Faktor Ketidakpuasan


(Faktor Motivasi) Faktor Higine
Prestasi Kebijaksanaan dan
administrasi perusahaan
Pengakuan Supervsi (Pengawasan)
Pertanggungjawaban Kondisi Kerja
Kemajuan Hubungan antar Manusia
Perkembangan Gaji atau penghasilan,
Status, Keamanan Kerja,
Kehidupan Personal.

8
Perilaku lainnya dalam organisasi:

VID-20180307-WA0000.mp4 (Command Line)

Goal Congruance (Keselaran Tujuan)


Orang akan bersedia untuk mencapai tujuan organisasi,
kalau dengan mencapai tujuan tersebut tujuan pribadinya
juga tercapai. Manajemen harus mengusahakan sebuah
sistem yang mendorong orang untuk mencapai dua tujuan
secara sekaligus, yaitu tujuan pribadi dan tujuan organisasi.
Bila kedua jenis tujuan tersebut tercapai maka dikatakan
terdapat keselarasan tujuan (goal congruence). Baik sistem
formal maupun proses informal mempengaruhi perilaku
manusia dalam organisasi, konsekuensinya kedua hal
tersebut akan berpengaruh pada tingkat pencapaian
keselarasan tujuan. Sistem pengendalian formal, seperti
perencanaan strategis, penyusunan anggaran, maupun
pelaporan. Proses informal, seperti etos kerja, gaya
manajemen, dan budaya organisasi

9
Faktor-Faktor Informal yang Mempengaruhi Keselarasan Tujuan
Faktor-faktor informal yang mempengaruhi keselarasan tujuan antara
lain sebagai berikut:
1. Faktor-faktor eksternal Faktor faktor ekternal meliputi:
a. norma-norma mengenai perilaku yang diharapkan di masyarakat,
dimana organisasi menjadi bagiannya. Norma-norma ini mencakup
sikap, yang secara kolektif sering disebut etos kerja, yang diwujudkan
melalui loyalitas pergawai terhadap organisasi, keuletan, semangat,
dan kebanggaan yang dimiliki oleh pegawai dalam menjalankan tugas
(bukannya sekedar menjalankan tugas secara tepat waktu).
b. Sikap dan norma yang bersifat spesifik tehadap jenis industrinya.
Sebagai contoh, industri kereta api memiliki norma yang berbeda
dengan industri penerbangan.
c. Sikap dan norma pada masing-masing negara. Sejumlah negara
seperti Jepang dan Singapura memiliki reputasi yang baik dalam etos
kerja
2. Faktor-faktor internal Faktor-faktor internal meliputi:
a. Budaya Budaya di dalam organisasi meliputi keyakinan bersama,
nilai-nilai hidup yang dianut, norma-norma perilaku serta asumsi-
asumsi yang secara implisit diterima dan yang secara eksplisit
dimanifestasikan di seluruh jajaran organisasi.
b. Gaya manajemen Biasanya, sikap-sikap bawahan mencerminkan
apa yang mereka anggap sebagai sikap atasan mereka, dan sikap para

10
atasan itu pada akhirnya berpijak pada apa yang menjadi sikap CEO
(Chief Executive Officer).
c. Organisasi informal Adanya hubungan kerja secara informal antara
satu bagian dengan bagian lainnya sehingga setiap orang akan
mengerti arah mana yang akan dituju organisasi.
d. Persepsi dan komunikasi Dalam upaya meraih tujuan organisasi,
para manajer operasional harus mengetahui tujuan dan tindak-
tindakan yang harus diambil untuk mencapainya. Mereka menyerap
informasi dari berbagai jalur, baik jalur formal (seperti anggaran dan
dokumendokumen resmi lainnya) ataupun jalur informal (seperti dari
bahan-bahan obrolan yang tak resmi)

3. Kebiasaan/ Budaya

(Stede, hal. 99), Pengendalian Budaya

Pengendalian budaya didesain untuk mendukung pemantauan

bersama (mutual monitoring); sebuah tekanan kuat dari suatu

kelompok terhadap individu yang menyimpang dari norma

dan nilai kelompok.

“Beberapa budaya kolektivitas seperti Jepang,

insentif untuk menghindarkan segala sesuatu yang dapat


11
mempermalukan diri sendiri dan keluarga merupakan hal

yang terpenting”.

Budaya dibangun di atas tradisi, norma kepercayaan, nilai,

ideology, sikap dan cara berperilaku bersama

Adi Prihanisetyo, Kaltim Post, 11 Februari 2018

“Dengan pengetahuan, maka akan membentuk mentalitas kita.

Mentalitas terbentuk karena sebuah kebiasaan yang sudah

terjadi. Dan apabila kebiasaan baik tersebut dilakukan secara

terus menerus, maka akan tercipta sebuah budaya”

COORPORATE
CULTURE

12
“One Team One Spirit One Goal”

Konsep Coorporate Culture

13
14