Anda di halaman 1dari 18

BAB XII.

SPESIFIKASI TEKNIS DAN GAMBAR

Pasal 1 : SEGI LINGKUP PEKERJAAN


Uraian dalam rencana kerja dan syarat-syarat ini menyangkut segi lingkup
pekerjaan yang menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana adalah
REHABILITASI GEDUNG 4 RUANG MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI
BANGKALAN
Pasal 2 : JENIS DAN MUTU BAHAN
2.1. Jenis dan mutu bahan yang akan dilaksanakan harus diutamakan bahan-bahan
produksi dalam negeri.
2.2. Bahan-bahan bangunan/tenaga kerja setempat, sesuai dengan lokasi yang
ditunjuk, bila bahan-bahan bangunan dari semua jenis memenuhi syarat teknis,
sesuai dengan peraturan yang ada (RKS) dianjurkan untuk dipergunakan
dengan mendapatkan ijin tertulis dari Direksi.
2.3. Bila bahan-bahan bangunan yang telah memenuhi spesifikasi teknis terdapat
beberapa/bermacam-macam jenis (merk) diharuskan untuk memakai jenis dan
mutu bahan satu jenis.
2.4. Bahan-bahan bangunan yang telah ditetapkan jenisnya, apabila bahan
bangunan tersebut mempunyai beberapa macam mutu, maka harus ditetapkan
untuk dilaksanakan dengan 1 (satu) mutu untuk dipergunakan.
2.5. Bila rekanan telah menandatangani untuk melaksanakan jenis dan mutu bahan
untuk pekerjaan atau bagian pekerjaan tidak sesuai dengan yang telah
ditetapkan, bahan-bahan tersebut harus ditolak dan dikeluarkan dari lokasi
pekerjaan paling lambat 24 jam setelah ditolak dan biaya menjadi tanggung
jawab rekanan.
2.6. Contoh-contoh yang dikehendaki oleh Pemberi Tugas atau wakilnya harus
segera disediakan tanpa kelambatan atas biaya pemborong dan harus sesuai
dengan standart RKS.
Contoh-contoh tersebut diambil dengan cara acak begitu rupa hingga dapat
dianggap bahwa bahan tersebut yang akan dipakai dalam pelaksanaan
pekerjaan nanti.
Contoh tersebut disimpan sebagai dasar penolakan, bila ternyata bahan atau
cara mengajukan yang dipakai tidak sesuai dengan contoh baik kualitas maupun
sifat-sifatnya.
2.7. Bila dalam uraian dan syarat-sayarat disebutkan nama pabrik pembuatan dari
suatu barang, maka ini hanya dimaksudkan untuk menunjukkan kualitas dan
type dari barang-barang yang dikehendaki Pemberi tugas.
2.8. Dalam masa pelaksanaan pekerjaan pembangunan, bahan-bahan/barang yang
akan dilaksanakan harus sesuai dengan RKS dan Berita Acara Aanwijzing.
2.9. Barang/bahan yang ditawarkan dalam harga satuan pekerjaan dan harga satuan
bahan/upah adalah mengikat, rekanan harus menawarkan harga-harga
tersebut sesuai RKS dan Berita Acara Aanwijzing.
2.10. Contoh barang/bahan yang ditawarkan tidak dapat dipergunakan bila belum
mendapatkan persetujuan tertulis dari Direksi.

Pasal 3 : URAIAN PEKERJAAN


3.1. Penyediaan.
Pemborong harus menyediakan segala yang diperlukan untuk melaksanakan
pekerjaan secara sempurna dan efesien dengan urutan yang teratur, termasuk
semua alat-alat bantu yang dipergunakan seperti andang, alat-alat pengangkat,
mesin-mesin, alat-alat penarik dan sebagainya yang dipergunakan oleh rekanan.
3.2. Kuantitas dan Kuwalitas Pekerjaan.
a. Kuantitas dan kwalitas dari pekerjaan yang termasuk dalam harga kontrak
harus dianggap seperti apa yang tertera dalam gambar-gambar kontrak
atau diuraikan dalam uraian dan syarat-syarat.
Tetapi kecuali yang tersebut diatas apa yang tertera dalam uraian dan syarat-
syarat atau gambar dalam kontrak itu bagaimanapun tidak boleh menolak,
merubah atau mempengaruhi penetrapan atau interprestasi dari apa yang
tercantum dalam syarat-syarat ini.
b. Kekeliruan dalam uraian pekerjaan atau kuantitas atau pengurangan
bagian-bagian dari gambar dan uraian dan syarat-syarat tidak boleh
merusak (membatalkan) kontrak ini, tetapi hendaknya diperbaiki dan
dianggap suatu perubahan yang dikehendaki oleh Pemberi Tugas.
c. Segala pernyataan mengenai kuantitas pekerjaan mungkin sewaktu-waktu
diberikan kepada Pemborong. Tidak boleh merupakan bagian dari kontrak
ini dan harga-harga yang dimuat dalam daftar harga tetap digunakan,
meskipun ada ketidak sesuaian antara harga-harga itu dengan apa yang
tercantum perkiraan manapun.
d. Harga kontrak tidak boleh disesuaikan atau dirobah secara bagaimanapun
selain menuruti ketetapan-ketetapan yang tetap dari syarat-syarat ini, dan
taat kepada pasal-pasal dari syarat-syarat ini, segala kekeliruan baik
mengenai hitungan atau bukan perhitungan harga kontrak harus dianggap
telah diterima oleh kedua belah pihak yang bersangkutan.

Pasal 4 : GAMBAR-GAMBAR PEKERJAAN


4.1. Gambar-gambar rencana pekerjaan terdiri dari gambar bestek, gambar detail
konstruksi, gambar situasi dan sebagainya yang telah dibuat oleh Konsultan
Perencana telah disampaikan kepada rekanan beserta dokumen yang lain.
Rekanan tidak boleh mengubah dan menambah tanpa mendapat persetujuan
tertulis dari Kuasa Pengguna Anggaran/Direksi. Gambar-gambar tersebut tidak
boleh diberikan kepada pihak lain yang tidak ada hubungannya dengan
pekerjaan pemborongan ini atau dipergunakan untuk maksud-maksud lain.
4.2. Gambar-gambar Tambahan.
Bila Direksi menganggap perlu maka Konsultan Perencana harus membuat
tambahan gambar detail (gambar penjelasan) yang diperiksa dan disahkan oleh
Direksi, gambar-gambar tersebut menjadi milik Direksi.
4.3. Gambar yang sesuai sebagaimana yang dilaksanakan (shop drawing). Untuk
semua pekerjaan yang belum terdapat gambar-gambar baik penyimpangan atas
perintah Pemberi Tugas atau tidak, Pemborong harus membuat gambar-gambar
yang sesuai dengan apa yang akan dilaksanakan (shop drawing). Gambar-
gambar tersebut harus diserahkan dalam rangkap 3 (tiga) dan semua biaya
pembuatannya ditanggung oleh rekanan.
4.4. Gambar-gambar di tempat pekerjaan.
Rekanan harus menyediakan dilokasi pekerjaan satu rangkap gambar kontrak
lengkap termasuk Rencana Kerja dan Syarat-syarat, Berita Acara Aanwijzing,
Time Schedule, dalam keadaan baik (dapat dibaca dengan jelas) termasuk
perubahan-perubahan terakhir dalam masa pelaksanaan pekerjaan, agar
tersedia jika Pemberi Tugas atau wakilnya sewaktu-waktu memerlukan. Sebelum
pekerjaan dimulai rekanan dianggap sudah pempelajari serta memahami
maksud perencanaan yang dikerjakan, rekanan berkewajiban menanyakan
kejanggalan-kejanggalan yang ditemuinya sebelum pekerjaan dimulai kepada
Konsultan Pengawas.
4.5. Contoh barang/bahan yang ditawarkan.
a. Dalam masa pelaksanaan pekerjaan pembangunan bahan-bahan/barang
yang akan dilaksanakan harus sesuai dengan RKS dan Berita Acara
Aanwijzing.
b. Barang/bahan yang ditawarkan dalam harga satuan pekerjaan dan harga
satuan bahan/upah adalah mengikat, rekanan harus menawarkan harga-
harga tersebut sesuai RKS dan Berita Acara Aanwijzing.
c. Contoh barang/bahan yang ditawarkan tidak dapat dipergunakan bila
belum mendapatkan persetujuan dari Direksi secara tertulis.

Pasal 5 : PERATURAN TEKNIS PEMBANGUNAN YANG DIPERGUNAKAN


Berlaku dan mengikat didalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini :
a. Peppres RI. Nomor 54 tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa
b. Algemene Voorwarden voor de uitvoering bij aaneming van open bare warken
(A.V.), yang disahkan dengan Surat Keputusan Pemerintah tanggal 28 Mei 1941
nomor 9 dan tambahan Lembaran Negara nomor 14571 (khusus pasal-pasal yang
masih berlaku).
c. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) tahun 1971, yang diterbitkan oleh
Yayasan Normalisasi Indonesia/N.I.2.
d. PUBB (Peraturan Umum Pemeriksaan Bahan-bahan Bangunan nomor I 3/56).
e. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PPKI) tahun 1997, yang diterbitkan oleh
Yayasan Normalisasi Indonesia/N.I.5.
f. Peraturan Semen PORTLAND INDONESIA 1973/N.I.8.
g. Peraturan Bata Indonesia/N.I.10
h. Peraturan Pembebanan Indonesia untuk gedung (PPI) 1983/N.I.18.
i. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) tahun 1997, yang diterbitkan oleh Yayasan
Normalisasi Indonesia.
j. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI) 1983.
k. Peraturan Muatan Indonesia (PMI. N.I. 18/1970).
l. Peraturan Umum Instalasi Air Minum (AV WI)
m. Pedoman Plumbing Indonesia 1979.
n. Peraturan Perburuhan di Indonesia (tentang pengarahan tenaga kerja) antara lain
tentang larangan memperkerjakan anak-anak dibawah umur.
o. Peraturan-peraturan Pemerintah/Kotamadya setempat mengenai bangunan-
bangunan.
p. Peraturan Perburuan di Indonesia dan Peraturan Umum Dinas Keselamatan Kerja
Nomor : 3 Tahun 1985 dan Undang-undang nomor 1 tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja.
q. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor :
332/KPTS/M/2002 tanggal 21 Agustus 2002.

r. Keputusan Direktur Jendral Cipta Karya Nomor 296/KPTS/SK/1997 tanggal 1 April


1997.
s. Surat Edaran Bersama Bappenas dan Menteri Keuangan
Nomor : S – 42/A/2000 tanggal 3 Mei 2000
S – 2262/D.2/05/2000
t. Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur nomor 192 tahun 1983
dan nomor 196 tahun 1983 (Program ASTEK).
u. Surat Edaran Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur nomor
602/118877/021/1995 tanggal 16 Agustus 1995 tentang tindak lanjut Keppres
24/1995 di Jawa Timur.

Pasal 6 : PENJELASAN RKS DAN GAMBAR


6.1. Bila terdapat perbedaan gambar, antara gambar rencana dan gambar detail
maka gambar detail yang dipakai/diikuti.
6.2. Bila terdapat skala gambar dan ukuran dalam gambar tidak sesuai, maka ukuran
dengan angka dalam gambar yang diikuti.
6.3. Bila ukuran-ukuran jumlah yang diperlukan dan bahan-bahan/barang yang
dipakai dalam RKS tidak sesuai dengan gambar maka RKS yang diikuti.
6.4. Bila rekanan meragukan tentang perbedaan antara gambar-gambar yang ada
baik mengenai mutu bahan yang dipakai maupun konstruksi dengan RKS, maka
rekanan berkewajiban untuk menanyakan kepada Direksi secara tertulis.
6.5. Rekanan berkewajiban untuk mengadakan penelitian tentang hal-hal tersebut
diatas. Setelah rekanan menerima dokumen dari Kuasa Pengguna Anggaran dan
hal tersebut akan dibahas dalam rapat penjelasan pekerjaan (Aanwijzing).
6.6. Sebelum melaksanakan pekerjaan rekanan diharuskan meneliti kembali semua
dokumen yang ada untuk disesuaikan dengan Berita Acara Rapat Penjelasan.

Pasal 7 : PERSIAPAN DILAPANGAN


7.1. Bangunan sementara (Bouwkeet)/Direksi keet :
Pemborong harus menyediakan dan mendirikan bangunan sementara (bouwkeet)
untuk digunakan sebagai gudang penyimpanan dan perlindungan bahan-bahan
bangunan.
7.2. Rekanan pemborong harus pula menyediakan ruangan untuk keperluan Direksi
(Direksi keet) dengan perlengkapan meja, kursi, papan tulis, buku harian dan
buku direksi seperlunya.
7.3. Semua bouwkeet, perlengkapan rekanan pemborong dan sebagainya pada
waktu selesainya pekerjaan harus dibongkar atau bila ada perintah disingkirkan
dari tapak, juga segala pekerjaan yang terganggu harus diperbaiki,
pembongkaran bangunan sementara tersebut harus dengan persetujuan
Direksi/Kuasa Pengguna Anggaran yang bersangkutan.
7.4. Jalan masuk ketempat pekerjaan yang telah ditetapkan harus diadakan oleh
rekanan bilamana diperlukan, disesuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan
proyek tanpa dimasukkan di dalam anggaran biaya.

Pasal 8 : JADWAL PELAKSANAAN/TIME SCHEDULE


Pada saat rekanan akan melalui pelaksanaan dilapangan atau setelah rekanan merima
SPK dari Kuasa Pengguna Anggaran harus segera mengadakan persiapan antara lain
berupa pembuatan jadwal pelaksanaan yang berupa Bar-Chart secara tertulis, berisi
tahap-tahap pelaksanaan pekerjaan, waktu yang direncanakan dan disesuaikan dengan
jangka waktu yang ditetapkan dalam kontrak dan harus disahkan kepada Konsultan
Pengawas, Dinas Permukiman Propinsi Jawa Timur dan Kuasa Pengguna Anggaran.
Bar-chart tersebut harus selalu berada dilokasi tempat pekerjaan untuk diikuti dengan
perkembangan hasil pelaksanaan pekerjaan dilapangan dengan diberikan tanda garis
tinta warna merah, bila terdapat/terlihat adanya hambatan semua pihak harus segera
mengadakan langka-langka untuk penanggulangan hambatan yang akan terjadi.

Pasal 9 : KUASA PEMBORONG DILAPANGAN


9.1. Pengawasan dan Prosedur Pelaksanaan.
Pemborong/rekanan harus mengawasi dan memimpin pekerjaan dengan
menggunakan kecakapan dan perhatian sepenuhnya serta bertanggung jawab
terhadap semua alat-alat konstruksi, tata cara teknik. Urutan dan prosedur serta
untuk mengkoordinasikan semua bagian pekerjaan sesuai kontrak.
9.2. Pegawai Pemborongan yang Melaksanakan.
a. Sebagai pemimpin sehari-hari pada pelaksanaan pekerjaan pemborong
harus dapat menyerahkan kepada seorang pelaksana yang ahli, sesuai
dengan bidang keahliannya seta cakap yang diberi kuasa penuh dan harus
selalu berada ditempat pekerjaan serta mempunyai NKTT.
b. Sebagai penanggung jawab dilapangan pekerjaan pelaksana/site manager
harus mempelajari dan mendalami semuai isi gambar, bestek dan Berita
Acara Penjelasan/Aanwijzing sehingga tidak terjadi kesalahan-kesalahan
baik konstruksi maupun kwalitas bahan-bahan yang harus dilaksanakan.
c. Perubahan konstruksi maupun perubahan bahan bangunan hanya dapat
dilaksanakan apa bila ada izin tertulis dari Direksi/ Kuasa Pengguna
Anggaran berdasarkan Rapat Direksi, menyimpang dari hal tersebut
menjadi tanggung jawab Pemborong untuk melaksanakan sesuai gambar
dan bestek.
d. Direksi berhak menolak penunjukan seorang pelaksana/site manager dari
pemborong berdasrkan pendidikan, pengalaman, tingka laku dan
kecakapannya. Dalam hal ini pemborong harus segera menempatkan
pengganti lain dengan persetujuan Direksi.

Pasal 10 : TEMPAT TINGGAL (DOMISILI)


10.1. Apapun kebangsaan pemborong, sub pemborong, leveransier atau penengah
(arbitator) dan dimanapun mereka bertempat tinggal/menetap (domisili) atau
dimanapun pekerjaan atau bagian pekerjaan berada, Undang-undang Republik
Indonesia adalah Undang-undang yang dilindungi kontrak ini.
10.2. Untuk memudahkan komunikasi demi untuk memperlancar jalannya
pelaksanaan pekerjaan rekanan Pemborong berkewajiban memberikan alamat
yang tetap dan jelas dengan nomor telepon rumah kepada Kuasa Pengguna
Anggaran /Direksi.

Pasal 11 : PENJAGAAN KEAMANAN LAPANGAN PEKERJAAN


11.1. Keamanan dan Kesejahteraan.
Selama pelaksanaan pekerjaan rekanan pemborong diwajibkan mengadakan
segala keperluan untuk keamanan dan kesejahteraan para pekerja dan tamu,
seperti pertolongan pertama pada kecelakaan, sanitasi, air minum, dan fasilitas-
fasilitas kesejahteraan, juga diwajibkan memenuhi segala peraturan, tata tertip,
ordonansi Pemerintah atau Pemerintah Daerah setempat.
11.2. Terhadap Wilayah Orang lain
Pemborong diharuskan membatasi daerah operasinya disekitar lokasi pekerjaan
dan harus mencegah para pekerjanya melanggar wilayah orang lain.
11.3. Terhadap Milik Umum.
Pemborong harus menjaga agar jalanan umum, jalan kecil dan hak pemakaian
jalan bersih dari bahan-bahan bangunan dan sebagainya dan memelihara
kelancaran lalu lintas, baik bagi kendaraan maupun pejalan kaki selama
pekerjaan berlangsung.
Pemborong juga bertanggung jawab atas gangguan dan pemindahan yang terjadi
atas perlengkapan umum (fasilitas) seperti saluran air, listrik dan sebagainya
yang disebabkan oleh pelaksanaan pekerjaan pemborong, maka biaya
pemasangan kembali dan segala perbaikan kerusakan menjadi tanggung jawab
pemborong.
11.4. Terhadap Bangunan yang ada.
Selama masa pelaksanaan kontrak, pemborong bertanggung jawab penuh atas
segala kerusakan bangunan yang ada disekitarnya, utilitas, jalan-jalan, saluran-
saluran pembuangan dan sebagainya di lokasi dan kerusakan-kerusakan sejenis
yang disebabkan karena pelaksanaan pekerjaan pemborong dalam arti kata yang
luas. Itu semua diperbaiki (pemborong) hingga dapat diterima Pemberi Tugas.
11.5. Keamanan terhadap Pekerjaan.
Pemborong bertanggung jawab atas keamanan seluruh pekerjaan termasuk
bahan-bahan bangunan dan perlengkapan instalasi di tapak, hingga kontrak
selesai dan diterima baik oleh Direksi, Pemborong harus menjaga perlengkapan
dan bahan-bahan dari segala kemungkinan kerusakan, kehilangan dan
sebagainya untuk seluruh pekerjaan termasuk bagian-bagian yang dilaksanakan
oleh pekerja-pekerja dan menjaga agar pekerjaan bebas dari air hujan dengan
melindungi memakai tutup yang layak, memompa, atau menimba seperti yang
dikehendaki atau diinstruksikan Direksi.

Pasal 12 : LAPORAN MINGGUAN DAN HARIAN


Rekanan/pemborong harus membuat laporan mingguan/harian mengenai kemajuan
pekerjaan. Laporan Kemajuan Pekerjaan tersebut meliputi keterangan-keterangan yang
berhubungan dengan kejadian-kejadian selama 1 (satu) minggu yang perinciannya
sebagai berikut :
a. Jumlah pegawai/tenaga kerja yang diperkerjakan selama minggu ini.
b. Uraian kemajuan pekerjaan pada akhir bulan.
c. Bahan-bahan dan barang-barang perlengkapan yang telah masuk dan diterima di
tempat pekerjaan harian.
d. Keadaan cuaca.
e. Kunjungan tamu-tamu yang ada hubungannya dengan proyek.
f. Kejadian khusus.
g. Foto-foto yang menggambarkan prestasi 0% s/d 100% sesuai penagihan angsuran
pembayaran sebagaimana tercantum dalam kontrak pemborong.
h. Pengesahan Direksi/ Kuasa Pengguna Anggaran

Pasal 13 : JAMINAN DAN KESELAMATAN BURUH


13.1. Air Minum dan Air untuk Pekerjaan.
a. Pemborong harus senantiasa menyediakan air minum yang cukup bersih di
tempat pekerjaan untuk para pekerjanya.
b. Air untuk keperluan bangunan selama pelaksanaan dapat mempergunakan
atau menyambung pipa air yang telah ada dengan meteran air tersendiri
(guna memperhitungkan pembayaran) atau air sumur yang bersih/jernih
dan tawar, bila hal ini meragukan Direksi, harus diperiksa pada
laboratorium atas biaya pemborong.
13.2. K e c e l a k a a n.
Pemborong harus memperhatikan keselamatan kerja seluruh pekerja serta
kelengkapan peralatan kerja yang memadai.
Apabila terjadi kecelakaan untuk tenaga kerja yang melaksanakan pekerjaan
tersebut pada waktu pelaksanaan, pemborong harus segera mengambil tindakan
yang perlu untuk keselamatan korban dengan biaya pengobatan dan lain-lain
menjadi tanggung jawab pemborong dan harus segera melaporkan kepada
Jawatan Perburuhan dan Direksi.

13.3. Dilokasi pekerjaan harus disediakan peti obat-obatan untuk pertolongan


pertama yang selalu tersedia dalam setiap saat dan berada di tempat Direksi
keet/bouwkeet.

Pasal 14 : ALAT-ALAT PELAKSANAAN/PENGUKURAN


14.1. Selama pelaksanaan pekerjaan, pemborong harus menyediakan/menyiapkan
alat-alat, baik untuk sarana peralatan pekerjaan maupun peralatan-peralatan
yang diperlukan untuk memenuhi kwalitas hasil pekerjaan antara lain pompa
air, beton mollen dan sebagainya.
14.2. Penentuan titik-titik duga letak bangunan, siku-siku bangunan maupun datar
(waterpast) dan tegak lurusnya bangunan harus ditentukan dengan memakai
alat ukur waterpast instrumen.

Pasal 15 : SYARAT-SYARAT CARA PEMERIKSAAN BAHAN BANGUNAN


15.1. Pemborong harus selalu memegang teguh disiplin terhadap pekerjaannya dan
tidak akan memperkerjakan tenaga yang tidak sesuai atau tidak mempunyai
keahlian dalam tugas yang diserahkan kepadanya.
15.2. Pemborong menjamin bahwa semua bahan bangunan dan perlengkapan yang
disediakan menurut kontrak dalam keadaan baru, dan bahwa semua pekerjaan
akan berkualitas baik bebas dari cacat-cacat.
15.3. Dalam pengajuan penawaran pemborong harus memperhitungkan biaya-biaya
pengujian/pemeriksaan berbagai bahan pekerjaan, diluar jumlah tersebut
pemborong tetap bertanggung jawab atas biaya-biaya pengiriman yang tidak
memenuhi syarat-syarat yang dipenuhi.

Pasal 16 : PEKERJAAN TIDAK BAIK


16.1. Pemberi tugas berhak mengeluarkan instruksi agar pemborong membongkar
pekerjaan apa saja yang telah ditutup untuk diperiksa, atau mengatur untuk
mengadakan pengujian bahan-bahan atau barang-barang baik yang sudah
maupun yang belum dimasukkan dalam pekerjaan atau yang sudah
dilaksanakan untuk disempurnakan sesuai kontrak. Biaya penyempurnaan
pekerjaan ini menjadi tanggung jawab pemborong.
16.2. Pemberi tugas berhak mengeluarkan instruksi untuk menyingkirkan dari tempat
pekerjaan, pekerjaan-pekerjaan, bahan-bahan atau barang-barang apa saja
yang tidak sesuai dengan kontrak.
16.3. Pemberi tugas boleh (tetapi tidak dengan secara tidak adil atau menyusahkan)
mengeluarkan perintah yang menghendaki pemecatan siapa saja dari pekerjaan.

Pasal 17 : PEKERJAAN TAMBAH DAN KURANG (MEER EN MINDERWERK)


17.1. Pemborong berkewajiban sesuai dengan pekerjaan yang diterima menurut
ketentuan dalam AV 41 pasal 2 ayat 3 dan menurut gambar-gambar detail yang
telah disahkan oleh Direksi melaksanakan secara keseluruhan atau dalam
bagian-bagian menurut persyaratan-persyaratan teknis untuk menghasilkan
pekerjaan yang baik. Pemborong selanjutnya berkewajiban pula tanpa tambahan
biaya mengerjakan segala sesuatu demi kesempurnaan pekerjaan atau memakai
bahan-bahan yang tepat, walaupun satu dan lain hal tidak dicantumkan dengan
jelas dalam gambar dan bestek.
17.2. Pekerjaan tambah dan kurang hanya dapat dikerjakan atas perintah atau
persetujuan secara tertulis dari Direksi. Selanjutnya perhitungan
penambahan/pengurangan pekerjaan, dilakukan atas dasar harga yang disetujui
oleh kedua belah pihak, jika tidak tercantum dalam daftar harga upah dan
satuan pekerjaan.
17.3. Pekerjaan tambah dan kurang yang dikerjakan tidak seijin Direksi secara tertulis
adalah tidak sah dan menjadi tanggung jawab pemborong sepenuhnya.

Pasal 18 : TEKNIS PELAKSANAAN PEKERJAAN


18.1. Harga Satuan dan Harga Penawaran
a. Dalam formulir surat penawaran, penawar harus melengkapi daftar
harga satuan, tiap harga satuan harus meliputi segala perongkosan
(overhead) keuntungan dan segala biaya berkaitan untuk pekerjaan
semacam ini.
Harga-harga yang tercantum harus dipakai dasar untuk menentukan
nilai pekerjaan tambah atau pekerjaan kurang dari kontrak yang
dilaksanakan atas berbagai perintah.
b. Harga penawaran yang dicantumkan (disebut) dalam formulir surat
penawaran hanya dilaksanakan dalam rupiah.Jumlah harus dibulatkan
dalam ribuan rupiah kebawah.
c. Bila terdapat perbedaan volume penawaran dengan pelaksanaan sesuai
bestek, maka hal ini tidak dapat dijadikan dasar perhitungan biaya
tambah kurang.

18.2. Permohonan untuk Pembayaran Setelah Pemberi tugas/Kuasa Pengguna


Anggaran menerima suatu permohonan tertulis dari pemborong untuk
pembayaran maka suatu “Berita Acara Kemajuan Pekerjaan” untuk tiap
tahap pembayaran yang tersebut diatas, dikeluarkan oleh Konsultan
Pengawas dan disetujui oleh Kuasa Pengguna Anggaran apabila Kemajuan
Fisik Pekerjaan telah memenuhi persyaratan sesuai dengan kontrak.
18.3. Ijin Bangunan dan Iklan
a. Ijin bangunan, biaya dan pengurusannya menjadi beban pemborong dan
dikakulasikan dalam biaya Pekerjaan Persiapan dalam Penawaran.
b. Pemborong tidak diijinkan membuat iklan dalam bentuk apapun dalam
batas-batas lapangan pekerjaan atau ditanah yang berdekatan tanpa ijin
Direksi.
c. Pemborong harus melarang siapapun yang tidak berkepentingan
memasuki lapangan pekerjaan.
d. Pemborong harus memasang papan nama proyek di lokasi pekerjaan
ukuran 0,80 x 1,20 m dan ukuran dari bahan triplek di cat warna
dasar putih tulisan hitam, selambat-lambatnya 2 minggu setelah tanggal
SPK

18.4. Pekerjaan Persiapan


a. Sebelum rekanan pemborong mengadakan persiapan di lokasi/halaman,
sebelumnya harus memenuhi prosedur tentang tata cara
perijinan/perkenan memulai dengan persiapan-persiapan
pembangunan kepada Pemerintah Daerah setempat dan Pejabat
setempat yang bersangkutan, terutama tentang dimana harus
membangun sementara (bauwkeet), bahan-bahan bangunan, jalan
masuk dan sebagainya.
b. Pada saat mengadakan persiapan dan pengukuran Direksi lapangan
sudah harus memulai aktif untuk mengadakan pengawasan sesuai
dengan tugasnya.
c. Untuk menghindari keraguan konstruksi, maka sebelum pada tiap-tiap
bagian pekerjaan dilaksanakan, diharuskan mendapatkan ijin tertulis
dari Direksi dan Konsultan Pengawas untuk dapat meneruskan bagian
dari pekerjaan tersebut secara berkala.

18.5. Pekerjaan Tanah/Pekerjaan Urugan


a. Tanah dimana bangunan akan didirikan harus dibersihkan dari segala
kotoran/benda yang dapat mengganggu jalannya pelaksanaan
konstruksi seperti sisa-sisa tumbuhan, akar-akaran dan lain sebagainya.
Pembersihan ini juga dilaksanakan pada saat pelaksanaan fisik selesai,
yaitu membersihkan kotoran/benda dari sisa pekerjaan pelaksanaan.
b. Sebelum galian untuk dilakukan maka tanah harus dibuat rata dengan
ketinggian sesuai pada gambar dan bekas galian dapat dipergunakan
untuk mengurug bagian tanah yang rendah dan urugan samping
pondasi bagian luar sedangkan sisanya harus dibuang keluar.
c. Untuk galian pondasi disesuaikan.
d. Pemborong harus menyediakan mesin-mesin pompa yang bekerja
dengan baik untuk menguras/mengeringkan genangan-genangan air.

18.6. Pemerataan Tanah Halaman


Bila duga lantai bangunan yang dilaksanakan lebih tinggi 30 cm terhadap
tanah asli maka 1 m diluar sekeliling gedung diukur dari got pematus air
hujan luar samping dan belakang diurug dengan tanah urug dipadatkan
dan diratakan, dimana pada garis tepi luar urugan halaman 30 cm dan
duga lantai dengan akhiran urugan kemiringan 45 derajat.

18.7. P o n d a s i
a. Pasangan pondasi adalah pondasi plat setempat dan strousepile. untuk
penulangan pondasi lihat detail pembesian.
b. Semua pekerjaan pondasi dikerjakan sesuai dengan gambar rencana.

18.8. Pasangan Batu Bata (Tembok)


a. Semua pasang tembok batu bata putih dibuat dengan campuran perekat
1pc : 6ps.
b. Tembok harus dipasang tegak lurus, siku dan rata tidak boleh terdapat
retak-retak dengan maksimum pecah dari batu merah 20 %.
c. Batu harus berukuran yang sama, menurut aturan normalisasi dan
sebelum dipasang direndam air terlebih dahulu hingga kenyang.
d. Bata yang digunakan harus berkwalitas baik dari hasil pembakaran yang
matang, berukuran sama, tidak boleh pecah-pecah dan lain-lain
menurut pemeriksaan Direksi.
e. Semua voeg (siar) diantara pasangan bata pada hari pemasangan harus
dikeruk sedalam 1 cm pada bagian luar dan dalam.
f. Tidak diperbolehkan memasang bata yang pernah dipakai (bekas) atau
bata yang pecah-pecah.
g. Pemasangan tembok bata hanya diperbolehkan maksimum tinggi 1 m
untuk setiap hari.
h. Pasangan tembok dipasang luas maksimum 12 m2. Bila lebih harus
dipasang beton kolom praktis.
i. Perencah (andang) tidak boleh dipasang dengan menembus tembok.

18.9. Pasangan Trasram


Pasangan bata dengan perekat 1pc : 3ps (trasram) bahan pencair dengan
air biasa harus dibuat pada :
a. Diatas pondasi (beton sloof) sesuai dengan gambar rencana diteruskan
setinggi 30 cm diatas lantai.
b. Di tempat-tempat lain bila dianggap perlu oleh Direksi.

18.10. Bahan-bahan Pasangan/Beton


Bahan-bahan pasangan/beton pada umumnya mempergunakan bahan lokal
yang memenuhi syarat teknis, dan sebelumnya harus mengajukan contoh-
contoh yang mendapat persetujuan Direksi secara tertulis.
a. Batu bata
Berasal dari hasil (produksi) lokal, padat berukuran sama serta dari hasil
pembakaran yang matang dengan maksimum pecah/retak 20 %.
b. Pasir Pasang
Untuk semua pekerjaan pasangan dan plesteran harus memakai pasir
pasang (bukan pasir urug) berbutir kasar/keras, tajam, bersih dan tidak
mengandung lumpur/debu.
c. Pasir Cor
Berbutir sangat kasar tajam dan bersih dari segala kotoran dan khusus
untuk pasir cor beton (lihat SKSNI 1991) didatangkan dari jawa
d. Kerikil Beton
Berasal dari pecahan batu gunung/batu kali (steinslaag) ukuran 1 : 2
cm padat dan bersih dari segala kotoran tidak keropos dan sebelum
dipakai harus dicuci terlebih dahulu serta tidak boleh memakai kerikil
beton dengan butiran bulat (grosok)

e. Semen PC
Hasil produksi lokal dan tidak boleh memakai semen PC yang telah
mengeras (swiping).
Khusus untuk beton konstruksi harus memakai mutu yang sejenis
produksi Semen Gresik tau semen Cibinong, penggunaan semen harus
satu merk saja.
18.11. Pekerjaan Beton dan Beton Bertulang
a. Beton bertulang untuk semua jenis konstruksi digunakan mutu beton
K.225 yang dibuktikan dengan hasil test beton.
b. Pemborong sebelum melaksanakan pekerjaan beton diwajibkan
memeriksa gambar/perhitungan konstruksi beton bertulang. Bila
Direksi menganggap perlu Konsultan Perencana harus membuat
perhitungan/ gambar beton dengan mendapat persetujuan Direksi dan
melakukan test mix design beton.
c. Pemborong tidak diperbolehkan mengecor beton sebelum begesting dan
pasangan besi beton diperiksa dan disetujui Direksi secara tertulis.
d. Untuk pekerjaan konstruksi beton bertulang harus dipakai semen pc
dari Gresik, tiga roda (semen produksi dalam Negeri) dan harus
memakai satu macam merk pabrik dengan jenis dan kwalitas yang sama.
e. Kerikil untuk semua pekerjaan beton/beton bertulang dapat memakai
kerikil ukuran 1 s/d 3 cm padat dan bersih tidak keropos, bersih dari
debu dan sebelum dipakai harus dicuci terlebih dahulu.
f. Pasir cor harus dipakai pasir khusus untuk beton, berbutir tajam bersih
dari kotoran dan tidak boleh tercampur dengan bahan-bahan lain.
g. Untuk mengaduk semua campuran beton harus memakai air bersih dan
tawar dengan kadar air campuran tepat dan dilakukan slump test secara
sederhana, supaya beton tidak terlalu cair (SKSNI 1991)
h. Pemasangan papan-papan begesting dipakai papan meranti tebal 2 cm
disusun secara rapat. Khusus untuk bekesting plat lantai dapat
menggunakan papan meranti tebal 2 cm, dilapisi triplek, sedangkan
tiang penyangga dibuat dari usuk 5/7 dengan jarak maksimal 0,60m,
serta dilengkapi balok-balok 5/7 melintang dan membujur sehingga
menjadi permukaan yang rata dan hasil cor yang ada.
i. Pembongkaran papan begesting dapat dilaksanakan sesudah mendapat
persetujuan dari Direksi.
j. Setelah pekerjaan begesting dibongkar semua bidang yang terlihat ada
lubang-lubang, tidak rata, harus segera ditutup dengan spesi 1pc : 2ps.
k. Semua pekerjaan beton bertulang harus mengikuti SKSNI 1991.

18.12. Pekerjaan Penulangan Beton


a. Besar ukuran-ukuran beton beserta penulangan tersebut diatas tetap
dilaksanakan biarpun gambar rencana dan gambar detail tidak tertulis
secara jelas.
b. Beton Sloof 15/20 kolom 15/15 15/30, Balok 15/15 15/20 dan kolom
praktis 15/15 dilaksanakan pada seluruh bangunan, sesuai gambar.
c. Balok latai 15/15 dilaksanakan langsung di atas semua kosen, pintu,
jendela maupun bovenlist yang mempunyai lebar bebas lebih besar dari
1 m kosen-kosen tegak sebagai pembagi lebar kosen tidak dapat
dianggap sebagai bentangan bebas, sehingga lebar bebas ialah bagian
luar dari kosen tepi sehingga ujung kosen tepi yang lain.
d. Beton ring balk 15/20 dilaksanakan pada seluruh akhiran tembok
bagian atas termasuk tembok-tembok akhiran pada tembok-tembok
gewel.
e. Tulangan untuk beton harus memakai besi/tulangan yang baru, bersih
dari segala kotoran termasuk karat-karat yang ada harus dibersihkan
terlebih dahulu.
f. Semua dikerjakan sesuai gambar rencana.

18.13. Pekerjaan Plesteran


a. Pekerjaan beton yang akan diplester, sebelumnya permukaan harus
dibuat kasar terlebih dahulu (dengan betel) dan disaput dengan air
semen, dengan plesteran 1pc : 3ps.
b. Campuran spesie untuk plesteran beton dibuat 1pc : 3ps, sedang untuk
plesteran tembok dilaksanakan campuran 1pc : 6ps kecuali pasangan
trasraam spesi menggunakan campuran 1pc:3ps.
c. Semua pekerjaan plesteran beton maupun plesteran tembok harus rata
dan halus, dan merupakan suatu bidang yang tegak lurus dan siku, tidak
boleh ada retak-retak kemudian. Jika terjadi retak-retak Pemborong
harus segera memperbaikinya.
d. Sebelum pelaksanaan plesteran tembok, jalur-jalur instalasi listrik
sudah harus ditanam dalam tembok terlebih dahulu sesuai dengan
rencana.
e. Semua pekerjaan plesteran dengan 1pc:3ps tersebut dalam RKS ini,
dilaksanakan untuk plesteran trasram tembok luar/dalam dan bagian
pondasi yang tampak.
f. Pekerjaan plesteran tembok dilaksanakan pada seluruh pekerjaan
tembok, baik yang tampak maupun yang tidak tampak antara lain
tembok diatas langit-langit maupun tembok gewel, bagian dalam dan
sebagainya, dengan perekat dinding 1pc : 5ps
g. Pekerjaan plesteran tembok dilaksanakan setelah pekerjaan atap selesai
dilaksanakan, tembok harus dibasahi air hingga betul-betul kenyang
sebelum pekerjaan plesteran dimulai.
h. Untuk penyelesaian sudut-sudut sponing (benangan) supaya digunakan
plesteran 1pc : 3ps dilaksanakan dengan lurus dan tajam.

18.14. Pekerjaan Cat Kayu, Besi dan Plituran (Melamine)


a. Kecuali pekerjaan kayu untuk kap dan langit-langit harus dicat dengan
cat buatan : Patna Surabaya, - Mataram Surabaya (EMCO)
b. Warna cat ditentukan kemudian menurut petunjuk Direksi/Pengguna
Anggaran atau mengikuti bangunan yang telah ada.
c. Cat meni, cat plamur maupun dempul harus dipakai sesuai dengan
kwalitas cat akhiran yang akan dipergunakan.
d. Dalam pelaksanaan pekerjaan cat sebelum dimulai mengecat semua
bagian harus dibersihkan dan dimeni terlebih dahulu kemudian
diplamur hingga rata dan bila mana perlu didempul dan digosok dengan
kertas gosok amplas hingga rata dan halus, kemudian di cat dasar satu
kali selanjutnya dengan cat akhiran (penutup) tiga kali atau lebih untuk
mencapai hasil yang sempurna dan memuaskan.
e. Semua kayu yang harus diplitur a.l.
Pintu panil digosok sampai halus dan diplitur hingga rata dan menutup
pori-pori yang ada.

18.15. Pekerjaan Cat Tembok


a. Untuk seluruh dinding tembok harus dicat dengan cat tembok buatan :
- ICI Catylac - Patna Surabaya - Decolith
b. Sebelum memulai dengan memplamur tembok, maka tembok yang
belum diplester dengan rata dan sempurna harus diperbaiki lebih
dahulu (dihaluskan).
c. Bahan plamur tembok yang dipergunakan untuk tembok bagian luar,
alkali ditambah semen putih. Tembok bagian dalam 1 kg cat emulsion +
2 kg semen putih ditambah air seperlunya
d. Warna cat ditentukan kemudian oleh Direksi dan pemborong harus
mengajukan contoh warna cat diluar ketentuan dalam bestek ini dan
pengecatan tembok dilaksanakan oleh tenaga khusus dari pabrik cat
yang bersangkutan.
18.16. Pekerjaan Instalasi Listrik
Untuk keperluan ini pemborong dapat menugaskan pihak ketiga (instalatur)
yang mempunyai sertifikat dari PLN setempat dengan mendapatkan
persetujuan terlebih dahulu dari Pimpro/Konsultan Pengawas.
Sebelum melaksanakan pekerjaan instalasi tersebut pemborong harus
membuat gambar/diagram instalasi dengan skala 1 : 100 dengan mendapat
persetujuan Kuasa Pengguna Anggaran/Konsultan Pengawas.
18.16.1. Pelaksanaan Pekerjaan Instalasi
a. Menurut penjelasan-penjelasan dan peraturan-peraturan
dalam uraian ini dengan tegangan/voltage 220 VA.
b. Menurut segala petunjuk-petunjuk dari Kuasa Pengguna
Anggaran/Konsultan Pengawas.
c. Menurut peraturan-peraturan listrik yang masih berlaku di
Indonesia pada waktu ini (PUIL) tahun 1976.

18.16.2. Penjelasan dari Bahan-bahan


a. Pemakaian bahan-bahan harus barang baru yang tidak ada
cacat-cacat, berkualitas baik dan memenuhi syarat keamanan
kerja.
b. Sebelum bahan-bahan tersebut dipasang supaya diperlihatkan
terlebih dahulu kepada Pimpro/Konsultan Pengawas untuk
diperiksa kwalitasnya dan dapat persetujuan.
c. Barang-barang yang sudah diafkir dalam tempo 2 x 24 jam
harus dikeluarkan dari tempat pekerjaan, jika pemborong
tidak mengindahkan, Pimpro/Konsultan Pengawas berhak
menyelenggarakan atas biaya pihak Pemborong.

18.16.3. Pekerjaan Instalasi (Peraturan PI)


a. Pemasangan pipa-pipa seluruhnya ditanam didalam tembok
sedemikian rupa, sehingga bila ditutup (diplester) oleh
Pemborong bangunan tidak menonjol keluar. Penanaman pipa
dilaksanakan sebelum tembok diplester.
b. Pipa-pipa yang ditanam didalam tembok harus diikat kuat-
kuat dengan klem-klem dan pipa yang digunakan adalah pipa
PVC.
c. Pasangan pipa yang diletakan diatas kayu harus diberi lapak
(klos) yang jarak pemasangan satu sama lain minimal 1 meter.
d. Pipa yang digunakan adalah pipa PVC tertutup dan sebelum
digunakan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu.
e. Pada tiap-tiap pasangan pipa jarak 8 m harus diberi lapak
(klos) yang jarak 8 m itu harus diberi trikdoos.
f. Pada pemasangan pipa ada kemungkinan air dapat
berkumpul, supaya dipasang inspektube.
g. Jumlah penarikan kawat didalam pipa harus sesuai dengan
tebal (daftar) sebagai pedoman yang masih berlaku di
Indonesia.

18.16.4. Pasangan Kawat


a. Kawat yang digunakan untuk pemasangan tersebut ialah
kawat NYA ex. Lokal yang telah disetujui oleh PLN (pusat
penyelidikan masalah kelistrikan) antara lain ex. LMK,
Supreme, Royal, Sinar, General dan lain-lain berukuran 4 mm
untuk aliran pembawa dari skakelar lampu dengan satu sama
lain berlainan warna (merah hitam).
b. Penarikan kawat diatas isolasi dikerjakan diatas langit-langit
yang tidak terlihat dari bawah.
c. Isolator yang digunakan adalah R.25 berukuran 25 x 25 mm
dengan jarak kurang lebih 0,80 m.
d. Sebagai pengikat digunakan tali rami yang dicelupkan dalam
teer.
e. Pada tiap-tiap penyambungan kawat digunakan lasdop.
f. Pada tempat-tempat persilangan dan penyebrangan diatas
tembok maka kawat itu dimasukkan kedalam pipa sebagai
pengaman.
g. Semua kawat yang dimasukkan kedalam pipa tidak boleh ada
sambungan.
h. Tarikan kawat diatas harus cukup tegang dan kencang, tetapi
isolasi tidak boleh rusak .

18.16.5. Pemasangan Skakelar, Stop Kontak, Sekering Kast dll.


a. Pemasangan skakelar berkekuatan 6A-250V stop kontak 16
Amp dari ebonit putih merk Broco/Nasional harus dipasang
serapi-rapinya dan warna harus satu macam tidak boleh dicat
atau diduco, semua pasangan dalam (inbouwmounting)
b. Untuk skakelar seri supaya dipasang double tunel.
c. Tinggi linchverdoelkast, skakelar, stop kontak menurut
petunjuk PLN setempat (menurut ketentuan AVE atau 1 ½ m
dari lantai.

18.16.6. Jenis Lampu yang digunakan


a. Semua lampu SL dipasang menempel pada plafond.
b. Untuk pembagian group supaya diatur sedemikian rupa
sehingga apabila salah satu group tersebut putus penerangan
dan stop kontak pada ruang itu tidak padam seluruhnya.
c. Penerangan halaman pada oversteak/doorslop harus memakai
bola lampu SL 18 watt dipasang sesuai dengan gambar.
d. Seluruh penerangan harus dilengkapi dengan bola lampu, SL
lengkap sesuai dengan yang dibutuhkan, dipasang siap
menyala bila dalam lokasi tersebut belum ada listriknya
pemborong tetap memasang seluruh instalasi lengkap hingga
siap menyala dengan syarat :
- Dicoba dengan generator hingga semua menyala.
- Menyerahkan jaminan instalasi yang disyahkan oleh
Pemborong Utama atau Kuasa Pengguna Anggaran/Konsultan
Pengawas.

18.16.7. Ukuran Isolasi


Untuk ukuran isolasi ditentukan antara ½ Ohm sampai 5 ohm.
18.16.8. Papan-Papan Sekering (Panel)
a. Papan sekering tersebut dari papan metal clad, plat baja
dengan ukuran sesuai dengan perencanaan serta dilengkapi
dengan frame yang kuat.
b. Pemasangan papan-papan sekering/panel secara wallmounted
terpasang kuat dan rapi dengan lokasi yang tidak mengganggu
lalu lintas serta mudah untuk operasi dan maintenance.
c. Panel distribusi utama dilengkapi dengan copper buasbar atau
disesuaikan dengan kebutuhan menurut Pimpro/Konsultan
Pengawas.
d. Panel-panel tersebut setelah dipasang dengan baik dilengkapi
dengan kotak dari papan jati diplitur dilengkapi pintu dan
kunci.

18.16.9. Sambungan Pengaman Ketanah (Arde)


Sambungan pengaman ketanah harus dilaksanakan sesuai dengan
peraturan yang berlaku.
Batang-batang yang ditanam harus dari jenis kuningan minimal
diameter 2 mm dan panjang tidak kurang dari 3 m ditanam lurus
kebawah.
Elektrode yang ditanam harus disambungkan dengan kawat
kuningan garis tengah m/m2 pada bagian ke batang panel
distribusi yang ditanam, semua sambungan harus memakai alat
penghubung atau baut-baut, dilarang mamakai ikatan dan
pemijakan ground elektrode tergantung, tahanan tidak boleh lebih
dari 5 ohm.

18.16.10. Pengujian
Seluruh instalasi setelah selesai harus diuji untuk menentukan
apakah bekerja sempurna, dalam segala hal harus memenuhi
syarat-syarat yang ditentukan dalam peraturan-peraturan PLN
setempat.

18.16.11. Jumlah Titik Lampu dan Stop Kontak.


a. Jumlah titik lampu sesuai gambar rencana
b. Skakelar, stop kontak, sekering kast dipasang sesuai dengan
gambar, termasuk semua instalasinya.

Pasal 19 : PEMBERITAHUAN PENYERAHAN PEKERJAAN YANG PERTAMA


Apabila dalam waktu pelaksanaan pembuatan kontrak atau tanggal baru akibat
perpanjangan waktu sesuai dengan Adendum kontrak telah berakhir, pemborong harus
segera menyerahkan hasil pekerjaannya selesai dengan baik sesuai dengan kontrak
kepada Pemberi Tugas/Kuasa Pengguna Anggaran secara tertulis dengan tembusan
kepada Direksi dan Konsultan Pengawas.
Dengan surat penyerahan pekerjaan dari pemborong, Konsultan Pengawas
berkewajiban :
a. Membuat evaluasi hasil tentang hasil seluruh pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan
kontrak pemborong.
b. Menanggapi/melaporkan kepada Kuasa Pengguna Anggaran/Direksi tentang sikap
Konsultan Pengawas berdasarkan hasil evaluasi pekerjaan tersebut secara tertulis.
Kuasa Pengguna Anggaran akan mengadakan rapat Direksi mengenai pekerjaan
penyerahan tersebut secara tertulis.
a. Kontrak Pemborong
b. Surat penyerahan pekerjaan dari pemborong
c. Surat tanggapan dari Konsultan Pengawas, setelah dapat menerima penyerahan
pekerjaan tersebut.

Pasal 20 : PEMELIHARAAN BANGUNAN SEBELUM PENYERAHAN KEDUA


Terhitung mulai tanggal diterimanya penyerahan pekerjaan yang pertama, hingga
serah terima yang kedua adalah merupakan masa pemeliharaan yang masih menjadi
tanggung jawab pemborong sepenuhnya antara lain :
a. Keamanan dan penjagaan.
b. Penyempurnaan dan pemeliharaan.
c. Pembersihan.
Apabila pemborong telah melaksanakan hal tersebut diatas sesuai dengan Kontrak,
maka penyerahan pekerjaan yang kedua dapat dilaksanakan seperti pada tata cara
(Prosedur) pada penyerahan pekerjaan yang pertama.