Anda di halaman 1dari 55

Teknik Pengolahan limbah cair

Pretreatment Dan Primary Treatment

Pengolahan pendahuluan bertujuan :

mempercepat dan memperlancar proses pengolahan selanjutnya :

Pengambilan benda terapung,

pengambilan benda mengendap ( partikel kecil )

Pengambilan benda terapung

Menghilangkan zat padat kasar ( besar )

Melewatkan air limbah melalui para-para(rak) /saringan kasar atau alat pencacah ( Comminutor)

untuk memotong zat padat tanpa mengambilnya.

melalui para-para(rak) /saringan kasar atau alat pencacah ( Comminutor) untuk memotong zat padat tanpa mengambilnya.
melalui para-para(rak) /saringan kasar atau alat pencacah ( Comminutor) untuk memotong zat padat tanpa mengambilnya.

GRIT REMOVAL

Grit Removal digunakan untuk meyisihkan material

anorganik seperti pasir, silt, glass, cangkang; serta

material organik yang besar dan berat seperti potongan tulang, benih, biiji kopi, dsb. (bahan-bahan

non-biodegradable)

Secara teknis Grit Removal terbetuk dari saluran yang memiliki area yang luas sehingga dapat menurunkan kecepatan alir limbah cair sehingga partikel grit akan

mengendap

TANGKI EKUALISASI

Tangki Ekualisasi ditujukan :

menyeragamkan laju alir limbah cair yang masuk pada

tahapan selanjutnya

dapat dimanfaatkan untuk menyeragamkan jumlah beban

yang masuk pada pengolahan (biologi).

Berdasarkan letaknya, penempatan tangki ekualisasi ada dua

in-line arrangement (pada saluran utama aliran limbah cair)

off-line arrangement (diluar saluran utama aliran limbah cair)

arrangement (pada saluran utama aliran limbah cair) – off-line arrangement (diluar saluran utama aliran limbah cair)

Netralisasi

Netralisasi ditujukan untuk menaikkan atau

menurunkan nilai pH menjadi netral (pH = 7) dengan menambahkan bahan kimia asam atau

basa.

Pencapaian

nilai

pH

sekitar

netral

dimaksudkan untuk mempermudah proses

(biologi) pada tahapan selanjutnya

OIL TRAP

Adanya senyawa lemak/trigliserida pada limbah cair dapat menghambat proses biologi pada pengolahan kedua (secondary treatment)

Secara teknis lemak diapungkan pada permukaan

limbah cair sehingga dapat dipisahkan (scrap)

(secondary treatment) • Secara teknis lemak diapungkan pada permukaan limbah cair sehingga dapat dipisahkan (scrap)
(secondary treatment) • Secara teknis lemak diapungkan pada permukaan limbah cair sehingga dapat dipisahkan (scrap)

FLOATASI (Pengapungan)

Floatasi digunakan untuk memisahkan/ menyisihkan padatan yang ringan dengan mengapungkannya ke permukaan limbah air

Pengapungan padatan dapat dilakukan dengan menggunakan (injeksi) udara kedalam bak/tangki

SETTLING (SEDIMENTASI)

Types of Settling:
Types of Settling:
•Type 1 –Discrete settling •Type 2 –Flocculent settling •Type 3 –Zone settling •Type 4 –Compression
•Type 1
–Discrete settling
•Type 2
–Flocculent settling
•Type 3
–Zone settling
•Type 4
–Compression settling

SETTLING (SEDIMENTASI)

SETTLING (SEDIMENTASI) Tujuan dari sedimentasi adalah untuk memisahkan suspended solid dari air dengan cara pengendapan.

Tujuan dari sedimentasi adalah untuk memisahkan suspended solid dari air dengan cara pengendapan. Berdasarkan sifat padatan yang ada di dalam air, proses pengendapan ini dapat diklasifikasikan menjadi:

q

Pada pengendapan ini, partikel selalu dalam posisi individu (antara partilel satu dengan yang

Discrete Settling
Discrete Settling
individu (antara partilel satu dengan yang Discrete Settling Flocculent Settling Zone Settling lain tidak menggabung),
Flocculent Settling
Flocculent Settling
satu dengan yang Discrete Settling Flocculent Settling Zone Settling lain tidak menggabung), dan selama proses
Zone Settling
Zone Settling

lain tidak menggabung), dan selama proses pengendapan bentuk, ukuran dan densitasnya tidak berubah.

q

Pada pengendapan ini, partikel menempel atau bergabung satu dengan yang lain sehingga

selama periode pengendapan terjadi perubahan ukuran dan kecepatan pengendapan

q

Pada pengendapan ini, partikel yang tersuspensi membentuk kelompok-kelompok massa, dan selama proses pengendapan terbentuk zona-zona konsentrasi pada level pengendapan.

q

Pada pengendapan ini, konsentrasi padatan yang sangat tinggi akan memberikan tekanan yang besar

q Pada pengendapan ini, konsentrasi padatan yang sangat tinggi akan memberikan tekanan yang besar Compression Settling
Compression Settling
Compression Settling
q Pada pengendapan ini, konsentrasi padatan yang sangat tinggi akan memberikan tekanan yang besar Compression Settling

SETTLING (SEDIMENTASI)

Type
Type
Description
Description
Examples
Examples
sand
sand
Discrete (type 1)
Discrete
(type 1)
individual settling, low solids concentration.
individual settling, low solids
concentration.
Flocculent (type 2)
Flocculent
(type 2)
dilute suspension, particles flocculate, mass and settling rate increase with depth
dilute suspension, particles
flocculate, mass and settling rate
increase with depth
primary and upper secondary settlers
primary and upper
secondary settlers
Hindered (Zone) (type 3)
Hindered
(Zone)
(type 3)
intermediate concentration, mass settles as a unit, interface at top
intermediate concentration, mass
settles as a unit, interface at top
secondary clarifiers
secondary clarifiers
Compression (type 4) high concentration, structure formed, compression causes settling sludge
Compression
(type 4)
high concentration, structure formed,
compression causes settling
sludge

Proses pengendapan

I

Proses pengendapan I A II III B A C D B A C D IV B

A

II

III

B

A

C

D

B

A

C

D

IV

B

D

• Discrete settling – Particles fall independently
• Discrete settling
– Particles fall
independently

Settling Type 1

Buoyancy Drag 2. Gravity 3. Forces on a particle
Buoyancy
Drag
2.
Gravity
3.
Forces on a particle
Jika sebuah padatan berbentuk bola dicelupkan didalam air dan dilepaskan gaya-gaya yang bekerja padanya adalah:
Jika sebuah padatan berbentuk bola
dicelupkan didalam air dan dilepaskan
gaya-gaya yang bekerja padanya adalah:
1.
gaya berat (gravity force)
= Fg
padanya adalah: 1. gaya berat (gravity force) = Fg gaya apung ( bouyant force ) =

gaya apung (bouyant force) = Fb

padanya adalah: 1. gaya berat (gravity force) = Fg gaya apung ( bouyant force ) =

= Fd

gaya seret (drag force)
gaya seret (drag force)
Neraca gaya: Suatu partikel akan mengendap jika gaya beratnya melebihi gaya apung dan gaya seretnya.

Neraca gaya:

Suatu partikel akan mengendap jika gaya beratnya melebihi gaya apung dan

gaya seretnya.

Jika diterapkan hukum Newton pada peristiwa tersebut:

gaya berat gaya apung gaya seret = gaya percepatan

berat – gaya apung – gaya seret = gaya percepatan F F g  b 
berat – gaya apung – gaya seret = gaya percepatan F F g  b 

F F

g

b

F

d

m

p

dengan,
dengan,

m

p

= massa partikel dan
= massa partikel dan

a

= percepatan.
= percepatan.

. a

Terminal Settling Velocity

Gaya berat (garivity force):

F

g

m

p

.

g

.

p

V

p

.

g

Gaya apung (bouyant force):

F

b

w

V

p

g

Gaya seret (drag force):

F

d

C

D

A

p

w

v

2

2

w

= densitas air

p = densitas partikel

w

C

v

D

2

2

A

p

= drag coeficient

= tekanan dinamis

= luas proyeksi partikel

Untuk partikel berbentuk bola dengan d diameter

Maka,:

A p

d

2

4

Bila gaya netto sama dengan nol, berarti benda bergerak tanpa percepatan atau dengan kata lain
Bila gaya netto sama dengan nol, berarti benda bergerak tanpa percepatan atau
dengan kata lain kecepatan geraknya tetap (terminal velocity), sehingga:

p

p

F

g

F F

b

d

p

w

V

p

m

g

w

V

p

g

C

D

A

p

w

w

d

3

6

g

C

D

d

2

4

w

p

.a 0

F

d

v

2

2

2

v

2

0

0

0

Terminal Settling Velocity

  4   d p w v  g 3 C  D
4
 
d
p
w
v
g
3
C
D
w
Drag Coefficient
d p w v  g 3 C  D w Drag Coefficient tergantung Re C
tergantung Re
tergantung Re

C

D

24

Re

24

Re

0,4

= aliran laminer (Stokes flow)

3

Re

0,5

0,34

= aliran transisi

= aliran turbulen

Jiika,

Re < 1, maka rejim alirannya adalah laminer

Re > 10 4 , maka rejim alirannya adalah turbulen Rejim transisi terjadi pada 1> Re >10 4 (catatan: ada buku yang menuliskan bahwa batas turbulennya bukan 10 4 tetapi 10 3 )

Re

vd

w

= bilangan Reynolds

Aliran Laminer (Stokes flow)
Aliran Laminer (Stokes flow)
Besarnya kecepatan pengendapan untuk aliran laminer dapat dihitung dengan memberikan harga drag coefficient = 24/Re
Besarnya kecepatan pengendapan untuk aliran laminer dapat dihitung dengan
memberikan harga drag coefficient = 24/Re

v

(    ) d 4 p w g 3 24  w Re
(
) d
4
p
w
g
3
24
w
Re

=

4 (    ) d Re p w g 3 24  w
4
(
 
)
d
Re
p
w
g
3
24
w

Terminal Settling Velocity

v

v

1 (    ) d  vd p w w g 18 
1
(
 
) d
vd
p
w
w
g
18
w
2 g (    ) d v p w 18 
2
g
(
 
)
d
v
p
w
18
2 g (    ) d p w v  18  Aliran
2
g
(
 
)
d
p
w
v 
18
Aliran Laminer (Stokes flow)

v

TurbulenT

C  0,4 D        d 4  
C
 0,4
D
d
4
 
d
p
w
p
w
g
v
4
g
3
C
1,2
D
w
w

Transisi

Need to solve non-linear equation

 2 4    d p w v g  3 C D
2 4 
 
d
p
w
v
g
 3
C D
 w
24 3
C
 0,34
0,5
D Re
Re
 vd
w
Re 

Perlu CD untuk menghitung v

Perlu v untuk menghitung CD

Transisi

1. Hitung kecepatan dengan menggunakan Stokes law atau aliran turbulent 2. Hitung dan check bilangan
1. Hitung kecepatan dengan menggunakan Stokes law
atau aliran turbulent
2. Hitung dan check bilangan Reynolds
3. Hitung C D
4
 
d
p
w
v
g
4. Gunakan rumus umum
3
C
D
w
5. Ulangi dari langkah 2 hingga convergence

Example

 0.001

 1000

d

p

2650

0.0006

Stokes law

v

9.81

2650

1000

0.0006

 

18

0.001

2 0.3237

Reynolds Number

  18  0.001 2  0.3237 Reynolds Number g  9.81 1000  0.3237 
g  9.81 1000  0.3237  0.0006   194.24 R e 0.001 C
g
 9.81
1000
0.3237
0.0006
 194.24
R e
0.001
C
D
24
3
C D 
0.34
0.6788
R
R
e
e
Settling velocity
4
9.81
2650
1000
0.0006 
0.1381
3
0.6788
1000

Reynolds Number

C D

R e

C

D

1000  0.1381  0.0006  82.87 0.001 24 3   0.34  0.9592
1000
0.1381
0.0006
 82.87
0.001
24 3
0.34
 0.9592
R
R
e
e

Settling velocity

3   0.34  0.9592 R R e e Settling velocity 4  9.81 

4

9.81

2650

1000

 

3

0.9592

1000

0.0006

0.1162

Reynolds Number

C D

1000

0.0.1162

0.0006

R e

69.72

0.001 24 3   R R e e
0.001
24 3
R
R
e
e

0.34

C

1.0436

D

Settling velocity

 R R e e 0.34  C 1.0436 D  Settling velocity 4  9.81

4

9.81

2650

1000

0.0006

3 1.0436

1000

0.1114

Settling – Ketika flok ( gumpalan ) telah terbentuk, maka dengan mudah untuk dipisahkan dari
Settling
– Ketika flok ( gumpalan ) telah terbentuk, maka dengan
mudah untuk dipisahkan dari air
– Gravity Settling Tanks ( Tangki pengendap secara grafitasi )
• Semua tamgki pengendap dimodelkan seperti Reaktor plug flow ( PFR )
• Rectangular( persegi panjang)atau Circular (bulat ) design.
• Desain dari tangki ini dijelaskan oleh Vs dari ukuran partikel yang
dipisahkan ( diendapkan )
• t= H/V s = L/V
• V s = Stokes velocity
• H = tank height – sludge depth ( tinggi tangki-kedalaman sludge)
• L = tank length ( panjang tangki )
• V = horizontal velocity ( kecepatan horisontal )
• t = waktu tinggal
Settling
Settling
Q in V Q V S Sludge Zone
Q in
V
Q
V S
Sludge Zone

out

Settling – PFR, L  2W, L  H, W = lebar tangki – Surface
Settling
– PFR, L  2W, L  H, W = lebar tangki
– Surface Overflow Rate = Vs = Q/Ap = Q/LW
– Weir overflow rate = Q/WH
– Q= jumlah seluruh aliran limbah
– A= luas permukaan bak= L.W
– PARAMETER DESAIN
– Surface Overflow rates ( kecepatan overflow
permukaan ) 20-35 m 3 /hari/m 2
– Detention times ( waktu tinggal ) 2-8 jam
– Weir overflow rate( kecepatan overflow weir)  150-
300 m 3 /hari/m 2

Settling Model

Dalam tangki sedimentasi yang ideal, partikel yang masuk ke dalam tangki dianggap terdistribusi secara merata
Dalam tangki sedimentasi yang ideal, partikel yang masuk ke dalam tangki
dianggap terdistribusi secara merata sepanjang penampang pemasukan air dan
begitu patikel menyentuh dasar tangki langsung dikeluarkan.
begitu patikel menyentuh dasar tangki langsung dikeluarkan. V Q in V S h Q out V
V Q in V S h
V
Q in
V S
h
menyentuh dasar tangki langsung dikeluarkan. V Q in V S h Q out V s =

Q out

V s = settling velocity of the partilce V = horizontal velocity of liquid flow
V s = settling velocity of the partilce
V = horizontal velocity of liquid flow
h

= kedalaman efektif tangki (H setelah dikurangi tebal lapisan sludge)

Critical Settling Velocity dan Overflow Rate Settling velocity dari partikel yang mengendap sepanjang jarak yang

Critical Settling Velocity dan Overflow Rate

Settling velocity dari partikel yang mengendap sepanjang jarak yang sama dengan kedalaman efektif tangki selama
Settling velocity dari partikel yang mengendap sepanjang jarak yang sama
dengan kedalaman efektif tangki selama periode penahanan teoritis (waktu
tinggal teoritis) dapat dianggap sebagai laju overflow:
V 0 = h / t = Q / A
V 0 =
h / t
=
Q / A
dimana: A = luas penampang settling basin Q = debit t = waktu tinggal
dimana:
A
= luas penampang settling basin
Q
= debit
t
= waktu tinggal
• V 0 yang dinyatakan dalam satuan kecepatan, misal ft/detik, adalah critical settling velocity
• V 0 yang dinyatakan dalam satuan kecepatan, misal ft/detik, adalah critical
settling velocity
critical settling velocity adalah settling velocity partikel yang (nyaris) 100% terambil dalam bak pengendap
critical settling velocity adalah settling velocity partikel yang (nyaris) 100%
terambil dalam bak pengendap
• V 0 yang dinyatakan dalam satuan debit persatuan luas, misal gal/detik.ft 2 , adalah
• V 0 yang dinyatakan dalam satuan debit persatuan luas, misal gal/detik.ft 2 ,
adalah overflow rate
Grafik lintasan partikel yang mempunyai settling velocity V 0

Grafik lintasan partikel yang mempunyai settling velocity V 0

Grafik lintasan partikel yang mempunyai settling velocity V 0
lintasan partikel yang mempunyai settling velocity V 0 Karena partikel yang lebih kecil akan mempunyai settling
Karena partikel yang lebih kecil akan mempunyai settling velocities yang lebih rendah, maka jika kita
Karena partikel yang
lebih kecil akan
mempunyai settling
velocities yang lebih
rendah, maka jika kita
ingin memisahkan
partikel yang lebih kecil
kita harus mengurangi
overflow rate.
yang lebih kecil kita harus mengurangi overflow rate. V 0 = Q/A, maka untuk memperoleh V
V 0 = Q/A, maka untuk memperoleh V 0 yang lebih kecil kita harus mempunyai
V 0 = Q/A, maka untuk
memperoleh V 0 yang
lebih kecil kita harus
mempunyai settling
basin yang lebih luas

V s = settling velocity partikel

V l = kecepatan horizontal aliran cairan

h

= kedalaman efektif tangki (kedalaman setelah dikurangi tebal lapisan sludge)

Semua partikel yang mempunya settling velocity > Vo akan terambil semua, sedangkan partikel dengan settling
Semua partikel yang mempunya settling velocity > Vo
akan terambil
semua, sedangkan partikel dengan settling velocity < Vo akan
terambil dalam rasio: V/Vo
> Vo akan terambil semua, sedangkan partikel dengan settling velocity < Vo akan terambil dalam rasio:

Contoh:

Settling tank dalam suatu water treatment plant mempunyai overflow rate: 600 gal/(hari . ft 2
Settling tank dalam suatu water treatment plant mempunyai
overflow rate: 600 gal/(hari . ft 2 ) dan kedalaman 6 feet. Berapakah
“residence time( waktu tinggal )’nya?

Vo = h/t

v 0 = 600 gal/(hari . ft 2 ) x 1 ft 3 / 7,48
v 0 = 600 gal/(hari . ft 2 ) x 1 ft 3 / 7,48 gal = 80,2 ft/hari

t = h/Vo = 6 ft/(80,2 ft/hari )

t = h/v 0 = (6/80,2)24 jam = 1,8 jam
t = h/v 0 = (6/80,2)24 jam = 1,8 jam
Sebuah water treatment plant memiliki flowrate = 0,6 m^3/sec. Bak pengendap mempunyai volume pengendap efektif
Sebuah water treatment plant memiliki flowrate =
0,6 m^3/sec. Bak pengendap mempunyai volume
pengendap efektif dengan ukuran panjang 20 m,
ketinggian3 m dan lebar 6 m.
akankah partikel bisa terambil/ terendapkan
( dihilangkan ) sempurna bila mempunyai settling
velocity 0,004 m/sec ? , jika tidak berapa persent
yang dapat terambil ?

V 0 = Q/A = (0.6 m^3/sec )/ (20 m x 6 m) = 0.005
V 0 = Q/A = (0.6 m^3/sec )/ (20 m x 6 m) = 0.005 m/sec
Bila partikel dengan settling velocity < Vo akan terambil dalam rasio: V/Vo
Bila partikel dengan settling velocity < Vo akan
terambil dalam rasio: V/Vo
Settling velocity = 0,004 m/sec, < Vo, maka. partikel tidak dapat terambil sempurna Maka :
Settling velocity = 0,004 m/sec, < Vo, maka.
partikel tidak dapat terambil sempurna
Maka :
Percent removed = (v / v 0 ) 100%
Percent removed = (v / v 0 ) 100%
= (0.004/0.005) 100 = 80 %
= (0.004/0.005) 100 = 80 %

Klarifikasi

Kotoran-kotoran yang kecil akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengendap. Maka untuk mempercepat proses pengendapan,
Kotoran-kotoran yang kecil akan membutuhkan waktu yang
lama untuk mengendap. Maka untuk mempercepat proses
pengendapan, kotoran-kotoran yang kecil digumpalkan agar
menjadi butiran-butiran yang besar dengan ditambah zat
penggumpal (coagulant). Caranya adalah dengan
memasukkan ke pre - mix tank dengan pengadukan (diaduk
dengan cepat) dan ditambah coagulant dan kaporit.
Gumpalan kotoran yang terbentuk diendapkan dalam clarifier
(penjernih). Air yang bersih (dibagian atas) diambil dan
dialirkan penampung. Air yang kotor yang ada di bagian
bawah di- blow down

Klasifikasi ukuran sedimen

Kelas Sedimen Ukuran (mm) Sand (pasir) Kasar 1,5 Medium 0,375 Halus 0,094 Silt (lumpur) Kasar
Kelas Sedimen
Ukuran (mm)
Sand (pasir)
Kasar
1,5
Medium
0,375
Halus
0,094
Silt (lumpur)
Kasar
0,047
Medium
0,0117 (no longer
visible to the human
eye)
Clay (lempung)
< 0,00195

clarifier

Proses klarifikasi ini pada dasarnya adalah proses mixing, flocculation dan settling yang tujuannya adalah untuk
Proses klarifikasi ini pada dasarnya adalah proses mixing, flocculation dan settling yang
tujuannya adalah untuk mengurangi kekeruhan (turbiditas) dan material tersuspensi.
Langkah pada proses klarifikasi adalah penambahan bahan coagulant atau bahan kimia
penyesuai pH yang bereaksi membentuk gumpalan. Kemudian gumpalan-gumpalan
yang terbentuk diendapkan dalam tangki.
Mixing, flocculation dan settling dapat juga dilakukan dalam satu unit alat seperti
berikut:

coagulant

dan settling dapat juga dilakukan dalam satu unit alat seperti berikut: coagulant sludge air keluar air
dan settling dapat juga dilakukan dalam satu unit alat seperti berikut: coagulant sludge air keluar air
dan settling dapat juga dilakukan dalam satu unit alat seperti berikut: coagulant sludge air keluar air

sludge

air keluar

air masuk

sedimentasi

clarifier

clarifier

Alat klarifikasi

air + koloid partikel
air +
koloid partikel
coagulant + kaporit
coagulant + kaporit
Alat klarifikasi air + koloid partikel coagulant + kaporit Mixing Tank (rapid mix) flocculation ke tangki
Mixing Tank (rapid mix)
Mixing Tank
(rapid mix)
koloid partikel coagulant + kaporit Mixing Tank (rapid mix) flocculation ke tangki penampung settling Sludge Proses
flocculation
flocculation

ke tangki penampung

settling
settling

Sludge

Proses klarifikasi ini pada dasarnya adalah proses mixing, flocculation dan settling yang tujuannya adalah untuk
Proses klarifikasi ini pada dasarnya adalah proses mixing, flocculation
dan settling yang tujuannya adalah untuk mengurangi kekeruhan
(turbiditas) dan material tersuspensi. Langkah pada proses klarifikasi
adalah penambahan bahan coagulant atau bahan kimia penyesuai pH
yang bereaksi membentuk gumpalan. Kemudian gumpalan-gumpalan
yang terbentuk diendapkan dalam tangki.

clarifier

clarifier
clarifier
clarifier

Proses penjernihan atau klarifikasi ini tidak 100% efektif. Oleh karena itu setelah klarifikasi seringkali masih dilanjutkan dengan penyaringan menggunakan saringan pasir

Oleh karena itu setelah klarifikasi seringkali masih dilanjutkan dengan penyaringan menggunakan saringan pasir screening
Oleh karena itu setelah klarifikasi seringkali masih dilanjutkan dengan penyaringan menggunakan saringan pasir screening

screening

Oleh karena itu setelah klarifikasi seringkali masih dilanjutkan dengan penyaringan menggunakan saringan pasir screening
Oleh karena itu setelah klarifikasi seringkali masih dilanjutkan dengan penyaringan menggunakan saringan pasir screening
Oleh karena itu setelah klarifikasi seringkali masih dilanjutkan dengan penyaringan menggunakan saringan pasir screening
Oleh karena itu setelah klarifikasi seringkali masih dilanjutkan dengan penyaringan menggunakan saringan pasir screening
Oleh karena itu setelah klarifikasi seringkali masih dilanjutkan dengan penyaringan menggunakan saringan pasir screening
Surface Water Primary Treatment Conventional Treatment
Surface Water Primary Treatment
Conventional Treatment
Surface Water Primary Treatment Conventional Treatment Direct Filtration
Direct Filtration
Direct Filtration
Surface Water Primary Treatment Conventional Treatment Direct Filtration
alum alum polymer polymer carbon carbon Raw Water Upflow Clarifier M M M M FE
alum
alum
polymer
polymer
carbon
carbon
Raw Water
Upflow Clarifier
M
M
M
M
FE
Pump
temp
pH
pH
turbidity
turbidity
counts
sludge
counts
color
color

Cross Flow Clarifier

M To Filters sludge
M
To Filters
sludge

pH

turbidity

counts

color

Koagulasi dan Flokulasi Ditinjau dari segi kimia koloid, air sungai adalah sistem dispers, yaitu sistem
Koagulasi dan Flokulasi
Ditinjau dari segi kimia koloid, air sungai adalah sistem dispers, yaitu sistem yang terdiri
dari:

qadalah sistem dispers, yaitu sistem yang terdiri dari: q zat terdispersi, dalam hal ini adalah kontaminan

qadalah sistem dispers, yaitu sistem yang terdiri dari: q zat terdispersi, dalam hal ini adalah kontaminan

zat terdispersi, dalam hal ini adalah kontaminan dalam air sungai
zat terdispersi, dalam hal ini adalah kontaminan dalam air sungai
zat pendispers atau medium, dalam hal ini adalah air
zat pendispers atau medium, dalam hal ini adalah air

Berdasarkan ukuran zat yang terdispersi, sistem dispers dapat dibedakan menjadi:

1.

dispers renik: r< 1nm

2.

dispers koloid: 1nm<r<100 nm

3.

dispers kasar : r>100nm

(beberapa literatur menyebutkan bahwa dispers koloid adalah sistem dispers dengan ukuran partikel antara 0,1 nm 1 nm)

Karena ukurannya yang sangat kecil, partikel dengan ukuran koloid ini tidak bisa diendapkan langsung secara fisis. Untuk menjernihkan air dari partikel koloid digunakan cara koagulasi. yang berukuran itu perlu ditambahkan bahan kimia sehingga partikel-partikel kecil ini kan arus diperbesar ukurannya dengan cara digumpalkan terlebih dahulu.

Koagulasi dan Flokulasi
Koagulasi dan Flokulasi

Pada sistem koloid, fase terdispers bisa berbentuk gas, cair atau padat, sedangkan fase pendispers bisa dalam bentuk fase gas atau cair.

Sistem koloid padat-cair disebut: sol misal: air sungai

Sistem koloid cair-cair disebut: emulsi

Sistem koloid padat-gas disebut: aerosol

Sistem koloid gas-cair disebut: buih

Sistem koloid bisa juga dikategorikan berdasarkan muatannya :

1.positif

2.negatif

dan juga berdasarkan sifat kesukaannya terhadap air :

a. hydrohyl

b. hydrophob.

Koagulasi& Flocculasi
Koagulasi& Flocculasi
perlu treatment khusus untuk terajadinya koagulasi yang efektif.
perlu treatment khusus untuk terajadinya koagulasi yang efektif.

Koloid yang hydrophobic (misal: lempung) tidak mempunyai affinitas atau ketertarikan terhadap medium cair dimana dia berada, dan stabilitasnya kurang jika di dalam medium tersebut ada elektrolit. Koloid yang seperti ini mudah untuk dilakukan koagulasi. Koloid yang hydrophylic (misal: protein) mempunyai affinitas yang tinggi terhadap air. Oleh karena

itu, air yang ter-absorb oleh koloid ini akan menghambat terjadinya penggumpalan sehingga

Dari segi kimia koloid, koagulasi adalah menggumpalnya butir butir sol menjadi butir dispers kasar. Partikel
Dari segi kimia koloid, koagulasi adalah menggumpalnya butir butir sol menjadi butir
dispers kasar. Partikel koloid biasanya bermuatan listrik, karena muatannya sama maka
akan saling tolak menolak. Hal inilah yang menyebabkan partikel-partikel tersebut selalu
dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain, sehingga akan sukar untuk diendapkan
sebelum muatan listriknya dinetralkan. Dalam kasus partikel tanah lempung yang
terdispersi dalam air sungai (sol), partikel lempung yang bermuatan negatif dapat
digumpalkan jika partikel tersebut menyerap ion positif, seperti ion Al yang ada pada
aluminium sulfat (alum).
Koagulan: membantu pembentukan flok yang lebih besar atau gumpalan disebut flokulasi. Pada waktu partikel lempung

Koagulan: membantu pembentukan flok

yang lebih besar atau gumpalan disebut flokulasi.
yang lebih besar atau gumpalan disebut flokulasi.

Pada waktu partikel lempung yang bermuatan negatif mengadsorp ion Al yang bermuatan

positif, maka partikel tersebut akan menjadi netral (pada kondisi ini sol dikatakan sebagai dalam kondisi isoelektrik). Akibatnya partikel lempung yang sudah netral tidak akan tolak- menolak tetapi cenderung akan bergabung satu dengan yang lain (gaya van der Waals) membentuk massa yang lebih besar floc-floc, dan akhirnya mengendap. Bergabungnya dua

partikel koloid disebut koagulasi dan proses terbentuknya floc-floc atau kumpulan massa

Aluminum ions: Al +3 Alum Al 2 (SO 4 ) 3 . X H 2
Aluminum ions:
Al +3
Alum
Al 2 (SO 4 ) 3 . X H 2 O
Ferric Ions:
Fe +3
Al +3 Alum Al 2 (SO 4 ) 3 . X H 2 O Ferric Ions:

Ferric Sulfate Ferric Chloride

Fe 2 (SO 4 ) 3 FeCl 3

Ions: Fe +3 Ferric Sulfate Ferric Chloride Fe 2 (SO 4 ) 3 FeCl 3 Calcium
Calcium Ions:
Calcium Ions:

Ca +2 Ca(OH)

Lime 2
Lime
2
Proses Koagulasi
Proses Koagulasi
– Air + koagulan – Kecepatan pengadukan- 20 - 60 second – Pengadukan flokulan20-60 menit
– Air + koagulan
– Kecepatan pengadukan- 20 - 60 second
– Pengadukan flokulan20-60 menit membentuk partikel
agregat

Proses Koagulasi

Jika larutan aluminium sulfat ditambahkan dalam air maka reaksi kimia yang terjadi bisa bermacam-macam. Jika
Jika larutan aluminium sulfat ditambahkan dalam air maka reaksi kimia yang
terjadi bisa bermacam-macam. Jika air tersebut pH nya mendekati netral maka
endapan yang terjadi adalah 5Al 2 O 3 .3SO 3 tetapi jika pH nya basa endapan yang
terbentuk adalah Al(OH) 3 .
Alum atau Al 2 (SO 4 ) 3 .18H 2 O dibuat dari aluminium oksid
Alum atau Al 2 (SO 4 ) 3 .18H 2 O dibuat dari aluminium oksid (bouksit) dan asam
sulfat. Alum ini pada penggunaannya bisa dalam berbentuk padat atau larutan.
Kandungan Al 2 O 3 dalam alum murni berkisar antara 15,3%. Jika air yang
bersifat basa (basanya disebabkan adanya kasium bikarbonat) ditambah alum
maka terjadi reaksi:

Al

2

Fe

2

( SO

4

( SO

4

)

3

)

3

+6 HCO

-

3

-

3

+6 HCO

3 +3 SO

Al(OH )

2 Fe(OH )

2

2-

4

+6 CO2

+3 SO +6 CO2

2-

4

3

Aluminum sulfate (alum) – corrosive alone, packaged in water
Aluminum sulfate (alum) – corrosive alone, packaged in water

Coagulant aids

– Coagulant aids: Polyelectrolytes • Lime alkalinity addition – for Al(OH) 3 formation • pH
– Coagulant aids: Polyelectrolytes
• Lime alkalinity addition – for Al(OH) 3 formation
• pH correction: lime, sulfuric acid – for optimum
floc formation
Selama proses pengendapan, kumpulan massa atau floc-floc yang terbentuk pada proses koagulasi mudah terpecah
Selama
proses
pengendapan,
kumpulan
massa
atau
floc-floc
yang
terbentuk pada proses koagulasi mudah terpecah kembali karena
adanya gesekan
hidrolis
atau
olakan.
Untuk
mengatasi
hal
ini
seringkali perlu ditambahkan coagulant aid.
Bahan yang biasa dipakai sebagai coagulant aid misal: activated silica
dan lempung bentonit. Activated silica adalah natrium silikat yang
sudah di-treat dengan asam sulfat, aluminium sulfat, karbon dioksida,
atau khlorin. Dengan ditambahkan coagulant aid akan terbentuk floc
yang lebih kuat dan padat sehingga lebih cepat mengendap.

Kondisi riil suatu suspensi

Kondisi riil suatu suspensi Suatu suspensi yang riil (tidak ideal) biasanya ukuran, densitas dan bentuk partikelnya

Suatu suspensi yang riil (tidak ideal) biasanya ukuran, densitas dan bentuk partikelnya bervariasi (tidak hanya satu jenis),

suspensi yang riil (tidak ideal) biasanya ukuran, densitas dan bentuk partikelnya bervariasi (tidak hanya satu jenis),