Anda di halaman 1dari 22

HBR Reading 1

Managing Yourself Beating Burnout

Data tentang kelelahan adalah hal yang sulit dipahami karena tidak termasuk istilah
dari stres. lebih dari 5.100 pekerja Amerika Utara menemukan bahwa 62% dari mereka
merasakan tingkat stres yang tinggi, kehilangan kontrol, dan kelelahan ekstrim. Penelitian
juga mengaitkan kelelahan dengan banyak hasil kesehatan fisik dan mental, termasuk
penyakit arteri koroner, hipertensi, gangguan tidur, depresi, dan kecemasan, serta
peningkatan penggunaan alkohol dan narkoba. Kelelahan telah terbukti menghasilkan
perasaan keterasingan, merusak kualitas hubungan, dan mengurangi prospek karir jangka
panjang.
Dalam kasus Barbara (nama belakang dirahasiakan), CEO dari sebuah perusahaan
yang melayani klien industri teknologi. Selama krisis ekonomi perusahaan pada tahun 2001
tantangan untuk mempertahankan bisnisnya semakin menambah beban kerja yang berat bagi
setiap orang. "keributan yang tak henti-hentinya ini," membuat Barbara mengabaikan
kesehatannya, kehilangan perspektif, dan mulai meragukan kemampuannya sendiri. Cheryl
(bukan nama sebenarnya. “Saya merasa seperti tubuh saya berlari pada adrenalin — mencoba
berlari dengan kecepatan tinggi — sepanjang waktu,” kenangnya. Namun dia tidak bisa
mundur secara mental dari pekerjaan. Eksekutif lain — sebut saja Ari — merasa terjebak
dalam perannya sebagai konsultan di firma butik. Dinamika internal yang buruk dan praktik
hubungan klien yang berbenturan dengan nilai-nilainya telah mengikis rasa dirinya ke titik di
mana dia tidak tahu cara untuk pergi — atau keluar.
Tiga Komponen
Psikolog Christina Maslach dan beberapa kolaborator, menyatakan bahwa kelelahan
dibagi menjadi tiga komponen yang muncul sebagai respons terhadap stres kronis pada
pekerjaan
Kelelahan (Exhaustion)
Terdiri dari kelelahan fisik, kognitif, dan emosional yang mendalam sehingga
merusak kemampuan orang untuk bekerja secara efektif dan merasa positif tentang apa yang
mereka lakukan. Hal ini dapat berasal dari tuntutan budaya organisasi yang selalu aktif,
selama 24 jam, tekanan waktu yang intens, atau hanya memiliki terlalu banyak hal untuk
harus dilakukan, terutama ketika terjadinya kurang kontrol dalam pekerjaan. Dalam keadaan
kelelahan, dapat ditemukan menemukan bahwa kita tidak dapat berkonsentrasi atau melihat
gambaran besar; bahkan tugas-tugas rutin dan sebelumnya menyenangkan terasa sulit, dan itu
menjadi sulit untuk masuk dan keluar kantor. Beginilah awal kejenuhan bagi Cheryl.
Sinisme (Depersonalisasi)
Pada dasarnya ini adalah cara menjauhkan diri secara psikologis dari pekerjaan.
Disaat seseorang harusnya merasa berinvestasi dalam tugas, proyek, rekan kerja, pelanggan,
dan kolaborator lain, yang terjadi adalah perasaan merasa terpisah, negatif, bahkan tidak
berperasaan. Sinisme dapat menjadi hasil dari kerja yang berlebihan, tetapi juga mungkin
terjadi di hadapan konflik yang tinggi, ketidakadilan, dan kurangnya partisipasi dalam
pengambilan keputusan. Misalnya, setelah mengabaikan arahan berulang untuk mendorong
solusi yang tidak memecahkan masalah klien, Ari menyadari bahwa pertempuran terus-
menerus dengan atasannya memengaruhi perilakunya sendiri. “Saya berbicara dengan
sampah dan meng-cover kebenaran lebih sering daripada saya menghormati dan jujur,” dia
menjelaskan. Sinisme yang terus-menerus adalah sinyal bahwa kita berada adalam posisi
telah kehilangan koneksi, kesenangan, dan kebanggaan dalam pekerjaan.
Ketidakefektifan
Mengacu pada perasaan tidak kompeten dan kurangnya prestasi dan produktivitas.
Orang-orang dengan gejala kelelahan ini merasa keahlian mereka tergelincir dan khawatir
bahwa mereka tidak akan dapat berhasil dalam situasi tertentu atau menyelesaikan tugas-
tugas. Hal ini berkembang seiring dengan kelelahan dan sinisme karena orang-orang tidak
dapat tampil di puncaknya ketika mereka kehabisan bahan bakar dan kehilangan koneksi
mereka untuk bekerja.
3 Cara mengantisipasi / merubah Burnout
1. Merubah perspektif
Istirahat, relaksasi, dan pengisian ulang diri dapat mengurangi kelelahan,
mengekang sinisme, dan meningkatkan kefektifan. Kita tidak sepenuhnya dapat
mengatasi akar penyebab kelelahan. Kembali ke kantor, menghadapi beban kerja yang
tidak mungkin sama atau tidak sama, konflik yang tidak dapat dipertahankan, atau
sumber daya yang remeh. Jadi sekarang kita harus melihat lebih dekat pada pola pikir
dan asumsi agar permasalahan tidak terasa menjadi berat.

2. Mengurangi paparan terhadap stressor kerja


Kita juga perlu menargetkan aktivitas dan hubungan bernilai tinggi yang
masih memicu stres yang tidak sehat. Ini melibatkan hubungan ulang harapan
terhadap kolega, klien, dan bahkan anggota keluarga untuk apa dan seberapa banyak
kita bersedia melakukannya, serta aturan dasar untuk bekerja sama. Kita mungkin
mendapatkan pushback. Biasanya orang yang ragu-ragu harus tahu bahwa kita
membuat perubahan ini untuk meningkatkan produktivitas jangka panjang dan
melindungi kesehatan Anda. Dia menambahkan, “Anda harus tahu kapan mengatakan
tidak adalah jawaban yang benar. Segala sesuatu dalam perspektif, menjadi seorang
profesional layanan yang baik tidak berarti harus menjadi pelayan. Sehingga tidak
boleh mengirim email di jam 11 malam secara rutin adalah salah satu jara agar tidak
terkena stres kerja
3. Mencari koneksi
Penangkal terbaik untuk kelelahan, terutama ketika didorong oleh sinisme dan
ketidakefektifan, mencari interaksi antar pribadi yang kaya dan pengembangan
pribadi dan profesional yang berkesinambungan. Temukan pelatih dan mentor yang
dapat membantu Anda mengidentifikasi dan mengaktifkan hubungan positif dan
kesempatan belajar. Menjadi sukarelawan untuk memberi saran kepada orang lain
adalah cara lain yang sangat efektif untuk keluar dari siklus negatif
Kesimpulan
Dengan memahami gejala dan penyebab serta menerapkan ketiga strategi ini, kita
dapat memulihkan dan membangun peta jalan untuk pencegahan. Pengalaman buruk dapat
berfungsi sebagai titik balik yang meluncurkan diri ke dalam karier yang lebih berkelanjutan
dan kehidupan yang lebih bahagia, lebih sehat.
HBR Reading
Noise Exposure, The Need for New Measurements on Aircraft Carriers

Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh suara merupakan ancaman serius bagi
personel Angkatan Laut AS. Biaya Departemen Urusan mengeluarkan Veteran ratusan juta
dolar setiap tahun. Data paparan kebisingan model baru diperlukan untuk menentukan
eksposur kebisingan di beberapa peringkat Angkatan Laut dan mengidentifikasi langkah-
langkah menuju pengurangan kebisingan. Penelitian tingkat kebisingan sebelumnya
dilakukan di atas kapal induk tidak memadai karena gangguan elektromagnetik potensial
yang mungkin mempengaruhi data; kurangnya pengumpulan data untuk periode paparan 24
jam; dan kurangnya informasi eksposur kebisingan yang berbasis tugas.
Para penulis melakukan penelitian untuk merekam dosis kebisingan dan menilai
kontribusi setiap operasi di atas USS Ronald Reagan. Pemaparan dibuat untuk studi lebih
lanjut dan operasi diidentifikasi untuk upaya pengurangan kebisingan. Personel Angkatan
Laut AS di atas kapal induk, paparan kebisingan sering tidak berakhir dengan shift kerja,
yang sudah melebihi 8 jam. Lingkungan bahaya kebisingan dari operasi kapal dapat secara
signifikan mengekspos personil di luar 8 jam. Eksposur kebisingan yang signifikan yang
ditemukan di atas kapal induk menimbulkan risiko kesehatan yang serius di luar sistem
pendengaran. Sebagai contoh, karyawan yang secara teratur terpapar pada tingkat suara pada
atau di atas 85 dBA memiliki tekanan darah yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak.
Dalam satu penelitian, hipertensi terbukti secara langsung dihasilkan dari kebisingan pesawat,
penyumbang kebisingan terbesar dalam kapal induk. Meskipun gejala ini mungkin terkait
dengan faktor-faktor lain yang ada di lingkungan dengan tingkat kebisingan tinggi, penelitian
lebih lanjut harus dilakukan untuk mengukur risiko kebisingan terhadap tekanan darah.
Eksposur kebisingan di atas 85 dBA juga memengaruhi sistem saraf pusat (misalnya, tingkat
adrenalin yang tinggi). Hasil penelitian juga melaporkan bahwa paparan kebisingan dapat
menyebabkan gangguan yang dapat menyebabkan kemarahan, kecemasan dan masalah
psikologis yang lebih serius
Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan data baru menggunakan panduan dan
persyaratan saat ini yang ditentukan dalam Departemen Pertahanan (DOD) Instruksi 6055.12,
Program Konservasi Pendengaran (HCP). HCP dirancang untuk mencegah gangguan
pendengaran yang disebabkan kebisingan (NIHL). Program DOD adalah standar yang
berlaku untuk operasi Angkatan Laut AS dan, dengan demikian, standar ini relevan untuk
penelitian. Batas pemaparan diizinkan (PEL) di bawah program ini adalah 85 dBA, yang
berarti seorang karyawan tidak boleh terkena tingkat suara rata-rata di atas 85 dBA untuk
shift 8 jam. Oleh karena itu, karyawan harus dimasukkan dalam HCP ketika eksposur mereka
mencapai atau di atas 85 dBA. Mereka juga harus terdaftar jika impuls, atau sesaat,
kebisingan mencapai 140 dB. (Perlu dicatat bahwa standar paparan kebisingan kerja OSHA
menetapkan PEL pada 90 dBA, tetapi membutuhkan implementasi HCP pada 85 dBA.
Karena studi ini melibatkan operasi militer, standar DOD adalah ukuran yang berlaku.
Untuk mencapai studi ini, para peneliti mengkarakterisasi seluruh paparan kebisingan
24-jam untuk personil di atas kapal induk Angkatan Laut AS. Eksposur ini penting untuk
dipahami karena klaim NIHL adalah beban keuangan yang signifikan bagi militer AS dan
Departemen Urusan Veteran. Menurut laporan 2006, Administrasi Veteran (VA)
menghabiskan $137 juta dalam pembayaran cacat kepada mantan personel Angkatan Laut.
Angka ini mencerminkan peningkatan $94 juta dalam pengeluaran oleh VA pada pembayaran
ketidakmampuan dengar pendapat Angkatan Laut dibandingkan dengan angka tahun 1999.
BAB 11
Managing Conflict and Negotiation

1. Conflict - Konflik
Konflik merupakan suatu proses dimana suatu pihak merasa bahwa pendapat, pandangan
atau ketertarikannya ditentang atau dipengaruhi secara negatif oleh pihak lain (Kinicki /
Fugate, 2012). Sebuah konflik dapat semakin kuat atau bahkan melemah seiring
berjalannya waktu. Konflik yang terjadi antsara kedua belah pihak dapat dikelola oleh
masing-masing diantara mereka ataupun dengan adanya pihak ketiga sebagai penengah.
2. Functional versus Dysfunctional Conflict – Fungsional versus Disfungsional
Perbedaan antara konflik fungsional dan konflik disfungsional berputar pada apakah
kepentingan organisasi sedang dilayani. Konflik fungsional, biasa disebut sebagai konflik
konstruktif atau kooperatif, dicirikan oleh interaksi konsultatif, fokus pada masalah,
saling menghormati, dan memberi dan menerima yang bermanfaat. Dalam situasi seperti
itu orang sering merasa nyaman. Elemen-elemen tersebut kurang atau bahkan berlawanan
dalam kasus konflik fungsional yang mengancam kepentingan organisasi.
3. Antecedents of Conflict
Tabel 11-1 Situations That Produce Functional or Dysfunctional Conflict
Pribadi atau sistem nilai yang tidak Komunikasi yang tidak memadai
kompatibel
Batas pekerjaan tumpang tindih atau tidak Kompetisi antardepartemen /
jelas antarkelompok
Persaingan untuk sumber daya terbatas Tenggat waktu tidak masuk akal atau
tekanan waktu ekstrim
Kebijakan, standar, atau atau kebijakan pengambilan keputusan oleh konsensus
yang tidak masuk akal atau tidak jelas (orang yang tidak setuju mungkin merasa
dipaksa)
Aturan kerumitan organisasi (konflik Pengambilan keputusan kolektif (semakin
cenderung meningkat sebagai jumlah banyak jumlah orang yang berpartisipasi
lapisan hirarkis dan tugas khusus dalam keputusan, semakin besar potensi
meningkat) konflik)
Tugas interdependen (satu orang tidak bisa Harapan yang tidak terpenuhi (karyawan
selesaikan tugasnya sampai yang lain telah yang tidak realistis
menyelesaikan pekerjaan mereka) harapan tentang tugas pekerjaan,
pembayaran, atau promosi
lebih rentan konflik)
4. Why People Avoid Conflict – Kenapa orang menghindari konflik
Tim Ursiny mengatakan dalam bukunya yang berjudul The Coward’s Guide bahwa
kita menghindari konflik karena kita takut terhadap berbagai penolakan kombinasi,
kehilangan hubungan, amarah, dianggap egois, mengakui kegagalan, menyakiti orang
lain, mendapatkan apa yang anda inginkan dan keintiman.
Namun, menurut Karen Duncum yaitu pemilik Star Performance Consulting. Bahwa
konflik jangan dihindari tetapi sebaiknya melakukan hal seperti berikut;
a. Berhenti mengabaikan konflik. Mengabaikan atau mengatasi konflik tidak akan
membuatnya hilang dan dapat menyebabkan eskalasi lebih lanjut. Sebagai gantinya
adalah dengan melakukan pertemuan antara kedua belah pihak.
b. Bertindak tegas untuk meningkatkan hasil. Penundaan akan menyebabkan masalah.
Menerapkan konflik dalam waktu singkat dapat mengungkap kesalahpahaman atau
kelalaian sederhana sebelum mereka tumbuh menjadi sesuatu yang lebih banyak dan
menyebar.
c. Buat jalan menuju resolusi terbuka dan jujur. Melibatkan semua pihak terkait,
mengumpulkan informasi dan tentukan hasil yang diinginkan. Hal ini akan membantu
kesalahpahaman dan memfokuskan orang pada kondisi akhir.
d. Menggunakan bahasa yang deskriptif dan bukan evaluatif. Waspada tehadap tuduhan
dan bahawsa yang bersifat menghakimi.
e. Jadikan proses sebagai peluang membangu tim. Jika masalah mempengaruhi tim
maka mungkin bermanfaat untuk mendekati konflik dan solusinya sebagai tim.
Resolusi semacam ini dapat meningkatkan hubungan sedemikian rupa sehingga tim
dapat lebih baik.
f. Resolusi konflik yang efektif. Menciptakan “momentum sukses dengan kata lain,
konflik adalah tanda disenjang jalan menuju tujuan akhir dan yang diinginkan”.
Jangan terjebak dan kehilangan tujuan akhir.
5. Desired Outcomes of Conflict – Hasil Yang Diharapkan Dari Konflik
Manajemen konflik lebih dari sekedar mencari kesepakatan. Jika kemajuan akan terjadi
dan konflik disfungsional diminimalkan, agenda yang lebih luas akan tertata. Model
konflik kooperatif menurut Dean Tjosvold’s mencakup 3 hasil yang diinginkan, yaitu:
a. Persetujuan, perjanjian yang adil dan adil adalah yang terbaik. Setuju bahwa
meninggalkan salah satu pihak yang merasa di eksploitasi atau dikalahkan akan
mengembangbiakan konflik dan menciptakan konflik berikutnya.
b. Hubungan yang lebih kuat. Persetujuan yang baik memungkinkan pihak-pihak yang
bertikai untuk membangun ikatan niat baik dan kepercayaan untuk penggunaan di
masa depan. Terlebih lagi, pihak pihak yang saling berselisih satu sama lain lebih
mungkin mempertahankan akhir dari tawar-menawar mereka.
c. Pembelajaran. Konflik fungsional dapat mempromosikan kesadaran diri yang lebih
besar dan pemecahan masalah yang kreatif. Seperti praktik manajemen itu sendiri,
kesuksesan dalam menangani konflik adalah dipelajari saat melakukannya.
6. Major Forms of Conflict
Eksplorasi sifat dan implikasi organisasi dari empat konflik yaitu: konflik pribadi, konflik
antar kelompok, konflik lintas budaya dan konflik keluarga pekerjaan.
a. Konflik kepribadian
Konflik pribadi adalah pertentangan berdasarkan ketidaksukaan dan ketidaksetujuan
pribadi. Cara menangani konflik kepribadian yaitu seperti pada tabel dibawah:

b. Konflik Kelompok
Konflik kelompok terjadi diantara kelompok kerja, tim dan departemen merupakan
ancaman umum terhadap daya saing bagi sebuah organisasi. Adapun cara alternatif
yang direkomendasikan para pakar sosiologis untuk menangani konflik kelompok
yaitu:
 Berusaha atau bekerja sebaik mungkin untuk menghilangkan interaksi yang
negatif.
 Melakukan pembentukan tim untuk mengurangi terjadinya konflik intragroup
dan mempersiapkan kerja tim lintas fungsional.
 Mendorong dan memfasilitasi pertemanan melalui kegiatan sosial (olah raga,
bersenang-senang, dan lain-lain).
 Mengembangkan prilaku positif seperti berempati dan kasih sayang.
 Menghindari atau menetralkan isu negatif.
 Melatih diri menjadi panutan yang baik.
c. Konflik Lintas Budaya
Berbisnis dengan orang-orang dari berbagai budaya adalah hal yang biasa
dalam ekonomi global dimana terdapat merger, joint ventures, outsourcing dan aliansi
adalah merupakan tatanan bisnis. Karena asumsi yang berbeda tentang bagaimana
berpikir dan bertindak, potensi konflik lintas budaya adalah langsung dan besar.
Kesuksesan atau kegagalan ketika melakukan bisnis lintas budaya sering tergantung
untuk menghindari dan meminimalkan konflik semacam itu bukanlah perkara siapa
salah dan siapa benar, melainkan persoalan mengakomodasi perbedaan budaya untuk
transaksi bisnis yang sukses. Salah satu cara bagaimana mengatasi konflik ini adalah
dengan menggunakan jasa konsultan internasional dan membangun hubungan lintas
budaya.
d. Work-Family Conflict
Konflik ini terjadi ketika tuntutan atau tekanan dari pekerjaan dan domain keluarga
tidak sesuai konflik keluarga-pekerjaan dapat mengambil dua bentuk tidak standar
yaitu, gangguan kerja dengan keluarga dan gangguan keluarga dengan pekerjaan.
7. Mengelola Konflik
Seperti yang kita ketahui konflik sering terjadi dan menjadi sebuah tantangan bagi
kita khususnya menjadi seorang manajer yang nantinya kan dan harus dapat mengelola,
meminimalisir dan menyelesaikan konflik yang terjadi. Terutama pada konflik fungsional
dan disfungsional.
a. Konflik fungsional
Manajer pada dasarnya memiliki dua opsi yaitu: (1) mereka dapat menyulut api yang
terjadi dari konflik secara alami meskipun pendekatan dapat menjadi tidak dapat
diandalkan dan lambat; atau (2) manajer dapat menggunakan konflik yang diprogram.
Konflik yang terprogram didefinisikan sebagai konflik yang menimbulkan opini yang
berbeda terlepas dari perasaan pribadi para manajer.
Tabel 11-3 – Techniques for Simulating Functional Conflict

b. Konflik Disfungsional
Terdapat 5 pokok yang harus diperhatikan untuk mengendalikan konflik disfungsional
yaitu: Integrating, Obliging, Dominating, Avoiding dan Compromising.
a. Intergrating (pemecahan masalah – win-win solution)
Cara terintegrasi ini menghadapai msalah secara kooperatif, mengidentifikasi
masalah, mempertimbangkan alternatif dan memilih solusi terbaik.
b. Obliging (kehalusan – Win-Lose Solution)
Antara mementingkan diri sendiri atau orang lain tetapi kedua belah pihak tidak
mempermalahkannya.
c. Dominating (mendominasi)
Gaya ini memiliki perhatian yang tinggi, dan ditandai dengan “saya menang, anda
kehilangan taktik” atau disebut dengan tidak mau mengalah.
d. Avoiding (menghindari)
Cenderung menghindari konflik sebelum terjadi, arahnya tidak diketahui pasti.
Apakah untuk kepentingan diri sendiri atau orang lain.
e. Compromising (kompromi)
Mengambil pendekatan dengan perhatian sedang, tidak fanatik terhadap satu sisi.
Dari kelima aspek ini dapat tergambar pada tabel dibawah ini.
Table 11-4

8. Negotiation
Negosiasi adalah proses pengambilan dan pengambilan keputusan antara dua atau lebih
preferensi yang berbeda. Terdapat dua jenis dari negosiasi yaitu negosiasi distributif dan
negosiasi integratif.
Table 11-5 Two Basic of Negotiation
BAB 12
KOMUNIKASI PADA ERA DIGITAL
Komunikasi merupakan pertukaran informasi antara pengirim informasi dengan
penerima. Agar komunikasi dapat berjalan efektif, maka dibutuhkan sejumlah pemahaman
dan persoalan yang terjadi pada proses komunikasi. Salah satu alat agar komunikasi dapat
berjalan efektif adalah dengan menggunakan teknologi informasi. Pada era globalisasi seperti
saat ini, teknologi informasi berkembang sangat pesat. Sehingga semua orang dapat
berkomunikasi dengan cepat dimanapun dan kapanpun dengan banyak pilihan media
komunikasi.
1. Bentuk-Bentuk Proses Komunikasi
Bentuk komunikasi merupakan proses dimana penerima pesan menginterpretasikan
sendiri informasi yang diterimanya. Berikut bentuk-bentuk proses komunikasi:
a. Pengirim, pesan dan penerima
Semua komunikasi melibatkan pengirim, pesan, dan penerima. Pengirim merupakan
orang yang ingin memberikan informasi berupa pesan, sedangkan penerima
merupakan orang, kelompok atau organisasi yang menerima pesan tersebut.
b. Pengodean (Encoding)
Pengodean membutuhkan penerjemah pemikiran terhadap sebuah kode atau bahasa
yang dapat dimengerti oleh orang lain.
c. Pemilihan Media
Media yang biasanya digunakan dalam sebuah organisasi yaitu antara lain
percakapam langsung melalui telepon, e-mail, video call, memo atau surat, gambar
atau foto, rapat, papan pengumuman, output computer dan grafik atau tabel.
Pemilihan media tergantung pada beberapa faktor yaitu sifat pesan, tujuan yang
dimaksud, penerima pesan, kedekatan dengan penerima, waktu serta kemampuan dan
pilihan personal. Percakapan langsung berguna untuk berkomunikasi untuk hal-hal
yang penting dan emosional, serta membutuhkan feedback yang yang cepat dan
interaksi yang intensif, namun kekurangannya adalah informasi yang nonverbal.
Sedangkan komunikasi melalui surat memiliki kekurangan yaitu membutuhkan
waktu yang lama namun bahasa yang digunakan formal.
d. Pendekodean dan Mengartikan (Decoding)
Pendekodean muncul pada saat menerima pesan yang dimaksud. Hal tersebut
merupakan proses interpretasi dan memahami sebuah pesan.
e. Feedback
Umpan balik (feedback) adalah tanggapan yang diberikan oleh seorang penerima
pesan ketika seorang pemberi pesan sedang menyampaikan pesannya. Feedback juga
dapat dikatakan sebagai tanggapan atau respon terhadap suatu pesan. Feedback yang
ditimbulkan dari proses komunikasi memberikan gambaran kepada komunikator
tentang hasil komunikasi yang dilakukannya.
f. Kebisingan (Noise)
Kebisingan merupakan segala hal yang mengganggu terhadap perpindahan dan
pemahaman sebuah pesan. Hal ini dapat mempengaruhi setiap bagian dalam proses
komunikasi. Kebisingan dapat disebabkan oleh lemahnya kemampuan atau logat
berbicara, koneksi telepon yang buruk, tulisan tangan yang tidak terbaca, fotokopi
yang tidak jelas, data statistik yang tidak akurat, kebohongan, kurangnya
pendengaran atau penglihatan, serta jarak antara pengirim pesan dengan penerima
pesan.
2. Hambatan dalam Komunikasi Efektif
Terdapat dua komponen utama dalam komunikasi yang efektif yaitu (1) pengirim pesan
harus mengkomunikasikan maksud pesannya dengan akurat dan (2) penerima pesan harus
merasakan dan mengintepretasikan hubungan pesan dengan akurat. Apapun yang
membatasi dalam pemberian dan penerimaan pesan yang akurat merupakan hambatan
dalam komunikasi yang efektif. Komunikasi akan gagal apabila setiap tahap dalam proses
komunikasi terganggu atau terhambat.
a. Hambatan Personal
Hambatan personal adalah setiap atribut individu yang menghalangi komunikasi.
Berikut hambatan-hambatan personal yang sering terjadi yang menyebabkan
kesalahpahaman dalam berkomunikasi.
1) Variabel kemampuan dalam komunikasi secara efektif
2) Variasi dalam bagaimana informasi diproses dan diinterpretasikan
3) Variasi dalam kepercayaan antarpersonal
4) Stereotip dan prasangka
5) Ego yang besar
6) Kemampuan mendengar yang lemah
7) Kecenderungan alami untuk menilai pesan orang lain
8) Ketidakmampuan mendengarkan dengan pengertian
9) Komunikasi nonverbal
b. Hambatan Fisik
Hambatan fisik berhubungan dengan jarak, suara, waktu, ruang, objek fisik, dan lain-
lainnya.
c. Hambatan Semantis (arti kata)
Menggambarkan suatu kode dan penguraian kesalahan karena dalam fase dari
komunikasi melibatkan penyampaian dan penerimaan berbagai kata dan simbol.
Misalnya, “kita harus menyelesaikan proyek ini dengan segera”. Pada kata “kita”
tidak jelas apakah menunjuk lawan bicara saja atau lawan bicara dengan rekan kerja
atau lawan bicara, rekan kerja dan pimpinan. Begitu juga dengan kata “segera”, tidak
jelas apakah hari ini, besok atau minggu depan.
3. Ketegasan, Keagresifan dan Ketidaktegasan
Bentuk Bentuk Perilaku Bentuk Perilaku
Penjelasan
Komunikasi Nonverbal Verbal
Tegas Memaksakan tanpa  Kontak mata yang  Bahasa langsung dan
menyerang; baik tidak ambigu
mengijinkan orang lain  Tenang tetapi suara  Tidak ada aribut atau
untuk mempengaruhi tetap tegas dan jelas penilaian perilaku
keputusan; ekspresif  Ekspresi wajah orang lain
dan mempertahankan sesuai dengan pesan  Menggunakan
diri tanpa mengganggu  Menggunakan nada pernyataan “saya”
orang lain. bicara serius yang dan pernyataan
sesuai “kami” yang
 Memilih interupsi kooperatif
untuk memastikan
tidak ada salah
paham.
Agresif Mengambil  Tatapan mata tajam  Bersumpah serapah
keuntungan dari orang  Bergerak atau dan mencaci
lain; ekspresif dan condong terlalu dekat  Beratribut dan
menaikkan diri pada  Gerakan mengancam menilai perilaku
orang lain. (mengacungkan orang lain
telunjuk atau  Rasis atau
mengepalkan tangan) merendahkan jenis
 Suara lantang kelamin tertentu
 Sering interupsi  Mengancam secara
eksplisit atau
merendahkan orang
lain
Tidak Tegas Memaksa orang lain  Jarang kontak mata  Pemberi kata sifat
untuk mengambil  Menatap kea rah (“munkin”;
keuntungan dari kita; bawah “sepertinya”)
malu-malu; ragu-ragu.  Postur lemas  Menambahkan (“oh”;
 Sering bergerak-gerak “kamu tahu”; “ya”)
 Mengusap-usap  Menolak (“tidak
tangan terlalu penting”;
 Suara tidak lantang “saya tidak yakin”)

4. Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal adalah pesan yang disampaikan di luar dari kata-kata atau
tulisan. Para ahli komunikasi memperkirakan bahwa 65% percakapan diintepretasikan
melalui komunikasi nonverbal. Sikap dan gerak tubuh, seperti condong ke belakang atau
depan, serta sikap seperti menunjuk, memberikan informasi nonverbal tambahan yang
dapat menambah atau mengganggu proses komunikasi. Sentuhan, menyentuh merupakan
isyarat nonverbal yang sangat kuat. Orang-orang cenderung untuk menyentuh orang yang
mereka suka. Sebuah meta-analisis mengenai perbedaan jenis kelamin dalam sentuhan
mengindikasikan bahwa wanita melakukan lebih banyak sentuhan saat bercakap-cakap
daripada pria. Misalnya, saat wanita bertemu dengan sahabat wanitanya melakukan cium
pipi kanan dan cium pipi kiri; pegangan tangan saat jalan-jalan di mall dan bersender di
bahu. Ekspresi wajah, tersenyum saat pertemuan dengan klien mempresentasikan
kehangatan, rasa senang, atau pertemanan, sebaliknya mengerutkan dahi menunjukkan
ketidakpuasan atau rasa marah. Kontak mata, merupakan petunjuk nonverbal yang
memberikan empat fungsi dalam komunikasi: (1) kontak mata mengatur aliran
komunikasi dengan memberikan tanda awal dan akhir percakapan; (2) menatap (sebagai
kebalikan dari melotot) memfasilitasi serta memonitor umpan balik karena hal tersebut
merefleksikan perhatian dan ketertarikan; (3) kontak mata juga menunjukkan perasaan;
(4) menatap juga berhubungan dengan tipe hubungan antarkomunikator.
5. Mendengarkan secara Aktif
Mendengarkan adalah proses aktif mengartikan dan menginterpretasi pesan verbal.
Lima gaya mendengarkan yang penting adalah menghargai, berempati, menyeluruh,
cerdas, dan evaluatif.
Kunci untuk
No. mendengarkan secara Pendengar yang buruk Pendengar yang baik
efektif
1. Cepat berpikir Cenderung melamun Memperhatikan lawan
bicara, menilai secara
mental,
mempertimbangkan bukti
yang ada,serta
mendengarkan pesan yang
tersirat.
2. Mendengarkan gagasan Mendengarkan fakta Mendengarkan gagasan
secara utuh
3. Menemukan area yang Tidak mendengarkan Mendengarkan setiap
menarik lawan bicara informasi yang berguna
4. Menilai isi, bukan Selalu setuju dengan Menilai isi dengan
penyampaian lawan bicara mendengarkan isi pesan
secara keseluruhan
sebelum menilai
5. Menahan diri Terlalu emosional atau Menilai setelah semua
berlebihan menanggapi pembicaraan selesai
perkataan lawan bicara
dan mulai berargumen
6. Mendengarkan dengan Tidak serius Memberikan perhatian
sungguh-sungguh mendengarkan penuh pada lawan bicara
7. Tahan gangguan Mudah terganggu Melawan ada gangguan
dan konsentrasi dengan
lawan bicara
8. Dengar apa yang Menghentikan atau Mendengarkan informasi
dikatakan menolak informasi yang baik yang menguntungkan
tidak menguntungkan atau tidak
9. Menantang diri Menolak untuk Menganggap presentasi
mendengarkan presentasi yang kompleks, seperti
dengan subjek yang sulit sebuah latihan bagi otak
10. Menggunakan catatan, Tidak mencatat atau tidak Mencatat yang dibutuhkan
bantuan visual tambahan memperhatikan bantuan dan menggunakan bantuan
visual visual untuk menambah
pengertian presentasi yang
diberikan

6. Perbedaan Komunikasi anatara Wanita dan Pria


Pria dan wanita berbeda dalam bagaimana mereka bertanya untuk memperoleh
informasi, mengekspresikan keyakinan, memaafkan, menerima kesalahan, mengkritik dan
memuji, berterima kasih, membangun ide, serta nada saat berbicara. Ada dua perspektif
perbedaan tersebut. Pertama, perspektif biologis menghubungkan perbedaan dalam
berkomunikasi untuk mewariskan dorongan, kebutuhan dan konflik yang terkait dengan
strategi-strategi reproduksi yang digunakan oleh wanita dan pria. Kedua, teori peran
sosial menjelaskan bahwa wanita dan pria belajar cara yang berbeda dalam berbicara
seperti halnya anak-anak yang sedang tumbuh.
No. Perbedaan
Pria jarang bertanya mengenai informasi atau arah saat di muka umum yang akan
1.
menunjukkan ketidaktahuan mereka.
Dalam pengambilan keputusan, wanita cenderung untuk meremehkan kepastian
2.
mereka, pria cenderung meremehkan keraguannya.
Wanita cenderung untuk meminta maaf walaupun mereka tidak berbuat salah, pria
3.
cenderung tidak minta maaf karena akan menunjukkan kelemahan atau konsesi.
Wanita cenderung menerima saat disalahkan sebagai cara untuk menormalkan situasi
4.
yang aneh, pria cenderung menolak bila disalahkan dan melakukannya kapan saja.
Wanita cenderung untuk memberikan kritik dengan sanggahan positif, pria
5.
cenderung memberikan kritik secara langsung.
6. Wanita cenderung untuk menggunakan ucapan terima kasih yang tidak terlalu
dibutuhkan dalam percakapan, pria mungkin menghindari ucapan terima kasih
karena dianggap sebagai sebuah kelemahan.
7. Wanita cenderung bertanya “bagaimana menurut Anda?” untuk membangun
konsensus, pria seringkali merasa bahwa pertanyaan tersebut merupakan tanda
ketidakmampuan dan kurang percaya diri.
8. Wanita cenderung untuk memberikan arahan dengan cara tidak langsung, sebuah
cara yang mungkin dianggap oleh pria membingungkan, tidak percaya diri atau
manipulatif.
9. Pria cenderung untuk merebut (mengambil) kuasa atas gagasan yang dinyatakan
wanita serta mengklaimnya sebagai gagasannya. Wanita cenderung untuk
membiarkan proses ini untuk mendapatkan tempat tanpa protes.
10. Wanita menggunakan nada suara yang lebih halus untuk mendukung bujukan dan
penerimaan. Pria menggunakan nada suara yang lebih tinggi untuk menarik perhatian
dan mendapatkan kontrol.

7. Saluran Komunikasi Formal: Atas, Bawah, Horisontal dan Eksternal


Saluran komunikasi formal mengikuti alur perintah atau struktur organisasi. Pesan-
pesan yang dikomunikasikan dalam saluran formal dilihat sebagai hal resmi dan
ditransmisikan melalui satu salurana atau lebih dari tiga rute yang berbeda: (1) vertikal:
ke atas atau ke bawah; (2) horizontal; dan (3) eksternal.
(1) Vertikal: ke atas atau ke bawah
Komunikasi ke atas melibatkan pengiriman pesan kepada seseorang yang berada di
tingkat lebih atas dalam organisasi. Komunikasi ke bawah muncul saat seseorang
yang berada di level atas dalam organisasi memberikan informasi atau pesan terhadap
seseorang yang levelnya lebih rendah (atau beberapa tingkatan).
(2) Horizontal
Komunikasi horizontal muncul diantara rekan kerja dan antara unit kerja, tujuannya
adalah mengenai koordinasi. Komunikasi horizontal dapat terganggu oleh tiga cara:
spesialisasi kerja yang menyebabkan orang-orang yang menjadi bekerja sendiri;
dengan memberikan kompetisi yang dapat mengurangi berbagai informasi; dan
budaya organisasi yang tidak menciptakan kolaborasi dan kerja sama.
(3) Eksternal
Komunikasi eksternal merupakan dua alur arus informasi antara pekerja dengan
sejumlah pemilik saham di luar organisasi.
8. Memilih Media
Memilih media merupakan sebuah komponen kunci dari efektivitas komunikasi.
Pemilihan media didasarkan pada interaksi antara kekayaan informasi suatu media dan
kompleksitas permasalahan atau situasi yang dihadapi. Kekayaan informasi berkisar dari
rendah ke tinggi, serta merupakan fungsi dari empat faktor, yaitu:
a) Kecepatan feedback
b) Karakteristik dari saluran
c) Bentuk komunikasi
d) Sumber bahasa

Permasalahan atau situasi berkisar dari sederhana hingga kompleks. Komunikasi yang
efektif muncul ketika kekayaan media cocok dengan kompleksitas dari permasalahan atau
situasi.
9. Generasi Internet
No. Perlindungan terhadap Pelanggaran Keamanan dan Kerahasiaan di Internet
1. Menggunakan kata kunci yang sulit. Gabungan dari huruf, symbol, serta angka.
Menggunakan kata kunci yang berbeda untuk tiap pelayanan website. Jangan pernah
2.
menggunakan kata kunci web untuk kode pin kartu kredit dan ATM.
Jangan mengungkap informasi yang sensitif, bahkan rahasia atau layanan seperti
3.
facebook, instagram dan twitter.
Jangan berbagi file pada layanan yang memiliki layanan berbagi misalnya Google
4.
Docs, kecuali memang sangat dibutuhkan.
5. Menjaga data tetap pada hard drive
6. Menghindari layanan berbagi data
Menggunakan layanan keamanan terbaru bagi seluruh perangkat lunak, termasuk
7.
system operasi, bowser dan program anti virus.

No. Norma-norma pada internet


Kebebasan, sebuah keinginan untuk mengalami hal yang baru dan berbeda yang
1.
didahulukan pada komitmen waktu yang lama.
2. Perubahan,
3. Cermat
4. Integritas
Kolaborasi, hubungan merupakan kunci utama. Dengan berkolaborasi dapat saling
5.
memberikan gagasan dan saran.
6. Hiburan
7. Cepat
Inovasi, ketidaksabaran bagi para pengguna internet merupakan sebuah bukti.
8. Inovasi berarti menolak perintah hierarki tradisional dan merencanakan kerja yang
mendorong kolaborasi dan kreativitas.

10. Konsekuensi yang Tidak Diinginkan dari Era Digital


Surat elektronik dapat dimanfaatkan secara efektif dengan melakukan hal sebagai berikut:
a) Jangan menganggap surat elektronik merupakan sesuatu yang rahasia.
b) Menjadi professional dan sopan.
c) Menghindari keteledoran.
d) Jangan menggunakan surat elektronik untuk masalah yang kompleks.
e) Menjaga pesan tetap singkat dan jelas.
f) Menghemat waktu orang lain.
g) Berhati-hati dengan seberapa besar ukuran file. Ukuran file yang besar dapat merusak
system lainnya dan menghabiskan waktu untuk mengunduh.

Etika dasar telepon seluler melibatkan bagaimana menghargai orang lain dengan
menghindari (1) penggunaan nada dering yang mengganggu; (2) berbicara dengan nada
keras di tempat umum; dan (3) menggunakan telepon seluler saat mengemudi.
LEADERSHIP AND ORGANIZATIONAL BEHAVIOUR

“Managing Conflict & Negotiating and Communication in the Digital Age”

Oleh:

Dwinanda Ripta Ramadhan 17/181031/PEK/71031

Muhammad Rizqi Agustino 17/181069/PEK71069

Selvy Ayu Maharani 17/181098/PEK/71098

Kelas: 71 C

MAGISTER MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS

UNIVERSITAS GADJAH MADA

2018