Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Definisi
II.1.1 Pengertian Iodium
Yodium adalah mineral yang terdapat di alam, baik di tanah maupun di
air yang merupakan zat gizi mikro yang diperlukan oleh tubuh manusia untuk
membentuk hormon Tiroksin yang berfungsi untuk mengatur pertumbuhan
dan perkembangan fisik serta kecerdasan (Depkes RI, 2001)
Dalam tubuh terkandung sekitar 25 mg iodium yang terbesar dalam
semua jaringan tubuh, kandunggannya yang tinggi yaitu sekitar sepertiganya
terdapat dalam kelenjar tiroid, dan yang relatif lebih tinggi dari itu ialah pada
ovari, otot, dan darah.
Yodium diserap dalam bentuk yodida, yang didalam kelenjar tiroid
dioksidasi dengan cepat menjadi yodium, terikat pada molekul tirosin dan
tiroglobulin. Selanjutnya tiroglobulin dihidrolisis menghasilkan tiroksin dan
asam amino beryudium, tiroksin terikat oleh protein. Asam amino beryodium
selanjutnya segerah di pecah dan menghasilkan asam amino dalam proses
dalam deaminasi, dekarboksilasi dan oksidasi (Kartasapoetra, 2005).
II.1.2 Pengertian Garam Beryodium
Garam adalah salah satu dari sembilan bahan makanan pokok yang
digunakan masyarakat dan merupakan bahan makanan vital. Bahan ini juga
efektif digunakan sebagai media untuk perbaikan gizi makanan. Bahan baku
untuk pembuatan garam adalah air laut. Air laut selain mengandung natrium
klorida juga mengandung garam-garam terlarut ini bervariasi menurut tempat
dan kedalaman lautnya. Kadar garam tertinggi terdapat dilaut mati.
Penggunaan garam dibedakan menjadi garam komsumsi yaitu garam yang
dikomsumsi bersama-sama makanan serta garam industri yaitu garam yang
digunakan bahan baku maupun bahan penolong industri kimia (Kapantow,
2013).
Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya dengan yodium
yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan kecerdasan. Garam
beryodium yang digunakan sebagai garam konsumsi harus memenuhi standar
nasional indonesia (SNI) antara lain mengandung yodium sebesar 30 – 80
ppm (Depkes RI, 2000).
Fungsi yodium yaitu: Yodium digunakan untuk mmeproduksi tiroksin.
Tiroksin adalah hormon yang mengatur aktivitas berbagai organ, mengontrol
pertumbuhan, membantu proses metabolisme, bahkan menentukan beberapa
lama seseorang bertahan untuk hidup. Didalam tubuh, yodium sangat
dibutuhkan oleh kelenjar tiroid ( kelenjar yang agak besar dan berada dileher
depan bagian bawah). Hormon tiroid mengontrol kecepatan tiap sel
menggunakan oksigen. Dengan demikian, hormon tiroid mengontrol
kecepatan pelepasan energi dari zat gizi yang menghasilkan energi. Yodium
berperan pula dalam perubahan karoten menjadi bentuk aktif vitamin A,
sintesis protein dan absorbsi karbohidrat dari saluran cerna. Yodium berperan
pula dalam sintesis kolestrerol darah.
II.1.3 Asam Sianida (HCN)
Asam sianida (HCN) adalah zat molekular yang kovalen, namun
mampu terdisosiasi dalam larutan air, merupakan gas yang sangat beracun
(meskipun kurang beracun dari H2S), tidak bewarna dan terbentuk bila sianida
direaksikan dengan sianida. Dalam larutan air, HCN adalah asam yang sangat
lemah, pK25°= 9,21 dan larutan sianida yang larut terhidrolisis tidak terbatas
namun cairan murninya adalah asam yang kuat. Cairan HCN memiliki titik
didih 25,6°C dan memiliki tetapan dielektrik yang sangat tinggi (107 pada 25°)
sehubungan dengan penggabungan molekul molekul polar (seperti H2O) oleh
ikatan hidrogen dan cairan HCN tidak stabil dan dapat terpolimerisasi dengan
hebat tanpa adanya stabilisator (Cotton dan Wikinson, 1989).
Sianida bebas adalah penentu ketoksikan senyawa sianida yang dapat
didefinisikan sebagai bentuk molekul (HCN) dan ion (CN‒) dari sianida yang
dibebaskan melalui proses pelarutan dan disosiasi senyawa sianida (Smith and
Mudder 1991). Kedua spesies ini berada dalam kesetimbangan satu sama lain
yang bergantung pada pH sehingga konsentrasi HCN dan CN‒ dipengaruhi
oleh pH (Kyle 1988). Pada pH dibawah 7, keseluruhan sianida berbentuk
HCN sedangkan pada pH diatas 10,5, keseluruhan sianida berbentuk CN‒
(Kyle 1988). Reaksi antara ion sianida dan air ditunjukkan oleh dalam reaksi
di bawah ini (Smith and Mudder 1991):
Asam sianida cepat terserap oleh alat pencernaan dan masuk kedalam
aliran darah lalu bergabung dengan hemoglobin di dalam sel darah merah.
Keadaan ini menyebabkan oksigen tidak dapat diedarkan dalam sistem badan.
Sehingga dapat menyebabkan sakit atau kematian dengan dosis mematikan
0,5-3,5 mg HCN/kg berat badan.
Glikosida sianogenetik merupakan senyawa yang terdapat dalam bahan
makanan nabati dan secara potensial sangat beracun karena dapat terurai dan
mengeluarkan hidrogen sianida. Asam sianida dikeluarkan dari glikosida
sianogenetik pada saat komoditi dihaluskan, mengalami pengirisan atau
mengalami kerusakan. Senyawa glikosida sianogenetik terdapat pada berbagai
jenis tanaman dengan nama senyawa berbeda-beda, seperti amigladin pada biji
almond, apricot, dan apel, dhurin pada biji shorgun dan linimarin pada kara
dan singkong. Nama kimia amigladin adalah glukosida benzaldehida
sianohidrin, dhurin adalah glukosida p-hidroksi-benzaldehida sianohidrin dan
linamarin glikosida aseton sianohidrin (Winarno, 2002).
II.1.4 Tanaman Singkong
Ubi kayu merupakan salah satu jenis tanaman dari hasil pertanian yang
utama di Indonesia. Keunggulan dari tanaman ini adalah mudah tumbuh
sekalipun pada tanah kering dan miskin unsur haraserta tahan terhadap
serangan penyakit maupun tumbuhan pengganggu (Gulma). Singkong berasal
dari benua Amerika, tepatnya dari Brazil. Penyebarannya hampir keseluruh
dunia, antara lain Afrika, Madagaskar, India, dan Tiongkok. Tanaman ini
masuk ke Indonesia pada tahun 1852, singkong berkembang dinegara-negara
yang terkenal dengan wilayah pertaniannya (Pruhatman, 2000)
Para petani biasanya menanam tanaman singkong dari golongan
singkong yang tidak beracun untuk mencukupi kebutuhan pangan. Sedangkan
untuk keperluan industri atau bahan dasar untuk industri biasanya dipilih
golongan umbi yang beracun. Karena golongan ini mempunyai kadar patih
yang lebih tinggi dan umbinya lebih besar serta tahan terhadap kerusakan,
misalnya perubahan warna (Sosrosoedirdjo, 1993).
Kandungan gizi yang terdapat dalam singkong sudah kita kenal sejak
dulu. Umbi singkong merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun
miskin akan protein. Selain kandungan gizi diatas, singkong juga mengandung
racun yang dalam jumlah besar cukup berbahaya racun singkong yang selama
ini kita kenal adalah Asam Biru atau Asam Sianida. Baik daun maupun
umbinya mengandung suatu Glikosida Cyanogenik artinya suatu ikatan
organik yang dapat, menghasilkan racun biru atau HCN yang bersifat toksik.
Besarnya racun dalam setiap singkong tidak konstan dan dapat berubah hal ini
disebabkan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu antara lain:
keadaan iklim, keadaan tanah, cara pemupukan dan cara budidayannya
(Agoes, 2010).

Gambar 1 : Umbi Singkong karet


Singkong dapat dibedakan menurut warna rasa, umur dan kandungan
sianidanya (HCN). Bila rasa pahit maka kandungan sianidanya tinggi.
Berdasarkan kadar asam sianida (HCN) dalam singkong, tidak semua jenis
singkong dapat dikonsumsi atau diolah secara langsung. Singkong dengan
kadar HCN kurang dari 100 Mg/Kg (ditandai dengan adanya rasa manis),
merupakan singkong yang layak dan aman dikonsumsi ataupun diolah sebagai
bahan makanan secara langsung (Purwono, 2009).
Menurut departemen perindustrian (1999), berdasarkan kadar HCN
dalam umbi, singkong dibedakan menjadi 4 kelompok yaitu:
a. Singkong Manis
Rasa manis singkong disebabkan oleh kandungan asam sianida
yang sangat rendah, hanya sebesar 0,04% ataupun 40 Mg HCN/Kg
singkong. Jenis singkong manis antara lain adalah Gading, Adira I,
Mangi, Betawi, Mnetega, Randu Ranting, dan Kaliki.
b. Singkong Agak Beracun
Jenis singkong agak beracun memiliki kandungan HCN antara 0.05
sampai 0,08 % ataupun 50 sampai 80 Mg HCN/Kg singkong
c. Singkong Beracun
Singkong beracun, kandungan HCN antara 0.08 sampai 0,10% atau
80 sampai 100 Mg HCN/Kg singkong.
d. Singkong Sangat Beracun
Kitela pohon termasuk kategori sangat beracun apabila
mengandung HCN lebih dari 0,1% atau 100 Mg/Kg singkon. Jenis
singkong sangat beracun atar lain adalah Bogor, SPP, dan Adira II.
Singkong karet merupakan salah satu jenis singkong yang kurang
dimanfaatkan oleh masyarakat, karena mengandung senyawa beracun berupa
Asam Sianida. Dimana singkong karet ini tidak memiliki nilai jual yang
tinggi. Selain itu singkong karet ini mengandung karbohidrat yang lebih tinggi
dibandingkan dengan singkong biasa yaitu empat kali lebih besar. Oleh karena
itu singkong karet ini sangat cocok untuk diproses dalam pembuatan
Bioethanol.
Sistematika tanaman Singkong Karet ( Manihot Glaziovii) adalah sebagai
berikut :
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsyda
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Manihot
Spesies : Manihot glaziovii M.A
II.2 Uraian Tanaman
1. Tanaman Singkong (Pruhatman, 2000)
a. Klasifikasi tanaman singkong
Regnum : Plantae
Divisi : Spermathophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae Singkong

Genus : Manihot (Manihotesculenta)

Spesies : Manihotesculenta
b. Morfologi tanaman singkong
Singkong merukana salah satu sumber karbohidrat yang berasal dari
umbi. Umbikayu merupakan tanaman perdu. Umbi kayu berasal dari benua
Amerika, tepatnya di Brasil. Batang tanaman singkong berkayu, beruas
dengan ketinggian mencapai lebih dari 3 m. tanaman ubi kayu bunganya
berumah satu dan proses penyerbukannya bersifat silang
(Budidayanti et al, 2005).
c. Kandungan kimia tanaman singkong
Daun singkong memiliki berbagai kandungan yaitu flavanoid,
triepenoid, saponin, tanin dan vitamin C. didalam daun singkong
mengandung vitamin A, B1 dan C (Agoes, 2010).
II.3 Urian Bahan
1. Aquadest (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain : Air suling
RM/BM : H2O/18,2
Struktur kimia :
H-O-H
Pemerian : Ciran jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
Mempunyai rasa
Khasiat : Sebagai air minum
Kegunaan : Sebagai pelrut
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
2. Alkohol (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama lain : Alkohol, etanol, ethyl alkohol, alkohol absolut
Berat molekul : 46,07
Rumus molekul : C2H5OH

Rumus struktur :

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P


dan dalam eter P.
Pemerian : Cairan tidak berwarna jernih, mudah menguap dan
mudah bergerak, bsukhas, rasa panas, dan mudah
mudah tebakar.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat. Terhindar dari cahaya.
Khasiat : Antiseptik (menghambat mikroorganisme).
Kegunaan : Sebagai pelarut dan membersihkan alat
3. Asam Pikrat (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : TRINITROFENOL (TNP)
Nama lain : Asam karbazoat, Fenoltrinitrat, Asam piknonitrat
Berat molekul : 229,10 gr. Mol -1
Rumus molekul : C6H3O7
Rumus struktur :

Kelarutan : Larut dalam 9-10 g air


Pemerian : Cairan berbentuk kristal dan berwarna kuning muda,
bisa dihgunakan sebagai bahan peledak dan berbau
khas
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai pereaksi
4. Iodin (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : IODUM
Nama lain : Iodium
Berat molekul : 126,91
Rumus molekul : I2
Rumus struktur :
I I
Kelarutan :.Larut dalam kurang lebih 3500 bagian air, 13
bagian dalam etanol 95% dan larut dalam
kloroform
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan :.Dalam dunia pengobatan dan bahan dasar
pembuatan iodoform
Khasiat : Antiseptic
5. Natrium Karbonat (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : NATRII KARBONAS
Nama lain : Natrium Karbonat
Berat molekul : 106 g/mol
Rumus molekul : Na2CO3
Rumus struktur :

Kelarutan :.Larut dalam lebih kurang dari 200 bagian air,


mudah larut dalam etanol mutlak P, dalam minyak
atsiri dan dalam minyak lemak.
Pemerian : Bentuk natrium karbonat yaitu kristal dan bersifat
higroskopis dan berwarna putih
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup.
Khasiat : Karatolitikum
Kegunaan : Sebagai zat tambahan
6. Asam Tatrat (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi : ASAM DIHIDROKSIBUTANADIOAT
Nama lain : Tartaric acid
Berat molekul : 150, 09 g/mol
Rumus molekul : C4H4O6
Rumus struktur :

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam


etanol (95%) P, sukar larut dalam eter P
Pemerian : Bentuk natrium karbonat yaitu kristal dan bersifat
higroskopis dan berwarna putih
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup.
Khasiat : Antioksidan
Kegunaan : Dapat berperan sebagai pengasam, dapat mencegah
petrumbuhan mikroba dan bertindak sebagai bahan
Pengawet.
DAFTAR PUSTAKA
Cotton dan Wilkinson. 2009. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI press

Agoes. A. 2010. Tanaman Obat Indonesia. Jakarta ; Penerbit Salemba Medika

Budidayanti. 2005. Morfologi Tanaman Singkong. Fakultas Pertanian. Jakarta

Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Direktorat
jendral pengawan obat dan makanan. Jakarta

Depkes RI. 2001. Garam Beryodium. Jakarta

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI. Jakarta.

Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI. Jakarta.

Kapantow, A. N. Dkk. 2013. Identifikasi Garam Dapur Yang Beryodium. Jurnal


Ilmiah Farmasi. Vol 2 (01)

Kartasapoetra. G. 2005. Manfaat Yodium. Renika Cipta. Jakarta

Pruhatman. K,. 2000. Tentang Budidaya Pertanian Umbi Kayu. Fakultas Pertanian:
Yogyakarta

Smith. A. And Mudder. T. 1991. The Chemisty And Treatment Of Cyanidation Waste,
Mining Journal Books Ltd. London

Sosrosoedirdjo. 1993. Budidaya Tanaman Pangan. Bandung

Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan Dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.