Anda di halaman 1dari 21

DEPARTEMEN PENYAKIT MULUT

LAPORAN KASUS
ANGULAR CHEILITIS DAN STOMATITIS AFTOSA REKUREN MAYOR

Oleh:
Dewi Septindra Sugiharto
140070100011014

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
ANGULAR CHEILITIS

Nama pasien : Nn. SM


Tanggal Lahir : 3 Agustus 1998
Alamat : Jalan Watumujur I No.2, Kota Malang
No Telepon : 085236177045
Pekerjaan : Mahasiswa
Jenis Kelamin : Perempuan
No Rm : 11899
Tgl. Pemeriksaan : 3 November 2016

Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan sudut bibir kanan dan kirinya terasa perih saat membuka
mulut sejak kurang lebih 1 minggu yang lalu. Pasien juga merasa bibirnya pecah pecah
dan sangat kering.

Riwayat penyakit
Pasien mengaku baru pertama kali mengalami seperti ini. Setelah bibinya merasa sakit
pasien rutin mengoleskan madu 1x sehari pada bibirnya. Pasien merasa luka pada sudut
bibirnya membaik setelah rutin mengoleskan madu namun pecah pecah serta rasa kering
pada bibirnya semakin parah dari hari ke hari sehingga pasien sangat terganggu saat
makan dan berbicara. Pasien merasa tidak bisa membuka mulut dengan lebar sekarang.
Pasien sering mengelupasi bagian bibir yang kering tersebut hingga terkadang berdarah.
Pasien mengkonsumsi air 5-6 gelas per hari. Pasien juga rutin mengkonsumsi sayur dan
buah. Pasien menyikat gigi 2x sehari saat mandi pagi dan sore.

Riwayat Perawatan Gigi dan Mulut


-

Riwayat Penyakit Sistemik


Bronkitis
Riwayat Penyakit dalam Keluarga
TAK

Riwayat Sosial
Pasien seorang mahasiswa baru

Pemeriksaan Objektif
 BB/TB terakhir : 50kg/156 cm
 Keadaan Umum : composmentis
 Tanda tanda Vital :
- Tensi : 120/80 mmHg
- Nadi : 64x / menit
- Pernapasan : 20x/ menit

Pemeriksaan Ekstra Oral


 Kelenjar Limfe
 Servical Ka : Tidak teraba,tidak sakit
Ki : Tidak teraba, tidak sakit
 Submandibula Ka : Tidak teraba, tidak sakit
Ki : Tidak teraba, tidak sakit
 Submental : Tidak teraba, tidak sakit
 TMJ : TAK
 Wajah : Simetris
 Bibir : Deskuamasi pada komisura bibir dan hampir pada seluruh bibir.
Erosi pada komisura bibi berukuran ± 2mm dan erosi pada
vermilion bibir berukuran ± 2,5mm

Pemeriksaan Intra Oral


 Kebersihan Mulut : Sedang
 Jaringan Periodontal : TAK
 Gingiva : TAK
 Kelenjar Saliva : TAK
 Mukosa Bukal : TAK
 Mukosa Labial : TAK
 Lidah : TAK
 Dasar Mulut : TAK
 Palatum Durum : TAK
 Palatum Molle : TAK
 Uvula dan Pilar Tonsil : TAK

Gambar

Diagnosa
Angular Cheilitis

Rencana Perawatan
- KIE dan DHE
- Medikamentosa
R/ Nystatin oral susp 100.000 unit/ml fl No.I
2 d.d u.c
R/ Vitamin B complex
u.c
- Pro kontrol H+7

STATUS KONTROL I PASIEN / Tgl : 10 November 2016

Resume Anamnesis Kontrol


Pasien merasa bibirnya sudah membaik dan sudah tidak sakit lagi sejak kurang
lebih 2 hari yang lalu. Pasien sudah bisa makan, berbicara dan membuka mulut seperti
biasa. Pasien rutin mengkonsumsi obat 2x sehari dan juga rutin menggunakan lip balm
hingga hari ini. Pasien mengaku sudah meningkatkan minum air menjadi 7-8 gelas per
hari.

Resume Pemeriksaan Ekstra Oral


 Kelenjar Limfe
 Servical Ka : Tidak teraba,tidak sakit
Ki : Tidak teraba, tidak sakit
 Submandibula Ka : Tidak teraba, tidak sakit
Ki : Tidak teraba, tidak sakit
 Submental : Tidak teraba, tidak sakit
 TMJ : TAK
 Wajah : simetris
 Bibir : healing post angular cheilitis

Pemeriksaan Intra Oral


 Kebersihan Mulut : Sedang
 Jaringan Periodontal : TAK
 Gingiva : TAK
 Kelenjar Saliva : TAK
 Mukosa Bukal : TAK
 Mukosa Labial : TAK
 Lidah : TAK
 Dasar Mulut : TAK
 Palatum Durum : TAK
 Palatum Molle : TAK
 Uvula dan Pilar Tonsil : TAK

Gambar

Diagnosis
1. Healing post angular cheilitis

Rencana Perawatan
1. KIE dan DHE
PEMBAHASAN

Definisi
Angular cheilitis adalah infeksi pada fisura dari commisura mulut dan sering
dikelilingi oleh eritema (Greenberg MS, Glick M, Ship JA, 2008)
Angular cheilitis adalah reaksi inflamasi pada sudut bibir mulut yang sering dimulai
dengan penyimpangan mukokutaneus dan berlanjut hingga ke kulit. Angular cheilitis ini
dikarakteristik oleh kemerahan yang menyebar, bentuknya seperti fisur- fisur, kulit yang
nampak terkikis, ulser yang permukaannya berlapis dan disertai dengan gejala yang
subjektif seperti rasa sakit, rasa terbakar, dan nyeri.

Prevalensi
Angular Cheilitis terjadi 0,7-3,8% pada dewasa dan 0,2-15,1% pada anak-anak,
namun secara keseluruhan paling sering terjadi pada dewasa berusia 30 – 60 tahun
(Shahzad, mahreen; raheela Faraz And Anam Sattar, 2014).

Etiologi
Angular cheilitis memiliki etiologi yang bervariasi, yaitu disebabkan infeksi jamur
Candida albicans, bakteri Staphylococcus dan Streptococcus beta-hemolitik, berkurangnya
dimensi vertikal karena kehilangan gigi, trauma mekanis akibat dari cups yang tajam,
kebiasaan menggigit bibir atau pipi, gesekan dari peralatan ortodonti, serta karena
kurangnya nutrisi seperti zat besi, vitamin B12, dan asam folat. Angular Cheilitis terjadi
0,7-3,8% pada dewasa dan 0,2-15,1% pada anak-anak, namun secara keseluruhan paling
sering terjadi pada dewasa berusia 30 – 60 tahun (Shahzad, mahreen; raheela Faraz And
Anam Sattar, 2014).
1. Kekurangan gizi
Salah satu pemicu kondisi ini adalah kekurangan gizi. Seseorang yang mengalami
kekurangan riboflavin, kekurangan zat besi, dan/atau kekurangan seng kemungkinan
akan terkena angular cheilitis.
2. Anorexia nervosa dan bulimia nervosa
Anorexia nervosa dan bulimia nervosa berhubungan dengan kekurangan gizi. Orang
yang menderita masalah ini juga rentan terhadap angular cheilitis.
3. Sering muntah
Muntah konstan dalam waktu lama melibatkan pembukaan mulut secara konstan. Isi
perut yang keluar umumnya setengah dicerna yang membuat lembab sudut mulut
sehingga membuatnya rentan terhadap infeksi.
4. Kehilangan gigi
Kehilangan gigi umum terjadi pada usia lanjut. Hal ini akan membuat mulut kehilangan
salah satu penopangnya. Tekanan berlebih pada mulut bisa memicu angular cheilitis.
5. Cuaca dingin
Pada cuaca dingin, bibir akan mudah kering dan menjadi pecah-pecah. Masalah ini
sering diamati pada orang yang berada di iklim dingin.
6. Menjilati dan menggigiti bibir
Menjilati dan menggigiti bibir secara konstan bisa memicu angular cheilitis.
7. Infeksi bakteri dan jamur
Infeksi bakteri dan jamur dapat memicu angular cheilitis. Mikroorganisme seperti
Candida albicans, Staphylococcus aureus, dan Herpes simplex sering ditemukan pada
bibir individu yang mengalami angular cheilitis.
8. Obat-obatan
Obat-obatan yang membuat kering kulit seperti isotretinoin untuk jerawat dan acitretin
untuk psoriasis dapat menjadi penyebab cheilosis.
9. Kelebihan vitamin A
Meskipun jarang, kelebihan vitamin A mengakibatkan lesi di sudut bibir. Kelebihan
vitamin A dapat disebabkan oleh konsumsi berlebihan suplemen vitamin A, minyak ikan
cod, atau minyak ikan lainnya.
10. Keluar air liur saat tidur
Air liur yang mengalir keluar dari sudut mulut saat tidur meningkatkan kemungkinan
terkena kondisi ini. Hal ini karena air liur membuat sudut bibir lembab sepanjang malam
dan menyebabkan kuman mudah menginfeksi.
11. Gigi palsu
Gigi palsu juga bisa menyebabkan angular cheilitis pada orang yang menggunakannya.
12. Masalah genetik
Predisposisi genetik berpotensi menyebabkan angular cheilitis. Orang yang menderita
sindrom Down termasuk dalam kategori ini.
13. Paparan matahari
Paparan jangka panjang pada sinar matahari dan angin menyebabkan kekeringan kulit
termasuk daerah bibir. Kondisi ini membuat bibir pecah-pecah dan teriritasi yang pada
akhirnya memicu angular cheilitis.
14. Sering mengelap mulut
Sebagian orang memiliki kebiasaan sering mengelap mulut. Orang-orang seperti ini
berisiko mengembangkan angular cheilitis.
15. Kekurangan protein dan kalori
Kekurangan protein dan kalori merupakan salah satu penyebab terjadinya angular
cheilitis

Gambaran Klinis
Angular cheilitis memiliki ciri kondisi berupa eritema, maserasi, fisura, erosi dan
krusta di sudut bibir. Rasa panas seperti terbakar dan rasa kering dapat terjadi. Remisi
dan eksaserbasi juga sering terjadi (Laskaris, George, 2012).

(Greenberg MS, Glick M, Ship JA, 2008)


(Laskaris, George, 2012)
Perawatan
1. Umum
Mengurangi dan mengobati (memperbaiki) faktor predisposisi, termasuk:
a. Memperbaiki penurunaan dimensi vertikal oklusi
b. Memperbaiki abnormalitas sistemik seperti diabetes militus, anemia, dll
c. Mempertahankan kebersihan rongga mulut
2. Obat Topikal
Terapi topikal anti jamur kombinasi dengan steroid dan mungkin dengan anti
bakteri.
Pada kasus infeksi stapilococcal digunakan fucidic acid 3x sehari secara topikal.
Infeksi Candida bisa diatasi dengan pemberian antifungal angent Nystatin atau
Amphotericin-B yang dioleskan secara topikal. Secara klinis perbedaan antara
infeksi staphylococci dan candida sulit dibedakan dan infeksi pada angular cheilitis
seringnya campuran. Sehingga kombinasi antibiotik dan antifungal mungkin
digunakan. Miconazole 2% krim efektif untuk melawan kandida dan gram positif
cocci.
Pada kasus yang luas, diperlukan swab dan smear dari lesi untuk kultur bakteri dan
antibiotic sensitivity test.
STOMATITIS AFTOSA REKUREN MAYOR

Nama pasien : Tn. AS


Tanggal Lahir : 7 Maret 1993
Alamat : Perum Nanggala 8F Malang
No Telepon : 082334713903
Pekerjaan : Mahasiswa
Jenis Kelamin : laki laki
No Rm : 182
Tgl. Pemeriksaan : 8 Juni 2017

Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan terdapat sariawan besar pada pipi kirinya.

Riwayat Penyakit
Sariawan muncul sejak ± 4 hari yang lalu. Sariawan tersebut awalnya berukuran
kecil namun semakin lama semakin besar. Pasien merasa sakit saat makan dan berbicara.
Sariawan tersebut belum pernah diobati sebelumnya. Pasien seringkali mengalami
sariawan. Pasien mengaku hampir setiap bulan mengalami sariawan dengan lokasi yang
berpindah pindah dan terkadang berukuran kecil terkadang besar. Pasien jarang
mengkonsumsi buah dan sayur. Pasien minum air putih hanya saat setelah makan saja.
Pasien tidak merokok dan tidak sedang mengkonsumsi obat obatan tertentu. Pasien
mengaku saat ini sedang banyak pikiran.

Riwayat Perawatan Gigi dan Mulut


Pencabutan gigi
SRP
Pasien sedang perawatan orthodontic

Riwayat Penyakit Sistemik


TAK

Riwayat Penyakit dalam Keluarga


TAK
Riwayat Sosial
Pasien adalah mahasiswa koas

Pemeriksaan Objektif
 BB/TB terakhir : 56kg / 170cm
 Keadaan Umum : composmentis
 Tanda tanda Vital :
- Tensi : 110/80 mmhg
- Nadi : 64x / menit
- Pernapasan : 20x/ menit

Pemeriksaan Ekstra Oral


 Kelenjar Limfe
 Servical Ka : Tidak teraba,tidak sakit
Ki : Tidak teraba, tidak sakit
 Submandibula Ka : Tidak teraba, tidak sakit
Ki : Tidak teraba, tidak sakit
 Submental : Tidak teraba, tidak sakit

 TMJ : TAK
 Wajah : Simetris
 Bibir : TAK

Pemeriksaan Intra Oral


 Kebersihan Mulut : baik
 Jaringan Periodontal : TAK
 Gingiva : TAK
 Kelenjar Saliva : TAK
 Mukosa Bukal :
- Terdapat cheek biting kanan dan kiri
- Terdapat ulser berukuran ±10mm berbentuk oval, tepi regular berbatas
haloeritem, warna putih kekuningan pada mukosa bukal kiri.
 Mukosa Labial : TAK
 Lidah : TAK
 Dasar Mulut : TAK
 Palatum Durum : TAK
 Palatum Molle : TAK
 Uvula dan Pilar Tonsil : TAK

Gambar

Diagnosis
Stomatitis Aftosa Rekuren Mayor
Rencana Perawatan
1. KIE dan DHE
2. Resep :
R/ Triamcinolone acetonide 0,1 % in orabase tube No. I
2 dd extend ter
3. Pro Kontrol H+7

STATUS KONTROL PASIEN / Tgl : 15 Juni 2017


Resume Anamnesis Kontrol
Pasien datang untuk kontrol H+7. Pasien mengaku sudah tidak merasa sakit sejak
± 3 hari yang lalu. Pasien rutin menggunakan obat 2x sehari. Pasien merasa sariawannya
mengecil lalu menghilang. Saat ini pasien sudah menghentikan penggunaan obat.

Resume Pemeriksaan Ekstra Oral


 Kelenjar Limfe
 Servical Ka : Tidak teraba,tidak sakit
Ki : Tidak teraba, tidak sakit
 Submandibula Ka : Tidak teraba, tidak sakit
Ki : Tidak teraba, tidak sakit
 Submental : Tidak teraba, tidak sakit
 TMJ : TAK
 Wajah : Simetris
 Bibir : TAK
Pemeriksaan Intra Oral
 Kebersihan Mulut : Sedang
 Jaringan Periodontal : TAK
 Gingiva : TAK
 Kelenjar Saliva : TAK
 Mukosa Bukal : cheek biting kanan kiri, healing SAR Mayor
 Mukosa Labial : TAK
 Lidah : TAK
 Dasar Mulut : TAK
 Palatum Durum : TAK
 Palatum Molle : TAK
 Uvula dan Pilar Tonsil : TAK

Gambar

Diagnosis
Healing post stomatitis aftosa rekuren mayor

Rencana Perawatan
KIE dan DHE
PEMBAHASAN
Definisi
Stomatitis aftosa rekuren (SAR) adalah suatu kelainan yang ditandai oleh ulser
berulang pada mukosa oral pada penderita yang tidak menunjukkan gejala penyakit lain
(Greenberg MS, Glick M, Ship JA, 2008).
Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) terjadi pada mukosa mulut, biasanya berwarna
putih kekuningan. Munculnya radang mukosa mulut ini disertai dengan rasa sakit dan
merupakan penyakit mulut yang paling sering ditemukan. Radang mukosa mulut dapat
menyerang selaput lendir pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah, gusi serta langit-
langit dalam rongga mulut (Scully, 2003; Greenberg, 2008).
Nama lain dari SAR adalah, stomatitis aftosa, canker sores, dyspeptic ulcer,
habitual ulcer, mikuliz ulcer, dan ulser neuroticum mukosa oris (Haskell, 1990).

Etiologi dan Faktor Predisposisi


Etiologi stomatitis aftosa rekuren belum diketahui namun memiliki faktor
predisposisi (Longman, Lesley; Field, Anne, 2003).
. Berbagai faktor predisposisi tersebut antara lain: (Scully, 2003)
a. Stress : Beberapa pasien menghubungkan eksaserbasi ulserasi dengan saat
mereka mengalami stres. Ada berbagai macam penelitian yang melaporkan adanya
hubungan tersebut. Stres sendiri sulit untuk diukur, dan ada juga penelitian yang
tidak menemukan adanya hubungan tersebut. Faktor predisposisi stres yang
merupakan faktor predisposisi tertinggi kedua setelah trauma diduga memicu
terjadinya SAR
b. Trauma : menggigit mukosa dan adanya peranti pada gigi. Beberapa pasien
mengira bahwa lesi terjadi akibat trauma, sebab gejala awalnya didahului oleh sikat
gigi yang menyodok mukosa mulut. Letak lesinya tergantung pada daerah yang
terlibat dalam trauma tersebut. Namun demikian, lesi biasanya ditemukan di daerah
yang terlindung, jarang ditemukan pada mukosa yang berperan pada pengunyahan.
c. Haematinic deficiency : defisiensi zat besi, folic acid (folate) atau vitamin B12
d. Sodium lauryl sulphate (SLS) : merupakan pembersih di beberapa produk
kesehatan
e. Gastrointestinal disorders : coeliacdisease (gluten-sensitive enteropathy) dan
Crohn’s disease sekitar 3% pasien
f. Endocrine factors : Pada beberapa wanita, stomatitis aftosa dihubungkan dengan
fase luteal dalam siklus haid.
g. Faktor genetic
Lebih dari 42% pasien SAR memiliki riwayat keluarga dengan ulserasi oral. Pasien
dengan riwayat keluarga yang positif SAR biasanya ulserasi oral berkembang sejak
usia muda dan memiliki gejala yang lebih parah daripada pasien tanpa riwayat
keluarga. Selain itu, adanya kemungkinan peningkatan berkembangnya SAR pada
anak-anak bila kedua orang tua memiliki ulser, dan terdapat korelasi yang tinggi
SAR pada kembar identik.
h. Gangguan imunologi
Oleh karena etiologi stomatitis aftosa rekuren tidak diketahui, ada kecenderungan
untuk menganggapnya sebagai kelainan autoimun. Telah banyak bentuk gangguan
imunologi yang dilaporkan, tetapi hasil yang ditemukan berlawanan dengan teori
yang diajukan. Aftosa yang besar seperti ulser dapat ditemukan pada kondisi jumlah
T limfosit CD4 kurang dari 100 sel per milliliter, pasien positif HIV dan pasien non-
infeksi HIV dengan immunodefisiensi lainnya seperti sindrom myelodysplastik,
netropenia jinak dan bentuk lain neutropenia seperti cyclical neutropenia (Scully,
2003). Hingga kini belum ditemukan teori imunopatogenesis yang tepat yang
mendukung gambaran klinisnya. Adanya kemungkinan bahwa faktor alergi terkait
dengan timbulnya stomatitis aftosa juga belum dapat dipastikan. Pada sebagian
besar pasien yang ada tidak ditemukan perubahan bermakna pada kadar
immunoglobulin terkait. Beberapa penelitian lain tidak berhasil menemukan
kompleks imun yang beredar. Stomatitis aftosa rekuren sendiri juga tidak memiliki
gambaran yang menunjukkan adanya keterkaitan dengan penyakit autoimun.
Stomatitis aftosa rekuren tidak memberikan respon pada pengobatan imunosupresif
dan bertambah parah jika ada ganguan fungsi imun sebagaimana ditemukan pada
infeksi HIV (Cawson dan Odell, 2008; Regezi dkk, 2008).
Klasifikasi (Bachrudin, fatima s.m, dkk, 2016):

Gambaran Klinis
SAR diawali gejala prodormal yang digambarkan dengan rasa sakit dan terbakar
selama 24-48 jam sebelum terjadi ulser. Ulser ini menyakitkan, berbatas jelas, dangkal,
bulat atau oval, tertutup selaput pseudomembran kuning keabu-abuan dan dikelilingi
pinggiran yang eritematus dan dapat bertahan untuk beberapa hari atau bulan (Scully,
2003).

Tahapan Perkembangan SAR


1. Tahap premonitori
Terjadi pada 24 jam pertama perkembangan lesi SAR. Pada waktu prodormal, pasien
akan merasakan sensasi mulut terbakar pada tempat dimana lesi akan muncul. Secara
mikroskopis sel-sel mononuklear akan menginfeksi epitelium dan edema akan
berkembang.
2. Tahap pre-ulserasi
Terjadi pada 18-72 jam pertama perkembangan lesi SAR. Pada tahap ini, maula dan
papula akan berkembang dengan tepi eritematus. Pada fase ini, intensitas nyeri akan
meningkat.
3. Tahap ulseratif
Tahap ini akan berlangsung selama beberapa hari hingga 2 minggu. Pada tahap ini
papula-papula akan berulserasi dan ulser itu akan diselaputi oleh lapisan
fibromembranous yang akan diikuti oleh intensitas nyeri yang berkurang.
4. Tahap penyembuhan
Tahap ini terjadi pada hari ke-4 hingga 35. Ulser tersebut akan ditutupi oleh
epitelium. Penyembuhan luka terjadi dan sering tidak meninggalkan jaringan parut
dimana lesi SAR pernah mucul (Melamed, 2001).

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat lesi, pemeriksaan klinis, bila perlu
pemeriksaan darah untuk mencari kemungkinan adanya gambaran abnormal pada MCV
(mean corpuscular volume). Diagnosis stomatitis aftosa rekuren ditentukan berdasarkan
riwayat rekurensi lesi dan sifat lesi yang dapat sembuh sendiri. Kedua hal tersebut perlu
ditanyakan dalam anamnesis (Sook Bin Woo dan Greenberg, 2008; Neville dkk,2008).

Beberapa hal yang dapat ditanyakan saat melakukan anamnesis antara lain:
1. Riwayat lesi
Riwayat terjadinya lesi merupakan hal yang sangat penting. Oleh karena itu perlu
diperhatikan:
- Adanya rekurensi
- Jenis stomatitis aftosa: apakah minor, mayor ataupun herpetiformis
- Usia pada saat onset: anak-anak atau remaja
- Adanya riwayat penyakit serupa dalam keluarga
- Lesi hanya ditemukan di mukosa yang tidak berkeratin
- Ada tanda dan gejala penyakit Behcet (lesi ditemukan di ocular, genital, kulit,
persendian)
2. Pemeriksaan
Perhatikan gambaran klinisnya:
- Erosi berbatas tegas dengan tepi teratur
- Bila ditemukan jaringan parut atau palatum molle ikut terlibat, maka kondisi
tersebut menunjukkan adanya sebuah stomatitis aftosa tipe mayor
- Penyakit lain yang mempunyai bambaran khas dapat disingkirkan, seperti: lichen
planus ataupun prnyakit vesikulobulosa lainnya.
3. Pemeriksaan khusus
Pemeriksaan ini digunakan untuk menyingkirkan adanya kemungkinan penyakit yang
melatarbelakangi timbulnya lesi, terutama pada pasien yang onsetnya pada lansia.
Untuk itu perlu diperiksa antara lain:
- Status anemia, Fe, asam folat, vitamin B-12
- Adanya riwayat diare, konstipasi atau feces bercampur darah yang menunjukkan
adanya kelainan pada saluran pencernaan, misalnya coeliac disease atau
malabsorpsi
Pemeriksaan darah rutin dapat memberikan informasi lainnya dan biasanya temuan
yang paling penting adalah MCV yang abnormal. Jika ada makrositik atau mikrositik,
diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari terapi yang tepat terhadap
penyebabnya. Beberpa pemeriksaan khusus antara lain:
1. Apusan darah lengkap
2. Hemoglobin
3. Penghitungan sel darah purih dan differensial
4. Index sel darah merah
5. Studi iron (biasanya pengujian tingkat ferritin)
6. Red cell folate assay
7. Serum vitamin B 12 measurements
8. Serum anti endomysium antibody assay (positif in celiac disease).

Diagnosis Banding
Diagnosis banding untuk stomatitis aftosa rekuren yaitu penyakit pemphigus,
pemphygoid, penyakit jaringak ikat seperti penyakit lupus, reaksi obat, kelainan
dermatologi, diskrasia darah, HIV, gangguan gastrointestinal seperti bowel desease,
gangguan yang berhubungan dengan lesi kulit, mata, genital dan rectal, magic
syndrome (mouth and genital ulcers with inflamed cartilage) dan FAPA syndrome
(periodic fever, aphtous ulcer, pharyngitis and cervical adenitis) (Greenberg MS, Glick
M, Ship JA, 2008; Longman, Lesley; Field, Anne, 2003).
DAFTAR PUSTAKA

1. Bachrudin, fatima s.m, dkk. 2016. Tatalaksana Lesi Oral Pada Anak Laki-Laki Usia
9 Tahun. Prosiding Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.
2. Cawson, R.A. dan Odell, E.W. 2008. Cawson’s Essentials of Oral Pathology and
Oral Medicine. Ed. ke-7. Curchill-Livingstone, Edinburgh
3. Greenberg MS, Glick M, Ship JA. 2008. Burket’s Oral Medicine. 11th ed. Hamilton:
BC Decker Inc.
4. Haskell, R; Gayford, J.J. 1990. Penyakit Mulut (Clinical Oral Medicine). Ed.2.
Jakarta: EGC.
5. Laskaris, George. 2012. Atlas Saku Penyakit Mulut Ed.2. Jakarta: EGC.
6. Longman, Lesley; Field, Anne. 2003. Tyldesley's Oral Medicine, 5th Edition.
Oxford University Press.
7. Melamed F. 2001, Aphtous stomatitis,
(http://www.med.ucla.edu/modules/wfsection/article.php?articleid=207).
8. Neville BW, Damm DD, Allen CM, Bouquot JE. 2002. Oral & Maxillofacial
Pathology : Salivary Gland Pathology. 2nd ed. W.B. Saunders Co.
9. Regezi, J.A., Sciubba, J.J. dan Jordan, R.C. 2008. Oral Pathology. Clinical
Pathologic Correlations. Ed ke-5. Saunders – Elsevier, St. Louis.
10. Scully, C., Nur, FL. 2003. The Diagnosis and Management of Recurrent Aphtous
Stomatitis: A consensus Approach. JADA Vol. 134.
11. Shahzad, mahreen; raheela Faraz And Anam Sattar. 2014. Angular Cheilitis: Case
Reports And Literature Review. Pakistan oral & dental journal vol 34, no. 4
12. Sook Bin Woo dan Greenberg, M.S. 2008. Ulcerative, Vesicular and Bullous Lesions.
Dalam Burket’s Oral Medicine. M.S. Greenberg, M. Glick dan J.A. Ship, editor. BC
Decker, Hamilton.