Anda di halaman 1dari 5

Pengertian Persekutuan Hukum Adat

Menurut Soerojo
Persekutuan Hukum adalah kesatuan-kesatuan yang mempunyai tata susunan yang teratur dan
kekal serta memiliki pengurus sendiri dan kekayaan sendiri, baik kekayaan maupun immateriil .
Menurut Ter Haar
Masyarakat Hukum adalah kelompok-kelompok masyarakat yang tetap dan teratur dengan
mempunyai kekuasaan sendiri dan kekayaan sendiri baik berwujud maupun tidak berwujud. .
(Ter Haar, 1960;16)
Bisa disimpulkan bahwa persekutuan itu dapat disebut gerombolan yang teratur bersifat tetap
dan mempunyai kekuasaan sendiri , kekayaan sendiri berupa benda. Untuk memahami bentuk
dan susunan persekutuan hukum adar di kalangan rakyat Nusantara ini maka harus memahami
arti faktor teritorial (daerah) dan genealogis (keturunan) bagi timbulnya dan kelangsungan
masyarakat itu.
Tanggapan :
Pada dasarnya pengertian persekutuan hukum adat yang dikemukakan para tokoh hampir
sama, tetapi menurut pendapat saya, saya lebih merujuk kepada pendapat Soerojo karena
masyarakat hukum adat ini memiliki suatu susunan, tak hanya kelompok. Susunan disini saya
rasa mengandung nilai yang lebih kompleks dan teratur.
Struktur persekutuan hukum adat
a Genealogis : Suatu kesatuan masyarakat yang teratur dimana para anggotanya
terikat pada suatu garis keturunan yang sama dari suatu leluhur baik secara langsung karena
hubungan darah (keturunan) maupun secara tidak langsung karena pertalian perkawinan atau
pertalian adat. Pada intinya persekutuan hukum yang bersifat genealogis dilandaskan pada
pertalian darah petalian suatu keturunan.

Dalam persekutuan genealogis ada 3 macam dasar pertalian keturunan sebagai berikut :

 Pertalian garis darah menurut bapak (Patrilinial) adalah suatu susunan masyarakat yang
ditarik menurut garis keturunan bapak (garis laki-laki) sedangkan garis keturunan ibu
disingkirkan.

Pada masyarakat patrilinial ini ada yang sifatnya murni dan ada pula yang sifatnya tidak murni
(beralih-alih).
ü Patrilinial murni berpendapat bahwa laki-laki saja yang dapat menjadi penerus keturunan
ü Patrilinial tidak murni (beralih-alih) berpendapat bahwa tidak hanya laki-laki saja yang dapat
menjadi penerus keturunan, perempuan juga dapat menjadi penerus keturunan asalkan
perempuan tersebut menempuh ritual upacara adat sehingga ia dianggap sebagai laki-laki
dalam perspektif adat namun wujud nyata perempuan tersebut juga tetap perempuan.

 Pertalian garis darah menurut ibu (Matrilinial), adalah suatu susunan masyarakat yang
ditarik adari garis keturunan ibu (garis wanita), sedangkan garis keturunan bapak
diabaikan.
 Pertalian darah menurut garis ibu dan bapak (Parental atau bilateral), adalah suatu
susunan masyarakat yang ditarik dari garis keturunan orang tua, bapak dan ibu.

Tanggapan :
Pada garis keturunan patrilinial memiliki keunikan tersendiri bahwa garis keturunan ini
memiliki 2 sifat yakni murni dan beralih-alih, keunikannya terdapat pada sifatnya yang beralih-
alih karena perempuanpun bisa menjadi penerus keturunan asal diupacarai adat dan statusnya
pun berubah menjadi laki-laki menurut adat oleh katrena itu jika da laki-laki yang
mengawininya maks status laki-laki tersebut adalah sebagai perempuan dalam perspektif adat.
Selain itu pada keturunan patrilinial ini jika menganut yang bersifat patrilinial murni, jika pada
suatu somah (keluarga) tidak memiliki anak lelaki maka cara alternatif agar garis keturunan
tetap berjalan adalah dengan mengangkat anak.
Begitu puka pada keturunan matrilinial, karena matrilinial ini tidak dipisahkan antara sifat
murni dan beralih-alih maka penerus keturunan hanyalah pada peempuan, jika suatu somah
tidak memiliki anak perempuan maka cara alternatifnya juga berupa pengangkatan anak.

b Teritorial : Masyarakat yang tetap dan teratur yang anggota-anggota masyarakatnya


terkait pada suatu daerah hukum kediamantertentu baik dalam kaitan duniawi sebagai tempat
kehidupan maupun dalam kaitan rohani sebagai tempat pemujaan. (Ter Haar, 1960:17 Van Dijk
1954:18) Jadi masyarakat hukum ini melandaskan pada tempat tinggal yaitu suatu daerah
tertentu. Persekutuan teritorial apabila keanggotaan seseorang tergantung daripada bertempat
tinggal dalam lingkungan daerah persekutuan tersebut atau tidak. (Soerojo Wignjodipoero:78)

Ada 3 jenis persekutuan hukum teritorial menurut Van Dijk yakni :

 Persekutuan Desa : apabila segolongan orang terikat pada suatu kediaman yang terdiri
dari dukuh-dukuh yang tidak berdiri sendiri sedangkan para pejabatnya tersebut.
 Persekutuan Daerah : apabila dalam suatu daerah tertentu terletak beberapa desa yang
masing-masing memiliki tata susunan dan pengurus sendiri-sendiri yang sejenis ,
berdiri sendiri-sendiri tetapi semuanya merupakan bagian bawahan dari daerah. Daerah
 Perserikatan (beberapa kampung) : apabila beberapa persekutuan kampung/desa atau
marga yang berdekatan membentuk suatu permufakatan untuk memelihara kepentingan
bersama seperti kepentingan ekonomi, pertanian dan sebagainya. Tentunya dalam
dalam kerjasama ini ada badan pengurusnya namun wewenang dan kedudukan badan
pengurus ini tidak lebih tinggi dari pengurus desa masing masing. Kuasa tertinggi
terhadap tanah dalam daerah kampung/desa bersangkutan.

Tanggapan :
Pada faktanya persekutuan hukum adat berdasarkan teritorial atau wilayah saja ini sulit sekali
ditemukan , yang banyak ditemukan biasanya yang bercampur dengan faktor genealogis karena
pada umumnya suatu kelompok masyarakat adat tinggal berkelompok dengan famili mereka.
c Teritorial Genealogis : suatu kesatuan masyarakat yang tetap teratur dimana para
anggotanya bukan saja terikat pada tempatkediaman pada suatu daerah tertentu melainkan
juga terikat pada hubungan pertalian darah atau kekerabatan.
Untuk menjadi anggota persekutuan hukum teritorial genealogis harus memenuhi syarat
sebagai berikut :
ü Harus masuk pada suatu kesatuan genealogi
ü Harus berdiam di daerah persekutuan yang bersangkutan
Tanggapan :
Pada persekutuab hukum adat teritorial Genelogis ini kedua syarat tersebut diatas harus
memenuhi baik dari segi teritorialnya maupun genelogisnya. Tanpa memenuhi kedua syarat
tersebut maka tak dapat dikelompokkan sebagai persekutuan hukum adat secara teritorial
genelogis. Menurut pendapat saya, pada macam persekutuan ini ikatan yang dijalin antar
individu semakin kuat karena tak hanya ada ikatan pertalian darah tapi juga ikatan tempat
kediaman yang berdekatan.

d Masyarakat Adat-Keagamaan : Kesatuan masyarakat adapt-keagamaan menurut


kepercayaan lama, ada kesatuan masyarakat yang khusus beragama Hindia , Islam ,
Kristen/katolik , dan ada yang atheis.
Tanggapan :
Masyarakat hukum adat tak lapas dari sesuatu yang bersifat kepercayaan ataupun keagamaan
karena unsur keagamaan/religio magis telah tertuang pada dasar-dasar alam pikir hukum adat
maka wajarlah jika timbul masyarakat yang bersifat adat-keagamaan
e Masyarakat Adat di Perantauan : Masyarakat desa adat keagamaan sadwirama
tersebut merupakan suatu bentuk baru bagi orang-orang bali unuk tetap mempertahankan
eksistensi adat dan agama hindu di daerah perantauannya. Kumpulan atau organisasi
kekeluargaan tersebut seringkali juga bertindak mewakili anggota-anggotanya dalam
penyelesaian perselisihan antara masyarakat adat (suku) yang satu dengan yang lain.
Tanggapan :
Masyarakat hukum dat selain menetap pada suatu wilayah tertentu juga menjalani perantauan
lalu membentuk suatu masyarakat adat di daerah perantauan.
f Masyarakat Adat Lainnya : Selain dari adanya kesatuan-kesatuan masyarakat adat
di perantauan yang anggotanya terikat satu kesamaan lain karena berasal dari satu daerah yang
sama di dalam kehidupan masyarakat kita jumpai pula bentuk-bentuk kumpulan organisasi
ikatan anggota-anggotanya didasarkan pada ikatan kekaryaan sejenis yang tidak berdasarkan
pada hukum adat yang sama atau daerah asal yang sama, melainkan pada rasa kekeluargaan
yang sama dan terdiri dari berbagai suku bangsa dan berbeda agama.
Tanggapan :
Masyarakat hukum adat ini kini terlihat nyata pada bangsa Indonesia zaman sekarang, karena
bentuk masyarakat ini sudah tidak lagi terbentuk dari hukum adat atau daerah yang sama
namun atas dasar rasa kekeluargaan dan terdiri dari berbagai suku bangsa, layaknya semboyan
‘Bhineka Tunggal Ika’, meski berbeda-beda tetaplah satu jua. Hal itulah yang menarik dari
hukum ada dan kemasyarakatannya, karena dapat masuk di berbagai bidang kehidupan
bermasyarakat.

Kepengurusan Masyarakat Adat


Setiap kelompok kesatuan masyarakat hukum adapt atau persekutuan hukum adapt, baik yang
bersifat territorial maupun genealogis mempunyai susunan pengurus yang menyatu dengan
kepengurusan resmi ataupun terpisah berdiri sendiri.
a Kepengurusan Masyarakat Adat Territorial yakni menunjukkan adanya
jalinan hubungan kewarganegaraan adapt yang bersifat kekeluargaan dalam ketenggangan,
antara lain :
ü Di Daerah Aceh
ü Di Daerah Sumatera Selatan
ü Di pulau Jawa
ü Di Daerah-daerah Melayu
ü Kepengurusan Masyarakat Territorial Genealogis
b Kepegurusan adat territorial-genealogis, merupakan jalinan hubungan antara
kewargaan adat yang tidak saja bersifat kekeluargaan dalam hubungan ketetanggaan, tetapi juga
dalam hubungan keturunan dan kekerabatan, antara lain :
ü Di Daerah Goyo-Alas
ü Di Daerah Batak
ü Di Daerah Minangkabau
ü Di Daerah Lampung
ü Di Daerah Daya Kalimantan
ü Di Daerah Sulawesi
ü Di Daerah Nusatenggara
ü Di Daerah Maluku dan Irian Jaya
c Kepengurusan Masyarakat Adat-Keagamaan
ü Di lingkungan masyarakat kepercayaan lama
ü Di lingkungan masyarakat Hindu-Bali
ü Di lingkungan masyarakat Kristen
ü Di lingkungan masyarakat Islam
d Kepengurusan Masyarakat Adat Lainnya
ü Masyarakat adat di perantauan
ü Masyarakat keorganisasian umum
ü Masyarakat keturunan cina
Susunan Persekutuan-Persekutuan Hukum
Suatu daerah yang garis-garis besar, corak, dan sifatnya hukum adat adalah seragam, oleh van
vollenhoven disebut rechtsiking, dalam bahasa Indonesia adalah lingkaran hukum. Dalam
bukunya adatrecht I, van vollenhoven membagi-bagi seluruh daerah Indonesia dalam 19
lingkaran hukum yaitu: Aceh, Tanah gayo-alas dan batak beserta nias, Daerah minangkabau
beserta mentawai, Sumatera selatan, Daerah melayu, Bangka dan Belitung, Kalimantan (tanah
dayak), Minahasa, Gorontalo, Daerah toraja, Sulawesi selatan, Kepulauan ternate, Maluku,
ambon , Irian, Kepulauan timor, Bali dan Lombok (beserta Sumbawa barat), Jawa tengah dan
jawa timur (beserta Madura), Daerah-daerah swapraja (Surakarta dan Yogyakarta), Jawa barat.
Pada badan-badan persekutuan hukum yang berdasar keturunan (genealogis) dan lingkungan
daerah (territorial) pimpinan persekutuan terletak dalam tangan kepala-kepala golongan
genealogis yang bersama-sama terikat dalam kesatuan badan persekutuan itu.